All posts by Nasikhun Amin

Pengkafiran Merusak Akidah dan Persatuan

Oleh: Darul Azka

Sebuah bencana besar mengancam eksistensi kehidupan muslimin di muka bumi. Radikalisme dan ekstrimisme diusung oleh kelompok-kelompok garis keras dengan dalih membela agama Islam. Pengkafiran terjadi di mana-mana memengaruhi mental umat Islam menjadi semakin ‘berangasan’ dan seolah-olah tidak ada jalan lain selain paksaan dan kekerasan. Mungkin inilah akibatnya ketika agama diubah menjadi ideologi.

Hal ini mengaburkan penilaian benar dan salah di tengah-tengah umat. Banyak sudah umat muslim semakin tidak mengerti dan memahami persoalan-persoalan prinsip terkait dengan bagaimana menetapkan parameter penilai kekafiran seorang muslim, hingga divonis benar-benar sudah keluar dari lingkaran agama Islam. Yang lazim kita saksikan, mereka terburu-buru menilai ‘kafir’ terhadap golongan lain yang tidak seideologi dan sejalan dengan perjuangan mereka. Hingga mungkin di muka bumi ini hanya segelintir umat Islam yang tersisa yang luput dari pengkafiran mereka.

Bisa jadi mungkin mereka memiliki tujuan terpuji, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Namun secara tidak sadar mereka telah mengaburkan sesuatu yang esensial dalam pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar, yakni sikap santun, nesehat baik (mau’idzah hasanah), dan kearifan beradu argumentasi (mujadalah bi al lati hiya ahsan). Allah berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ…الآية النحل ١٢٥

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”

Sungguh ironis, manakala seorang muslim mengajak saudara seagamanya yang tekun beribadah, konsisten menjalankan fardlu, menjauhi larangan, memiliki etos dakwah, banyak hadir di masjid dan giat berjuang dalam dunia pendidikan, dan ajakan tersebut ditolak karena perbedaan pandangan dalam konteks masalah khilafiyah, kemudian dengan semena-mena dia menjatuhkan vonis kafir terhadap saudara seagamanya. Hal seperti inilah yang justru membahayakan dan merusak agama Islam dari dalam.

Al Imam as Sayyid Ahmad al Haddad mengatakan, “Ulama telah menyepakati larangan mengkafirkan Ahli Kiblat, kecuali atas mereka yang mengingkari Allah SWT., melakukan kemusyrikan yang jelas tanpa bisa di-ta’wil, mengingkari kenabian dan persoalan agama yang lazim difahami, atau mengingkari sesuatu yang mutawatir (informasi otoritatif) dan disepakati secara dlaruri (mesti)”. Contoh persoalan agama yang lazim dipahami sebagaimana tauhid, kenabian, akhir risalah bagi Nabi Muhammad SAW., bangkit di hari akhir, perhitungan dan pembalasan amal, serta surga dan neraka, Semua ini mengakibatkan hukum kafir bagi siapapun yang mengingkari, dan tidak ada toleransi bagi yang tidak mengetahuinya, kecuali mereka yang baru masuk Islam hingga mendapatkan pendidikan akidah yang memadai. Mutawatir adalah informasi (khabar) yang diriwayatkan segolongan pe-rawi dari golongan di atasnya, dimana kredibilitas mereka menjadi jaminan terbebas dari kebohongan kolektif.

Mutawatir memiliki beberapa klasifikasi. Pertama, mutawatir secara sanad, sebagaimana hadis:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَالْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa membohongi dengan sengaja, maka akan ia ambil bagian tempatnya di neraka.”

Kedua, mutawatir secara strata (thabaqat), sebagaimana ke-mutawatir-an Alquran. Dalam hal ini tingkat ke-mutawatir-annya sudah meluas di tengah umat, mulai dari bangsa timur sampai barat, dirasah, serta hafalannya. Alquran telah diajarkan dari umat ke umat dari tingkat ke tingkat yang lain, sehingga tidak lagi membutuhkan sanad.

