All posts by Nasikhun Amin

Pengalokasian Sisa Kulit Kurban

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ibadah kurban di hari raya Idul Adha merupakan momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Namun meskipun telah usai, masih ada saja problematika yang membutuhkan jalan keluar. Salah satunya adalah dilema sisa kulit hewan Kurban yang telah disembelih.

Adalah takmir masjid, sebagai pihak yang menjadi wakil sekaligus panitia penyembelihan hewan kurban berinisiatif menjual kulit binatang kurban tersebut. Selain bertujuan untuk menghindari terbengkalainya kulit hewan kurban yang sudah tidak dibutuhkan lagi, uang hasil penjualan tersebut akan dimasukkan ke dalam kas masjid. Hal ini memandang di masjid tersebut sudah memiliki bedug yang masih layak pakai. Apakah dapat dibenarkan tindakan takmir masjid tersebut? Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

_____________________

AdminWa’alaikumsalam Wr. Wb.

Pada mulanya, mayoritas ulama sepakat bahwa seluruh bagian hewan kurban yang meliputi daging, kulit, tanduk, dan lain sebagainya tidak boleh dijual. Hukum ini juga mencakup terhadap seluruh jenis kurban, baik kurban wajib ataupun sunah. Permasalahan ini pun cukup sensitif di masyarakat dan sering terjadi kesalahpahaman dalam berbagai prakteknya.

Namun dalam kitab Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, Imam An-Nawawi menceritakan dari Imam Al-Haromain bahwa ada satu pendapat yang mengatakan boleh menjual kulit hewan kurban dengan catatan harus mengalokasikan uang hasil penujualannya terhadap fakir muskin.

Dari pendapat tersebut sudah sangat jelas bahwa tindakan takmir masjid dapat dibenarkan hanya dalam praktek penjualan kulit kurban, namun tidak dapat dibenarkan apabila mengalokasikan uang hasil penjualan tersebut untuk di masukkan ke dalam kas masjid.

Solusinya, bagi takmir masjid memberikan kulit hewan kurban tersebut kepada salah satu fakir miskin. Kemudian ia menjulanya dan uang hasil penjulan boleh untuk di masukkan ke dalam kas masjid sebagai bentuk sedekah darinya untuk kemaslahatan masjid.

Referensi:

Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, juz 8 hal 419, cet. Dar Al-Fikr.

Syarh Al-Bahjah Al-Wardiyah, juz 5 hal 159.

 

 

 

Ada Apa di Hari Tasyriq?

Secara etimologi, istilah hari Tasyriq berasal dari literatur Arab “Syaraqa” yang berarti terbit. Namu secara istilah, hari Tasyriq adalah tiga hari setelah hari raya Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah dalam kalender Hijriyah.

Dalam kajian historis, ada dua pendapat yang menjadi asal usul serta  alasan penamaan hari-hari tersebut dengan nama hari Tasyriq. Pertama, dinamakan hari Tasyriq karena umat Islam pada hari itu mengawetkan daging kurban dengan cara menjemur untuk dijadikan dendeng. Tentunya, hal ini erat kaitannya dengan peristiwa sejarah dan corak kehidupan sosial masyarakat Islam pada zaman itu. Kedua, karena ibadah kurban tidak dilakukan kecuali setelah terbitnya matahari.[1]

Dalam ranah Islam, hari Tasyriq merupakan bagian dari rangkaian hari raya Idul Adha. Di dalamnya pun terdapat berbagai keutamaan, hukum, serta amaliyah yang berbeda dengan hari-hari besar yang lain. Diantaranya:

Keutamaan Hari Tasyriq

Allah Swt berfirman dalam Alqur’an:

وَاذْكُرُ اللهَ فِيْ أَيَّامٍ مَعْدُوْدَاتٍ

“Dan ingatlah kepada Allah dalam beberapa hari yang ditentukan,” (QS. Al-Baqarah:203).

Menurut sahabat Ibnu Umar Ra dan pendapat mayoritas ulama, yang dimaksud redaksi “hari-hari yang ditentukan” adalah tiga hari setelah hari raya Idul Adha, yaitu hari Tasyriq. Sementara menurut sahabat Ibnu Abbas Ra dan Atha’ Ra, yang dimaksud “hari-hari yang ditentukan” itu berjumlah empat hari, yang mencakup hari raya Idul Adha dan tiga hari setelahnya.[2]

Dari ayat tersebut, secara inplisist Allah swt memberikan keutamaan kepada hari Tasyriq dengan menjadikannya sebagai waktu yang istimewa untuk berdzikir mengingatNya. Sehingga sudah sepatutnya Allah swt memerintahkan kepada umat Islam untuk memperbanyak melakukan dzikir di hari-hari tersebut. Dan salah satu implementasi nyata dari dzikir adalah kesunnahan membaca Takbir Muqayyad[3] ketika selesai salat, mulai salat Subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai salat Ashar di hari Tasyriq terakhir (13 Dzulhijjah).

