All posts by Nasikhun Amin

Salat di Lantai Atas Masjid

Kang, bagaimana hukum makmum salat jumat di masjid dengan lantai bertingkat namun tidak ada tangga naiknya. Atas jawabannya kami haturkan terima kasih.

Thoby Adhitya

Admin – Pada dasarnya dalam salat berjamaah, posisi imam adalah sebagai panutan bagi para makmumnya. Ketentuan ini diambil dari sabda Nabi SAW.:

جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوْا رواه الشيخان

“(Pada dasarnya) dijadikannya seorang imam itu hanya untuk dibuat panutan, maka apabila ia sudah takbir maka ikutlah takbir.”

Kata “panutan” tersebut memberikan sebuah kepahaman bahwa antara imam dan makmum harus berada dalam satu tempat (ijtima’ fi makanin wahid). Logikanya, seseorang tidak layak dikatakan sebagai panutan apabila antara dia dan para penganutnya berada dalam tempat yang berbeda. Ketentuan ini diperkuat oleh kenyataan bahwa Rasulullah SAW. selalu melaksanakan jamaah pada satu tempat. Persyaratan satu tempat ini, harus memenuhi standar sebagai berikut:

  1. Jika keduanya berada di luar masjid, maka dipilah. Pertama, apabila keduanya berada di tempat lapang, disyaratkan jarak keduanya tidak melebihi 300 dzira’ (±144 M). Kedua, jika keduanya atau salah satu dari keduanya berada di sebuah bangunan, maka syaratnya adalah antara keduanya tidak dipisah oleh jarak yang melebihi 300 dzira’ dan keduanya tidak dibatasi oleh penghalang yang mencegah lewat atau melihat imam. Jika ada penghalang, maka harus ada makmum (rabith) yang berada di tempat yang tembus menuju imam, sedangkan ia melihat imam atau sebagian shaf yang paling belakang. Persyaratan ini juga berlaku bila salah satunya berada di luar masjid, hanya saja jarak 300 dizra’ itu di mulai dari ujung masjid.
  2. Bila keduanya berada dalam satu masjid, maka jamaahnya tetap sah, meskipun jarak antara imam dan makmum jauh dan ada penghalang, atau keduanya berada di lokasi yang berbeda dalam sebuah bangunan masjid yang disekat-sekat seperti kamar-kamar, termasuk masjid yang bertingkat. Yang terpenting adalah ada jalan yang bisa digunakan lewat secara wajar menuju imam, seperti tangga meskipun berada diluar masjid.

Dengan demikian dapat jelas bahwa lantai atas masjid yang bertingkat apabila masih ada tangganya, meskipun berada di belakang dan di luar masjid, hukum jamaahnya sah. Walllahu A’lam, silahkan lihat I’anah at Thalibin.

Tiga Amalan Istimewa, Penuntun Langkah Menuju Ridla Illahi

Oleh: KH. M. Anwar Manshur

الْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِنْعَامِهِ وَالصَّلَاةُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ نالنَّبِيِّ الْمُصْطَفَى وَالرَّسُوْلِ الْمُجْتَبَى وَعَلَى آلِهِ كُلَّمَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الْغَافِلُوْنَ

Pembaca yang dirahmati Allah…

Menjalani hidup di zaman yang kian sarat dengan cobaan seperti sekarang ini, mengharuskan setiap insan memiliki bekal moral yang memadai. Agar tidak terombang-ambing ke sana kemari, tidak mudah hanyut oleh arus perubahan yang kian deras menerpa. Sebab, cobaan dan godaan yang silih berganti mungkin saja melemahkan pertahanan iman, bahkan merobohkan benteng ketakwaan dalam hati seseorang.

Pembaca yang dirahmati Allah…

Dalam ajaran Islam, ada tiga amalan yang bisa menuntun seseorang menjalani hidup. Memapahnya selangkah demi selangkah untuk menggapai asa dan cita, menjemput ridla Ilahi Rabbi. Ketiga amalan tersebut adalah: Pertama, Istikharah, mempertimbangkan dengan matang setiap tindakan yang dilakukan.