Ketiga, mutawatir secara pengamalan dari generasi ke generasi, sebagaimana mutawatir-nya sebuah amaliyah semenjak masa Nabi hingga masa saat ini. Keempat, mutawatir secara pemahaman, sebagaimana mutawatir-nya mukjizat, meskipun sebagian berdasarkan dalil ahad (informasi non otoritatif), namun secara umum hal tersebut dinilai mutawatir atas dasar pemahaman setiap muslim.

Memvonis seorang muslim dalam konteks selain yang tersebut di atas, jelas membahayakan akidah. Dalam hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah disebutkan:

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِأَخِيْهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

“Ketika seseorang mengatakan kepada saudaranya (yang muslim), ‘Hai Kafir,’ maka dengan ucapan itu dosanya akan kembali kepada salah satunya.”

Dan vonis kafir tidak diperkenankan keluar selain dari mereka yang memahami pintu-pintu masuk (madakhil) dan keluar (makharij) dari hukum kafir, serta mampu memilah garis pembeda (al Hudud al Fashilah) antara kekafiran dan keimanan melalui pedoman syariat. Setiap individu dilarang keras masuk dalam wilayah ini dan melakukan pengkafiran membabibuta hanya dengan bermodalkan persangkaan dan dugaan, tanpa kemantapan dan ilmu yang memadai. Karena apabila ‘kran pengkafiran’ semacam ini dibuka, akan terjadi gelombang pengkafiran besar-besaran dan serba tidak jelas, hingga tidak tersisa lagi sosok muslim sejati di muka bumi kecuali hanya segelintir orang saja.

Termasuk bagian yang dilarang agama adalah mengkafirkan seseorang dikarenakan perbuatan maksiatnya, padahal di sisi lain dia tergolong beriman dan mengikrarkan syahadat. Dalam hadis riwayat Abu Dawud dari Anas disebutkan:

ثَلَاثٌ مِنْ أَصْلِ الْإِيمَانِ: الْكَفُّ عَمَّنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ لَا تُكَفِّرْهُ بِذَنْبٍ، وَلَا تُخْرِجْهُ مِنَ الْإِسْلَامِ بِعَمَلٍ، وَالْجِهَادُ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَنِي اللهُ إِلَى أَنْ يُقَاتِلَ آخِرُ أُمَّتِي الدَّجَّالَ، لَا يُبْطِلُهُ جَوْرُ جَائِرٍ، وَلَا عَدْلُ عَادِلٍ وَالْإِيمَانُ بِالْأَقْدَارِ

“Tiga perkara dari pokok keimanan, (pertama) menjaga orang yang telah mengucapkan ‘laa ilaha illallah’, kami tidak akan mengkafirkannya sebab dosa, dan tidak kami keluarkan dari Islam sebab perbuatan maksiat. (Yang kedua) Meyakini bahwa jihad adalah berlangsung hukumnya semenjak Allah mengutusku sampai nanti akhir umatku memerangi Dajjal, dan (hukum fardlunya) tidak akan batal sebab kezaliman pemerintah atau adilnya mereka. Dan (yang ketiga) beriman pada takdir-takdir.”

Imam Haramain mengatakan: “Seandainya saja ada seseorang memintaku mengungkapkan pemilahan antara kriteria persoalan yang mengakibatkan kekafiran dan yang tidak, pastilah aku akan menjawab bahwa hal itu adalah harapan yang sulit terwujud. Karena persoalan ini sangat rumit dan harus digali dari dasar-dasar tauhid. Mereka yang belum mencapai puncak hakikat, tidak akan pernah mendapatkan dalil yang mantap.”

