9 Dzulhijjah: Turunnya Ayat Terakhir Al-Qur’an

Tulisan berikut akan menjelaskan tentang peristiwa tanggal 9 Dzulhijjah: Turunnya ayat terakhir al-Qur’an. Peristiwa yang sangat emosional bagi umat muslim kala itu.

Al-Qur’an sebagai pedoman hidup kaum muslimin sudah pasti harus dipelajari dan diketahui sejarahnya. Kalam Allah itu agaknya tidak akan habis untuk dibahas dan dibongkar wisdom atau untaian hikmahnya. Jamak kita temukan ayat yang kali pertama turun adalah ayat pertama sampai ayat kelima surat al-Alaq. Nabi Muhammad dengan tubuh menggigil dan konsentrasi penuh menerima wahyu pertamanya di gua hira’ isi ayatnya adalah:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ # خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ # اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ # الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ # عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

 Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia merigajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Ketika mengurai historis turunnya ayat pertama al-Qur’an, kiranya yang tak kalah menarik adalah pembahasan turunnya ayat terakhir al-Qur’an yang mana kaum muslimin sendiri masih awam akan peristiwa dan kisah dibumikannya ayat tersebut.

9 Dzul-Hijjah, 10 Hijriyah

Di penghujung Daul-Qo’dah Rasulullah bersiap-siap untuk melaksanakan haji yang terakhir kalinya. Beliau menyisir rambutnya dan memberikan minyak serta memakai sarung dan selendang (pakaian ihram). Berangkatiah Rasulullah Muhammad ke tanah haram Mekkah. Pada tanggal 9 Dzul-Hijjah tepat hari Jum’at, ketika Rasulullah setelah Rasulullah menyampaikan khutbahnya, maka turunlah ayat

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Artinya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”

Dilema campur aduk perasaan Sahabat Nabi.

Para sahabat yang mendengar ayat terakhir turun membawa kabar gembira banwa agama yang dianutnya telah disempurnakan oleh Tuhannya bahagianya bukan kepalang Mereka sangat gembira dan menyambut betul ayat yang terakhir diturunkan itu. Tidak dengan Sayyidina Umar. Ketika para sahabat nabi larut dalam kegembiraannya, ditarikan nafas yang sama Sayyidina Umar justru sedih. Rasulullah yang melihat kesedihan Umar dikala para sahabat lain senang bertanya atas kesedihan itu.

“Apa yang membuatmu menangis?” Rasulullah mulai bertanya

“Wahai Rasulullah, (setelah turun ayat itu) kita memang mendapat tambahan dan kesempurnaan agama, namun sesuatu yang sempurna tidaklah dia sepenuhnya sempurn kecuali ada kekurangannya”

“Kamu benar” Nabi meyakinkan Umar.

Ungkapan Sayyidina Umar selaras dengan maqalah:

إذا تم الأمر بدا نقصة

Artinya: Ketika sesuatu itu sempurna maka akan nampak kekurangannya.

Kekhawatiran Sayyidina Umar itu benar

Sepertinya perasaan Sayyidina Umar sangat tepat. Beliau seakan merasa betul apa yang akan terjadi jika ayat terakhir al-Qur’an itu turun, apa jadinya jika Allah tidak lagi menurunkan wahyuNya kepada umat manusia. Tepat 81 hari setelah turunnya ayat terakhir al-Qur’an, Rasulullah yang mulia menginggal dunia, meninggalkan para sahabat termasuk Umar dan para umat kesayangan beliau.

Kepergian Nabi Muhammad adalah kehilangan besar, semacam kehilangan kitab referensi bagi problematika kehidupan yang datang tiap hari, tak henti-henti. Perasaan kehilangan itu yang pasti bukan hanya dirasakan para istri dan sahabat. Banyak orang merasa kehilangan. Banyak orang yang merindukan nasihat-nasihat yang sering kali disampaikan secara inplisit ketika ada masalah besar.

Yang paling jelas terjadi adalah perpecahan dimana-mana. Fanatik terhadap suatu golongan adalah faktor terbesarnya. Pada periode awal Islam umat manusia masih satu- padu dalam beragama tidak ada perpecahan, fanatik akan suatu golongan seperti yang telah Allah puji dan abadikan dalam al-Qur’an yang mulia. Sepeninggal Rasulullah, semasa Sayyidina Abu Bakar memimpin pemerintahan Islam masih belum ditemukan perpecahan. Begitupun periode Umar, jikalaupun ada itu hanya orang-orang yang perpecahannya tidak dihiraukan alias tidak dianggap. Mulailah Sayyidina Utsman menjadi khalifah, dan perpecahan mulai terlihat alias menyebar dimana-mana. Sampai waktu dimana Sayyidina Ali memimpin, umat Nabi Muhammad menjadi terpisah-pisah, pendapatnya tidak satu arah, keinginannya sudah bercabang, golongan demi golongan keluar makin tidak karuan saja. Dan seperti apa yang kita lihat sekarang. Perpecahan dimana-mana antar umat muslim tidak damai dan terpecah belah.

Waktunya Merindui Rasulullah

Barangkali Nabi Muhammad masih menemani para sahabat atau bahkan kita saat ini, mungkin umat muslim masih bersatu padu dalam aqidah dan cara beribadahnya. Dari sini kita merindukan Nabi Muhammad. Kita dipaksa menjadi Sayyidina Umar yang selalu mengkhawatirkan masa depan Islam dan mendambakan bagaimana Islam di periode awal yang adem ayem tanpa saling menyalahkan. Semakin hari semakin nampak jelas pernyataan Nabi Muhammad yang tertuang dalam kitab Arbain an-Nahdhiyyah karangan as-Syaikh Hasyim Asy’ari:

بدأ الإسلام غريبا ، وسيعود غريبا كما بدأ، قيل : ومن الغرباء يا رسول الله ؟ قال : الذين يصلحون إذا فسد الناس

Artinya: Sesungguhnya agama (Islam) muncul dengan aneh dan akan kembali aneh Maka beruntunglah orang-orang aneh. Lantas siapa itu mereka yang aneh, wahai Rasulullah?. ;Mereka yang tetap melakukan kebaikan ketika semua manusia merusak kebaikan itu sendiri (sunnah Nabi).

Semoga di zaman yang mulai di anggap aneh suatu kebaikan, kita masih eksis melakukan kebaikan dan menebar suatu yang hak dengan cara cinta dan kasih sayang. Selamat jadi aneh dan jangan malu.

Baca Juga: Doa Terbaik: Doa Hari Arafah

Subscribe: Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.