All posts by Nasikhun Amin

 Memaknai Tahun Baru Islam; Antara Euforia dan Hikmah

Datangnya tahun baru Hijriyyah menandai dimulainya sebuah babak baru dalam episode-episode kehidupan yang akan dijalani oleh setiap orang, setiap umat, atau setiap bangsa dalam suatu periode tertentu. Pergantian tahun ini juga dapat dijadikan sebagai momentum untuk menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Dengan begitu, suatu babak yang akan dimulai ini menjadi sebuah ajang evaluasi pembenahan diri untuk lebih meningkatkan kualitas, pencapaian target, taraf kehidupan, dan lain sebagainya.

Dari beberapa hal tersebut, aspek evaluasi menjadi sangat penting untuk dijadikan prioritas. Semuanya perlu melakukan langkah nyata dalam aspek terpenting ini, mulai dari individu perorangan, organisasi, umat, maupun bangsa. Karena hanya dalam aspek ini yang akan menjadi pijakan dasar dalam melangkah dan menentukan sikap serta tindakan di tahun berikutnya. Karena sudah menjadi realita yang tak terbantahkan, tanpa evaluasi yang benar dan matang akan nyaris mustahil atau setidaknya sangat mustahil bagi siapapun untuk melakukan pembenahan-pembanahan dan peningkatan-peningkatan secara maksimal pada tahun mendatang.

Namun, hal terpenting yang sangat urgen dalam aspek ini adalah upaya evaluasi untuk membenahi beberapa kekurangan dan meningkatkan kualitas diri sendiri.  Dengan demikian, datangnya tahun baru seharusnya menjadi  kesempatan untuk melakukan Muhasabah An-Nafs (intropeksi diri) bagi setiap individu manusia guna memperbaiki kualitas diri yang pada gilirannya mengantarkan umat pada kemajuan dan kejayaannya. Dalam menangani problematika umat tersebut, Allah Swt telah berfirman di dalam Alqur’an:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”, (QS. Ar-Ra’du: 11).

Dengan demikian, selama umat tidak melakukan evaluasi diri dan membenahi kemunduran serta ketertinggalannya, maka Allah Swt tidak akan menjadikan mereka umat yang maju. Dalam konteks ini, bukan berarti Allah Swt tidak mampu untuk memajukan umat dengan kekuasaan-Nya. Karena pada dasarnya Allah Swt maha mampu untuk memajukan umat-Nya tanpa campur tangan dan partisipasi mereka. Hanya saja, Allah Swt telah menjadikan hukum sebab-akibat menyatu dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan ini. Maka dari itu pada ayat selanjutnya Allah Swt berfirman:

وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚوَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

 “Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka sendiri”, (QS Ar-Ra’du: 11).

Sehingga tahun baru Islam adalah momentum penting sebagai ajang untuk memajukan umat, bangsa dan negara. Inilah cara islami yang mesti dilakukan umat Islam setiap menyambut tahun baru Islam.

Bukan Euforia Semata

Fenomena yang berkembang di kalangan masyarakat Islam selalu menarik untuk dikaji. Karena bagaimanapun, semuanya tidak pernah terlepas dari perkembangan syariat dan corak kehidupan sosial yang ada di dalamnya. Salah satu diantaranya adalah sikap mereka saat memasuki awal tahun dalam hitungan kalender Islam, yakni tahun baru Hijriyah.

Tidak seperti tahun baru masehi yang dirayakan dengan berbagai euforia kemeriahan dalam perayaan. Menyambut tahun baru Islam cenderung berbanding terbalik. Fenomena tersebut bukan berarti tanpa dasar, namun dalam konteks ini, umat Islam begitu memahami apa yang seharusnya diperbuat dalam menentukan sikap dan tindakan yang harus mereka perbuat.

Dalam kitab Kanz al-Najah wa al-Surur fi al-Ad’iyah al-Ma’tsurah allati Tasyrahu al-Shudur, karya Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Qudus al-Makki al-Syafi’i, (1277-1335 H), salah satu amalan yang dianjurkan para ulama salaf dalam menyambut tahun Baru Islam adalah dengan memanjatkan doa yang dibaca di akhir tahun (setelah salat Ashar di akhir bulan Dzulhijjah) dan awal tahun (setelah salat Maghrib di malam pertama bulan Muharram).

