All posts by santri lirboyo

Islam Nusantara Potret Peradaban Madani

Penulis: Muhammad Fajrul Falah
1400 tahun lebih telah berlalu sejak Islam muncul pertama kali di muka bumi, tepatnya di kota suci Makkah al-mukarramah yang terletak di Jazirah Arab, barat daya Benua Asia. Dalam perjalanannya Islam secara signifikan terus meluas ke seluruh penjuru dunia, baik melalui proses invasi ataupun metode yang lainnya. Beriringan dengan perluasan wilayah Islam tersebut, berbagai dinamika keagamaan muncul sebagai akibat dari proses perkembangan Islam menjadi “peradaban madani” di seluruh dunia. Sesuai dengan visi dan misinya yakni menjadi agama yang rohmatan lil ‘alamin.
Islam Nusantara Potret Peradaban Madani

Pada kenyataanya, usaha untuk mewujudkan Islam sebagai agama rohmatan lil ’alamin tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai rintangan siap menghentikan upaya para mujahid yang berjuang atas nama Allah demi mewujudkan visi dan misi Islam yang ramah di seluruh penjuru dunia. Salah satu faktor penting yang menghambat upaya tersebut adalah variasi budaya dan basic seluruh umat manusia di muka bumi. Apalagi, beberapa komunitas masyarakat di dunia memiliki tingkat fanatisme yang tinggi terhadap budaya mereka—sehingga akan cukup sulit untuk mengenalkan dan memasukkan budaya baru, seperti agama Islam dalam komunitas tersebut.

Namun bagi Islam, perbedaan budaya dan basic umat yang menjadi obyek dakwahnya tidaklah masalah. Karena sesuai dengan visi dan misinya menjadi agama rohmatan lil ‘alamin. Islam adalah agama yang global, sehingga Islam akan relevan di berbagai belahan dunia dengan karakter manusia yang sangat variatif. Apalagi, relevansi agama Islam, yakni agama yang dibawa dan diajarkan oleh Rasulullah sebagai agama bagi seluruh umat di dunia, telah dipatenkan oleh Allah dalam firman-Nya :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan kami (Allah) tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan kepada seluruh (umat) manusia sebagai pembawa kabar gembira (bagi orang mukmin) dan pemberi peringatan (bagi orang kafir). Hanya saja, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”. (QS. Saba’: 28)

Sehingga dapat difahami bahwa risalah yang dibawa Rasulullah Saw. akan tetap relevan bagi seluruh umat manusia, menembus segala ras dan budaya. Selain itu, Islam merupakan agama yang bersifat koperatif.

Kooperatif (Bersifat kerja sama)

Sifat koperatif itulah yang menjadi katalis dalam proses penyebaran dan pengukuhan di seluruh penjuru dunia. Mengapa demikian? Dalam ilmu sosiologi, telah diperkenalkan istilah akulturasi yang secara sederhana dapat diartikan sebagai proses percampuran dua budaya. Dalam proses akulturasi, dibutuhkan karakter koperatif oleh budaya terkait agar terbentuk jalan terbuka yang menjadi konjungsi di antara 2 budaya tersebut. Yang nantinya—konjungsi itu akan memunculkan koherensi di antara 2 budaya terkait sebagai manifestasi dari keberhasilan proses akulturasi. Sehingga melaui karakter koperatif inilah, Islam mudah berakulturasi dengan berbagai budaya, serta mudah beradaptasi dan diterima di seluruh belahan dunia.

Adaptif (Mudah menyesuaikan)

Selain karakter koperatif, adaptif adalah karakter yang tidak bisa dilepaskan dari ajaran agama Islam. Karakter adaptif yang dimiliki oleh Islam adalah salah satu implikasi dari karakter koperatif, yakni salah satu karakter yang juga dimiliki oleh agama Islam. Seperti yang telah diurai sebelumnya, karakter yang dimiliki oleh Islam telah mampu mengantarkan Islam sebagai agama yang mudah berakulturasi dengan berbagai budaya serta mudah beradaptasi dan diterima di seluruh penjuru dunia—menuju cita-citanya menjadi agama yang rohmatan lil ‘alamin. Dari karakter adaptif ini, Islam menjadi agama yang sangat kaya akan budaya akibat dari tingginya angka akulturasi. Dari karakter ini pula, muncul sebuah slogan yang sangat populer dikalangan ahlus sunnah wal jama’ah yakni:

المحافظة على القديم الصالح و الأخذ بالجديد الأصلح

“Menjaga (budaya) klasik yang baik dan mengambil (budaya) baru yang lebih baik”

Karakter koperatif-adaptif Islam, juga tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai toleransi yang menjadi salah satu ruh dalam dunia religi agama ini. Nilai-nilai toleransi yang ditampakkan oleh Islam melalui berbagai ajaran syariatnya, mengindikasikan bahwa Islam adalah agama dinamis yang akan berkembang dan terus menerus relevan dengan berbagai keadaan. Karakter toleransi ini pula yang diamalkan dan ditunjukkan oleh para penganut agama Islam. Sehingga Islam dengan mudah dapat diterima tanpa ada unsur paksaan. Karena pada dasarnya, Islam lahir dengan kedamaian bukan dengan watak teroris yang menakutkan. Bahkan Allah berfirman:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

“Tidak ada paksaan dalam agama” (QS. Al-Baqoroh: 256)

Dasar Sikap Moderat

Melihat kembali pada catatan sejarah Nusantara, ternyata nilai-nilai koperatif-adaptif dan toleransi telah diimplementasikan secara nyata dalam penyebaran dan pengokohan agama Islam di bumi Nusantara oleh para pendakwahnya, yang lebih dikenal sebagai Wali Songo. Para Wali Songo lebih memilih bersikap koperatif-adaptif serta bertoleransi tinggi dalam metode dakwah mereka. Hal ini bukan tanpa alasan, adapatif, koperatif, dan toleransi adalah tiga ruh utama yang menjiwai paham moderat (tawassuth) yang merupakan salah satu prinsip dalam ajaran ahlus sunnah wal jama’ah. Dengan sikap moderat inilah, Wali Songo mampu mengikis budaya non-Islam dari Nusantara. Bahkan, dapat menyisipkan nilai-nilai keIslaman pada budaya yang telah ada.

Teladan Rasulullah

Jika diteliti lebih jauh lagi, sikap moderat yang didasari oleh koperatif, adaptif, dan toleransi, merupakan teladan dari baginda Rosulullah Saw. Dalam perjalanan dakwahnya, beliau tidak pernah memberikan paksaan. Beliau hadir dengan cara yang begitu arif dan damai. Syariat yang beliau bawapun— juga hadir dengan penuh kebijaksaan. Sedikit demi sedikit, mengikis juga budaya jahiliyah non Islam. Tidak semata-mata secara langsung dalam menghapusnya. Karena sesuai dengan fitroh manusia, segala hal akan menjadi berat dan menakutkan jika terjadi secara spontan. Berbeda jika terjadi secara bertahap.

Salah satu bukti konkrit yang menunjukkan kearifan Rasulullah Saw. dan risalah yang beliau bawa dalam menerapkan syariat saat mengikis budaya jahiliyyah non-Islam, adalah praktek naskh. Salah satu produk dari proses naskh adalah keharaman khomr (arak). Pada masa awal Islam, khomr merupakan salah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari budaya jahiliyyah. Padahal, seperti yang diketahui saat ini, bahwa khomr adalah hal yang diharamkan. Namun, keharaman khomr ini tidak diterapkan oleh syariat secara seketika, melainkan dengan step by step (bertahap). Di antara ayat-ayat dalam al-Qur’an yang menunjukkan kronologi penerapan hukum haram pada khomr adalah sebagai berikut:
Ayat pertama terletak pada QS. An-Nisa’ ayat 43, yakni:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah mendekati sholat sedangkan kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu sekalian mengetahui apa yang kamu sekalian katakan” (QS. An-Nisa’: 43)

Ayat ini merupakan ayat tentang khomr yang pertama kali diturunkan oleh Allah swt. Ayat ini hanya mengindikasikan keharaman khomr dalam sholat saja, sedangkan di luar sholat hukumnya masih halal. Kemudian disusul dengan ayat berikutnya yang menaskh ayat di atas, yang terletak pada QS. al-Baqoroh ayat 219, yaitu:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

“Engkau (Muhammad) akan ditanyai mengenai khomr dan judi, maka katakanlah: keduanya mengandung dosa yang besar dan (juga mengandung) kemanfaatan bagi manusia. Adapun dosanya lebih besar daripada kemanfaatannya” (QS. Al-Baqoroh: 219)

Dalam ayat kedua ini, Allah swt. menyampaikan bahwa meminum khomr itu digolongkan perbuatan dosa, sehingga beberapa sahabat sudah tidak lagi meminum khomr meski beberapa yang lain masih meminumnya. Kemudian ayat inipun juga dinaskh dengan ayat yang terakhir turun mengenai hukum khomr, yang terletak dalam QS. Al-Maidah ayat 90, yaitu sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, khomr, judi, berhala, dan mengundi dengan panah hanyalah sebuah dosa yang termasuk amal syaithon. Maka jauhilah agar kalian beruntung” (QS. Al-Maidah: 90)

Ayat terakhir ini dengan tegas memberikan vonis hukum haram kepada khomr, sebagai tahap terakhir dalam penerapan hukum haram khomr yang dilakukan secara bertahap atau step by step. Selain itu, langkah step by step ini juga terbukti lebih ampuh dan lebih mengena pada sasaran daripada cara yang spontan.

