All posts by Nasikhun Amin

Peran Kurban dalam Dimensi Kehidupan

Dulu,  pada masa Jahiliyyah, orang-orang kafir Mekah memiliki banyak kebiasaan atau adat istiadat yang sangat aneh. Salah satunya adalah sebuah ritual menyembelih binatang tertentu untuk dijadikan atas nama ‘kurban’ dan diserahkan sebagai bentuk persembahan kepada berhala-berhala yang ada di sekeliling Ka’bah. Selesai menyembelih binatang yang dijadikan kurban, kemudian mereka memotong-motong daging dan melumurkan darahnya pada dinding-dinding Ka’bah dan di sekelilingnya. Dengan ritual tersebut, orang-orang Jahiliyyah mengharapkan keselamatan dan terhindar dari segala bentuk marabahaya.

Namun, setelah datangnya ajaran Islam serta disyariatkannya Udhiyyah (kurban) pada tahun kedua Hijriyyah, ritual kemusryrikan orang-orang kafir Mekah yang merupakan adat-istiadat Jahiliyyah tersebut diarahkan menjadi ibadah yang sangat bermanfaat dan lebih baik. Karena pada mulanya, ritula kurban orang-orang Jahiliyyah tersebut hanya membuang-buang harta dan mengotori masjidil haram. Sehingga kedatangan syariat Islam benar-benar telah merubah adat istiadat tersebut menjadi ibadah yang bernilai pahala sebagai bentuk pendekatan terhadap Allah Swt.

Udhiyyah (Kurban) dalam syariat Islam diartikan sebagai suatu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri pada Allah SWT dengan menyembelih hewan tertentu pada yaumun nahr dan ayyamit tasyriq (tanggal 10,11,12,13 dzulhijjah). Salah satu dalil legalitas ibadah kurban adalah firman Allah Swt:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka sholatlah kamu (sholat idul adha) dan sembelihlah (kurban)” (QS: Al-Kautsar 02).

Dan sabda Nabi Muhammad Saw:

اُمِرْتُ بِالنَّحْرِوَهُوَ سُنَّةٌ لَكُمْ

Aku diperintahkan untuk menyembelih Kurban, dan hal itu sunnah bagi kalian”.[1]

Dari berbagai dalil legalitas hukum ibadah Kurban yang ada. Tersirat berbagai hikmah dan faidah yang terkandung dibalik pensyariatan ibadah Kurban tersebut. Setidaknya, ada beberapa dimensi atau tinjauan penting dalam ibadah yang menjadi syi’ar besar agama Islam ini. Diantaranya adalah:

Dimensi Spiritual

Seseorang yang melaksanakan ibadah Kurban berarti telah melaksanakan anjuran yang telah tercantum di dalam Alqur’an dan Hadis. Karena sejatinya, setiap umat islam yang melaksanakan ibadah Kurban hanya memiliki tujuan untuk mendekatkan diri pada Allah Swt serta mengharapkan ridho dan ampunanNya. Serta tercakup sebuah awal pembiasaan diri untuk bersikap ikhlas dalam melaksanakan amal ibadah kepada Allah Swt.[2]

Sehingga tidak heran betapa besarnya pahala dan balasan yang telah Allah Swt janjikan bagi mereka yang melaksanakan ibadah Kurban tersebut. Salah satunya dijelaskan oleh Rasulullah Saw dalam hadisnya, “Tiada amal ibadah manusia pada hari Nahr (hari menyembelih Kurban) yang lebih disenangi oleh Allah Swt kecuali mengalirkan darah (menyembelih binatang Kurban). Sesungguhnya hewan Kurban datang pada hari kiamat dengan tanduknya, bulunya, dan kuku kakinya. Dan sesungguhnya darah binatang kurban akan jatuh (ke dalam tempat diterimanya amal) oleh Allah sebelum darah tersebut jatuh ke bumi” (HR. At-Turmudzi).