Senada dengan hal itu, ada juga beberapa kegiatan positif dan bermanfaat lainnya yang sering dilakukan dalam menyambut tahun baru Islam, seperti pengajian umum, istighosah bersama, selamatan dan doa bersama, dan lain sebagainya. Pada intinya, semua itu diselenggarakan dengan tujuan untuk mengagungkankan tahun baru Islam serta menghayati dan memahami hikmah yang terkandung di dalamnya. Suatu pepatah Arab mengatakan:

فَإِذَا عَرَفْتَ السَّبَبَ تَعَيَّنَ الْمُرَادُ

“Ketika engkau tahu latarbelakangnya, maka akan jelaslah sesuatu yang dimaksud didalamnya”.

Namun yang perlu digarisbawahi, segala bentuk perayaan yang dilakukan umat Islam tidak pernah terlepas untuk selalu berpijak pada dasar legalitas hukum yang kuat. Secara otomatis upaya pengagungan yang dikemas dalam bentuk perayaan tersebut tidak hanya sebatas simbolis syiar Islam belaka. Akan tetapi lebih menitikberatkan pada pertimbangan dampak dan manfaatnya bagi umat Islam ke depannya.

Dengan memahami arti dan spirit dasar yang sebenarnya, umat Islam tidak akan mudah terjebak dalam kemeriahan euforia tanpa makna. Namun lebih dari itu, yakni mereka menjadikan momentum tahun baru Hijriyah sebagai ajang untuk membangun kemajuan dan integritas umat. [] waAllahu a’lam.

 

FMPP Se Jawa Madura ke-31

Perubahan dinamika kehidupan akan terus berkembang seiring berjalannya waktu. Hal ini akan berbanding lurus dengan munculnya berbagai fenomena aktual yang mengemuka di tengah-tengah masyarakat. Sebagai instrumen baru dalam tatanan kehidupan, isu-isu tersebut selalu memerlukan sentuhan dan kejelasan hukum terutama dalam tinjauan syariat Islam.

Adalah Bahtsul Masail, sebuah wahana kajian ilmiah ala santri menjadi salah satu upaya responsif pesantren yang selalu hadir dalam memberikan jawaban atas problematika tersebut. Bahkan sudah menjadi realita yang tidak terbantahkan, peranan Bahtsul Masail dalam memberikan solusi terhadap problematika aktual yang muncul di tengah-tengah masyarakat tidak dapat diragukan lagi. Berbagai isu pun dibahas di dalamnya, mulai dari masalah yang berkaitan dengan ibadah, mu’amalah, interaksi sosial, bahkan isu-isu kenegaraan.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan keagamaan, pondok pesantren mempunyai tanggung jawab moral untuk berpartisispasi dalam memberikan solusi atas berbagai persoalan tersebut. Maka dari itu, Bahtsul Masail sebagai tradisi intelektual sudah sejak lama dikembangkan di kalangan pesantren. Bahkan, sebelum Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) berdiri, tradisi halaqoh dan musyawarah yang menjadi cikal bakal lahirnnya forum Bahtsul Masail sudah mendarah daging di pesantren sejak dulu.

Sehingga, sikap kritis, tanggap, dan tanggung jawab terhadap berbagai permasalahan umat yang ditunjukkan oleh pesantren dalam suatu forum Bahtsul Masail tersebut perlu untuk diapresiasi. Terlebih lagi, apabila sistem tersebut tidak sebatas hanya dalam internal pesantren tertentu saja. Namun, mencakup jaringan berbagai pesantren dalam suatu wilayah tertentu. Karena dengan begitu, adanya forum Bahtsul Masail bukan hanya sebatas memecahkan masalah. Melainkan menjadi sebuah ajang silaturrahim untuk mempererat hubungan antar pesantren. Langkah nyata dalam konteks tersebut adalah adanya Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) se Jawa Madura dan segala bentuk program dan aktivitasnya.

