All posts by Nasikhun Amin

Kajian Tafsir; Tiada Paksaan dalam Beragama

Allah Swt berfirman dalam Alqur’an:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقى لَا انْفِصامَ لَها وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Tidak ada paksaan di dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Barang siapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka dia telah berpegang (teguh) kepada tali yang kuat yang tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 256).

Meskipun ayat tersebut memiliki kaitan yang erat dengan asbabun nuzul(latar belakang penurunan ayat), namun tidak menafikan kontekstualisasi dari esensial ayat itu sendiri. Hal ini senada dengan konsep kaidah Fiqih bahwa yang menjadi pertimbangan dalam hukum adalah keumuman suatu kata (lafadz), bukan karena sebab khusus.[1]

Sekilas, pemahaman atas ayat tersebut menjelaskan bahwa umat Islam tidak diperbolehkan memaksakan seseorang untuk beriman dan masuk agama Islam. Mengapa bisa demikian, bukankah Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menyerukan dan mensyiarkan agama Islam?.

Sebenarnya, dalam  penggalan ayat tersebut Allah Swt secara tegas telah menyampaikan bagaimana sikap Islam terhadap konsep keimanan. Di awal ayat sudah dikatakan bahwa “Tidak ada paksaan dalam (mengikuti) agama (Islam)”. Dalam aspek literatur kebahasaan, kata paksaan (Ikrah) memiliki pengertian memperlakukan orang lain dengan sebuah pekerjaan yang tidak disukai. Sebuah pemaksaan tidak akan dapat dibuktikan secara empiris kecuali dalam bentuk pekerjaan anggota lahiriyyah yang hanya dapat ditangkap oleh panca indra. Sementara keimanan adalah sebuah urusan keyakinan yang wilayahnya ada di dalam hati.  Sehingga dari aspek kebahasaan ini saja sudah menunjukkan bahwa tidak mungkin adanya keimanan yang dihasilkan dari sebuah paksaan.[2]

Pada lanjutan ayat ini juga dipaparkan “Sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar daripada jalan yang sesat”. Artinya, berbagai argumentasi dan bukti-bukti atas kebenaran agama Islam sudah sangat jelas bahwa keimanan adalah sebuah petunjuk yang mengarahkan kepada keselamatan abadi. Begitu juga sebaliknya, sudah sangat jelas bahwa kekufuran merupakan sebuah kesesatan yang mengantarkan kepada kesengsaraan abadi.

Ketika hal tersebut sudah sangat jelas, maka bagi orang yang memiliki akal sehat dan sempurna secara otomatis akan memilih terhadap jalan yang akan mengantarkannya kepada keselamatan abadi, yaitu dengan jalan keimanan. Dengan demikian, tidak diperlukan lagi adanya sebuah paksaan dalam konsep keimanan.[3]

Selanjutnya, walaupun tidak ada paksaan untuk masuk ke dalam agama Islam, bukan berarti pilihan seseorang untuk tidak memeluk agama Islam tidak berkonsekuensi apa-apa. Karena orang yang telah memeluk agama Islam berarti telah memegang teguh pedoman yang kuat. Begitu juga sebaliknya orang yang kufur yang enggan beriman maka dia akan tetap di lembah kesesatan.

Sebagian ahli Tafsir lain menafsiri redaksi “Tidak ada paksaan dalam (mengikuti) agama (Islam)” sebagai bentuk larangan, sehingga sejalan dengan arti “Janganlah kalian memaksa dalam (mengikuti) agama (Islam)”. Karena sebuah keimanan tidak bisa dibangun di atas sebuah paksaan, maka paksaan tersebut sudah tidak bermanfaat lagi. Selain itu, para ulama juga melarang sebuah paksaan dalam keimanan dikarenakan bertendensi bahwa di dunia merupakan wahana ujian atas keimanan setiap manusia. Sehingga adanya paksaan akan meniadakan konsep ujian tersebut, sesuai dengan firman allah Swt:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Dan katakanlah; Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, maka barang siapa yang ingin (beriman) maka hendaklah ia beriman. Dan barang siapa yang ingin (kufur) biarlah dia kafir” (QS. Al-Kahfi: 29).[4]

Dalam ayat laian, Allah swt berfirman:

وَلَوْ شاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعاً أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?,” (QS. Yunus: 99).