Dimensi Sosial

Ibadah Kurban tergolong ibadah yang Ghoiru Mahdhoh, dengan artian bahwa ibadah tersebut tidak hanya menitikberatkan pada hubungan seorang hamba kepada Tuhannya, melainkan juga mempertimbangkan hubungan antara hamba tersebut dengan masyarakat di sekitarnya. Dengan begitu, selain memberi manfaat sebagai sarana mendekatkan diri pada Allah Swt, ibadah Kurban juga memberi manfaat pada sesama umat Islam terutama terhadap golongan fakir miskin serta dapat membantu kebutuhan kaum yang lemah (dhuafa’).[3]

Dengan melihat dialektika tersebut, tidak terasa aneh lagi bahwa dalam Fiqih mengenai pembahasan tentang pendistribusian daging Kurban dirumuskan dalam beberapa pemilahan. Pemilahan tersebut mencakup pendistribusian bagi orang-orang yang termasuk kategori kaya hanya sebatas ith’am (konsumsi) saja. Namun untuk golongan fakir miskin lebih leluasa baik dalam hal menjual atau mengkonsumsi ataupun yang lainnya, karna pemberian pada kelompok ini berstatus tamlik (pemberian hak milik).[4]

Dimensi Historis

Sudah diketahui bahwa ibadah Kurban disyariatkan untuk mengingatkan kepada umat Islam akan peristiwa agung nabi Ibrohim As yang mendapat perintah dari Allah Swt lewat sebuah mimpi untuk menyembelih putranya yaitu nabi Ismail As sebagai tebusan dari nadzar yang pernah beliau ucapkan.[5] Dan dari peristiwa ini pula umat islam dapat mengambil hikmah dan uswah (suri tauladan) bagaimana bentuk kepatuhan dan kesetiaan seorang hamba terhadap Tuhannya. Karena kalau bukan didasari atas keimanan dan kesetiaan, sulit rasanya membayangkan nabi Ibrohim As rela memenuhi perintah untuk menyembelih putra yang telah lama diidam-idamkannya. Tugas pengabdian seperti itulah yang diharapkan dapat dimiliki umat islam di tengah kehidupan yang serba individualitas dan materialistis di era globalisasi seperti saat ini.

Dan yang terpenting adalah konsep demokrasi dalam pengambilan keputusan telah ditunjukkan oleh nabi Ibrohim As.  Sebelum menjalankan perintah, beliau terlebih dahulu mengajak dialog dan memberikan kesempatan pada nabi Ismail As untuk memikirkannya secara matang atas perintah tersebut. Meskipun sebenarnya nabi Ibrahim As mempunyai otoritas mutlak dalam mengambil keputusan, namun beliau memilih melakukan pendekatan dialogis dan persuasif agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Walhasil, ibadah Kurban sebagai salah satu syiar agama islam merupakan ibadah yang mengajarkan umat untuk senantiasa mendekatkan diri pada Allah Swt seraya mengikuti jejak historis nabi Ibrohim As dan nabi Ismail As yang menjadi lambang ketaatan dan kesetiaan seorang hamba pada perintah tuhannya serta ibadah yang mampu menarik kekuatan hubungan sosial dengan umat islam yang lain. Dengan mengetahui beberapa aspek dimensi ini pula diharapkan umat islam semakin tekun dan bersemangat dalam menjalankan perintah yang satu ini dan mampu menerapkan dan mengamalkan esensial berbagai dimensi yang ada dalam kehidupan nyata. [] Sekian, Wallahu A’lam.

_______________________

[1] Al-Masalik, juz 5 hal 146.

[2] Hasyiyah Al-Qulyubi, juz 4 hal 251, cet. Al-Haromain.

[3] Mukhtashor Tafsir Ayatil Ahkam, hal 187, cet. MHM Lirboyo.

[4] Fathul Wahhab, juz 2 hal 189, cet. Al-Hidayah.

[5] Dzurrotun Nashihin, hal 136.

Ushul Fikih di Era Modernitas

LirboyoNet, Kediri- Sabtu kemarin (26/08), rutinitas kuliah ushul fikih yang diselenggarakan di aula lantai II gedung baru Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Ponpes Lirboyo kembali digelar. Agenda kajian yang menggunakan kitab Lubbul ushul tersebut merupakan kelanjutan dari program yang digagas oleh Lajnah Bahtsul Masail Ponpes Lirboyo (LBM P2L) sejak tahun. Rutinitas bulanan tersebut cukup menarik antusias santri, baik di tingkat Tsanawiyah, Aliyah, maupun Mutakhorrijin.

