All posts by Nasikhun Amin

Bunga Istimewa Hanya Untuk yg Istimewa

Oleh: Bayu Gautama

Bunga adalah simbol kesegaran, keceriaan dan kebahagiaan. Bisa jadi ada makna yang lebih dalam dari penamaan Rasulullah atas putri tercintanya, Fatimah az Zahra, yang mana az Zahra sendiri berarti ‘bunga.’ Tidaklah mengherankan jika Fatimah menjadi anak yang paling disayang dibanding saudara-saudara Fatimah lainnya. Hal itu teriihat dari ungkapan Rasulullah, “Siapa yang membuatnya sedih, berarti juga membuat aku sedih. Dan barang siapa menyenangkannya, berarti menyenangkanku pula.”

‘Bunga’ Fatimah yang tumbuh dan berkembang dalam binaan langsung dari ayahanda Rasul yang baik, lemah lebut dan terpuji menjadikannya seorang gadis yang penuh kelembutan, berwibawa, mencintai kebaikan, plus akhlak terpuji meneladani sang ayah. Maka, tidaklah aneh, bunga yang di-nisbatkan Rasul menjadi wanita penghulu surga itu menjadi primadona di kalangan para sahabat Rasulullah.

Tercatat, beberapa sahabat utama seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab pemah mencoba melamar Fatimah. Hanya saja, sayangnya dengan halus Rasulullah menolak lamaran para sahabat itu. Hingga akhirnya datanglah Ali bin Abi untuk meminang Fatimah.

“Aku mendatangi Rasulullah untuk meminang putri beliau, yaitu Fatimah. Aku berkata: ‘Demi Allah aku tidak memiliki apa-apa, namun aku ingat kebaikan Rasulullah, maka aku beranikan diri untuk meminangnya’.” Akhirnya Rasulullah menerima pinangan Ali meski hanya mempersembahkan baju besi al Khuthaimah (yang juga merupakan pemberian Rasul).

Fatimah adalah bunga yang terpelihara, tidak tanggung-tanggung, yang mendidik, membina, memeliharanya adalah manusia agung nan mulia, Muhammad SAW, yang memiliki segala keterpujian. Bunga yang indah dengan segala keistimewaannya, harus dipelihara dan dijaga oleh orang yang istimewa dan memiliki berbagai kelebihan pula, dalam hal ini Ali bin Abi Thalib. Siapa yang meragukan kapasitas Abu Bakar dan Umar bin Khattab, yang keduanya kemudian berturut-turut menjadi khalifah meneruskan perjuangan kaum muslimin menggantikan Rasul. Lalu kenapa Nabi menolak mereka?

Pertanyaan setanjutnya, kenapa Ali yang hanya bermodalkan baju besi (yang juga pemberian Rasul) menjadi pilihan Rasul untuk mendampingi Fatimah? Meski memang Rasulullah yang paling tahu alasan itu (termasuk juga alasan menolak pinangan dua sahabat yang juga istimewa), namun kita bisa melihat sisi kelebihan dari Ali bin Abi Thalib, pemuda pemberani ini.

Ali adalah lelaki istimewa, masuk dalam as Sabiqunal Awalun (golongan pertama yang masuk Islam) dengan usia termuda. Soal keberanian, jangan pernah menyangsikan lelaki satu ini. Perang Badar yang diikuti seluruh menusia pemberani didikan Rasul, terselip satu lelaki muda yang dengan gagahnya maju ke depan ketika seorang pemuka dan ahli perang kafir menantang untuk duel. Meski awalnya dilecehkan karena dianggap masil kecil, namun Ali dengan kehebatannya mampu mengalahkan musuh duelnya itu. Tidak sampai di situ, Rasulullah tak bisa melupakan jasa besar dan keberanian Ali menggantikan Rasul tidur di pembaringannya saat Rasulullah ditemani Abu Bakar menyelinap ke luar saat hijrah. Padahal, resikonya adalah mati terpenggal oleh bala tentara kafir yang telah mengepungnya.

