All posts by tubagus godhonfar

Tahun Baru dan Citra Buruk Agama

Penulis: Hafidz Alwy

Penghujung tahun seperti ini, biasanya muncul ‘fatwa’ bahwa perayaan tahun baru dilarang oleh agama Islam. Alasannya macam-macam. Di antara yang paling sering diujarkan ialah bahwa hal tersebut merupakan bagian dari perbuatan orang non-muslim yang tidak diteladani oleh Nabi.

Jika sekadar pendapat untuk diyakini sendiri, mungkin tidak bermasalah. Namun ‘selorohan’ tadi menjadi berbahaya jika mengucapkan selamat tahun baru dijadikan ukuran bahwa si penutur tidak lagi menjalankan agama dengan benar.

Berdebat panjang lebar tentang hal ini hanya akan mencitrakan bahwa kita, sebagai muslim, antipati terhadap kemajuan zaman. Keyakinan adanya jurang yang sangat lebar antara kebudayaan kita dan kultur liyan, di mana ketika jurang tersebut terlampaui, berarti kita sudah meninggalkan ajaran. Agama hanyalah fobia maya yang diciptakan kelompok-kelompok berkepentingan. Sehingga, mewajibkan pendapat perkara khilafiah kepada orang lain seperti tahun baru merupakan bahan murahan yang berujung—bahwa Islam antipati terhadap segala yang beraroma modern, kemajuan, eksklusif dan jaga jarak. Ini adalah kesalahan fatal seorang yang beragama. Ia tidak mengetahui apa itu hakikat agama yang dianutnya. Atas sebab ketidakpahaman inilah, kadang ada di antara kita yang memperjuangkan sesuatu namun secara tak sadar, kita sedang menghancurkan.

Beberapa fobia atas budaya liyan seperti itu sering dialami oleh mereka yang tidak percaya diri dengan peradaban sendiri. Ketakutan akan hegemoni peradaban Barat, muncul dari jiwa yang sebenarnya kalah dari persaingan global. Sikap seperti ini akan memicu eksklusivitas dan pada akhirnya akan memunculkan gerakan radikalisme dengan melakukan aksi teror. Mereka menganggap yang berseberangan dengan mereka adalah musuh dan harus dimusnahkan.

Budaya Global

Menurut hemat saya, merayakan tahun baru adalah suatu laku yang tidak ada kaitannya dengan agama manapun. Meski ada yang mengatakan bahwa pada mulanya ia berawal dari kalangan Nasrani. Namun seiring dengan berjalannya waktu, laku tersebut menjadi budaya global yang tidak mencirikan golongan manapun. Tahun baru sudah menjadi bagian dari budaya modern masyarakat dunia.

Secara mikro, apa yang sedang kita bahas hampir sama dengan fenomena pakaian berdasi. Sewaktu Belanda menjajah Indonesia, dasi merupakan model pakaian yang mereka kenakan sehari-hari. Ini ciri khas mereka. Saat itu, siapa pun yang berpakaian serupa—akan dianggap sebagai ‘Londo’. Seiring berjalannya waktu, pakaian berdasi merupakan pakaian modern dan tidak merefleksikan kalangan manapun. Ini pertama.

Kedua, tahun baru bukanlah (yang oleh sebagian orang dianggap sebagai) budaya golongan fasik dan kotor. Sekarang, ibu kota berbagai negara berikut instansi pemerintahan dan berbagai kalangan mengakui budaya ini. Mereka tidak melakukan sesuatu yang melanggar norma kesopanan. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu kerap terjadi saat tahun baru. Sehingga, pernyataan bahwa tahun baru adalah budaya kotor tidak lagi relevan dalam waktu dewasa ini.

Ketiga, mereka yang antipati terhadap perkembangan dalam aneka rupa, biasanya mempunyai cara pikir tertutup. Bahkan terkait nilai-nilai keagamaan sekalipun.

Islam dan Pencitraan

Suatu ketika, ada seorang Badui datang kepada Rasulullah Saw. ketika beliau sudah hijrah ke Madinah. Seorang Badui tersebut meminta kepada Rasulullah agar diberi sejumlah harta. Lantas Rasulullah memberinya kambing yang sangat banyak (dikatakan bahwa kambingnya memenuhi lembah antara dua gurun). Betapa kaget Badui tersebut mendapat hadiah sebanyak itu. Ia bergegas kembali ke kampungnya dan menyerukan kepada kaumnya: “Wahai kaumku, berimanlah kalian semua dengan Muhammad, sesungguhnya ia memberiku hadiah sebanyak pemberian orang yang tidak takut akan kemiskinan.”

Perilaku Rasulullah tersebut menjadikan si Badui dan kaumnya masuk Islam sebab terpukau dengan akhlak Rasulullah. Itu adalah satu contoh kecil bagaimana Rasulullah membawakan Islam dengan sikap dermawan dan penuh kasih sayang.

Pada masa ketika Islam sedang menapaki kejayaan, orang-orang non-muslim melihat bahwa kalangan muslim adalah mereka yang berkasta lebih tinggi daripada dirinya. Mereka melihat demikian bukan karena golongan maupun keturunan, namun kasta yang terbangun karena indahnya perilaku dan karakter umat Islam waktu itu. Sehingga mereka merasa bahwa jika ingin dirinya hidup mulia sejajar dengan kasta umat Islam, maka mereka haruslah masuk Islam.