KH. Azizi Hasbullah, salah satu alumnus Ponpes Lirboyo yang kini aktif sebagai dewan perumus LBM PBNU Pusat hadir sebagai tutor. Dalam mukaddimahnya, beliau memaparkan akan urgensitas kajian ushul fikih di era globalisasi.

Sistem perubahan dan perkembangan zaman yang semakin maju berbanding lurus dengan munculnya berbagai macam permasalahan baru yang semakin kompleks. Sebuah realita yang tak terbantahkan, bahwa sebagian besar permasalahan baru yang muncul di era kemajuan IPTEK seperti sekarang ini tidak sesuai dengan rumusan ulama salaf yang ada dalam berbagai teks kitab klasik.

Salah satu contoh kecilnya adalah kasus Qabdl (serah-terima) dalam tansaksi akad Mu’amalah. Pada zaman dahulu, praktek nyata dari serah terima dalam berbagai akad mu’amalah mengharuskan pihak yang melakukan transaksi berkumpul di suatu tempat tertentu. Beda halnya dengan sekarang, kecanggihan teknologi yang semakin memudahkan urusan manusia telah merubahnya menjadi model transaksi secara online maupun praktek transfer. Apabila kasus yang berhubungan dengan model transaksi modern tersebut berusaha dijawab menggunakan rumusan ulama yang ada dalam kitab klasik, tentunya akan terjadi perbedaan konteks realita dan hasilnya tidak akan sesuai.

Maka dari itu, kajian metodologis (manhaji) menggunakan teori ushul fikih sebagai media untuk mengetahui pedoman para ulama dahulu dalam menetapkan hukum (al-manhaj fi itsbat al-hukm) sangat diperlukan dalam menjawab tantangan permasalahan global. Karena dengan metode tersebut, rumusan ulama dahulu yang tersebar dalam al-kutub al-mu’tabaroh tidak hanya bersifat dogmatis. Akan tetapi lebih dari itu, yaitu sebuah upaya kontekstualisasi pemikiran dalam menghasilkan produk hukum dengan melihat dan menyesuaikan keadaan dan realita yang terus beubah dan berkembang.

Perlu digaris bawahi, bukan berarti metode ini akan mengatakan bahwa kitab salaf tidak relevan. Namun, metodologi kajian ushul fikih hanya sebatas mengkaji manhaj ulama dalam menghasilkan rumusan produk hukum yang disesuaikan dengan konteks yang dihadapi. Bagaimanapun, semuanya akan tetap berpedoman dengan prinsip yang telah dibangun dan dirumuskan para ulama salaf di dalam al-kutub al-mu’tabaroh.

Setelah sedikit memaparkan urgensitas kajian ushul fikih tersebut. KH. Azizi Hasbullah memulai pembahasan kitab Lubbul Ushul dalam bab al-mutlaq wa al-muqoyyad. Diskusi yang dikemas dengan model seminar ini juga ditutup dengan sesi tanya jawab dari beberapa peserta. Terakhir, beliau juga berpesan hendaknya dalam memahami ushul fikih harus diimbangi dengan pemahaman furu’iyyah fiqih, “Ushul fikih itu hanya sebatas kaidah untuk merumuskan fikih. Namun kalau dalam fikih, tidak hanya terbatas kepada kebutuhan pada ilmu ushul fikih. Namun harus didukung dengan berbagai dalil yang lain,” tegasnya. []

Jasa Qurban Online

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Perkembangan zaman yang semakin maju sedikit banyak telah merubah pola pikir masyarakat untuk lebih mudah dalam segala hal, bahkan dalam urusan ibadah sekalipun. Salah satunya adalah dengan berqurban melalui jasa penerima dan penyalur kurban yang banyak bermunculan saat ini.

