All posts by abdul basit na

Jumat Yang Kaya Pahala

Saban malam jumat masyarakat kita tak pernah lepas dari ritual-ritual keagamaan semisal Tahlil bergilir, manaqiban, dibaiyyah dan Ritual lain, yang merupakan ciptaan penyebar agama islam di Nusantara, dan hingga sekang masih gagah terlaku, meski sudah berusia ratusan tahun.

Masyarakat beranggapan bahwa malam jumat adalah malam berkah, malam banyak turun rahmat dari Allah Swt. Bahkan pujian-pujian yang mereka gunakan sembari menunggu Iqamat di masjid-masjid juga begitu indah membawa pesan:

“Kemis malam jumat ahli kubur sambang omah    Nyuwun pandungane ayat quran sak kalimah”

Allah Swt lebih mengutamakan apa dan siapapun yang Ia kehendaki, seperti Ia mengunggulkan Bulan Ramadlan dari bulan-bulan yang lain, melebihkan kemuliaan Hari Jumat dibanding Hari yang lain, begitupun tentang waktu-waktu yang ampuh, Ketika sang hamba berdoa akan Ia kabulkan, ketika ia meminta ampun akan di ampuni. para Kekasih dan UmatNya pun bersab-sab taraf kedekatannya. dan kebanyakan semua keunggulan-keunggulan tadi Ia rahasiakan tepat dan pemiliknya, kalaupun Ia jelaskan, hanya satu-dua, yang lain masih buram.

Tujuannya, agar hati seorang  hamba terlecut untuk meniti pahalaNya dari semua sisi dan kondisi, tanpa membeda-bedakan.

Beberapa ini keunggulan hari Jumat :

Sayyidul ayyam (penggawa Hari)

Hari Raya kita setiap satu hari sekali dalam seminggu ada di Hari Jumat, kalau Hari Raya Ied, seorang hamba kembali Fithri (suci), layaknya jabang bayi yang baru di lahirkan Ibunya, di Hari Jumat kita bisa berpesta dengan lautan pahala.

Di hari itu, dalam 24 jamnya terdapat waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa, Allah Swt merahasiakan kapan tepatnya. Hanya saja Ulama banyak memprediksi. Ada yang mengatakan waktu ampuh tersebut terdapat pada sela-sela khutbah pertama dengan kedua. Ada yang berpendapat, adalah waktu setelah sholat ashar. Dan lain-lain.

Arwah-arwah di kembalikan pada jasadnya

Madzhab Ahlussunnah berpedoman, bahwa ada saat-saat tertentu arwah ahli kubur di kembalikan pada jasadnya, lebih-lebih di hari jumat, mereka   -arwah-arwah itu- akan saling bercengkerama satu dengan yang lain, sambil menikmati hidangan yang disuguhkan kepada mereka, dari keluarga, kerabat, sahabat atau muslimin pada umumnya, lewat doa-doa, sedekah, atau kiriman Ayat-ayat Suci.

Bahwa arwah-arwah itu akan tau dan mendengar orang-orang yang berziarah, merasa tenteram ketika diziarahi, telah banyak keterangannya, baik dari Hadist atau dawuh Sahabat Nabi. Bahkan mereka lebih bisa merasa ketimbang kita yang masih di dunia. Dimanapun kita membacakan salam, mereka akan menjawabnya dikubur sana.

“saya bermimpi bertemu Ashim al jahdany selang beberapa tahun meninggalnya” kata seorang kerabat ashim.

“ aku bertanya kepadanya: “apa kalian (ahli kubur) tau kami berziarah kepada kalian? “

“ ya, kami mengetahuinya, di waktu sore hari kamis, seharian dihari jumat dan dimalam sabtu sampai matahari pagi muncul” jawab ashim.

“ kenapa hanya pada saat-saat tertentu saja (kalian mengetahuinya), kok tidak disemua hari ? “

Tanyaku penasaran dengan jawabannya yang memerinci

“ karena mulianya hari Jumat” .

Murahnya pengampunan

Dihari ini umat muslim berkumpul melaksanakan sholat jumat , yang sebelum keberangkatannya disunnahkan mandi, mandi yang melebur dosa, berangkat ke masjid setiap jengkal dari jangkahan kaki kita setara dengan pahala ibadah selama duapuluh tahun, ketika selesai melaksanakan sholat, di ganjar dengan amal pahala yang dikerjakan selama 200 tahun !! tak berkurang.

Diceritakan, bahwa Allah menciptakan menera yang terbuat dari perak putih, disekitar bait almakmur _tempat ibadah para malaikat yang berada diatas langit ketujuh_ ketika hari jumat Malaikat Jibril naik ke atasnya dan mengumandangkan adzan. Setelahnya, Malaikat Isrofil yang berkhutbah, sedangkan Malaikat Mikail maju sebagai Imam, dengan dimakmumi ribuan malaikat atau tak terhingga.Setelah sholat selesai dikerjakan, Jibril berkata :

“ aku hadiahkan pahala adzanku kepada Umat Muhammad yang menjadi muadzin dibumi sana”.

 Isrofilpun ikut-ikutan “aku hadiahkan pahala khutbahku kepada khotib Umat Muhammad “ . Mikail tak mau ketinggalan, ia berujar  “aku hadiahkan pahalaku menjadi imam kepada Umat Muhammad yang menjadi imam sholat jumat “.

 Setelah itu, seluruh Malaikat yang mengerjakan sholat seremapak berujar “ seluruh pahala berjamaah kami, kami hadiahkan untuk Umat Muhammad yang mengerjakan sholat jumat “.

Melihat tingkah MalaikatNya, Allah berfirman “ wahai Malaikat-malaikatku, apa kalian hendak menampakkan kedermawaan kalian di hadapanku ? demi kemuliaan dan keagunganku, sungguh dihari ini telah aku ampuni semua dosa hambaku yang mengerjakan sholat jumat karena mengikuti perintahku dan kekasihku Muhammad.”

Perbanyak juga berselawat kepada Baginda Nabi, karena perintah beliau sendiri “ banyak-banyaklah berselawat kepadaku di hari jumat, karena hari itu adalah hari yang disaksikan Malaikat, seseorang yang bersholawat , akan disampaikan kepadaku

Nabi Terakhir : Mukjizat Mutakhir

Umat muslim harus mengimani bahwa Nabinya adalah Nabi penutup, kalaupun ada Nabi setelahnya pastilah  Nabi abal-abal, dia juga Nabi sekaligus Rosul yang paling utama di antara ribuan Nabi sebelumnya.

Sederet kelebihan yang Allah berikan kepada beliau, mulai dari derajat yang tinggi di sisiNya, makhluk yang paling sempurna diantara yang pernah di ciptakan, sampai dengan jumlah pengikut terbanyak, bahkan menjadi mayoritas penduduk surga (semoga kita termasuk).

Bertolak dari sini, Nabi yang berkriteria sedemikian itu, seharusnya bukti kenabian yang ia miliki lebih ‘’ mengalahkan ‘’ dari pada kelebihan para pendahulunya, lantas apakah memang demikian ? mari kita urai.

Nabi Adam, Nabi sekaligus manusia  pertama, di ajari langsung oleh Allah tentang nama-nama seluruh benda, selanjutnya Allah memamerkan kemampuannya itu di hadapan malaikat, dan memerintahkannya untuk bersembah sujud.

ternyata Nabi kita juga di ajari langsung oleh Allah tentang nama-nama benda sekaligus wujud bendanya, bahkan sujudnya para Malaikat kepada Nabi Adam selain merupakan perintah Allah, juga karena di kening beliau terdapat pancaran sinar Muhammad.

Nabi Idris A.S di muliakan oleh Allah dengan mengangkatnya ke tempat yang mulia (tinggi/surga) sedangkan Nabi kita diangkat oleh Allah ke sebuah tempat yang belum pernah seorangpun menjamahnya, yakni saat isro’ mi’roj, bahkan beliau berdialog langsung dengan Sang pencipta.

Sementara Nabi Nuh A.S, Allah menyelamatkan beliau dan kaumnya dari keganasan air bah, dan Ia memberikan kasih sayangNya kepada ummat Muhammad dengan menyelamatakan mereka dari siksa yang di timpakanNya langsung dari langit, layaknya umat terdahulu.

Di lain Nabi Allah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai kholil (kekasih/sahabat) Nya. Dan Ia memposisikan Nabi kita sebagai habib (kekasih/tercinta) Nya, perbedaan derajat keduanya jelas kentara.

Nabi Daud, besi di tangan beliau layaknya kain, beliau bisa berkreasi apa saja menggunakan besi. Nabi agung kita, dengan sentuhan tangan mulianya, pohon yang asalnya sudah kering kerontang  langsung bersemi dan berbuah.

Nabi Musa bisa mengubah tongkatnya menjadi ular,ular yang tidak bisa bicara, saat menghadapi penyihir-penyihir Raja fir’aun. Tak kalah menariknya, di tangan mulia Nabi Muhammad Saw. makanan dan kerikil-kerikil bertasbih. Batu bersalam kepadanya. Beliau bisa berdialog dengan gunung. Pohon berbicara serta mengucapkan salam bahkan bersaksi atas kenabiannya. Bersujud serta mengadunya seekor Onta. Semua hewan-hewan dan makhluk tidak bernyawa tadi bisa berdialog dengan baginda Nabi, tidak halnya dengan ular Nabi Musa.

Tanda kenabian yang lain, beliau Nabi Musa bisa membelah lautan, seperti cerita yang telah masyhur. Bandingannya,  Nabi kita di beri mukjizat bisa membelah rembulan, dijelaskan bahwa  Ketika kaum Kafir Makkah meminta Rasulullah untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah serta menguji kebenaran Risalah baginda Rasulullah dengan memintanya Membelah Bulan.Maka Allah Swt mengabulkan doa beliau hingga pada malam hari tampaklah bulan terbelah menjadi Dua bagian, di mana bagian lainnya berada di sisi  Gunung Safa dan bagian lainya di sisi Gunung Qaikaan dan terlihat di antaranya bukit Hira.Tapi orang-orang Kafir Makkah malah mengingkari Mukjizat tersebut dan berkata: “Muhammad telah Menyihir Kita”. bahkan kabar ilmu modern,Ilmuwan NASA telah mengungkapkan bawah di bulan terdapat celah dengan panjang beberapa ratus kilometer, kemudian mereka pun menemukan beberapa celah lain di permukaan Bulan yang sampai sekarang belum diketahui penyebab retakan terebut

Nabi Musa juga di beri mukjizat berupa mengalir derasnya air dari bebatuan. Lebih dari itu, celah jemari Nabi Muhammad juga bisa memancarkan air hingga bisa digunakan minum dan bersuci 1500 pasukan beliau saat perang.

Nabi Harun di beri kelebihan dengan bicaranya yang fasih, Nabi Muhammad selain fasih berbicara, perkataan beliau juga mengandung sastra yang dinggi.

Nabi Yusuf yang tampan ternyata hanya separuh dari ketampanan Nabi Muhammad (bukan berarti ketampanan Beliau di bagi 2 dengan Nabi Yusuf), bahkan ketampanan beliau tidak menimbulkan fitnah, seperti ketampanan Nabi Yusuf yang menyebabkan Zulaikho’ terpancing untuk “mencederai” beliau.

Beralih ke Nabi Sulaiman, banyak mukjizat beliau yang pernah kita dengar, diantaranya beliau bisa berbicara dengan burung, setan menjadi pasukan perangnya, mempunyai kerajaan yang besar dan mengagumkan, yang belum pernah dan tidak akan pernah di miliki seseorang selain beliau, sesuai permohonan beliau kepada Allah. Baginda Nabi kita tidak hanya bisa berkomunikasi dengan benda yang hidup, kerikil, batu, gunungpun (yang semua benda mati) berbicara dan bersaksi di hadapan beliau. Kalau Nabi Sulaiman ketika hendak pergi kemanapun di penjuru bumi dengan menaiki angin, baginda Nabi dengan Buroq yang bisa membawa beliau ke lintas ruang dan waktu  dengan kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya. Beliau baginda tidaklah memperbudak Jin, tapi mengislamkannya. Pasukan perang Beliau juga bukanlah Jin, tapi para Malaikat juga turut serta dalam barisan perang. Soal kerajaan yang besar dan megah, memang Nabi sendiri memilih menjadi hamba biasa ketika beliau di suruh memilih apakah menjadi Nabi-Raja atau Nabi-Hamba.

Nabi Isa bisa menyembuhkan orang berpenyakit lepra, orang buta dan menghidupkan orang mati. Baginda Nabi mampu mengebalikan bola mata yang sudah terlepas dari kelopaknya, bahkan menjadi lebih sempurna dari yang semula. Beliau juga bisa menghidupkan orang mati, yakni saat seorang laki-laki berkata pada beliau “aku tidak akan beriman padamu hingga kau bisa menghidupkan putriku.”  Beliupun mendatangi kuburan putri laki-laki tadi dan berkata “ wahai fulanah”. Terdengar suara dari dalam kubur “ labbaika wa sa’daika”.

Puteri Sastrawan Besar dan Kesombongan si Arab

Nama lengkapnya Amr Bin Utsman Bin Qanbar Abu Bisyr.  Beliau  lahir di tanah Persia, tepatnya di Desa ‎Baidha  (desa di Persia yang berdekatan dengan Shiraz) pada tahun 148 H (sekitar 765 M). Meski dilahirkan di Baidha namun beliau tumbuh besar di Bashra, Iraq. Beliau tumbuh dan berkembang di sana, hingga menjadi salah satu ulama Bashra terpopuler kala itu. Ini karena di sana beliau tumbuh berkembang dalam lingkungan ilmiah. Tercatat, ilmu pengetahuan pertama yang dia pelajari adalah Fikih dan Hadits. Pelajaran yang disebut terakhir ini beliau dapat dari Hamad Bin Sahnah.

Amr bin Utsman muda lantas mendapatkan laqab (julukan) Sibawaih. Julukan ini diambil dari bahasa Persia, “Sib” artinya buah apel, dan “Waih” yang berarti wangi. Jadi Sibawaih artinya wangi buah apel. Konon, menurut cerita yang  sangat masyhur di kalangan pesantren, laqab ini diberikan bukan makna konotasinya. Tubuh jasmani beliau memang memiliki aroma wangi seperti buah apel. Dengan kealiman yang beliau miliki, Imam Sibawaih sampai membuat pamor gurunya, Imam Kholil meredup. Bahkan murid-murid gurunya itu beralih berguru kepada beliau.

Perlu diingat bahwa beliau ini bukanlah keturunan Arab asli. Maka ketika mendengar kenyataan ini, seorang Arab tulen merasa tersinggung. “Bagaimana bisa seorang asing lebih pandai dan fasih berbahasa Arab ketimbang kita (orang Arab asli)?” gumamnya. “Sungguh aku akan menemuinya dan  mengajaknya bedebat. Aku pasti bisa mengalahkannya.” Tekadnya kemudian dengan semangat penuh.

Si Arab pun berangkat, hingga sampailah ia di daerah di mana Imam Sibawaih bermukim. Sesampai di rumah beliau, dia ketuk pintunya. Pintu terbuka. Tetapi ia kecewa karena bukan Imam Sibawaih yang membukakan pintu. Seorang puteri kecil Imam Sibawaih menatapnya, terheran-heran.

“Di mana Sibawaih?” ujarnya pada sang putri, tak sabar. Sang puteri, yang masih polos, menjawab apa adanya. Tapi justru jawaban ini yang membuat si Arab takjub, sekaligus luruh kepercayaan dirinya. Sibawaih kecil berkata:

“فاء الى الفيافى ليفى لنا بفيئ فاذا فاء الفيء يفيء”

Si Arab terdiam cukup lama. Setelah tersadar, ia ngeluyur pergi begitu saja tanpa pesan sambil menelan ludah. Ia berujar dalam hatinya,  “kalau gaya bahasa anaknya saja seperti itu (mengagumkan), bagaimana dengan gaya bahasa ayahnya?!”

Sebenarnya, apa yang diucapkan puteri Imam Sibawaih cukup sederhana, yang dalam kalimat lain bisa diungkapkan:

“ذهب الى الصحراء لياتي لنا بصيد فاذا غابت الشمس رجع”

“Ayah sedang pergi berburu untuk kami, bisanya beliau pulang di sore hari”

Namun, pemilihan kosa kata sang puteri yang indah lah yang kemudian membuat malu si Arab. Wallahu a’lam.

Enaknya, Jadi Umat Muhammad Saw

Allah Swt. begitu sangat memudahkan urusan umat Muhammad. S.a.w. mereka tidak dibebani sebuah tuntutan untuk menghamba kecuali semampunya, semua itu tak lepas dari posisi keagungan Nabi mereka di “mata Tuhan”,Nabi yang menjadi pamungkas para utusan, sehingga terputuslah kabar berita langit sepeninggalan beliau.
Umatnyapun ikut kecipratan, dengan menyandang predikat sebagai umat yang terbaik dari yang pernah ada, dengan janji mereka mau ber-‘amar ma’ruf nahi munkar.
Allah tidak hanya menjadikan umat ini sebagai yang terbaik dengan Nabi yang terbaik pula, di akhir surat Al-Baqoroh Ia berfirman
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Artinya; Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.
Orang-orang mukmin memohon agar Allah tidak memperberat dalam urusan agama mereka. Ulama tafsir menuturkan bahwa umat-umat terdahulu di bebankan melaksanakan sholat 50 waktu dalam sehari semalam, sedangkan kita ‘’ hanya’’ diperintahkan 5 waktu saja, tetapi pahalanya sebanding dengan pahala melaksanakannya 50 waktu.
Mereka juga di perintahkan menyisihkan ¼ hartanya untuk zakat, syariat kita cukup dengan mengeluarkan 2,5% saja untuk zakat dagangan dan 10% atau 5% untuk zakat biji-bijian.
Kaum Bani Israil, saat mereka durhaka karena menyembah sapi emas yang di ciptakannya sendiri, untuk menebus dosanya, mereka diperintahkan membunuh diri mereka sendiri, tak pelak,puluhan ribu orang mati. Ajaran kita menjadikan nelangsa dan berjanji tak akan mengulangi perbuatannya sebagai sarana untuk di terimanya taubat.
Syariatnya Nabi Ibrahim A.s, ketika sebuah benda terkena najis, untuk mensucikannya dengan memotong area yang najis. Dalam hal ini Allah memudahkan kita untuk menggunakan air sebagai alat sesuci.
Kasus lain, ketika kita berbuat dosa Allah tidak lantas langsung menampakkan siksanya, Ia tunda dulu. Ia tutupi aib dan dosa kita. Orang-orang terdahulu bila ternyata berbuat salah seketika akan nampak di jidat mereka , “ pendosa”.
Kaum yahudi, (dulu,ketika mereka masih di jalan yang benar) balasan bagi orang yang berbuat kriminal, melukai atau membunuh, hanya boleh di qishash (balasan yang sama) tibak boleh memaafkan pelaku atau mengambil diyat (denda) darinya. Sedangkan orang Nasrani, dalam kasus yang sama, mereka tidak di perbolehkan meng-qishash atau mengambil diyat. Bahkan mutlak bagi mereka harus memaafkan pelaku.
Cara berpijak tentang hukum mana salah dan benar, di zamana Nabi Ibrahim A.s menggunakan api, yakni ketika terdakwa memasukkan tangannya kedalam kobaran api, jika ia salah api akan membakar tangannya, sebaliknya, jika memang ia benar, api tidak akan terasa panas.
Beda zaman Nabi Ibrahim beda pula zaman Nabi Musa A.s. pada saat itu salah dan benar bisa di ketahui lewan tongkat beliau, tongkat tersebut akan memukul orang yang salah.
Pada masa Nabi sulaiman menggunakan angin, apakah ia akan bertiup kencang atau tenang. Di masa Dzul Qornain dengan lantaran air, orang yang salah akan tenggelam. Syariat kita, islam, kasus pidana ataupun perdata bisa di putuskan lewat sumpah atau saksi, kalau seseorang itu pada kondisi benar, silahkan datang saksi, andai tidak ada saksi, tak lantas haknya hilang, ia masih bisa membela diri dengan bersumpah,sudah cukup. meski hukum di negeri ini hal demikian tidak bisa sepenuhnya di jadikan pijakan.

 

Agama Sebagai Pilihan Hidup

Iman adalah hasil dari proses panjang sebuah pemikiran, ibaratnya kita akan percaya dan meyakini ada dan terjadinya sebuah perkara, dengan sebab kita mengatahuinya, jadi seseorang harus mengetahui dulu apa yang akan ia percayai sebelum beranjak meyakini dan membenarkan (tashdiq), dalam konsep ketuhanananpun demikian.

Akan tetapi,bukanlah jaminan keimanan bagi orang yang telah mengetahui sebuah dalil ketuhanan, sebab iman atau hidayah merupakan hak prerogatif Tuhan, bahkan nabipun tak banyak bisa berbuat. Contohnya, orang-orang kafir pada zaman Nabi Saw. meraka tahu betul siapa Nabi itu, mereka meyakini bahwa beliau benar-benar seorang utusan, nyatanya tidak tumbuh rasa iman di hati mereka.

Sebagian ulama mengelompokkan Iman dalam 3 pembagian, sesuai dengan pasang-surutnya:

Pertama, iman yang selalu bertambah dan tak bisa berkurang,yakni imannya para Nabi.Kedua, iman yang tidak bertambah dan tidak berkurang, kriteria imannya Malaikat.Ketiga, iman yang bisa bertambah dan bisa berkurang, imannya orang mukmin.

Meski keyakinan yang timbul sebab ikut-ikutan (taqlid)  terkadang Sesuai dengan kenyataan Tapi keyakinan orang yang demikian ini sangat rentan untuk di tumbangkan hanya dengan semisal memberikan sedikit pengertian yang bertentangan dengan apa yang ia ketahui.

Dalam ranah keimanan kepada Allah Swt secara umum (ijmaly), dalam I’tiqad ahlussunah wal jama’ah (ASWAJA) setiap mukallaf ( baligh dan berakal)  wajib meyakini sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi-Nya, sehingga ia harus :

  • Meyakini secara mantap tanpa keraguan, Allah Swt pasti bersifat dengan segala kesempurnaan (sifat wajib 20) yang layak bagi sifat keagungan-Nya.
  • Meyakini secara mantap tanpa keraguan, Allah Swt mustahil bersifat dengan segala sifat kekurangan (sifat mustahil 20) yang tak layak bagi keagungan-Nya.
  • Meyakini secara mantap tanpa keraguan, bahwa Allah Swt boleh saja melakukan atau meninggalkan segala hal yang bersifat jaiz (mumkin) seperti menghidupkan manusia atau membinasakannya.

Selain itu seorang mukallaf juga wajib meyakini secara terperinci (tafshily) sifat wajib yang menjadi sifat-sifat pokok kesempurnan-Nya (sifat asasiyah kamaliyah) sebagai Tuhan, sifat mustahil dan sifat jaiz.

Yang di kehendaki dengan dalil tafshili yakni ketika semisal seseorang di tanya;           ” apa bukti Tuhan itu ada ?” ia mampu menjawab ”bukti adanya Tuhan yakni alam ini. ” ketika si penanya masih mengejarnya dengan pertanyaan ” alam menjadi bukti adanya Tuhan dari sisi masih mungkinnya ia akan wujud atau sesudah ia wujud dari yang sebelumnya tidak ada ”, ia pun masih bisa menjawab. Sedangkan ketika jawabannya hanya sebatas ” bukti adanya Tuhan yakni alam ini ” saja, maka itulah yang disebut dalil ijmaly

orang-orang yang mengekor (taqlid) dalam keimanan, yakni keyakinan yang tumbuh tanpa di dasari pengetahuan sebuah dalil entah itu dalil ijmali (umum) atau dalil tafshili (perinci), dan yang demikian ini merupan iman kebanyakan umat islam, dalam penyestatusannya ulama tejadi perbedaan;

pertama, pendapat mayoritas ulama, mereka di hukumi mukmin, hanya saja mereka berdosa, sebab tidak mau berangan-angan terhadap dalil ketuhanan. Pendapat kedua, mereka dihukumi mukmin dan berdosa jikalau mereka mampu untuk berangan-angan dalil namun tak mau, apabila memang tidak mampu maka tidak dihukumi berdosa. Ketiga, yang paling ekstrim, mereka di hukumi kafir,sebab menurut pendapat ini, berfikir akan dalil keiminan merupakan hukum asal, artinya seseorang tidak cukup hanya sekadar ikut-ikutan (taqlid).

Perlu diketahui, bahwa hukum beriman atau tidaknya seseorang dalam pengelompokan ini merupakan hukum di akhirat kelak, sehingga selagi orang itu bersyahadat, ulama sepakat bahwa ia di hukumi muslim.

Pada akhirnya, daripada status iman kita masih di perselisihkan, marilah luangkan waktu untuk memikirkan  sifat-sifatNya, menyelami KalamNya yang tak bertepi, sehingga keimanan menjadi kukuh, tak mudah goyah, menjadikan islam memang benar-benar pilihan hidup, bukan karena tumbuh dan tercetak dari lingkungan, apalagi warisan.