410 views

3 Pembagian Bulan Ramadhan

Banyak sekali keterangan yang menyampaikan bahwa bulan suci Ramadhan terbagi menjadi tiga tahapan. Bahkan sebagian ulama mengklaim bahwa keterangan tersebut bersumber dari sabda Rasulullah Saw. Mereka berargumen bahwa sepuluh hari pertama di bulan suci Ramadhan merupakan Rahmah (kasih sayang), dilanjut sepuluh hari berikutnya berupa Maghfiroh (ampunan), dan ditutup dengan sepuluh hari terakhir sebagai Itqun Min an-Nar (terbebas dari api neraka).

Sabda Rasulullah Saw:

أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهْ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

Artinya, “Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, sedangkan akhirnya adalah terbebas dari neraka.”

 Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab Syuʽab al-Iman dan juga diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah dalam kitab  Sahih-nya. Walaupun diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah dalam Sahih-nya, menurut al-Suyuthi, hadis ini bermuara pada satu sumber sanad (madar), yaitu Ali ibn Zaid ibn Jadʽan yang telah divonis oleh beberapa ulama sebagai orang yang lemah (dhaif). Sedangkan orang yang meriwayatkan hadits tersebut dari Ali ibn Zaid adalah Yusuf bin Ziyad yang juga divonis lemah sekali (dhaif jiddan). Walaupun ada ulama lain yang juga meriwayatkan hadits ini dari Ali bin Zaid, yaitu Iyas ibn Abd al-Ghaffar. Sayangnya Iyas sendiri juga orang yang majhul atau kurang jelas latar belakangnya menurut pemaparan Ibn Hajar al-Asqalani.[1]

Baca juga: Romadhona Atau Romadhoni?

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebenarnya hadis itu berkualitas dhaif atau lemah. Akan tetapi bukan berarti hadis tersebut tidak dapat diamalkan secara mutlak. Karena secara prinsip adanya hadis dhaif hanya dilarang digunakan dalam menentukan hitam putih hukum syariat (halal-haram) dan tidak menyangkut permasalahan akidah seperti sifat-sifat Allah Swt. Sebagaimana yang dijelaskan oleh beberapa ulama.

Yang mana dalam konteks ini legalitas hadis pembagian bulan Ramadhan menjadi tiga sebenarnya hanya berkaitan dalam permasalahan Fadhail Amal (keutamaan beramal). Sebagaimana yang digunakan beberapa da’i dan penceramah guna menggugah semangat beribadah masyarakat utamanya pada momentum bulan suci Ramadhan.

Sebagaimana apa yang dilakukan berbagai ulama seperti imam  Ahmad bin Hanbal dan Sufyan As-Sauriy-pun kerap sekali menggunakan hadis dhaif dalam menyampaikan mauidzoh dan tausiyah guna memotivasi umat.

تَجُوْزُ رِوَايَتُهَا فِيْ مِثْلِ الْمَوَاعِظِ وَالتَّرْغِيْبِ وَالتَّرْهِيْبِ وَالْقِصَصِ وَمَا أَسْبَهَ ذَالِكَ. وَمِمَّنْ رَوَى عَنْهُ الْتَسَاهُلَ فِيْ رِوَايَتِهَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنِ الْمَهْدِيِّ وِأِحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ

Artinya, “Boleh meriwayatkan hadits (dho’if) dalam hal ceramah, anjuran, ancaman, kisah, dan semacamnya. Beberapa ulama yang toleran meriwayatkan hadits dhaif (terkait maidhah, anjuran, ancaman, kisah, dsb) adalah Sufyan al-Tsauri, Abdurrahman bin al-Mahdi dan Ahmad bin Hanbal)”.[2]

Baca juga: Keutamaan Bulan Ramadhan

Namun secara etika hendaknya para pendakwah dalam meriwayatkan hadis-hadis yang lemah lebih memilih menggunakan Sighat Tamridh saja, seperti “qîla” atau “ruwiya” bukan menggunakan Sighat Jazm seperti  lafadz  “Qala Rasulullah Saw”. Hal demikian adalah salah satu tindakan untuk berhati-hati dikala ia mengetahui status ke-dhaif-an hadis tersebut. Alangkah lebih baiknya jika dikuatkan dengan hadis lain yang secara substansi sama tapi kualitasnya lebih sahih sanadnya. Misalnya hadits riwayat al-Tirmidzi dan Ibn Majjah berikut ini:

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ قَالَ : إِذَا كَانَتْ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ ، وَمَرَدَةُ الْجِنِّ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ ، فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ ، وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ ، فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ ، وَنَادَى مُنَادٍ : يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ ، وَذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ.

Artinya, “Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ketika tiba awal malam bulan Ramadhan, para setan dan pemimpin-pemimpinnya dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada yang dibuka. Pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada yang ditutup, lalu ada penyeru yang berseru, ‘Hai orang yang mencari kebaikan, teruskanlah. Hai orang yang mencari keburukan, berhentilah. Sesungguhnya Allah membebaskan orang-orang dari neraka, dan itu terjadi pada setiap malam’.” [3]

Lihat juga di akun youtube kami: Ngaji Kitab Riyad al-badi’ah

Kiranya dengan menampilkan hadis dengan kualitas yang sahih sebenarnya telah mencukupi guna memotivasi semangat ibadah masyarakat. Adapun beberapa hadis dengan kualitas dhaif tersebut lebih layak digunakan sebagai penggambaran yang lebih spesifik dari substansi yang telah diutarakan hadis-hadis dengan kualitas sahih (atau sebagai tafsirnya saja).

Hal demikian merupakan langkah kehati-hatian kita agar tidak tergolong sebagai orang-orang yang berbohong atas nama Nabi Muhammad Saw. Sekian wallahu a’lam.


[1] al-Suyuthi, Jâmiʽ al-Aḥâdîts, [Beirut: Dar Fikr, t.t], j. 23, h. 176.

[2] Mahmud al-Thahhan, Taysîr Musṭalaḥ al-Hadîts, [Riyadh: Maktabah al-Maarif, 2004], h. 80

[3] Ibn Majjah al-Qazwaini, Sunan Ibn Majjah, [Beirut: Dar Fikr, T.t], j. 2, h. 26.

2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.