All posts by Nasikhun Amin

Sunat pada Wanita Bermanfaat

Agama Islam adalah agama yang universal. Agama yang aturan-aturan di dalamnya tidak hanya mengarah pada skala kecil saja, tapi juga tidak melulu mengatur skala yang besar. Agama yang juga tidak memaksakan kepada manusia untuk memeluknya. Terbukti, ketika Nabi Muhammad Saw. masih hidup, dalam bersosialisasi Beliau tidak sewenang-wenang memperlakukan orang-orang kafir untuk masuk Islam. Namun, metode ramahlah yang beliau kenalkan. Meskipun tidak ada paksaaan untuk memeluknya, tidak berarti pengikut agama itu sedikit. Justru tidak sedikit yang masuk Islam, disebabkan hatinya telah terketuk. Karena mereka merasa bahwa Islam adalah agama yang damai.

Manusia dengan beragam kepribadiannya, dalam menanggapi Islam pasti tidak sama. Secara lahiriyah, dimungkinkan karena mereka telah mempunyai tradisi masing-masing. Seperti menyembah pepohonan, matahari, patung, dan lain sebagainya. Dengan ditambah tradisi yang sudah mendarah daging itu, semakin saja membuatnya membenci kepada Islam. Sementara dalam Islam sendiri, tradisi semacam itu tidak pernah ditemui. Mereka sulit meninggalkan tradisi itu, mungkin juga karena takut dikecam sebagai penghianat suku. Karena menurut William H. Haviland, tradisi atau budaya itu sendiri adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya, akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat diterima oleh semua masyarakat. Dengan demikian, tradisi bisa dikatakan sebuah tindakan yang dipandang layak menurut standar khalayak umum, dengan tanpa melirik kebenarannya dari sudut pandang yang lain.

Sering kali aturan atau hukum Islam dipertanyakan. Bukan mempertanyakan karena ingin tahu, namun lebih karena ada unsur ragu pada ketentuan yang telah dirumuskan ratusan tahun yang lalu oleh para ulama yang sudah dijamin tentang kapabilitasnya. Mereka yang meragukan itu mencoba menilik yuridis dengan wacana baru, seperti dalam masalah sirkumsisi (khitan) untuk kaum hawa. Sekarang ada yang mengatakan bahwa sirkumsisi untuk perempuan adalah sebuah tradisi, bukan anjuran dalam sebuah agama. Dan ada juga yang mengatakan, bahwa sirkumsisi untuk perempuan itu tidak ada manfaatnya sama sekali, alias sangat rugi sekali bagi yang telah melakukannya.

“Jika khitan (perempuan) mempunyai manfaat, maka tradisi ini dapat dilanjutkan. Dan apabila tidak ada manfaatnya, maka dapat dihentikan tanpa adanya ancaman syariat bagi yang meninggalkannya ataupun pujian syariat bagi yang melakukannya. Khitan untuk laki-laki diwajibkan karena menyebabkan tidak sahnya salat, dikarenakan ada indikasi tersimpannya najis yang berada di alat kelamin yang belum dipotong. Walaupun najis yang berada pada alat kelamin laki-laki masih diperdebatkan, apakah termasuk bagian dalam, seperti kotoran yang masih berada di dalam perut atau bagian luar,” demikian paparan salah seorang yang mengatakan bahwa sirkumsisi atau sunat bagi kaum hawa merupakan tradisi.

Hal demikian ini tentunya akan mengundang kegemparan. Dan yang pasti akan ada pro dan kontra dalam menanggapi probematika ini. Yang pro akan mengajukan beberapa argumennya sesuai dengan keinginannya, begitu juga sebaliknya. Dan mestinya, akan banyak pula hujatan-hujatan yang bertubi-tubi untuk masing-masing kelompok yang menyatakan ideologinya itu.

Sebenarnya, dalam permasalahan sirkumsisi (laki-laki dan perempuan) ini sudah lama sekali didiskusikan dalam turats. Satu pendapat mengatakan, bahwa sirkumsisi merupakan kesunahan, dan yang lain mengatakan sirkumsisi adalah wajib. Beliau-beliau para ulama, walaupun masih pro dan kontra, tidak ada satupun yang mengeluarkan statemen bahwa sirkumsisi merupakan tradisi atau budaya setempat.

