All posts by Nasikhun Amin

Implementasi Metode Pemikiran Aswaja

Sejarah kehidupan yang telah dibangun oleh manusia telah menghasilkan peradaban, kebudayaan, dan tradisi. Tiga hal tersebut merupakan perwujudan karya dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan dan tuntutan kehidupan yang dihadapinya dalam lingkup wilayah tertentu. Suatu bangsa yang membangun kebudayaan serta peradaban akan selalu cocok dan sesuai dengan nilai-nilai tradisi serta prinsip sosial yang dianut. Semuanya akan terus mengalami perubahan, baik kemajuan atau kemunduran, yang mana perubahan tersebut secara dominan ditentukan atas dasar relevansinya dengan kehidupan masyarakat setempat.

Peradaban Islam merupakan peradaban dunia yang dibangun atas dasar nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan. Sejarah mencatat, bahwa dengan modal itu pula peradaban Islam mampu mengalahkan dua kekuatan besar yang dibangun atas dasar kekuatan materi, yakni Persia dan Romawi. Oleh sebab itu, warisan peradaban Islam yang yang berupa nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan tersebut secara konsisten dapat diamalkan dan dikembangkan oleh generasi-generasi berikutnya.

Salah satu faktor penentu perkembangan peradaban Islam adalah golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah atau yang biasa disebut Aswaja, pada mulanya merupakan ajaran yang masih memegang teguh prinsip kemurnian syariat sejak zaman Nabi dan berlanjut ke masa-masa selanjutnya. Fokus utama dalam keaswajaan sering cenderung terhadap masalah akidah dan fikih. Sehingga pemahaman atas Aswaja saat itu masih sempit. Namun perkembangan zaman yang semakin maju telah menyeret paham keaswajaan bukan hanya menjadi sebuah paham doktrinal bagi para penganutnya, akan tetapi sudah berkembang menjadi sebuah pandangan hidup yang dikenal dengan istilah Manhaj Al-Fikr. Dengan begitu, kontribusi keaswajaan semakin merata dalam menjiwai dan mewarnai semua aspek kehidupan.

Metode pemikiran (Manhaj Al-Fikr) Aswaja adalah sebuah metode dan prinsip berfikir dalam mengahadapi berbagai permasalahan keagamaan, sosial kemasyarakatan, dan kebangsaan. Secara garis besar, hal tersebut terbagi dalam 4 prinsip:

Moderat (Tawassuth)

Tawassuth merupakan sebuah sikap tengah atau moderat.  Sikap moderat tersebut berdasarkan firman Allah SWT:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” (QS. Al-Baqarah: 143). Dalam Tafsir Al-Qurthubi, redaksi Wasathon dalam ayat tersebut diartikan dengan sifat adil atau sifat tengah. Penafsiran seperti ini berdasarkan penjelasan langsung dari Rasulullah SAW sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Thurmudzi.[1]

Dalam konteks pemikiran dan amaliyah keagamaan, prinsip moderat yang diusung oleh Aswaja sebagai upaya untuk menghindar dari sikap ekstrem kanan yang berpotensi melahirkan paham fundamentalisme atau radikalisme, dan menghindari  sikap kebebasan golongan kiri yang berpotensi melahirkan liberalisme dalam ajaran agama. Dan dalam konteks berbangsa dan bernegara, pemikiran dan sikap moderat seperti ini sangat urgen dalam menjadikan semangat untuk mengakomodir beragam kepentingan dan perselisihan serta jalan keluar untuk meredamnya.

Berimbang (Tawazun)

Tawazun merupakan sikap berimbang dan harmonis dalam mengintegrasikan serta mensinergikan pertimbangan-pertimbangan untuk mencetuskan sebuah kebijakan dan keputusan. Sikap seperti ini berdasakan firman Allah SWT:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan” (QS. Al-Hadid: 25).

Kalau diaktualisasikan dalam ranah kehidupan, dengan prinsip tersebut Aswaja memandang realitas kehidupan secara substantif. Sehingga menjadikan Aswaja tidak mau terjebak dalam klaim kebenaran dalam dirinya ataupun memaksakan pendapatnya kepada orang lain yang mana hal tersebut merupakan tindakan otoriter dan pada gilirannya akan mengakibatkan perpecahan, pertentangan, maupun konflik.