Istikharah artinya selalu berusaha mencari yang terbaik dari setiap tindakan yang akan dilakukan. Selalu mempertimbangkan dampak positif dan negatif dari suatu perbuatan, bagi kehidupan pribadi maupun bagi masyarakat. Dampak bagi kehidupan di dunia, maupun di akhirat kelak.

Dengan beristikharah, seseorang tidak akan pernah gegabah dalam menentukan langkah. Ia tidak akan pernah melakukan suatu perbuatan sebelum ia berpikir akibat baik buruknya perbuatan tersebut. Rasulullah Saw bersabda:

إِذَا أَرَدْتَ أَمْرًا فَتَدَبَّرْ عَاقِبَتَهُ فَإِنْ كَانَ خَيْرًا فَأَمْضِهِ وَإِنْ كَانَ شَرًّا فَانْتَهِ

“Ketika engkau ingin melakukan sesuatu, maka pikirkanlah akibatnya. Jika akibatnya baik, maka lakukanlah. Dan jika akibatnya buruk, maka tinggalkanlah.”

Untuk itu, seseorang dianjurkan untuk berkonsultasi dan bermusyawarah dengan orang lain dalam setiap rencana. Dengan bermusyawarah, hasil yang dicapai akan lebih maksimal karena dipertimbangkan dengan sudut pandang yang lebih banyak dan lebih menyeluruh. Sabda Rasul SAW. menyebutkan:

مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ وَلَا نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ

“Tidak akan pernah merugi orang yang mau bermusyawarah, dan tak akan pernah menyesal orang yang mau beristikharah.”

Terlebih lagi, jika musyawarah itu dilakukan dengan orang alim yang memiliki kedekatan kepada Allah SWT. Sebab, cahaya ilahiyah selalu menerangi jiwa mereka, sehingga mereka dapat memandang segala sesuatu secara lebih mendalam, serta dipertimbangkan sesuai dengan hukum dan hikmah yang ditetapkan Allah. Firman Allah dalam AlQuran menyebutkan:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kalian kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

Selanjutnya, jika telah diputuskan untuk melakukan sesuatu, maka haruslah berpasrah kepada Allah. Berharap agar pilihan ini adalah yang terbaik serta mendapat tuntunan dalam menjalankannya.

Amalan kedua adalah Istiqamah, konsisten dalam menjalankan pilihan hidup. Kunci kedua agar dapat menjalani hidup dengan tenang dan tidak terombang-ambing adalah istiqamah. Istiqamah adalah sikap konsisten dan terus-menerus dalam menjalani usaha demi tercapainya suatu tujuan. Dengan memiliki sikap istiqamah, seseorang tidak akan kehilangan arah tujuan, tidak mudah terpengaruh, dan tidak mudah patah semangat.

Dengan istiqamah, cita-cita akan mudah tercapai, sebab orang yang memiliki sikap istiqamah tidak akan berhenti berusaha atau berputus asa. Sedikit demi sedikit asalkan terus dilakukan, setapak demi setapak asalkan tetap melangkah dan berjalan. Syair Arab menyebutkan:

حَيْثُمَا تَسْتَقِمْ يُقَدِّرْ لَكَ # اللهُ نَجَاحًا فِيْ غَابِرِ الْأَزْمَانِ

“Sekira engkau beristiqamah, maka Allah akan mentakdirkan bagimu keberhasilan dimasa mendatang.”

Dalam Alquran, Allah SWT menjanjikan kepada orang-orang yang memiliki sikap istiqamah, mereka tidak akan pernah merasa gundah, takut atau susah. Ini semua karena mereka berprinsip dalam menjalani hidup, dan berpasrah menerima segala keputusan Allah atas dirinya. Allah SWT. berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ. أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itu lah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.”

Namun demikian, memegang prinsip bukan berarti harus selalu menang sendiri. Seseorang tidak boleh memaksakan kehendak dirinya pada orang lain, karena setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda-beda. Jadi, istiqamah adalah sikap tidak memaksakan diri kita menjadi orang lain (berprinsip), dan tidak memaksakan orang lain menjadi diri kita (egois). Istiqamah itu tegas tapi lunak, berprinsip namun juga bertoleransi, mengalir tapi tidak terhanyut.