Di antara ulama yang mengatakan bahwa sirkumsisi adalah kewajiban adalah Imam Syafi’i, salah satu ulama terkemuka yang menjadi barometer dalam bermadzhab. Beliau mengemukakan bahwa sirkumsisi adalah sebuah kewajiban yang berlaku untuk kaum laki-laki maupun perempuan. Di antara dalil yang digunakan oleh beliau adalah firman Allah SWT. yang artinya, “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ikutilah agama (ajaran) Ibrahim seorang yang hanif…” (QS. an Nahl: 123). Sekilas ayat ini melukiskan bahwa Nabi Ibrahim AS. memang mempunyai ajaran dari Allah SWT. Dan di antara ajaran beliau adalah khitan. Sebagaimana yang diriwayatkan sahabat Abu Hurairah RA., bahwa Rasulullah SAW. pernah bersabda, “Nabi Ibrahim Khalilur Rahman berkhitan setelah berumur delapan puluh tahun.”

Sementara yang mengatakan sunah berpijak pada hadis Nabi yang juga diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah RA., bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda, “Lima hal yang termasuk fithrah yaitu: khitan, mencukur bulu alat kelamin, mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan memotong kumis.” [Imam al Bukhari (6297 – Fathul Bari), Imam Muslim (3/257 – Nawawi), Imam Malik dalam al Muwattha (1927), Imam Abu Daud (4198), Imam at Tirmidzi (2756), Imam an Nasa’i (1/14-15), Ibnu Majah (292), Ahmad dalam Al-Musnad (2/229) dan Al-Baihaqi (8/323)].

Kelompok yang mengatakan bahwa sirkumsisi bagi perempuan sangat merugikan berpendapat, ketika terjadi female genital mutilation (pemotongan sebagian alat kelamin perempuan), maka akan merusak alat kelaminnya. Sehingga, dari ideologi ini membuat semua pihak pakar medis merasa tidak perlu adanya sirkumsisi untuk kaum hawa. Padahal, tidaklah demikian adanya. Dalam sebuah hadis dijelaskan, bahwa dulu Nabi SAW. pernah memerintahkan seorang perempuan ahli penyunatan untuk tidak ceroboh dalam menyunat. Diantaranya adalah hadis yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik RA., bahwasanya Nabi SAW. bersabda kepada kepada Ummu ‘Athiyah (wanita ahli sirkumsisi), “Apabila engkau meng- khitan seorang perempuan, maka potonglah sedikit, dan janganlah berlebihan (dalam memotong bagian yang dikhitan), karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih menyenangkan (memberi semangat) bagi suami.” [Shahih, oleh Imam Abu Daud (5271), Imam al Hakim (3/525), Imam Ibnu Ady dalam al Kamil (3/1083) dan Imam al Khatib dalam Tarikhnya (12/291)].

Memang, dalam sirkumsisi perempuan terjadi beberapa praktek di kalangan medis. Namun, tidak perlu dijelaskan lebih mendetail di sini. Hanya saja, yang perlu digaris bawahi dalam sirkumsisi adalah, hendaknya dilakukan dengan hati-hati. Imam al Mawardi, salah satu ulama dari kalangan Syafi’i, berpendapat bahwa khitan pada perempuan yang dipotong adalah kulit yang berada di atas alat kelamin perempuan. Yang dianjurkan adalah memotong sebagian kulit tersebut, bukan menghilangkannya secara keseluruhan.

