All posts by kang santri

Ramadan Asik dengan Siswa Sekolah Formal

LirboyoNet, Kediri—LIM (Lembaga Ittihadul Mubalighin) yang menjadi badan otonom Pondok Pesantren Lirboyo, di bulan Ramadan tahun ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, mensyiarkan ajaran agama di beberapa lembaga pendidikan formal, yakni SMK, SMA, SMP, MA, MTS dan TK, atau sering diistilahkan dengan Pesantren Ramadan (PESRA).

Selasa, (30/05) kemarin merupakan pemberangkatan awal dari perjalanan dakwah LIM di sekolah umum itu. Untuk memenuhi kebutuhan dakwah di lembaga formal ini, LIM mengirim delegasi berjumlah total 195 santri, dengan perincian 91 santri putra, yang direkrut dari siswa-siswa tingkat Tsanawiyah-Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien dan 104 santri putri, yang seluruhnya merupakan santri Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat.

Pada praktiknya, ratusan delegasi tidak seluruhnya dikirim secara serentak. Sebab, telah ada jadwal tersendiri yang mengatur sirkulasi dakwah mereka. Pagi itu, jadwal Pesantren Ramadan dilaksanakan di lima tempat: TK Melati, SMPN 6, SMPN 7, SMAN 7, dan SMKN 1 Kediri. di SMPN 6 khususnya, mendapat porsi delegasi paling banyak, yakni 21 delegasi dengan rincian sebelas santri putra dan sepuluh santri putri.

Menurut beberapa delegasi, suasana mengajar di sekolahan umum sangatlah berbeda dengan pesantren. “Di sekolahan umum, murid-muridnya dalam berakhlakul karimah masih kurang, jadi disitu kami harus menyesuaikan diri,” ujar Ahmad, delegasi asal Madura.

Dengan masuknya peran LIM ke sekolahan umum, berbagai harapan mengambang di benak ratusan delegasi itu. Salah satunya diungkap oleh pengajar putri, yang enggan menyebutkan namanya. “Kami, terutama saya, berharap ini menjadi bekal para santri agar kelak di masyarakat tidak canggung dalam menghadapi masyarakat umum.” Menurutnya, dengan pengalaman mengajar seperti ini, mereka juga ingin dapat menguasai pendidikan umum di luar pesantren. “Kami juga berharap, pengalaman mengajar di sekolah umum ini dapat menjadi bekal ketika sudah kembali di rumah nanti,” imbuhnya.

Di tempat lain, pengurus LIM berharap santri Lirboyo yang bertugas ini bisa ikut membantu para pendidik untuk memperbaiki akhlakul karimah dari anak-anak penerus bangsa yang berpendidikan di luar pesantren. Semoga berhasil dan sukses selalu untuk santri Lirboyo Kota Kediri dalam mewujudkan semboyan mereka, “dari Lirboyo untuk umat dan bangsa.”|

Ramadan Tiba, Santri Lirboyo Turun Gunung ke SMA

LirboyoNet, Kediri—Untuk menyukseskan agenda Pesantren Ramadlan (PESRA), Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) Pondok Pesantren Lirboyo mengadakan pembekalan bagi para tenaga ajar Jumat malam (26/05) kemarin.

Untuk diketahui, PESRA adalah program dakwah LIM yang berorientasi pendidikan formal. Dengan PESRA, para santri diberi amanat untuk menularkan ilmu-ilmu agama mereka kepada para siswa sekolah formal, baik di tingkat dasar (SD), maupun menengah (SMP-SMA). Para santri yang terbiasa dengan pola belajar-mengajar ala pesantren, dalam program ini harus berupaya merekonstruksi sejenak metode mereka agar materi ajar mereka dapat diterima dengan baik di ranah formal.

Sebagaimana yang diingatkan oleh Agus M. Aminulloh, medan dakwah yang akan mereka hadapi akan berbeda dengan yang biasa ditemuia sehari-hari di pesantren. “SDM-nya sudah berbeda dengan MHM (Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, tempat belajar mereka sehari-hari -red). Kalian harus jeli dan teliti. Kalau di MHM, siswa nakal disuruh berdiri, selesai. Kalau di sekolahan formal jangan seperti itu. Bisa-bisa kalian ditegur pihak sekolah.”