Sejak pertama kali didirikan, Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) telah melaksanakan program Bahtsul Masail yang diagendakan di setiap tahunnya. Dan pada tahun ini, ajang diskusi yang paling bergengsi di dunia pesantren tersebut akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Salaf Sulaiman, Sukorejo, Gandusari, Trenggalek, Jawa Timur.

FMPP se Jawa Madura yang ke-31 tersebut dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yakni 28-29 Muharram 1439 H / 18-19 oktober 2017. Sesuai perkiraan panitia, FMPP tahun ini akan dihadiri sekitar lebih dari 300 santri delegasi dari berbagai pesantren se Jawa Madura. Dari jumlah itu, mereka akan terbagi ke dalam 3 komisi yang memiliki soal pembahasan yang berbeda, yaitu:

 [Komisi A]

Investasi Dana Haji untuk Infrastruktur

Hukum Paytren dalam Tinjauan Fikih Muamalah

Mengubah Status Wakaf Musholla Menjadi Masjid

Cara Memakamkan di Kuburan Berair

Ikan Lele Hilang Akibat Banjir

Ketidakjelasan Penjual Obat

Kejelasan Tentang Udzur ‘Am di Zaman Masa Kini

-Download Materi Komisi A-

[Komisi B]

PERPPU Pembubaran Ormas

Legalitas Amil Zakat Tradisional

Fenomena Jemuran di Pesantren

Hutang Dibayar Hasil Panen

Standart Harga dalam Menghitung Zakat Tijarah

Melepas Hewan Peliharaan Berujung Meresahkan

Dilema Jalan Tol

-Download Materi Komisi B-

[Komisi C]

Kejahatan Saracen

Pencekalan Dai

Membantu Ibadah Orang Tua yang Sakit

Melepas Tanggung Jawab Barang yang Tidak Sesuai Spesifikasi

Menjawab Ucapan Salam yang Berulang-ulang

Memburu Belalang

Problematiaka Orang Yang Istihadhoh

-Download Materi Komisi C-

 

Investasi Dana Haji

Rumusan Hasil Bahtsul Masail Perdana Kelas I Aliyah

Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Tahun Ajaran 2017-2018 M.

Deskripsi Masalah:

Dalam keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia IV tahun 2012 menghasilkan rumusan tentang status kepemilikan dana setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) yang masuk daftar tunggu (waiting list). Dana setoran BPIH bagi calon jamaah haji yang termasuk daftar tunggu dalam rekening Kementrian Agama boleh dikelola (ditasharrufkan) untuk hal yang produktif, antara lain penempatan di perbankan syariah atau diinvestasikan dalam bentuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Hasil investasi nantinya menjadi milik calon jamaah haji. Adapun pengelola berhak mendapatkan imbalan yang wajar/tidak berlebihan.

Fatwa tersebut sejalan dengan aturan perundang-undangan tentang pengelolaan dana haji, yaitu UU nomor 34 tahun 2014 mengatur bahwa BPKH selaku Wakil akan menerima mandat dari calon jamaah haji selaku Muwakkil (pemberi mandat perwakilan)untuk menerima dan mengelola dana setoran BPIH. Akad wakalah ini ditandatangani oleh calon jamaah haji ketika membayar setoran awal BPIH. Mandat tersebut merupakan pelaksanaan dari akad Wakalah yang diatur dalam Perjanjian Kerja Sama antara Ditjen penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementrian Agama dan Bank Penerima Setoran tentang penerimaan dan pembayaran BPIH.

Pertanyaan:

Bagaimana pandangan syariat mengenai investasi dana haji untuk pembangunan infrastruktur yang direncanakan pemerintah?

Jawaban:

Mempertimbangkan secara ‘Urf (kebiasaan) ada kerelaan hati dari Calon Jamaah Haji (CJH) selaku Muwakkil  bahwa uang mereka akan digunakan untuk investasi. Dan hasilnya akan digunakan untuk mengurangi beban operasional penyelenggaraan haji. Maka langkah pemerintah untuk menginvestasikan dana haji dapat dibenarkan.

Catatan:

Kebijakan pemerintah untuk mengelola dana haji agar lebih produktif dan bermanfaat patut untuk diapresiasi. Karena dengan begitu, pemerintah bisa mencapai beberapa tujuan hanya dengan sekali dayung. Hasilnya pun menjadikan biaya haji lebih terjangkau dan pembangunan infrastruktur yang menjadi ciri khas pemerintahan Presiden Jokowi bisa berjalan. Dan yang terpenting adalah tidak menambah hutang luar negeri yang mana hal tersebut sangat membebani dan berpengaruh terhadap kemajuan perekonomian di Indonesia.

Namun, dalam konteks ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Satu, pemerintah harus mengalokasikan (tashorruf) dana haji pada instrumen investasi yang sesuai dengan tatanan syariat Islam dengan mengedepankan prinsip kemaslahatan serta keamanan dana.

Dua, tujuan pokok kerja sama antara pemerintah dan Calon Jamaah Haji (CJH) ini adalah untuk kemaslahatan Muwakkil. Yaitu demi kelancaran dan kenyamanan pemberangkatan jamaah haji. Memandang hal tersebut, kepentingan CJH inilah yang perlu diprioritaskan. Dengan artian, Badan Pengelola Keuangan Haji (BKPH) dan pemerintah ikut serta bertanggung jawab bila seandainya kebijakan ini tidak sesuai harapan.

Tiga, mengingat dana yang akan dikelola tidak sedikit, maka pemerintah perlu menunjuk pihak yang terpercaya (Amanah) dan kredibilitas dalam mengelolanya. Serta perlu adanya pengawasan yang memadai secara berkala demi terhindarnya segala macam bentuk penyelewengan dan pelanggaran yang dapat mengakibatkan kerugian bagi jamaah haji.

Referensi:

Al-Muhadzdzab, vol I/350.

Bughyah Al-Mustarsyidin, hal 310.

Al-Ashbah wa An-Nadhoir li As-Suyuti, hal 269.

Al-Mantsur fii Al-Qowaid, vol I/309.

Al-Mustashfa, vol I/268-287.

Qowa’id Al-Ahkam, vol I/44, cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyah.

Bughyah Al-Mustarsyidin, hal 148-149.

Bughyah Al-Mustarsyidin, hal 91, cet. Darul Fikr.

Al-Ahkam As-Sulthoniyah, hal 112.

 

 

 

Tradisi Menyambut Jamaah Haji

Di saat memasuki separuh akhir bulan Dzulhijjah seperti sekarang ini, akan mengingatkan umat muslim terhadap saudara mereka yang telah usai melaksanakan ibadah haji. Karena pada waktu itulah para jamaah haji telah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji dan pada gilirannya akan diterbangkan kembali menuju tanah air.

Pada waktu ini juga terdapat anjuran untuk menyambut kedatangan jamaah haji. Hal yang demikian sudah pernah dicontohkan para Sahabat ketika menyambut kedatangan Rasulullah saw dari suatu perjalanan. Hadis dari sahabat Abdulah bin Ja’far, beliau menceritakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تَلَقَّى بِنَا، فَتَلَقَّى بِي وَبِالْحَسَنِ أَوِ الْحُسَيْنِ، قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ

“Ketika Rasulullah Saw datang dari perjalanan kami meyambutnya. Beliau menghampiriku, Hasan, dan Husain. Lalu beliau menggendong salah satu diantara kami di depan, dan yang lain mengikuti di belakang beliau hingga kami masuk kota Madinah,” (HR, Muslim).[1]

Selamatan dan Doa Haji

Suka cita kedatangan seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji tergambar jelas saat dia sampai di kampung halamannya. Sebagian dari mereka ada yang merayakan dalam bentuk Selamatan Haji sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan.