Bagi kelompok yang mengatakan bahwa sirkumsisi tidak ada manfaat yang bisa dipetik, ada baiknya terlebih dahulu menilik hikmah-hikmah yang tersirat di dalammya. Salah satu dosen UIN Sunan Kalijaga, DIY, H. Akmal Abdul Munir Lc. MA, dalam makalahnya memaparkan, bahwa ada beberapa hikmah dari sirkumsisi bagi seorang perempuan. “Sirkumsisi pada wanita yang dilakukan secara benar justru bermanfaat untuk kehidupan seksual wanita yang bersangkutan. Pertama, membuat lebih bersih dan lebih mudah menerima rangsangan. Kedua, sirkumsisi dapat membawa kesempurnaan agama, karena itu disunahkan (atas pendapat yang mengatakan bahwa sirkumsisi adalah sunnah). Ketiga, sirkumsisi adalah cara sehat yang memelihara seseorang dari berbagai penyakit. Keempat, sirkumsisi membawa kebersihan, keindahan, dan meluruskan syahwat.”

Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah berkata, “Hikmah sirkumsisi bagi laki-laki adalah menyucikan mereka dari najis yang tertahan pada kulup kemaluan. Sedangkan bagi wanita adalah untuk menyederhanakan syahwatnya, sesungguhnya kalau wanita tidak disirkumsisi, maka syahwatnya akan menggejolak.” [Fatawa al Kubra, 1/273].

Walhasil, masalah sirkumsisi/ khitan bagi perempuan itu bukanlah sebuah tradisi, melainkan memang benar-benar anjuran dari agama dan bisa dipertanggungjawabkan tentang keberadaan dalilnya. Salah besar apa yang dikampanyekan WHO (World Health Organization) atau organisasi kesehatan dunia bahwa sunat perempuan dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Seperti paparan di atas, di dalam praktek sunat itu terkandung manfaat yang besar, bukan malah berdampak buruk. Harus kita yakini bahwa ulama dahulu dalam mem-fatwakan sebuah hukum, tentu melalui tinjauan dan pertimbangan yang matang terlebih dahulu. Tidak hanya sekilas memahami, lantas mem-fatwakan. Wallahu A’lam.

Surat Untuk “Mereka”

Suatu ketika Umar bin Khattab sedang berkhutbah di masjid kota Madinah, beliau mengulas tentang keadilan dalam Islam. Khutbah Umar berhenti sejenak ketika muncul laki-laki asing dalam masjid. Lalu beliau melanjutkan, “Sesungguhnya seorang pemimpin itu diangkat dari antara kalian, bukan dari bangsa lain. Pemimpin itu harus berbuat untuk kepentingan kalian, bukan untuk kepentingan dirinya, golongannya, dan bukan untuk menindas kaum lemah. Demi Allah, apabila ada di antara pemimpin dari kamu sekalian menindas yang lemah, maka kepada orang yang ditindas diberikan hak untuk membalas pemimpin itu. Begitu pula jika seorang pemimpin di antara kamu sekalian meghina seseorang di hadapan umum, maka kepada orang itu harus diberikan hak untuk membalas hal yang setimpal.”

Selesai khalifah berkhotbah, tiba-tiba laki-laki asing tadi bangkit seraya berkata: “Ya Amirul Mukminin, saya datang dari Mesir dengan menembus padang pasir yang luas dan tandus, serta menuruni lembah yang curam. Semua ini hanya dengan satu tujuan, yakni ingin bertemu dengan Tuan.”

“Katakan apa tujuanmu bertemu denganku,” ujar Umar.

“Saya telah dihina di hadapan orang banyak oleh Amr bin ‘Ash, gubernur Mesir. Sekarang saya akan menuntutnya dengan hukum yang sama.”

“Wahai saudaraku, benarkah apa yang telah engkau katakan itu?” Tanya Umar.

“Iya Amirul Mukminin, benar adanya.”

“Baiklah, kepadamu aku berikan hak yang sama untuk menuntut balas. Tetapi, engkau harus mengajukan empat orang saksi, dan kepada Amr aku berikan dua orang pembela, jika tidak ada yang membela gubernur, maka kau dapat melaksanakan balasan dengan memukulnya 40 kali.”

“Baiklah ya Amirul Mukminin. Akan saya laksanakan semua itu,” jawab orang itu sambil berlalu.

Ia langsung kembali ke Mesir untuk menemui gubernur Mesir, Amr bin ‘Ash. Sesampai di sana, ia langsung mengutarakan maksud dan tujuannya.