Yang harus lebih diperhatikan adalah, masih menurut Agus Amin, tujuan utama PESRA adalah menanamkan dasar-dasar agama pada setiap siswa. “Paling tidak, kalian  harus membantu mereka menguasai ilmu dasar agama. Terutama akidah. Akhir-akhir ini kajian akidah sudah semakin urgen untuk diketahui para siswa. Kelompok-kelompok separatis dan radikal sudah banyak menyusup di lembaga-lembaga pendidikan formal,” tekannya.

Pembekalan tenaga PESRA tahun ini diberikan oleh Drs. Saiful Asyhad SH., seorang orator ulung yang sering memberikan penyuluhan dan pelatihan komunikasi dakwah di banyak forum. Namanya telah dikenal mayoritas santri Ponpes Lirboyo. Pasalnya, hampir setiap pekan ia memberikan materi ekstrakurikuler ceramah dan orasi bagi para santri. “Kalian jangan malu-malu saat menyampaikan materi. Harus gagah. Harus berkelas. Jangan malah lembek,” tuturnya. “Jangan lupa, kalian sedang membawa nama Lirboyo. Jawablah ekspektasi dunia pendidikan luar dengan kerja keras dan cerdas,” tutupnya.][

Pemberitahuan Kepada Santri

LirboyoNet, Kediri – Bernomor 043/C/AKS/P2L/II/2017, Pondok Pesantren Lirboyo menerbitkan Surat Pemberitahuan kepada para santri yang berisikan tiga hal. Pertama, seluruh santri yang daerahnya akan melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah pada tanggal 15 Februari 2017, dipersilahkan pulang untuk menggunakan hak pilihnya.

Kedua, diwajibkan memilih pemimpin yang paling bermanfaat bagi Islam Ahlu Sunnah Wal Jama’ah Annahdliyah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketiga, setelah proses pemilihan, diharapkan segera kembali ke pesantren untuk fokus belajar seperti sedia kala.

Surat Pemberitahuan yang ditandatangi oleh Ketua Umum dan Sekretaris Umum Pengurus Pondok Pesantren Lirboyo serta KH. M. Anwar Manshur selaku pengasuh pada 11 Februari 2017 siang kemarin, malam harinya langsung disosialisasikan kepada para santri.[]

Instruksi Menggelar Istighotsah

LirboyoNet, Kediri –  Tertanggal 4 Februari kemarin, Pengurus Pusat HIMASAL mengeluarkan surat instruksi kepada seluruh HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) Wilayah dan Cabang. Surat itu berisi instruksi untuk menggelar istighotsah demi keamanan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam surat yang ditandatangi KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus (Ketua Umum Pengurus Pusat HIMASAL), H. Atho’illah S. Anwar (Sekretaris Umum Pengurus Pusat HIMASAL), dan KH. M. Anwar Manshur (Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo) juga melampirkan naskah istighotsah (Naskah bisa istighotsah bisa dilihat disini).

Mari terus berdoa, semoga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini ke depan semakin lebih baik lagi dalam segala bidang. Amin…

Epistemologi Ushul Fiqih (Bag-3 Habis)

Baca dulu Bagian II

Dasar Pengambilan Ushul Fiqih

Istimdad (dasar pengambilan) ushul fiqih diambil dari beberapa produk keilmuan, diantaranya:

  1. Ilmu bahasa arab (gramatika Arab).

Hal ini dikarenakan sumber hukum yang terbesar adalah Alquran dan Hadis yang semuanya menggunkan bahasa sastra Arab. Dan keduanya sudah jelas tidak akan dipahami maknanya kecuali dengan penguasaan yang memadai dalam didang kelimuan ini.

  1. Ilmu Mustholah Hadits.

Yaitu dengan memahami berbagai karakteristik sebuah Hadis dari berbagi sudut pandang. Hal ini juga akan membantu ketika terjadi kontradiksi  antara beberapa dalil suatu hukum syariat.

  1. Ilmu kalam (logika).

Dalam memahami permasalahan dibutuhkan sebuah penalaran yang memadai dalam menghasilkan kesimpulan objek secar logis. Dengan begitu, peran ilmu kalam sangat urgen dalam konteks seperti ini.

  1. Beberapa hukum syariat.

Yaitu dari sisi mengetahui macam-macam hukum syariat. Karena yang dimaksud disini adalah memberikan keputusan ada dan tidaknya hukum tersebut. Selain itu, perangkat ilmu pendukung tak kalah pentingnya dalam proses pengkajian ilmu ushul fiqih, seperti asbabun nuzul, ulum at-tafsir dan lain-lain.

