All posts by Nasikhun Amin

Islam dan Spirit Kemerdekaan

فَإِذَا عَرَفْتَ السَّبَبَ تَعَيَّنَ الْمُرَادُ

“Ketika engkau tahu latar belakangnya, maka jelaslah sesuatu yang dimaksud di dalamnya” (Pepatah Arab).

Di Indonesia, peringatan proklamasi kemerdekaan yang jatuh setiap tanggal 17 agustus dirayakan dengan berbagai macam bentuk perayaan, mulai dari upacara pengibaran sang saka merah putih, menyanyikan lagu kebangsaan, berbagai event perlombaan atau yang lain sebagainya.  Masyarakat merayakannya sebagai bentuk pengaplikasian ucapan rasa syukur atas nikmat besar tersebut. Berbagai perayaanpun digelar, mulai dari lingkup yang terkecil di tingkat desa hingga merambah sampai tingkat nasional di Istana Merdeka, Jakarta. Bahkan sebagian kalangan begitu antusias merayakan agenda tahunan bangsa tersebut.

Namun sangat ironis, ketika dibalik semua euforia itu mereka acuh tak acuh atas filosofi dan spirit kemerdekaan yang sebenarnya. Lebih dalam lagi, dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia merupakan salah satu kesempatan untuk mengingatkan kembali spirit perjuangan para Founding Father’s dalam memperjuangkan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan selama berabad-abad lamanya. Sehingga momentum berharga tersebut tidak hanya sebatas simbolis tahunan belaka yang hanya lewat seperti angin lalu. Namun lebih dari itu, dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia benar-benar dimanfaatkan sebagai ajang untuk intropeksi diri (Muhasabah An-Nafs) dan memacu semangat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik dari sebelumnya.

Secara ringkas, ada beberapa hal yang menjadi poin penting dalam menumbuhkan spirit membangun kemerdekaan dalam mengisi dan melanjutkan estafet peradaban bangsa Indonesia, diantaranya adalah:

Semangat Bela Negara

 “Cinta tanah air adalah sebagian dari iman”, merupakan salah satu jargon monumental yang dikemukakan oleh Hadlrotus Syaikh KH. Hasyim As’ari dalam membakar semangat bela negara dan nasionalisme kebangsaan. Meskipun penggalan kalimat singkat tersebut bukan termasuk hadis, namun secara esensial tidak jauh beda dengan hadis Rasulullah Saw yang menjelaskan tentang ungkapan kecintaannya terhadap kota suci Makkah. Sebagimana penuturan dari sahabat Ibnu Abbas Ra yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Hibban Ra:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ

Dari sahabat Ibnu Abbas berkata, Rasulullah Saw bersabda; Alangkah baiknya engkau sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kauku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di selainmu,” (HR. Ibnu Hibban).[1]

Dengan penerapannya yang disesuaikan dengan konteks kebutuhan saat ini, semangat bela negara dapat mengakhiri episode berdarah umat manusia dan menciptakan dialog kehidupan yang rukun dan damai. Bahkan sangat diperlukan untuk memperkuat sendi-sendi kenegaraan dari berbagai paham radikalisme, ekstrimisme, dan semacamnya yang merongrong kebhinnekaan bangsa ini.

Dalam konteks kekinian, aksi nyata dalam semangat bela negara dapat diaplikasikan dengan menjalankan kewajiban sebagai warga negara sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing individu masyarakat. Karena dengan begitu, implementasi nyata semangat bela negara dan nasionalisme tidak hanya terbatas pada perlindungan negara, melainkan menjadi sebuah usaha ketahanan, kekuatan, dan kemajuan di berbagai aspek kehidupan.

Menguatkan Simbiosis Agama dan Negara

Di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali mengatakan:

وَالْمِلْكُ وَالدِّيْنُ تَوْأَمَانِ فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

“Negara dan agama adalah saudara kembar. Agama merupakan dasar, sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh, dan dasar tanpa penjaganya akan hilang”.[2]

Sekilas, statement yang dilontarkan Imam Al-Ghazali tersebut mengarah kepada pemahaman bahwa antara agama dan negara merupakan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan.  Dengan artian, keduanya saling membutuhkan untuk saling memperkokoh antara satu dengan yang lainnya. Dan ternyata hal tersebut dirumuskan demi terciptanya kemaslahatan global dalam porsi dan koridor masing-masing, baik yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan maupun kehidupan kenegaraan.