Hal ketiga dari amalan istimewa tersebut adalah Istighfar, instropeksi dan pembenahan diri. Jika setiap pilihan hidup telah dipertimbangkan dengan segala kemungkinan dampak positif dan negatifnya, dan pilihan itu telah dijalankan dengan istiqamah, maka sikap yang sangat penting dilakukan adalah istighfar. Secara bahasa, makna istighfar adalah meminta ampunan. Bukan hanya demikian, istighfar juga mengandung makna selalu introspeksi terhadap kesalahan dan kekurangan diri, untuk tujuan pembenahan berikutnya. Sejenak menengok masa lalu, menatap langkah-langkah yang telah terukir, demi melanjutkan langkah yang telah tertata, membenahi yang masih terserak, dan menciptakan langkah baru yang lebih baik. Dalam Alquran Allah SWT. berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ. أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ 

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji mereka itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya: dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”

Pembaca yang dirahmati Allah…

Dengan ketiga amalan di atas, insyaallah seseorang bisa tabah menghadapi segala tantangan zaman. Mampu mengatasi segala masalah dan siap menghadapi segala cobaan yang merintangi jalan. Tidak mudah terseret arus, namun juga tidak kaku ataupun egois. Semoga kita selalu dikaruniai cahaya hidayah-Nya, yang selalu menerangi langkah kita, menapaki jalan menuju ridla Allah. Amin ya rabbal alamin...

Pengertian Ta’aruf

Bapak-bapak pengelola website Lirboyo yang terhormat, sebelumnya kami mohon maaf apabila telah mengganggu kesibukan bapak. Saya ingin menanyakan beberapa hal:

  1. Apakah pengertian ta’aruf menurut Islam?
  2. Apakah diperbolehkan melihat dan berjabat tangan setelah berkhitbah dengan calon istri? Mengingat bersentuhan dengan lain mahram hukumnya haram.
  3. Dan apabila haram, bagaimana solusinya?

Atiq Naila

 

Admin – Mbak Naila yang mudah-mudahan dirahmati oleh Allah, terima kasih telah singgah di website Kami. Sama-sama mbak, Kami juga mohon maaf apabila mungkin, jawaban dari Kami kurang memuaskan Anda.

Mbak Naila, ta’aruf itu artinya saling mengenal yang dapat dilakukan kapan saja dan tidak ada sangkut pautnya dengan khithbah. Dalam arti, tidak ber-khitbah (melamar), tidak masalah kita ta’aruf. Memang hikmah Allah SWT. menjadikan manusia dengan beraneka ragam suku bangsa agar kita saling ta’aruf sebagaimana firman Allah SWT:

( يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ  ( الحجرات ١٣

Tapi, berjabat tangan dengan tanpa penghalang diharamkan selain sesama jenis, mahram, atau sudah menjadi (wanita) halalnya karena sudah dinikah. Sedangkan yang diperbolehkan bagi orang yang melamar terhadap wanita yang dilamarnya hanyalah sebatas melihat pada wajah dan telapak tangan (sisi luar dan dalam, mulai ujung jari sampai pergelangan) dengan tanpa menyentuhnya. Kecantikan, kehalusan watak dan lain-lainnya sudah dapat dilihat pada bentuk dan kehalusan wajah dan telapak tangannya. Sebagaimana keterangan Syekh Abdul Wahid As Syarwani:

وَلَا يَنْظُرُ) مِنْ الْحُرَّةِ (غَيْرَ الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ) مِنْ رُءُوسِ الْأَصَابِعِ إلَى الْكُوعِ ظَهْرًا وَبَطْنًا بِلَا مَسِّ شَيْءٍ مِنْهُمَا لِدَلَالَةِ الْوَجْهِ عَلَى الْجَمَالِ وَالْكَفَّيْنِ عَلَى خِصْبِ الْبَدَنِ

Bahkan melihat saja hanya sebatas sampai cukup paham dengannya. Tidak boleh melebihi dari batas yang mencukupi, karena terdapat kaidah, “Segala sesuatu yang diperbolehkan karena terpaksa (darurat), maka hanya boleh dilakukan sekedar kebutuhan saja.”