Setidaknya, ada 2 hal yang mendasari hal tersebut, yaitu:

a. Suatu hal yang terjadi secara bertahap tidak akan memberatkan, sehingga tidak akan menyebabkan guncangan mental yang memiliki stigma negatif.

b. Suatu hal yang terjadi secara bertahap akan lebih menancap di dalam hati daripada sesuatu yang datang secara spontan. Seperti telah diketahui, bahwa kebanyakan hal yang datang secara cepat maka juga akan hilang secara cepat, berbanding lurus dengan cara kedatangannya.
Sehingga, bukanlah suatu kesalahan, menghadirkan Islam serta menerapkan syari’atnya di bumi Indonesia, khususnya di tanah Jawa, yang pada saat itu masih sarat dengan budaya mistik dan kejawen, dengan cara yang sama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW saat menghadirkan Islam di Jazirah Arab yang sarat akan budaya jahiliyyah.
Di sisi lain, syari’at Rasulullah saw. pun juga tidak sepenuhnya menghapus budaya jahiliyyah dan budaya agama sebelumnya. Hal ini terbukti dari beberapa syari’at Rasulullah saw. yang mengadopsi budaya-budaya yang telah ada sebelumnya, dengan menyisipkan nilai keislaman kedalamnya seperti Thowaf, Sa’i dan lain sebagainya. Bahkan adopsi syari’at ini juga termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an, yakni dalam QS. Al-Baqoroh ayat 158, yaitu:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya (bukit) Shofa dan (bukit) Marwah termasuk tanda-tanda (kebesaran) Allah, siapa saja yang berhaji atau berumroh, maka tidak ada dosa baginya untuk bethowaf dengan kedua (bukit) tersebut. Dan siapa saja yang melakukan ibadah sunnah dengan (perkara) yang baik, sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Bersyukur lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqoroh: 158)

Lantas hal ini, yakni adopsi budaya dan memasukkannya sebagai syari’at, tidaklah menjadikan Islam sebagai agama yang aneh, namun justru membuatnya menjadi istimewa dan berbeda dari agama-agama lain yang cenderung statis-dogmatis. Hal ini pulalah yang menjadi ibroh bagi para Wali Songo, yang notabene merupakan warotsatul anbiya’, untuk mengadopsi budaya setempat seperti adat telung dinanan, petang puluhan, tingkepan, wayang dan lain sebgainya dan menyisipkan kedalamnya nafas syari’at Islam.

Pada perkembangannya, tongkat dakwah Islam yang dimulai oleh Wali Songo terus-menerus berestafet dari generasi ke generasi. Metode dan sikap moderat Wali Songo secara terus-menerus diwariskan dan diamalkan oleh generasi-generasi berikutnya. Metode Wali Songo inipun terus-menerus menguat seiring berjalannya waktu, sehingga metode dan sikap inipun menjadi sebuah karakter tersendiri bagi kehidupan religi Islam di Indonesia, yang biasanya dilabeli dengan “Islam Nusantara”.
Pada porsi realita, Islam Nusantara hadir dengan memberikan warna berbeda yang kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Asas toleransi yang menjadi salah satu pilar pembentuk Islam Nusantara, menjadi pendorong bagi umat Islam di Indonesia untuk menghormati berbagai keyakinan yang ada di Indonesia. Islam Nusantara juga memberikan pemahaman bahwa keutuhan, keamanan, dan ketertiban sebuah negara adalah poros untuk mencapai kehidupan yang baik dan layak, entah itu kehidupan religi, sosial, ekonomi, ataupun yang lainnya. Sehingga, Islam Nusantara lebih memilih untuk menjamin keamanan setiap individu yang berdomisili di Indonesia, meski tidak memiliki keyakinan yang sama, daripada menyulut konflik demi mewujudkan kepentingan sepihak. Jalur yang dipilih oleh Islam Nusantara ini pun juga bukan tanpa dasar. Opsi yang dipilih oleh Islam Nusantara ini diilhami dari keteladan Rasulullah saw. saat memimpin kota Yatsrib, yang sekarang lebih dikenal dengan kota Madinah Al-Munawwaroh. Dalam menjalankan roda kepemimpinan Yatsrib, Beliau memilih untuk menjaga perdamaian dengan kaum Yahudi daripada berkonflik dengan mereka. Bahkan, beliau membuat kesepakatan dengan mereka, yang termaktub dalam piagam Madinah, untuk bekerjasama dalam menjaga keamanan dan keutuhan kota Yatsrib. Berikut ini adalah beberapa kutipan dari piagam Madinah yang sangat fundamen yang menunjukkan kepedulian Rasulullah terhadap keutuhan negara:

Piagam Madinah Nomor:

Kedua pihak kaum Muslimin dan kaum Yahudi bekerjasama dalam menanggung pembiayaan di kala mereka melakukan perang bersama.

Kaum Yahudi dan kaum Muslimin membiayai pihaknya masing-masing. Kedua belah pihak akan membela satu dengan yang lain dalam menghadapi pihak yang memerangi kelompok-kelompok masyarakat yang menyetujui piagam perjanjian ini. Kedua belah pihak juga saling memberikan saran dan nasihat dalam kebaikan, tidak dalam perbuatan dosa.

Islam Nusantara Potret Peradaban Madani
Islam Nusantara Potret Peradaban Madani

Baca juga: PENJELASAN ISLAM NUSANTARA

Simak juga: Pentingnya Menghafal Dasar-dasar Agama I Almaghfurlah KH. Aziz Manshur

Islam Nusantara Potret Peradaban Madani
Islam Nusantara Potret Peradaban Madani

Peraturan Allah yang Aneh

Dalam mempertautkan hubungan-Nya dengan hamba-hamba-Nya, Allah memiliki dua peraturan aneh:

Pertama, ketika hamba-Nya melakukan satu pekara kecil akhirat, Allah mengganjarnya berkali-kali lipat lebih banyak dari apa yang dilakukan hamba-Nya. Bahkan melebihi nilai dunia apapun yang bisa dibayangkan.

