All posts by Nasikhun Amin

Haul dan Haflah Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiaat

LirboyoNet, Kediri- Haul dan Haflah Akhirussanah Pondok dan Madrasah Putri Hidayatul Mubtadiaat yang dilaksanakan pada Kamis (27/04) berlangsung khidmat. Segenap dzurriyyah, dewan pengajar MPHM, wali murid, dan seluruh santri Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiaat tampak memadati Aula Al-Muktamar sebagai tempat terselenggaranya acara.

Acara yang menjadi agenda rutinan setiap akhir tahun pelajaran tersebut diawali dengan sambutan-sambutan. Salah satunya adalah sambutan dari perwakilan wali santri yang dibawakan oleh KH. Abdullah Ubab Maimoen dari Sarang, Rembang Jawa Tengah.

Dalam sambutannya, beliau berkali-kali mengucapkan terima kasih terhadap Masyayih dan dewan pengajar yang telah berjasa besar dalam menjaga dan membimbing para santri P3HM. Dan beliau juga memohon doa agar ilmu yang diperoleh para santri tersebut dijadikan ilmu yang bermanfaat dan barokah. “Mugi-mugi santri ingkang belajar teng mriki keparingan hasil lan manfaat ilmune. (Mudah-mudahan santri yang belajar di sini diberikan keberhasilan dan ilmu yang bermanfaat),” ungkap beliau di akhir sambutannya.

Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf dari Pasuruan diundang untuk memberikan mauidzotul hasanah. Dalam ceramahnya, beliau mejelaskan secara terperinci tentang mahabbah atau rasa cinta terhadap guru. Karena dengan demikian, akan muncul sebuah ikatan ruhaniyyah antara seorang murid dengan gurunya, yang mana hal tersebut merupakan kunci utama keberhasilan belajar dan kemanfaatan ilmu yang diperoleh seorang santri. “Carilah rido guru dengan sungguh-sungguh, karena hal itu adalah wasilah (perantara) keberhasilan,” imbuh beliau.

Selanjutnya, KH. M. Anwar Manshur sebagai khodim Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiaat melantunkan doa penutup yang menjadi penanta berakhirnya seluruh rangkaian acara pada malam tersebut. []

Revitalisasi Peristiwa Isra’ dan Mi’raj

Dalam kitab Tafsir At-Thobari, peristiwa Isra’ dan Mi’raj diartikan sebagai peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Haram di Mekah menuju Masjid Al-Aqsha di Baitul Muqoddas (Jerusalem), lalu dilanjutkan dengan perjalanan dari Qubbah As-Sakhrah menuju Sidratul Muntaha (akhir penggapaian).[1] Kronologi tersebut sebenarnya sudah ditegaskan oleh Allah SWT dalam Alqur’an:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya pada suatu (potongan) malam dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Al-Isro’: 1).

Mengenai kapan peristiwa tersebut terjadi masih diperselisihkan para ulama. Ada yang mengatakan peristiwa tersebut terjadi di tahun kesepuluh dari masa kenabian.[2] Namun dalam kitab Al-Thobaqot Al-Kubro karya Ibnu Sa’d dikatakan, bahwa peristiwa ini terjadi diantara 18 bulan sebelum Rasulullah SAW mendapatkan perintah untuk melakukan hijrah ke kota Yatsrib (Madinah).

Menurut catatan sejarah, Isra’ dan Mi’raj adalah salah satu peristiwa paling bersejarah bagi umat Islam. Peristiwa tersebut menunjukkan betapa Maha Kuasanya Allah SWT. Bagaimana seorang hamba yakni Nabi Muhammad SAW bersama ruh dan jasadnya menempuh jarak jutaan kilometer hanya dalam satu malam saja.

Sebuah hadis yang cukup panjang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim berkenaan dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengendarai Buraq, sejenis makhluk hidup yang ukuran tubuhnya lebih besar daripada keledai. Dan juga disebutkan bahwa ketika di Masjidil Aqsha, Rasulullah SAW melakukan salat dua rakaat. Setelah itu, datanglah malaikat Jibril membawa sebuah bejana berisi khamar dan bejana lain berisi susu, namun Rasulullah SAW memilih bejana yang berisi susu.

Dan dalam riwayat itu pula kronologi peristiwa Mi’raj Rasulullah SAW ke langit pertama, kedua, dan seterusnya hingga mencapai Sidratul Muntaha (akhir penggapaian), ‘Arsy, dan Mustawa. Di sanalah beliau mendapatkan wahyu dari Allah SWT, dan sejak saat itu pula salat lima waktu diwajibkan bagi seluruh umat Islam. Semula, sholat yang diwajibkan berjumlah 50 rakaat.

Keesokan paginya, ketika Rasulullah SAW menuturkan peristiwa yang beliau alami kepada khalayak penduduk kota Mekah, orang-orang musyrik pun segera menyebarluaskan berita itu kepada teman-teman mereka sambil mengolok-olok Rasulullah SAW.

Karena Rasulullah SAW mengaku datang ke Baitul Muqoddas di Palestina, beberapa orang musyrik menantang beliau untuk menjelaskan semua yang ada di sana. Padahal, ketika mendatangi Baitul Muqoddas pada malam itu, tidak pernak terlintas dalam benak Rasulullah SAW untuk memperhatikan dengan seksama seluruh detail bangunan Baitul Muqoddas, apalagi menghafalkan jumlah pilarnya. Mendapatkan tantangan seperti itu, Allah SWT menampakkan Baitul Muqoddas di hadapan Rasulullah SAW. Beliau pun dapat menjelaskan semua hal tentang Baitul Muqoddas dengan sangat rinci seperti yang diminta orang-orang kafir.

Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda;

لَمَّا كَذَّبَتْنِيْ قُرَيْشٌ قُمْتُ فِي الْحِجْرِ فَجَلَّى اللهُ لِيْ بَيْتَ الْمُقَدَّسِ فَطَفَقْتُ أُخْبِرُهُمْ عَنْ آيَاتِهِ وَأَنَا أَنْظُرُ اِلَيْهِ

“Ketika orang-orang Quraisy menganggap aku berdusta, aku pun berdiri di Hijr, dan Allah menampakkan Baitul Muqoddas padaku, maka aku pun menceritakan kepada mereka semua tanda-tanda bangunan tersebut sembari aku melihat bangunan itu”.[3]

Sementara itu, beberapa orang kafir Quraisy telah mendatangi Abu Bakar As-Shidiq RA untuk menyampaikan hal yang baru dituturkan oleh Rasulullah SAW. Mereka berharap sahabat terdekat Rasulullah SAW ini menganggap peristiwa tersebut merupakan sebuah kebohongan besar. Mereka juga berharap, Abu Bakar As-Shidiq RA tidak akan mempercayai Rasulullah SAW lagi. Ternyat Abu Bakar As-Shidiq RA malah berkata, “Jika memang benar Dia (Muhammad SAW) mengatakan seperti itu aku percaya. Bahkan, jika beliau mengatakan yang lebih jauh (lebih ajaib) dari itu, akau pasti akan tetap mempercayainya,”.[4]

[ads script=”2″ align=”left”]Pada pagi hari setelah peristiwa Mi’raj tersebut malaikat Jibril datang memberitahu kepada Rasulullah SAW tentang tata cara salat beserta waktu pelaksanaannya. Sebelum syariat salat lima waktu ditetapkan, rasulullah SAW biasa melaksanakan salat dua rakaat di pagi hari dan dua rakaat di sore hari, sebagaimana dilakukan nabi Ibrahim AS.[5]

Konteks Situasi dan Kondisi

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang terjadi pada saat-saat Rasulullah SAW mengalami masa-masa kecemasan. Karena beberapa waktu sebelumnya, Rasulullah SAW sangat terpukul dengan meninggalnya dua orang yang menjadi ujung tombak kekuatan beliau dalam mendakwahkan agama Islam, yakni Khadijah RA dan Abu Thalib RA. Sementara tekanan fisik maupun psikis yang terus dilancarkan kafir Quraisy semakin menambahkan kegelisahan beliau, seolah tiada celah dan harapan bagi masa depan agama Islam pada saat itu.

Maka pada malam malam 27 Rajab, seakan menjadi penyejuk di tengah kegersangan yang selama ini menyelimuti beliau. Perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Baitul Muqoddas menjadi langkah untuk menjelajahi napak tilas perjuangan nabi-nabi terdahulu. Begitu pula dengan proses Mi’raj, beliau dapat melihat secara langsung seluruh alam dan singgasana kebesaran di jagad raya. Secara keseluruhan, semua yang dialami pada malam itu telah membantu meredakan kecemasan yang beliau alami selam ini dan meningkatkan kembali gairah dakwah dan tekad yang semakin kuat ke depannya.

Melihat konteks situasi dan kondisi peristiwa Isra’ dan Mi’raj telah memberi pelajaran berharga kepada umat manusia dalam menghadapi sebuah perjuangan. Segala rintangan dan penentangan yang ditemukan akan dapat diselesaikan dengan cara maupun metode yang sudah diketahui oleh Allah SWT. Karena yang terpenting bagi manusia adalah terus berjuang, memperkuat tekad, dan terus konsisten dalam semua keadaan. Firman allah SWT dalam Alqur’an;

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir, (QS. Yusuf: 87). 

Berbuah Syariat Salat

Sudah dimaklumi bersama, Alqur’an sebagai kitab suci agama Islam memuat seluruh ajaran syariat yang ada di dalamnya, tak terkecuali salat. Seperti salah satu firman Allah SWT;

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah :43). Namun tidak sebatas itu, Allah SWT memanggil secara langsung Rasulullah SAW dalam rangkaian peritiwa Isra’ Mi’raj untuk menyampaikan perintah salat kepada umat islam. Karena hikmah yang paling besar dari peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut adalah disyariatkannya salat. Hal ini sangat berbeda dengan disyariatkannya ibadah-ibadah yang lain, yang keseluruhannya sudah dicukupkan melalui malaikat Jibril sebagaimana yang telah ada dalam Alqur’an.

Kualitas keimanan seseorang dapat diketahui dengan komitmennya terhadap pengamalan ajaran Islam, baik yang berhubungan dengan tuhannya maupun yang berhubungan dengan sesama makhluk. Salat merupakan bentuk peribadatan tertinggi seorang muslim, sekaligus merupakan simbol ketaatan totalitas kepada Allah SWT. Karena di dalam salat, terdapat bentuk upaya interaksi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dari sinilah titik terang keberadaan salat sebagai barometer seorang muslim untuk mengukur sebatas mana kekuatan agamanya. Dalam sebuah hadis dijelaskan;

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam, dan tiangnya adalah salat,” (HR. Thurmudzi).

Sebagai tiang agama, maka harus ada makna dan nilai bagi setiap orang Islam dalam melaksanakan salat, sebagaimana uraian Al-Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, yakni;

  • Hudhurul Qolbi (menghadirkan jiwa). Ketika melaksanakan salat diharuskan konsentrasi penuh semata-mata mengahadap Allah SWT dan mengharap ridho-Nya. Segala sesuatu yang bersifat keduniaan harus dilupakan sejenak. Firman Allah SWT dalam Alqur’an;
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ  الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya,” (QS. Al-Ma’un :4-5).

  • Tafahhum, yakni menghayati semua hal yang dikerjakan dalam salat, baik yang berupa bacaan maupun gerakan anggota badan. Karena di dalamnya tersimpan makna pernyataan kesiapan dan kepasrahan kepada allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ

“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku,” (QS. Thaha :14).

  • Ta’dzim, artinya sikap mengagungkan Allah SWT sebagai Dzat yang disembahnya serta adanya kesadaran secara total bahwa manusia merupakan sesuatu yang sangat kecil dan hina di hadapan-Nya.
  • Khouf wa Roja’, yakni rasa takut hanya kepada Allah SWT disertai dengan harapan untuk selalu mendapatkan rahmat dan rido-Nya.
  • Haya’, yaitu rasa malu kepada Allah SWT karena apa yang dipersembahkan kepada-Nya sama sekali belum sebanding dengan rahmat dan karunia yang telah diberikan-Nya kepada manusia.[6]

Dengan mampu menghadirkan makna dan nilai-nilai ibadah yang menjadi “buah tangan” dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, maka diharapkan akan ada hubungan timbal balik antara ibadah ritual salat dengan sesuatu yang ada di dalamnya. Dan pada gilirannya sesuai dengan berjalannya waktu, semuanya akan dapat menghiasi kehidupan pribadi setiap muslim dan akan membias dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.[] waAllahu A’lam.

__________________

[1] Tafsir At-Thobari, juz 17 hal 333.

[2] [2] ‘Umdah Al-Qori’ ‘Ala Shahih Al-Bukhari, juz 17 hal 20.

[3] Shahih Al-Bukhari, juz 5 hal 52.

[4] Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah, hal 108-109, Maktabah Dar As-Salam.

[5] Fath Al-Bari, Juz 1 hal 465.

[6] Ihya’ Ulumuddin, juz 1 hal 162.

Sosialisasi Pelayanan Kesehatan di Ponpes Lirboyo

Lirboyonet, Kediri-  Sebagai agenda rutin dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman akan kesehatan terhadap masyarakat, pihak Rumah Sakit Umum Lirboyo pada Jum’at sore (14/04) menggelar Sosialisasi Pelayanan Kesehatan dan BPJS Kesehatan di Ponpes Lirboyo. Acara yang dilaksanakan di gedung LBM (Lajnah Bahtsul Masail)  ini dihadiri sekitar 80 santri dan beberapa perwakilan pengurus pondok.

Dalam kesempatan kali ini, sebagai pemateri awal, dr. Ava Adenia Rahmi yang merupakan Direktur Utama RSU Lirboyo mensosialisasikan tentang bahaya Campak. Campak merupakan infeksi virus yang ditandai dengan munculnya ruam di sekujur tubuh. Inveksi ini sangat mudah sekali menular dari para penderitanya. Campak lebih sering menimpa balita, tapi pada dasarnya semua orang bisa terinfeksi virus ini. Komplikasi campak pun sangat berbahaya, mulai dari radang telinga, bronkitis, infeksi paru-paru (Pneumonia), dan infeksi otak (Ensefalitis).

“Maka dari itu, selalu menjaga pola hidup sehat dan menjauhi kebiasaan-kebiasaan buruk yang bisa mengurangi daya tahan tubuh merupakan langkah awal agar terhindar dari Campak,” ujar dr. Ava.

Selanjutnya, dr. Rudi sebagai pemateri kedua maju memaparkan materinya tentang BPJS kesehatan. Dalam kesempatan singkat tersebut, dia menjelaskan akan pentingnya program BPJS Kesehatan. BPJS kesehatan adalah program penjaminan kesehatan yang digagas oleh pemerintah untuk memudahkan masyarakat dalam pelayanan administrasi di instansi kesehatan.

“Bagi santri Ponpes Lirboyo yang sudah mengikuti Program BPJS Kesehatan terbantu dengan kemudahan administrasi di RSU Lirboyo,” ujarnya di akhir materi.

Setelah semua materi selesai disampaikan, diadakan sesi tanya jawab yang berkaitan dengan materi yang telah dipaparkan. Dengan sabar, dr. Ava dan dr. Rudi menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan oleh para peserta. Dan acara ditutup oleh bapak Andre Setiawan sebagai perwakilan dari pengurus pondok. []

 

 

Fikih Siwak

Siwak (السواك) atau miswak secara etimologi adalah menggosok atau bisa bermakna alat yang digunakan untuk bersiwak. Adapun Siwak menurut istilah fikih adalah menggunakan alat-alat siwak pada bagian gigi atau di sekitarnya dengat niat tertentu.

Siwak ini termasuk dari sebagian syariat umat sebelum Nabi Muhammad SAW, yaitu syariat Nabi Ibrahim AS seperti yang telah Beliau tegaskan dalam sebuah hadits :

نِعْمَ السِّوَاكِ الزَّيْتُوْنُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ يُطَيِّبُ الْفَمَ وَيُذْهِبُ بِالْحَفْرِهُوَ سِوَاكِيْ وَسِوَاكِ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِيْ… رواه الطبرانيِ

“Sebaik-baiknya alat siwak yaitu kayu Zaitun, berasal dari pohon yang diberkahi, dapat menyegarkan aroma mulut, dan menghilangkan warna kuning pada gigi, ini adalah siwakku dan siwak para nabi sebelumku” (HR. ath-Thobroni).

Yang beliau maksud dalam hadits tersebut adalah zaman Nabi Ibrahim AS. Karena menurut catatan sejarah, Nabi Ibrahim AS lah yang pertama kali menggunakan siwak. Namun sebagian ulama berpendapat bahwa syariat Siwak ini hanya tertentu pada umat Nabi Muhammad SAW. Pendapat tersebut bertendensi bahwa pada masa Nabi Ibrahim AS siwak ini hanya dilakukan oleh beliau, bukan umatnya.[1]

Dalil

Ada beberapa redaksi hadits yang menjadi dasar hukum disyari’atkannya bersiwak, salah satunya adalah:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ .رواه مسلم

“Seandainya aku tidak khawatir memberatkan kaum mukminin, niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap hendak melakukan salat.” (HR. Muslim).

Hukum Bersiwak

  1. Wajib, jika menjadi alternatif terakhir untuk menghilangkan najis, menjadi alternatif terakhir untuk menghilangkan bau mulut tak sedap bagi seseorang yang hendak menghadiri jamaah Salat Jum’at, dan dinadzari.
  2. Sunnah, ini adalah hukum asal dalam bersiwak dalam setiap kondisi.
  3. Makruh, bagi orang yang berpuasa setelah tergelincirnya matahari. Namun menurut Imam al-Nawawi hukumnya tetap sunnah (tidak makruh).

Bagi yang berpuasa, para ulama membedakan hukum bersiwak sebelum dan setelah tergelincirnya matahari. Dikarenakan bau mulut pada saat setelah tergelincirnya matahari, disebabkan oleh kosongnya lambung dari makanan. Dan bau mulut tersebut adalah sisa-sisa ibadah yang tidak patut untuk dihilangkan, sebagaimana darah orang-orang yang mati syahid dalam peperangan[2].

Meskipun terdapat sebuah hadits yang menjelaskan bahwa bersiwak bagi orang yang berpuasa setelah tergelincirnya matahari hukumnya makruh dan hadits lain dengan tegas menyatakan bahwa disunnahkan bersiwak setiap hendak melaksanakan sholat, tidak terkecuali Salat Dhuhur dan Ashar. Maka yang lebih didahulukan adalah hukum makruh bersiwak. Karena mencegah kerusakan dalam hal ini adalah menghilangkan bau mulut itu lebih diutamakan daripada menarik pahala sebagimana dalam konsep kaidah fikih.[3]

  1. Khilaf al-aula, yakni bersiwak menggunakan siwak milik orang lain dengan seizin pemiliknya atas tujuan selain tabarruk (mencari keberkahan). Jika bertujuan tabarruk, maka hukumnya tetap sunnah.
  2. Haram, yakni bersiwak menggunakan siwak orang lain dengan tanpa seizin dari pemiliknya atau tanpa diketahui kerelaannya[4].

Struktur Bersiwak

  1. Mustak, yaitu orang yang bersiwak.
  2. Mustak bih, yaitu alat untuk bersiwak.

Bahwa alat yang dapat digunakan bersiwak ialah setiap benda kasar yang suci dan dapat menghilangkan kerak kuning pada gigi, meskipun sehelai kain, atau jari tangan orang lain yang kasar dan tidak terpotong. Bukan jari milik diri sendiri meskipun kasar, karena anggota badan diri sendiri tidak dianggap sebagai alat bersiwak. Bukan pula jari orang lain yang telah terpotong, karena anggota tubuh yang telah terpotong harus dikuburkan[5]. Dengan memandang syarat-syarat tersebut, hukum bersiwak dengan menggunakan obat kumur dianggap tidak mencukupi.[6]

Adapun alat siwak yang paling utama adalah kayu Arok, karena jenis kayu ini memiliki rasa dan bau yang sedap serta serabut-serabut kecil yang mampu membersihkan cela-cela gigi [7], kemudian dahan pohon kurma, pohon zaitun, pohon yang berbau wangi, dan urutan terakhir ialah semua jenis pohon kayu dan benda lain yang memiliki tekstur yang kasar.

Panjang siwak yang disunnahkan adalah sejengkal dan yang paling pendek berukuran tidak kurang dari 4 jari selain ibu jari (ada pendapat yang mengatakan 12 cm). Dan besar siwak yang ideal adalah tidak lebih besar dari ibu jari dan tidak lebih kecil dari jari kelingking, tidak terlalu lembut dan juga tidak terlalu keras.

  1. Mustak fih, yaitu bagian tubuh yang disiwaki, yakni bagian mulut. Mencakup gigi, langit-langit mulut, dan lidah.
  2. Niat sunnah.

Dalam permasalahan siwak ini, imam ar-Ramli mengharuskan niat dalam bersiwak kecuali jika pelaksanaan siwak tersebut berada dalam tengah-tengah rangkaian ibadah yang lain. Namun menurut imam Barmawi, niat itu hanya sebatas penyempurna ibadah. Sehingga bersiwak tanpa disertai niatpun dianggap sudah menggugurkan kesunnahan siwak.[8]

Tata Cara Bersiwak

Dalam prakteknya, tata cara menggunakan siwak masih terjadi khilaf diantara para ulama. Adapun pendapat yang diklaim sebagai pendapat yang shahih yaitu dengan menjalankan kayu siwak pada gigi secara horizontal (menyamping). Menurut pendapat ini, dimakruhkan bersiwak secara vertikal (keatas-kebawah) karena akan berpotensi mengakibatkan gigi berdarah. Adapun untuk anggota lidah, cara bersiwaknya dengan cara vertikal. Imam al-Haromain dan al-Ghozali mengatakan bahwa cara bersiwak yang utama adalah dengan menjalankan kayu siwak pada gigi, baik secara horizontal maupun vertikal. Namun, para ash-habus syafi’iyyah menentang pendapat tersebut dan berkomentar bahwa pendapat kedua ulama ini telah keluar dari konteks dalil dalam siwak itu sendiri.[9]

Adapun cara bersiwak secara detail sebagai berikut:

  1. Berdoa sebelum bersiwak. Salah satu do’a yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah:
اَللَّهُمَّ طَهِّرْ بِالسِّوَاكِ اَسْنَانِيْ وَقَوِّيْ بِهِ لَثَاتِيْ وَأَفْصِحْ بِهِ لِسَانِيْ

 “Wahai Allah sucikanlah gigi dan mulutku dengan siwak, dan kuatkanlah gusi-gusiku, dan fashihkanlah lidahku”.

Bisa juga dengan doa berikut:[10]

اَللَّهُمَّ بَيِّضْ بِهِ أَسْنَانِيْ وَشَدِّدْ بِهِ لَثَاتِيْ وَثَبِّتْ بِهِ لِهَاتِيْ وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
  1. Memegang siwak dengan tangan kanan atau tangan kiri (ada perbedaan pendapat ulama tentang hal ini) dan meletakkan jari kelingking dan ibu jari di bawah siwak, sedangkan jari manis, jari tengah, dan jari telunjuk diletakkan di atas siwak.
  2. Niat bersiwak.
  3. Bersiwak dimulai dari jajaran gigi atas-tengah, lalu atas-kanan, lalu bawah-kanan, lalu bawah-tengah, lalu atas-tengah, lalu atas-kiri, lalu bawah-kiri. Jadi seperti angka 8 yang ditulis rebah. Baik gigi bagian dalam maupun gigi bagian luar.
  4. Langkah ke-4 di atas dilakukan 3x putaran.[11]

Catatan : menurut syaikh Wahbah Zuhaily dalam kitabnya al-Fiqhu al-Islamy wa Adillatuhu, gosok gigi menggunakan sikat dan pasta gigi hukumnya disamakan dengan bersiwak.[12]

Waktu Disunnahkannya Bersiwak

Sebenarnya melakukan siwak ini disunnahkan pada setiap keadaan, namun ada tiga tempat dimana hukum bersiwak ini lebih dianjurkan (muakkad), yaitu:

  1. Saat berubahnya warna ataupun bau dalam mulut dikarenakan diam dalam waktu yang lama atau perkara lain seperti memakan makanan yang memiliki bau tak sedap.

Hukum ini tetap berlaku meskipun pada seseorang yang tidak memiliki gigi sekalipun.

  1. Ketika bangun dari tidur, meskipun tidak ada perubahan apapun pada mulut. Karena keadaan tersebut telah madzinnah (berpotensi) akan berubahnya keadaan mulut. Hukum ini bertendensi pada perbuatan Nabi yang selalu bersiwak setiap bangun dari tidur.
  2. Ketika hendak mendirikan salat, baik salat fardhu ataupun sunnah. Meskipun salatnya dilakukan secara berulang-ulang. Disamakan dengan hukum salat yaitu thowaf, sujud tilawah, sujud syukur, khutbah Jum’at, membaca Alqur’an dan rangkaian ibadah yang lain.[13]

Hukum bersiwak di tiga tempat tersebut adalah sunnah muakkad. Adapun kesunnahan siwak juga berlaku ketika seseorang hendak tidur, hendak wudlu, membaca kitab hadits, dzikir, belajar ilmu agama, memasuki ka’bah, berkumpul dengan orang lain, ngantuk, lapar, sakaratul maut, saat waktu sahur tiba, akan makan, setelah Salat Witir, hendak bepergian, pulang dari perjalanan, dan ibadah-ibadah yang lain. Apabila seseorang tidak mampu atau merasa keberatan untuk bersiwak di waktu-waktu yang disunnahkan, maka hendaklah ia bersiwak satu kali dalam waktu sehari semalam.[14]

Keutamaan Bersiwak

Banyak sekali keutamaan dan faedah yang tersembunyi dibalik kesunnahan hukum bersiwak. Salah satu referensi menyebutkan, keutamaan-keutamaan bersiwak adalah : 1) Mendapatkan ridha Allah SWT; 2) Menambah kecerdasan akal; 3) Menguatkan Hafalan; 4) Menerangkan mata; 5) Menyehatkan pencernaan makan dan munguatkannya;  6) Menjauhkan musuh; 7) Melipat gandakan pahala; 8) Memperlambat penuaan dini; 9) Mengharumkan bau mulut; 10) Menghilangkan lendir dan warna kekuningan pada gigi; 11) Menguatkan gusi; 12) Melonggarkan tenggorokan; 13) Menambah kefashihan membaca; 14) Memutihkan gigi; 15) Mewariskan kekayaan dan kemudahan; 16) Membersihkan hati. Dan paling utama yaitu, mengingatkan bacaan syahadat disaat sakaratul maut.[15] [] waAllahu A’lam bi ash-shawab.

 _________________________

[1]Hasyiyah Al-Bajuri, juz 1 hal. 42, al-haromain.

[2]Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 1 hal 341,Dar al-Fikr.

[3]Hasyiyah Al-Jamal, juz 1 hal 119-120, Dar al-Fikr.

[4]Al-Taqrirot Al-Sadidah, hal.75-76, Dar al-‘Ulum al-Islamiyyah.

[5]Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 1 hal 348, Dar al-Fikr.

[6]Nihayah Al-Muhtaj, juz 1 hal 179, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah

[7]ibid, hal 95

[8]Hasyiyah Al-Jamal, juz 1 hal 117, Dar al-Fikr.

[9]Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 1 hal 347, Dar al-Fikr.

[10]Al-Bujairomi ‘Ala Al-Khotib, juz 1 hal 123, Dar al-Fikr.

[11]Hasyiyah Al-Bajuri, juz 1 hal. 45, al-haromain.

[12]Al-Fiqhu al-Islamy Wa Adillatuhu. Juz 1 hal 454. Dar al-Fikr.

[13]Hasyiyah Al-Bajuri, juz 1 hal. 45, al-haromain.

[14] Ibid, hal 44.

[15]Bughyah Al-Mustarsyidin, hal 31, Dar al-Fikr.

Lirboyo Mengirim Delegasi di MQK Kota Kediri

LirboyoNet, Kediri- Pemahaman atas warisan literatur salaf (kitab kuning) merupakan sesuatu yang sangat urgen dalam pelestarian khazanah keilmuan Islam. Hal tersebut sangat disadari oleh Kementrian Agama Kota Kediri dengan menggelar seleksi Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK) sebagai wujud nyata dalam menumbuhkan gairah keilmuan santri dalam bidang kecakapan dalam memahami kitab kuning.

Ajang perhelatan Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK) untuk tingkat Kota Kediri resmi digelar pada rabu kemarin (05/04) bertempat di Pondok Pesantren Salafiyyah, kelurahan Bandar Kidul, Kota Kediri.

Kegiatan  tersebut diikuti sebanyak 233 peserta yang berasal dari santri berbagai pesantren yang tersebar di Kota kediri. Dari angka tersebut, mereka digolongkan ke dalam 3 tingkatan (Marhalah) yakni Marhalah Ula, Marhalah Wustho, dan Marhalah ‘Ulya. Adapun materi yang dilombakan disesuaikan dengan masing-masing tingkatan yang mencakup fan Tafsir, Hadits, Balaghoh, Nahwu, Fiqih, Ushul Fiqih, Tarikh, Akhlaq, dan lain-lain.

Menurut Abdul Aziz, kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementrian Agama Kota Kediri, diharapkan dengan adanya acara yang menjadi agenda dalam menyongsong Musabaqah Qiroatil Kutub Nasional (MQKN) yang akan digelar di Rembang, Jawa Tengah beberapa waktu mendatang tersebut menjadi pemacu kesemangatan santri dalam meningkatan pemahaman keagamaan terutama dalam bidang penguasaan kitab kuning, “Musabaqah Qiroatil Kutub (MQK) yang diselenggarakan Kemenag kota Kediri ini diselenggarakan dengan tujuan untuk meningkatkan gairah keilmuan, agar generasi muda lebih semangat lagi dalam mengaji” tegasnya.

Dalam kesempatan ini, Pondok Pesantren Lirboyo mengirimkan sekitar 190 delegasi yang berasal dari utusan Pondok Induk dan seluruh Pondok Unit, baik putra maupun putri di bawah naungan Ponpes Lirboyo. Semuanya akan mengisi seluruh lini perlombaan yang diadakan.

Dan apapun hasilnya nanti, dengan didasari dengan niat yang tulus dan ikhlas maka akan menghasilkan sesuatu yang lebih dari sekedar juara.][