Boleh melihat wajah atau telapak tangannya secara berulang-ulang, jika masih belum mencukupi. Waktu melihat dilakukan sebelum ia melamar, sedangkan diperbolehkan melihat itu sendiri jika ada harapan lamarannya bakal diterima. Hal ini berlandaskan hadis Nabi:

إِذَا أَلْقَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي قَلْبِ امْرِئٍ خِطْبَةً فَلَا بَأْسَ بِالنَّظَرِ إِلَيْهَا

Jika melihat wanita yang ketika dipinang jelas tidak akan diterima, maka melihat wajahnya pun juga haram, apalagi menyentuh. Kemudian, bolehkah melihat calon istrinya setelah lamaran? Melihat penjelasan hadis di atas, hukum melihat calon istri setelah melamar adalah diperbolehkan, karena di dalamnya terdapat mashlahat yang juga tersirat dari hadis tersebut. Tapi harus digaris bawahi, hanya melihat, bukan memegang atau berjabat tangan. Sebagaimana lanjutan keterangan di atas yang diungkapkan oleh Syekh Abdul Wahid as Syarwany.

Terkait pertanyaan tentang solusi, Kami kira ada baiknya jika kedua pasangan itu saling mengingatkan tentang larangan agama. Jika pernikahan itu ibarat masa berbuka setelah seharian puasa, tentu kita akan amat menyayangkan jika pada akhirnya selepas waktu Ashar sebelum Maghrib kita kecolongan berbuka dengan tanpa ada keadaan darurat. Bersabarlah, waktu berbuka untuk kalian sebentar lagi. Mungkin demikian, semoga membantu.

Sunat pada Wanita Bermanfaat

Agama Islam adalah agama yang universal. Agama yang aturan-aturan di dalamnya tidak hanya mengarah pada skala kecil saja, tapi juga tidak melulu mengatur skala yang besar. Agama yang juga tidak memaksakan kepada manusia untuk memeluknya. Terbukti, ketika Nabi Muhammad Saw. masih hidup, dalam bersosialisasi Beliau tidak sewenang-wenang memperlakukan orang-orang kafir untuk masuk Islam. Namun, metode ramahlah yang beliau kenalkan. Meskipun tidak ada paksaaan untuk memeluknya, tidak berarti pengikut agama itu sedikit. Justru tidak sedikit yang masuk Islam, disebabkan hatinya telah terketuk. Karena mereka merasa bahwa Islam adalah agama yang damai.

Manusia dengan beragam kepribadiannya, dalam menanggapi Islam pasti tidak sama. Secara lahiriyah, dimungkinkan karena mereka telah mempunyai tradisi masing-masing. Seperti menyembah pepohonan, matahari, patung, dan lain sebagainya. Dengan ditambah tradisi yang sudah mendarah daging itu, semakin saja membuatnya membenci kepada Islam. Sementara dalam Islam sendiri, tradisi semacam itu tidak pernah ditemui. Mereka sulit meninggalkan tradisi itu, mungkin juga karena takut dikecam sebagai penghianat suku. Karena menurut William H. Haviland, tradisi atau budaya itu sendiri adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya, akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat diterima oleh semua masyarakat. Dengan demikian, tradisi bisa dikatakan sebuah tindakan yang dipandang layak menurut standar khalayak umum, dengan tanpa melirik kebenarannya dari sudut pandang yang lain.

Sering kali aturan atau hukum Islam dipertanyakan. Bukan mempertanyakan karena ingin tahu, namun lebih karena ada unsur ragu pada ketentuan yang telah dirumuskan ratusan tahun yang lalu oleh para ulama yang sudah dijamin tentang kapabilitasnya. Mereka yang meragukan itu mencoba menilik yuridis dengan wacana baru, seperti dalam masalah sirkumsisi (khitan) untuk kaum hawa. Sekarang ada yang mengatakan bahwa sirkumsisi untuk perempuan adalah sebuah tradisi, bukan anjuran dalam sebuah agama. Dan ada juga yang mengatakan, bahwa sirkumsisi untuk perempuan itu tidak ada manfaatnya sama sekali, alias sangat rugi sekali bagi yang telah melakukannya.