Kedua, ketika hambanya meninggalkan satu perkara kecil dunia, Allah menahan pahala amal akhirat yang telah dilakukan. Bahkan seribu rakaat siang-malam pun tak ada artinya.

Yang pertama itu contohnya banyak. Allah memberi pahala berkali lipat bagi orang yang mau shalat wajib dengan berjamaah. Atau delapan rakaat shalat dhuha. Atau bahkan dua rakaat shalat sunnah sebelum shalat shubuh. Tentu telah masyhur bagi kita hadits berikut:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat shalat fajar (qabliyah subuh) lebih baik dari dunia seisinya.”
Beberapa ulama mencoba mengurai makna dari “lebih baik dari dunia seisinya” itu. Salah satunya memberi pemisalan: Jika kita memiliki harta duniawi sebanyak apapun, lalu harta itu dinafkahkan ke jalan Allah, itu masih terlampau sedikit. Bahkan dalam satu riwayat, harta itu sangat kecil artinya dibandingkan pahala takbiratul ihramnya shalat qabliyah shubuh.

Loh, kok bisa begitu? Kenapa dengan amal sekecil itu pahalanya demikian besar? Cuma dua rakaat loh. Dua rakaat! Lamaan juga dapetin chicken dinner.

Kecil Tapi Besar

Untuk menjawabnya, ada sebuah kisah dari Imam Syafii ra. Suatu hari, ketika beliau berjalan-jalan, tiba-tiba cambuk miliknya terjatuh. Seseorang menghampirinya. Mengambilkan cambuk itu. Diberikannya kepada sang pemilik. Imam Syafi’i tersenyum. Berterima kasih. Sebagai tanda terima kasihnya, beliau memberikan sejumlah benda mulia miliknya.

Ada kawannya yang heran. “Wahai imam, bagaimana bisa engkau memberi harta sebanyak itu sebagai balasan pertolongan yang remeh?”
“Sungguh, saat ia melakukannya, ia telah mengorbankan seluruh kesempatannya. Sementara apa yang kuberikan hanya sebagian kecil dari apa yang kumiliki.”

Imam Syafi’i saja, seorang makhluk-Nya, melakukan hal seperti ini. Bagaimana dengan Allah, Tuhan dari segala makhluk?
Peraturan aneh yang kedua terdapat dalam kisah pengembaraan Nabi Musa as.

Di tengah pengembaraannya, beliau bertemu dengan seseorang. Ia tampak tekun beribadah. Nabi Musa heran melihat apa yang dilakukannya. Ibadahnya tanpa cela. “Duhai Tuhan, sungguh sempurna ibadahnya,” pujinya.

Tetapi seketika Allah menegur Nabi Musa as. “Wahai Musa! Kalau toh ia sholat seperti itu siang malam seribu rakaat, memerdekakan seribu budak, menyalati seribu jenazah, bahkan ikut dalam seribu pertempuran, tak akan bermanfaat sedikitpun.”
Tidak sedikitpun?
“Amal-amal itu tak berguna sedikitpun jika ia enggan menzakati hartanya.”

Jawaban

Kenapa bisa begitu? Harta dunia yang tidak seberapa itu tidakkah terlalu hina dibandingkan ibadah yang begitu banyak?
Tunggu dulu. Ribuan tahun setelah peristiwa itu, Allah menjawab pertanyaan semacam ini lewat sabda Nabi Muhammad saw., utusan terakhir-Nya.

حب الدنيا رأس كل خطيئة
“Cinta dunia adalah pokok dari segala keburukan.”

Dan enggan menunaikan zakat adalah sebagian dari tanda cinta dunia.
Hmmm, Allah memang seringkali membuat peraturan aneh. Yang tak bisa dijangkau oleh nalar manusia seperti kita. Tetapi yang lebih aneh tentu manusianya. Sudah tahu Allah “obral pahala”, eh tetap nggak rajin ibadah juga. Dasar makhluk paling sempurna. Hehe.

Disarikan dari kitab Durrotun Nasihin, halaman 130-131.

Baca juga:
KISAH IMAM SYAFI’I MENULIS DENGAN JARI DAN TELAPAK TANGANNYA

Simak juga:
Sejarah dan Fadilah Tahlil | KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Senyum adalah Ibadah

Tersenyumlah

Oleh: Ahmad Arwani*

Banyak orang berpendapat bahwa tertawa dan tersenyum adalah sebab paling kuat untuk mendorong agar lebih efektif dan produktif. Beberapa pakar mengatakan bahwa tawa adalah gerakan dalam akal yang menghilangkan banyak ketegangan. Maka tidak aneh jika tawa itu (maksudnya tawa yang tidak berlebihan) adalah obat bagi jiwa, dan ketenangan bagi hati yang sedang lelah. Dan senyum dan tawa itu bisa didefinisikan ke dalam salah satu seni kehidupan yang tidak banyak orang ingin mempelajarinya meskipun itu mudah.