“Wahai Amr, sesungguhnya seorang pemimpin diangkat oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat. Dia diangkat bukan untuk golongannya, bukan untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya, dan bukan pula untuk menindas yang lemah dan mengambil hak yang bukan miliknya. Khalifah Umar telah memberi izin kepada saya untuk memperoleh hak di muka umum.”

“Apakah kamu akan menuntut gubernur?” Tanya salah seorang yang hadir.

“Iya, demi kebenaran akan saya tuntut dia,” jawab lelaki itu.

“Tetapi, dia kan gubernur kita?”

“Seandainya yang menghina itu Amirul Mukminin, saya juga akan menuntutnya.”

“Wahai, saudara-saudaraku. Demi Allah, aku minta kepada kalian yang mendengar dan melihat kejadian itu agar berdiri,” kata sang gubernur. Lalu banyaklah yang berdiri.

“Apakah kamu akan memukul gubernur?” Tanya salah satu sahabat.

“Ya, demi Allah saya akan memukul dia sebayak 40 kali.”

“Tukar saja dengan uang, sebagai pengganti pukulan itu,” tambah mereka.

“Tidak, walaupun seluruh Masjid ini berisi perhiasan, saya tidak akan melepaskan hak itu,” jawab si lelaki.

“Baiklah, mungkin engkau lebih suka demi kebaikan nama gubernur kita, di antara kami ada yang mau jadi penggantinya,” bujuk sahabat.

“Saya tidak suka pengganti,” jawabnya.

“Kau memang keras kepala. Tidak mendengar dan tidak suka usulan kami sedikitpun.”

“Demi Allah, umat Islam tidak akan maju bila terus begini. Mereka membela pemimpinnya yang salah dengan gigih karena khawatir akan dihukum,” ujamya sambil beranjak meninggalkan tempat.

Amr bin Ash serta merta menyuruh anak buahnya untuk memanggil lelaki itu. Ia kembali.

“Ini rotan, ambillah! Laksanakanlah hakmu,” kata Amr bin Ash sambil membungkukkan badannya siap menerima hukuman balasan.

“Apakah dengan kedudukanmu sekarang ini engkau merasa mampu untuk menghindari hukuman?” Tanyanya kembali.

“Tidak, jalankan saja keinginanmu itu,” jawab Amr bin Ash.

“Tidak, sekarang aku memaafkanmu.” Lelaki itu melemparkan rotannya dan memeluk sang gubemur.

Hukum Memakai Azimat

Kami memiliki masalah yang sulit kami pecahkan sendiri. Dalam masyarakat kita hal-hal yang berbau mistik sudah menjadi kepercayaan umum. Sehingga banyak kita jumpai orang memakai azimat/ jimat dengan tujuan keselamatan, pelarisan dagangan, kekebalan, dan lain sebagainya. Yang kami tanyakan bagaimana hukum memakai azimat itu sendiri? Atas jawabannya kami ucapkan terimakasih.

Zain

Admin – Memakai benda-benda jimat pada hakikatnya sama dengan memakai benda-benda lainnya seperti memakai obat untuk sembuh, api untuk membakar, makan untuk kenyang, minum untuk menghilangkan haus, dll. Hanya saja benda jimat menjadi nampak istimewa ketika dianggap sering mendatangkan hal-hal yang khoriqu al adah seperti mendatangkan keberuntungan, kesaktian, mahabbah, dan seterusnya.

Faktor-faktor yang di luar dari kebiasaan inilah yang sering membawa persepsi di kalangan masyarakat awam tentang adanya kekuatan mistis. Pada akhirnya sangat rawan akan terjadinya syirik, atau setidaknya ada kecenderungan menggantungkan nasibnya pada benda-benda tersebut. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan membuat orang lebih percaya pada benda tersebut dari pada kepada Allah SWT. Yang Maha Kuasa. Untuk itu, para ulama ahli hikmah lebih suka mejauhi memakai benda-benda tersebut.