“Jika khitan (perempuan) mempunyai manfaat, maka tradisi ini dapat dilanjutkan. Dan apabila tidak ada manfaatnya, maka dapat dihentikan tanpa adanya ancaman syariat bagi yang meninggalkannya ataupun pujian syariat bagi yang melakukannya. Khitan untuk laki-laki diwajibkan karena menyebabkan tidak sahnya salat, dikarenakan ada indikasi tersimpannya najis yang berada di alat kelamin yang belum dipotong. Walaupun najis yang berada pada alat kelamin laki-laki masih diperdebatkan, apakah termasuk bagian dalam, seperti kotoran yang masih berada di dalam perut atau bagian luar,” demikian paparan salah seorang yang mengatakan bahwa sirkumsisi atau sunat bagi kaum hawa merupakan tradisi.

Hal demikian ini tentunya akan mengundang kegemparan. Dan yang pasti akan ada pro dan kontra dalam menanggapi probematika ini. Yang pro akan mengajukan beberapa argumennya sesuai dengan keinginannya, begitu juga sebaliknya. Dan mestinya, akan banyak pula hujatan-hujatan yang bertubi-tubi untuk masing-masing kelompok yang menyatakan ideologinya itu.

Sebenarnya, dalam permasalahan sirkumsisi (laki-laki dan perempuan) ini sudah lama sekali didiskusikan dalam turats. Satu pendapat mengatakan, bahwa sirkumsisi merupakan kesunahan, dan yang lain mengatakan sirkumsisi adalah wajib. Beliau-beliau para ulama, walaupun masih pro dan kontra, tidak ada satupun yang mengeluarkan statemen bahwa sirkumsisi merupakan tradisi atau budaya setempat.

Di antara ulama yang mengatakan bahwa sirkumsisi adalah kewajiban adalah Imam Syafi’i, salah satu ulama terkemuka yang menjadi barometer dalam bermadzhab. Beliau mengemukakan bahwa sirkumsisi adalah sebuah kewajiban yang berlaku untuk kaum laki-laki maupun perempuan. Di antara dalil yang digunakan oleh beliau adalah firman Allah SWT. yang artinya, “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ikutilah agama (ajaran) Ibrahim seorang yang hanif…” (QS. an Nahl: 123). Sekilas ayat ini melukiskan bahwa Nabi Ibrahim AS. memang mempunyai ajaran dari Allah SWT. Dan di antara ajaran beliau adalah khitan. Sebagaimana yang diriwayatkan sahabat Abu Hurairah RA., bahwa Rasulullah SAW. pernah bersabda, “Nabi Ibrahim Khalilur Rahman berkhitan setelah berumur delapan puluh tahun.”

Sementara yang mengatakan sunah berpijak pada hadis Nabi yang juga diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah RA., bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda, “Lima hal yang termasuk fithrah yaitu: khitan, mencukur bulu alat kelamin, mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan memotong kumis.” [Imam al Bukhari (6297 – Fathul Bari), Imam Muslim (3/257 – Nawawi), Imam Malik dalam al Muwattha (1927), Imam Abu Daud (4198), Imam at Tirmidzi (2756), Imam an Nasa’i (1/14-15), Ibnu Majah (292), Ahmad dalam Al-Musnad (2/229) dan Al-Baihaqi (8/323)].