Ketahuilah jika saya ingin banyak membeberkan manfaat dari tawa itu sendiri, niscaya saya akan memerlukan waktu dan lembaran kertas yang sangat luas, sedangkan media ini hanya terbatas pada beberapa paragraf saja.

Ada yang berkata bahwa penelitian dan riset-riset ilmiah mengemukakan bahwa mayoritas penyakit stres dan kebosanan, atau merasa sempit pikirannya seperti ungkapan teman-teman yang merasa sudah mentok; “Wah aku arep mulih wae, aku arep mergawe wae, wis ra kerasan aku neng kene. Akeh tututan harus ngene lah, ngonolah, wis mbuh.” Kondisi itu biasanya timbul tatkala seseorang terlalu dalam tenggelam saat menjalani segala aktivitasnya secara terus menerus, sehingga membuat seseorang menjadi selalu tegang. Ia akan cepat merasa bosan dan mengakibatkan cepat tersinggung, hilang sikap ramah dan menjelma menjadi pemarah.

Resep yang diberikan oleh semua orang bagi kondisi semacam itu adalah agar ia sering tertawa. Karena tertawa akan membuat manusia mampu meneruskan atau melakukan aktifitasnya dengan semangat yang tinggi, dinamis dan penuh semangat berkobar.

Sementara seseorang yang sering menebar senyum akan mudah berpikiran lebih jernih dibandingkan hal-hal yang lain. Karena ia lebih mampu menaklukan hati orang lain. Seperti penggalan kata mutiara di bawah ini;

“Tersenyumlah meski kondisimu sedang tidak mengenakan dan tertawakanlah dirimu sendiri”.

Oleh karena itu, jika seseorang setiap harinya ditekan dan dituntut, anggaplah itu sebuah proses untuk menjadikannya sebagai pribadi yang tangguh, sebab kata Jokpin; dalam puisinya Kamus Kecil: “Bahwa untuk menjadi gagah kau harus menjadi gigih.” Selaras dengan dawuh “Seseorang yang semakin ditekan, maka seseorang tersebut akan dapat menciptakan ledakan yang besar.” Nah oleh karenanya, jika seseorang sedang dalam fase kondisi kejiwaannya yang tinggi, niscaya ia akan mampu berfikir lebih tajam dan kreatif.

Di sini saya ingin mengajak pembaca yang budiman untuk melakukan latihan olah raga yang paling baik bagi tempat yang paling mulia di tubuh Anda. Latihan itu adalah tertawa, sebab ketika seseorang tertawa, Anda berarti menggerakan tiga belas otot di wajah Anda yang mungkin akan menjadikan kulit wajah kalian awet muda. Sebab ada sebuah penelitian menemukan bahwa orang-orang yang sering tertawa dan tersenyum itu adalah orang-orang yang paling sedikit mengalami kriputan di wajah dengan bertambahnya usia.

Orang-orang Arab itu senang memuji orang-orang yang senang tertawa, dan menjadikan hal itu sebagai salah satu prilakunya yang baik, kemulian perangainya, kedermawanan tabiatnya, dan kelembutan hatinya.
Kemudian saya akan mengajak pembaca yang budiman untuk bersikap sederhana dalam tertawa dan tidak berlebihan, sehingga tidak perlu cemberut dengan bentuk yang menakutkan, juga tidak selalu tertawa terus-menerus dengan berlagak tanpa sebab. Namun, sebaiknya hal itu dilakukan dengan tetap menjaga keseriusan, kewibawaan, dan keyakinan.

Dan, tidak membuat jiwa dan wajah cemberut yang melebihi keputusasaan. Maka jika kalian ingin tersenyum, perangilah keputusasaan itu. Kesempatan masih ada dan pintu keberhasilan itu terbuka bagi kita untuk membuka harapan dan berfikir lebih baik lagi akan datangnya kebaikan di masa yang akan datang.
Saya teringat bahwa Rasullullah adalah orang yang paling banyak tersenyum dan tertawa di hadapan para sahabat beliau. Bahkan, beliau menjadikan senyum sebagai ibadah, sebagaimana sabdanya:
Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi)

Orang yang menelusuri kehidupan Nabi Saw, akan mendapati bahwa beliau terkadang bercanda dan berhumor. Hal itu tidak aneh mengingat beliau adalah seseorang yang menjadi rahmat yang dianugerahkan Allah untuk manusia. Sebagaimana firman-Nya;
Sekiranya kamu bersikap keras-keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 157).

Beliau (Rasullulah) tersenyum seperti embun yang tampak bersinar di wajah yang lebih cemerlang dari matahari, kening yang lebih bercahaya dibandingkan bulan purnama, mulut yang lebih suci dari wewangian, akhlak yang lebih lembut dari bunga, dan cinta yang lebih halus dari angin sumilir, sehingga humor beliau bagi ruh sahabat terasa lebih lembut dari butir-butir di hati.[]

*Penulis adalah siswa kelas III Tsn, asal Bojonegoro, Jawat Timur.
Bermukim di kamar N. 08.