Secara global, pengguna atau pemakai azimat/ jimat dalam kacamata syariat dapat diklasifikasikan menjadi empat golongan:

  1. Golongan pemakai azimat yang punya keyakinan bahwa yang menimbulkan pengaruh (sabab musabab) seperti kesaktian, mahabbah, rizki, jodoh, dll. adalah eksistensi dzatiyah benda tersebut, maka ia tergolong kufur (syirik) dengan konsensus (ijma’) para ulama.
  2. Golongan pemakai azimat yang berkeyakinan bahwa yang menimbulkan pengaruh tersebut adalah kekuatan mistis yang diletakkan oleh Allah SWT. pada benda-benda jimat tersebut. Maka golongan ini oleh satu pendapat ada yang menghukumi kufur, dan satu pendapat ada yang menggolongkan ahli fasiq (pendosa besar), dan ahli bid’ah.
  3. Golongan pemakai azimat yang punya keyakinan bahwa yang menimbulkan pengaruh tersebut (sabab musabab) sesungguhnya dari Allah SWT. namun Allah SWT. menjadikan sabab dan musabab tersebut bersifat pasti secara logika, sebagaimana perhitungan matematika. Artinya, beranggapan bahwa tidak masuk akal apabila ada jimat tapi tidak mendatangkan pengaruh sakti, mahabbah, dll. Golongan ini termasuk kategori orang-orang yang bodoh yang harus diluruskan pemahamannya.
  4. Golongan pemakai azimat yang berkeyakinan bahwa yang menimbulkan pengaruh tersebut sesungguhnya dari Allah SWT. dan Allah SWT. menjadikan sabab musabab tersebut sebatas pengadatan saja, persis seperti adatnya habis makan adalah kenyang. Golongan inilah yang di sebut dengan orang mukmin yang selamat. Insyaallah.

Dari uraian di atas, lebih baiknya pemakaian azimat tersebut dengan alasan tawassul atau lainnya dihindari, mengingat realita yang sering terjadi di kalangan masyarakat awam nampaknya lebih cenderung mudah tergelincir dalam keyakinan yang salah, fenomena ini sering menimbulkan mitos-mitos yang sebenarnya hanya tipu daya setan.

Untuk referensinya coba lihat dalam Tijan al Durori. Dan mungkin boleh jadi catatan bahwa hal-hal yang hasilnya diharapkan dari memakai azimat, sejatinya bisa diupayakan dengan tanpa memakainya. Seperti contoh soal rezeki, meskipun toh saat ini (seperti yang diberitakan media dan para pakar) ekonomi dunia sedang lemah dan lahan mencari penghasilan sulit, ketika seseorang mau berusaha kami yakin akan ketemu jalannya. Begitu juga soal jodoh, tanpa memakai azimat, kami yakin Anda bakal dipertemukan dengan dia, dengan catatan Anda serius mencarinya.

Walllahu a’lam bis showab.

Bunga Istimewa Hanya Untuk yg Istimewa

Oleh: Bayu Gautama

Bunga adalah simbol kesegaran, keceriaan dan kebahagiaan. Bisa jadi ada makna yang lebih dalam dari penamaan Rasulullah atas putri tercintanya, Fatimah az Zahra, yang mana az Zahra sendiri berarti ‘bunga.’ Tidaklah mengherankan jika Fatimah menjadi anak yang paling disayang dibanding saudara-saudara Fatimah lainnya. Hal itu teriihat dari ungkapan Rasulullah, “Siapa yang membuatnya sedih, berarti juga membuat aku sedih. Dan barang siapa menyenangkannya, berarti menyenangkanku pula.”

‘Bunga’ Fatimah yang tumbuh dan berkembang dalam binaan langsung dari ayahanda Rasul yang baik, lemah lebut dan terpuji menjadikannya seorang gadis yang penuh kelembutan, berwibawa, mencintai kebaikan, plus akhlak terpuji meneladani sang ayah. Maka, tidaklah aneh, bunga yang di-nisbatkan Rasul menjadi wanita penghulu surga itu menjadi primadona di kalangan para sahabat Rasulullah.