Dengan mentransfer sejumlah uang dari salah satu pilihan yang ditawarkan, pihak yang berqurban berarti menyerahkan sepenuhnya urusan yang berkaitan dengan qurbannya. Salah satu contoh adalah untuk satu ekor kambing cukup mentransfer 1,75 juta, dan untuk satu ekor sapi 12,25 juta. Pertanyaan, bagaimana pandangan fikih mengenai praktek jasa penyedia Qurban online tersebut?, terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

____________________

AdminWa’alaikumsalam Wr.Wb.

Praktek jasa qurban online yang beredar sekarang ini merupakan salah satu konsep Wakalah (perwakilan) berqurban. Dengan artian, seseorang yang berqurban (Mudhahhi) telah mewakilkan kepada pihak penerima jasa atas segala urusannya yang berkaitan dengan qurban, mulai dari pembelian, penyembelihan, pendistribusian daging, dan lain sebagainya.

Praktek mewakilkan qurban tersebut dapat dibenarkan dalam kaca mata fiqih. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Diantaranya:

  1. Seseorang yang berqurban diharuskan niat berqurban saat menyerahkan uangnya kepada wakil. Untuk praktek ini, pihak wakil tidak disyaratkan niat lagi. Namun bisa juga dia mewakilkan urusan niat, sehingga yang harus niat hanya dicukupkan kepada wakil.[1]
  1. Sebenarnya, pendistribusian daging qurban hanya ditentukan pada daerah tempat tinggal seseorang yang melakukan qurban. Namun bisa mengikuti pendapat shahih (benar) dalam kitab Kifayah Al-Akhyar yang mengatakan diperbolehkan mendistribusikan daging qurban ke daerah lain.[2]

Kasus ini sebenarnya sangat mirip dengan praktek mewakilkan qurban dengan mentransfer uang dari Indonesia ke Mekah untuk dibelikan hewan qurban di Mekah dan disembelih serta didistribusikan disana. Menurut Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi dalam fatwanya mengatakan bahwa ibadah qurban dengan praktek demikian dihukumi sah. [3]

Referensi:

[1] Hasyiyah Al-Qulyibi, juz 4 hal 254, cet. Al-Haromain.

[2] Kifayah Al-Akhyar, juz 2 hal 704, cet. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.

[3] Hasiyah I’anah At-Thalibin, juz 2 hal 380.

Kajian Tafsir; Tiada Paksaan dalam Beragama

Allah Swt berfirman dalam Alqur’an:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقى لَا انْفِصامَ لَها وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Tidak ada paksaan di dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Barang siapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka dia telah berpegang (teguh) kepada tali yang kuat yang tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 256).

Meskipun ayat tersebut memiliki kaitan yang erat dengan asbabun nuzul(latar belakang penurunan ayat), namun tidak menafikan kontekstualisasi dari esensial ayat itu sendiri. Hal ini senada dengan konsep kaidah Fiqih bahwa yang menjadi pertimbangan dalam hukum adalah keumuman suatu kata (lafadz), bukan karena sebab khusus.[1]

Sekilas, pemahaman atas ayat tersebut menjelaskan bahwa umat Islam tidak diperbolehkan memaksakan seseorang untuk beriman dan masuk agama Islam. Mengapa bisa demikian, bukankah Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menyerukan dan mensyiarkan agama Islam?.

Sebenarnya, dalam  penggalan ayat tersebut Allah Swt secara tegas telah menyampaikan bagaimana sikap Islam terhadap konsep keimanan. Di awal ayat sudah dikatakan bahwa “Tidak ada paksaan dalam (mengikuti) agama (Islam)”. Dalam aspek literatur kebahasaan, kata paksaan (Ikrah) memiliki pengertian memperlakukan orang lain dengan sebuah pekerjaan yang tidak disukai. Sebuah pemaksaan tidak akan dapat dibuktikan secara empiris kecuali dalam bentuk pekerjaan anggota lahiriyyah yang hanya dapat ditangkap oleh panca indra. Sementara keimanan adalah sebuah urusan keyakinan yang wilayahnya ada di dalam hati.  Sehingga dari aspek kebahasaan ini saja sudah menunjukkan bahwa tidak mungkin adanya keimanan yang dihasilkan dari sebuah paksaan.[2]

Pada lanjutan ayat ini juga dipaparkan “Sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar daripada jalan yang sesat”. Artinya, berbagai argumentasi dan bukti-bukti atas kebenaran agama Islam sudah sangat jelas bahwa keimanan adalah sebuah petunjuk yang mengarahkan kepada keselamatan abadi. Begitu juga sebaliknya, sudah sangat jelas bahwa kekufuran merupakan sebuah kesesatan yang mengantarkan kepada kesengsaraan abadi.