Dalam praktek nyata, ada sebuah tradisi untuk menghidangkan makanan kepada para tamu yang mengunjunginya. Tradisi seperti ini disebut dengan nama An-Naqi’ah. Secara pengertian, An-Naqi’ah dapat diartikan sebagai tradisi jamuan makanan yang diselenggarakan oleh seseorang yang baru pulang  dari perjalanan. Tentunya melihat konteks ini, tidak hanya terbatas pada perjalanan haji. Namun memiliki cakupan praktek yang lebih luas. Tradisi ini memiliki landasan hukum salah satu hadis:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ سَفَرِهِ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً

“Sesungguhnya Rasulullah Saw ketika tiba di Madinah dari suatu perjalanan, beliau menyembelih unta atau sapi,” (HR. Bukhari).[2]

Namun, tradisi selamatan haji tidak sebatas acara jamuan makan. Namun yang lebih penting dari  hal itu adalah mendapatkan berkah doa ampunan dari orang yang yang berhaji. Bahkan hampir dapat dipastikan, tujuan sentral yang paling utama dari adanya Selamatan Haji adalah mendapatkan keberkahan doanya. Adapun permasalahan legalitas syariat dalam memandang polemik tersebut didasarkan pada salah satu hadis, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda:

إِذَا لَقِيتَ الْحَاجَّ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَصَافِحْهُ، وَمُرْهُ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ بَيْتَهُ، فَإِنَّهُ مَغْفُورٌ لَهُ رَوَاهُ أَحْمَدُ

“Ketika engkau bertemu dengan orang yang haji, ucapkanlah salam padanya, dan berjabat tanganlah dengannya, serta mintalah doa ampunan kepadanya sebelum ia memasuki rumahnya. Karena sesungguhnya dia merupakan orang yang telah terampuni” (HR. Ahmad).[3]

Karena bukan rahasia umum lagi, mereka yang baru datang dari ibadah haji bagaikan seorang bayi yang baru lahir tanpa adanya sedikitpun dosa yang berhubungan langsung dengan Allah. Oleh karena itu, keadaan mereka yang tidak memiliki dosa menjadi lebih dekat dengan Allah Swt, sehingga permohonan dan doanya memiliki nilai lebih daripada yang lain.

Dari hadis tersebut juga dapat ditarik pemahaman yang menjelaskan anjuran bagi seseorang yang haji untuk mendoakan ampunan bagi orang lain meskipun orang lain tersebut tidak minta didoakan. Namun dalam keadaan seperti ini, disunnahkan bagi seseorang berada di sekitar orang yang baru menunaikan ibadah haji untuk menunjukkan permintaannya agar didoakan secara langsung. Hal ini ditujukan agar doan yang dipanjatkan juga tercakup dalam doa yang pernah diucapkan oleh Nabi Muhammad Saw. Sebagaimana dalam redaksi hadis:

للَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ، وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ

Ya Allah, ampunilah dosa orang yang berhaji. Dan dosa orang yang dimintakan ampunan oleh orang yang berhaji” (HR. Muslim).[4]

Memang benar, para ulama telah sepakat bahwasanya seseorang yang baru pulang dari perjalanan haji memiliki keistimewaan yang berupa doa yang mustajab. Mengenai batasan waktu yang utama untuk doa orang yang baru pulang dari haji masih menyisakan perbedaan pendapat di antara para ulama. Sebagian mengatakan hal tersebut berlaku sejak mereka memasuki kota Mekah hingga kembali ke keluarganya. Sebagian lagi berpendapat sebelum mereka masuk rumahnya. Dan ada yang berpendapat sampai 40 hari terhitung sejak mereka pulang dari haji. Bahkan, dalam kitab Ihya’ Ulumuddin diceritakan berdasarkan cerita dari sahabat Umar Ra, keadaan ini akan terus berlangsung hingga akhir bulan Dzulhijjah, Muharram, dan  20 Rabiul Awwal dalam hitungan kelender Hijriyah.[5][]. waAllahu a’lam.

__________________________

[1] Shahih Muslim, juz 4 hal 185.

[2] Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 4 hal 400.

[3] Dalil Al-Falihin, juz 3 hal 237.

