All posts by santri lirboyo

Khutbah Jumat: Keimanan Menciptakan Keharmonisan Masyarakat

KHUTBAH I

الحمد لله الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنا بِأَنْواعِ النَّعَمِ ولَطَائِفِ الْإِحْسَان, وفَضَّلَنا عَلى سائِرِ خَلْقِهِ بِتَعْلِيْمِ الْعِلْمِ والْبَيَان, أَشهد أَنْ لاإِلهَ إلَّا الله وأَشهد أَنَّ سَيَّدَنا محمدًا عبدُهُ ورَسُولُهُ . اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَماً تَامّاً عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ، وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ، وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ، وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

أمَّا بعدُ. فَيا عِبادَ اللهِ أُوصِيْكُمْ  ونَفْسِي  بِتقوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ فَقَدْ قالَ الله تعالى في كِتابِهِ الكَرِيْمِ : إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

فَياعِبادَ اللهِ. اتَّقُوااللهَ  حَقَّ تُقاتِهِ  ولا تَمُوتُنَّ إِلَّا وأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin Jama’ah Sidang Jum’at yang dirahmati Allah …

            Di hari dan tempat yang mulia ini, marilah kita senantiasa meningkatkan kwalitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan berusaha menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.

            Mari kita letakkan sesuatu pada tempat yang selayaknya dan kerjakanlah sesuatu pada waktunya. Ketahuilah bahwa seorang hamba dibangkitkan dalam keadaan bagaimana ia mati. Karena itu janganlah kita mati kecuali dalam keadaan muslim. Sejalan dengan firman Allah Swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُون

Artinya :” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ( Q.S. al-Imron : 102 ).

Rasulullah Saw. telah bersabda :

عَنْ أَنَسٍ بن مالِكٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ( متفق عليه)

Artinya : Dari Anasbin Malik r.a. bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”( Mutaafaqun ‘alaih).

Hadirin Kaum Muslimin yang berbahagia di sisi Allah …

Hadist ini cukup pendek, tapi makna dan cakupannya sangat luas. Dapat kita ambil beberapa pelajaran yang sangat berharga. Di antaranya pentingnya persatuan dan kasih sayang. Islam bertujuan menciptakan manusia yang penuh keharmonisan dan penuh kasih sayang. Setiap individu hendaknya berusaha mendahulukan kemaslahatan umum dan kedamaian masyarakat sehingga tercipta keadilan dan kedamaian. Semuanya tidak akan terwujud kecuali jika individu yang ada dalam masyarakat menghendaki kebaikan dan kebahagiaan kepada orang lain seperti ia menghendaki untuk dirinya sendiri. Karena itu Rasulullah Saw. menjadikan sikap ini erat kaitannya dengan keimanan, bahkan menjadi konsistensi keimanan seseorang dalam dimensi kemanusiaan.

Keimanan yang sempurna. Keimanan tidak akan kokoh dan mengakar di hati kita sebagai umat muslim kecuali jika kita menjadi manusia yang baik, menghindari egoisme, rasa dendam, kebencian, dan kedengkian. Kita berusaha menghendaki kebaikan dan kebahagiaan untuk orang lain sebagaimana menghendaki kebaikan dan kebahagiaan untuk kita sendiri.

Peduli terhadap sesama manusia. Termasuk bentuk kesempurnaan iman adalah kepedulian dan kecintaan terhadap sesama manusia termasuk terhadap non-muslim. Mencintai orang- orang non-muslim artinya mencintai mereka agar beriman juga membenci kekafiran dan kefasikan yang mereka lakukan sebagaiamana seorang muslim membenci kefasikan dan kekafiran yang terjadi pada dirinya.

Berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan. Berlomba- lomba dalam kebaikan adalah merupakan sebagian dari kesempurnaan iman. Karena itu seseorang yang ingin memiliki keimanan dan ketakwaan seperti yang di miliki orang yang lebih saleh bukanlah sesuatu yang salah dan juga bukan sifat dengki, bahkan sikap seperti ini merupakan bukti keimanan seseorang dan termasuk perbuatan yang di isyaratkan Allah dalam firman-Nya :

وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Artinya : “dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” ( Q.S. al-Muthoffifin : 26 ).

Keimanan menciptakan masyarakat yang bersih dan berwibawah. Hadist yang berbunyi :

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Mendorong setiap musim agar senantiasa berusaha membantu orang lain untuk melakukan kebaikan. Karena hal ini merupakan kebaikan dan bukti tanda keimanan. Dengan demikian akan tercipta masyarakat yang bersih da berwibawah. Kebaikan akan tersebar luas, kejahatan dan kedzaliman akan tersisih sehingga terciptalah keharmonisan dalam setiap lini kehidupan. Mereka seakan satu hati. Kebahagian saudaranya adalah kebahagiannya, kesedihan saudaranya adalah kesedihannya juga. Masyarakat yang seperti inilah yang seharuslah terbentuk dalam komunitas muslim sebagaimana di sinyalir beliau Rasulullah Saw. dalam hadistnya :

عَن النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ( مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ؛ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى  ( متفق عليه)

Artinya : “Riwayat dari Nu’man bin Basyir berkata, Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta dan kasih sayang mereka dan saling mengasihinya adalah laksana satu tubuh, jika satu anggota badan mengeluh sakit, maka anggota tubuh yang lainnya pun ikut sakit, dan panas turut merasakan sakitnya ”. (H.R.  al-Bukhari dan Muslim).

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang berbahagia …

Mudah-mudahan khutbah singkat ini bisa memberikan kemanfaatan bagi kita semua, dan di jadikan nilai tambah dalam rangka peningkatan kwalitas iman dan islam kita ke taraf yang lebih baik. Semoga Allah berkenan menjadikan kita semuanya menjadi orang-orang yang istiqomah iman, istiqomah dalam tauhid istiqomah dalam amaliah.

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. بارَكَ اللهُ لِي ولَكُمْ فِي الْقُرْءانِ الْعَظِيمِ  ونَفَعَنِي وإِيَّاكُمْ مِنَ الْآياتِ  وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ أَقُلُ قَوْلِي  هذا وَأَسْتَغفِرُ اللهَ لِيْ ولَكُمْ ولِجَمِيعِ الْمٌسلِمِين فاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّه تعالى جَوادٌ كَرِيمٌ مَلِكُ بَرٌّ رَءُوْفٌ رَحِيمٌ.

Khutbah II

اَلحمْدُ للهِ حَمْدًا كما أَمَرَ.وأَشْهدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ إِرْغامًا لِمَنْ جَحَدَ بِه وكَفَرَ. وأَشْهَدُ أَنَّ سَيّدَنا محمَّدًا عَبدُهُ ورسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ.اللَّهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ على سيِّدِنا على عَبْدِكَ  ورَسُولِك محمَّدٍ وآلِه وصَحْبِه مَااتَّصَلَتْ عَينٌ بِنَظَرٍ وأُذُنٌ بِخَبَرٍ. ( أمّا بعدُ ) فيَآايُّهاالنّاسُ اتَّقُوا اللهَ

تعالى وَذَرُوا الْفَواحِشَ ما ظهَرَ مِنْها وما بَطَنَ وحافَظُوا على الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمُعَةِ والجَماعَةِ . وَاعْلَمُوا  أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ  فِيه بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلائكةِ قُدْسِهِ. فَقالَ تعالى ولَمْ يَزَلْ قائِلاً عَلِيمًا: إِنَّ اللهَ وَملائكتَهُ يُصَلُّونَ على النَّبِيِّ يَآ أَيّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا اللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على سيِّدِنا محمَّدٍ وعلى آلِ سيِدِنَا محمَّدٍ  كَما صَلَّيْتَ على سيِّدِنا إِبراهِيمَ وعلى آلِ سيِّدِنَا إِبراهِيمَ في الْعالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاء الرّاشِدِينَ الَّذينَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكانُوا بِهِ يَعْدِلُونَ أَبي بَكْرٍ وعُمرَ و عُثْمانَ وعلِيٍّ وَعَنِ السَتَّةِ الْمُتَمِّمِينَ لِلْعَشْرَةِ الْكِرامِ وعَنْ سائِرِ أَصْحابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعينَ وَعَنِ التَّابِعِينَ وتَابِعِي التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسانٍ إِلَى يَومِ الدِّينِ.

اللَّهمَّ لا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ فِي عُنُقِنَا ظَلَامَة ونَجِّنَا بِحُبِّهِمْ مِنْ أَهْوالِ يَومِ الْقِيامَةِ. اللَّهمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ والمُسلمينَ وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ والمُشْركِينَ. ودَمِّرْ أَعْداءَ الدِّينِ.

اللَّهمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنا وأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنا. وَاجْعَلِ اللَّهمَّ وِلَايَتَنا فِيمَنْ خافَكَ وَاتَّقَاكَ. اللَّهمَّ اغْفِرْ لِلمُسلِمينَ والمُسلماتِ والمُؤْمنينَ والمُؤْمِناتِ الْأَحْياءِ مِنْهُمْ والْأَمْواتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اللَّهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ والوَباءَ والزِّنا والزَّلَازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوءَ الفِتَنِ ما ظَهَرَ مِنْها وما بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا هَذا خاصَّةً وعَنْ سائِرِ بِلَادِ الْمُسلمينَ عامَّةً يا رَبَّ الْعَالَمِينَ.رَبَّنا آتِنا في الدّنيا حَسَنَةً وَفي الآخرة حَسَنَةً  وقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسان وإِيتاءَ ذِي الْقُرْبَى  ويَنْهَى عَنِ الْفَحْشاءِ والْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَكْبَرُ.

Baca juga:
KHUTBAH JUMAT: MUHASABAH MEMBUAT DIRI BERUBAH

Simak juga:
Kisah Kafur, Seorang Budak yang Diangkat Menjadi Raja

AMAR MAKRUF NAHI MUNKAR DALAM BINGKAI NEGARA DEMOKRASI

Berbicara perihal amar makruf nahi munkar tidak bisa lepas dari kebebasan. Dalam negara demokrasi, kebebasan berpendapat bagi rakyat merupakan persyaratan mutlak untuk berlangsungnya sistem demokrasi. Karena hanya dengan kebebasan berpendapat, rakyat dapat berperan sebagai pemegang otoritas tertinggi.

Namun banyak sekali yang menganggap kebebasan bernegara tanpa memiliki batasan.

Baik batasan agama, hukum, maupun norma sosial. Pemahaman seperti ini, sebenarnya sangat mudah untuk disalahkan. Sebab, secara kemanusiaan, se-bebas apapun orang berbuat sesuatu akan tetap terbatasi oleh kebebasan orang lain.

Kebebasa berbicara (Freedom of Speech)

Kebebasan berbicara adalah saat masyarakat dapat menyampaikan pendapatnya pada publik tanpa rasa takut. Entah pendapat tersebut berupa kritik atau dukungan terhadap pemerintah.

Hal yang perlu di perhatikan ialah kebebasan berbicara dalam konteks demokrasi bukan untuk bebas melontarkan perkataan caci maki, hinaan, pelecehan, atau ujaran kebencian. Kebebasan rakyat adalah ketika rakyat bebas untuk menyatakan pendapat, kritik, ide, dan pikiran atau gagasannya.

Sehingga, eksistensi rakyat tetap terjamin sebagai manusia merdeka. Inilah koridor kebebasan berbicara yang jadi nilai fundamental dalam demokrasi.

Dalam islam sendiri, kebebasan berpendapat mendapatkan jaminan penuh. Sampai-sampai dalam tataran tertentu, persoalan ini lebih penting dari sekedar kebebasan itu sendiri. Bahkan, telah menjadi suatu kewajiban yang ada dalam bingkai amar makruf nahi munkar. Rasulullah Saw. bersabda dalam suatu hadis:

قل الحق ولو كان مرّا

“Katakanlah kebenaran meskipun pahit.” [HR. Ibnu Hibban]

Umat islam pada umumnya, ketika melihat kemungkaran nyata wajib baginya untuk mencegah dengan tindakan, lisan, atau ingkar dalam hatinya. Sesuai dengan level kemampuannya. Rasulullah Saw. bersabda:

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( من رأى منكم منكرا فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه ، وذلك أضعف الإيمان ) رواه مسلم

“Dari Abi Sa’id al-Khudri R.a. beliau bekata: ‘Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Barang siapa melihat sesuatu yang mungkar, maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya; ini termasuk dari lemahnya iman.” [HR. Muslim]

Dalam konteks bernegara, islam sangat mengapresiasi kebebasan berbicara. Dalam Islam juga dijelaskan bahwa kebenaran di depan pemimpin yang lalim, dinilai sebagai jihad paling utama.

Sebuah hadis menyebutkan, Rasulullah Saw. bersabda: “Jihad yang paling utama adalah berkata kebenaran di hadapan pemimpin yang lalim.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi]

Tatacara amar makruf nahi mungkar

Sudah sepatutnya memerintahkan sesuatu yang baik juga harus dengan cara yang baik. Tidak diperbolehkan memerintah kebaikan dengan cara yang tidak baik.

Imam Zainuddin al-Malibary dalam kitab I’anah at-Thalibin menjelaskan bahwa;

“Kewajiban amar makruf nahi mungkar menjadi gugur, apabila dapat mengancam keselamatan jiwa, harta, anggota tubuh, pelecehan seksual. Atau menimbulkan kerusakan lain yang dampaknya lebih besar.”

Tahapan amar makruf ini meliputi; Ta’rif (memberikan pendidikan atau penyuluhan). Wazh (memberikan peringatan dan nasihat). Ketiga, Takhsyin fi al-qoul (memberikan kritik dan kecaman yang tegas). Keempat, Man’u bil qahri (melakukan pencegahan secara paksa).

Dalam tahapan tersebut, dua tahapan terakhir hanya menjadi hak eksklusif pemerintah atau imam (dalam agama). Saat masyarakat umum yang melakukan hal tersebut, akan sangat berpotensi menimbulkan fitnah.

Standar Melakukan Amar Makruf Nahi Mungkar

Melaksanakan amar makruf nahi mungkar, memiliki beberapa standar yang harusnya dipenuhi. Agar bisa diterima dan bukan malah menimbulkan penolakan.

Standar ini diantaranya; amar makruf dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu yag luas (baca; alim) agar tahu batasan-batasan hukum. Atau dilakukan oleh orang yang wira’i agar motifnya benar-benar melakukannya dengan ikhlas, bukan karena hawa nafsu.

Atau dilakukan oleh orang yang memiliki integritas moral (akhlak yang baik), agar amar makruf nahi mungkar dilaksanakan dengan cara santun, dan penuh dengan hikmah, serta terhindar dari cara yang tidak sesuai, seperti melakukan perusakan, atau pengeboman ditempat-tempat maksiat, apalagi dilakukan oleh masyarakat umum.

Dalam al-Quran, Allah Swt. telah menyinggung perihal amar makruf nahi mungkar, seperti dalam surah an-Nahl ayat 125 yang berbunyi:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” [Q.S. an-Nahl; 125]. []

Penulis: Iskandar Nidhom (Santri Pondok Pesantren Lirboyo, asal Bangkalan-Madura)

Baca Juga: RESENSI KITAB MINHAJ AT-THALIBIN | PART 2

Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

PONDOK PESANTREN DARUSSA’ADAH

Pondok Pesantren Darussa’adah merupakan lembaga pendidikan khusus untuk anak usia dini yang berorientasi pada pendidikan keagamaan dan sosial kemasyarakatan, guna mencetak santri yang berakhlaqul karimah, berilmu, disiplin, mandiri, cakap, kreatif dan bertanggung jawab. Sehingga Santri diharapkan mampu menjadi pionir di tengah-tengah masyarakat dengan tetap mempertahankan nilai-nilai salafiyah.

VISI

Mencetak generasi yang beriman, bertaqwa, berakhlakul karimah, berilmu dan disiplin.

MISI

Mencetak generasi Islam yang beriman, bertaqwa, berakhlakul karimah dan berilmu, serta menanamkan faham-faham Ahlussunnah wal Jamaa’ah An-Nahdliyah sejak dini.

PONDOK PESANTREN AL IHSAN

Pondok Pesantren Al-Ihsan Lirboyo diasuh oleh KH. Abdul Kholiq Ridlwan dan Ibu Nyai Eeng Sukaenah. Bermula dari khudama’ (abdi ndalem putri) kepada Romo KH. Abdul Kholiq Ridlwan dan sorogan Al-Qur’an kepada Ibu Nyai Eeng Sukaenah. Seiring berjalannya waktu, santri putri yang bertujuan untuk menimba ilmu dan menghafalkan Al-Quran terus bertambah. Akhirnya tempat yang semula hanya dua lantai diperuntukkan para khudama’ menjadi empat lantai sebagai sarana pendidikan para santri. Sehingga bertepatan dengan tahun 2016 M. Romo KH. Abdul Kholiq Ridlwan meresmikan pondok ini dengan nama” Pondok Pesantren Al-Ihsan” dengan alasan berdampingan dengan gedung Al-Ihsan PP. Lirboyo.

Pondok Pesantren Al-Ihsan Lirboyo berbasis Tahfidzh Al-Qur’an dan beraqidah Islam menurut faham Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan mengikuti salah satu madzhab fikih yang empat, yaitu Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali. Pesantren ini bertujuan mencetak insan yang beriman, bertakwa, berilmu, berakhlaqul karimah dan berhati ikhlas, serta santri dididik untuk mencintai, memahami, mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pehaman salafus sholih.