Ketika hal tersebut sudah sangat jelas, maka bagi orang yang memiliki akal sehat dan sempurna secara otomatis akan memilih terhadap jalan yang akan mengantarkannya kepada keselamatan abadi, yaitu dengan jalan keimanan. Dengan demikian, tidak diperlukan lagi adanya sebuah paksaan dalam konsep keimanan.[3]

Selanjutnya, walaupun tidak ada paksaan untuk masuk ke dalam agama Islam, bukan berarti pilihan seseorang untuk tidak memeluk agama Islam tidak berkonsekuensi apa-apa. Karena orang yang telah memeluk agama Islam berarti telah memegang teguh pedoman yang kuat. Begitu juga sebaliknya orang yang kufur yang enggan beriman maka dia akan tetap di lembah kesesatan.

Sebagian ahli Tafsir lain menafsiri redaksi “Tidak ada paksaan dalam (mengikuti) agama (Islam)” sebagai bentuk larangan, sehingga sejalan dengan arti “Janganlah kalian memaksa dalam (mengikuti) agama (Islam)”. Karena sebuah keimanan tidak bisa dibangun di atas sebuah paksaan, maka paksaan tersebut sudah tidak bermanfaat lagi. Selain itu, para ulama juga melarang sebuah paksaan dalam keimanan dikarenakan bertendensi bahwa di dunia merupakan wahana ujian atas keimanan setiap manusia. Sehingga adanya paksaan akan meniadakan konsep ujian tersebut, sesuai dengan firman allah Swt:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Dan katakanlah; Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, maka barang siapa yang ingin (beriman) maka hendaklah ia beriman. Dan barang siapa yang ingin (kufur) biarlah dia kafir” (QS. Al-Kahfi: 29).[4]

Dalam ayat laian, Allah swt berfirman:

وَلَوْ شاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعاً أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?,” (QS. Yunus: 99).

Ayat tersebut menjadi sebuah bukti yang tidak dapat terbantahkan dalam ranah keimanan. Disebutkan bahwa keimanan adalah hak mutlak yang menjadi wilayah kehendak Allah Swt. Dan ayat ini juga diklaim menjadi dalil argumentasi  paling kuat dalam mendukung sebuah konsep bahwa tidak ada paksaan dalam urusan keimanan.[5] Dan dari Surat Al-baqarah 256 itu pula akan memunculkan konsep politik Islam untuk mengembangkan sayap dakwah Islam yang ramah, bukan Islam yang mudah marah.[6]

Dalam aktualisasi ayat dalam konteks kekinian, sudah saatnya umat Islam menunjukkan identitas kebenarannya dalam berbagai aspek kehidupan. Semuanya dilakukan dengan tetap berpedoman pada prinsip rahmatan lil ‘alamin, tanpa memaksakan kehendak atas keimanan yang sudah menjadi wilayah ketuhanan. Karena sesungguhnya melakukan intervensi terhadap sebuah perkara yang bukan menjadi wilayahnya tidak akan berguna dan hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka.[] sekian, waAllahu a’lam.

____________________________

[1] Al-Ashbah wa An-Nadhoir, juz 2 hal 134.

[2] Tafsir Al-Mudzohhiri, juz 1 hal 362.

[3] Tafsir Al-Baidhowi, juz 1 hal 154.

[4] Tafsir Ar-Razi, juz 7 hal 13.

[5] Tafsir Az-Zamahsyari, juz 1 hal 303.

[6] Tafsir Al-Manar, juz 3 hal 33.

