Anak yang Menyendiri Bersama Al-Qur’an: Awal Kisah Keagungan Imam Nawawi

Bayangkan seorang anak kecil berusia sepuluh tahun, berlari menjauh sambil menahan tangis karena diejek teman-temannya. Namun alih-alih membalas, ia berhenti di tempat sunyi, membuka mushaf lusuh, lalu membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan suara lirih tapi penuh ketenangan. Dari bibir mungil itu, mengalir bacaan yang kelak menggetarkan dunia Islam. Anak kecil itu bernama Yahya bin Syaraf an-Nawawi—yang di kemudian hari terkenal dengan panggilan Imam Nawawi, sang ulama agung dari mazhab Syafi’i, lautan ilmu, dan teladan kezuhudan yang sinarnya tak pernah padam hingga kini.

Baca juga: Tahun Baru Hijriah: Sejarah, Penetapan, dan Makna Hijrah

Daerah asal dan kisah masa kecil

Imam Nawawi dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di desa Nawa. Ayahnya adalah penduduk asli desa tersebut.

Ayah beliau pernah menceritakan, “Suatu malam, ketika Nawawi kecil berusia tujuh tahun, pada malam tanggal dua puluh tujuh Ramadhan, ia tidur di sampingku. Sekitar tengah malam, ia terbangun dan berkata: ‘Wahai Ayah, cahaya apakah ini yang memenuhi seluruh rumah?’

Kami semua di rumah pun terbangun, tetapi tidak seorang pun melihat sesuatu. Maka aku pun mengerti,” kata ayahnya, “bahwa malam itu adalah Lailatul Qadar.”

Baca juga: Hari Santri Nasional: Mari Renungkan Perjuangan Pesantren Lirboyo di Masa Penjajahan

Terpenjara bersama Al-Quran dalam kesendirian

Salah satu guru beliau dalam bidang tasawuf, Syaikh Yasin bin Yusuf az-Zarkasyi, pernah menuturkan kisah masa kecil Imam Nawawi yang penuh isyarat akan keagungan masa depannya. Sejak berusia sepuluh tahun, Nawawi kecil sudah tampak berbeda dari anak-anak seusianya. Ia lebih suka menyendiri dan tidak banyak bermain, hingga sering dijauhi oleh teman-temannya. Suatu hari, setelah diperlakukan kasar oleh teman sebayanya, Nawawi kecil berlari sambil menangis. Namun, ketika sampai di tempat yang sepi, ia justru menenangkan diri dengan membaca Al-Qur’an.

Baca juga: Adab Sebelum Ilmu: Ruh Penghormatan Santri kepada Kiai

Ucapan sang guru

Melihat pemandangan itu, Syaikh Yasin merasa takjub. “Anak ini tidak seperti kebanyakan anak kecil,” gumamnya. Beberapa hari kemudian, ketika Nawawi kecil, sang ayah mengajaknya ke toko, alih-alih membantu berdagang, ia malah memilih membuka mushaf dan membaca Al-Qur’an dengan khusyuk. Hal itu semakin menggerakkan hati Syaikh Yasin. Ia pun segera menemui guru yang mengajarkan Al-Qur’an kepada Nawawi kecil, lalu berkata dengan penuh keyakinan:

هَذَا الصَّبِي يُرْجَى أَن يكون أعلم أهل زَمَانه وأزهدهم وَينْتَفع النَّاس بِهِ

“Anak ini kelak akan menjadi orang paling alim dan paling zuhud di zamannya. Ia akan membawa manfaat besar bagi umat manusia.”

Ucapan itu kemudian beliau sampaikan kepada ayah Nawawi kecil. Sang ayah tertegun—tak menyangka anaknya memiliki cahaya keistimewaan sedemikian rupa. Sejak saat itu, kasih sayang dan perhatian sang ayah kian bertambah. Dan benar saja, sebelum usia baligh, Nawawi kecil telah menghafal Al-Qur’an seluruhnya—pertanda nyata dari janji yang telah sang guru sufi ucapkan.

Baca juga: Biografi Syaikh Abdul Qadir al-Jailani: Wafatnya Sang Quthb al-Ghauts

Referensi

Tāj al-Dīn ‘Abd al-Wahhāb bin Taqī al-Dīn al-Subkī, Ṭabaqāt al-Syāfi‘iyyah al-Kubrā, cet. ke-2 (Kairo: Hajr li al-Ṭibā‘ah wa al-Nasyr wa al-Tawzī‘, 1413 H), juz 8, hlm. 396-397.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

One thought on “Anak yang Menyendiri Bersama Al-Qur’an: Awal Kisah Keagungan Imam Nawawi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses