All posts by santri lirboyo

PONDOK PESANTREN DARUSSA’ADAH

Pondok Pesantren Darussa’adah merupakan lembaga pendidikan khusus untuk anak usia dini yang berorientasi pada pendidikan keagamaan dan sosial kemasyarakatan, guna mencetak santri yang berakhlaqul karimah, berilmu, disiplin, mandiri, cakap, kreatif dan bertanggung jawab. Sehingga Santri diharapkan mampu menjadi pionir di tengah-tengah masyarakat dengan tetap mempertahankan nilai-nilai salafiyah.

VISI

Mencetak generasi yang beriman, bertaqwa, berakhlakul karimah, berilmu dan disiplin.

MISI

Mencetak generasi Islam yang beriman, bertaqwa, berakhlakul karimah dan berilmu, serta menanamkan faham-faham Ahlussunnah wal Jamaa’ah An-Nahdliyah sejak dini.

PONDOK PESANTREN AL IHSAN

Pondok Pesantren Al-Ihsan Lirboyo diasuh oleh KH. Abdul Kholiq Ridlwan dan Ibu Nyai Eeng Sukaenah. Bermula dari khudama’ (abdi ndalem putri) kepada Romo KH. Abdul Kholiq Ridlwan dan sorogan Al-Qur’an kepada Ibu Nyai Eeng Sukaenah. Seiring berjalannya waktu, santri putri yang bertujuan untuk menimba ilmu dan menghafalkan Al-Quran terus bertambah. Akhirnya tempat yang semula hanya dua lantai diperuntukkan para khudama’ menjadi empat lantai sebagai sarana pendidikan para santri. Sehingga bertepatan dengan tahun 2016 M. Romo KH. Abdul Kholiq Ridlwan meresmikan pondok ini dengan nama” Pondok Pesantren Al-Ihsan” dengan alasan berdampingan dengan gedung Al-Ihsan PP. Lirboyo.

Pondok Pesantren Al-Ihsan Lirboyo berbasis Tahfidzh Al-Qur’an dan beraqidah Islam menurut faham Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan mengikuti salah satu madzhab fikih yang empat, yaitu Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali. Pesantren ini bertujuan mencetak insan yang beriman, bertakwa, berilmu, berakhlaqul karimah dan berhati ikhlas, serta santri dididik untuk mencintai, memahami, mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pehaman salafus sholih.

Sehingga para santri dibina untuk belajar Al-Qur’an, Hadits-hadits, kitab-kitab salaf dan secara intensif dibina agar aktif berorganisasi, berbahasa, serta menguasai keterampilan-keterampilan. Oleh karenanya, santri diharapkan kelak menjadi insan yang mampu memimpin umat pada kemaslahatan.

PONDOK PESANTREN HM SYARIF HIDAYATULLAH

Pondok Pesantren HM Syarif Hidayatullah Kota Kediri didirkan pada tahun 2017 oleh KH. An’im Falachuddin Mahrus dilingkungan Pondok Pesantren Lirboyo dibawah naungan Yayasan Sunan Gunung Jati. Pondok pesantren ini adalah sebuah lembaga yang berorientasi pada pendidikan keagamaan dan pembentukan karakter guna membentuk generasi yang tidak hanya cerdas dalam berfikir tapi juga tetap menjunjung tinggi nilai–nilai etika kemasyarakatan sehingga  para santri diharapkan mampu mengamalkan dan menyebarkan ajaran Islam yang berhaluan Ahlu As-Sunnah Wa Al-Jamaah An-Nahdliyah.

VISI

Berilmu, Beriman, Bertaqwa Dan Berakhlaqul Karimah.

MISI

  • Mencetak Generasi Yang Memiliki Pemahaman Ilmu, Disiplin, Dan Mempunyai Dedikasi Tinggi Terhadap Agama, Masyarakat Dan Negara.
  • Menanamkan Rasa Cinta Pada Agama Dan Tanah Air Dalam Upaya Melahirkan Generasi Yang Siap Mengabdi Untuk Umat Dan Bangsa.

KEGIATAN

  • Membiasakan jamaah Salat lima waktu sebagai kegiatan yang dapat menumbuhkan jiwa agamis, dinamis dan disiplin.
  • Pembacaan Maulid sebagai sarana untuk menanamkan rasa cinta pada Nabi Muhammad  Shalallohu ‘alaihi Wasallam.
  • Mengaji al-Quran, sorogan kitab kuning, mengaji kitab-kitab Mu’tabaroh sebagai upaya memberikan pemahaman yang utuh terhadap agama.
  • Mengadakan Jami’iyyah mingguan yang berisi latihan pidato, tilawtil quran dll., sebagai sarana dalam melatih kemampuan dan mental santri agar lebih siap dalam menghadapi masyarakat.

KONSENTRASI KITAB YANG DIAJARKAN

Kitab- kitab yang dipelajari di Pondok Pesantren HM Syarif Hidayatullah adalah kitab-kitab Mu’tabaroh berhaluan Ahlussunah Wal Jama’ah, diantaranya:

  1. Bidang ilmu tauhid seperti Aqidatul Awam, Matan Ibrohim al-Bajuri (tijanuddarori), Khoridatul Bahiyyah, Khomsatul Mutun, Kifayatul Awam dan lain lain.
  2. Bidang tafsir seperti Tafsir Jalalain, Tafsir Ayatul Ahkam dan lain lain.
  3. Bidang hadits seperti, Arbain Nawawi, Bulughul Marom, Riyadlusholihin, Jamiushoghir dan lain lain.
  4. Bidang ilmu fiqih seperti Sulam Taufiq, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Kanzurroghibin dan lain lain.
  5. Bidang ilmu nahwu, seperti kitab Jurmiyyah, Amrithi, Alfiyah Ibnu Malik dan lain lain.
  6. Bidang ushul fiqh seperti Waroqot, Lubbul Ushul,  Jamul Jawami’ dan lain lain.
  7. Bidang akhlak dan tashowuf seperti, Washoya, Taysirul Kholaq, Tahliyah, Ta’lim Muta’allim, Salalimul Fudlola, Mau’idzotul Mu’minin dan lain lain.

SARANA DAN PRASARANA YANG DIMILIKI

NO JENIS JUMLAH KETERANGAN
  1 Kamar Santri 9 Baik
  2 Kantor 3 Baik
  3 Kamar Pengurus 2 Baik
  4 Aula 2 Baik
  5 Kamar Mandi 24 Baik
  6 Jemuran 2 Baik
  7 Perpustakaan 1 Terawat
  8 Taman 1 Terawat

Brosur HMS bisa didownload di sini.

hmslirboyo

Berguru Sepanjang Waktu

Salah satu murid utama Imam Abu Hanifah adalah Qadhi Abu Yusuf. Beliau juga adalah guru Imam Syafi’i. Qadhi Abu Yusuf merupakan orang yang sangat istiqomah dan mencintai ilmu. Dalam kitab Qimatuz Zaman, disebut bahwa beliau adalah orang yang tidak pernah absen salat berjamaah subuh dengan guru beliau selama dua puluh sembilan tahun. Selama itu pula beliau mengaji dan menjadi murid Imam Abu Hanifah. Dikisahkan, beliau tetap mengaji meskipun pada hari raya idul Fitri dan idul Adha.

Bahkan tatkala putra beliau wafat, beliau tidak sempat mentajhiz dan menghadiri pemakaman putra beliau, karena saat itu bertepatan dengan jadwal mengaji bersama guru beliau, Imam Abu Hanifah. Beliau lebih memilih melanjutkan kegiatan istiqomah mengaji. Padahal hari itu putra beliau wafat dan akan segera dimakamkan. Peristiwa tersebut sungguh menunjukkan bahwa Qadhi Abu Yusuf merupakan pribadi yang amat istiqomah dan konsisten. Serta melambangkan kecintaan beliau yang luar biasa pada ilmu pengetahuan.

Bahkan setelah guru beliau Imam Abu Hanifah wafat, karakter tersebut tetap ada.

Hal yang luar biasa adalah peristiwa yang disaksikan langsung oleh Syaikh Ibrahim bin al-Jarrah yang merupakan murid Qadhi Abu Yusuf, tatkala Qadhi Abu Yusuf sakit parah. Mungkin itu adalah saat-saat terakhir Qadhi Abu Yusuf. Syaikh Ibrahim bin al-Jarrah ketika itu menjaga Qadhi Abu Yusuf. Beliau menyaksikan Qadhi Abu Yusuf yang tengah sakit sampai pingsan. Saat kembali terjaga, Qadhi Abu Yusuf mengatakan suatu hal.

“Ibrahim, apa pendapatmu tentang ini?”
Qadhi Abu Yusuf kemudian menyebutkan satu permasalahan hukum fikih. Dalam situasi genting seperti itu, Syaikh Ibrahim kemudian mengatakan,
“Dalam kondisi seperti ini (ingin membahas ilmu fikih)?”
“Tidak masalah, kita belajar fikih siapa tahu nanti ada orang yang selamat karena ilmu kita.” Demikian dawuh Qadhi Abu Yusuf kepada murid beliau. “”Ibrahim, mana yang lebih utama dalam melempar jumroh, apakah sambil berjalan atau naik kendaraan?”

Karena ditanya oleh guru beliau, Syaikh Ibrahim akhirnya menjawab. “Sambil naik kendaraan.”

“Salah!” Kata Qadhi Abu Yusuf.
“Kalau demikian, berarti sambil naik kendaraan.”
“Salah juga!”

Karena kedua jawaban yang diutarakan ternyata salah menurut Qadhi Abu Yusuf, Syaikh Ibrahim kemudian memohon penjelasan.

“Tolong jelaskan.” Beliau juga mendoakan guru beliau, “semoga Allah meridhaimu.”

Qadhi Abu Yusuf lantas menjawab pertanyaan beliau sendiri dengan jawaban yang agak panjang. “Bagi yang ingin berdoa sejenak di tempat jumrah, maka baiknya dia melempar sambil jalan. Sedangkan bagi yang ingin melempar saja tanpa berhenti untuk berdoa, maka sebaiknya naik kendaraan”

Mendapatkan ilmu baru dari guru beliau, Syaikh Ibrahim bin al-Jarrah kemudian beranjak dari tempat tersebut. Beliau keluar dari rumah Qadhi Abu Yusuf. Mungkin beliau hendak menulis catatan, atau hendak memberikan kabar kepada orang lain perihal masalah fikih tersebut.

Namun sekembalinya beliau, baru sampai di pintu rumah, beliau tiba-tiba mendengar suara teriakan dari arah dalam. Innalilahi wa innailaihi raji’un, Qadhi Abu Yusuf baru saja wafat.

Qadhi Abu Yusuf demikian mencintai ilmu pengetahuan. Benar-benar mengamalkan dawuh “uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi. Tuntutlah ilmu sejak pangkuan ibu, hingga tiba di liang lahat nanti.

HUKUM KHATAMAN ALQURAN ONLINE

Hukum Khataman Alquran Online

Banyak ikhtiar yang dilakukan masyarakat dalam menghadapi wabah virus covid-19 atau corona, mulai dari pembacaan doa, sholawat, hizib, sampai khataman Alquran baik secara langsung maupun daring (online).

Cara dalam mensukseskan khataman yang dilakukan secara online seringkali memanfaat media grup WhatsApp atau Telegram dengan membagi 30 juz terhadap 30 orang dengan masing-masing orang membaca 1 juz. Setelah khatam, salah satu anggota ada yang berdoa, baik secara live streaming atau voice note. .
Dalam tinjauan fikih, praktek demikian dikenal dengan istilah Idaroh (membaca Alquran bersama dengan cara membagi bacaan untuk dibaca sendiri-sendiri). Imam an-Nawawi menjelaskan:

فَصْلٌ فِي الْاِدَارَةِ بِالقُرْآنِ وَهُوَ أَنْ يَجْتَمِعَ جَمَاعَةٌ يَقْرَأُ بَعْضُهُم عَشرا أو جُزٰءًا أَو غَيْرَ ذَلِكَ ثُمَّ يَسْكُتُ وَيَقرَأُ الْآخَرُ مِنْ حَيْثُ انْتَهَى الأوَّلُ ثُمَّ يَقْرَأ الآخَرُ وَهَذَا جَائِزٌ حَسَن .

“Pasal menjelaskan praktek Idaroh Alquran yaitu perkumpulan sebuah golongan yang mana sebagian dari mereka membaca sepuluh juz, satu juz, atau selainnya kemudian yang lain membaca kelanjutan dari bacaan sebagian yang lain. Hal ini diperbolehkan bahkan termasuk kebaikan.” (At-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an, hlm. 103)

Syekh Khatib as-Syirbini juga menegaskan:

وَلَا بَأْسَ بِالْإِدَارَةِ لِلْقِرَاءَةِ بِأَنْ يَقْرَأَ بَعْضُ الْجَمَاعَةِ قِطْعَةً، ثُمَّ الْبَعْضُ قِطْعَةً بَعْدَهَا

“Tidak ada masalah dengan praktek Idaroh Alquran yaitu sebagian kelompok membaca bacaan Alquran tertentu kemudian sebagian yang lain membaca bacaan yang lain setelahnya.” (Mughni al-Muhtaj, VI/348)

Bahkan Imam ash-Shan’ani mengutarakan:

وَيَصْدقُ عَلَى جَمَاعَةٍ كُلٌّ يَتْلُو لِنَفْسِهِ عَلَى الٰاِسْتِقْلَالِ

“Dan (termasuk mudarosah) ialah sekelompok orang yang membaca Alquran sendiri-sendiri secara mandiri.” (At-Tahbir li Idhah Ma’ani at-Taysis, VI/554)

Dengan demikian, praktek khataman Alquran online melalui grup media sosial dapat dibenarkan karena tergolong Idaroh Alquran yang bernilai pahala. Yang tentunya dalam praktek Idaroh tidak memerlukan perkumpulan dalam tempat tertentu serta tidak memerlukan proses saling menyimak sebagaimana dalam tadarus. []waAllahu a’lam