Kelompok yang mengatakan bahwa sirkumsisi bagi perempuan sangat merugikan berpendapat, ketika terjadi female genital mutilation (pemotongan sebagian alat kelamin perempuan), maka akan merusak alat kelaminnya. Sehingga, dari ideologi ini membuat semua pihak pakar medis merasa tidak perlu adanya sirkumsisi untuk kaum hawa. Padahal, tidaklah demikian adanya. Dalam sebuah hadis dijelaskan, bahwa dulu Nabi SAW. pernah memerintahkan seorang perempuan ahli penyunatan untuk tidak ceroboh dalam menyunat. Diantaranya adalah hadis yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik RA., bahwasanya Nabi SAW. bersabda kepada kepada Ummu ‘Athiyah (wanita ahli sirkumsisi), “Apabila engkau meng- khitan seorang perempuan, maka potonglah sedikit, dan janganlah berlebihan (dalam memotong bagian yang dikhitan), karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih menyenangkan (memberi semangat) bagi suami.” [Shahih, oleh Imam Abu Daud (5271), Imam al Hakim (3/525), Imam Ibnu Ady dalam al Kamil (3/1083) dan Imam al Khatib dalam Tarikhnya (12/291)].

Memang, dalam sirkumsisi perempuan terjadi beberapa praktek di kalangan medis. Namun, tidak perlu dijelaskan lebih mendetail di sini. Hanya saja, yang perlu digaris bawahi dalam sirkumsisi adalah, hendaknya dilakukan dengan hati-hati. Imam al Mawardi, salah satu ulama dari kalangan Syafi’i, berpendapat bahwa khitan pada perempuan yang dipotong adalah kulit yang berada di atas alat kelamin perempuan. Yang dianjurkan adalah memotong sebagian kulit tersebut, bukan menghilangkannya secara keseluruhan.

Bagi kelompok yang mengatakan bahwa sirkumsisi tidak ada manfaat yang bisa dipetik, ada baiknya terlebih dahulu menilik hikmah-hikmah yang tersirat di dalammya. Salah satu dosen UIN Sunan Kalijaga, DIY, H. Akmal Abdul Munir Lc. MA, dalam makalahnya memaparkan, bahwa ada beberapa hikmah dari sirkumsisi bagi seorang perempuan. “Sirkumsisi pada wanita yang dilakukan secara benar justru bermanfaat untuk kehidupan seksual wanita yang bersangkutan. Pertama, membuat lebih bersih dan lebih mudah menerima rangsangan. Kedua, sirkumsisi dapat membawa kesempurnaan agama, karena itu disunahkan (atas pendapat yang mengatakan bahwa sirkumsisi adalah sunnah). Ketiga, sirkumsisi adalah cara sehat yang memelihara seseorang dari berbagai penyakit. Keempat, sirkumsisi membawa kebersihan, keindahan, dan meluruskan syahwat.”

Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah berkata, “Hikmah sirkumsisi bagi laki-laki adalah menyucikan mereka dari najis yang tertahan pada kulup kemaluan. Sedangkan bagi wanita adalah untuk menyederhanakan syahwatnya, sesungguhnya kalau wanita tidak disirkumsisi, maka syahwatnya akan menggejolak.” [Fatawa al Kubra, 1/273].

Walhasil, masalah sirkumsisi/ khitan bagi perempuan itu bukanlah sebuah tradisi, melainkan memang benar-benar anjuran dari agama dan bisa dipertanggungjawabkan tentang keberadaan dalilnya. Salah besar apa yang dikampanyekan WHO (World Health Organization) atau organisasi kesehatan dunia bahwa sunat perempuan dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Seperti paparan di atas, di dalam praktek sunat itu terkandung manfaat yang besar, bukan malah berdampak buruk. Harus kita yakini bahwa ulama dahulu dalam mem-fatwakan sebuah hukum, tentu melalui tinjauan dan pertimbangan yang matang terlebih dahulu. Tidak hanya sekilas memahami, lantas mem-fatwakan. Wallahu A’lam.

Surat Untuk “Mereka”

Suatu ketika Umar bin Khattab sedang berkhutbah di masjid kota Madinah, beliau mengulas tentang keadilan dalam Islam. Khutbah Umar berhenti sejenak ketika muncul laki-laki asing dalam masjid. Lalu beliau melanjutkan, “Sesungguhnya seorang pemimpin itu diangkat dari antara kalian, bukan dari bangsa lain. Pemimpin itu harus berbuat untuk kepentingan kalian, bukan untuk kepentingan dirinya, golongannya, dan bukan untuk menindas kaum lemah. Demi Allah, apabila ada di antara pemimpin dari kamu sekalian menindas yang lemah, maka kepada orang yang ditindas diberikan hak untuk membalas pemimpin itu. Begitu pula jika seorang pemimpin di antara kamu sekalian meghina seseorang di hadapan umum, maka kepada orang itu harus diberikan hak untuk membalas hal yang setimpal.”

