All posts by Nasikhun Amin

Tekad Meneguhkan Sanad

Salah satu dari sekian banyak keistimewaan yang ada dalam agama Isam adalah terjaganya keorsinilan Alqur’an. Karena hampir sebagian besar dalam pengajaran dan periwayatannya, Alqur’an diajarkan melalui periwayatan yang sambung menyambung sampai Rasulullah SAW. Adapun jaminan atas terjaganya keautentikan tersebut sudah menjadi janji Allah SWT sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Alqur’an;

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

 “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Alqur’an), dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9).

Sangat berbeda dengan kitab-kitab samawi lainnya, contohnya adalah kitab Injil. Dari sejak masa nabi Isa AS, kitab Injil pernah mengalami masa vakum sampai seratus tahun. Dalam jeda waktu yang cukup lama ini sangat besar kemungkinan adanya tindakan distorsi atau tahrif terhadap isi kitab tersebut. Dan hal tersebut ternyata benar adanya, bahkan untuk saat ini segala bentuk perubahan dalam kitab Injil yang ada telah memutuskan status para penganut Injil tidak masuk dalam kategori Ahlul Kitab sebagaimana yang telah disebutkan dalam Alqur’an.[1] Allah SWT sudah berfirman;

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءهُمْ وَإِنَّ فَرِيقاً مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri . Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui,” (QS. Al-Baqoroh; 146).

Demikian juga dalam periwayatan hadis, di dalam menjaga keauntentikan dan kemurniannya, bagi seseorang yang meriwayatkan hadis (Rawi) diharuskan memenuhi berbagai persyaratan yang cukup ketat. Pembebanan syarat tersebut bukan berarti menghalang-halangi dan mempersulit seseorang dalam meriwayatkan hadis, melainkan hal tersebut bertujuan untuk menghindari terjadinya pemalsuan maupun distorsi. Sanad periwayatan ini memiliki peranan penting dalam menyaring adanya pemalsuan hadis yang dinisbatkan pada Rasulullah SAW. Konteks ini sedikit berbeda dengan sanad hadis yang merupakan langkah otentifikasi atas kebenaran sumber perolehan matan atau redaksi sebuah hadis.

Memahami hal demikian, para ulama sangat berhati-hati dalam menyandarkan sebuah hadis terhadap Rasulullah SAW dan meriwayatkannya, sehingga dalam masalah seperti ini muncul istilah hadis Shahih, hadis Hasan, dan hadis Dhoif dan istilah lainnya dalam pembahasan ilmu Mustholah Hadits. Karena Rasulullah SAW pernah mengatakan dalam hadisnya;

مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ فِي النَّارِ

“Barang siapa yang mengatakan suatu perkataan yang tidak pernah aku katakan, maka hendaklah tempatnya di neraka,” (HR. Bukhari).

Sebenarnya, diskursus pembahasan mengenai sanad pernah disinggung dalam Alqur’an;

قُلْ أَرَءَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَرُونِى مَاذَا خَلَقُوا۟ مِنَ ٱلْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ ۖ ٱئْتُونِى بِكِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ هَٰذَآ أَوْ أَثَٰرَةٍ مِّنْ عِلْمٍ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

“Katakanlah! Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah, perlihatkanlah kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat dalam penciptaan langit? Bawalah pada-Ku kitab sebelum Alquran ini atau peninggalan (dengan sanad yang shahih) dai pengetahuan (orang-orang terdahulu) jika kamu adalah orang-orang benar,” (QS. Al-Ahqaf: 4).

Dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi, imam Qurthubi menafsiri kata “au itsarotan min ‘ilmin” dengan suatu pengetahuan yang dikutip dari orang-orang terdahulu dengan sanad yang shahih sampai kepada mereka secara mendengarkan langsung.[2]

Dari sini sudah dapat dipahami, kejelasan sanad dan mata rantai yang sambung menyambung dari generasi ke generasi selanjutnya sangat dibutuhkan dan merupakan upaya yang mendesak demi terjaganya warisan keilmuan dari masa ke masa. Urgensitas sanad dalam menjaga kemurnian agama Islam sudah tidak dapat dipungkiri lagi melihat begitu besar sumbangsih dan peranannya. Abdullah bin Mubarak, salah satu murid Imam Malik RA berkata;

اَلْاِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلَا الْاِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Isnad/sanad adalah bagian dari agama, dan seandainya tidak ada sanad maka seseoarang akan seenaknya mengatakan apa yang ingin dia katakan”.[3]

Sanad Keilmuan

Banyak sederetan ulama yang mengeluarkan pendapat dan statementnya mengenai masalah pentingnya sebuah sanad,  diantaranya adalah Imam Malik bin Anas RA. Beliau pernah berkata;

اِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْا دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamu (ilmumu),”.[4]

Para ulama menjadikan keberadaan sanad sebagai syarat seseorang untuk mengamalkan atau menjadikan sebuah argumentasi terhadap suatu pendapat atau keterangan yang tercantum dalam beberapa redaksi kitab. Karena menurut mereka, sanad keilmuan atau periwayatan tak ubahnya seperti periwayatan sebuah hadis. Karena tujuan utama dari adanya sanad keilmuan atau periwayatan adalah otentifikasi atas kebenaran sumber perolehan dan penjelasan yang didapat dari generasi sebelumnya dan untuk generasi selanjutnya.

Salah satu akibat fatal apabila mengesampingkan permasalahan sanad ini adalah munculnya berbagai aliran yang menyimpang. Apalagi di zaman modern yang serba instant seperti saat ini, banyak orang belajar dari buku terjemahan atau situs internet yang tidak jelas kemudian dia memahami dengan akal pikirannya sendiri, sehingga praktek tersebut akan memunculkan ketidaksesuaian dengan maksud sebenarnya atau terkadang salah faham terhadap makna yang dikandungnya. Jadilah pemahaman tersebut menyesatkan dirinya bahkan orang lain.

Mengantisipasi hal yang demikian, metode pembelajaran yang memiliki sanad atau mata rantai keilmuan yang jelas sudah menjadi sebuah keharusan. Untuk mendapat sanad dalam ranah mata rantai keilmuan dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah mendengarkan secara langsung (As-Sima’i), membaca kitab tersebut dan didengarkan langsung oleh seorang guru (Al-Qira’ah/Talaqqi), izin seorang guru untuk meriwayatkan atau mengajarkan (Al-Ijazah).

Dengan sanad pula, akan memunculkan kesadaran umat Islam akan pentingnya memberikan perhatian lebih terhadap seluruh ajaran Islam dengan menetapkan jalur ketelitian dalam kritik maupun analisis yang belum pernah dikenal sebelumnya. Dengan beegitu, klaim musuh Islam yang selalu membuat keraguan terhadap ajaran Islam dengan sendirinya akan runtuh.

Cukup sudah pengalaman suram yang telah terjadi di masa silam, sudah saatnya umat Islam untuk menyisingkan lengan baju dan benar-benar memperhatikan permasalan sanad yang menjadi ujung tombak dalam menjaga kemurnian syariat tersebut demi terealisasinya pemahaman, pengamalan, dan penyebaran agama Islam secara universal. []. waAllahu A’lam.

____________________________________

[1] Hasyiyah Al-Jamal, juz 4 hal 197, Maktabah Syamilah.

[2] Tafsir Al-Qurthubi, juz 16 hal 182, Maktabah Syamilah.

[3] Diriwayatkan Imam Muslim dalam Muqadimah Shohih Muslim, juz 1 hal 15.

[4] Syarah Muslim Li An-Nawawi, juz 1 hal 84.