Aplikasi Penunjuk Arah Kiblat

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Di zaman yang serba mudah seperti saat ini, banyak hal yang membuat urusan hidup semakin mudah, tidak terkecuali dalam ibadah sekalipun. Dan sekarang, banyak dijumpai berbagai aplikasi yang membantu umat muslim dalam berbagai hal, salah satunya adalah aplikasi penunjuk arah kiblat yang mudah didownload melalui smartphone.

Bagaimana hukum menjadikan aplikasi penunjuk arah kiblat tersebut sebagai acuan dalam menentukan kiblat saat salat? Dan apakah dicukupkan hanya dengan menghadap ke arah barat bagi orang Indonesia?, Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

______________________________

AdminWa’alaikumsalam Wr. Wb. Sudah menjadi keharusan bagi seseorang yang akan melaksanakan salat (terutama salat fardu) untuk menyempurnakan syarat-syarat sebelum melaksanakannya. Salah satu dari beberapa syarat tersebut adalah menghadap kiblat (Ka’bah di kota Mekah). Legalitas syarat tersebut bertendensi pada firman Allah Swt dalam Alqur’an:

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Dan hadapkanlah wajahmu ke Masjidil Haram,” (QS. Al-Baqoroh: 144).

Yang dimaksud wajah dalam ayat tersebut hanyalah sebatas kata Majaz, dengan artian bahwa yang menjadi pertimbangan penting dalam menghadap kiblat adalah posisi dada seseorang yang salat.

Pada hakikatnya, metode dalam hal menghadap kiblat bagi orang yang akan melaksanakan salat sudah dianggap cukup dengan berpedoman dari salah satu dari 4 cara, yaitu mengetahui secara yakin, kabar dari seseorang yang dipercaya, ijtihad (menghasilkan prasangka), dan mengikuti seorang mujtahid.[1]

Adapun aplikasi pencari arah kiblat dalam operasionalnya berusaha untuk menunjukkan arah kiblat seakurat mungkin dengan mengupdate data lokasi seluler yang mengaksesnya, baik ketinggian tempat, posisi garis lintang, garis bujur, dan lain sebagainya. Karena praktek dengan metode tersebut juga memandang validitas dan kemungkinan kecil untuk terjadi kesalahan, maka aplikasi penunjuk arah kiblat yang beredar sekarang sudah dianggap mencukupi sebagai acuan dalam menentukan arah kiblat.[2]

Apabila muncul lagi sebuah persoalan, apakah seorang dalam menghadap kiblat harus tepat persis terhadap bangunan Ka’bah atau dicukupkan dengan arah dimana kiblat tersebut berada?. Maka dalam masalah ini terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama (khilaf).

Menurut madzhab Syafi’i, pendapat yang unggul mengatakan bahwa seseorang harus secara tepat menghadap terhadap bangunan Ka’bah. Apabila posisi orang yang salat dekat dengan Ka’bah maka harus berdasarkan keyakinan, dan apabila posisinya jauh maka dicukupkan sebatas prasangka (dzon) saja.

Namun dalam lingkup internal madzhab Syafi’iyyah sendiri masih ada pendapat yang mengatakan bahwa seseorang yang salat dicukupkan menghadap arah dimana ka’bah tersebut berada, misalkan orang Indonesia menghadap ke arah barat.[3] Pendapat ini didukung oleh Al-Ghozali, al-Mahalli, Ibnu Kajin, dan Abi Usrun. Menururt Imam Al-Adzro’i, pendapat ini buka berarti tanpa alasan. Karena menimbang ukuran bangunan ka’bah yang sangat kecil, dan sudah dipastikan mustahil bagi seluruh penduduk dunia untuk menghadapnya secara tepat.[4] Dengan alasan inilah beberapa ulama tersebut mengatakan cukup dengan sekedar menghadap arah kiblat.[] waAllahu a’lam.

Referensi:

[1] Al-Bajuri, juz 1 hal 142, cet. Al-Haromain.

[2] Hasyiyah Al-Qulyubi, juz 1 hal 155, cet. Dar Al-Fikr.

[3] Bujairomi ‘Ala Al-Khotib, juz 2 hal 119, cet. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.

[4] Bughyah Al-Mustarsyidin, hal 78.