Sehingga para santri dibina untuk belajar Al-Qur’an, Hadits-hadits, kitab-kitab salaf dan secara intensif dibina agar aktif berorganisasi, berbahasa, serta menguasai keterampilan-keterampilan. Oleh karenanya, santri diharapkan kelak menjadi insan yang mampu memimpin umat pada kemaslahatan.

PONDOK PESANTREN HM SYARIF HIDAYATULLAH

Pondok Pesantren HM Syarif Hidayatullah Kota Kediri didirkan pada tahun 2017 oleh KH. An’im Falachuddin Mahrus dilingkungan Pondok Pesantren Lirboyo dibawah naungan Yayasan Sunan Gunung Jati. Pondok pesantren ini adalah sebuah lembaga yang berorientasi pada pendidikan keagamaan dan pembentukan karakter guna membentuk generasi yang tidak hanya cerdas dalam berfikir tapi juga tetap menjunjung tinggi nilai–nilai etika kemasyarakatan sehingga  para santri diharapkan mampu mengamalkan dan menyebarkan ajaran Islam yang berhaluan Ahlu As-Sunnah Wa Al-Jamaah An-Nahdliyah.

VISI

Berilmu, Beriman, Bertaqwa Dan Berakhlaqul Karimah.

MISI

  • Mencetak Generasi Yang Memiliki Pemahaman Ilmu, Disiplin, Dan Mempunyai Dedikasi Tinggi Terhadap Agama, Masyarakat Dan Negara.
  • Menanamkan Rasa Cinta Pada Agama Dan Tanah Air Dalam Upaya Melahirkan Generasi Yang Siap Mengabdi Untuk Umat Dan Bangsa.

KEGIATAN

  • Membiasakan jamaah Salat lima waktu sebagai kegiatan yang dapat menumbuhkan jiwa agamis, dinamis dan disiplin.
  • Pembacaan Maulid sebagai sarana untuk menanamkan rasa cinta pada Nabi Muhammad  Shalallohu ‘alaihi Wasallam.
  • Mengaji al-Quran, sorogan kitab kuning, mengaji kitab-kitab Mu’tabaroh sebagai upaya memberikan pemahaman yang utuh terhadap agama.
  • Mengadakan Jami’iyyah mingguan yang berisi latihan pidato, tilawtil quran dll., sebagai sarana dalam melatih kemampuan dan mental santri agar lebih siap dalam menghadapi masyarakat.

KONSENTRASI KITAB YANG DIAJARKAN

Kitab- kitab yang dipelajari di Pondok Pesantren HM Syarif Hidayatullah adalah kitab-kitab Mu’tabaroh berhaluan Ahlussunah Wal Jama’ah, diantaranya:

  1. Bidang ilmu tauhid seperti Aqidatul Awam, Matan Ibrohim al-Bajuri (tijanuddarori), Khoridatul Bahiyyah, Khomsatul Mutun, Kifayatul Awam dan lain lain.
  2. Bidang tafsir seperti Tafsir Jalalain, Tafsir Ayatul Ahkam dan lain lain.
  3. Bidang hadits seperti, Arbain Nawawi, Bulughul Marom, Riyadlusholihin, Jamiushoghir dan lain lain.
  4. Bidang ilmu fiqih seperti Sulam Taufiq, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Kanzurroghibin dan lain lain.
  5. Bidang ilmu nahwu, seperti kitab Jurmiyyah, Amrithi, Alfiyah Ibnu Malik dan lain lain.
  6. Bidang ushul fiqh seperti Waroqot, Lubbul Ushul,  Jamul Jawami’ dan lain lain.
  7. Bidang akhlak dan tashowuf seperti, Washoya, Taysirul Kholaq, Tahliyah, Ta’lim Muta’allim, Salalimul Fudlola, Mau’idzotul Mu’minin dan lain lain.

SARANA DAN PRASARANA YANG DIMILIKI

NO JENIS JUMLAH KETERANGAN
  1 Kamar Santri 9 Baik
  2 Kantor 3 Baik
  3 Kamar Pengurus 2 Baik
  4 Aula 2 Baik
  5 Kamar Mandi 24 Baik
  6 Jemuran 2 Baik
  7 Perpustakaan 1 Terawat
  8 Taman 1 Terawat

Brosur HMS bisa didownload di sini.

hmslirboyo