Ayat tersebut menjadi sebuah bukti yang tidak dapat terbantahkan dalam ranah keimanan. Disebutkan bahwa keimanan adalah hak mutlak yang menjadi wilayah kehendak Allah Swt. Dan ayat ini juga diklaim menjadi dalil argumentasi  paling kuat dalam mendukung sebuah konsep bahwa tidak ada paksaan dalam urusan keimanan.[5] Dan dari Surat Al-baqarah 256 itu pula akan memunculkan konsep politik Islam untuk mengembangkan sayap dakwah Islam yang ramah, bukan Islam yang mudah marah.[6]

Dalam aktualisasi ayat dalam konteks kekinian, sudah saatnya umat Islam menunjukkan identitas kebenarannya dalam berbagai aspek kehidupan. Semuanya dilakukan dengan tetap berpedoman pada prinsip rahmatan lil ‘alamin, tanpa memaksakan kehendak atas keimanan yang sudah menjadi wilayah ketuhanan. Karena sesungguhnya melakukan intervensi terhadap sebuah perkara yang bukan menjadi wilayahnya tidak akan berguna dan hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka.[] sekian, waAllahu a’lam.

____________________________

[1] Al-Ashbah wa An-Nadhoir, juz 2 hal 134.

[2] Tafsir Al-Mudzohhiri, juz 1 hal 362.

[3] Tafsir Al-Baidhowi, juz 1 hal 154.

[4] Tafsir Ar-Razi, juz 7 hal 13.

[5] Tafsir Az-Zamahsyari, juz 1 hal 303.

[6] Tafsir Al-Manar, juz 3 hal 33.

Aplikasi Penunjuk Arah Kiblat

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Di zaman yang serba mudah seperti saat ini, banyak hal yang membuat urusan hidup semakin mudah, tidak terkecuali dalam ibadah sekalipun. Dan sekarang, banyak dijumpai berbagai aplikasi yang membantu umat muslim dalam berbagai hal, salah satunya adalah aplikasi penunjuk arah kiblat yang mudah didownload melalui smartphone.

Bagaimana hukum menjadikan aplikasi penunjuk arah kiblat tersebut sebagai acuan dalam menentukan kiblat saat salat? Dan apakah dicukupkan hanya dengan menghadap ke arah barat bagi orang Indonesia?, Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

______________________________

AdminWa’alaikumsalam Wr. Wb. Sudah menjadi keharusan bagi seseorang yang akan melaksanakan salat (terutama salat fardu) untuk menyempurnakan syarat-syarat sebelum melaksanakannya. Salah satu dari beberapa syarat tersebut adalah menghadap kiblat (Ka’bah di kota Mekah). Legalitas syarat tersebut bertendensi pada firman Allah Swt dalam Alqur’an:

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Dan hadapkanlah wajahmu ke Masjidil Haram,” (QS. Al-Baqoroh: 144).

Yang dimaksud wajah dalam ayat tersebut hanyalah sebatas kata Majaz, dengan artian bahwa yang menjadi pertimbangan penting dalam menghadap kiblat adalah posisi dada seseorang yang salat.

Pada hakikatnya, metode dalam hal menghadap kiblat bagi orang yang akan melaksanakan salat sudah dianggap cukup dengan berpedoman dari salah satu dari 4 cara, yaitu mengetahui secara yakin, kabar dari seseorang yang dipercaya, ijtihad (menghasilkan prasangka), dan mengikuti seorang mujtahid.[1]

Adapun aplikasi pencari arah kiblat dalam operasionalnya berusaha untuk menunjukkan arah kiblat seakurat mungkin dengan mengupdate data lokasi seluler yang mengaksesnya, baik ketinggian tempat, posisi garis lintang, garis bujur, dan lain sebagainya. Karena praktek dengan metode tersebut juga memandang validitas dan kemungkinan kecil untuk terjadi kesalahan, maka aplikasi penunjuk arah kiblat yang beredar sekarang sudah dianggap mencukupi sebagai acuan dalam menentukan arah kiblat.[2]

Apabila muncul lagi sebuah persoalan, apakah seorang dalam menghadap kiblat harus tepat persis terhadap bangunan Ka’bah atau dicukupkan dengan arah dimana kiblat tersebut berada?. Maka dalam masalah ini terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama (khilaf).

Menurut madzhab Syafi’i, pendapat yang unggul mengatakan bahwa seseorang harus secara tepat menghadap terhadap bangunan Ka’bah. Apabila posisi orang yang salat dekat dengan Ka’bah maka harus berdasarkan keyakinan, dan apabila posisinya jauh maka dicukupkan sebatas prasangka (dzon) saja.

Namun dalam lingkup internal madzhab Syafi’iyyah sendiri masih ada pendapat yang mengatakan bahwa seseorang yang salat dicukupkan menghadap arah dimana ka’bah tersebut berada, misalkan orang Indonesia menghadap ke arah barat.[3] Pendapat ini didukung oleh Al-Ghozali, al-Mahalli, Ibnu Kajin, dan Abi Usrun. Menururt Imam Al-Adzro’i, pendapat ini buka berarti tanpa alasan. Karena menimbang ukuran bangunan ka’bah yang sangat kecil, dan sudah dipastikan mustahil bagi seluruh penduduk dunia untuk menghadapnya secara tepat.[4] Dengan alasan inilah beberapa ulama tersebut mengatakan cukup dengan sekedar menghadap arah kiblat.[] waAllahu a’lam.

Referensi:

[1] Al-Bajuri, juz 1 hal 142, cet. Al-Haromain.

[2] Hasyiyah Al-Qulyubi, juz 1 hal 155, cet. Dar Al-Fikr.

[3] Bujairomi ‘Ala Al-Khotib, juz 2 hal 119, cet. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.

[4] Bughyah Al-Mustarsyidin, hal 78.

Islam dan Spirit Kemerdekaan

فَإِذَا عَرَفْتَ السَّبَبَ تَعَيَّنَ الْمُرَادُ

“Ketika engkau tahu latar belakangnya, maka jelaslah sesuatu yang dimaksud di dalamnya” (Pepatah Arab).

Di Indonesia, peringatan proklamasi kemerdekaan yang jatuh setiap tanggal 17 agustus dirayakan dengan berbagai macam bentuk perayaan, mulai dari upacara pengibaran sang saka merah putih, menyanyikan lagu kebangsaan, berbagai event perlombaan atau yang lain sebagainya.  Masyarakat merayakannya sebagai bentuk pengaplikasian ucapan rasa syukur atas nikmat besar tersebut. Berbagai perayaanpun digelar, mulai dari lingkup yang terkecil di tingkat desa hingga merambah sampai tingkat nasional di Istana Merdeka, Jakarta. Bahkan sebagian kalangan begitu antusias merayakan agenda tahunan bangsa tersebut.

Namun sangat ironis, ketika dibalik semua euforia itu mereka acuh tak acuh atas filosofi dan spirit kemerdekaan yang sebenarnya. Lebih dalam lagi, dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia merupakan salah satu kesempatan untuk mengingatkan kembali spirit perjuangan para Founding Father’s dalam memperjuangkan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan selama berabad-abad lamanya. Sehingga momentum berharga tersebut tidak hanya sebatas simbolis tahunan belaka yang hanya lewat seperti angin lalu. Namun lebih dari itu, dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia benar-benar dimanfaatkan sebagai ajang untuk intropeksi diri (Muhasabah An-Nafs) dan memacu semangat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik dari sebelumnya.