Tentu masih banyak dan tidak akan cukup tulisan ini untuk mencatat kelebihan Ali yang menjadikannya begitu istimewa. Satu yang bisa kita tangkap secara jelas, bahwa wanita istimewa memang dipersiapkan untuk lelaki istimewa. Seperti halnya, ‘bunga’ Fatimah yang hanya Ali bin Abi Thalib yang diizinkan Rasulullah untuk memetiknya. Oleh karenanya, jangan pernah berharap akan datangnya seseorang istimewa jika tak pernah menjadikan diri ini istimewa. Wallahu a’lam bishshawaab.

Gaji Takmir dari Kas Masjid

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sekarang ini, khususnya di perkotaan banyak sekali masyarakat muslim yang karena kesibukannya/ tidak adanya kemampuan untuk mengurus masjid/ mushola mengangkat seseorang untuk mengurusnya dengan imbalan gaji yang diambilkan dari kas masjid/ mushola. Sedangkan yang harus dikerjakan antara lain mengurus kebersihan masjid/ mushola tersebut, menjadi muadzin, mengimami salat, khutbah, dan hal-hal lain yang masih berhubungan.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah: Bolehkah mengambil gaji dari kas masjid/ mushola dengan pekerjaan di atas? Dan bagaimana menurut pandangan tasawuf, apakah gaji tersebut baik untuk dimakan?

Atas jawabannya kami ucapkan terima kasih teriring do’a,  Jazakumullah ahsanal jaza’.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Ibnu Kosim

Admin – Waalaikumsalam warahmah wabarakah. Terima kasih Kami sampaikan atas kenan singgah Anda pada website Kami.

Dalam perspekstif fikih, status tanah atau bangunan yang sudah diwakafkan untuk dijadikan masjid, musholla, madrasah, pondok, dan lain-lain, merupakan harta yang terlepas dari hak kepemilikan manusia. Artinya, harta tersebut telah berpindah menjadi hak milik Allah. Konsekuensinya tidak dapat diwariskan, dijual, atau diberikan pada siapapun. Dalam metode pengelolaan dan pembelanjaannya (tasharuf), setiap muslim berhak memanfaatkannya sesuai dengan tujuan pewakafan, seperti dibuat salat untuk wakaf masjid, musholla, dibuat sekolah, dan seterusnya.

Sedangkan kekayaan masjid dan musholla yang diwakafkan, seperti uang kas masjid, pola pembelanjaannya dibedakan sesuai dengan sumber dari mana dana tersebut dihasilkan. Secara terperinci dapat dipetakan dalam beberapa perincian sebagai berikut:

  1. Bila kekayaan tersebut dihasilkan dari sedekah dan hibah, maka bentuk pembelanjaannya disesuaikan dengan tujuan pemberi (qosdu al muhdi). Hal tersebut dapat diketahui dari ucapan atau indikasi-indikasi yang ada, seperti melihat tradisi yang umum terlaku di masyarakat. Hal ini dapat berlaku jika dalam tradisi, pemberian itu dimaksudkan untuk kemaslahatan masjid secara umum atau secara khusus, semisal hanya untuk pembangunan saja.
  2. Bila kekayaan itu dari hasil barang-barang yang di wakafkan pada masjid (roi’ul mauquf ‘ala al masjid), seperti kebun yang diwakafkan untuk kepentingan masjid (bukan dijadikan masjid), maka hukumnya dipilah: Pertama, bila kepentingan masjid itu yang dikehendaki mutlak atau untuk meramaikan masjid, maka pembelanjaannya untuk pembangunan masjid, menara, ongkos, dan penjaga masjid. Sedangkan untuk ongkos muadzin dan imam atau biaya beli karpet, lampu, para ulama berbeda pendapat. Kedua, bila yang dikehendaki dengan kepentingan masjid adalah untuk kemaslahatan masjid, maka boleh ditasharufkan untuk semua keperluan di atas dengan kesepakatan para ulama. Dan untuk mengetahui kepentingan ini adalah dengan menyesuaikan kehendak orang yang mewakafkan (waqif) ketika mewakafkan. Namun, apabila waqif memutlakkan kepentingan yang dikehendaki, maka tata cara pembelanjaannya mengikuti tradisi (urfy) yang berlaku, yang pada prinsipnya adalah arah pembelanjaannya lebih mendekati tujuan waqif.

