164 views

Upacara dan Perlombaan Bentuk Syukur Atas Nikmat Kemerdekaan

Sebentar lagi negara kita Indonesia akan memasuki usianya yang ke 77 tahun. Bukan usia yang muda lagi bagi suatu bangsa dan negara. Kemerdekaan yang tak lepas dari jasa para pahlawan dalam semangatnya melawan para penjajah yang tak lain demi kemerdekaan bangsa kita demi kesejahteraan negara kita Indonesia.


Dalam memperingati hari kemerdekaan republik Indonesia berbagai event dan acara-acara banyak yang digelar. Festival budaya dan kemerdekaan nampak meramaikan suasana beberapa daerah. Event besar banyak yang dilaksanakan. Termasuk seperti saat memasuki bulan Agustus diadakan Istighosah kebangsaan yang bertempat di Istana Negara dengan dihadiri para pejabat negara (umara‘) serta para Kiai dan Habaib serta banyak tokoh agama lainnya (ulama’).


Tak kalah ramai banyak juga yang menggelar lomba-lomba seperti panjat pinang, balap karung, makan kerupuk dan perlombaan seru yang lain. Suasana jalan raya yang dipenuhi atribut merah putih, tiap rumah tampak belum lengkap jika belum mengibarkan bendera merah putih. Dan pastinya bertepatan pada 17 Agustus upacara kemerdekaan pastilah diselenggarakan di setiap sudut negara.


Begitu hebatnya apa yang telah diajarkan kepada kita, bagaimana tidak? Dibalik semua rangkaian acara yang tergelar bertahun-tahun setiap memasuki bulan Agustus sebenarnya tersimpan makna mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Telah kita ketahui bersama bahwa mensyukuri nikmat adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan tiap personal. Apapun itu segala bentuk nikmat yang telah diberikan kepada kita wajib hukumnya untuk mensyukurinya.


Dalam Al-Qur’an telah disampaikan


فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ


Artinya: Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. [QS Al Baqarah ayat 152]


Kemudian para ulama’ menjelaskan apakah yang dimaksud dengan hakikat syukur itu sendiri. Dalam kitab Syarh Hikam Imam Ibn Athoillah As-Sakandari menjelaskan manifestasi syukur dapat terbagi menjadi tiga,


1. Menyadari datangnya nikmat serta benar-benar meyakini bahwa kenikmatan tersebut berasal dari Dzat yang Maha memberi nikmat (Al-Mun’im).

2. Kemudian menanamkan dalam hati rasa bahagia dengan setiap nikmat yang ia dapatkan. Bahagia telah mendapat nikmat juga bahagia menerima nikmat tersebut dari Tuhan semesta alam.

3. Mengekspresikan rasa bahagia itu dengan berbagai hal yamg tentunya selaras dengan kehendak Al-Mun’im.


Ekspresi bahagia dengan merayakan berbagai kegiatan seperti perlombaan, event, dan acara-acara lain merupakan salah satu bentuk mensyukuri nikmat kemerdekaan yang telah Allah berikan kepada kita. Asalkan berupa sesuatu yang positif maka merayakan kemerdekaan Indonesia dengan hal tersebut sangatlah dianjurkan syari’at guna menambah rasa cinta kita terhadap Allah yang memberi kenikmatan.


Bahkan dalam Ihya’ Ulumuddin magnum opus Imam Abu Hamid Al-Ghazali tegas menyatakan

Ketahuilah… Seseorang tidak dikatakan bersyukur selagi belum mampu menjadikan nikmat yang telah ia terima sebagai sarana untuk mahabbah (mencintai Allah) bukan untuk kesenangan-kesenangan yang bersifat pribadi, bila ia menjadikan nikmatNya justru sebagai sarana terhadap hal-hal yang Allah murkai sesungguhnya ia benar-benar telah mengkufuri nikmatNya sebagaimana bila ia mengabaikan nikmat tersebut karena artinya ia telah menyia-menyiakan kesempatan yang telah Allah berikan padanya untuk menggapai kehidupan bahagia. [ Ihya’ ‘Ulumuddin vol 4/88].


Dalam suatu kesempatan Habib Luthfi bin Yahya menyampaikan, “Salah satu cara supaya generasi muda saat ini bisa memaknai arti kemerdekaan yaitu dengan mendatangi makam-makam para pahlawan. Yang Islam silakan gelar doa bersama disitu, Tahlilan-Yasinan untuk mendoakan para pahlawan, semaan Qur’an kalau perlu. Yang agama lain silakan datang dan berdoa dengan cara yang dianut masing-masing agamanya.”


Wapres KH. Ma’ruf Amin sendiri pernah menyampaikan,
“salah satu cara mensyukuri nikmat kemerdekaan adalah dengan menjaga keutuhan bangsa. Sehingga, nikmat tersebut tidak diambil kembali oleh Allah SWT. Menjadi kewajiban kita adalah menjaga bangsa ini tetap utuh, tetap bercahaya,” kata Kiai Ma’ruf. “(Jangan sampai) Allah kemudian mencabut, menghilangkan cahayanya dan meninggalkan kita dalam kegelapan,” tambahnya.


Semoga saja dengan rasa syukur kita dengan mengenang jasa para pahlawan serta meramaikan hari kemerdekaan Indonesia mampu menambah kenikmatan yang telah Allah berikan kepada negara ini sebagaimana kalam-Nya


وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ


Artinya: Dan (ingatlah juga), takala Rabbmu memaklumkan:”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” [QS. Ibrahim ayat 7]


Wallahu alam.

6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.