243 views

Antara Usaha dan Doa

Antara Usaha dan Do’a | Suatu hari, aku dan Ubaid -salah satu teman diskusi- sedang mendiskusikan tentang usaha dan doa. Sampai mana batasan Tuhan dari dua hal tersebut, dan apa tindakan manusia dalam menyikapi takdir yang sudah ditentukan oleh-Nya. Apakah dengan doa dan usaha?

Apakah kita masih bisa merubah takdir yang sudah tertulis di lauhul mahfud  baik dengan doa dan usaha? Apakah dengan cara itu Tuhan menyadarkan kita tentang tidak adanya kuasa manusia dalam menjalani kehidupan? Maka, timbullah istilah usaha agar kita mau mengejar apa yang dikehendaki Tuhan dalam kehidupan kita. Begitu juga dengan doa, agar kita selalu menyertakan Tuhan di setiap tarikan nafas yang kita perjuangkan.

Mulai dalil-dalil Al-Quran, hadits, ungkapan-ungkpan yang telah merakyat di telinga. Seperti “Usaha tanpa doa itu sia-sia, dan doa tanpa usaha hanya mimpi belaka” dipakai meramaikan perdebatan. Segelas kopi dan jajanan seadanya, tetap saja masih dirasa kurang untuk membantu mencairkan ide-ide segar yang tertumpuk dalam kepala.

Karena sudah lelah dan kehabisan akal untuk mencari jalan keluar. Aku menyarankan Ubaid untuk mengkritisi pendapat-pendapat para ulama yang memang sudah diakui kredibilitas keilmuannya. Dengan begitu, kami tidak perlu repot-repot mencari jawaban yang tak kunjung mendapat titik terang.

“Kita ambil maqolah Imam syafi’I dan Imam Malik, gimana menurutmu?” Ubaid mengusulkan.

Aku mengangguk, menyetujui apa yang ia tawarkan.

Penjelasan Tentang Usaha dan Do’a

“Menurut Imam Syafi’i, hendaknya lebih mengutamakan jalan usaha dan tawakkal. Namun, Imam Malik lebih memilih dicukupkan dengan berdoa. Beliau berdalih bahwa segala hal yang terjadi sudah ditetapkanNya, dan kita tidak mungkin mampu mengubah apa yang sudah digariskan sejak awal penciptaan.”

“Kamu pilih Imam Syafi’i atau Imam Malik?” Ubaid bertanya padaku setelah menjelaskan pendapat masing-masing imam tentang permasalahan yang sedang kami diskusikan.

Cukup lama aku berpikir untuk mencari pendapat yang bisa digunakan. Sehingga dapat meyakinkan Ubaid kalau pendapat itulah yang paling benar. Bahkan, aku meminta Ubaid untuk mengulangi penjelasannya tentang pendapat yang ia pilih dengan lebih detail, supaya aku bisa lebih mudah memahaminya. Tapi, Karena mereka membabarkan permasalahan yang ada dengan baik juga disertai dengan alasan yang dapat diterima akal, sehingga aku sama sekali tidak menemukan letak kekurangan dari pendapat dari masing-masing imam. 

“Kalau kamu tidak mau memilih, maka aku yang menentukan,” ujar Ubaid dengan senyum khasnya. Kedua pundakku terangkat. Bersikap acuh.

“Aku ambil maqolah Imam Syafi’i, dan kamu ambil maqolahnya Imam Malik. Setuju?”

“Okelah,” kataku.

Ubaid memberiku waktu sekitar sepuluh menit untuk mendalami maksud yang terkandung dalam maqolah tersebut. ia juga menyodorkan buku yang menuliskan maqolah dari masing-masing imam yang ia jelaskan tadi agar aku lebih mudah memahaminya.

Apa yang aku pahami dari pendapat masing-masing imam dalam buku tersebut, seperti ada kejanggalan yang diungkapkan oleh Imam Malik. Karena, jika aku simpulkan sendiri, beliau lebih mengutamakan pasrah dari berusaha lebih dahulu. Dengan kata lain, Imam Malik lebih mendahulukan doa dari pada usaha. Dan Imam Syafi’i sebaliknya, beliau lebih mengutamakan usaha daripada doa dengan tawakal sebagai hasil akhir.