Tercatat, beberapa sahabat utama seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab pemah mencoba melamar Fatimah. Hanya saja, sayangnya dengan halus Rasulullah menolak lamaran para sahabat itu. Hingga akhirnya datanglah Ali bin Abi untuk meminang Fatimah.

“Aku mendatangi Rasulullah untuk meminang putri beliau, yaitu Fatimah. Aku berkata: ‘Demi Allah aku tidak memiliki apa-apa, namun aku ingat kebaikan Rasulullah, maka aku beranikan diri untuk meminangnya’.” Akhirnya Rasulullah menerima pinangan Ali meski hanya mempersembahkan baju besi al Khuthaimah (yang juga merupakan pemberian Rasul).

Fatimah adalah bunga yang terpelihara, tidak tanggung-tanggung, yang mendidik, membina, memeliharanya adalah manusia agung nan mulia, Muhammad SAW, yang memiliki segala keterpujian. Bunga yang indah dengan segala keistimewaannya, harus dipelihara dan dijaga oleh orang yang istimewa dan memiliki berbagai kelebihan pula, dalam hal ini Ali bin Abi Thalib. Siapa yang meragukan kapasitas Abu Bakar dan Umar bin Khattab, yang keduanya kemudian berturut-turut menjadi khalifah meneruskan perjuangan kaum muslimin menggantikan Rasul. Lalu kenapa Nabi menolak mereka?

Pertanyaan setanjutnya, kenapa Ali yang hanya bermodalkan baju besi (yang juga pemberian Rasul) menjadi pilihan Rasul untuk mendampingi Fatimah? Meski memang Rasulullah yang paling tahu alasan itu (termasuk juga alasan menolak pinangan dua sahabat yang juga istimewa), namun kita bisa melihat sisi kelebihan dari Ali bin Abi Thalib, pemuda pemberani ini.

Ali adalah lelaki istimewa, masuk dalam as Sabiqunal Awalun (golongan pertama yang masuk Islam) dengan usia termuda. Soal keberanian, jangan pernah menyangsikan lelaki satu ini. Perang Badar yang diikuti seluruh menusia pemberani didikan Rasul, terselip satu lelaki muda yang dengan gagahnya maju ke depan ketika seorang pemuka dan ahli perang kafir menantang untuk duel. Meski awalnya dilecehkan karena dianggap masil kecil, namun Ali dengan kehebatannya mampu mengalahkan musuh duelnya itu. Tidak sampai di situ, Rasulullah tak bisa melupakan jasa besar dan keberanian Ali menggantikan Rasul tidur di pembaringannya saat Rasulullah ditemani Abu Bakar menyelinap ke luar saat hijrah. Padahal, resikonya adalah mati terpenggal oleh bala tentara kafir yang telah mengepungnya.

Tentu masih banyak dan tidak akan cukup tulisan ini untuk mencatat kelebihan Ali yang menjadikannya begitu istimewa. Satu yang bisa kita tangkap secara jelas, bahwa wanita istimewa memang dipersiapkan untuk lelaki istimewa. Seperti halnya, ‘bunga’ Fatimah yang hanya Ali bin Abi Thalib yang diizinkan Rasulullah untuk memetiknya. Oleh karenanya, jangan pernah berharap akan datangnya seseorang istimewa jika tak pernah menjadikan diri ini istimewa. Wallahu a’lam bishshawaab.

Gaji Takmir dari Kas Masjid

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sekarang ini, khususnya di perkotaan banyak sekali masyarakat muslim yang karena kesibukannya/ tidak adanya kemampuan untuk mengurus masjid/ mushola mengangkat seseorang untuk mengurusnya dengan imbalan gaji yang diambilkan dari kas masjid/ mushola. Sedangkan yang harus dikerjakan antara lain mengurus kebersihan masjid/ mushola tersebut, menjadi muadzin, mengimami salat, khutbah, dan hal-hal lain yang masih berhubungan.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah: Bolehkah mengambil gaji dari kas masjid/ mushola dengan pekerjaan di atas? Dan bagaimana menurut pandangan tasawuf, apakah gaji tersebut baik untuk dimakan?