Sudah sepantasnya semua pihak merenungkan kembali semua persoalan di atas. Harus disadari bahwa pengkafiran bukan barang dagangan yang bisa dijual murah dan diteriakkan di sembarang tempat. Bisa jadi Anda berteriak lantang ‘kafir’, namun justru hakikatnya Andalah orang pertama yang dicatat sebagai ‘pendusta’ oleh Allah SWT. Na’udzu billah min dzalik

Mengenal Orang Lain, Tak Mengenal Diri Sendiri

Oleh: Imam Rosyikhin

Ketika seseorang bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang Karim?” Dengan mudah kita menjawab, “Dia itu pendiam, mudah marah, pelit, dan sombong.” Jika orang itu bertanya lagi, “Kalau Rahman bagaimana?” Dengan mudah pula kita menjawab, “Dia itu pintar, ganteng tapi sayang, dia miskin dan kurang pede, kecil hati lagi.”

Setiap kali ditanya tentang kepribadian seseorang, tak perlu berpikir panjang, memeras otak, sangat mudah bagi kita menjawabnya. Menilai karakter orang lain, membaca kepribadian orang lain, dan lain sebagainya.

Namun, pernahkah Anda ditanya tentang kepribadian Anda sendiri, tentang karakter Anda sendiri? Bagaimana Anda menjawabnya? Mudahkah Anda menjawab pertanyaan itu? Tentunya tidak mudah bagi Anda menjawab pertanyaan itu. Tak semudah ketika Anda ditanya tentang kepribadian orang lain.

Kalau kita pikir, aneh juga sebenarnya. Begitu mudah kita mengenal kepribadian orang lain, namun kita justru kesulitan, kerepotan mengenal kepribadian kita sendiri. Benar peribahasa mengatakan, “Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.”

Memang, bukan berarti menilai orang lain itu adalah hal yang salah, yang dilarang agama. Bahkan, kadang kita diharuskan menilai kepribadian orang lain. Seperti saat kita akan melamar seorang wanita untuk menjadikannya istri, memilih seorang pemimpin, atau menjalin relasi kerja. Dalam keadaan seperti ini jika kita tidak melakukan penilaian terlebih dahulu, bisa berakibat fatal. Namun jika penilaian kita melebihi porsi semestinya, kita akan kebablasan punya hobi menilai orang lain sementara kita lupa menilai diri kita sendiri.

Bagaimana Mengenal Diri Sendiri?

Rasulullah SAW. bersabda, “Orang pandai adalah orang yang bisa menilai dirinya sendiri (introspeksi diri) dan melakukan tindakan yang berguna untuk bekal kehidupan setelah mati.”

Dalam sabdanya, Rasulullah SAW. memuji orang yang mau introspeksi diri dengan menyebutnya sebagai orang yang cerdas. Mengapa? Hal ini dikarenakan konsekuensi dari pengenalan diri sangat besar manfaatnya bagi perjalanan kehidupan seseorang. Meraih sukses dan kebahagiaan hidup. Dengan mengenali diri, seseorang dapat melakukan perubahan besar dalam hidupnya, mengatur langkah-langkah menggapai asa.

Kita bisa belajar mengenal diri sendiri dengan cara:

  1. Tulis minimal tiga karakter baik dalam diri kita, seperti sifat dermawan, memiliki jiwa kepemimpinan, pemaaf, mudah bergaul dan lain sebagainya. Gali dan cari setiap kelebihan yang ada dalam diri kita.
  2. Tulis pula minimal tiga karakter buruk yang kita miliki, seperti sombong, pemarah, pesimistis, mudah terpengaruh, dan lain-lain. Semakin banyak kita menuliskan karakter dalam diri kita, semakin maksimal pula pengenalan terhadap diri kita.
  3. Setelah mambaca karakter dalam diri sendiri (baik maupun buruk), berarti kita telah mengenal diri kita. Selanjutnya, pikirkan bagaimana agar kita dapat mengembangkan karakter baik dan kelebihan yang dimiliki. Pikirkan pula bagaimana agar kita dapat meminimalisir atau bahkan menghapus kekurangan dan karakter buruk yang ada dalam diri kita.