“Bagaimana, siap?”

Aku menggeleng cepat. Aku masih belum menangkap apa yang dimaksud Imam Malik. Ubaid mungkin sudah memahami pendapat Imam Syafi’i lengkap dengan contoh-contoh yang bisa menguatkan jawabannya.

Dalam kebingungan, aku mencoba mengalihkan pandanganku menuju sepasang burung elok yang bertengger di atas pohon. Lebih tepatnya, seekor anak burung yang sedang menantikan makanan dari induknya.

Aku merenungi sejenak apa yang terjadi pada anak burung. “Bagaimana mungkin dia bisa mendapat makanan, sedangkan dia tidak melakukan apapun? Bagaimana mungkin, dia tetap bertahan hidup tanpa ada usaha? Bukankah itu mustahil?” batinku.

Kepalaku seperti menemukan jawaban dari permasalahan ini. “Itu dia yang aku cari!”

Untuk mendapatkan apa yang dicari, usaha dan doa hanya sebatas cara Tuhan agar manusia tak bermalas-malasan. Sehingga mereka akan terus melangkah untuk mencapai apa yang diinginkan, meski hasil finalnya sudah ditentukan sejak awal. Singkat kata, usaha dan doa tidak akan merubah skenario takdir yang telah ditetapkan olehNya.

Ibarat lomba lari. Meski Tuhan telah mentakdirkan kita kalah, Tuhan tetap menyuruh kita untuk berusaha memenangkannya. Kita tidak tahu, apa yang dikehendaki oleh Tuhan atas kehidupan kita. Sama seperti konsep kaya dan miskin. Tidak ada jaminan sama sekali saat kita bersusah payah bekerja kita akan kaya, yang ada hanya harapan untuk menjadi orang kaya semakin terbuka. Tapi kalau Tuhan berkehendak miskin kita bisa apa?

Seperti halnya anak burung. Meski ia tak mencari makan, atau bahkan enggan untuk berdoa agar ada makanan yang datang, tetap saja rezeki yang menjadi jatahnya akan tiba. Takdir sudah menggariskan setiap rejeki yang diberikan pada anak burung.

Sekarang aku sadar, kenapa Imam Malik lebih mendahulukan doa dari pada usaha. Sebab beliau tahu hakikat takdir, tidak mampu diganti hanya kita berusaha atau berdoa.

Seberapa jauh kita berusaha, seberapa sering kita berdoa, tetap saja keputusan Tuhan menjadi titik akhir dari pada apa yang kita perjuangkan.

Inilah yang dimaksud dengan ungkapan. “Manusia yang berjuang, tetapi Tuhan yang menentukan.”

“Oke aku sudah faham. Aku atau kamu dahulu yang berpendapat?”

“Aku dulu saja.” Ubaid merespon perkataanku tanpa ada keraguan sama sekali.

Sesaat kemudian, ia menjelaskan maqolah dari Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa setiap manusia diwajibkan untuk berusaha agar bisa memperoleh apa yang ia inginkan. Setelah itu lahirlah istilah tawakal yang menjadi jembatan untuk sampai pada apa yang diinginkan. Dalam artian, berdoa dan bersunggu-sungguh adalah cara kita, agar Tuhan merealisasikan apa yang kita usahakan.

“Aku sepertinya kurang sependapat dengan apa yang kamu ucapkan barusan” kataku sambil tertawa perlahan.

“Kamu lihat burung itu? Perhatikan apa yang dilakukan sang induk pada anaknya.” Sambungku.

Dia menatapku sekilas dipenuhi tanda tanya lalu menolehkan wajahnya kearah sangkar burung tadi.Ubaid sepertinya belum memahami apa yang aku maksudkan.

“Begini aku akan jelaskan,” Aku mencoba membenarkan posisi tubuhku agar rileks dan santai dalam menjawabnya.