Dilarang Berpuasa di Hari Tasyriq

Pendapat paling shahih di kalangan ulama Madzhab Syafi’i mengatakan bahwa hukum berpuasa di hari Tasyriq adalah haram.[4] Salah satu dalil yang menjadi landasan hukum tersebut adalah sabda Rasulullah Saw:

أَيَّامُ التَّشْرِيْكِ أّيَّامُ أّكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللهِ

“Hari tasyriq adalah hari makan dan minum, dan mengingat Allah.” (HR. Muslim).[5]

Allah Swt mensyariatkan terhadap umat Islam untuk menjadikan hari Tasyriq sebagai hari makan dan minum karena hari-hari tersebut masih satu rangkaian dengan hari raya Idul Adha. Namun bukan berarti hal tersebut memberi pemahaman untuk melegalkan bentuk perayaan dengan euforia dan jamuan. Akan tetapi, perayaan hari Tasyriq sebagai hari makan dan minum memiliki pesan tersirat sebagai upaya syariat dalam membantu mereka untuk semakin giat dalam beribadah mengingat Allah Swt. Karena bentuk syukur paling sempurna atas nikmat yang diberikan adalah dengan semakin giat melakukan ibadah.

Memperbanyak Doa di Hari Tasyriq

Sudah diketahui, hari Tasyriq merupakan momentum istimewa untuk berdzikir. Dalam berdzikir, ada kaitan yang sangat erat dengan doa. Karena bagaimanapun, doa merupakan salah satu bentuk mengingat dan upaya pendekatan seorang hamba kepada Tuhannya. Maka dari itu, para ulama salaf sangat menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak doa selama hari Tasyriq.

Ziyad Al-Jasshas meriwayatkan dari Abu Kinanah Al-Qurasyi bahwa beliau pernah mendengar salah sahabat Rasulullah Saw, yakni Abu Musa Al-‘Asyari berkata dalam khutbahnya ketika salat Idul Adha, “Setelah hari raya ada tiga hari, dimana Allah menyebutnya dengan istilah ‘hari-hari yang ditentukan’. Dan doa pada hari-hari itu tidak akan ditolak. Dengan demikian, perbesarlah harapan kalian”.[6] [] waAllahu a’lam.

___________________

[1] Lisan Al-‘Arab, juz 10 hal 173.

[2] Lathaif Al-Ma’arif, hal 314. Karya Ibnu Rajab Al-hambali.

[3] Takbir Muqayyad secara bacaan sama persis dengan bacaan Takbir Mursal yang dibaca pada malam hari raya. Dinamakan Muqayyad karena masih terikat dengan waktu, yakni setiap selesai shalat selama 5 hari terhitung sejak hari Arafah sampai hari Tasyriq terakhir (9-13 Dzulhijjah). Lihat dalam Al-Hawi Al-Kabir, juz 2 hal 498.

[4] Kifayah Al-Akhyar, juz 1 hal 209.

[5] Shahih Muslim, juz 2 hal 800.

[6] Lathaif Al-Ma’arif, hal 506.

Peran Kurban dalam Dimensi Kehidupan

Dulu,  pada masa Jahiliyyah, orang-orang kafir Mekah memiliki banyak kebiasaan atau adat istiadat yang sangat aneh. Salah satunya adalah sebuah ritual menyembelih binatang tertentu untuk dijadikan atas nama ‘kurban’ dan diserahkan sebagai bentuk persembahan kepada berhala-berhala yang ada di sekeliling Ka’bah. Selesai menyembelih binatang yang dijadikan kurban, kemudian mereka memotong-motong daging dan melumurkan darahnya pada dinding-dinding Ka’bah dan di sekelilingnya. Dengan ritual tersebut, orang-orang Jahiliyyah mengharapkan keselamatan dan terhindar dari segala bentuk marabahaya.

Namun, setelah datangnya ajaran Islam serta disyariatkannya Udhiyyah (kurban) pada tahun kedua Hijriyyah, ritual kemusryrikan orang-orang kafir Mekah yang merupakan adat-istiadat Jahiliyyah tersebut diarahkan menjadi ibadah yang sangat bermanfaat dan lebih baik. Karena pada mulanya, ritula kurban orang-orang Jahiliyyah tersebut hanya membuang-buang harta dan mengotori masjidil haram. Sehingga kedatangan syariat Islam benar-benar telah merubah adat istiadat tersebut menjadi ibadah yang bernilai pahala sebagai bentuk pendekatan terhadap Allah Swt.

Udhiyyah (Kurban) dalam syariat Islam diartikan sebagai suatu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri pada Allah SWT dengan menyembelih hewan tertentu pada yaumun nahr dan ayyamit tasyriq (tanggal 10,11,12,13 dzulhijjah). Salah satu dalil legalitas ibadah kurban adalah firman Allah Swt:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka sholatlah kamu (sholat idul adha) dan sembelihlah (kurban)” (QS: Al-Kautsar 02).

Dan sabda Nabi Muhammad Saw:

اُمِرْتُ بِالنَّحْرِوَهُوَ سُنَّةٌ لَكُمْ

Aku diperintahkan untuk menyembelih Kurban, dan hal itu sunnah bagi kalian”.[1]

Dari berbagai dalil legalitas hukum ibadah Kurban yang ada. Tersirat berbagai hikmah dan faidah yang terkandung dibalik pensyariatan ibadah Kurban tersebut. Setidaknya, ada beberapa dimensi atau tinjauan penting dalam ibadah yang menjadi syi’ar besar agama Islam ini. Diantaranya adalah:

Dimensi Spiritual

Seseorang yang melaksanakan ibadah Kurban berarti telah melaksanakan anjuran yang telah tercantum di dalam Alqur’an dan Hadis. Karena sejatinya, setiap umat islam yang melaksanakan ibadah Kurban hanya memiliki tujuan untuk mendekatkan diri pada Allah Swt serta mengharapkan ridho dan ampunanNya. Serta tercakup sebuah awal pembiasaan diri untuk bersikap ikhlas dalam melaksanakan amal ibadah kepada Allah Swt.[2]

Sehingga tidak heran betapa besarnya pahala dan balasan yang telah Allah Swt janjikan bagi mereka yang melaksanakan ibadah Kurban tersebut. Salah satunya dijelaskan oleh Rasulullah Saw dalam hadisnya, “Tiada amal ibadah manusia pada hari Nahr (hari menyembelih Kurban) yang lebih disenangi oleh Allah Swt kecuali mengalirkan darah (menyembelih binatang Kurban). Sesungguhnya hewan Kurban datang pada hari kiamat dengan tanduknya, bulunya, dan kuku kakinya. Dan sesungguhnya darah binatang kurban akan jatuh (ke dalam tempat diterimanya amal) oleh Allah sebelum darah tersebut jatuh ke bumi” (HR. At-Turmudzi).

Dimensi Sosial

Ibadah Kurban tergolong ibadah yang Ghoiru Mahdhoh, dengan artian bahwa ibadah tersebut tidak hanya menitikberatkan pada hubungan seorang hamba kepada Tuhannya, melainkan juga mempertimbangkan hubungan antara hamba tersebut dengan masyarakat di sekitarnya. Dengan begitu, selain memberi manfaat sebagai sarana mendekatkan diri pada Allah Swt, ibadah Kurban juga memberi manfaat pada sesama umat Islam terutama terhadap golongan fakir miskin serta dapat membantu kebutuhan kaum yang lemah (dhuafa’).[3]

Dengan melihat dialektika tersebut, tidak terasa aneh lagi bahwa dalam Fiqih mengenai pembahasan tentang pendistribusian daging Kurban dirumuskan dalam beberapa pemilahan. Pemilahan tersebut mencakup pendistribusian bagi orang-orang yang termasuk kategori kaya hanya sebatas ith’am (konsumsi) saja. Namun untuk golongan fakir miskin lebih leluasa baik dalam hal menjual atau mengkonsumsi ataupun yang lainnya, karna pemberian pada kelompok ini berstatus tamlik (pemberian hak milik).[4]

Dimensi Historis

Sudah diketahui bahwa ibadah Kurban disyariatkan untuk mengingatkan kepada umat Islam akan peristiwa agung nabi Ibrohim As yang mendapat perintah dari Allah Swt lewat sebuah mimpi untuk menyembelih putranya yaitu nabi Ismail As sebagai tebusan dari nadzar yang pernah beliau ucapkan.[5] Dan dari peristiwa ini pula umat islam dapat mengambil hikmah dan uswah (suri tauladan) bagaimana bentuk kepatuhan dan kesetiaan seorang hamba terhadap Tuhannya. Karena kalau bukan didasari atas keimanan dan kesetiaan, sulit rasanya membayangkan nabi Ibrohim As rela memenuhi perintah untuk menyembelih putra yang telah lama diidam-idamkannya. Tugas pengabdian seperti itulah yang diharapkan dapat dimiliki umat islam di tengah kehidupan yang serba individualitas dan materialistis di era globalisasi seperti saat ini.

Dan yang terpenting adalah konsep demokrasi dalam pengambilan keputusan telah ditunjukkan oleh nabi Ibrohim As.  Sebelum menjalankan perintah, beliau terlebih dahulu mengajak dialog dan memberikan kesempatan pada nabi Ismail As untuk memikirkannya secara matang atas perintah tersebut. Meskipun sebenarnya nabi Ibrahim As mempunyai otoritas mutlak dalam mengambil keputusan, namun beliau memilih melakukan pendekatan dialogis dan persuasif agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Walhasil, ibadah Kurban sebagai salah satu syiar agama islam merupakan ibadah yang mengajarkan umat untuk senantiasa mendekatkan diri pada Allah Swt seraya mengikuti jejak historis nabi Ibrohim As dan nabi Ismail As yang menjadi lambang ketaatan dan kesetiaan seorang hamba pada perintah tuhannya serta ibadah yang mampu menarik kekuatan hubungan sosial dengan umat islam yang lain. Dengan mengetahui beberapa aspek dimensi ini pula diharapkan umat islam semakin tekun dan bersemangat dalam menjalankan perintah yang satu ini dan mampu menerapkan dan mengamalkan esensial berbagai dimensi yang ada dalam kehidupan nyata. [] Sekian, Wallahu A’lam.

_______________________

[1] Al-Masalik, juz 5 hal 146.

[2] Hasyiyah Al-Qulyubi, juz 4 hal 251, cet. Al-Haromain.

[3] Mukhtashor Tafsir Ayatil Ahkam, hal 187, cet. MHM Lirboyo.

[4] Fathul Wahhab, juz 2 hal 189, cet. Al-Hidayah.

[5] Dzurrotun Nashihin, hal 136.

Ushul Fikih di Era Modernitas

LirboyoNet, Kediri- Sabtu kemarin (26/08), rutinitas kuliah ushul fikih yang diselenggarakan di aula lantai II gedung baru Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Ponpes Lirboyo kembali digelar. Agenda kajian yang menggunakan kitab Lubbul ushul tersebut merupakan kelanjutan dari program yang digagas oleh Lajnah Bahtsul Masail Ponpes Lirboyo (LBM P2L) sejak tahun. Rutinitas bulanan tersebut cukup menarik antusias santri, baik di tingkat Tsanawiyah, Aliyah, maupun Mutakhorrijin.

KH. Azizi Hasbullah, salah satu alumnus Ponpes Lirboyo yang kini aktif sebagai dewan perumus LBM PBNU Pusat hadir sebagai tutor. Dalam mukaddimahnya, beliau memaparkan akan urgensitas kajian ushul fikih di era globalisasi.

Sistem perubahan dan perkembangan zaman yang semakin maju berbanding lurus dengan munculnya berbagai macam permasalahan baru yang semakin kompleks. Sebuah realita yang tak terbantahkan, bahwa sebagian besar permasalahan baru yang muncul di era kemajuan IPTEK seperti sekarang ini tidak sesuai dengan rumusan ulama salaf yang ada dalam berbagai teks kitab klasik.

Salah satu contoh kecilnya adalah kasus Qabdl (serah-terima) dalam tansaksi akad Mu’amalah. Pada zaman dahulu, praktek nyata dari serah terima dalam berbagai akad mu’amalah mengharuskan pihak yang melakukan transaksi berkumpul di suatu tempat tertentu. Beda halnya dengan sekarang, kecanggihan teknologi yang semakin memudahkan urusan manusia telah merubahnya menjadi model transaksi secara online maupun praktek transfer. Apabila kasus yang berhubungan dengan model transaksi modern tersebut berusaha dijawab menggunakan rumusan ulama yang ada dalam kitab klasik, tentunya akan terjadi perbedaan konteks realita dan hasilnya tidak akan sesuai.

Maka dari itu, kajian metodologis (manhaji) menggunakan teori ushul fikih sebagai media untuk mengetahui pedoman para ulama dahulu dalam menetapkan hukum (al-manhaj fi itsbat al-hukm) sangat diperlukan dalam menjawab tantangan permasalahan global. Karena dengan metode tersebut, rumusan ulama dahulu yang tersebar dalam al-kutub al-mu’tabaroh tidak hanya bersifat dogmatis. Akan tetapi lebih dari itu, yaitu sebuah upaya kontekstualisasi pemikiran dalam menghasilkan produk hukum dengan melihat dan menyesuaikan keadaan dan realita yang terus beubah dan berkembang.

Perlu digaris bawahi, bukan berarti metode ini akan mengatakan bahwa kitab salaf tidak relevan. Namun, metodologi kajian ushul fikih hanya sebatas mengkaji manhaj ulama dalam menghasilkan rumusan produk hukum yang disesuaikan dengan konteks yang dihadapi. Bagaimanapun, semuanya akan tetap berpedoman dengan prinsip yang telah dibangun dan dirumuskan para ulama salaf di dalam al-kutub al-mu’tabaroh.

Setelah sedikit memaparkan urgensitas kajian ushul fikih tersebut. KH. Azizi Hasbullah memulai pembahasan kitab Lubbul Ushul dalam bab al-mutlaq wa al-muqoyyad. Diskusi yang dikemas dengan model seminar ini juga ditutup dengan sesi tanya jawab dari beberapa peserta. Terakhir, beliau juga berpesan hendaknya dalam memahami ushul fikih harus diimbangi dengan pemahaman furu’iyyah fiqih, “Ushul fikih itu hanya sebatas kaidah untuk merumuskan fikih. Namun kalau dalam fikih, tidak hanya terbatas kepada kebutuhan pada ilmu ushul fikih. Namun harus didukung dengan berbagai dalil yang lain,” tegasnya. []

Jasa Qurban Online

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Perkembangan zaman yang semakin maju sedikit banyak telah merubah pola pikir masyarakat untuk lebih mudah dalam segala hal, bahkan dalam urusan ibadah sekalipun. Salah satunya adalah dengan berqurban melalui jasa penerima dan penyalur kurban yang banyak bermunculan saat ini.

Dengan mentransfer sejumlah uang dari salah satu pilihan yang ditawarkan, pihak yang berqurban berarti menyerahkan sepenuhnya urusan yang berkaitan dengan qurbannya. Salah satu contoh adalah untuk satu ekor kambing cukup mentransfer 1,75 juta, dan untuk satu ekor sapi 12,25 juta. Pertanyaan, bagaimana pandangan fikih mengenai praktek jasa penyedia Qurban online tersebut?, terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

____________________

AdminWa’alaikumsalam Wr.Wb.

Praktek jasa qurban online yang beredar sekarang ini merupakan salah satu konsep Wakalah (perwakilan) berqurban. Dengan artian, seseorang yang berqurban (Mudhahhi) telah mewakilkan kepada pihak penerima jasa atas segala urusannya yang berkaitan dengan qurban, mulai dari pembelian, penyembelihan, pendistribusian daging, dan lain sebagainya.

Praktek mewakilkan qurban tersebut dapat dibenarkan dalam kaca mata fiqih. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Diantaranya:

  1. Seseorang yang berqurban diharuskan niat berqurban saat menyerahkan uangnya kepada wakil. Untuk praktek ini, pihak wakil tidak disyaratkan niat lagi. Namun bisa juga dia mewakilkan urusan niat, sehingga yang harus niat hanya dicukupkan kepada wakil.[1]
  1. Sebenarnya, pendistribusian daging qurban hanya ditentukan pada daerah tempat tinggal seseorang yang melakukan qurban. Namun bisa mengikuti pendapat shahih (benar) dalam kitab Kifayah Al-Akhyar yang mengatakan diperbolehkan mendistribusikan daging qurban ke daerah lain.[2]

Kasus ini sebenarnya sangat mirip dengan praktek mewakilkan qurban dengan mentransfer uang dari Indonesia ke Mekah untuk dibelikan hewan qurban di Mekah dan disembelih serta didistribusikan disana. Menurut Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi dalam fatwanya mengatakan bahwa ibadah qurban dengan praktek demikian dihukumi sah. [3]

Referensi:

[1] Hasyiyah Al-Qulyibi, juz 4 hal 254, cet. Al-Haromain.

[2] Kifayah Al-Akhyar, juz 2 hal 704, cet. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.

[3] Hasiyah I’anah At-Thalibin, juz 2 hal 380.