Secara ringkas, ada beberapa hal yang menjadi poin penting dalam menumbuhkan spirit membangun kemerdekaan dalam mengisi dan melanjutkan estafet peradaban bangsa Indonesia, diantaranya adalah:

Semangat Bela Negara

 “Cinta tanah air adalah sebagian dari iman”, merupakan salah satu jargon monumental yang dikemukakan oleh Hadlrotus Syaikh KH. Hasyim As’ari dalam membakar semangat bela negara dan nasionalisme kebangsaan. Meskipun penggalan kalimat singkat tersebut bukan termasuk hadis, namun secara esensial tidak jauh beda dengan hadis Rasulullah Saw yang menjelaskan tentang ungkapan kecintaannya terhadap kota suci Makkah. Sebagimana penuturan dari sahabat Ibnu Abbas Ra yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Hibban Ra:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ

Dari sahabat Ibnu Abbas berkata, Rasulullah Saw bersabda; Alangkah baiknya engkau sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kauku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di selainmu,” (HR. Ibnu Hibban).[1]

Dengan penerapannya yang disesuaikan dengan konteks kebutuhan saat ini, semangat bela negara dapat mengakhiri episode berdarah umat manusia dan menciptakan dialog kehidupan yang rukun dan damai. Bahkan sangat diperlukan untuk memperkuat sendi-sendi kenegaraan dari berbagai paham radikalisme, ekstrimisme, dan semacamnya yang merongrong kebhinnekaan bangsa ini.

Dalam konteks kekinian, aksi nyata dalam semangat bela negara dapat diaplikasikan dengan menjalankan kewajiban sebagai warga negara sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing individu masyarakat. Karena dengan begitu, implementasi nyata semangat bela negara dan nasionalisme tidak hanya terbatas pada perlindungan negara, melainkan menjadi sebuah usaha ketahanan, kekuatan, dan kemajuan di berbagai aspek kehidupan.

Menguatkan Simbiosis Agama dan Negara

Di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali mengatakan:

وَالْمِلْكُ وَالدِّيْنُ تَوْأَمَانِ فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

“Negara dan agama adalah saudara kembar. Agama merupakan dasar, sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh, dan dasar tanpa penjaganya akan hilang”.[2]

Sekilas, statement yang dilontarkan Imam Al-Ghazali tersebut mengarah kepada pemahaman bahwa antara agama dan negara merupakan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan.  Dengan artian, keduanya saling membutuhkan untuk saling memperkokoh antara satu dengan yang lainnya. Dan ternyata hal tersebut dirumuskan demi terciptanya kemaslahatan global dalam porsi dan koridor masing-masing, baik yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan maupun kehidupan kenegaraan.

Rumusan tersebut bukan bertujuan untuk menumbuhkan asumsi terhadap bentuk hegemoni agama atas negara. Namun cenderung dititikberatkan kepada aspek munculnya norma keagamaan ke dalam ruang publik dan tatanan kenegaraan hanya sebagai nilai moral publik atau etika sosial semata.

Sehingga pemahaman terhadap norma-norma keagamaan sudah saatnya disinkronisasikan dengan pemahaman atas kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena bagaimanapun, negara merupakan sebuah kebutuhan yang sangat penting sebegai media yang melindungi pengimplementasian ajaran agama secara riil dalam kehidupan. Maka, sifat bernegara harus didasari sifat beragama. Dengan gambaran bahwa sikap moderat dan inklusif keagamaan ini juga harus tercermin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sinergi Bersama Pemerintah

Sejarah mencatat, tidak sepenuhnya benar jika rentetan berbagai macam konflik kemanusian yang ada di negara ini hanya terbatas terhadap isu kekuasaan. Faktor ketimpangan ekonomi, kesenjangan sosial, dan berbagai penindasan wewenang yang terajut dalam ketidakadilan juga merupakan kenyataan muara konflik yang sulit dipungkiri.

Dengan demikian, perlua adanya formulasi dan inovasi yang dapat membangun dan memajukan kehidupan umat dari ketertinggalan.  Baik kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, budaya dan lain sebagainya. Dan juga harus adanya sosialisasi dan penerapan pemahaman atas formula dan kebijakan yang dianggap lebih maslahat secara merata. Hal tersebut ditujukan demi terciptanya pemikiran nan dinamis dan gerakan yang strategis untuk membangun masyarakat yang maju dan bermoral sebagai pilar kekuatan bangsa.

Dan semuanya tidak akan terwujud tanpa adanya kerjasama dan saling mendukung dengan pihak pemerintah sebagai pemegang wewenang dan kebijakan. Atas dasar itu pula, syariat Islam telah memberi rambu-rambu bagi wewenang dan kebijakan yang harus dijalankan oleh pemerintah. Filosofi tersebut juga sejalan dengan kaidah fiqih:

تَصَرُّفُ الْإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

“Kebijakan pemimpin harus berorientasikan kepada kemaslahatan rakyatnya”. [3]

Kaidah tersebut sangat urgen dalam membentuk konsep kebijakan yang diputuskan dan dijalankan pemerintah. Sehinggala segala tindakan yang dilakukan pemerintah benar-benar memprioritaskan kepentingan umum, bukan atas kepentingan pribadi maupun golongan tertentu.

Dari pemaparan singkat tersebut sudah dapat diambil kesimpulan bahwa Islam sebagai ajaran tidak hanya terbatas pada dimensi doktrinal keagamaan. Namun cakupan Islam yang sebenarnya lebih luas, yakni membangun peradaban masyarakat dengan prinsip kemaslahatan, termasuk menjadikannya sebagai spirit membangun kemerdekaan bangsa Indonesia. Sekian, waAllahu a’lam[]

________________________

[1] Shahih Ibnu Hibban, juz 9 hal 23.

[2] Ihya’ Ulumuddin, juz 1 hal 17, cet. Al-Haromain.

[3] Al-Ashbah wa An-Nadhoir, juz 1 hal 121.

Hukum Shalat Dhuha Berjamaah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Admin yang terhormat, saya mau bertanya seputar fenomena yang terjadi di beberapa pesantren di sekitar tempat tinggal saya. Yaitu praktek shalat sunah Dhuha yang dikerjakan secara berjamaah. Bahkan sebagian pesantren ada yang menjadikan kegiatan tersebut sebagai rutinitas wajib yang harus diikuti oleh seluruh santrinya. Bagaimana fiqih menanggapi hal demikian?, terima kasih atas penjelasannya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Maimun Najib, Pasuruan.

_______________________

AdminWa’alaikumsalam Wr.Wb. Sebelumnya kami ucapkan terimakasih dan apresiasi kepada saudara Maimun Najib karena setidaknya Anda telah mampu bersikap kritis melihat apa yang terjadi di sekitar lingkungan tempat tinggal. Apalagi ini berkaitan dengan hukum agama.

Sebagaimana telah diketahui, bahwa shalat Dhuha merupakan kategori shalat sunah yang tidak dianjurkan untuk dikerjakan secara berjamaah. Artinya, shalat Dhuha lebih baik dikerjakan sendirian (munfarid). Rumusan ulama dalam hal ini berlandaskan pada sebuah hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw melaksanakan shalat Dhuha sendirian. Abdurrahman Bin Abi Laila meriwayatkan:

مَا حَدَّثَنَا أَحَدٌ، أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى غَيْرُ أُمِّ هَانِئٍ فَإِنَّهَا قَالَتْ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ، فَاغْتَسَلَ وَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، فَلَمْ أَرَ صَلاَةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا، غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ

Tidak ada seorangpun selain Ummi Hani’ yang mengabariku bahwa ia melihat Nabi Saw melakukan shalat Dhuha. Dialah yang menceritakan bahwa Nabi Saw pernah masuk rumahnya ketika masa penaklukan kota Mekah. Lalu beliau mandi dan mendirikan shalat delapan rakaat, dan aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat yang lebih ringan daripada itu, kecuali beliau menyempurbakan ruku’ dan sujudnya.”[1]

Meskipun konsep awal mengatakan demikian, pelaksanaan shalat Dhuha yang dikerjakan secara berjamaah tidak serta merta menimbulkan hukum makruh atas jamaah tersebut. Sebab secara umum, shalat-shalat sunah yang tidak dianjurkan untuk dilakukan secara munfarid (tidak berjamaah) tetap boleh dilaksanakan secara berjamaah. Namun dalam konteks ini, praktek yang demikian tetap saja menyelisihi terhadap hal yang lebih utama (khilaful afdhol).[2]

Bahkan, kalau praktek shalat Dhuha yang dilaksanakan secara berjamaah memiliki tujuan yang baik dan dapat dibenarkan menurut syariat justru akan menjadikan nilai pahala dari tujuan tersebut. Salah satu contoh tujuan yang baik yang dibenarkan menurut syariat adalah melaksanakan shalat Dhuha secara berjamaah dalam rangka mendidik dan membiasakan anak kecil atau para santri dalam masa pendidikan agar terbiasa melakukan shalat Dhuha. Dengan catatan, praktek tersebut dapat dibenarkan dan bernilai pahala apabila tidak menimbulkan unsur-unsur yang dilarang, misalkan meninggalkan perkara yang sudah menjadi kewajiban.

Dalam kitab Bugyah Al-Mustarsyidin, Habib Abdur Rahman Al-Masyhur berkata:

(مسألة : ب ك) تُبَاحُ الْجَمَاعَةُ فِيْ نَحْوِالْوِتْرِوَالتَّسْبِيْحِ فَلَا كَرَاهَةَ فِي ذَلِكَ وَلَا ثَوَابَ, نَعَمْ إِنْ قَصَدَ تَعْلِيْمَ الْمُصَلِّيْنِ وَتَحْرِيْضَهُمْ كَانَ لَهُ ثَوَابٌ وَأَيُّ ثَوَابٍ بِالنِّيَّةِ الْحَسَنَةِ فَكَمَا يُبَاحُ الْجَهْرُ فِيْ مَوْضِعِ الْإِسْرَارِ الَّذِيْ هُوَ مَكْرُوْهٌ لِلتَّعْلِيْمِ فَأَوْلَى مَا أَصْلُهُ الِإْبَاحَةُ وَكَمَا يُثَابُ فِي الْمُبَاحَاتِ إِذَا قُصِدَ بِهَا الْقُرْبَةَ كَالتَّقَوِّيِّ بِالْأَكْلِ عَلَى الطَّاعَةِ. هَذَا إِذَا لَمِ يَقْتَرِنْ بِذَلِكَ مَحْذُوْرٌ كَنَحْوِ إِيْذَاءٍ أَوْ إِعْتِقَادِ مَشْرُوْعِيَّةِ الْجَمَاعَةِ وَإِلَّا فَلَا ثَوَابَ بَلْ يُحْرَمُ وَيُمْنَعُ مِنْهَاـ

“Diperbolehkan melaksanakan semacam shalat Witir atau shalat Tasbih secara berjamaah. Maka hal tersebut tidak manjadi makruh dan tidak pula mendapatkan pahala. Namun apabila praktek demikian bertujuan untuk mengajari/mendidik orang-orang yang sholat dan bertujuan memotivasi mereka, maka akan mendapatkan pahala. Dan setiap pahala juga diberikan atas niat atau tujuan yang baik. Misalkan mengeraskan bacaan pada shalat yang seharusnya dibaca secara pelan-pelan dengan tujuan pembelajaran, meskipun hukum asalnya adalah boleh (ibahah). Begitu juga perkara-perkara mubah apabila diniati dengan dengan niat untuk mendekatkan diri pada Allah Swt maka juga mendapatkan pahala, contohnya adalah makan dengan tujuan menghasilkan kekuatan untuk mengerjakan ketaatan. Namun semua itu apabila tidak menimbulkan hal-hal yang dilarang seperti berdampak menyakiti orang lain atau menimbulkan prasangka orang awam bahwa sholat itu harus berjamaah. Apabila menimbulkan hal-hal yang demikian maka tidak mendapatkan pahala, bahkan menjadi haram.”[3]

Kesimpulannya, sholat Dhuha lebih baik dikerjakan sendirian. Namun boleh dikerjakan secara berjamaah, apalagi ketika memiliki tujuan yang baik dan benar, seperti mendidik dan memotivasi. Maka hal tersebut justru bernilai pahala dan sangat dianjurkan dalam syariat.

Sekian, waAllahu A’lam Bis Shawab. []

Refrensi:

[1] Shahih Al-Bukhori, juz 2 hal 58.

[2] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 4 hal 55.

[3] Bugyah Al-Mustarsyidin, hal 67. Cet. Al-Hidayah.

Pilih Mana, Ikut Kiai atau Nabi?

Syariat Islam yang lahir sejak 14 abad lalu telah banyak mengalami serangkaian perjalanan sejarah yang panjang. Putaran waktu yang sudah cukup lama telah menjauhkan syariat Islam dari masa pengawalan syariat secara langsung oleh Rasulullah Saw. Beragam bentuk model penggalian hukum, pertentangan ulama, asimilasi budaya, dan lain sebagainya telah mewarnai dan memperkaya khazanah syariat hingga sampai pada umat Islam di generasi saat ini.

Di balik seluruh khazanah syariat Islam tidak akan pernah terlepas dari para ulama yang bermain di dalamnya. Karena bagi para ulama, eksistensi syariat merupakan tanggung jawab utama yang telah diamanahkan oleh Allah Swt lewat kredibilitas keilmuan yang telah mereka emban. Begitu besar peranan ulama salaf dalam mengawal dan membimbing jalannya syariat sejak dulu hingga saat ini. Karena dalam diri mereka telah mengalir darah amanah kenabian (warotsah al-anbiya’). Rasulullah Saw telah bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

“Ulama adalah pewaris para nabi,” (HR. Turmudzi).

Sebagaimana telah diketahui, tiada derajat yang lebih tinggi di atas derajat kenabian. Dan tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi selain menjadi pewaris derajat tersebut.[1] Rasulullah Saw tidak pernah mewariskan harta benda. Namun yang dimaksud dari redaksi hadis tersebut bahwasanya Rasulullah Saw hanya mewariskan ilmu, amal, dan perjuangan dakwah. Dengan demikian, ulama merupakan satu-satunya golongan yang paling absah berbicara soal keagamaan. karena merekalah yang memegang tongkat estafet perjuangan Rasulullah Saw, baik secara intelektual, maupun moral spiritual. [2]

Sejak zaman Rasulullah Saw, umat Islam telah sepakat untuk menjadikan ulama salaf sebagai acuan dan pedoman dalam memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan syariat Islam secara benar. Hal ini sudah dicontohkan oleh para generasi pendahulu. Para Tabi’in mengikuti jejak para Sahabat Nabi Saw, lalu para pengikut Tabi’in meneruskan langkah dengan mengikuti jejak para Tabi’in. Demikian seterusnya, sehingga pada setiap generasi para ulama pasti mengacu dan merujuk pada orang-orang dari generasi sebelumnya.

Rasulullah Saw bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ؛ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Aku berwasiat kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepadapenguasa kaum muslimin), walaupun (dia) seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barang siapa yang hidup setelahku dia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib bagimu untuk berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud).

Imam Ibnu Al-Qoyyim berkata, “Rasulullah Saw menggabungkan sunnah (ajaran) para khalifah dengan sunnahnya. Dan beliau memerintahkan untuk mengikuti sunnah para khalifah sebagaimana pengikuti sunnahnya. Dalam memerintah akan hal tersebut, beliau sangat bersungguh-sungguh bahkan sampai memerintahkan menggigitnya dengan menggunakan gigi geraham. Dan ini berkaitan dengan yang difatwakan oleh para khalifah meskipun bukan keterangan fatwa langsung dari Rasulullah Saw.” [3]

Menurut olah pemikiran yang logis, betapa baiknya pola pemahaman dan pengamalan syariat Islam dengan cara demikian. Sebab syariat Islam tidak dapat diketahui kecuali dengan dua cara, yaitu  naql (mengambil dan mengikuti dari generasi sebelumnya) ataupun istinbath ( menggali hukum dari sumbernya dengan cara berijtihad).

Inilah pengertian yang secara tidak langsung telah ditunjukkan oleh Sahabat Ibnu Mas’ud Ra melalui perkataannya:

مَنْ كَانَ مُتَّبِعًا فَلْيَتَّبِعْ مَنْ مَضَى

“Barang siapa yang menjadi pengikut (yang baik), maka hendaklah mengikuti (para ulama) generasi sebelumnya”.[4]

Jika pendapat-pendapat para ulama salaf telah menjadi sebuah keniscayaan untuk dijadikan sebagai pedoman, maka pendapat tersebut haruslah diriwayatkan dengan sanad (mata rantai) keilmuan yang jelas ataupun ditulis di dalam kitab-kitab yang masyhur dan mu’tabarah di kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Bahkan melihat kondisi global saat ini, mengharuskan metode taqlid manhaji (mengikuti dalam hal metodologis) dalam Istinbath al-Ahkam (penggalian hukum dari sumbernya yaitu Alquran dan Hadis) harus tetap mengetahui koridor madzhab-madzhab ulama generasi sebelumnya. Hal ini ditujukan agar rumusan hukum yang dihasilkan tidak menyalahi hasil konsensus mereka (mukholif lil ijma’).  Sehingga segala bentuk bid’ah, kesesatan, dan perpecahan dapat dihindari. Karena semua itu berawal dari model pemahaman yang menyelisihi pemahaman para ulama salaf.

Yang perlu digarisbawahi, mengikuti ulama salaf bukan berarti mengedepankan fanatisme golongan dalam beragama. Karena setiap individual para ulama yang merupakan manusia biasa tidak akan pernah lepas dari kesalahan (ghairu ma’shum). Namun jika para ulama salaf telah sepakat menghasilkan konsensus dalam suatu permasalahan agama, maka hasilnya sudah dapat dipastikan benar. Karena Rasulullah Saw telah menjelaskan dalam hadisnya, bahwa umat beliau tidak akan pernah sepakat dalam sebuah kesalahan/kesesatan.

Walhasil, mengikuti manhaj (jalan) para ulama salaf merupakan sebuah keharusan demi terjaganya pemahaman dan pengamalan syariat Islam secara benar. Dengan memegang teguh ajaran salaf, dan menjadikan beliau-beliau panutan dalam segala hal, baik itu budi luhur, ibadah, maupun akidahnya. Mereka sangat berhati-hati semasa hidupnya, kapan dan dimana mereka melangkah, di situlah mereka memegang teguh apa yang telah di wariskan oleh Rasullah Saw.

Allah Swt berfirman dalam Alquran:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha pada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya itulah kemenangan yang besar,” (QS. At-Taubah: 100). Sekian. waAllahu a’lam.[]

 

_____________________________

[1] Mauidzoh Al-Mukminin, juz 1 hal 8, Darul Kutub Al-Islamiyah.

[2] Syarah Riyadus Sholihin, juz 5 hal 433.

[3] I’lam Al-Muwaqqi’in, juz 2 hal 400, Darul Hadits.

[4] Risalah fii Taakkud Al-akhdi bi Madzahib Al-Arba’ah, Karya Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.