Selesai khalifah berkhotbah, tiba-tiba laki-laki asing tadi bangkit seraya berkata: “Ya Amirul Mukminin, saya datang dari Mesir dengan menembus padang pasir yang luas dan tandus, serta menuruni lembah yang curam. Semua ini hanya dengan satu tujuan, yakni ingin bertemu dengan Tuan.”

“Katakan apa tujuanmu bertemu denganku,” ujar Umar.

“Saya telah dihina di hadapan orang banyak oleh Amr bin ‘Ash, gubernur Mesir. Sekarang saya akan menuntutnya dengan hukum yang sama.”

“Wahai saudaraku, benarkah apa yang telah engkau katakan itu?” Tanya Umar.

“Iya Amirul Mukminin, benar adanya.”

“Baiklah, kepadamu aku berikan hak yang sama untuk menuntut balas. Tetapi, engkau harus mengajukan empat orang saksi, dan kepada Amr aku berikan dua orang pembela, jika tidak ada yang membela gubernur, maka kau dapat melaksanakan balasan dengan memukulnya 40 kali.”

“Baiklah ya Amirul Mukminin. Akan saya laksanakan semua itu,” jawab orang itu sambil berlalu.

Ia langsung kembali ke Mesir untuk menemui gubernur Mesir, Amr bin ‘Ash. Sesampai di sana, ia langsung mengutarakan maksud dan tujuannya.

“Wahai Amr, sesungguhnya seorang pemimpin diangkat oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat. Dia diangkat bukan untuk golongannya, bukan untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya, dan bukan pula untuk menindas yang lemah dan mengambil hak yang bukan miliknya. Khalifah Umar telah memberi izin kepada saya untuk memperoleh hak di muka umum.”

“Apakah kamu akan menuntut gubernur?” Tanya salah seorang yang hadir.

“Iya, demi kebenaran akan saya tuntut dia,” jawab lelaki itu.

“Tetapi, dia kan gubernur kita?”

“Seandainya yang menghina itu Amirul Mukminin, saya juga akan menuntutnya.”

“Wahai, saudara-saudaraku. Demi Allah, aku minta kepada kalian yang mendengar dan melihat kejadian itu agar berdiri,” kata sang gubernur. Lalu banyaklah yang berdiri.

“Apakah kamu akan memukul gubernur?” Tanya salah satu sahabat.

“Ya, demi Allah saya akan memukul dia sebayak 40 kali.”

“Tukar saja dengan uang, sebagai pengganti pukulan itu,” tambah mereka.

“Tidak, walaupun seluruh Masjid ini berisi perhiasan, saya tidak akan melepaskan hak itu,” jawab si lelaki.

“Baiklah, mungkin engkau lebih suka demi kebaikan nama gubernur kita, di antara kami ada yang mau jadi penggantinya,” bujuk sahabat.

“Saya tidak suka pengganti,” jawabnya.

“Kau memang keras kepala. Tidak mendengar dan tidak suka usulan kami sedikitpun.”

“Demi Allah, umat Islam tidak akan maju bila terus begini. Mereka membela pemimpinnya yang salah dengan gigih karena khawatir akan dihukum,” ujamya sambil beranjak meninggalkan tempat.

Amr bin Ash serta merta menyuruh anak buahnya untuk memanggil lelaki itu. Ia kembali.

“Ini rotan, ambillah! Laksanakanlah hakmu,” kata Amr bin Ash sambil membungkukkan badannya siap menerima hukuman balasan.

“Apakah dengan kedudukanmu sekarang ini engkau merasa mampu untuk menghindari hukuman?” Tanyanya kembali.

“Tidak, jalankan saja keinginanmu itu,” jawab Amr bin Ash.

“Tidak, sekarang aku memaafkanmu.” Lelaki itu melemparkan rotannya dan memeluk sang gubemur.