Dengan demikian, kita benar-benar telah mengenal siapa diri kita dan apa yang harus kita lakukan demi menggapai asa dan cita-cita hidup. Satu hal yang tak boleh dilupakan, perjalanan hidup kita telah diatur Yang Maha Kuasa. Apa yang kita lakukan hanya sebatas usaha merubah diri kita menuju kehidupan yang lebih baik, bukti ketaatan kita melaksanakan perintah-Nya. Sebagaimana firman Allah, “Allah tidak merubah nasib suatu kaum jika mereka sendiri tak merubahnya.”

Dengan mengenali diri, kita juga dapat lebih mengenal Tuhan dan mendekat pada-Nya. Sebab, kita dapat menyadari bahwa kita hanyalah hamba yang lemah dengan berbagai kekurangan, yang selalu membutuhkan belas kasih Yang Maha Kuasa. Rasulullah SAW. bersabda, “Barang siapa dapat mengenal dirinya, maka ia akan dapat mengenal Tuhannya.”

Tuntunan di Bulan Muharram

Bulan Muharram adalah satu dari empat bulan yang dimuliakan oleh Allah. Banyak sekali ibadah yang pahalanya dilipatkan pada bulan ini. Seperti halnya keterangan yang mengatakan barang siapa membaca doa awal tahun sebanyak tiga kali, maka setan-setan akan putus asa dan berkata: “Anak Adam itu akan aman, sebab membaca doa awal tahun. Karena Allah SWT mengutus wakil kepada dua malaikat untuk menjaga orang tadi, jangan sampai digoda setan selama satu tahun.”

Selain doa awal dan akhir tahun tersebut, kita juga bisa melakukan salat sunnah mutlak dua rakaat pada akhir hari bulan Dzulhijjah. Pada masing-masing rakaat membaca ayat kursi sebanyak 100x dan surat al Ikhlash sebanyak 25x dengan niat salat:

أُصَلِّيْ سُنَّةً رَكْعَتَيْنِ للهِ تَعَالَى

Setelah melakukan salat, berdoa akhir dan awal tahun, kita juga bisa melaksanakan puasa pada hari Jumat pertama bulan Muharram. Setelah itu bisa pula meneruskan dengan puasa berturut-turut selama 10 hari. Dalam sebuah riwayat dikatakan, “Barang siapa puasa 10 hari (tanggal 1 sampai dengan 10) pada bulan Muharram, maka orang tadi diwarisi Surga Firdaus yang paling atas.”

Terkait puasa pada bulan Muharram ini, banyak sekali keterangan yang mengabarkan tentang betapa istimewanya pahala puasa pada bulan ini. Diantara keterangan yang mengatakan, “Barang siapa puasa 3 hari (Kamis, Jumat, Sabtu) pada bulan Muharram, maka Allah SWT mencatat orang tadi ibadah selama 900 tahun.” Atau juga, “Barang siapa puasa 2 hari (akhir tahun dan awal tahun) dengan niatnya:

نَوَيْتُ صَوْمَ آخِرِ / أَوَّلِ السَّنَةِ سُنَّةً للهِ تَعَالَى

Berarti mengakhiri tahun dengan puasa dan mengawali tahun dengan puasa. Maka orang tadi diampuni dosanya selama 50 tahun.” Ada pula, “Barang siapa puasa pada hari Kamis pertama bulan Muharram. Niatnya:

نَوَيْتُ صَوْمَ أَوَّلِ يَوْمِ الْخَمِيْسِ مِنْ شَهْرِ الْمُحَرَّمِ سُنَّةً للهِ تَعَالَى

Maka orang tadi diharamkan masuk Neraka.” Juga keistimewaan puasa 3 hari pada tanggal (9, 10, 11) pada bulan Muharram, “Suatu hari ketika Nabi SAW berjalan di Kota Madinah, Beliau akhirnya sampai disebuah perkampungan Yahudi. Nabi SAW istirahat di sana dan kebetulan pada hari itu orang-orang Yahudi sedang berpuasa. Lantas Nabi SAW bertanya, ‘Ini hari apa? kenapa kalian berpuasa?’ Orang Yahudi menjawab, ‘Ini hari Asyura, tanggal 10 Muharram. Hari selamatnya sayyidina Musa AS dan tenggelamnya Fir’aun. Nabi Musa AS pada hari ini berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. Maka dari itu kita semua puasa.’ Kemudian Nabi Muhammad SAW berkata, ‘Saya lebih berhak dan lebih patut menghidupkan syariatnya saudaraku, Musa AS.’ Lantas Nabi SAW memerintahkan kepada semua orang mu’min untuk berpuasa’.”