Dengan demikian, uang kas masjid atau mushola boleh digunakan untuk gaji penjaga apabila tidak menyalahi tujuan pemberi atau tujuan waqif yang dapat diketahui dengan ungkapan atau indikasi (qarinah) ketika terjadi pemberian atau pewakafan. Namun yang perlu digaris bawahi adalah bahwa standar gaji yang berhak ia peroleh dari uang kas masjid ditentukan dengan syarat sebagai berikut:

  1. Tidak kaya/ masih membutuhkan.
  2. Menurut Imam Rofi’i, besar gaji diukur sesuai dengan kebutuhan nafkahnya. Sedangkan menurut pendapat Imam Nawawi, setidaknya diukur dengan dua perkara, yaitu biaya nafkah dan ongkos umum sebagai penjaga masjid. Dan pendapat inilah yang dinilai paling ihthiyat (hati-hati).

Walllahu a’lam bisshowab. Untuk referensi bisa dilihat pada al Syarwani Juz VI, I’anah at Thalibin Juz III, dan al Mahalli Juz III.

Pemenjaraan Nafsu

Oleh: Radhi Radliyuddin

Perilaku kehidupan dari segala macam bentuk anarkisme, seks, kriminal, dan lain sebagainya adalah wujud konkret yang serta merta bisa menghancurkan nilai-nilai etis manusia. Keadaan yang kian bergerak ke arah “Penghancuran diri sendiri” semakin jelas. Tindakan-tindakan manusia menjadi sebuah menu wajib informasi setiap hari. Di lain hal, perilaku alam yang semakin lincah terus memporakporandakan tempat kehidupan manusia, bencana merajalela tanpa mengenal siapa dan kepada siapa.

Kejadian semacam itu, memang tidak bisa dipungkiri lagi oleh siapa pun. Namun bagaimanapun fakta normatif selalu ada. Bahwa manusia adalah makhluk Allah Swt. yang butuh pembuktian. Siklus waktu telah mengundang dan mengajak kita pada perwujudan bagaimana wahana spiritual paling berharga bagi setiap muslim dapat melakukan pembongkaran atas penjara-penjara nafsu yang mengungkung dirinya menuju manusia yang tercerahkan dalam kesejatian diri untuk mengalahkan dominasi nafsu keduniaan yang secara representatif (gambaran) dilambangkan dalam aktivitas sehari-hari, semisal makan, minum, melihat, ucapan, dan pemenuhan nafsu biologis, adalah merupakan suatu proses jihad yang akbar.

Perjuangan besar muslim untuk bertempur melawan nafsu yang bercokol dalam dirinya akan terus tercampuri oleh sikap normatif (umum) yang dapat digambarkan pada seekor kuda. Jangan terlalu dikekang, jangan pula dilepaskan. Nafsu hanya perlu dikendalikan dengan dorongan keimanan yang kuat. Dengan begitu akan lebih leluasa untuk melatih kembali ‘kuda’ nafsu kita, sehingga bergerak harmonis sesuai dengan qudrah- iradah Allah SWT.

Kini, ketika dunia keislaman tercabik-cabik oleh mega proyek rehumanisasi (ketidak harmonisan) global, terlebih lagi dalam beberapa kasus yang belum lama ini terjadi, seluruh umat Islam telah menjadi korbannya. Langsung atau tidak langsung telah terjadi skenario atau rekayasa global penjerumusan umat muslim dari moral keimanan.

Menyikapi kedaan demikian itu, selayaknya umat Islam dapat menjadikan insitusi kepekaannya, sebagai upaya melakukan rehumanisasi kehidupan dari hiruk pikuk modernitas. Yakni, bagaimana mengembahkan jati diri manusia modern menuju watak dasar dirinya (fitrah) sebagai insan kamil, insan yang mengenali kesejahteraan dirinya tanpa terpancing dari penyudutan rumor yang ada. Mengenali Tuhan yangmenciptakannya, memahami semesta alam tempat dirinya bergumul dalam tata kehidupannya merupakan pemecahan jalan terbaik.

