Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM)

Pondok Pesantren Lirboyo telah lama berkiprah dalam pelayanan dakwah kepada masyarakat. Bahkan, jauh sebelum tahun 2002, masyarakat sekitar sudah sering meminta bantuan dai dari pesantren.

Awal mula terbentuknya Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) terjadi ketika puluhan siswa Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM) lulusan tahun 2002 yang berasal dari daerah Kediri sowan kepada KH. A. Idris Marzuqi. Pada kesempatan tersebut, beliau berpesan agar para alumni itu terjun langsung ke masyarakat pada bulan Ramadan untuk mengamalkan ilmu yang telah mereka pelajari selama nyantri di Lirboyo.

Pada masa itu (awal era reformasi), banyak aliran keagamaan yang berani memproklamasikan diri. Jika pesantren tidak mengambil langkah nyata dalam memberikan siraman rohani ke daerah-daerah yang belum terjangkau, maka pesantren akan tertinggal. KH. A. Idris Marzuqi bahkan menyebut kegiatan ini sebagai “safari,” yang menurut Agus Zulfa (jika tidak keliru) bermakna seperti KKN Santri.

Setelah para alumni 2002 menjalankan amanat tersebut, hasilnya sangat menggembirakan. Masyarakat menyambut kegiatan yang menyerupai Kuliah Kerja Nyata (KKN) itu dengan antusias, bahkan berharap kegiatan semacam itu bisa terus berlanjut di luar bulan Ramadan. Melihat respons positif tersebut, para alumni 2002 mengajak angkatan 2003 untuk turut berdakwah di tengah masyarakat.

Ketika mereka kembali sowan dan melaporkan hasilnya kepada KH. A. Idris Marzuqi, beliau berpesan singkat namun mendalam:

“Dakwah kok musiman.”

Pesan itu menjadi titik balik penting bagi lahirnya LIM sebagai gerakan dakwah berkelanjutan.

Proses Pembentukan dan Pengukuhan

Selama dua tahun pertama, kegiatan ini terus berjalan. Kemudian, di bawah koordinasi Agus Abdul Qodir Ridlwan, para santri Lirboyo secara rutin diterjunkan ke masyarakat setiap tahun.
Namun, perlu dicatat bahwa pihak yang pertama kali mengetahui dan memantau kegiatan ini adalah Gus Hamid dan ketua pondok pada masa itu. Sedangkan Gus Qodir termasuk dalam tim safari.

Setelah satu tahun berjalan, Gus Qodir meminta arahan langsung kepada KH. A. Idris Marzuqi, dan dilakukan evaluasi menyeluruh dalam sidang BPK P2L (Badan Pembina Kesejahteraan Pondok Pesantren Lirboyo) sebuah forum tertinggi di Pondok Pesantren Lirboyo. Dari hasil evaluasi tersebut, Ittihadul Muballighin kemudian ditetapkan secara resmi. Dalam sidang BPK berikutnya (sekitar tahun 2004–2005), Agus Abdul Qodir Ridlwan resmi diangkat sebagai ketua.

Teknis Pelaksanaan

Secara teknis, kegiatan dakwah dilaksanakan setiap Kamis sore pada saat kegiatan pondok masih aktif. Santri tingkat Aliyah MHM diterjunkan ke pelosok-pelosok wilayah Kediri.
Pada masa awal, mereka berangkat Kamis sore dan baru kembali keesokan harinya, sebab lokasi dakwah cukup jauh sehingga tidak memungkinkan untuk langsung pulang.

Sedangkan pada masa liburan, terutama bulan Ramadan, seluruh santri tingkat Aliyah diwajibkan mengikuti program dakwah LIM ini. Wilayah dakwah pun meluas, tidak hanya di sekitar Kediri, tetapi juga ke berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Tokoh Pelopor dan Tahun Berdiri

Tokoh pelopor pendirian LIM adalah KH. A. Idris Marzuqi.
Meskipun beliau merupakan inisiator utama, pembentukan LIM tetap dimusyawarahkan dengan seluruh masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo.

LIM resmi berdiri pada 23 Januari 2003 atau 18 Dzulqa’dah 1423, dengan program kerja perdana Safari Ramadan yang kemudian berkembang menjadi Safari Dakwah Rutinan.
Wilayah pertama yang menjadi lokasi kegiatan adalah Semen dan Mojo, lalu meluas ke Ngancar, Banyakan, hingga pada dekade 2010-an menjangkau wilayah timur-utara Kediri.

Pembentukan LIM Cabang

Kepengurusan LIM Cabang baru terbentuk sekitar tahun 2013–2014, menjelang Reuni Akbar 2015. Target pada waktu itu adalah agar tahun 2015 setiap wilayah telah memiliki kepengurusan cabang.