Netral (Ta’adul)

Ta’adul merupakan sikap adil atau netral dalam melihat, menimbang, menyikapi dan meyelesaikan segala permasalahan. Dengan artian, sikap ini adalah bentuk upaya yang proporsional yang patut dilakukana berdasarkan asas hak dan kewajiban masing-masing. Sesuai firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Maidah: 8).

Kalaupun keadilan menuntut adanya kesamaan dan kesetaraan, hal tersebut hanya berlaku ketika realita individu benar-benar sama secara persis dalam segala sifatnya. Namun, apabila dalam realitanya terjadi keunggulan (tafadhul), maka keadilan menuntut perbedaan dan pengutamaan (tafdhil). Bahkan penyetaraan antara dua hal yang jelas terjadi tafadhul adalah tindakan aniaya yang bertentangan dengan prinsip keadilan itu sendiri.

Toleran (Tasamuh)

Tasamuh merupakan sikap toleran yang bersedia menghargai terhadap segala kenyataan keanekaragaman dan perbedaan, baik perbedaan dalam segi pemikiran, keyakinan, suku, bangsa, agama, tradisi, budaya dan lain sebagainya. Pluralitas dan multikulturalitas merupakan sebuah keniscayaan yang sepatutnya disadari. Kemajemukan  yang melandasi semua aspek kehidupan manusia tentu saja tidak pernah terlepas dari sebuah latar belakang, sebab, maupun tujuan. Dalam Alquran disebutkan:

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256).

Namun soal akidah dan ibadah dalam Islam tidak ada toleransi. Dalam melakukan ibadah tidak boleh dicampur dengan kegiatan yang di luar agama, dan juga tidak boleh dicampur dengan keyakinan yang berasal dari luar agama Islam, tidak boleh bersama-sama dalam melakukan ibadah dengan agama selain Islam. Karena agama Islam menegaskan “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Perlu disadari bahwa betapa penting peranan toleransi antar elemen umat dan masyarakat. Hal tersebut tak lain demi terciptanya kedamaian dan mobilisasi ketahanan suatu negara sebagai wadah dalam membumikan syariat dan manivestasi nyata tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.

Jika dicermati secara intensif, doktrin-doktrin Aswaja sebagai paham dengan metodenya yang komprehensif baik dalam bidang akidah (Iman), syariat (Islam), dan akhlak (Ihsan), dapat diambil sebuah kesimpulan berupa metodologi pemikiran (Manhaj Al-Fikr) yang moderat (tawassuth), berimbang (tawazun), netral (ta’adul), dan toleran (tasamuh). Sehingga pemahaman Aswaja hanya terbatas dalam kajian akidah dan fikih sudah bisa ditepis. Dengan beberapa prinsip itu pula Aswaja sangat mudah diterima dan diterapkan di dalam masyarakat serta ikut berperan dalam memajukan kehidupan yang penuh perdamaian dalam wahana kebangsaan dan kenegaraan bersama tradisi, peradaban, dan kebudayaan lain. []waAllahu A’lam.

 

[1] Tafsir Al-Qurthubi, juz 2 hal 153.

Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban

Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan mulia yang terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Dari beberapa malam di dalamnya, malam Nisfu Sya’ban memiliki keistimewaan tersendiri bagi umat Islam. Pada malam yang bertepatan dengan tanggal 15 Sya’ban tersebut, Allah SWT menetapkan segala keputusan yang berhubungan dengan urusan manusia, baik yang berhubungan dengan kematian, rizki, perbuatan baik maupun buruk. Semua urusan tersebut merupakan ketentuan Allah SWT hingga datangnya bulan Sya’ban di tahun berikutnya.

Allah SWT sudah berfirman dalam Alqur’an;

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,”(QS. Ad-Dukhon: 3-4).

Yang dimaksud ‘malam yang diberkahi’ dalam redaksi ayat tersebut masih terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang berpendapat bahwa malam yang dimaksud adalah malam Lailatul Qodar dan sebagian yang lain berpendapat bahwa malam itu adalah malam Nisfu Sya’ban.

Dalam kitab Tafsir Al-Baghowi, sahabat ‘Ikrimah berkata, “Malam yang diberkahi tersebut adalah malam Nisfu Sya’ban. Pada malam tersebut ditetapkanlah segala urusan untuk masa satu tahun dan orang-orang yang hidup dihapus (daftarnya) dari orang-orang yang meninggal,”. [1]

Mengenai hal tersebut, Rasulullah SAW pernah menyinggung dalam sebuah hadis;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” تُقْطَعُ الآجَالُ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى شَعْبَانَ، حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ يَنْكَحُ وَيُولَدُ لَهُ، وَلَقَدْ خَرَجَ اسْمُهُ فِي الْمَوْتَى

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda; ajal seseorang ditentukan dari bulan Sya’ban ke bulan Sya’ban berikutnya, sehingga ada seseorang bisa menikah dan melahirkan, padahal namanya sudah tercantum dalam daftar orang-orang yang meninggal,”.[2]

Selain kaitannya yang sangat erat dengan proses penentuan segala urusan umat manusia. Malam Nisfu Sya’ban juga berkaitan dengan penutupan catatan amal di tahun tersebut. Segala amal yang diperbuat oleh manusia dilaporkan tanpa terkecuali, baik yang dalam periode harian, mingguan, bahkan tahunan. Laporan harian dilakukan oleh malaikat pada siang dan malam hari. Laporan amal mingguan dilakukan malaikat setiap hari Senin dan Kamis. Adapun periode tahunan dilakukan pada malam Lailatul Qodar dan malam Nisfu Sya’ban.[3]  Rasulullah SAW bersabda;

أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سُئِلَ عَنْ إكْثَارِهِ الصَّوْمَ فِي شَعْبَانَ فَقَالَ: إنَّهُ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Sesungguhnya rasulullah SAW ditanyai ketika Beliau memperbanyak melakukan puasa di bulan Sya’ban. Beliau menjawab; Sesungguhnya bulan sya’ban adalah bulan diangkatnya amal. Maka Aku senang amalku diangkat sementara Aku dalam keadaan berpuasa,”. 

Sebagai salah satu malam yang memiliki peran urgen dalam keberlangsungan umat manusia, Allah SWT juga menjanjikan besarnya ampunan yang diberikan-Nya pada malam itu. Muadz bin Jabal, sahabat Nabi, pernah mengatakan;

يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Allah memperhatikan kepada semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Maka Dia memberi ampunan kepada semua makhluk-Nya, kecuali kepada orang musyrik dan orang yang bermusuhan” (HR. At-Thobroni dan Ibnu Hibban).[4]

Amalan di Malam Nisfu Sya’ban

Dalam rangka menggapai seluruh keutamaan yang ada pada malam Nisfu Sya’ban, banyak sekali dari umat Islam tidak melewatkan kesempatan emas itu dengan menghidupkan malam tersebut melalui berbagai macam akitvitas ibadah kepada Allah SWT.

Adapun yang sering dilakukan masyarakat tradisioanlis adalah dengan cara berkumpul di musholla atau masjid setelah waktu maghrib. Secara berkelompok mereka membaca surat Yasin sebanyak tiga kali dan diiringi dengan doa Nisfu Sya’ban di setiap akhir bacaan surat. Mengenai tata cara masalah ini sudah dijelaskan secara gamblang dalam kitab Kanzunnajah Was Surur. Dan dalam Kitab tersebut dipaparkan, hendaknya bacaan surat Yasin pertama diniati agar diberikan umur panjang, bacaan surat Yasin kedua diniati agar terhindar dari mara bahaya, bacaan surat Yasin ketiga diniati agar tidak memiliki ketergantungan terhadap orang lain.[5]

Adapun salah satu tendensi hukum tradisi tersebut adalah ketika sayyidah ‘Aisyah pada suatu malam kehilangan Rasulullah SAW. Ia pun bergegas mencarinya, ‘Aisyah menemukan suami tercintanya di Baqi’, nama komplek pemakaman bagi para sahabat Nabi dan para pejuang. Di tempat itu, Rasulullah SAW sedang menengadahkan wajahnya ke langit dengan mata sendu, terkadang pula meneteskan air mata. Mengetahui istrinya datang, Rasulullah SAW berkata;

إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يَنْزِلُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ مِنَ الذُّنُوبِ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ

“Apabila tiba malam Nisfu Sya’ban, Tuhan menurunkan (rahmatnya) ke langit dunia. Dan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang jauh lebih banyak dari jumlah bulu domba bani Kalb,” (HR. Turmudzi, Ahmad, dan Ibnu Majah).[6]

Menurut sumber informasi yang lain mengatakan;

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِينَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِينَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ

“Sesungguhnya Allah menampakkan diri pada malam Nisfu Sya’ban, dan mengampuni mereka yang meminta ampun dan menyayangi mereka yang ingin disayang, dan mengacuhkan mereka yang mendengki,”.

Dalam menyikapi salat-salat malam Nisfu Sya’ban para ulama masih berbeda pendapat. Adapun Imam An-Nawawi dalam al-Majmu’ berkomentar bahwa hal tersebut termasuk Bid’ah Qobihah. Namun berbeda lagi dengan Al-Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin dan beberapa ulama lain yang mengatakan hal tersebut justru merupakan sebuah kesunnahan.

Dalam silang pendapat ulama yang mengemuka ini, Al-Kurdi hadir dengan statemennya yang mengatakan bahwa perbedaan pendapat ini dipengaruhi atas dasar penilaian atas status hadis dari sisi sanad dan macam ritual yang disyariatkan pada malam Nisfu Sya’ban tersebut.[7]

Diakui ataupun tidak, selalu saja ada pengingkaran atas tradisi yang sudah menjamur di masyarakat. Namun, dengan menggunakan konsep dalil secara umum saja sudah mampu merobohkan pengingkaran tersebut. Sedangkan, terkait dengan berbagai aktifitas ibadah seperti membaca Alqur’an, salat sunah, istighfar dan semacamnya sudah dijelaskan oleh berbagai redaksi dalil yang masyhur baik itu dari Alqur’an ataupun Hadis. Semuanya berlaku secara mutlak terkecuali pada waktu yang telah ada nash-nash pelarangannya.

Dan pada akhirnya dapat dipahami bahwa kegiatan keagamaan untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dan berbagai kegiatan lain yang bernilai ibadah merupakan perkara yang selaras dengan syariat.[]. waAllahu a’lam.


[1] Tafsir Al-Baghowi, juz 7 hal 228.

[2] Fath Al-Mun’in Syarh Shahih Muslim, juz 5 hal 41.

[3] Hasyiyah Al-Jamal, juz 2 hal 350.

[4] Tuhfah Al-Ahwadzi, juz  3 hal 366.

[5] Kanzunnajah Was Surur, hal 48, Maktabah Dar Al-Hawi.

[6] Faid Al-Qodir, juz 2 hal 316.

[7] I’anah At-Thalibin, juz 1 hal 312, Maktabah Darul Fikr.

Keputusan Bahtsul Masail Kubro ke-6

LirboyoNet, Kediri- Agenda Bahtsul Masail Kubro dan Himasal yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Lirboyo pada Rabu-Kamis 23-24  Jumadal Akhirah 1438 H/ 22-23 Maret 2017 M sudah berakhir. Acara tersebut secara resmi ditutup oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, kemarin (23/03).

Acara yang digelar dalam rangka penutupan seluruh aktivitas kegiatan Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Ponpes Lirboyo dan menyongsong datangnya peringatan Haul dan Haflah Akhirussanah Ponpes Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien tersebut telah menghasilkan beberapa rumusan akhir yang telah didiskusikan dan disepakati oleh peserta musyawarah yang terbagi dalam 3 komisi, yaitu Komisi A & B dengan pola kajian waqi’iyyah (aktual) serta Komisi Himasal dengan pola kajian maudlu’iyyah (tematik).

 

Untuk mendownload hasil keputusannya, klik tautan dibawah ini.

KOMISI A

  1. Menshare Berita Hoax yang Belum Ditabayyun
  2. Dikotomi Al-Quran
  3. Panti Asuhan

KOMISI B

  1. Islam Keras atau Tegas
  2. Dilema Dalam Tradisi Penghormatan
  3. Kejelasan Menanam Tanaman di atas Kuburan dan Mencabutnya
  4. Tawasul Ilegal

Di balik buku “Khazanah Aswaja”

LirboyoNet, Kediri-  Diskursus mengenai ajaran Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah secara komprehensif merupakan bekal penting untuk menjaga eksistensi agama Islam. Langkah tersebut merupakan upaya prefentif yang sangat mendesak mengingat semakin banyaknya berbagai aliran-aliran yang terus berusaha merongrong kemurnian ajaran Islam. Dan kehadiran buku “Khazanah Aswaja” yang ditulis oleh Tim Aswaja NU Center Jawa Timur merupakan salah satu bentuk nyata dalam menjadikan masyarakat untuk memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Pada ahad kemarin (19/3), redaksi LirboyoNet berhasil mewawancarai Ahmad Muntaha AM, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo yang juga salah satu Tim Aswaja NU Center Jawa Timur untuk mendapatkan informasi terkait seminar dan bedah buku “Khazanah ASWAJA” yang diikuti seluruh siswa kelas 2 dan 3 Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Pondok Pesantren Lirboyo.

Sebelum bertanya tentang buku “khazanah Aswaja”, kami ingin menanyakan sekilas tentang Aswaja NU Center?

Secara prinsip, Aswaja NU Center merupakan satuan khusus yang fokus menangani isu-isu keaswajaan. Aswaja Center bukanlah lembaga ataupun n badan otonom di bawah PWNU Jawa Timur. Satuan perangkat pelaksana program ini resmi didirikan bersamaan dengan ulang tahun NU ke 85 pada 31 januari 2011 dengan nama Aswaja NU Center Jatim.

Untuk latar belakang berdirinya,  bahwa dalam organisasi NU banyak sekali aspek yang menjadi fokus penanganan, baik yang berhubungan dengan bahtsul masa’il, dakwah, kepemudaan dan seterusnya. Dengan memandang keadaan demikian serta tuntutan kondisi yang terus mengemuka di masyarakat yang membutuhkan penanganan serius dalam masalah keaswajaan, maka didirikanlah Aswaja NU Center Jatim.

Aswaja NU Center Jatim memiliki misi untuk mengaktualisasikan umat dalam keislaman Aswaja NU, meningkatkan pemahaman, penghayatan, pengalaman (menginternalisasi) Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai perilaku umat dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana perkembangan Aswaja NU Center untuk selain  PWNU Jatim?

Untuk wilayah Jawa Timur sendiri, Aswaja Center sudah merata di seluruh Cabang NU di setiap  kabupaten atau kota.  Untuk luar Jawa Timur, sementara ini baru di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang sudah dibentuk, namun masih berada di bawah kordinasi LDNU (Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama) Pusat. Bahkan di beberapa pesantren juga sudah membentuk satuan yang khusus menangani bidang keaswajaan tersebut.

Mengenai buku “Khazanah Aswaja”, apakah latar belakang penulisan buku tersbut?

Latar belakang penulisan buku tersebut sama persis dengan tujuan berdirinya Aswaja Centre NU, yaitu menjawab berbagai isu-isu yang berhubungan dengan keaswajaan. Sebenarnya,  buku-buku senada sebelumnya juga sudah ada, salah satunya yang berjudul Risalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Namun, karena adanya perkembangan problematika  keaswajaan dan   muncul berbagai pertanyaan dan usulan-usulan baru, maka keluarlah ide untuk menulis buku tersebut.

Diantara beberapa pembahasan baru yang tidak ditemukan dalam buku-buku sebelumnya adalah masalah radikalisme, liberalisme, kebangsaan , aqidah 50, kondisi  Islam pada masa rosulullah SAW  sampai masa Imam al-‘Asy’ari, kemudian pembahasan secara komprehensif mengenai madzhab ‘Asyairoh dan Maturidiyyah yang merupakan representasi dari konsep Ahlus Sunah wal Jama’ah yang sebenarnya.

Karena di  dauroh-dauroh (pelatihan) Aswaja yang diselenggarakan oleh NU baru menjelaskan masalah amaliyah keseharian, dasar-dasar Aswaja, maka buku ini lebih tepatnya dikatakan sebagai pengembang dari berbagai upaya yang telah dilakukan sebelumnya.

Bagaimana respon dan tanggapan masyarakat atas hadirnya buku tersebut?

Mengenai respon atas kehadiran buku tersebut, untuk wilayah Jawa Timur bahkan di tingkat nasional sangat bagus sekali . Hal itu bisa dilihat dari beberapa hal, salah satunya adalah banyaknya minat dan permintaan diselenggarakannya bedah buku “Khazanah Aswaja” di berbagai daerah, pesantren-pesantren, perguruan tinggi, sejumlah PCNU, bahkan di PBNU. Dan yang aneh lagi terjadi di daerah Solo, sebelum dilaunching secara resmi, buku ini sudah dibedah oleh selain tim penulis.

Karena melihat permintaan yang sangat tinggi terhadap buku tersebut, tim penulis sudah melakukan cetak ketiga meskipun masih belum lama diluncurkan secara resmi. Bahkan buku tersebut menjadi referensi dan bekal wajib bagi santri tahap akhir di pesantren-pesantren besar, semisal Pondok Pesantren Lirboyo Kediri dan Pondok Pesantren Al-Yasini Pasuruan.

KH Ma’ruf Amin dalam sambutan buku ini mengatakan, “Kehadiran buku ini menjadi langkah strategis dan secara substantif dapat diserap oleh NU di seluruh level secara nasional, sesuai kondisi dan tantangan yang dihadapi”.

Terakhir, apa harapan dengan adanya Aswaja NU Center dan diterbitkannya buku “Khazanah Aswaja”?

Harapan besar kami, mengingat begitu pentingnya konsep Ahlus Sunnah wal Jama’ah, agar pemahaman tentang Aswaja ini dapat diterima, terus disyiarkan, dan dikembangkan di seluruh lapisan masyarakat khususnya warga Nahdliyyin dan pesantren-pesantren NU. []

 

 

 

Aplikasi Pencari Kiblat Gratis

LirboyoNet, Kediri –Pembelajaran falak, bagi sementara santri, seringkali menjadi semacam hantu. Menakutkan, dan harus dihindari. Tetapi imej itu terbantahkan pada hari Rabu (15/02) lalu, saat Seksi Pramuka Pondok Pesantren Lirboyo mengadakan pelatihan pencarian arah kiblat.

Dilaksanakan di halaman gedung Rusunawa, para santri sangat antusias terhadap pelatihan yang dikenal melulu bersentuhan dengan angka-angka dan rumus rumit ini. Terbukti, mereka yang datang lebih dari seratus orang. Padahal, kegiatan ini hanya diperuntukkan khusus bagi siswa kelas dua dan tiga aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien saja.

Karena begitu banyak santri yang ingin tahu, fokus pelatihan pun dibagi menjadi empat titik. Namun mereka tetap mendapat keistimewaan yang sama, yakni mendapat ilmu yang hanya dibagikan satu kali setahun itu.

Pertama-tama, mereka harus menunggu jam berputar hingga mendekati pukul 16.00 WIs (Waktu Istiwa’). Untuk itu, mereka terlebih dahulu mempersiapkan beberapa hal. Diantaranya busur, tripod dan semacamnya sebagai media utama, dan alat pemberat. Beberapa alat itu kemudian dirangkai sedemikian rupa, sehingga dapat membantu proses pencarian dengan baik. Pada pukul 16.00 tepat, dimulailah penghitungan arah kiblat. Mulanya mereka garis terlebih dahulu bayang-banyang dari alat pemberat, kemudian mereka ukur panjangnya, dan mulai memasukkan angka-angka pada table yang telah tersedia.

Setelahnya, mereka lalu dapat menemukan angka yang menunjukkan arah kiblat sebenarnya dari ponpes Lirboyo.“Mudah. Sangat mudah. Alat-alat yang kita persiapkan juga sederhana. Bisa dari (benda-benda di) sekitar kita,” ungkap Aminuddin, salah satu peserta sore itu. “Ternyata gak susah kok (ilmu falak) ini.Mindset kita saja (yang terlalu takut) yang perlu diubah. Aslinya kita itu bukan kesulitan. Tapi malas ngitungnya itu loh,” tutur Syukron, santri asal Sumatera.

“Sebenarnya, anak-anak itu mudah kok diajak belajar. Yang penting antusiasnya. Sore ini antusias (anak-anak) sangat besar. (Ini yang membuat) pelajaran falak jadi mudah diserap,” terang Reza Zakaria, salah satu pemateri pelatihan. Selama ini, mindset siswa yang “ketakutan” mendengar kata “falak”, agaknya memang didasari pada ketidakseriusan dan kemalasan mereka dalam urusan hitung-menghitung. Fakta ini diakui beberapa santri yang hadir. Dan pada pelatihan sore itu, sepengakuan mereka, pikiran mereka tercerahkan. Ini membuat mereka gembira. Falak bukan lagi sesuatu yang harus dihindari.

Kegembiraan mereka bertambah manakala di sesi terakhir, diungkap bahwa sebenarnya telah ada aplikasi smartphone yang dibuat khusus untuk mengetahui arah kiblat dan waktu shalat. “Kalian tinggal memasukkan kode kota (yang ada di daftar yang disediakan aplikasi tersebut), lalu klik. Sudah. Jadwal shalat langsung tampil semua. Satu tahun penuh sudah ada,” tutur Asmujib, pemateri yang juga munawib (guru pelajaran) falak kelas tiga Aliyah ini.

Pelatihan itupun ditutup dengan pembagian aplikasi tersebut secara gratis, tanpa dipungut biaya sepeserpun.][