All posts by santri lirboyo

Pendidikan Senjata Masa Depan

Pendidikan Senjata Masa Depan | “Aku akan belajar untuk mempersiapkan diri, dan suatu hari peluangku akan datang.” Abraham Lincoln

Apa yang telah diungkapan oleh Abraham Lincoln bahwa belajar sebuah senjata yang kita miliki untuk kita gunakan menumpas kebodohan dan ketidakadilan yang telah dilakukan oleh sebagian besar umat manusia.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Presiden Afrika Selatan yakni Nelson Mandela, bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Kita sebagai generasi bangsa dan negara memang memerlukan sebuah pendidikan yang bisa membawa mereka akan kemanfaatan yang dapat diperoleh dari Pendidikan itu sendiri.

Apa yang telah dikatakan di atas sangat selaras dengan apa yang telah disampaikan oleh Socrates bahwa ilmu seperti udara, ia begitu banyak di sekeliling kita. Kamu bisa mendapatkannya di mana pun dan kapan pun. Bahwa di mana pun kita berada bila kita memiliki kemauan yang tinggi untuk mencari sebuah ilmu, maka dengan mudah kita mencarinya di mana pun tempatnya.

Ibarat ilmu laksana “isi” yang ada di bawah laut, bahwa di dalamnya tidak hanya terdapat macam-macam ikan melainkan juga sampah dan bangkai kapal yang berserakan. Sehingga mencari ilmu memang bisa di mana saja dan kapan saja namun juga harus memliki kemampuan untuk memilah-milah ilmu dengan baik agar dapat memberikan kemanfaatan.

tonton juga: Mengamalkan Ilmu | KH. M. Anwar Manshur

Tujuan ilmu

Pendidikan diumpamakan sebuah perjalanan dimana engkau menemukan nilai-nilai di dalamnya. Pendidikan tidak hanya untuk mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya, namun juga untuk meraih kualitas ilmu yang baik yang telah dicari oleh seorang pelajar. Oleh karena itu, ilmu yang memiliki kualitas inilah yang diharapkan bisa memberikan kemanfaatan kepada orang lain. Sehingga mereka juga merasakan buah dari apa yang telah kita pelajari.

Tujuan ilmu yang terpenting adalah memahami apa yang telah kita peroleh, bukan hanya mengandalkan apa yang telah kita hafalkan. Dengan pemahaman inilah sehingga kita sebagai generasi bangsa benar-benar mampu mengubah dunia dengan menggunakan cara dan metode yang benar dan baik.

baca juga: Pentingnya Mengamalkan Ilmu

Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa “Barang siapa yang Allah dikehendaki kebaikan, maka Allah akan memberikan pemahaman kepadanya tentang sebuah ilmu agama”. Dalam hadis tersebut Nabi menggunakan redaksi pemahaman bukanlah hafalan. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman lebih penting daripada hafalan, namun bukan berarti apa yang kita hafalkan tidaklah penting bagi kita, melainkan hafalan tetaplah menjadi hal yang penting karena dengan pemahaman yang baik akan menumbuhkan sebuah hafalan. Tanpa pemahaman, ilmu kita tidak akan bisa bermanfaat dan berkembang.

Kita akan benar-benar bersemangat serta berfokus dalam belajar dan memahami ilmu jika tujuan kita murni hanya untuk belajar, bukanlah untuk mencari dunia seperti mendapatkan gelar maupun ijazah. Dengan niat sepeti ini menjadi sebuah wasilah dalam tercapainya ilmu yang bermanfaat serta mampu untuk diamalkan. Karena ketika tujuan kita hanya mencari gelar pastinya kita tidak mau benar-benar belajar dan memahami, namun hanya semangat menumpuk hafalan sebanyak-banyaknya tanpa memahami ilmu tersebut. Kita menjadi tidak bisa menikmati ilmu pengetahuan dan tidak bisa menemukan hakikat dan tujuan ilmu yang sebenarnya. Waallahu ‘Alam []

Penulis: Fahmi Ulin Nuha

Pendidikan Senjata Masa Depan

Benarkah Zuhud Identik dengan Kemiskinan?