Sejak tahun 2010, secara struktural, LIM sudah bergabung menjadi badan otonom Himasal (Himpunan Alumni Santri Lirboyo).
Cabang-cabang pertama muncul di daerah Jawa Tengah, seperti Kendal, Ungaran, Salatiga, Tegal, Brebes, dan wilayah selatan seperti Banyumas.

Definisi dan Struktur Organisasi

Menurut Agus Zulfa, LIM merupakan wadah pergerakan atau perkumpulan alumni muda Pondok Pesantren Lirboyo di bawah naungan Himasal. Secara hierarki, LIM berada di bawah Himasal, namun tetap berhubungan erat dengan Pondok Pesantren Lirboyo.

Adapun bidang-bidang yang berada di bawah naungan LIM antara lain:

  • Bidang Safari Ramadan (PSR)
  • Bidang Safari Dakwah Rutinan (PSDR)
  • Bidang Pesantren Ramadan (PESRA)
  • Bidang Penelitian dan Pengembangan (LITBANG)

Pada tahun 2007–2008, BPK menetapkan bahwa kegiatan Safari Ramadan tidak lagi diikuti oleh santri tamatan, melainkan oleh santri kelas II Aliyah (atau sekarang setara semester III–IV Ma’had Aly).
Bidang Litbang berperan mencari dan meneliti berbagai permasalahan sosial di masyarakat untuk dijadikan bahan kajian ilmiah dan pengajaran di lembaga pendidikan.

LIM Production

LIM Production berdiri pada tahun 2019–2020, tepat ketika pandemi Covid-19 menyebabkan program Safari Ramadan diliburkan. Awalnya, para anggota kebingungan menentukan kegiatan pengganti. Padahal, embrio bidang media sudah lama ada, namun sulit berkembang karena keterbatasan sarana.

Akhirnya, Agus Zulfa berunding dengan Agus Qodir, terinspirasi oleh tren podcast yang saat itu sedang marak dipelopori oleh Deddy Corbuzier.
LIM Production kemudian pertama kali diamanahkan kepada Agus Yusuf Fadlullah, yang sebelumnya telah berpengalaman membuat film.

Menariknya, meskipun baru dua episode tayang, karya mereka mendapat tanggapan positif dari Jawa Pos Radar Kediri. Dari situ terlihat bahwa belum banyak pesantren yang mengembangkan media kreatif seperti ini. Hal ini menjadi bukti bahwa keterbatasan fasilitas bukanlah alasan untuk berhenti berkarya.

LIM Store

LIM Store didirikan pada tahun 2022, setelah wafatnya Agus Qodir, sehingga beliau belum sempat menyaksikan berdirinya bidang ini.

Tujuan utama LIM Store adalah mendukung kemandirian ekonomi pesantren. Selain itu, bidang ini juga menjadi sarana tarbiyah santri dalam hal pengelolaan bisnis, akuntansi, dan kewirausahaan.

Selama ini, LIM berdiri secara mandiri tanpa bantuan dana besar. Baru sekitar dua hingga tiga tahun terakhir ada iuran dari santri sebesar Rp500, yang digunakan untuk mendukung kegiatan dakwah Ramadan. Meski nilainya kecil, kontribusi ini sangat membantu operasional, dan prinsip utama yang dijaga tetaplah kemandirian.

Bidang Guru Bantu

Bidang ini berfungsi sebagai wadah bagi para lulusan Ma’had Aly Lirboyo yang diminta untuk mengajar di berbagai pondok pesantren atau lembaga keislaman di seluruh Indonesia.

Bidang ini pun berawal dari program yang secara resmi dibentuk berdasarkan hasil Sidang Pleno II Pengurus Pondok Pesantren Lirboyo, yang dilaksanakan pada Jumat malam Sabtu, 8 Januari 2015. Dalam sidang tersebut, ditetapkan bahwa para mutakharrijin (alumni) tingkat Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien akan diberdayakan melalui program Wajib Khidmah.

Program wajib khidmah ini selain tujuan utamanya adalah menjadi pengajar atau pengurus di pondok Lirboyo sendiri, juga dimaksudkan untuk membantu pondok pesantren dan lembaga pendidikan Islam lain yang kerap meminta bantuan tenaga pendidik kepada Pondok Pesantren Lirboyo.

Dengan demikian, Bidang Guru Bantu menjadi bentuk nyata kontribusi Lirboyo dalam mencetak dan menyalurkan kader pendidik yang kompeten, berakhlak, dan siap mengabdi di masyarakat. [] MF.

One thought on “Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses