Adab Netizen

Belakangan ini Lirboyo sempat naik tranding dalam sebagian media sosial ternama, ya di Twitter beberapa hari lalu #Lirboyo sempat menduduki puncak tranding. Menjadi tranding dalam Twitter bukanlah menunjukkan prestasi gemilang atau pencapaian yang perlu dibanggakan, karena kerap kali permasalahan yang tranding merupakan isu hangat yang memang sedang populer terlepas dari apakah bermuatan positif atau negatif.


Keramaian ini dipicu oleh salah seorang pegiat Twitter yang terpeleset hingga berkata yang tidak pantas kepada salah seorang keluarga pesantren Lirboyo. Meski kesalahan tersebut akhirnya diakui kemudian disusul dengan berkunjungnya orang tersebut ke Lirboyo guna meminta maaf. Permasalahan selesai warganet tenang kembali.


Namun hal demikian sering kali terjadi, tak sedikit dari para pengguna akun media sosial yang kurang bijak menggunakan suatu media yang sebenarnya fungsi utamanya adalah sarana sosial atau penghubung satu dengan yang lainnya, justru yang mereka lakukan sering kali menimbulkan perpecahan hingga memudarnya jiwa sosial.


Disini kita akan sedikit mengulas apa saja etika sebagai netizen (gabungan kata internet dan citizen yang berarti para pengguna internet). Mulai dari etika posting, repost atau share, hingga etika ketika mengomentari postingan orang lain atau bahkan mengkritiknya.


Memposting


Ketika kita hendak membagikan postingan baik itu melalui insta story, feed, reels, story Whatsapp, atau cuitan di Twitter ada beberapa hal yang kiranya harus kita perhatikan.


Yang pertama kita harus pahami bahwa apa yang akan kita utarakan di media sosial tak ubahnya merupakan perkataan kita sacara nyata. Bila memiliki muatan positif maka jelas akan sangat bermanfaat namun sebaliknya apabila dalam postingan tersebut terdapat unsur negatif seperti hoax atau kebohongan, hate speech (ujaran kebencian) ghibah, chaos (fitnah) dan unsur negatif lainnya maka jelas dilarang oleh syari’at.
Rasulullah SAW bersabda:

إياكم والكذبَ، فإنه مع الفجورِ، وهما في النارِ


“Waspadalah terhadap dusta, karena itu termasuk maksiat dan keduanya (maksiat dan dusta) ada di neraka tempatnya.” (HR. Al-Wadi’i)


لا يَدخلُ الجنّةَ نَمَّامٌ


“Tidak akan masuk surga orang-orang yang melakukan namimah atau adu domba.”


إِنَّ الْفُحْشَ وَالتَّفَحُّشَ لَيْسَا مِنَ الإِسْلامِ فِي شَيْءٍ، وَإِنَّ أَحْسَنَ النَّاسِ إِسْلامًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا


“Sesungguhnya berkata melecehkan atau melakukan pelecehan bukanlah dari ajaran Islam dan sesungguhnya sebaik-baik Islamnya seseorang adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Ahmad)
Serta masih banyak hadis lainnya.


Share dan Repost


Dalam term syari’at Islam istilah share & repost diartikan sebagai bentuk hikayah atau menceritakan ulang kejadian yang tengah seseorang lihat atau cerita yang ia dengar. Sehingga saat informasi yang mungkin kita terima masih belum jelas validitas dan kejelasannya maka jelas hal ini tidak boleh seenaknya saja untuk langsung kita bagikan karena telah jelas dalam Al-Qur’an disebutkan;


{ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ }

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.