Penulis: A. Zaeini Misbaahuddin Asyu’ari* | Lirboyo.net
Tahap awal perkembangan gerakan sufisme zuhud ini merentang mulai abad ke-1 H. Sampai kurang lebih abad ke-2. Gerakan zuhud, yakni promosi “gaya hidup” sederhana dan serba kekurangan untuk melatih jiwa agar tak terlalu terikat dengan kehidupan dunia ini pertama kali muncul di Madinah, Kufah dan Bashrah, sebelum kemudian menyebar ke Khurasan dan Mesir. Awalnya gerakan zuhud ini sebagai respons terhadap gaya hidup mewah para pembesar negara, akibat dari perolehan kekayaan melimpah setelah Islam mengalami perluasan wilayah ke Suriah, Mesopotamia, dan Persia. Di antara tokoh zuhud yang terkenal dari kalangan sahabat adalah Abu Ubaidah al-Jarrah Ra. (w. 18 H), Abu Dzar al-Ghiffari Ra. (w. 22 H). Sedangkan, dari kalangan satu generasi setelah masa Nabi Saw. atau Tabi’in termasuk di antaranya adalah Said bin Musayyab (w. 91 H). Kemudian pada masa-masa terakhir fase ini, munculah beberapa tokoh yang belakangan dikenal sebagai sufi sejati seperti Ibrahim bin Adham (w. 161 H) Fudhail bin Iyadh (w. 187 H) dan tokoh-tokoh lainnya.
Benarkah Zuhud Identik dengan Kemiskinan?

            Zuhud, oleh sebagian kalangan memang sempat diartikan sebagai asketisme. Asketisme pada mulanya merupakan suatu sikap biarawan atau rahib-rahib yang menyangkal kehidupan dunia dengan harapan bisa menyucikan diri dan kemudian bertemu dengan Tuhan. Pemahaman seperti ini biasanya ditunjang oleh perujukan dan pemahaman khas terhadap hadis-hadis tertentu yang mengesankan anjuran untuk merendahkan kehidupan dunia.

            Konsep zuhud yang diidentikan dengan asketisme seperti ini pada gilirannya melahirkan konsep lain, yaitu faqr (kafakiran). Di Anak Benua India khususnya, dapat ditemui darwis-darwis yang menjalani pola kehidupan seperti ini. Mereka beranggapan bahwa dengan menjadi peminta-minta, orang merasa bahwa diri tidak punya apa-apa dan hina. Dengan demikian, dia mengharapkan akan makin merasakan kebutuhan kepada Allah Yang Maha Mencukupi.

            Menurut pandangan al-Jurjani dalam at-Ta’rifat-nya, zuhud secara etimologi adalah meninggalkan kecondongan atau ketertarikan terhadap sesuatu. Sedangkan, dalam terminologi tasawuf zuhud bermakna ketidaksukaan terhadap dunia dan berpaling darinya, menurut satu versi yang lain zuhud adalah: Meninggalkan keenakan dunia sebab mencari keenakan akhirat. Mengenai hal tersebut, Rasulullah Saw. bersabda:

«ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ. وَازْهَدْ فِيْمَا فِي أَيْدِيْ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ»

Zuhudlah dalam hal duniawi maka kamu akan disukai oleh Allah Swt. Sedangkan, zuhud dalam hal yang terdapat dalam tangan manusia maka akan disukai oleh manusia. (HR. Ibn Majah)

            Syaikh Husain bin Muhammad Sa’id al-Maghribi, dalam kitab al-Badr at-Tamam Syarh Bulugh al-Maram menyatakan bahwa hadis di atas mengandung petunjuk akan keutamaan zuhud, dan sesungguhnya zuhud merupakan salah satu faktor penyebab disukainya seorang hamba oleh Allah Swt. Sebab, hal demikian merupakan paling mulianya tujuan dan paling utamanya tuntutan.

            Lalu bagaimanakah cara mengidentifikasi dan menstatuskan seseorang sebagai seorang yang Zahid? Setidaknya, ada tiga ciri mendasar seseorang bisa dikatakan zuhud, sebagaimana disampaikan oleh Hujjah al-Islam al-Imam al-Ghazali dalam karya monumentalnya:

Pertama, tidak merasa gembira akan sesuatu yang ada dan tidak bersedih atas sesuatu yang hilang.

Suatu ketika, Imam Ahmad pernah ditanya: “Apakah seseorang yang memiliki uang seribu dinar tidak bisa disebut orang zuhud?”. Beliau menjawab: “Bisa disebut zuhud dengan syarat ia tidak merasa senang jika uang itu bertambah, juga tidak merasa sedih jika uang itu berkurang.” Bahkan menurut perspektif al-Ghazali, seyogianya orang yang zuhud itu merasa sedih akan keberadaan harta dan merasa bergembira jika kehilangannya.

Kedua, memiliki perasaan yang sama baik ketika dicela maupun dipuji atas kepemilikan harta. Ciri pertama tadi merupakan pertanda zuhud dalam harta, dan yang kedua ini ciri zuhud dalam pangkat ataupun profesi.

Ketiga, hatinya didominasi oleh nikmatnya ketaatan kepada Allah Swt. sebab terkadang hati itu merasa nikmat dengan kecintaan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi. Bila terdapat salah satu dari ketiga pertanda yang telah dipaparkan di atas, maka menurut pandangan al-Ghazali seseorang itu sudah layak menyandang predikat ‘Zahid’.

            Termasuk faktor yang membuat sebagian umat Islam enggan bekerja dan menjadi kaya ialah kekhawatiran mereka tidak bisa berlaku zuhud (membenci dunia), padahal zuhud sangat diperintahkan dalam agama Islam. Mereka menganggap dengan memiliki banyak harta, berarti mereka termasuk cinta dunia dan jauh dari sifat zuhud.

            Ini adalah pemahaman yang keliru tentang zuhud, sebab perlu diketahui bahwa hakikat zuhud adalah kosongnya hati dari cinta dunia. Meskipun tangan kita bergelimangan harta. Dikatakan demikian, sebab zuhud adalah amaliyah hati bukan fisik. Sebagaimana sifat yakin, tawakkal, tawadhu’ (rendah hati), dan ikhlas juga amaliyah hati, bukan fisik.

            Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali menerangkan, bahwa orang yang meninggalkan harta belum tentu zuhud, sebab sekadar meninggalkan harta itu mudah bagi orang-orang yang suka dipuji sebagai orang zuhud, seperti para petapa yang berpakaian compang-camping rela menjalani berbagai kesengsaraan dalam pertapaannya, sebab ia sangat mengharap pujian orang-orang bahwa ia adalah orang yang zuhud. Nikmatnya dipuji oleh masyarakat ini bisa mengalahkan letihnya pertapaan. Jadi, zuhud itu bukan hanya tidak menyukai harta, tetapi juga tidak menyukai pujian manusia, atau pengaruh dan popularitas. Zuhud juga bukan berarti meninggalkan harta sama sekali. Akan tetapi, perasaan seorang yang zuhud akan sama, baik saat memiliki harta ataupun tidak, yakni hatinya sama sekali tidak terkait dengan harta dunia.

            Rasulullah Saw. sebagai pemimpin orang-orang yang zuhud saja tetap bersedia memakan makanan lezat, seperti daging, manisan dan madu. Beliau juga menikah, memakai minyak wangi, dan berpakaian indah. Namun, tentunya semua itu dilakukan tanpa pemborosan dan melampaui batas.

            Walhasil, Zuhud bukan bukan berarti kita dituntut untuk miskin dan tidak mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi tidak ada keterikatan hati pada kekayaan tersebut. Boleh saja punya mobil banyak, rumah di mana-mana, tanah melimpah, atau apapun saja, tapi hatinya tidak selalu terpaut pada kemewahan itu. Semua kemewahan itu hanya dianggap titipan dari Allah, yang sewaktu-waktu dapat diambil. Sebagai closing statemen penulis ingin menyampaikan bahwa menjalani hidup tasawuf itu bukan berarti harus hidup miskin. Yang penting, hati kita tidak terikat oleh harta kekayaan yang kita miliki dan tetap terpaut dengan Allah Swt. Bisa jadi orang miskin harta, tapi hatinya terus memikirkan dunia. [AZ]

*Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Marhalah Ula Smt. V Asal Purwakarta, Jawa Barat. Pecinta Khazanah Turats dan Pegiat Literasi.

Benarkah Zuhud Identik dengan Kemiskinan?

  • Referensi:

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi, Ihya Ulum ad-Din (Beirut: Dar al-Ma’rifah), vol. 4, h. 219.

Al-Husain bin Muhammad bin Sa’id al-La’i al-Maghribi, al-Badr at-Tamam Syarh Bulugh al-Maram, (Beirut: Dar Hijr), vol. 10, h. 246. Ali bin Muhammad bin Ali az-Zain asy-Syarif al-Jurjani, Kitab at-Ta’rifat (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah), vol. 1, h. 115.

Baca juga:
KEZUHUDAN KH. ABDUL KARIM

Simak juga:
Tiga Golongan Terbaik | K.H. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Benarkah Zuhud Identik dengan Kemiskinan?

Reartikulasi Dawuh “Sing Mempeng”

Reartikulasi Dawuh “Sing Mempeng”

Saya pikir daripada mengutip satu pepatah tentang ilmu yang berserakan dalam buku-buku dan kitab klasik sebagai penghias ‘tulisan’ saja akan lebih berguna dan sedikit lebih ‘ilmiah’ jika mencoba mengejawantahkan kembali makna (reartikulasi) salah satu pepatah populer: sing mempeng, lek!

Sering kali setelah teman-teman sowan kepada Kyai Anwar Mansur dan juga kyai-kyai lainnya saya bertanya nasihat yang disampaikan beliau, jawaban yang dilontarkan pun selalu saja sama, sing mempeng atau pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan dengan ilmu dan pelajaran sekolah seperti bagaimana hafalanmu?

Dalam sebuah studi tentang niat, ulama tasawuf dan juga Abraham Maslow, seorang pakar psikologi, dalam bukunya “Psikologi Tentang Pengalaman Religius” mewanti-wanti agar jangan sampai sebuah ritual ibadah bertransformasi menjadi sebuah kebiasaan karena hal tersebut dapat menghilangkan makna dan kesakralannya sehingga ‘nol’ secara spiritual, layaknya tubuh yang telah kehilangan jiwanya.

Bukan artinya melakukan ibadah secara kontinu dianggap salah karena angapan tersebut akan menyalahi sabda Nabi Muhammad SAW, “Amal paling baik dilakukan adalah apa yang dijalankan terus-menerus.” Melainkan, ‘jangan sampai kegiatan sakral yang sering dilakukan kehilangan maknanya karena telah menjadi kebiasaan.’

Coba periksa lagi pengalaman-pengalaman religius yang kamu lakukan, kehilangan maknanya atau tidak? Siapa tahu salat yang dilakukan hanya sebatas ucapan dan gerakan-gerakan lahiriah saja tanpa ada kesakralan makna spiritual di dalamnya. Hati-hati.

Kalau dihubungkan dengan teori di atas, boleh jadi dawuh sing mempeng yang sering kali dilontarkan pun dianggap sebagian atau bahkan kebanyakan santri sebagai suatu hal yang klise dan tidak berarti banyak (meaningless) karena telah kehilangan maknanya. Apalah arti sebuah kata bagi seorang pembaca bila telah kehilangan maknanya. Dari titik inilah reartikulasi dawuh tersebut mulai tampak dibutuhkan.

Pemaknaan secara tepat

Secara literer, sing mempeng adalah sebuah nasihat jawa yang terdiri dari dua kata, sing dan mempeng. Dalam Bahasa Indonesia “sing” artinya adalah yang, sementara “mempeng”  adalah sungguh-sungguh, rajin dan sebagainya-hasil wawancara dengan salah satu orang Jawa Tengah-sehingga bisa dipahami maksud dari sing mempeng adalah bersungguh-sungguh.

Sebenarnya, dari makna sederhana ini pun sudah terdapat indikasi betapa berkobarnya api semangat thariqah ta’lim wa ta’allum guru-guru kita. Sebab, dawuh tersebut bisa mengarah kepada keduanya sekaligus (ta’lim wa ta’allum) bergantung pada siapa yang mendapat nasihat: pelajar atau pengajar, dalam arti lain, sifatnya subjektif.

Namun demikan, tulisan ini mencoba untuk juga memahami variabel-variabel yang terlibat dalam dawuh sing mempengagar emas  (makna) yang didapat kualitasnya lebih tinggi lagi.

baca juga: SEMANGAT BARU BERKAT DAWUH MASYAYIKH

Pembagian secara variabel

Variabel pertama, dawuh sing mempeng berkaitan dengan ilmu yang keutamaanya bahkan mampu membuat malaikat mengakui keistimewaan dan kompetensi manusia pertama, Nabi Adam As. Untuk menjabat sebagai khalifah di muka bumi. Jadi, karena dawuh tersebut adalah sebuah usaha menstimulus jalan mencari ilmu, kemuliannya pun tentu setara tujuannya.

 Variabel kedua, dalam sebuat riwayat hadis dikatakan:

إِنَّمَا العِلمُ بالتَعَلُّم

(Ilmu hanya dapat dihasilkan melalui jalur belajar)

Maka, dawuh sing mempeng merupakan realisasi hadis tersebut karena memang tujuan utamanya adalah mendorong santri agar mau bersungguh-sungguh belajar.

Dengan melihat makna literer dan variabel-variabel yang potensial dihasilkan selain dua variabel di atas, jelas sudah bahwa nilai dan makna yang terkandung dalam dawuh sing mempeng ‘bukan kaleng-kaleng’, bagi siapapun yang berusaha menggali makna dan mengamalkannya.

Kesimpulan

Sebagai penutup, dalam kitab adab al-dunya wa al-din terdapat satu cerita yang sekoridor dengan inti pembahasan tulisan ini. Dikatakan bahwa seorang bijak ditanya oleh masyarakat, mana yang lebih baik ilmu atau harta? Seorang bijak menjawab ilmu. Namun, ia suguhi fenomena banyaknya ulama yang berdiam diri di depan pintu rumah saudagar kaya sedang tidak ada satupun saudagar kaya yang berdiam di depan rumah ulama.

Sang bijak menjawabnya satir, itu karena ulama tahu bahwa harta memiliki nilai sedangkan saudagar kaya tidak memahami pentingnya ilmu. Ia tidak paham maknanya. Wallahu a’lam.

tonton juga: Nasionalisme Religius | Ensiklopedia Buku Lirboyo

Reartikulasi Dawuh “Sing Mempeng”

Source:

Ar-Razi, Fakhruddin. Mafatih al-Ghaib. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, tt.
Al-Mawardi. Adab Al-Dunya wa al-Din.
Al-Nawawi, Muhyidin. Riyadh al-Sholihin. Maktabah As-Salam
Maslow, Abraham. Psikologi Tentang Pengalaman Religius.

Penulis: Muhammad Alfan (Ma’had Aly Semester I)

Nasihat Mualif Simtu ad-Duror

Nasihat Mualif Simtu ad-Duror | Pernah dalam sebuah ceramah beliau memberi nasehat-nasehat wasiat bagi seorang penuntut ilmu. Di antaranya dalam wasiat tersebut:

“Ketauhilah, aku senang kepada kalian karena kalian mau membawa buku. Ku do’akan kalian berumur panjang dan memperoleh futuh. Katauhilah, setiap orang yang mengajarkan ilmu yang dimilikinya, kelak (di hari qiamat) akan mendapat pertolongan Rasullullah Saw.”

Bahkan dalam kesempatan yang lain beliau pernah berkata: “Aku menempatkan para penuntut ilmu di atas kepalaku. Jika bertemu pelajar yang membawa kitabnya, ingin rasanya aku mencium kedua matanya. Bagaimana mungkin kita tidak mengagumi meraka, sedangkan Rasulullah Saw bersabda: “Agama ini pada awalnya asing dan kelak akan kembali asing. Sungguh beruntung orang-orang yang (dipandang) asing. Yakni orang-orang yang menghidupkan kembali sunnahku yang telah dimatikan oleh masyarakat.“

Betapa beliau sangat menjunjung dan memuji para penuntut ilmu. Hal ini dibuktikan oleh nasihat beliau pada hari ahad, 11 syawal 1322 H. dalam sebuah majelis di Anisah, Habib Ali mengundang dan menjamu para pelajar. Saat itu, Habib Ali berkata:

“Ketahuilah, hari ini aku mengundang kalian dengan tujuan agar kalian bangkit dengan penuh semangat untuk menuntut ilmu. Dan ketahuilah, aib bagi seorang pelajar adalah jika ia tidak membawa buku.

Giatlah belajar, semoga Allah memberkahi kalian. Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu, dan perhatikanlah salat kalian.”

Sanjungan untuk Santri

Lalu beliau kembali menuturkan tentang kelebihan-kelebihan dari para santri. “Mereka menghafal berbagai matan (naskah). Mereka telah hafal kitab Zubad, Mulhah, Alfiyah, Jurmiyah, dan kitab lainnya di masa kecil mereka. Setelah dewasa, di antara mereka ada yang hafal kitab al Minhaj, al Irsyad, dan ada pula yang telah hafal al-Ubad. Sedangkan kalian (selain santri)? Satu kitab pun takada yang hafal, andai kata ada yang hafal, ia tidak akan faham dan tidak akan mengamalkan isinya.”

Beliau memang sangat menjunjung para santri hal itu tercermin dalam nasihat-nasihat beliau di antaranya: “Aku ingin setiap pelajar membawa alat tulisnya ketika mengikuti pelajaran, kemudian mencatat persoalan-persoalan yang telah dihafalnya. Ketahuilah, manfaat sebuah ilmu terletak pada pengalaman dan pencatatannya.”

 “Pelajarilah cara mematikan hawa nafsu, pelajarilah adab. Tuntunlah ilmu, baik dari orang dewasa maupun anak-anak. Jika yang mengajarakan ilmu jauh lebih muda, janganlah berkata: ‘Kami tidak mau belajar kepadanya, itu aib bagi kami.’ Ketahuilah Allah telah memberinya ilmu, meski ia masih kecil. Dengan belajar kepadanya, mengakui dan menghormatinya, Allah akan memuliakanmu sebagaimana Allah telah memuliakannya.”

“Jauhilah dengki dan iri hati. Ketahuilah, kedua sifat ini dapat mencabut keberkahan ilmu. Ambilah manfaat dari setiap orang yang dapat memberimu manfaat. Bahkan andaikan seorang yang pekerjaannya merabuk tanah dengan kotoran hewan hendak memberimu manfaat, maka ambilah manfaat darinya.”

“Pelajarilah pelajaran yang hendak kalian bacakan di hadapan guru kalian (sorogan), dengan demikian kalian akan memetik banyak manfaat. Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi membaca pelajarannya sebanyak 25 kali sebelum mengikuti pelajaran gurunya, dan beliau mengulang pelajarannya sebanyak 25 kali seusainya. Jika kalian, hanya membuka-buka kitab kalian ketika telah berada di depan guru kalian. Maka lihatlah Syeikh Fakhrurrazi, beliau mengulang pelajarannya sebanyak 1000 kali”.