[4] Faidh Al-Qodir, juz 2 hal 101.

[5] Hasyiyah Al-Jamal, juz 2 hal 554.

Langkah Cerdas untuk Musyawarah Berkualitas

LirboyoNet, Kediri- Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang memiliki kekhususan dan fokus dalam tafaqquh fiddin. Sehingga dalam perjalanannya, penitikberatan dalam hal menguasai bidang ilmu agama menjadi sangat urgen. Untuk mencapai keberhasilan tersebut secara maksimal, ada berbagai cara yang dapat ditempuh. Namun salah satu cara yang paling efektif untuk mencapainya adalah dengan metode Musyawarah dan Bahtsul Masa’il.

Maka dari itu, Ponpes Lirboyo memberi perhatian khusus dalam hal musyawarah tersebut. Sehingga sudah menjadi sebuah realita yang tak terbantahkan bahwa di lingkungan luar pesantren, Ponpes Lirboyo memiliki identitas dan sangat diperhitungkan di bidang ini.

Atas dasar itulah, kemarin (07-08/09) Majlis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (M3HM) menyelenggarakan rutinitas tahunan yakni Penataran Keroisan di gedung Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo (LBM P2L). Dalam tahun ini, kegiatan yang mengusung tema “Langkah Cerdas untuk Musyawarah Berkualitas” tersebut mendatangkan 2 narasumber secara bergantian, yakni ustadz Anang Muhsin dan ustadz Musta’in Zamroni.

Sesi pertama dilaksanakan pada kamis malam (07/09) yang diikuti oleh peserta dari kelas 6 Ibtidaiyah dan tingkat Tsanawiyah, ustadz Anang Muhsin tampil sebagai pemateri. Alumnus Ponpes Lirboyo yang kini menjabat sebagai Wakil Katib Syuriyah PCNU Tulungagung tersebut menjelaskan betapa pentingnya musyawarah. Karena di dalam musyawarah terdapat beberapa hal yang sangat berperan strategis dan menjadi langkah yang dinamis dalam mengantar seseorang untuk menguasai bidang keilmuan, diantaranya adalah melatih seseorang untuk berfikir dan menganalisa masalah secara kritis dan cermat, menuntut adanya penguasaan terhadap berbagai referensi yang ada dalam kitab, dan melatih berbicara untuk mengemukakan pemikiran yang telah dihasilkannya. “Kalau musyawarah ini berjalan maksimal, maka tidak sebatas pemahaman atas keilmuan saja yang didapat. Namun lebih dari itu, yakni dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari” tegasnya.

Sesi tanya jawab di akhir acara pun tak kalah menarik. Dialog interaktif yang muncul dari para peserta Penataran Keroisan sudah cukup menunjukkan keantusiasan mereka saat itu.

Jum’at siang (08/09), ustadz Mustain Zamroni hadir sebagai pemateri kedua. Dalam pemaparan yang disampaikannya, alumnus Lirboyo yang juga mantan Ketua Umum Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo (LBM P2L) 2015-2016 tersebut lebih menitikberatkan pada cara yang ampuh dalam bermusyawarah bagi pemula. Hal ini bukan berarti tanpa alasan, karena peserta Penataran Keroisan pada sesi kedua ini adalah siswa kelas 2,3,4, dan 5 Ibtidaiyah.

“Bangunlah pondasi dan semangat bermusyawarah sejak dini. Ikuti seluruh aktivitas musyawarah yang ada di Ponpes Lirboyo. Karena hanya dengan cara itu, kita bisa mengetahui medan yang sebenarnya. Sehingga apabila sudah mengetahui medan, kita mampu untuk membangun tindakan dan mindset (cara berpikir) untuk lebih maju” jelasnya.

Namun, semua pemateri telah mengingatkan bahwa semua itu hanya sekedar teori di atas kertas. Dan yang paling penting adalah bagaimana menerapkan teori tersebut ke dalam bentuk praktek di kehidupan nyata. Karena hanya langkah cerdas demikian, semua target pencapaian akan terealisasi demi menghasilkan musyawarah yang berkualitas.[]