Perbedaan Ushul Fikih dan Qowaidul Fiqih

Tidak jarang anggapan bahwa ilmu ushul fiqih dan qowaidul fiqih adalah sinonim, mempunyai arti dan maksud yang sama. Padahal dua ilmu tersebut sangat berbeda dalam operasionalnya, walaupun ada persamaan dalam segi pedoman yang global (kully) yang dibawahnya mencakup beberapa bagian (juz’iy) persoalan yang dihukumi. Karena dalam ilmu qowaid al-fiqih hanya mengumpulkan masalah-masalah fiqih yang serupa pada kaidah global (qowaid kulliyyah) yang memuat beberapa permasalahan hukum syariat yang saling memiliki kemiripan.

Tujuan Ilmu Ushul Fiqih

Menurut Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya, Ushul al-Fiqhi al-Islami, beberapa tujuan dan manfaat mempelajari ilmu ushul fiqih adalah sebagai berikut:

  1. Dengan kaidah-kaidah ushul fiqih, seseorang dapat mengetahui dalil-dalil dan metode yang digunakan oleh para mujtahid dalam merumuskan berbagai produk hukum syariat.

Bagaimana para mujtahid dapat menghasilkan begitu banyak rumusan hukum dari Alquan, hadis, ijma, dan qiyas. Karena semua itu tidak akan pernah lepas dari pengetahuan terhadap bangunan dalil-dalil itu sendiri. Baik yang berbentuk ‘am, khos , mujmal, mutlaq, muqoyyad, mubayyan, dhohir, muawwal, hakikat, majaz dan lain-lain.[13]

  1. Menghasilkan kemampuan untuk menggali hukum dari dalilnya. Namun untuk hal ini hanya otoritas sesesorang yang telah mencapai derajat mujtahid. Adapun bagi para muqollid (pengikut mujtahid), ilmu ushul fiqih sebagai sarana untuk mengetahui dan memahami dalil dan metode yang digunakan oleh para mujtahid dalam menggali hukum syariat. Karena dengan mengetahui hal tersebut, seseorang akan lebih memantapkan keyakinannya pada rumusan hukum yang dicetuskan para mujtahid. Secara otomatis, keyakinan dan kemantapan tersebut akan membangkitkan semangatnya untuk mengamalkan syariat agama Islam.
  2. Membantu peran mujtahid dalam mengambil hukum dari sumber-sumbernya. Sudah maklum adanya, nash-nash Alquran dan Hadis sudah final dan tidak akan ada lagi penambahan. Sementara itu, problematika umat semakin kompleks dan beragam. Sesuai dengan maqolah:

وما يتناهى لا يحيط بأحكام غير المتناهي إلا بطريق الإجتهاد

“Sesuatu yang terbatas tidak dapat mencakup hukum-hukum perkara yang tidak ada batasnya kecuali dengan jalan ijtihad”.

  1. Ushul fiqih sebagai mediator untuk mengetahui hukum syariat beserta dalil-dalilnya. Dan mengajak seorang mukallaf untuk memahami dan mengamalkan perintah agama. Senada dengan ini, para ulama ushul fiqih berkata:

فائدة أصول الفقه معرفة أحكام الله تعالى وهي سبب الفوز بالسعادة الدينية والدنيوية

“Faedah ushul fiqih adalah mengetahui hukum-hukum Allah SWT, yang menjadi sebab keberuntungan agama (akhirat) dan keberuntungan dunia”.[14]

waAllahu a’lam bis shawab.

Penulis: Nasikhun Amin,

______________________
[1]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 25. Dar Al-Fikr.

[2]An-nafahat, hal 13, Santri Salaf press.

[3]al-Taqrir wa al-Tahbir,juz 1 hal 17.tt.

[4]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 29. Dar Al-Fikr.

[5]Ibid, hal 25.

[6]Syarh Jam’u al-Jawami’, juz 1 hal. 34. Tt.

[7]Ghoyah al-Wushul, hal 9, Mabadi’ sejahtera.

[8]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 33. Dar Al-Fikr.

[9] Materi seminar kuliah ushul Fiqih LBM P2L.

[10]Syarh Kawakib as-Sathi’, juz 1 hal 10. Tt.

[11]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 35. Dar Al-Fikr.

[12]Ghoyah al-Wushul, hal  11, Mabadi’ sejahtera.

[13]An-nafahat, hal 3. Santri salaf press.

[14]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 40. Dar Al-Fikr.