“Ketika masih menuntut ilmu di Mekkah, setiap malam aku bersama kakakku Husein dan Alwi as-Seggaf mempelajari 12 kitab syarah mulai dari al-Minhaj. Lalu menghafalkan semuanya. Suatu ketika, di akhir malam, ayahku keluar dari kamarnya dan mendapati kami sedang belajar. Beliau berkata: ‘Wahai anak-anakku, kalian masih belajar? Semoga Allah memberkati kalian’.”

“Ketahuilah, menghafal di waktu kecil seperti mengukir di atas batu, manfaatkanlah masa muda kalian, masa lapang kalian dan tenaga kalian. Perhatikanlah bagaimana orang-orang tua menghadapi kesulitan ketika menghafal.”

Demikian sedikit nasihat dan wasiat beliau. Semoga kita termasuk orang yang diberkati oleh Allah karena mengenal, mengenang kekasih Allah ini. Menjadi umat baginda Nabi Muhammad Saw. yang dicintai dan disayang karena keberkahan dari para guru kita, para Ulama’, para Habaib-habaib, terutama Habib Ali al-Habsyi. []
Nasihat Mualif Simtu ad-Duror

Penulis: Sayyid Abdurrohman as-Seggaf

baca juga: KUPAS TUNTAS PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW
baca juga: MENGENAL MUALIF MAULID SIMTU AD-DUROR
tonton juga: Rahasia Sukses Dunia & Akhirat | KH. Abdullah Kafabihi Mahrus

Mengenal Mualif Maulid Simtu ad-Duror

Mualif Maulid Simtu ad-Duror adalah seorang tokoh yang terkenal di kalangan ulama, habaib dan masyarakar luas, terutama lewat karangan beliau berupa kitab bacaan maulid Simtud ad-Duror yang ditulis kurang lebih 100 tahun yang lalu di sebuah kota kecil bernama Seiwun Hadromaut, Yaman. Buku maulid ini kemudian tersebar pesat ke berbagai negara di Jazirah Arab, Afrika, Asia hingga kini keberadaannya menembus Eropa, Amerika Latin dan belahan bumi lainnya.

Habib Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi dilahirkan di desa Qasam, suatu desa yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Alwi Khali’ Qasam (592H). Habib Ali bin Alwi bercocok tanam, dan mulai membangun keluarga.

Kedua Orang Tua Habib Ali

Kedua orang tua Habib Ali bin Muhammad, juga termasuk salah satu ulama yang masyhur di zamannya. Ibu beliau seorang Sayyidah Shalihah, al-Ariffah Billah dan Da’iyah ilallah, beliau bernama Sayyidah Alawiyah binti Husein bin Ahmad al-Jufry(1240H). Beliau berasal dari kota Syiban, ayah beliau bernama Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi. Beliau membaktikan seluruh usianya untuk beribadah dan berdakwah ke berbagai kota dan plosok desa.

Diceritakan dari Habib Ali Ra, “Dahulu ketika menuntut ilmu, ayahku tidak tidur malam. Jika diserang kantuk, beliau mengambil tempat di atas tungku pembakaran lalu meletakan wajahnya menghadap tungku tersebut, hingga asap dari tungku tersebut masuk ke mata beliau.”

Membangun Ribath dan Masjid

Ketika Habib Ali berusia 37 tahun, beliau membangun ribath (pondok) yang pertama di Hadromaut. Beliau membangun sebuah ribath di kota Seiwun untuk para penuntut ilmu dari dalam dan luar kota. Ketika usia beliau menginjak 44 tahun, beliau membangun masjid yang dinamakan Masjid Riyadh. Beliau membangun masjid di samping ribath yang telah dibangun lebih dahulu. Masjid itu bersampingan, bahkan menjadi satu dengan ribath.

Menulis Kitab Simtu ad-Duror

Pada usia beliau yang ke 68 tahun, beliau menulis kitab maulid yang diberi nama Simtu ad-Duror. pada hari Kamis 26 Safar 1327 H. Habib Ali mendiktekan paragraf awal dari kitab maulid tersebut setelah memulainya dengan bacaan basmalah:

الحمد لله القوي سلطانه   الواضح البرهانه

Sampai dengan ucapan beliau:

وهو من فوق علم ما قد راته رفعة في شؤونه وكمالا

Kemudian beliau memerintahkan agar tulisan tersebut dibacakan di hadapannya. Setelah pendauhulan yang berupa khutbah itu selesai dibacakan, beliau berkata, “Insyaallah aku akan segera menyempurnakannya, sudah sejak lama aku berkeinginan untuk menyusun kitab maulid. Sampai suatu hari anakku Muhammad datang menemuiku dengan membawa pena dan kertas, kemudian berkata kepdaku, ‘mulailah sekarang’. Sampai aku pun mulai mengarangnya”.

Kemudian Pada hari Selasa awal di bulan Robiul Awal 1327 H dalam sebuah majelis beliau mendiktekan maulidnya mulai dari:

فسبحان الذي ابرز من حضرة الامتنان

  Hingga

ويكتب بها بعناية الله في حربه

Beliau memerintahkan agar maulid yang telah beliau tulis itu dibacakan. Kemudian pada malam Rabu 9 Robiul Awal, beliau mulai membacakan maulid tersebut di rumah beliau sendiri setelah maulid itu disempuranakan. Beliau berkata, “Maulid ini sangat menyentuh hati, karena baru saja selesai diceritakan.“ Besoknya, maulid itu pun oleh beliau disempurnakan lagi.

Pada malam sabtu, 12 robiul awal 1327 H. beliau membaca maulid tersebut di rumah muridnya, Sayyid Umar bin Hamid as-Seggaf. Sejak hari itu habib Ali kemudian rutin membaca maulidnya sendiri (Simtuduror), yang mana sebelumnya beliau selalu membaca maulid milik al-Hafidz ad-Dibai’. Dan setelahnya, Maulid Simtuduror yang agung ini kemudian mulai tersebar luas di Seiwun, juga di seluruh Hadrlomaut dan tempat-tempat lain yang jauh seperti Indonesia, Afrika, Dhafar, dan Yaman.

Habib Ali Ra berkata, “Dakwahku akan tersebar ke seluruh dunia, dan maulidku  ini akan tersebar ke tengah-tengah masyarakat, akan mengumpulkan mereka kepada Allah dan membuat mereka dicintai Nabi Saw. Jika seseorang menjadikan kitab mulidku ini sebagai salah satu wiridnya atau menghafalnya, maka sirri (rahasia) Nabi Saw akan tampak pada dirinya.“

baca juga: Waktu dan Tata Cara Merayakan Maulid Nabi

Tahun-tahun Terakhir dan Kewafatan Habib Ali

Pada tahun-tahun terakhir kehidupan beliau, penglihatan Habib Ali semakin kabur. Bahkan dua tahun sebelum kewafatannya, beliau sempat kehilangan penglihatnnya. Dan menjelang perpindahan beliau ke Negeri Akhirat, tanda yang pertama kali tampak adalah ‘Istihlam’ .

‘Isthlam’ ini berlangsung selama 70 hari yang mengakibatkan kesehatan beliau semakin buruk. Sampai akhirnya pada Waktu Dzuhur, Hari Minggu, 20 Robiul Tsani 1333 H. ruh beliau yang suci terbang menuju ‘illiyyin. Dan di Waktu Ashar keesokan harinya, jenazah beliau pun dikebumikan di sebelah barat masjid Riyadh dengan suatu iring-iringan yang tidak ada awal dan akhirnya.[]

tonton juga: HAUL KE-6 KH. M. ABDUL AZIZ MANSHUR
Penulis: Sayyid Abdurrohman as-Seggaf