Rumusan tersebut bukan bertujuan untuk menumbuhkan asumsi terhadap bentuk hegemoni agama atas negara. Namun cenderung dititikberatkan kepada aspek munculnya norma keagamaan ke dalam ruang publik dan tatanan kenegaraan hanya sebagai nilai moral publik atau etika sosial semata.

Sehingga pemahaman terhadap norma-norma keagamaan sudah saatnya disinkronisasikan dengan pemahaman atas kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena bagaimanapun, negara merupakan sebuah kebutuhan yang sangat penting sebegai media yang melindungi pengimplementasian ajaran agama secara riil dalam kehidupan. Maka, sifat bernegara harus didasari sifat beragama. Dengan gambaran bahwa sikap moderat dan inklusif keagamaan ini juga harus tercermin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sinergi Bersama Pemerintah

Sejarah mencatat, tidak sepenuhnya benar jika rentetan berbagai macam konflik kemanusian yang ada di negara ini hanya terbatas terhadap isu kekuasaan. Faktor ketimpangan ekonomi, kesenjangan sosial, dan berbagai penindasan wewenang yang terajut dalam ketidakadilan juga merupakan kenyataan muara konflik yang sulit dipungkiri.

Dengan demikian, perlua adanya formulasi dan inovasi yang dapat membangun dan memajukan kehidupan umat dari ketertinggalan.  Baik kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, budaya dan lain sebagainya. Dan juga harus adanya sosialisasi dan penerapan pemahaman atas formula dan kebijakan yang dianggap lebih maslahat secara merata. Hal tersebut ditujukan demi terciptanya pemikiran nan dinamis dan gerakan yang strategis untuk membangun masyarakat yang maju dan bermoral sebagai pilar kekuatan bangsa.

Dan semuanya tidak akan terwujud tanpa adanya kerjasama dan saling mendukung dengan pihak pemerintah sebagai pemegang wewenang dan kebijakan. Atas dasar itu pula, syariat Islam telah memberi rambu-rambu bagi wewenang dan kebijakan yang harus dijalankan oleh pemerintah. Filosofi tersebut juga sejalan dengan kaidah fiqih:

تَصَرُّفُ الْإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

“Kebijakan pemimpin harus berorientasikan kepada kemaslahatan rakyatnya”. [3]

Kaidah tersebut sangat urgen dalam membentuk konsep kebijakan yang diputuskan dan dijalankan pemerintah. Sehinggala segala tindakan yang dilakukan pemerintah benar-benar memprioritaskan kepentingan umum, bukan atas kepentingan pribadi maupun golongan tertentu.

Dari pemaparan singkat tersebut sudah dapat diambil kesimpulan bahwa Islam sebagai ajaran tidak hanya terbatas pada dimensi doktrinal keagamaan. Namun cakupan Islam yang sebenarnya lebih luas, yakni membangun peradaban masyarakat dengan prinsip kemaslahatan, termasuk menjadikannya sebagai spirit membangun kemerdekaan bangsa Indonesia. Sekian, waAllahu a’lam[]

________________________

[1] Shahih Ibnu Hibban, juz 9 hal 23.

[2] Ihya’ Ulumuddin, juz 1 hal 17, cet. Al-Haromain.

[3] Al-Ashbah wa An-Nadhoir, juz 1 hal 121.

Hukum Shalat Dhuha Berjamaah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Admin yang terhormat, saya mau bertanya seputar fenomena yang terjadi di beberapa pesantren di sekitar tempat tinggal saya. Yaitu praktek shalat sunah Dhuha yang dikerjakan secara berjamaah. Bahkan sebagian pesantren ada yang menjadikan kegiatan tersebut sebagai rutinitas wajib yang harus diikuti oleh seluruh santrinya. Bagaimana fiqih menanggapi hal demikian?, terima kasih atas penjelasannya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Maimun Najib, Pasuruan.

_______________________

AdminWa’alaikumsalam Wr.Wb. Sebelumnya kami ucapkan terimakasih dan apresiasi kepada saudara Maimun Najib karena setidaknya Anda telah mampu bersikap kritis melihat apa yang terjadi di sekitar lingkungan tempat tinggal. Apalagi ini berkaitan dengan hukum agama.

Sebagaimana telah diketahui, bahwa shalat Dhuha merupakan kategori shalat sunah yang tidak dianjurkan untuk dikerjakan secara berjamaah. Artinya, shalat Dhuha lebih baik dikerjakan sendirian (munfarid). Rumusan ulama dalam hal ini berlandaskan pada sebuah hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw melaksanakan shalat Dhuha sendirian. Abdurrahman Bin Abi Laila meriwayatkan:

مَا حَدَّثَنَا أَحَدٌ، أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى غَيْرُ أُمِّ هَانِئٍ فَإِنَّهَا قَالَتْ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ، فَاغْتَسَلَ وَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، فَلَمْ أَرَ صَلاَةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا، غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ

Tidak ada seorangpun selain Ummi Hani’ yang mengabariku bahwa ia melihat Nabi Saw melakukan shalat Dhuha. Dialah yang menceritakan bahwa Nabi Saw pernah masuk rumahnya ketika masa penaklukan kota Mekah. Lalu beliau mandi dan mendirikan shalat delapan rakaat, dan aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat yang lebih ringan daripada itu, kecuali beliau menyempurbakan ruku’ dan sujudnya.”[1]

Meskipun konsep awal mengatakan demikian, pelaksanaan shalat Dhuha yang dikerjakan secara berjamaah tidak serta merta menimbulkan hukum makruh atas jamaah tersebut. Sebab secara umum, shalat-shalat sunah yang tidak dianjurkan untuk dilakukan secara munfarid (tidak berjamaah) tetap boleh dilaksanakan secara berjamaah. Namun dalam konteks ini, praktek yang demikian tetap saja menyelisihi terhadap hal yang lebih utama (khilaful afdhol).[2]

Bahkan, kalau praktek shalat Dhuha yang dilaksanakan secara berjamaah memiliki tujuan yang baik dan dapat dibenarkan menurut syariat justru akan menjadikan nilai pahala dari tujuan tersebut. Salah satu contoh tujuan yang baik yang dibenarkan menurut syariat adalah melaksanakan shalat Dhuha secara berjamaah dalam rangka mendidik dan membiasakan anak kecil atau para santri dalam masa pendidikan agar terbiasa melakukan shalat Dhuha. Dengan catatan, praktek tersebut dapat dibenarkan dan bernilai pahala apabila tidak menimbulkan unsur-unsur yang dilarang, misalkan meninggalkan perkara yang sudah menjadi kewajiban.

Dalam kitab Bugyah Al-Mustarsyidin, Habib Abdur Rahman Al-Masyhur berkata:

(مسألة : ب ك) تُبَاحُ الْجَمَاعَةُ فِيْ نَحْوِالْوِتْرِوَالتَّسْبِيْحِ فَلَا كَرَاهَةَ فِي ذَلِكَ وَلَا ثَوَابَ, نَعَمْ إِنْ قَصَدَ تَعْلِيْمَ الْمُصَلِّيْنِ وَتَحْرِيْضَهُمْ كَانَ لَهُ ثَوَابٌ وَأَيُّ ثَوَابٍ بِالنِّيَّةِ الْحَسَنَةِ فَكَمَا يُبَاحُ الْجَهْرُ فِيْ مَوْضِعِ الْإِسْرَارِ الَّذِيْ هُوَ مَكْرُوْهٌ لِلتَّعْلِيْمِ فَأَوْلَى مَا أَصْلُهُ الِإْبَاحَةُ وَكَمَا يُثَابُ فِي الْمُبَاحَاتِ إِذَا قُصِدَ بِهَا الْقُرْبَةَ كَالتَّقَوِّيِّ بِالْأَكْلِ عَلَى الطَّاعَةِ. هَذَا إِذَا لَمِ يَقْتَرِنْ بِذَلِكَ مَحْذُوْرٌ كَنَحْوِ إِيْذَاءٍ أَوْ إِعْتِقَادِ مَشْرُوْعِيَّةِ الْجَمَاعَةِ وَإِلَّا فَلَا ثَوَابَ بَلْ يُحْرَمُ وَيُمْنَعُ مِنْهَاـ

“Diperbolehkan melaksanakan semacam shalat Witir atau shalat Tasbih secara berjamaah. Maka hal tersebut tidak manjadi makruh dan tidak pula mendapatkan pahala. Namun apabila praktek demikian bertujuan untuk mengajari/mendidik orang-orang yang sholat dan bertujuan memotivasi mereka, maka akan mendapatkan pahala. Dan setiap pahala juga diberikan atas niat atau tujuan yang baik. Misalkan mengeraskan bacaan pada shalat yang seharusnya dibaca secara pelan-pelan dengan tujuan pembelajaran, meskipun hukum asalnya adalah boleh (ibahah). Begitu juga perkara-perkara mubah apabila diniati dengan dengan niat untuk mendekatkan diri pada Allah Swt maka juga mendapatkan pahala, contohnya adalah makan dengan tujuan menghasilkan kekuatan untuk mengerjakan ketaatan. Namun semua itu apabila tidak menimbulkan hal-hal yang dilarang seperti berdampak menyakiti orang lain atau menimbulkan prasangka orang awam bahwa sholat itu harus berjamaah. Apabila menimbulkan hal-hal yang demikian maka tidak mendapatkan pahala, bahkan menjadi haram.”[3]

Kesimpulannya, sholat Dhuha lebih baik dikerjakan sendirian. Namun boleh dikerjakan secara berjamaah, apalagi ketika memiliki tujuan yang baik dan benar, seperti mendidik dan memotivasi. Maka hal tersebut justru bernilai pahala dan sangat dianjurkan dalam syariat.

Sekian, waAllahu A’lam Bis Shawab. []

Refrensi:

[1] Shahih Al-Bukhori, juz 2 hal 58.

[2] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 4 hal 55.

[3] Bugyah Al-Mustarsyidin, hal 67. Cet. Al-Hidayah.

Pilih Mana, Ikut Kiai atau Nabi?

Syariat Islam yang lahir sejak 14 abad lalu telah banyak mengalami serangkaian perjalanan sejarah yang panjang. Putaran waktu yang sudah cukup lama telah menjauhkan syariat Islam dari masa pengawalan syariat secara langsung oleh Rasulullah Saw. Beragam bentuk model penggalian hukum, pertentangan ulama, asimilasi budaya, dan lain sebagainya telah mewarnai dan memperkaya khazanah syariat hingga sampai pada umat Islam di generasi saat ini.

Di balik seluruh khazanah syariat Islam tidak akan pernah terlepas dari para ulama yang bermain di dalamnya. Karena bagi para ulama, eksistensi syariat merupakan tanggung jawab utama yang telah diamanahkan oleh Allah Swt lewat kredibilitas keilmuan yang telah mereka emban. Begitu besar peranan ulama salaf dalam mengawal dan membimbing jalannya syariat sejak dulu hingga saat ini. Karena dalam diri mereka telah mengalir darah amanah kenabian (warotsah al-anbiya’). Rasulullah Saw telah bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

“Ulama adalah pewaris para nabi,” (HR. Turmudzi).

Sebagaimana telah diketahui, tiada derajat yang lebih tinggi di atas derajat kenabian. Dan tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi selain menjadi pewaris derajat tersebut.[1] Rasulullah Saw tidak pernah mewariskan harta benda. Namun yang dimaksud dari redaksi hadis tersebut bahwasanya Rasulullah Saw hanya mewariskan ilmu, amal, dan perjuangan dakwah. Dengan demikian, ulama merupakan satu-satunya golongan yang paling absah berbicara soal keagamaan. karena merekalah yang memegang tongkat estafet perjuangan Rasulullah Saw, baik secara intelektual, maupun moral spiritual. [2]

Sejak zaman Rasulullah Saw, umat Islam telah sepakat untuk menjadikan ulama salaf sebagai acuan dan pedoman dalam memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan syariat Islam secara benar. Hal ini sudah dicontohkan oleh para generasi pendahulu. Para Tabi’in mengikuti jejak para Sahabat Nabi Saw, lalu para pengikut Tabi’in meneruskan langkah dengan mengikuti jejak para Tabi’in. Demikian seterusnya, sehingga pada setiap generasi para ulama pasti mengacu dan merujuk pada orang-orang dari generasi sebelumnya.

Rasulullah Saw bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ؛ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Aku berwasiat kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepadapenguasa kaum muslimin), walaupun (dia) seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barang siapa yang hidup setelahku dia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib bagimu untuk berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud).

Imam Ibnu Al-Qoyyim berkata, “Rasulullah Saw menggabungkan sunnah (ajaran) para khalifah dengan sunnahnya. Dan beliau memerintahkan untuk mengikuti sunnah para khalifah sebagaimana pengikuti sunnahnya. Dalam memerintah akan hal tersebut, beliau sangat bersungguh-sungguh bahkan sampai memerintahkan menggigitnya dengan menggunakan gigi geraham. Dan ini berkaitan dengan yang difatwakan oleh para khalifah meskipun bukan keterangan fatwa langsung dari Rasulullah Saw.” [3]

Menurut olah pemikiran yang logis, betapa baiknya pola pemahaman dan pengamalan syariat Islam dengan cara demikian. Sebab syariat Islam tidak dapat diketahui kecuali dengan dua cara, yaitu  naql (mengambil dan mengikuti dari generasi sebelumnya) ataupun istinbath ( menggali hukum dari sumbernya dengan cara berijtihad).

Inilah pengertian yang secara tidak langsung telah ditunjukkan oleh Sahabat Ibnu Mas’ud Ra melalui perkataannya:

مَنْ كَانَ مُتَّبِعًا فَلْيَتَّبِعْ مَنْ مَضَى

“Barang siapa yang menjadi pengikut (yang baik), maka hendaklah mengikuti (para ulama) generasi sebelumnya”.[4]

Jika pendapat-pendapat para ulama salaf telah menjadi sebuah keniscayaan untuk dijadikan sebagai pedoman, maka pendapat tersebut haruslah diriwayatkan dengan sanad (mata rantai) keilmuan yang jelas ataupun ditulis di dalam kitab-kitab yang masyhur dan mu’tabarah di kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Bahkan melihat kondisi global saat ini, mengharuskan metode taqlid manhaji (mengikuti dalam hal metodologis) dalam Istinbath al-Ahkam (penggalian hukum dari sumbernya yaitu Alquran dan Hadis) harus tetap mengetahui koridor madzhab-madzhab ulama generasi sebelumnya. Hal ini ditujukan agar rumusan hukum yang dihasilkan tidak menyalahi hasil konsensus mereka (mukholif lil ijma’).  Sehingga segala bentuk bid’ah, kesesatan, dan perpecahan dapat dihindari. Karena semua itu berawal dari model pemahaman yang menyelisihi pemahaman para ulama salaf.

Yang perlu digarisbawahi, mengikuti ulama salaf bukan berarti mengedepankan fanatisme golongan dalam beragama. Karena setiap individual para ulama yang merupakan manusia biasa tidak akan pernah lepas dari kesalahan (ghairu ma’shum). Namun jika para ulama salaf telah sepakat menghasilkan konsensus dalam suatu permasalahan agama, maka hasilnya sudah dapat dipastikan benar. Karena Rasulullah Saw telah menjelaskan dalam hadisnya, bahwa umat beliau tidak akan pernah sepakat dalam sebuah kesalahan/kesesatan.

Walhasil, mengikuti manhaj (jalan) para ulama salaf merupakan sebuah keharusan demi terjaganya pemahaman dan pengamalan syariat Islam secara benar. Dengan memegang teguh ajaran salaf, dan menjadikan beliau-beliau panutan dalam segala hal, baik itu budi luhur, ibadah, maupun akidahnya. Mereka sangat berhati-hati semasa hidupnya, kapan dan dimana mereka melangkah, di situlah mereka memegang teguh apa yang telah di wariskan oleh Rasullah Saw.

Allah Swt berfirman dalam Alquran:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha pada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya itulah kemenangan yang besar,” (QS. At-Taubah: 100). Sekian. waAllahu a’lam.[]

 

_____________________________

[1] Mauidzoh Al-Mukminin, juz 1 hal 8, Darul Kutub Al-Islamiyah.

[2] Syarah Riyadus Sholihin, juz 5 hal 433.

[3] I’lam Al-Muwaqqi’in, juz 2 hal 400, Darul Hadits.

[4] Risalah fii Taakkud Al-akhdi bi Madzahib Al-Arba’ah, Karya Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Tekad Meneguhkan Sanad

Salah satu dari sekian banyak keistimewaan yang ada dalam agama Isam adalah terjaganya keorsinilan Alqur’an. Karena hampir sebagian besar dalam pengajaran dan periwayatannya, Alqur’an diajarkan melalui periwayatan yang sambung menyambung sampai Rasulullah SAW. Adapun jaminan atas terjaganya keautentikan tersebut sudah menjadi janji Allah SWT sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Alqur’an;

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

 “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Alqur’an), dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9).

Sangat berbeda dengan kitab-kitab samawi lainnya, contohnya adalah kitab Injil. Dari sejak masa nabi Isa AS, kitab Injil pernah mengalami masa vakum sampai seratus tahun. Dalam jeda waktu yang cukup lama ini sangat besar kemungkinan adanya tindakan distorsi atau tahrif terhadap isi kitab tersebut. Dan hal tersebut ternyata benar adanya, bahkan untuk saat ini segala bentuk perubahan dalam kitab Injil yang ada telah memutuskan status para penganut Injil tidak masuk dalam kategori Ahlul Kitab sebagaimana yang telah disebutkan dalam Alqur’an.[1] Allah SWT sudah berfirman;

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءهُمْ وَإِنَّ فَرِيقاً مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri . Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui,” (QS. Al-Baqoroh; 146).

Demikian juga dalam periwayatan hadis, di dalam menjaga keauntentikan dan kemurniannya, bagi seseorang yang meriwayatkan hadis (Rawi) diharuskan memenuhi berbagai persyaratan yang cukup ketat. Pembebanan syarat tersebut bukan berarti menghalang-halangi dan mempersulit seseorang dalam meriwayatkan hadis, melainkan hal tersebut bertujuan untuk menghindari terjadinya pemalsuan maupun distorsi. Sanad periwayatan ini memiliki peranan penting dalam menyaring adanya pemalsuan hadis yang dinisbatkan pada Rasulullah SAW. Konteks ini sedikit berbeda dengan sanad hadis yang merupakan langkah otentifikasi atas kebenaran sumber perolehan matan atau redaksi sebuah hadis.

Memahami hal demikian, para ulama sangat berhati-hati dalam menyandarkan sebuah hadis terhadap Rasulullah SAW dan meriwayatkannya, sehingga dalam masalah seperti ini muncul istilah hadis Shahih, hadis Hasan, dan hadis Dhoif dan istilah lainnya dalam pembahasan ilmu Mustholah Hadits. Karena Rasulullah SAW pernah mengatakan dalam hadisnya;

مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ فِي النَّارِ

“Barang siapa yang mengatakan suatu perkataan yang tidak pernah aku katakan, maka hendaklah tempatnya di neraka,” (HR. Bukhari).

Sebenarnya, diskursus pembahasan mengenai sanad pernah disinggung dalam Alqur’an;

قُلْ أَرَءَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَرُونِى مَاذَا خَلَقُوا۟ مِنَ ٱلْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ ۖ ٱئْتُونِى بِكِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ هَٰذَآ أَوْ أَثَٰرَةٍ مِّنْ عِلْمٍ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

“Katakanlah! Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah, perlihatkanlah kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat dalam penciptaan langit? Bawalah pada-Ku kitab sebelum Alquran ini atau peninggalan (dengan sanad yang shahih) dai pengetahuan (orang-orang terdahulu) jika kamu adalah orang-orang benar,” (QS. Al-Ahqaf: 4).

Dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi, imam Qurthubi menafsiri kata “au itsarotan min ‘ilmin” dengan suatu pengetahuan yang dikutip dari orang-orang terdahulu dengan sanad yang shahih sampai kepada mereka secara mendengarkan langsung.[2]

Dari sini sudah dapat dipahami, kejelasan sanad dan mata rantai yang sambung menyambung dari generasi ke generasi selanjutnya sangat dibutuhkan dan merupakan upaya yang mendesak demi terjaganya warisan keilmuan dari masa ke masa. Urgensitas sanad dalam menjaga kemurnian agama Islam sudah tidak dapat dipungkiri lagi melihat begitu besar sumbangsih dan peranannya. Abdullah bin Mubarak, salah satu murid Imam Malik RA berkata;

اَلْاِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلَا الْاِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Isnad/sanad adalah bagian dari agama, dan seandainya tidak ada sanad maka seseoarang akan seenaknya mengatakan apa yang ingin dia katakan”.[3]

Sanad Keilmuan

Banyak sederetan ulama yang mengeluarkan pendapat dan statementnya mengenai masalah pentingnya sebuah sanad,  diantaranya adalah Imam Malik bin Anas RA. Beliau pernah berkata;

اِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْا دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamu (ilmumu),”.[4]

Para ulama menjadikan keberadaan sanad sebagai syarat seseorang untuk mengamalkan atau menjadikan sebuah argumentasi terhadap suatu pendapat atau keterangan yang tercantum dalam beberapa redaksi kitab. Karena menurut mereka, sanad keilmuan atau periwayatan tak ubahnya seperti periwayatan sebuah hadis. Karena tujuan utama dari adanya sanad keilmuan atau periwayatan adalah otentifikasi atas kebenaran sumber perolehan dan penjelasan yang didapat dari generasi sebelumnya dan untuk generasi selanjutnya.

Salah satu akibat fatal apabila mengesampingkan permasalahan sanad ini adalah munculnya berbagai aliran yang menyimpang. Apalagi di zaman modern yang serba instant seperti saat ini, banyak orang belajar dari buku terjemahan atau situs internet yang tidak jelas kemudian dia memahami dengan akal pikirannya sendiri, sehingga praktek tersebut akan memunculkan ketidaksesuaian dengan maksud sebenarnya atau terkadang salah faham terhadap makna yang dikandungnya. Jadilah pemahaman tersebut menyesatkan dirinya bahkan orang lain.

Mengantisipasi hal yang demikian, metode pembelajaran yang memiliki sanad atau mata rantai keilmuan yang jelas sudah menjadi sebuah keharusan. Untuk mendapat sanad dalam ranah mata rantai keilmuan dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah mendengarkan secara langsung (As-Sima’i), membaca kitab tersebut dan didengarkan langsung oleh seorang guru (Al-Qira’ah/Talaqqi), izin seorang guru untuk meriwayatkan atau mengajarkan (Al-Ijazah).

Dengan sanad pula, akan memunculkan kesadaran umat Islam akan pentingnya memberikan perhatian lebih terhadap seluruh ajaran Islam dengan menetapkan jalur ketelitian dalam kritik maupun analisis yang belum pernah dikenal sebelumnya. Dengan beegitu, klaim musuh Islam yang selalu membuat keraguan terhadap ajaran Islam dengan sendirinya akan runtuh.

Cukup sudah pengalaman suram yang telah terjadi di masa silam, sudah saatnya umat Islam untuk menyisingkan lengan baju dan benar-benar memperhatikan permasalan sanad yang menjadi ujung tombak dalam menjaga kemurnian syariat tersebut demi terealisasinya pemahaman, pengamalan, dan penyebaran agama Islam secara universal. []. waAllahu A’lam.

____________________________________

[1] Hasyiyah Al-Jamal, juz 4 hal 197, Maktabah Syamilah.

[2] Tafsir Al-Qurthubi, juz 16 hal 182, Maktabah Syamilah.

[3] Diriwayatkan Imam Muslim dalam Muqadimah Shohih Muslim, juz 1 hal 15.

[4] Syarah Muslim Li An-Nawawi, juz 1 hal 84.

Paradigma Dakwah Islamiah

Urgensitas dakwah dalam penyebaran dan perkembangan agama Islam merupakan suatu hal nyata yang tidak dapat terbantahkan. Keberadaan dakwah sebagai ujung tombak eksistensi agama Islam menjadikannya memiliki tempat tersendiri di hati umat Islam. Sebagai salah satu aktivitas yang memegang peran penting dalam Islam, tidak diragukan lagi bahwa diskursus mengenai dakwah banyak ditelaah dan dibahas dalam beberapa literatur klasik maupun kontemporer.

Kata dakwah yang berasal dari literatur bahasa Arab memiliki arti mengajak, mengundang, atau mendorong. Dapat juga dakwah diartikan mengajak ke jalan Allah SWT, yakni agama Islam. Dalam kitab Hidayah al-Mursyidin, Syaikh Ali Mahfudz mendefinisikan dakwah sebagai berikut;

حَثُّ النَّاسِ عَلَى الْخَيْرِ وَالْهُدَى وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ لِيَفُوْزُوْا بِسَعَادَةِ الْعَاجِلِ وَالْأَجِلِ

Upaya mendorong manusia untuk berbuat baik, mengikuti petunjuk, memerintah mengerjakan kebaikan, melarang melakukan kejelekan, agar dia bahagia di dunia dan akhirat”.

Pada saat awal mula penyebaran Islam di Makkah, Rasulullah SAW menjalankan strategi dakwah secara sembunyi-sembunyi dan samar. Hal ini dilakukan melihat kondisi umat Islam yang masih minoritas dan kekuatan Islam yang masih lemah pada saat itu. Berbeda lagi ketika sudah hijrah ke Madinah, disana Beliau mulai mengembangkan sayap dakwah secara terang-terangan dan terbuka. Tentu saja hal ini erat kaitannya dengan atmosfer penduduk Madinah yang telah memberikan sinyal positif atas dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW serta keadaan umat Islam yang sudah memiliki kekuatan yang cukup baik apabila ada ancaman yang datang.

Berkaca dari pengalaman Rasulullah SAW dalam mengembangkan dakwahnya, perkembangan dakwah islamiah di masa-masa selanjutnya terus menunjukkan banyak perubahan sesuai keadaan, situasi dan kondisi sasaran yang dihadapinya. Namun pada dasarnya, semua metode dakwah yang ada memiliki pijakan prinsip dan pijakan hukum yang sama, sebagaimana telah digariskan oleh Allah SWT dalam Alqur’an;
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan hikmah kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia lah yang lebih mengetahui akan orang yang sesat dari jalannya, dan Dia jua yang lebih mengetahui akan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125).