Paradigma Dakwah Islamiah

Urgensitas dakwah dalam penyebaran dan perkembangan agama Islam merupakan suatu hal nyata yang tidak dapat terbantahkan. Keberadaan dakwah sebagai ujung tombak eksistensi agama Islam menjadikannya memiliki tempat tersendiri di hati umat Islam. Sebagai salah satu aktivitas yang memegang peran penting dalam Islam, tidak diragukan lagi bahwa diskursus mengenai dakwah banyak ditelaah dan dibahas dalam beberapa literatur klasik maupun kontemporer.

Kata dakwah yang berasal dari literatur bahasa Arab memiliki arti mengajak, mengundang, atau mendorong. Dapat juga dakwah diartikan mengajak ke jalan Allah SWT, yakni agama Islam. Dalam kitab Hidayah al-Mursyidin, Syaikh Ali Mahfudz mendefinisikan dakwah sebagai berikut;

حَثُّ النَّاسِ عَلَى الْخَيْرِ وَالْهُدَى وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ لِيَفُوْزُوْا بِسَعَادَةِ الْعَاجِلِ وَالْأَجِلِ

Upaya mendorong manusia untuk berbuat baik, mengikuti petunjuk, memerintah mengerjakan kebaikan, melarang melakukan kejelekan, agar dia bahagia di dunia dan akhirat”.

Pada saat awal mula penyebaran Islam di Makkah, Rasulullah SAW menjalankan strategi dakwah secara sembunyi-sembunyi dan samar. Hal ini dilakukan melihat kondisi umat Islam yang masih minoritas dan kekuatan Islam yang masih lemah pada saat itu. Berbeda lagi ketika sudah hijrah ke Madinah, disana Beliau mulai mengembangkan sayap dakwah secara terang-terangan dan terbuka. Tentu saja hal ini erat kaitannya dengan atmosfer penduduk Madinah yang telah memberikan sinyal positif atas dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW serta keadaan umat Islam yang sudah memiliki kekuatan yang cukup baik apabila ada ancaman yang datang.

Berkaca dari pengalaman Rasulullah SAW dalam mengembangkan dakwahnya, perkembangan dakwah islamiah di masa-masa selanjutnya terus menunjukkan banyak perubahan sesuai keadaan, situasi dan kondisi sasaran yang dihadapinya. Namun pada dasarnya, semua metode dakwah yang ada memiliki pijakan prinsip dan pijakan hukum yang sama, sebagaimana telah digariskan oleh Allah SWT dalam Alqur’an;
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan hikmah kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia lah yang lebih mengetahui akan orang yang sesat dari jalannya, dan Dia jua yang lebih mengetahui akan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125).

Secara garis besar, para ulama Ahli Tafsir banyak menafsiri kata “bil hikmati wal mau’idhotil hasanati” dengan arti memberi nasihat secara lembut tanpa menyakiti. Strategi ini ditujukan bagi mereka yang masih belum memiliki pemahaman atas syariat Islam. Lebih lanjut, penafsiran kata “wa jadilhum billati hiya ahsan” ditujukan kepada sasaran dakwah yang termasuk golongan yang membantah dan tidak menerima apa yang disampaikan, sehingga Alqur’an mengajarkan bagaimana etika berdebat secara dingin tanpa terbawa emosi yang justru akan menumbuhkan permusuhan dan pertikaian.[1]

Dari pengertian makna kata sendiri, dakwah telah menunjukkan bagaimana seharusnya hal tersebut dilakukan. Karena pada konteks ini, penerapan kata “mengajak” dalam kehidupan nyata lebih cenderung bagaimana seseorang yang menjadi sasaran tersebut menerima dengan apa yang ditawarkan. Apabila lebih mengutamkan cara yang bersifat memaksa, justru hal itu akan membuat seseorang tersebut enggan untuk menerima apa yang ditawarkan kepadanya. Bukankah dakwah itu mengajak, bukan menyepak? Bukankah dakwah itu merangkul, bukan memukul?.

Interpretasi Dakwah di Nusantara

Pluralitas penduduk pribumi merupakan realita yang perlu disadari. Oleh karena itu, mulai awal kedatangannya, dakwah islamiah di Indonesia yang mengusung jargon Islam rahmatan lil ‘alamin lebih mengedepankan cara hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan yang ada. Atas dasar itu pula dakwah yang dilaksanakan oleh para penyebar Islam di tanah air lebih mudah di terima oleh penduduk pribumi.

Pada masa awal masuknya Islam di nusantara, sebagian besar dari para penyebar agama Islam yang dilakukan oleh para pedagang Islam dari Timur Tengah lebih memilih melakukan pembauran dan asimilasi syariat Islam dengan budaya dan kearifan lokal setempat. Mereka tidak serta merta menolak bahkan menghapus berbagai adat istiadat yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Melainkan mengarahkannya pada cara yang lebih baik dan diwarnai dengan berbagai praktek yang lebih sesuai dengan syariat Islam. Strategi ini terbukti berhasil bahwa model dakwah dengan akulturasi budaya sangat cocok dan diterima pada saat itu.

Seiring berjalannya waktu, transformasi sosial masyarakat yang semakin menunjukkan banyak perkembangan sedikit banyak juga telah mempengaruhi aktivitas dakwah yang dilakukan oleh para ulama di nusantara. Kemajuan di bidang teknologi, sosial, budaya dan tingkat pendidikan masayarakat menuntut adanya pembaruan inovasi dan solusi agar produk dakwah yang disampaikan akan tetap diterima sesuai kebutuhan yang disesuaikan dengan kondisi yang terus diperbarui. Sehingga bukan suatu hal aneh lagi bila dakwah juga mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan keadaan sosial yang berkembangsesuai masanya (up to date).

Kejelian dan kepekaan pelaku dakwah dalam mengahadapi sasaran dan medan dakwah sangat diperlukan. Hal ini ditujukan agar mampu memenuhi kebutuhan sasaran dakwah, terlebih lagi melihat medan dan kondisi masyarakat nusantara di era globalisasi saat ini. Sehingga efektivitas dakwah akan membawa hasil dan dampak yang berupa peningkatan keberagamaan dengan berbagai cakupannya yang sangat luas. Selain pendekatan pemenuhan kebutuhan, bagi pelaku dakwah hendaknya menggunakan pendekatan pastisipatif yang menghendaki sasaran dakwah dilibatkan dalam proses perencanaan dakwah.

Menurut KH. MA. Sahal Mahfudz, dakwah islamiah dituntut untuk bisa meletakkan Islam pada porsi pendamai dan pemberi makna terhadap kontradiksi atau konflik dalam kehidupan.[2] Disini dakwah secara konseptual harus merumuskan keseimbangan-keseimbangan yang Implementatif yang menjadikan ajaran Islam sebagai alternatif solusi pengembangan sumber daya manusia seutuhnya. Sehingga, perubahan sosial masayarakat yang lebih baik sebagai bukti empiris dari buah dakwah dapat dirasakan.

Dengan pemahaman totalitas atas situasi dan kondisi sasaran dakwah yang ada, serta pengamalan metode yang sesuai, diharapkan dakwah islamiah akan semakin menunjukkan kemajuan dari masa ke masa.  Dengan demikian, eksistensi ruh keislaman yang selalu menjiwai masyarakat  akan tetap terjaga dan semakin kuat dalam mengiringi tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Allah SWT berfirman;

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa,” (QS. An-Nur: 55). []. waAllahu a’lam.

___________________________

[1] Tafsir Al-Baghowi, juz 3 hal 103.

[2] Nuansa Fiqh Sosial, hal 122, LkiS.

Haul dan Haflah Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiaat

LirboyoNet, Kediri- Haul dan Haflah Akhirussanah Pondok dan Madrasah Putri Hidayatul Mubtadiaat yang dilaksanakan pada Kamis (27/04) berlangsung khidmat. Segenap dzurriyyah, dewan pengajar MPHM, wali murid, dan seluruh santri Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiaat tampak memadati Aula Al-Muktamar sebagai tempat terselenggaranya acara.

Acara yang menjadi agenda rutinan setiap akhir tahun pelajaran tersebut diawali dengan sambutan-sambutan. Salah satunya adalah sambutan dari perwakilan wali santri yang dibawakan oleh KH. Abdullah Ubab Maimoen dari Sarang, Rembang Jawa Tengah.

Dalam sambutannya, beliau berkali-kali mengucapkan terima kasih terhadap Masyayih dan dewan pengajar yang telah berjasa besar dalam menjaga dan membimbing para santri P3HM. Dan beliau juga memohon doa agar ilmu yang diperoleh para santri tersebut dijadikan ilmu yang bermanfaat dan barokah. “Mugi-mugi santri ingkang belajar teng mriki keparingan hasil lan manfaat ilmune. (Mudah-mudahan santri yang belajar di sini diberikan keberhasilan dan ilmu yang bermanfaat),” ungkap beliau di akhir sambutannya.

Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf dari Pasuruan diundang untuk memberikan mauidzotul hasanah. Dalam ceramahnya, beliau mejelaskan secara terperinci tentang mahabbah atau rasa cinta terhadap guru. Karena dengan demikian, akan muncul sebuah ikatan ruhaniyyah antara seorang murid dengan gurunya, yang mana hal tersebut merupakan kunci utama keberhasilan belajar dan kemanfaatan ilmu yang diperoleh seorang santri. “Carilah rido guru dengan sungguh-sungguh, karena hal itu adalah wasilah (perantara) keberhasilan,” imbuh beliau.

Selanjutnya, KH. M. Anwar Manshur sebagai khodim Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiaat melantunkan doa penutup yang menjadi penanta berakhirnya seluruh rangkaian acara pada malam tersebut. []

Revitalisasi Peristiwa Isra’ dan Mi’raj

Dalam kitab Tafsir At-Thobari, peristiwa Isra’ dan Mi’raj diartikan sebagai peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Haram di Mekah menuju Masjid Al-Aqsha di Baitul Muqoddas (Jerusalem), lalu dilanjutkan dengan perjalanan dari Qubbah As-Sakhrah menuju Sidratul Muntaha (akhir penggapaian).[1] Kronologi tersebut sebenarnya sudah ditegaskan oleh Allah SWT dalam Alqur’an:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya pada suatu (potongan) malam dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Al-Isro’: 1).

Mengenai kapan peristiwa tersebut terjadi masih diperselisihkan para ulama. Ada yang mengatakan peristiwa tersebut terjadi di tahun kesepuluh dari masa kenabian.[2] Namun dalam kitab Al-Thobaqot Al-Kubro karya Ibnu Sa’d dikatakan, bahwa peristiwa ini terjadi diantara 18 bulan sebelum Rasulullah SAW mendapatkan perintah untuk melakukan hijrah ke kota Yatsrib (Madinah).

Menurut catatan sejarah, Isra’ dan Mi’raj adalah salah satu peristiwa paling bersejarah bagi umat Islam. Peristiwa tersebut menunjukkan betapa Maha Kuasanya Allah SWT. Bagaimana seorang hamba yakni Nabi Muhammad SAW bersama ruh dan jasadnya menempuh jarak jutaan kilometer hanya dalam satu malam saja.

Sebuah hadis yang cukup panjang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim berkenaan dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengendarai Buraq, sejenis makhluk hidup yang ukuran tubuhnya lebih besar daripada keledai. Dan juga disebutkan bahwa ketika di Masjidil Aqsha, Rasulullah SAW melakukan salat dua rakaat. Setelah itu, datanglah malaikat Jibril membawa sebuah bejana berisi khamar dan bejana lain berisi susu, namun Rasulullah SAW memilih bejana yang berisi susu.

Dan dalam riwayat itu pula kronologi peristiwa Mi’raj Rasulullah SAW ke langit pertama, kedua, dan seterusnya hingga mencapai Sidratul Muntaha (akhir penggapaian), ‘Arsy, dan Mustawa. Di sanalah beliau mendapatkan wahyu dari Allah SWT, dan sejak saat itu pula salat lima waktu diwajibkan bagi seluruh umat Islam. Semula, sholat yang diwajibkan berjumlah 50 rakaat.

Keesokan paginya, ketika Rasulullah SAW menuturkan peristiwa yang beliau alami kepada khalayak penduduk kota Mekah, orang-orang musyrik pun segera menyebarluaskan berita itu kepada teman-teman mereka sambil mengolok-olok Rasulullah SAW.

Karena Rasulullah SAW mengaku datang ke Baitul Muqoddas di Palestina, beberapa orang musyrik menantang beliau untuk menjelaskan semua yang ada di sana. Padahal, ketika mendatangi Baitul Muqoddas pada malam itu, tidak pernak terlintas dalam benak Rasulullah SAW untuk memperhatikan dengan seksama seluruh detail bangunan Baitul Muqoddas, apalagi menghafalkan jumlah pilarnya. Mendapatkan tantangan seperti itu, Allah SWT menampakkan Baitul Muqoddas di hadapan Rasulullah SAW. Beliau pun dapat menjelaskan semua hal tentang Baitul Muqoddas dengan sangat rinci seperti yang diminta orang-orang kafir.

Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda;

لَمَّا كَذَّبَتْنِيْ قُرَيْشٌ قُمْتُ فِي الْحِجْرِ فَجَلَّى اللهُ لِيْ بَيْتَ الْمُقَدَّسِ فَطَفَقْتُ أُخْبِرُهُمْ عَنْ آيَاتِهِ وَأَنَا أَنْظُرُ اِلَيْهِ

“Ketika orang-orang Quraisy menganggap aku berdusta, aku pun berdiri di Hijr, dan Allah menampakkan Baitul Muqoddas padaku, maka aku pun menceritakan kepada mereka semua tanda-tanda bangunan tersebut sembari aku melihat bangunan itu”.[3]

Sementara itu, beberapa orang kafir Quraisy telah mendatangi Abu Bakar As-Shidiq RA untuk menyampaikan hal yang baru dituturkan oleh Rasulullah SAW. Mereka berharap sahabat terdekat Rasulullah SAW ini menganggap peristiwa tersebut merupakan sebuah kebohongan besar. Mereka juga berharap, Abu Bakar As-Shidiq RA tidak akan mempercayai Rasulullah SAW lagi. Ternyat Abu Bakar As-Shidiq RA malah berkata, “Jika memang benar Dia (Muhammad SAW) mengatakan seperti itu aku percaya. Bahkan, jika beliau mengatakan yang lebih jauh (lebih ajaib) dari itu, akau pasti akan tetap mempercayainya,”.[4]

[ads script=”2″ align=”left”]Pada pagi hari setelah peristiwa Mi’raj tersebut malaikat Jibril datang memberitahu kepada Rasulullah SAW tentang tata cara salat beserta waktu pelaksanaannya. Sebelum syariat salat lima waktu ditetapkan, rasulullah SAW biasa melaksanakan salat dua rakaat di pagi hari dan dua rakaat di sore hari, sebagaimana dilakukan nabi Ibrahim AS.[5]

Konteks Situasi dan Kondisi

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang terjadi pada saat-saat Rasulullah SAW mengalami masa-masa kecemasan. Karena beberapa waktu sebelumnya, Rasulullah SAW sangat terpukul dengan meninggalnya dua orang yang menjadi ujung tombak kekuatan beliau dalam mendakwahkan agama Islam, yakni Khadijah RA dan Abu Thalib RA. Sementara tekanan fisik maupun psikis yang terus dilancarkan kafir Quraisy semakin menambahkan kegelisahan beliau, seolah tiada celah dan harapan bagi masa depan agama Islam pada saat itu.

Maka pada malam malam 27 Rajab, seakan menjadi penyejuk di tengah kegersangan yang selama ini menyelimuti beliau. Perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Baitul Muqoddas menjadi langkah untuk menjelajahi napak tilas perjuangan nabi-nabi terdahulu. Begitu pula dengan proses Mi’raj, beliau dapat melihat secara langsung seluruh alam dan singgasana kebesaran di jagad raya. Secara keseluruhan, semua yang dialami pada malam itu telah membantu meredakan kecemasan yang beliau alami selam ini dan meningkatkan kembali gairah dakwah dan tekad yang semakin kuat ke depannya.

Melihat konteks situasi dan kondisi peristiwa Isra’ dan Mi’raj telah memberi pelajaran berharga kepada umat manusia dalam menghadapi sebuah perjuangan. Segala rintangan dan penentangan yang ditemukan akan dapat diselesaikan dengan cara maupun metode yang sudah diketahui oleh Allah SWT. Karena yang terpenting bagi manusia adalah terus berjuang, memperkuat tekad, dan terus konsisten dalam semua keadaan. Firman allah SWT dalam Alqur’an;

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir, (QS. Yusuf: 87). 

Berbuah Syariat Salat

Sudah dimaklumi bersama, Alqur’an sebagai kitab suci agama Islam memuat seluruh ajaran syariat yang ada di dalamnya, tak terkecuali salat. Seperti salah satu firman Allah SWT;

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah :43). Namun tidak sebatas itu, Allah SWT memanggil secara langsung Rasulullah SAW dalam rangkaian peritiwa Isra’ Mi’raj untuk menyampaikan perintah salat kepada umat islam. Karena hikmah yang paling besar dari peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut adalah disyariatkannya salat. Hal ini sangat berbeda dengan disyariatkannya ibadah-ibadah yang lain, yang keseluruhannya sudah dicukupkan melalui malaikat Jibril sebagaimana yang telah ada dalam Alqur’an.

Kualitas keimanan seseorang dapat diketahui dengan komitmennya terhadap pengamalan ajaran Islam, baik yang berhubungan dengan tuhannya maupun yang berhubungan dengan sesama makhluk. Salat merupakan bentuk peribadatan tertinggi seorang muslim, sekaligus merupakan simbol ketaatan totalitas kepada Allah SWT. Karena di dalam salat, terdapat bentuk upaya interaksi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dari sinilah titik terang keberadaan salat sebagai barometer seorang muslim untuk mengukur sebatas mana kekuatan agamanya. Dalam sebuah hadis dijelaskan;

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam, dan tiangnya adalah salat,” (HR. Thurmudzi).

Sebagai tiang agama, maka harus ada makna dan nilai bagi setiap orang Islam dalam melaksanakan salat, sebagaimana uraian Al-Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, yakni;

  • Hudhurul Qolbi (menghadirkan jiwa). Ketika melaksanakan salat diharuskan konsentrasi penuh semata-mata mengahadap Allah SWT dan mengharap ridho-Nya. Segala sesuatu yang bersifat keduniaan harus dilupakan sejenak. Firman Allah SWT dalam Alqur’an;
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ  الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya,” (QS. Al-Ma’un :4-5).

  • Tafahhum, yakni menghayati semua hal yang dikerjakan dalam salat, baik yang berupa bacaan maupun gerakan anggota badan. Karena di dalamnya tersimpan makna pernyataan kesiapan dan kepasrahan kepada allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ

“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku,” (QS. Thaha :14).

  • Ta’dzim, artinya sikap mengagungkan Allah SWT sebagai Dzat yang disembahnya serta adanya kesadaran secara total bahwa manusia merupakan sesuatu yang sangat kecil dan hina di hadapan-Nya.
  • Khouf wa Roja’, yakni rasa takut hanya kepada Allah SWT disertai dengan harapan untuk selalu mendapatkan rahmat dan rido-Nya.
  • Haya’, yaitu rasa malu kepada Allah SWT karena apa yang dipersembahkan kepada-Nya sama sekali belum sebanding dengan rahmat dan karunia yang telah diberikan-Nya kepada manusia.[6]

Dengan mampu menghadirkan makna dan nilai-nilai ibadah yang menjadi “buah tangan” dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, maka diharapkan akan ada hubungan timbal balik antara ibadah ritual salat dengan sesuatu yang ada di dalamnya. Dan pada gilirannya sesuai dengan berjalannya waktu, semuanya akan dapat menghiasi kehidupan pribadi setiap muslim dan akan membias dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.[] waAllahu A’lam.

__________________

[1] Tafsir At-Thobari, juz 17 hal 333.

[2] [2] ‘Umdah Al-Qori’ ‘Ala Shahih Al-Bukhari, juz 17 hal 20.

[3] Shahih Al-Bukhari, juz 5 hal 52.

[4] Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah, hal 108-109, Maktabah Dar As-Salam.

[5] Fath Al-Bari, Juz 1 hal 465.

[6] Ihya’ Ulumuddin, juz 1 hal 162.

Sosialisasi Pelayanan Kesehatan di Ponpes Lirboyo

Lirboyonet, Kediri-  Sebagai agenda rutin dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman akan kesehatan terhadap masyarakat, pihak Rumah Sakit Umum Lirboyo pada Jum’at sore (14/04) menggelar Sosialisasi Pelayanan Kesehatan dan BPJS Kesehatan di Ponpes Lirboyo. Acara yang dilaksanakan di gedung LBM (Lajnah Bahtsul Masail)  ini dihadiri sekitar 80 santri dan beberapa perwakilan pengurus pondok.

Dalam kesempatan kali ini, sebagai pemateri awal, dr. Ava Adenia Rahmi yang merupakan Direktur Utama RSU Lirboyo mensosialisasikan tentang bahaya Campak. Campak merupakan infeksi virus yang ditandai dengan munculnya ruam di sekujur tubuh. Inveksi ini sangat mudah sekali menular dari para penderitanya. Campak lebih sering menimpa balita, tapi pada dasarnya semua orang bisa terinfeksi virus ini. Komplikasi campak pun sangat berbahaya, mulai dari radang telinga, bronkitis, infeksi paru-paru (Pneumonia), dan infeksi otak (Ensefalitis).

“Maka dari itu, selalu menjaga pola hidup sehat dan menjauhi kebiasaan-kebiasaan buruk yang bisa mengurangi daya tahan tubuh merupakan langkah awal agar terhindar dari Campak,” ujar dr. Ava.

Selanjutnya, dr. Rudi sebagai pemateri kedua maju memaparkan materinya tentang BPJS kesehatan. Dalam kesempatan singkat tersebut, dia menjelaskan akan pentingnya program BPJS Kesehatan. BPJS kesehatan adalah program penjaminan kesehatan yang digagas oleh pemerintah untuk memudahkan masyarakat dalam pelayanan administrasi di instansi kesehatan.

“Bagi santri Ponpes Lirboyo yang sudah mengikuti Program BPJS Kesehatan terbantu dengan kemudahan administrasi di RSU Lirboyo,” ujarnya di akhir materi.

Setelah semua materi selesai disampaikan, diadakan sesi tanya jawab yang berkaitan dengan materi yang telah dipaparkan. Dengan sabar, dr. Ava dan dr. Rudi menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan oleh para peserta. Dan acara ditutup oleh bapak Andre Setiawan sebagai perwakilan dari pengurus pondok. []