Pada tanggal 10 Muharraam sendiri, kita selayaknya memperbanyak ibadah, seperti:

  1. Ibadah bangun malam hari Asyura (tanggal 10 Muharram), pahalanya seperti ibadahnya ahli langit dan ahli bumi.
  2. Puasa tanggal 10 Muharram, pahalanya seperti puasa setahun dan sama seperti puasanya para Nabi AS.
  3. Mandi (serta keramas) pada hari Asyura, maka tidak akan didekati penyakit selama satu tahun, kecuali penyakit yang menyebabkan kematian. Dengan niat: نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِدَفْعِ الْبَلَايَا سُنَّةً للهِ تَعَالَى 
  4. Mengusap kepalanya anak yatim (membuat anak yatim senang, memberi sesuatu), pahalanya seperti mengusap anak yatim sedunia dan akan diangkat derajatnya menurut jumlah rambut anak yatim tersebut nanti di surga. Doa mengusap kepala anak yatim:
    اللهم اغْفِرْلِيْ خَطِيْأَتِيْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
  5. Memberi sesuatu kepada seseorang yang akan berbuka puasa pada hari Asyura, pahalanya seperti membuat kenyang semua umat manusia.
  6. Menengok satu orang sakit, pahalanya seperti menengok orang sakit sedunia.
  7. Salat 4 raka’at, setiap raka’at sesudah membaca surat al Fatihah, membaca surat Al Ikhlash 11x, maka akan diampuni dosanya selama 50 tahun (dilakukan pada waktu Dhuha) dengan niat sholat sunah mutlak.
  8. Memakai sibak pada hari Asyura, maka tidak akan terkena sakit mata.
  9. Melebihkan nafkah kepada keluarga dari hari biasanya, maka akan diberikan rizqi yang mudah, dilapangkan rizqinya selama satu tahun tersebut dan juga akan diberi kenikmataan.
  10. Berpuasa pada hari Asyura akan diberi pahala 10.000 orang mati syahid, 10.000 malaikat dan 10.000 orang yang haji dan umrah.

Selain kesepuluh keterangan di atas, tentu masih banyak lagi keterangan lain, yang pada intinya betapa mulianya jika kita bisa beribadah pada bulan ini. Mudah-mudahan kita diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk terus mendekat kepadaNya, terus bisa melestarikan tuntunan para ulama yang akhir-akhir ini semakin dipertanyakan kebenarannya oleh sebagian kelompok. Amin ya rabbal alamian…

Bekal Menjaga Orang Sakit

Sesama makhluk Allah di bumi ini, kita dianjurkan untuk saling tolong menolong. Terlebih dengan saudara sesama muslim kita. Banyak anjuran yang disabdakan Rasul tentang tolong menolong, hal-hal yang harus diperhatikan terkait hak dan kewajiban tetangga, hingga soal menjenguk saudara atau tetangga kita yang kebetulan sedang sakit. Dan apabila nampak tanda-tanda ajal sudah tiba kepadanya, sebagai orang yang menungguinya kisa disunnahkan untuk melakukan beberapa hal.

Pertama, membaringkan muhtadlir (orang yang sedang mengalami sakaratul maut) pada lambung sebelah kanan untuk menghadapkannya ke arah kiblat. Jika tidak memungkinkan, semisal karena tempatnya terlalu sempit atau ada semacam gangguan pada lambung kanannya, maka dibaringkan pada lambung sebelah kiri. Dan jika masih tidak memungkinkan, maka ditidur lentangkan menghadap kiblat dengan memberi ganjalan di bawah kepala agar wajahnya bisa lurus menghadap kiblat.

