HomeArtikelAl-Qur’an Zaman Now

Al-Qur’an Zaman Now

0 5 likes 45 views share

Di masa yang serba canggih seperti saat ini, minat masyarakat muslim di Indonesia untuk membaca Al‐Qur’an semakin berkurang. Di samping karena pengaruh keluarga dan lingkungan, faktor lain seperti menjamurnya buku‐buku komik, novel, games, dan maraknya jejaring sosial juga turut mempengaruhi minat baca masyarakat terhadap kitab suci umat Islam tersebut.

Menjawab fenomena tersebut, kini telah hadir dan beredar berbagai model Al‐Qur’an yang sangat berbeda dengan terbitan sebelumnya. Berbagai desain menarik yang disesuaikan dengan sasaran pasar bertujuan untuk menarik minat baca masyarakat. Ada Al‐Qur’an yang dikhususkan bagi anak‐anak (Al‐Qur’an For Kids), cara mudah untuk membuat anak‐anak tertarik belajar Al‐quran dengan desain yang ekslusif ditambah dengan warna menarik. Al‐Qur’an For Women, Al‐Qur’an yang didesain dengan warna atau gambar yang terkesan feminim dan juga dengan memberi tanda pada ayat‐ayat yang menjelaskan wanita. Al‐Qur’an e‐Pen, mushaf Al-Qur’an yang dilengkapi dengan pen elektrik yang memiliki teknologi digital berupa alat sensor yang apabila mata pen disentuhkan maka ayat‐ayat Al‐Qur’an yang disediakan, maka akan dibaca dengan benar.

Kemunculan berbagai model Al-Qur’an yang terkesan kekinian tersebut secara otomatis akan mengundang sebuah pertanyaan, apakah hal tersebut dapat dibenarkan menurut kaca mata syariat?.

Dalam sejaranhnya, pada saat dibukukan pertama kalinya di zaman Khulafaur Rasyidin, tulisan Al-Qur’an belum memiliki tanda baca, harakat, bahkan titik yang membedakan huruf yang satu dengan yang lainnya. Tentunya hal demikian akan sulit dibaca bagi seseorang yang memang tidak paham secara langsung atas Al-Qur’an, apalagi bagi orang-orang yang di luar Arab. Kekhawatiran akan terjadi kesalahan dan perubahan dalam Al-Qur’an mendorong para ulama di masa-masa selanjutnya untuk berupaya memberikan titik, harakat, dan tanda baca.

Menurut pemaparan yang disampaikan oleh  Imam An-Nawawi dalam kitab At-Tibyan fi Adabi Hamlatil Qur’an adalah sebagai berikut:

اِتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِ كِتَابَةِ الْمَصَاحِفِ وَتَحْسِيْنِ كِتَابَتِهَا وَتَبْيِيْنِهَا وَإِيْضَاحِهَا وَتَحْقِيْقِ الْخَطِّ دُوْنَ مَشَقَّةٍ وَتَعْلِيْقِهِ قَالَ الْعُلَمَاءُ وَيُسْتَحَبُّ نَقْطُ الْمُصْحَفِ وَشَكْلُهُ فَإِنَّهُ صِيَانَةٌ مِنَ اللَّحْنِ فِيْهِ وَتَصْحِيْفِهِ

“Para ulama sepakat atas hukum kesunnahan menulis mushaf, memperindah dan memperjelas tulisannya, membenarkan tulisan dan memberi keterangan pada mushaf. Ulama lain berkata, disunnahkan memberi titik dan harokat pada mushaf, karena hal tersebut dapat menjaga dari kekeliruan dan kesalahan dalam membacanya,”.[1]

Dari  uraian tersebut dapat dipahami bahwa para ulama sepakat bahwa membumikan Kalamullah melalui perantara penulisan mushaf Al-Qur’an memiliki hukum sunnah dan sangat dianjurkan. Begitu juga menambahkan harakat dan tanda baca yang bertujuan untuk menghindari kesalahan dalam membaca Al-Qur’an. Bahkan, diperbolehkan menambahkan keterangan ataupun catatan kaki berupa keterangan penting yang masih berhubungan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, misalkan Asbabun Nuzul (sebab turunnya ayat), tafsir ayat, dan lain sebagainya.

Lebih lanjut lagi, menghiasi Al-Qur’an dengan warna yang beragam dan mencolok juga dapat dibenarkan apabila bertujuan lebih memperjelas tulisan mushafnya, menjaga dari kesalahan bacaan memperindah Al-Qur’an.[2] Bahkan, menurut Imam Al-Ghazali, diperbolehkan menghiasi mushaf Al-Qur’an dengan menggunakan hiasan yang berbahan baku emas.[3] Meskipun para ulama memiliki kelonggaran hukum dalam legalitas untuk membentuk model Al-Qur’an, namun harus tetap memperhatikan bahwa model‐model yang beredar tersebut tidak sampai merendahkan atau mengurangi kesakralan Al‐Qur’an.

Meskipun demikian para ulama pun mengakui, bahwa berbagai tambahan tersebut adalah sebuah perkara baru yang belum pernah ada di zaman Rasulullah Saw. Namun, apabila dianalisa secara mendalam, itu semua tergolong dari bagian perbuatan bid’ah hasanah yang tidak dilarang. Karena bagaimana pun, semuanya memiliki tujuan yang dapat dibenarkan dan sesuai dengan jalan syariat. waAllahu a’lam[]

 

___________

Referensi:

[1] At-Tibyan fi Adabi Hamlatil Qur’an, vol. I/190.

[2] Ittihaf As-sadah Al-Muttaqin, vol. V/36.

[3] Al-Itqan fii Ulum Al-Qur’an, vol I/432.