HomePojok LirboyoApa Kabar Musyawarah Fathul Qarib Lirboyo

Apa Kabar Musyawarah Fathul Qarib Lirboyo

0 5 likes 907 views share

LirboyoNet, Kediri. Dengan dimulainya kembali seluruh aktifitas Lajnah Bahtsul Masail Ponpes Lirboyo (LBM P2L), dimulai pula seluruh kegiatan ekstra kulikuler penunjang, seperti musyawarah Fathul Qarib perdana yang kamis kemarin malam (11/08) dimulai. Selain musyawarah Fathul Qarib, juga dilaksanakan musyawarah kitab Al-Mahalli yang sedianya di agendakan setiap malam ahad.

Pembukaan musyawarah Fathul Qorib kemarin berlangsung dengan suasana penuh semangat. Antusiasme santri, terutama siswa yang baru menginjak kelas satu tsanawiyyah tahun ini seolah tak terbendung. Ratusan jumlahnya memenuhi gedung LBM P2L guna berpartisipasi meramaikan musyawarah. Bahkan banyak dari peserta yang terpaksa harus duduk di emperan dan teras gedung karena auditorium sudah tidak mampu lagi menampung jumlah peserta musyawarah. Mereka yang bisa masuk, harus rela duduk berdesak-desakan di dalam gedung. Awal tahun pelajaran ini, musyawarah Fathul Qorib materinya dimulai lagi dari awal, “Kitab Ahkâm Thohârah”. Sebagai catatan, akhir tahun pelajaran kemarin, materi musyawarah telah mencapai bab terakhir dan selesai. Khatamanpun dihadiri oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus. Musyawarah dimulai sekitar pukul 23.00 WIs (Waktu Istiwa’) hingga pukul 02.00 WIs lebih. Agus HM. Sa’id Ridhwan, salah satu dewan rois LBM P2L kurang lebih menyampaikan pada pembukaan tadi malam, “Tidaklah pesantren salaf dibangun kecuali mencintai ilmu.” Beliau mengeluhkan, “Banyak orang yang cinta ilmunya saja. Syari’atnya saja” Dalam artian, kebanyakan pencari ilmu kurang membagi kecintaan mereka terhadap shôhibus syâri’at (Dalam konteks ini adalah Nabi Muhammad SAW.), dan justru hanya senang mempelajari syari’atnya saja. Akibatnya, mereka kurang memperhatikan amaliyah dan tidak begitu mementingkan ibadahnya. Kemudian timbulah perasaan kurang ikhlas dalam bertaqarrub dan “penyakit-penyakit” lainnya. “Kalau mencari ilmu kita ekspresikan sebagai cinta kepada Nabi, itu merupakan afdholil maulid” kata beliau mengutip maqolah seorang ulama.

Musyawarah Fathal Qorib merupakan tradisi yang sudah bergulir sejak bertahun-tahun silam. Tradisi ini terus dilestarikan hingga sekarang. Di Lirboyo, musyawarah Fathal Qorib merupakan salah satu ajang yang paling bergengsi bagi setiap angkatan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien mulai tingkat Tsanawiyyah hingga ‘Aliyyah. Disinilah setiap angkatan menunjukkan kesiapan dan kematangan mereka dalam beradu argumen. Sehari sebelum musyawarah dilaksanakan, sudah menjadi adat kalau setiap angkatan mengadakan Pra Fathul Qarib. Semacam musyawarah dengan cakupan peserta yang lebih intern demi mempersiapkan materi yang hendak dibahas di gedung LBM P2L. Persiapan menjadi  lebih matang lagi karena biasanya dua hari sebelum musyawarah Pra Fathul Qorib dilakukan musyawarah lagi. Musyawarah ini biasanya dikoordinir oleh pengurus tiap-tiap Himpunan Pelajar santri atau yang sejenis. Anggotanyapun hanya terbatas pada santri-santri di tiap-tiap daerahnya masing-masing. Persiapan yang bisa memakan waktu hingga berhari-hari dengan referensi dari berbagai kitab komentar (Syarah) dan catatan pinggir (Hasyiyah) ini tentu membuat pembahasan musyawarah Fathul Qorib menjadi semakin dalam. Bahkan tidak hanya sekedar membawa referensi standar sebagai bahan acuan bermusyawarah, tak jarang peserta juga menampilkan kitab-kitab yang tergolong besar dan sulit, seperti Majmu’ dan Al-Hâwi Al-Kabîr yang tebalnya puluhan jilid. Pembahsan materi dilakukan pelan-pelan. Sekali pertemuan, biasanya hanya mampu membahas satu fasal atau bahkan setengan fasal saja.

Musyawarah dipandu oleh seorang rois pembaca yang bertugas membacakan materi, dan seorang moderator yang bertugas memimpin jalannya musyawarah. Dewan perumus dan dewan rois LBM P2L juga hadir turut menjadi pengarah. Beliau-beliaulah yang nantinya mendapatkan mendapat bagian akhir untuk menyimpulkan hasil pembahasan, serta melengkapi beberapa kekurangan yang belum sempat terbahas. “Tujun LBM dibangun, untuk mencetak kader yang handal. Setaraf disebut al-‘alim dan al-faqih” kata Agus HM. Sa’id Ridhwan.[]