Baca juga:
SENYUM SANTRI DAN PENDETA

ikuti juga:
Takbiran Mob Lirboyomedia

Senyum adalah Ibadah
Senyum adalah Ibadah

Sa’ad bin Abi Waqqash Sejarah yang Terpendam, Harapan yang Diinginkan

“Sa’ad bin Abi Waqqash”
(Sang Pemanah, Mustajab Dalam Do’a)

Oleh: Mokhammad Ikhsan Nawawi
“Ya Allah, kabulkanlah do’a Sa’ad bila ia berdo’a kepada-Mu.”
Begitulah do’a Nabi Muhammad Saw. kepada sahabat yang bernama lengkap Sa’ad bin Abi Waqqash bin Malik bin Uhaib bin ‘Abd Manaf Az-Zuhri. Beliau akrab dipanggil dengan julukan Abu Ishaq, dan digelari dengan nama Faris al-Islam.

Salah satu sahabat dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.

Beliau dilahirkan di Makkah pada tahun 23 sebelum Hijriyyah dan berasal dari Bani Zuhrah, seasal dengan ibu Nabi (Aminah). Sahabat yang banyak mengikuti peperangan bersama baginda Rasulullah Saw. ini berpawakan pendek, perutnya besar, jari-jari tangannya keras, berambut keriting dan memiliki leher yang panjang. Beliaulah orang keempat yang lebih dulu masuk Islam melalui tangan Sahabat Abu Bakar Ra. ketika berusia 17 tahun.

Keteguhan Iman

Mendengar kabar Sahabat Sa’ad masuk Islam, ibu beliau langsung melakukan mogok makan agar beliau murtad dari agama barunya. Melihat apa yang dilakukan ibunya, dengan tenang dan santun beliau berkata pada ibunya. “Perlu engkau ketahui, wahai ibuku. Seandainya ibu memiliki 100 nyawa dan nyawa ibu dicabut malaikat maut satu persatu, maka aku tidak akan murtad dari agama baruku ini. Terserah ibu mau makan silahkan, kalau tidak, juga silahkan.”

Mendengar apa yang dikatakannya, ibu beliau berkata, “Aku menduga, Allah menyuruhmu untuk berbuat baik kepada kedua orang tuamu. Aku adalah ibumu dan aku memerintahkanmu untuk keluar dari agamamu.”
Namun, Sahabat Sa’ad tidak menghiraukannya. Ibu beliau pun melakukan aksi mogok makan selama tiga hari tiga malam. Pada akhirnya ibu beliau pingsan karena tubuhnya sudah mencapai batas. Itulah sebab turunnya ayat Allah yang menjelaskan tentang kewajiban bagi setiap anak untuk berbakti kepada orang tuanya dalam hal yang tidak menerjang agama Allah.

وَوَصَيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حسناً وَإِنْجَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَآ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ. [العنكبوت: 8]

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) baik kepada dua orang, ibu bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku lah kembalimu. Lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 08)

Setiap kali dalam peperangan bersama baginda Rasul, beliau selalu bergabung dalam pasukan berkuda, dan selalu menjadi orang pertama yang melepaskan anak panah dari busurnya.

Pada masa Khalifah Umar bin Khottob Ra, beliau pernah diangkat menjadi komandan pasukan yang dikirim untuk memerangi orang-orang Persia. Sahabat Sa’ad berhasil mengalahkan mereka pada tahun 15 H. Setahun setelahnya, pada tahun 16 H, beliau menaklukkan Madain yang menjadi pusat kota Persia, serta menjadikannya sebagai markas tentara Muslimin pada tahun 17 H. Beliau juga menjadi penguasa Irak pada masa Khalifah Umar bin Khottob Ra. yang berlanjut hingga masa Khalifah Utsman bin Affan Ra.

Pernah pada suatu hari, beliau melihat seorang laki-laki menghina Sahabat Ali bin Abi Thalib, Talhah dan Zubair. Melihat hal itu, beliau meminta orang itu untuk berhenti menghina-hina sahabat Rasul. Namun orang itu tidak menghiraukan. Dan pada akhirnya, Sahabat Sa’ad berdo’a pada Allah. Seketika muncullah seekor unta yang langsung menabrak si lelaki penghina itu hingga tewas seketika. Begitulah mustajabnya do’a Sahabat Sa’ad.

Menjelang wafatnya, pada tahun 55 H, Allah menarik kenikmatan berupa pengelihatan (pada hal-hal yang fana) yang dimiliki Sahabat Sa’ad, dan dibukakan pengelihatan pada apa yang kekal abadi. Selang beberapa waktu, beliau wafat tepat pada usia 80 tahun, di istananya yang berada di daerah Al-’Aqiq. Sebuah daerah yang berjarak 5 mil dari kota Madinah. Beliaulah sahabat terakhir yang meninggal dari kalangan Muhajirin serta meriwayatkan 271 hadis Nabi SAW. Satu saksi hidup di mana sejarah hijrah berlangsung dalam suka duka.

Harapan yang diinginkan dari sepenggal kisah di atas adalah agar kita bisa menjadikannya sebagai sebuah suri tauladan dan memetik manfaatnya sebagai bekal hidup kita. Karena segala sesuatu bermula dari diri sendiri.[]

Membaca kisah hidup salafus solih tidak hanya mengasyikkan. Tetapi juga membawa rahmat bagi pembacanya. Di samping ada banyak hal yang dapat kita petik dari perjalanan hidup mereka, juga berkah dan rahmat Allah Swt. senantiasa menyertai dan menaungi kita, dengan lantaran kisah hidup, kelebihan dan segala keistimewaan yang mereka miliki.