Secara garis besar, para ulama Ahli Tafsir banyak menafsiri kata “bil hikmati wal mau’idhotil hasanati” dengan arti memberi nasihat secara lembut tanpa menyakiti. Strategi ini ditujukan bagi mereka yang masih belum memiliki pemahaman atas syariat Islam. Lebih lanjut, penafsiran kata “wa jadilhum billati hiya ahsan” ditujukan kepada sasaran dakwah yang termasuk golongan yang membantah dan tidak menerima apa yang disampaikan, sehingga Alqur’an mengajarkan bagaimana etika berdebat secara dingin tanpa terbawa emosi yang justru akan menumbuhkan permusuhan dan pertikaian.[1]

Dari pengertian makna kata sendiri, dakwah telah menunjukkan bagaimana seharusnya hal tersebut dilakukan. Karena pada konteks ini, penerapan kata “mengajak” dalam kehidupan nyata lebih cenderung bagaimana seseorang yang menjadi sasaran tersebut menerima dengan apa yang ditawarkan. Apabila lebih mengutamkan cara yang bersifat memaksa, justru hal itu akan membuat seseorang tersebut enggan untuk menerima apa yang ditawarkan kepadanya. Bukankah dakwah itu mengajak, bukan menyepak? Bukankah dakwah itu merangkul, bukan memukul?.

Interpretasi Dakwah di Nusantara

Pluralitas penduduk pribumi merupakan realita yang perlu disadari. Oleh karena itu, mulai awal kedatangannya, dakwah islamiah di Indonesia yang mengusung jargon Islam rahmatan lil ‘alamin lebih mengedepankan cara hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan yang ada. Atas dasar itu pula dakwah yang dilaksanakan oleh para penyebar Islam di tanah air lebih mudah di terima oleh penduduk pribumi.

Pada masa awal masuknya Islam di nusantara, sebagian besar dari para penyebar agama Islam yang dilakukan oleh para pedagang Islam dari Timur Tengah lebih memilih melakukan pembauran dan asimilasi syariat Islam dengan budaya dan kearifan lokal setempat. Mereka tidak serta merta menolak bahkan menghapus berbagai adat istiadat yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Melainkan mengarahkannya pada cara yang lebih baik dan diwarnai dengan berbagai praktek yang lebih sesuai dengan syariat Islam. Strategi ini terbukti berhasil bahwa model dakwah dengan akulturasi budaya sangat cocok dan diterima pada saat itu.

Seiring berjalannya waktu, transformasi sosial masyarakat yang semakin menunjukkan banyak perkembangan sedikit banyak juga telah mempengaruhi aktivitas dakwah yang dilakukan oleh para ulama di nusantara. Kemajuan di bidang teknologi, sosial, budaya dan tingkat pendidikan masayarakat menuntut adanya pembaruan inovasi dan solusi agar produk dakwah yang disampaikan akan tetap diterima sesuai kebutuhan yang disesuaikan dengan kondisi yang terus diperbarui. Sehingga bukan suatu hal aneh lagi bila dakwah juga mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan keadaan sosial yang berkembangsesuai masanya (up to date).

Kejelian dan kepekaan pelaku dakwah dalam mengahadapi sasaran dan medan dakwah sangat diperlukan. Hal ini ditujukan agar mampu memenuhi kebutuhan sasaran dakwah, terlebih lagi melihat medan dan kondisi masyarakat nusantara di era globalisasi saat ini. Sehingga efektivitas dakwah akan membawa hasil dan dampak yang berupa peningkatan keberagamaan dengan berbagai cakupannya yang sangat luas. Selain pendekatan pemenuhan kebutuhan, bagi pelaku dakwah hendaknya menggunakan pendekatan pastisipatif yang menghendaki sasaran dakwah dilibatkan dalam proses perencanaan dakwah.

Menurut KH. MA. Sahal Mahfudz, dakwah islamiah dituntut untuk bisa meletakkan Islam pada porsi pendamai dan pemberi makna terhadap kontradiksi atau konflik dalam kehidupan.[2] Disini dakwah secara konseptual harus merumuskan keseimbangan-keseimbangan yang Implementatif yang menjadikan ajaran Islam sebagai alternatif solusi pengembangan sumber daya manusia seutuhnya. Sehingga, perubahan sosial masayarakat yang lebih baik sebagai bukti empiris dari buah dakwah dapat dirasakan.

Dengan pemahaman totalitas atas situasi dan kondisi sasaran dakwah yang ada, serta pengamalan metode yang sesuai, diharapkan dakwah islamiah akan semakin menunjukkan kemajuan dari masa ke masa.  Dengan demikian, eksistensi ruh keislaman yang selalu menjiwai masyarakat  akan tetap terjaga dan semakin kuat dalam mengiringi tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Allah SWT berfirman;

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa,” (QS. An-Nur: 55). []. waAllahu a’lam.

___________________________

[1] Tafsir Al-Baghowi, juz 3 hal 103.

[2] Nuansa Fiqh Sosial, hal 122, LkiS.