“Seekor anak burung, tidak perlu bersusah payah untuk mencari makanan agar ia bisa bertahan hidup. Menurutku, alasannya sederhana. Rezeki pada anak burung, sudah ditentukan olehNya. Nah, cara Tuhan memberi makan pada anak burung adalah melewati induknya. Sama seperti saat kita masih kecil. Kita tidah pernah berpikir untuk bekerja untuk makan. Meski kita hanya berlarian dan bercanda sewaktu kecil dulu. Tuhan tetap memberi memenuhi perut kita. Tuhan akan tetap membagikan rezekinya pada kita. Usaha dan doa tidak berpengaruh sama sekali dalam hal ini.”

“Menurutmu bagaimana?” Ucapku dengan percaya diri.

Ubaid terdiam sejenak mendengarkan penjelasanku. Aku yakin, tidak ada lagi celah baginya untuk menyangkal pendapatku.

Anehnya dia tidak membalas pertanyaanku, dia lebih memilih untuk kembali menatap anak burung lengkap dengan induknya yang sedang memberi makan.  

Ia menepuk pundakku perlahan dan tersenyum, “Yang seharusnya dijadikan alasan dalam hal usaha dan doa itu bukan anaknya, tapi induknya. Lihatlah sebagai mana sang induk bekerja keras mencari makanan bagi anaknya. Karena sang induk tahu jika anaknya berdoa saja seperti apa yang kamu maksudkan. Anaknya tidak akan bisa hidup. Paham?”

“Coba kamu telefon orang tuamu sekarang dan meminta mereka berhenti memberikan uang. Apa kamu tetap bisa makan?”

Aku hanya bisa menelan ludah mendengar penjelasannya. Ubaid selalu saja sukses mencari celah dari setiap penjelasan yang aku utarakan.

Tak ada cara lain. Aku harus kembali menyanggah jawabannya, atau aku akan dianggap kalah.

Dan aku tak ingin hal itu terjadi. Prinsipku dalam berdebat hanya ada dua: aku yang menang atau Ubaid yang kalah.

Kemudian kami serempak memandang burung tadi. Mencari jawaban yang tepat untuk menemukan titik terang yang sedang kami cari. Tepat ketika sang induk kembali terbang, sang anak tadi merengek pada sang induk agar sang induk tidak meninggalkanya.

Entah malaikat apa yang hinggap dalam otakku. Aku seperti menemukan sebuah ilham yang menjadi sanggahan untuk pendapat Ubaid.

“Panas banget, ya. Minta tolong boleh, kan?” Tanyaku memelas pada Ubaid.

Ubaid segera melangkah menuju kamar. Saat kembali dengan membawa segelas air padaku, aku tidak langsung meminumnya. Melainkan meletakkanya di depanku dan membiarkan begitu saja.

“Kanapa nggak kamu minum? Katanya tadi haus?”

“Kamu tahu? aku tadi berdo’a lho sama Allah,” kataku mengalihkan pembicaraan Ubaid.

“Maksudnya?”

“Aku berdoa, agar Tuhan mendatangkan sahabat yang dengan baiknya membawakan segelas air padaku. Soalnya kalau usaha dulu agak malas. Kata Imam Malik kan nggak perlu usaha. Ya jadi aku ngikutin maqolahnya.”

Wajah Ubaid berubah seketika mendengarnya.

Skak mat!

Aku memenangkan perdebatan. Ubaid hanya diam dan memandangi maqolah dari Imam Malik lalu menggaguk tanpa sebab.

“Satu kosong nih kayaknya.” Kataku mengejek Ubaid.

Ubaid tersenyum ramah dan menutup bukunya.[]

baca juga: Tawakal Pada Ijazah
tonton juga: [TALKSHOW] ZONASI PONDOK CABANG LIRBOYO

Penulis: M. Hasan Alkafrowi, HM Al-Mahrusiyah, asal Nganjuk

Antara Usaha dan Do’a Antara Usaha dan Do’a Antara Usaha dan Do’a

5