(Ustad Anang Darunnaja)

Referensi:
  1. Mirror (Cerita Para Sahabat Nabi). Forum Kajian Ilmiah LASKAR LAWANG SONGO Purna Siswa 2012, Lirboyo Press.
  2. Khulashotu Nuril Yaqin, Ustad Umar ‘Abdul Jabbar, Maktabah Al-Hikmah

*Penulis adalah santri kelas III Tsn bagian J.02 asal Nganjuk. Bermukim di kamar J-02.

Baca juga:
NASIHAT SAHABAT ABDULLAH BIN ‘AMR

Simak juga:
Besarnya Perhatian KH. Marzuqi Dahlan Terhadap Putranya

Mengenal Studi Tafsir di Pesantren

Oleh: A. Zaeni Misbaahuddin A*

Kajian tafsir di pesantren bukanlah hal yang asing bagi kita, terlebih di Pondok Lirboyo tercinta ini. Bagaimana tidak? Sejak tingkatan Aliyah kita sudah dijejali dengan Itmam al-Dirayah gubahan Imam as-Suyuthi. Meski kitabnya tergolong tipis tapi tidak dengan isinya.

Para Masyayikh pun turut serta membacakan Tafsir al-Jalalain karya monumental dari dua “Jalal”—guru dan murid—yakni Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi. Hal ini merupakan tradisi yang sudah mengakar di pesantren, mengaji dengan sistem bandongan; yakni sang Kyai membaca dan santri memaknai kitabnya dengan makna gandul. Ini menandakan bagitu eratnya hubungan santri dengan kitab-kitab tafsir.

Di tingakatan Ma’had Aly yang notabene merupakan jenjang tertinggi di Lirboyo, kita dikenalkan dengan mustholahah tafsir yang lebih konkret dan komprehensif yaitu at-Tahbir fi Ilmi Tafsir karangan Jalaluddin as-Suyuti. Di dalamnya dijelaskan apa itu muthlaq, muqoyyad, munasabah, dan apa itu muthobaqoh beserta contoh-contohnya secara rinci.
Kemudian terdapat kitab Mukhtasor Tafsir Ayat al-Ahkam yang biasa disingkat MTA. Ini adalah ringkasan dari Rawa’i al-Bayan karya mufassir kontemporer kenamaan asal Makkah, Ali al-Shabuni. Kitab ini bisa dikatakan paling lengkap dan sistematis dalam penulisannya. Sebab, isinya tidak hanya menafsiri ayat al-Qur’an secara tekstual, melainkan ada uraian lafadh (tahlil al-Lafdzi), sebab turunnya ayat (asbabun nuzul) yang diselaraskan dengan dalil-dalil hukum fikih. Terkadang juga menanggapi isu-isu kekinian. semisal teori evolusinya Charles Darwin, isu poligami, dan lain-lain.

Definisi Tafsir

Menurut Ibn ‘Athiyyah dalam kitabnya al-Muharrar al-Wajiz, ilmu tafsir secara etimologi adalah derivasi dari masdar ‘fassara’ yang bermakna ‘jelas’ (idloh) dan ‘menjelaskan’ (al-Bayan). Sedangkan menurut terminologi adalah disiplin ilmu yang membahas teknis mengucapkan lafad-lafad al-Qur’an, madlul, hukum, tarkib, serta maknanya.
Az-Zarkasyi, sebagaimana dikutip dalam Majma’ al-Zawaid mendefinisikan ilmu tafsir dengan ilmu yang digunakan untuk memahami kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, menjelaskan makna dan hukum-hukumnya. Berlandaskan ilmu bahasa, nahwu, shorof, ilmu balaghah, ushul fikih, qiraat, asbabun nuzul, nasikh-mansukh, dan seperangkat disiplin ilmu lainnya.

Corak Metode Penafsiran

Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D (Rais Syuriah PCINU Australia dan New Zealand serta Dosen Senior di Monash Law School Australia), atau yang akrab dengan sapaan Gus Nadir ini, dalam bukunya: Tafsir al-Qur’an di Medsos, memberikan gambaran kepada kita secara umum terdapat dua metode tafsir dalam Islam. Yakni tafsir bir riwayah dan tafsir bir ra’yi.

1. Tafsir bir Riwayah

Tafsir bir riwayah maksudnya adalah tafsir yang dalam memahami kandungan ayat al-Qur’an lebih menitikberatkan pada ayat al-Qur’an dan riwayat hadis. Isi tafsir dengan metode ini penuh dengan riwayat hadis dan jarang sekali pengarang tafsir menaruh pemikirannya. Tafsir ath-Thobari misalnya, dianggap mewakili corak penafsiran model ini.
Dari model tafsir bir riwayah dikelompokkan lagi menjadi dua macam bentuk penafsiran; yakni tafsir at-tahlili, artinya mufassir (ahli tafsir) memulai kitab tafsirnya dari al-Fatihah sampai surah an-Nas. Ia uraiankan sesuai urutan surah dalam al-Qur’an. Selanjutnya adalah tafsir maudhu’i (tematik). Artinya mufassir tidak memulai dari surah pertama sampai surah ke-114, tetapi memilih satu tema dalam al-Qur’an untuk kemudian menghimpun seluruh ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan tema tersebut.

2. Tafsir bir Ra’yi

Dari namanya saja terlihat jelas bahwa tafsir model ini kebalikan dari tafsir bir riwayah, ia lebih menitikberatkan pada pemahaman akal (ra’yu) dalam memahami kandungan nash. Tetap saja ia memakai ayat dan hadis, tetapi porsinya lebih pada akal. Contoh tafsir model ini adalah Tafsir al-Kasyaf karya az-Zamakhsyari dari kalangan Mu’tazilah, Tafsir al-Manar karangan Rasyid Ridho dan lain-lain.

Jika ingin kita pilah lagi, maka tafsir model ini terbagi menjadi tiga. Pertama, tafsir bil ‘ilmi (seperti menafsirkan fenomena alam dengan merujuk ayat al-Qur’an). Kedua, tafsir falsafi (menggunakan pisau filsafat untuk membedah ayat al-Qur’an). Ketiga, tafsir sastra (lebih menekankan aspek sastra dari ayat al-Qur’an). Ketiga model penafsiran ini dapat kita temukan di kalangan kontemporer baru-baru ini.

Pengelompokkan Kitab-Kitab Tafsir

Secara garis besar, ada dua pengelompokkan kitab-kitab tafsir yang ditulis oleh kalangan mufassirin. Pertama, salaf (klasik). Kedua khalaf (modern).

Salaf

Corak penafsiran dengan gaya salaf bisa kita temukan dalam Tafsir ar-Razi karya Fakhruddin ar-Razi, Tahrir wa at-Tanwir karya Ibnu ‘Asyur, Tafsir Ibn Katsir karya Ibu Katsir, Tafsir al-Qurtubhi karya al-Qurtubhi, Tafsir al-Khozin karya al-Khozin, Tafsir Fathul Qodir karya al-Syaukani, Tafsir al-Baidhowi karya al-Baidhowi, Tanwir al-Miqbas min Tafsir ibn Abbas karya Ibn Abbas, Tafsir ath-Thobari karya ibn Jarir ath-Thobari, Tafsir at-Tsa’labi karya at-Tsa’labi, Tafsir al-Qosimi karya Al-Qosmi, Tafsir al-Mawardi karya Abu Hasan Ali al-Mawardi, Tafsir al-Maraghi karya Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir Ruh al-Ma’ani karya al-Alusi, Tafsir Bahrul Ulum karya al-Samarqandi, dan masih banyak yang lainnya.

Khalaf

Sedangakan corak penafsiran dengan gaya khalaf (modern), bisa kita temukan dalam Tafsir al-Munir, karangan ulama kenamaan asal Syiria, Wahbah al-Zuhaili, dan Tafsir al-Wasit yang berdasarkan kajian tafsir beliau lewat radio di Damaskus, Suriah. Dapat kita temukan pula dalam Shafwatut Tafaasir karya Ali as-Shobuni, Zahrat at-Tafsir-nya Muhammad Abu Zahrah, seorang ulama terkemuka dari Mesir. Tafsir al-Wasit gubahan Sayyid Thantowi yang semasa hidupnya pernah menjadi Grand Syaikh Al-Azhar, serta Tafsir as-Say’rawi karya Muhammad Mutawalli as-Sya’rawi. Di Indonesia sendiri ada Tafsir al-Misbah karya Habib Prof. Dr. Quraisy Shihab dan lain sebagainya.

Demikian sederet kitab-kitab tafsir yang dipelajari di pesantren. Ini menandakan luasnya khazanah keilmuan pesantren. Khususnya dalam bidang mustholahah tafsir al-Qur’an. Terlebih di pesantren tidak hanya mempelajari tafsirnya saja, melainkan juga nahwu shorof, balaghoh dan ushul fikih sebagai piranti untuk memahami al-Qur’an.

Kesimpulan

Walhasil, kaum sarungan dalam hal ini memiliki transmisi keilmuan yang jelas serta kredibilitasnya tak perlu diragukan lagi. Fenomena munculnya ustadz-ustadz virtual yang serampangan dalam menafsiri serta menjelaskan al-Qur’an patut kita sayangkan. Mereka tidak pernah mengenyam bangku pesantren, bahkan hanya bermodalkan terjemahan saja. Konten-konten dakwah yang semestinya diisi oleh orang yang memiliki kapabilitas dan kredibilitas yang mumpuni seperti kalangan santri ini malah dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, sudah saatnya santri mengisi dan meramaikan konten-konten di medsos guna men-counter ideologi yang tidak sesuai dengan manhaj ulama nusantara.

*Penulis adalah Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Semester III-IV bagian C 02, asal Purwakarta, Jawa Barat yang juga menjabat sekretaris tim FKI.

Baca juga:
NGAJI TAFSIR; MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT

Simak juga:
Dawuh Masyayikh

# Mengenal Studi Tafsir di Pesantren # Mengenal Studi Tafsir di Pesantren # Mengenal Studi Tafsir di Pesantren