Kedua, membaca surat Yasin dengan agak keras dan surat al Ra’dlu dengan suara yang pelan. Faidah pembacaan surat-surat ini -kata al Qulyubi-, adalah mempermudah keluarnya ruh, disamping ada sebuah hadis yang menjelaskan: “Ia akan mati, masuk dan bangkit dari alam kubur dalam keadaan segar bugar.” Dalam Nihayah az Zain, Syaikh Nawawi al Jawy menambahkan, jika tidak mungkin membaca keduanya, maka surat yang dibaca disesuaikan dengan keadaan muhtadlir. Yakni apabila masih ada kesadaran dalam diri muhtadlir, maka surat Yasin lah yang dibaca. Dan jika sudah tidak ada, maka yang dibaca adalah surat al Ra’du, karena surat ini berfaidah mempermudah keluarnya ruh.

Ketiga, menalqin (mengajar, memahamkan dengan lisan) dengan kalimat tahlil (laa ilaha illallah) secara santun (lembut), tidak menampakkan kesan memaksa. Semisal, mulaqqin (orang yang menalqin) berada disampingnya mengingatkan dengan ucapan: “Dzikir kepada Allah itu amat diberkahi,” atau mengajak hadirin dzikir bersama. Dalam talqin-nya, mulaqqin tidak perlu menambahkan lafad Asyhadu, kecuali muhtadlir bukan seorang mukmin, dan ada harapan ia masuk Islam, maka talqin-nya disamping harus mencantumkan kata (lafad) tersebut juga harus disempurnakan menjadi dua kalimat syahadat, agar ia meninggal dalam keadaan Islam. Talqin ini tidak perlu diulang jika muhtadlir telah mampu mengucapkannya, selama ia tidak berbicara lagi (dan menurut kebanyakan ulama, walaupun ia berbicara mengenai hal-hal yang berkenaan dengan akhirat). Karena tujuan penalqinan ini agar kalimat tahlil menjadi penutup ucapan yang keluar dari mulutnya. Rasulullah bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَآ إله إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang dalam akhir ucapannya (sebelum meninggal) berucap laa ilaha illallah, niscaya dia akan masuk surga.”

Namun menurut al Shomiri -kata ‘Umairah di dalam kitabnya-, talqin tidak perlu diulang, asalkan yang diucapkan muhtadlir bukan persoalan duniawi, ucapan tasbih misalnya. Bahkan di dalam kitab Khadim ditegaskan bahwa talqin tidak harus memakai kalimat tahlil. Bisa kalimat apa saja, yang penting esensinya menunjukkan makna ketauhidan.

Dan keempat, disunnahkan memberi minum. Lebih-lebih jika nampak gejala ia menginginkannya. Karena dalam kondisi seperti itu, setan bisa saja menawarkan minuman yang akan ditukar dengan keimanannya.

Kemudian setelah muhtadhir menemui ajalnya,  seperti ada tanda-tanda mengendornya telapak tangan dan kaki, cekungnya pelipis, dan hidung yang nampak lemas, orang yang menungguinya juga sunnah melakukan beberapa hal. Pertama, memejamkan kedua matanya seraya membaca:

بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ الله. اللهم يَسِّرْ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَسَهِّلْ عَلَيْهِ مَا بَعْدَهُ وَأَسْعِدْهُ بِلِقَائِكَ، وَاجْعَلْ مَا خَرَجَ إِلَيْهِ خَيْرًا مِمَّا خَرَجَ عَنْهُ. اللهم اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّيْنَ وَاخْلُفْهُ فِيْ عَقِبِهِ الْغَابِرِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ وَافْسَحْ لَهُ فِيْ قَبْرِهِ ونور له فيه

Jika sampai terlambat hingga kedua matanya tidak bisa dipejamkan, maka cara memejamkannya dengan menarik kedua lengan serta kedua ibu jari kakinya secara bersamaan. Dengan cara ini niscaya kedua mata tersebut akan terpejam dengan sendirinya.

Kedua, mengikat rahangnya ke atas kepala dengan memakai kain yang agak lebar agar mulutnya tidak terbuka. Lalu ketiga, melemaskan sendi-sendi tulangnya dengan melipat tangan ke siku, lutut ke paha, dan paha ke perut. Setelah selesai maka mayat dibujurkan kembali, baru kemudian jari-jari tangannya dilemaskan. Jika agak Terlambat hingga tubuhnya menjadi kaku, maka sunnah dilemaskan memakai minyak. Hikmah dari pelemasan ini agar mempermudah proses pemandian dan pengafanannya.

Keempat adalah melepaskan pakaiannya secara perlahan. Setelah selesai menanggalkan pakaiannya, jenazah kemudian disedekapkan, pakaiannya diganti dengan kain tipis yang ujung-ujungnya diselipkan di bawah kepala dan kedua kakinya (menutupi semua tubuh). Kecuaji jika ia sedang menunaikan ibadah Ihram, maka kepalanya harus dibiarkan terbuka.

Kelima, meletakkan beban seberat 20 dirham (20gr x 2,75gr = 54,3 gram) atau secukupnya di atas perut jenazah dengan dibujurkan dan diikat agar perutnya tidak membesar. Kemudian menaburkan wewangian di sekitar tempatnya. Hal itu dilakukan guna minghindari bau yang keluar dari tubuhnya. Sunnah juga diletakkan di tempat yang agak tinggi agar tidak tersentuh kelembaban tanah yang bisa mengakibatkan jasadnya cepat rusak.

Dan terakhir, membebaskan segala tanggungan hutang atau lainnya. Jika tidak mungkin dilakukan pada saat itu, maka ahli warisnya segera malakukan akad Hawalah (pelimpahan tanggungan hutang) dengan orang-orang yang bersangkutan. Dan sunah bagi mereka menerima tawaran tersebut.

Begitulah. Semoga hal ini bisa menjadi bekal kita saat menjaga orang sakit. Dan semoga kita juga selalu menyadari bahwa hukum alam itu pasti. Ketika kita bisa memuliakan seseorang sampai dia meninggalkan dunia ini, kami kira kita juga bakal dimuliakan oleh orang-orang sekitar saat kita meninggal nanti.

Jawa dalam Agama dan Budaya

Oleh: Rangga Dusy

Sebagian besar orang Jawa berusaha menyelaraskan berbagai konsep pandangan leluhurnya dengan tata cara yang diajarkan Islam. Hal ini bisa dilihat dari penyaduran orang Jawa dengan alam kodrati (dunia fana) dan alam adi kodrati (alam gaib), sehingga lahirlah ritual ruwatan Jawi-Islami yang mengusung konsep Islami namun tetap dibumbui tradisi dan adat Jawa. Seperti halnya larung (sesaji yang biasa dipersembahkan di laut atau sungai-sungai besar), kendhuri atau selamatan (melakukan doa bersama dan bersedekah sebagai ungkapan rasa syukur atau agar diberi keselamatan), dan sebagainya.

Jauh sebelum agama-agama masuk ke Jawa, sebenarnya orang Jawa sudah mengenal dan berkeyakinan bahwa ada seseorang atau sesuatu yang menjadikan dan mengatur alam serta seisinya yang layak untuk dijadikan Tuhan. Sehingga ketika agama-agama baru masuk ke Jawa, tak pernah sedikitpun terjadi bentrokan yang disebabkan dari penolakan masuknya agama tersebut. Karena sudah menjadi tabiat orang Jawa dulu, mereka tak pernah berpikir tentang imbas akulturasi ataupun asimilasi.

Begitu pula yang terjadi pada orang Jawa pra-agama. Dari pengembaraan mereka mencari kebenaran Sang Hyang Murbaning Dumadi, muncullah beberapa keyakinan seperti halnya animisme dinamisme, yaitu penyembahan terhadap roh dan benda-benda yang memberi tuah dan memiliki kekuatan. Kepercayaan seperti ini terjadi, karena mereka berpikir bahwa adanya perjalanan alam dan isinya ini tentu ada yang menciptakan dan mengatur agar terjadi stabilitas antar sesama. Faktor seperti inilah yang menjadikan masyarakat Jawa dapat cepat beradaptasi dengan kedatangan agama-agama yang baru.