Entrypoint melakukan rehumanisasi inilah bisa dimulai dari diri seorang muslim, baik secara individual ataupun kolektif. Sehingga terjadi proses transformasi (kemurnian), dalam berbagai dimensi kehidupan, sebagai upaya untuk melakukan harmoni kemanusiaan. Maka dengan sendirinya pemenuhan nafsu dapat terkendali.

Tidakm munutup kemungkinan pemaknaan dan pengekangan nafsu dalam proses rehumanisasi ini akan terwujud ketakwaan yang harmoni terhadap manusia. Dengan begitu, bisa dijadikan wahana bagi usaha membangun solidaritas kemanusiaan yang harmoni dan damai tanpa ada sekat-sekat yang dapat meruntuhkan persaudaraan serta hubungan seorang insan dihadapan Tuhannya.

Manusia adalah makhluk Allah SWT. yang paling mulia, juga sarat kontradiksi dalam dirinya, ketimbang makhluk Allah yang lain. Sebab, dalam diri seorang manusia terdapat dua ‘kutub’ yang saling berlawanan, yakni ‘kutub’ suci dan ‘kutub’ kehinaan. Alquran menunjuk dua ‘kutub’ itu dalam potensi ‘futur’ yang cenderung pada kejahatan, atau potensi takwa yang cenderung pada kebaikan dan kesucian (QS. As Syams: 7-8)

‘Kutub’ kesucian secara historis dilambangkan oleh kehadiran Habil, putra Adam yang kemudian menjadi korban ‘kutub’ kehinaan yang dilambangkan oleh saudaranya, Qabil dan generasi Qabil lainnya. Sedangkan pada ‘kutub’ kehinaan, manusia secara destruktif memiliki naluri untuk menumpahkan darah, permusuhan, dan anarkisme.

Nafsu merebut, memburu, merampas, serta membunuh. Belakangan ternyata bukan sekedar usaha bertahan dan menjadi pemenang dalam persaingan hidup dari semua kepuasan dirinya, sehingga manusia tidak akan pernah berhenti saling berebut sampai ajal memisahkan dirinya. (QS. At-Takasur i 1-2)

Karena itu, manusia berada di antara empat penjara yang mengungkung dirinya, yakni alam, sejarah, masyarakat, dan egonya. Dan perjuangan melawan ego inilah yang paling berat dalam perjuangan seorang anak manusia. Manusia memiliki kemampuan untuk membebaskan diri dari kungkungan alam, sejarah, dan masyarakat. Namun, acap kali gagal dalam menaklukan dirinya sendiri. Akibatnya, timbul malapetaka kemanusiaan, di mana manusia modern sebagai generasi selanjutnya kini berada dalam situasi penindasan, pemusnahan, dan menjadi korban tangannya sendiri. Sebaliknya, kemampuan untuk memerangi egonya, yang berarti mampu meredam potensi kesucian yang terpendam dalam dirinya, dia adalah manusia dalam wujud sebagai insan.

Sedangkan secara ekstrinsik (keunsuran), harmoni manusia dapat diaktualisasikan oleh muslim yang mampu mengendalikan hawa nafsu dalam wujud keshalihan sosial dari hubungan kemasyarakatan di berbagai aspek kehidupan. Sikap toleran, welas-asih, empati, senasib sepenanggungan, pemaaf, suka damai, dan adil, merupakan wujud dari makna fungsional pengekangan nafsu dalam kehidupan bermuamalah (sosialisasi).

Maka hubungan sosial yang kebablasan itu, telah masuk dalam koridor pengadatan sikap dalam diri seorang manusia dan tidak menutup kemungkinan kebejatan moral akan terpampang, sehingga tidak akan ada pengendali yang bisa mengerem laju keinginan diantar manusia.

Jika pemenjaran nafsu ini menjadi sebuah suplemen hidup seorang manusia, maka dalam diri seorang insan benar-benar telah terpancar media vertikal antara sang abid & Sang Khaliq, Allah SWT. melalui pembuktian perubahan hidup.[

Salatnya Laki-laki yang Lututnya Terbuka

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya punya beberapa permasalahan tentang aurat dalam salat, baik bagi pria maupun wanita.
1. Adakah perbedaan definisi wajah wanita saat wudhu dan salat?
2. Bagaimana salatnya laki-laki yang terlihat bagian atas lututnya dari belakang saat sujud?
Sekian pertanyaan saya, semoga berkenan dijawab dengan tuntas.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Rohim

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Admin – Pak Rahim yang semoga saja dimuliakan Allah. Kalau kita melihat dalil yang mewajibkan membasuh wajah di dalam wudlu yang disebutkan Allah Swt. dalam firman-Nya di QS. Al-Maidah ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْن

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki…”

Di sana tidak dijelaskan batas wajah yang harus dibasuh, hanya umum yang berarti semua wajah. Demikian pula dalam hal salat yang disebutkan dalam hadis riwayat Hakim dan menetapi syaratnya Sahih Muslim dan disahihkan Ibnu Humaizah.

 قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ . رواه الحاكم وقالا أنه على شرط مسلم ورواه أيضا الخمسة وصححه ابن خزيمة عن عائشة

“Wahai Asma’, sesungguhnya ketika perempuan itu sedang mengalami menstruasi, tidak patut melihat dirinya kecuali ini dan ini (dan Nabi memberi isyarat ke wajah dan telapak tangan)”

Hadis tersebut pun tidak memberi batasan wajah. Hanya memerintahkan menutup semua kepala. Dan dalam konteks ushul fiqh ditegaskan, manakala ada lafad syari’at yang masih mujmal (umum), maka harus diartikan dengan makna syari’at itu pula. Sebagaimana salat yang disebutkan dalam firman Allah:
أَقِيمُوا الصَّلَاةَmaka haruslah diartikan dengan makna syara’, yaitu sebagaimana hadis صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
Jika syara’ tidak menyebutkan, maka harus diartikan menurut bahasa, sebagaimana لا ريب diartikan dengan لا شكّ.

Tetapi apabila syara’ tidak menyebutkan, dari bahasa juga tidak pernah memberi batasan makna, maka harus diartikan dengan makna urfy (makna yang patut menurut penilaian orang-orang yang sempurna akalnya), sebagaimana pernyataan bahwa imam dan makmum harus dekat, dengan arti satu tempat. Syara’ tidak memberi batas berapa meter pengertian jauh dekat. Demikian pula bahasa, maka dikembalikan pada umumnya kepantasan jarak disebut dengan dekat atau jauh, sesuai dengan keputusan yang ditetapkan orang yang mempunyai akal yang sampurna.

Mengingat arti wajah baik di dalam wudlu atau salat dan lain-lainnya tidak pernah tersentuh oleh batasan syara’, maka kita kembalikan dengan batasan bahasa, yaitu dari sisi panjang antara tempat tumbuhnya rambut kepala yang wajar dengan tulang rahang, lebarnya antara telinga satu dengan lainnya. Tanpa membedakan antara wajah yang ada pada wudlu dan salat. Hanya saja, di dalam basuhan wudlu harus membasuh sebagian kepala yang menjadi kesempurnaan basuhan wajah. Sedangkan menutup kepala harus menutup sebagian wajah yang menj adi penyempurna tertutupnya kepala.

Untuk permasalahan terlihatnya kaki seorang laki-laki di atas lutut karena sedang sujud, menurut pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan, itu tidak membahayakan. Karena hal tersebut dianggap terlihat dari bawah, walau realitanya dari belakang. Yang dikehendaki dari bawah adalah bawah yang menjadi batas akhir aurat. Dan sebaliknya, walau terlihat dari bawah, namun bukan dari batas akhir aurat, seperti ketika seorang perempuan memakai rukuh potong kemudian terlihat dari sela-sela potongan dari arah bawah, tetap tidak sah karena dihukumi dari samping. Sebagaimana yang diterangkan dalam Bughyatul Mustarsyidin, Fiqh Islam, dan Bajuri.