HomeKonsultasiMengkonsumsi Ikan Beserta Kotorannya

Mengkonsumsi Ikan Beserta Kotorannya

0 4 likes 1.4K views share

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimanakah hukum memakan ikan tanpa membersihkan kotoran yang ada dalam perutnya? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Zulfa-Banyuwangi)

_______________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Sebagian besar masyarakat sangat menyukai kuliner hasil olahan ikan. Selain rasanya yang lezat, ikan memiliki banyak kandungan gizi yang bermanfaat untuk tubuh. Dalam pengolahannya, ada sebagian ikan yang dimasak utuh (tanpa dibersihkan kotorannya) ada pula yang yang telah dibersihkan. Sehingga memunculkan persoalan mengenai status kenajisan kotoran ikan.

Dalam persoalan ini, Imam Ibnu Ziyad menjelaskan: .

مَسْأَلَةٌ: رَوْثُ السَّمَكِ نَجَسٌ، وَيَجُوْزُ أَكْلُ صِغَارِهِ قَبْلَ شَقِّ جَوْفِهِ، وَيُعْفَى عَنْ رَوْثٍ تَعَسَّرَ تَنْقِيَّتُهُ وَإِخْرَاجُهُ، لَكِنْ يُكْرَهُ كَمَا فِي الرَّوْضَةِ، وَيُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّهُ لَا يَجُوْزُ أَكْلُ كِبَارِهِ قَبْلَ إِخْرَاجِ رَوْثِهِ لِعَدَمِ الْمَشَقَّةِ فِيْ ذَلِكَ

“(Masalah) Kotoran ikan adalah najis. Boleh memakan ikan-ikan kecil tanpa membersihkan kotorannya, dan dimaafkan bagi kotoran yang sulit dibersihkan dan dikeluarkan, tetapi hukumannya makruh sebagaimana dalam kitab Ar-Raudhah. Dari itulah dapat diambil kesimpulan bahwa ikan-ikan besar tidak boleh dimakan sebelum dikeluarkan kotorannya, karena tidak adanya kesulitan untuk melakukan hal itu.”[1]

Dari sana dijelaskan bahwa yang dihukumi najis adalah kotoran ikan besar yang masih mudah untuk dibersihkan. Adapun yang menjadi standar dalam menentukan besar kecilnya dikembalikan pada kebiasaan yang berlaku (‘Urf). Namun ada pendapat yang mengatakan meskipun kotoran ikan besar tetap dihukumi suci. Sebagimana penjelasan Sayyid Abdurrahman Al-Masyhur dalam karyanya yang berjudul Bughyah Al-Mustarsyidin:

وَقَدِ اتَّفَقَ ابْنُ حَجَرَ وَزِيَادٌ وَ م ر وَغَيْرُهُمْ عَلَى طَهَارَةِ مَا فِيْ جَوْفِ السَّمَكِ الصَّغِيْرِ مِنَ الدَّمِّ وَالرَّوْثِ وَجَوَازِ أَكْلِهِ مَعَهُ وَإِنَّهُ لَا يَنْجُسُ بِهِ الدِّهْنُ بَلْ جَرَى عَلَيْهِ م ر الْكَبِيْرَ اَيْضًا

Imam Ibnu Hajar, Ibnu Ziyad, Ar-Ramli, dan ulama lain sepakat mengenai kesucian dan kebolehan memakan ikan kecil beserta sesuatu yang ada dalam perutnya, yang mencakup darah dan kotorannya. Karena sesuatu itu tidak membuat najis pada minyak (saat digoreng). Bahkan imam Ar-Ramli juga memasukkan (hukum suci tersebut) terhadap ikan yang berukuran besar.”[2]

Meskipun statusnya suci, namun alangkah baiknya untuk tetap dibersihkan demi menjaga kebersihan dan kesehatan. []waAllahu a’lam


[1] Ghoyah At-Talkhish, hal. 254

[2] Bughyah Al-Mustarsyidin, hal. 15