Cara berinteraksi budaya Jawa dengan Islam tergolong unik. Dalam penyebutan apapun yang diyakini suci atau dipandang mulia, mereka memberikan sebuah apresiasi maha tinggi, sebagaimana penyebutan Tuhan dengan Gusti Allah Ingkang Murbaning Dumadi dan juga keyakinan bahwa Rasul SAW sangat dekat dengan Allah, sehingga hampir dalam semua upacara ritual mereka selalu menyebutkan nama Allah Kang Moho Kuwaos dan Kanjeng Nabi Muhammad ingkang sumare wonten siti Madinah (Koentjaraningrat).

Pengislaman masyarakat Jawa tidaklah terlalu sulit. Karena, selain penyebar Islam kala itu kebanyakan adalah kalangan Islam sufi yang tidak membekali diri dengan ilmu kepemimpinan dan tidak menginginkan kepemimpinan, juga dilatar belakangi jiwa seni dan sastra masyarakat Jawa. Sehingga ketika para Walisongo dengan dipandegani Sunan Kalijaga menyebarkan agama dengan media seni wayang, gamelan, dan sastra Arab, yang dibaurkan dengan budaya Jawa, dapat diterima di tengah-tengah masyarakat Jawa.

Tingginya nilai seni dan sastra bagi masyarakat Jawa telah ada sebelum agama Islam masuk. Dengan bukti adanya candi dan relief-relief kuno, serta banyaknya kaligrafi ukir dan serat yang dibuat oleh para pujangga. Setelah Islam masuk, kesenian dan kesusastraan Jawa mulai dikolaborasikan oleh Walisongo. Dimulai pertama kali dengan wujudnya seni wayang dan gamelan yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga tersebut, berlanjut dengan sastra yang diramu oleh Sunan Kalijaga dalam media dakwahnya.

Sesaat setelah kolonial Belanda merangsek masuk ke Indonesia, kesenian dan kesustraan Jawa mulai tersisihkan. Karena kebijakan-kebijakan yang diberikan oleh pemerintah kolonial saat itu memang menyulitkan masyarakat untuk berkutat di bidang seni dan sastra. Hingga pada masa pemerintahan Sultan Agung Mataram yang merasa prihatin dengan kondisi demikian, sedikit demi sedikit Sultan Agung mulai membuat strategi guna merangsang para pujangga Jawa untuk mengimprovisasikan sastra. Guna menggairahkan jiwa seni dan sastra, Sultan Agung mencoba membaurkan sastra Arab dari lingkungan pesantren dan sastra Jawa dari budaya kejawen. Akhirnya, strategi Sultan Agung itu berhasil, sehingga muncullah hasil kreatifitas para pujangga yang dituangkan dalam bentuk tembang macapatan dan serat seperti halnya Serat Centhini, Babad Tanah Demak, dan lain sebagainya.

Kemudian kala seni dan sastra Jawa mulai bangkit lagi dengan pembauran berbagai bahasa dan budaya, maka timbullah sastra Jawa yang digubah kembali dengan menyatukan sastra Jawa kuno yang diperhaius dengan unsur-unsur yang berbau sufistik. Sebagaimana ramalan-ramalan Ranggawarsita tentang kejadian alam yang disarikan dari Alquran dan hadis.

Terakhir, sebagaimana pesan dalam layang Joyoboyo, “Tumindakho kang djudjor marang roso siro. Awet roso kuwi tjahyoning Gusti kang moho sutji. Kang manggon ono ing rogo siro, odjo diregetake.” Arti bebasnya kurang lebih demikian, “Berbuatlah jujur pada dirimu sendiri, karena dari situlah munculnya cahaya Tuhan yang Maha Suci, yang menetap dalam ragamu. Janganlah kau kotori.”