Atas jawabannya kami ucapkan terima kasih teriring do’a,  Jazakumullah ahsanal jaza’.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Ibnu Kosim

Admin – Waalaikumsalam warahmah wabarakah. Terima kasih Kami sampaikan atas kenan singgah Anda pada website Kami.

Dalam perspekstif fikih, status tanah atau bangunan yang sudah diwakafkan untuk dijadikan masjid, musholla, madrasah, pondok, dan lain-lain, merupakan harta yang terlepas dari hak kepemilikan manusia. Artinya, harta tersebut telah berpindah menjadi hak milik Allah. Konsekuensinya tidak dapat diwariskan, dijual, atau diberikan pada siapapun. Dalam metode pengelolaan dan pembelanjaannya (tasharuf), setiap muslim berhak memanfaatkannya sesuai dengan tujuan pewakafan, seperti dibuat salat untuk wakaf masjid, musholla, dibuat sekolah, dan seterusnya.

Sedangkan kekayaan masjid dan musholla yang diwakafkan, seperti uang kas masjid, pola pembelanjaannya dibedakan sesuai dengan sumber dari mana dana tersebut dihasilkan. Secara terperinci dapat dipetakan dalam beberapa perincian sebagai berikut:

  1. Bila kekayaan tersebut dihasilkan dari sedekah dan hibah, maka bentuk pembelanjaannya disesuaikan dengan tujuan pemberi (qosdu al muhdi). Hal tersebut dapat diketahui dari ucapan atau indikasi-indikasi yang ada, seperti melihat tradisi yang umum terlaku di masyarakat. Hal ini dapat berlaku jika dalam tradisi, pemberian itu dimaksudkan untuk kemaslahatan masjid secara umum atau secara khusus, semisal hanya untuk pembangunan saja.
  2. Bila kekayaan itu dari hasil barang-barang yang di wakafkan pada masjid (roi’ul mauquf ‘ala al masjid), seperti kebun yang diwakafkan untuk kepentingan masjid (bukan dijadikan masjid), maka hukumnya dipilah: Pertama, bila kepentingan masjid itu yang dikehendaki mutlak atau untuk meramaikan masjid, maka pembelanjaannya untuk pembangunan masjid, menara, ongkos, dan penjaga masjid. Sedangkan untuk ongkos muadzin dan imam atau biaya beli karpet, lampu, para ulama berbeda pendapat. Kedua, bila yang dikehendaki dengan kepentingan masjid adalah untuk kemaslahatan masjid, maka boleh ditasharufkan untuk semua keperluan di atas dengan kesepakatan para ulama. Dan untuk mengetahui kepentingan ini adalah dengan menyesuaikan kehendak orang yang mewakafkan (waqif) ketika mewakafkan. Namun, apabila waqif memutlakkan kepentingan yang dikehendaki, maka tata cara pembelanjaannya mengikuti tradisi (urfy) yang berlaku, yang pada prinsipnya adalah arah pembelanjaannya lebih mendekati tujuan waqif.

Dengan demikian, uang kas masjid atau mushola boleh digunakan untuk gaji penjaga apabila tidak menyalahi tujuan pemberi atau tujuan waqif yang dapat diketahui dengan ungkapan atau indikasi (qarinah) ketika terjadi pemberian atau pewakafan. Namun yang perlu digaris bawahi adalah bahwa standar gaji yang berhak ia peroleh dari uang kas masjid ditentukan dengan syarat sebagai berikut:

  1. Tidak kaya/ masih membutuhkan.
  2. Menurut Imam Rofi’i, besar gaji diukur sesuai dengan kebutuhan nafkahnya. Sedangkan menurut pendapat Imam Nawawi, setidaknya diukur dengan dua perkara, yaitu biaya nafkah dan ongkos umum sebagai penjaga masjid. Dan pendapat inilah yang dinilai paling ihthiyat (hati-hati).

Walllahu a’lam bisshowab. Untuk referensi bisa dilihat pada al Syarwani Juz VI, I’anah at Thalibin Juz III, dan al Mahalli Juz III.