HomeDawuh MasyayikhAhli Bahstu Ideal

Ahli Bahstu Ideal

0 3 likes 130 views share

Pada awal mula pesantren Lirboyo terkenal dengan nahwu shorofnya, sebelum era 80-an, menonjol sekali. Alfiyyahnya, jurumiyyahnya, qowa’idul i’robnya. ini yang menjadi ciri khas Lirboyo.
Tapi setelah era 80-an, setelah LBM aktif, ada FMPP, mulai lirboyo menonjol dalam bidang fikihnya. Manfaat dan barokah kita duduk disini, membahas masalah-masalah, ternyata sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Sebelum terjun bahtsul masail, pelajari kitab-kitab kecil dulu. Fathul Qoribnya dipelajari, sampai lungset, sampai diluar kepala. Jangan sampai kita belum menguasai inti permasalahan, sudah buru-buru muthala’ah kitab yang besar.
Ini thoriqohnya Bani Mahrus.

Setiap fan apapun, sebelum menuju kitab yang besar, fan kitab yang inti yang harus dipahami dulu diluar kepala.
Aktifis LBM harus lebih dulu paham luar kepala permasalahan-permasalahan yang ada di fathul qorib, sehingga untuk mengembangkan masalah, tinggal mencari kitab yang besar.
Supaya jangan nanti ngga nyambung, muthala’ah kitab yang inti, tapi pokok-pokok intinya tidak tahu.

Mbah Kiai Mahrus dulu aktif dalam mengikuti bahtsul masail. Betul-betul menyempatkan diri untuk ikut. Dulu ada cerita bahkan Mbah Kiai Mahrus waktu berdebat dengan mbah Kiai Wahab Hasbullah sampai tiga hari tiga malam pada satu masalah.
Ulama dahulu, biasa diskusi sampai terjadi perdebatan keras. Tapi tetep, ‘Alaqoh bathiniyyah( hubungan batin), hubungannya tetap baik.

Kalau kita akui, manfaat dan barokah dari pondok pesantren yang bisa mencetak kiai, itu sesungguhnya adalah pondok pesantren yang murni salaf. Seperti lirboyo, Ploso, Sarang, Sidogiri, dan lain sebagainya. Diakui atau tidak.

Saya pas mondok di Banten, oleh Abuya dipeseni, jangan sampai kita yang semakin alim, makin pinter, tambah pinter golek hela’ (berkelit dari hukum)
Mbah Kiai Mahrus dulu bahtsul masail, selalu memakai qoul-qoul mu’tamad. Kalau ada solusi, itu soal lain.

Kadang kalau menguasai ilmu fikih, lupa. Melihat kiai yang tidak begitu menguasai fikih, takabbur. Langsung diparani, didebat.
Ini harus bisa menempatkan diri, kalau melihat kiai dulu. Kalau memang forumnya bahtsul masail, monggo silahkan debat dengan mereka yang sudah lebih dulu makan garam. Kalau forum pribadi, kita harus bisa memiliki tatakrama, taadduban.

Bagaimana kita bisa menggabungkan keilmuan yang ada, tapi mu’asyarohnya pinter. Menjaga hubungan baik. Niki penting. Kunci, dawuhe mbah Kiai Mahrus, siji nduweni ilmu, loro pinter mu’asyaroh.
Kadang enek wong sing mendalami ilmu, merasa pinter dewe, kabeh didebati, kabeh salah, dikritik kabeh.
Tapi kalau jiwa kritis, itu baik.

Modal kita hidup ditengah masyarakat, di tengah organisasi, syarate men dikenal wong, vokal, reaktif, dan kritis. Tapi tetap masalah tata krama, dan taadduban dijaga, agar bias diterima ditengah masyarakat.

dawuh K.H. An’im Falahuddin Mahrus pada acara pembukaan kegiatan LBM P2L, (16/7/18)