Citra di Nusantara

Peristiwa senada tidak hanya terjadi satu-dua kali. Kita mengingat bagaimana masyarakat Nusantara terpukau dengan pedagang-pedagang yang datang dari Timur Tengah maupun Gujarat. Mereka muslim dan terkenal dengan perilaku yang jujur dan menyenangkan mitra bisnisnya. Hal inilah yang membawa penduduk Nusantara memeluk Islam. Mereka terpesona dengan perilaku para saudagar negeri seberang tersebut.

Suatu ketika, saya mendengar bagaimana Kiai Marzuqi Mustamar (tokoh di Jawa Timur) memaparkan peran para pendakwah dahulu dalam menawarkan Islam pada masyarakat setempat. Walisongo yang mendakwahkan Islam mencapai keberhasilan yang gemilang dengan tanpa mengobarkan permusuhan dan pertumpahan darah. Para pedakwah masa lalu mengerti bagaimana cara membungkus Islam dengan kemasan yang menarik sehingga masyarakat dengan sendirinya terpukau dan memutuskan untuk memeluknya.

Tentu kita tidak lupa ketika ada seorang Sahabat yang tidak sengaja melakukan kesalahan. Suatu ketika, salah seorang Sahabat menjadi imam shalat. Kemudian datang Sahabat lain menjadi makmum. Ketika menyadari bahwa ada orang yang bermakmum kepadanya, Sang imam memanjangkan bacaaan shalat hingga makmum merasa terlalu lama dan lelah. Selepas shalat, makmum tersebut mengadu kepada Rasulullah tentang perilaku imam tersebut.
Mendapati hal itu, Rasulullah memberikan wejangan kepada imam tersebut. “Apakah engkau menjadi seorang yang membuat orang lari (dari ajaran Islam)?”[]

Tentang penulis:
Koordinator LBM 2018-2020, Koord. Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCINU Mesir 2018-2020. Mahasiswa Al-Azhar, Kairo. Alumnus Pesantren Lirboyo mutakharijin tahun 2012

# TAHUN BARU DAN CITRA BURUK AGAMA

Baca juga:
APA YANG MENYEBABKAN MASUK SURGA

Lihat juga:
Channel Pondok Pesantren Lirboyo

# TAHUN BARU DAN CITRA BURUK AGAMA
# TAHUN BARU DAN CITRA BURUK AGAMA

Studi Ilmu Balaghoh

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar ilmu balaghoh? Sekilas kita akan mengingat kembali kajian ilmu balaghoh yang sudah menjadi objek pembelajaran di madrasah kita. Kami tidak bermaksud mengajak Anda membuka kembali kitab Jauharul Maknun atau Uqudul Juman yang sudah tertata rapi di rak kitab. Atau mungkin sudah Anda masukan ke dalam kemasan kardus. Sayang kan, kalau berantakan lagi malah repot jadinya. 🙂 Belum lagi menurut pengalaman penulis pelajaran ini memang cukup sulit untuk dicerna. Paling tidak, kita tahu betapa pentingnya ilmu ini kaitannya dalam memahami bahasa dan makna ayat Alqur’an secara tersirat. Ketika dorongan rasa ingin tahu menggelora, maka pengembaraan pengkajian itu terasa indah dan bergairah.

Kalau pelajaran ini sangat sulit sangatlah wajar. Karena setiap orang akan merasa kesukaran apabila menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibunya. Kendala untuk mengerti ilmu Balaghah atau bahasa mengenai sastra akan lebih sulit dimengerti apabila tidak mempunyai dasar pengetahuan awal. Dalam tradisi ilmu sastra arab, balaghoh telah menjadi ilmu pengetahuan yang mempunyai formulasi sebagai basis konkretisasi sastra dan tolak ukur keindahan. Oleh karena itu secara teori prasyarat mempelajari balaghoh harus menguasai morfologi (nahwu) dan sintaksis (shorof) sebagai faktor penunjang.

Dengan kemampuan menguasai konsep-konsep balaghoh, kita bisa mengetahui rahasia-rahasia bahasa Arab dan seluk beluknya. Serta akan terbuka rahasia-rahasia kemu’jizatan Al-Quran dan Al-Hadits. Bahkan para pakar sastra era kenabian telah mengakui betul akan keindahan bahasa Al-Quran. Dari situ mereka yakin betul bahwa apa yang tertera dalam Al-Qur’an bukanlah karya manusia. Dengan begitu Al-Qur’an merupakan inspirator bagi para ahli bahasa Arab untuk mengkonsep berbagai macam pengetahuan yang dapat digunakan untuk menjaga keasliannya.

Bahkan, sebelum ilmu-ilmu tersebut dikenal, esensinya telah mendarah daging dalam praktek berbahasa orang-orang Arab dulu. Berbagai macam pengetahuan manusia, mulai dari ilmu, filsafat, seni, dan lainnya telah berada dalam akal dan lisan manusia dalam kehidupannya jauh sebelum diajarkan dan dikodifikasikan. Pada perkembangan selanjutnya, semakin luasnya percampuran orang Arab dengan non-Arab seiring kemajuan peradaban Islam menjadikan perlunya penyusunan sebuah ilmu pengukur ketepatan dan keindahan berbahasa Arab. Hal ini karena mereka orang-orang non-Arab tidak dapat mengetahui keindahan bahasa Arab kecuali jika terdapat kaidah ataupun pembanding. Hal ini penting terutama karena mereka punya keinginan besar untuk mengetahui kemukjizatan Al-Quran.

Mempelajari balaghoh tidak ubahnya mempelajari bidang seni yang lain yang tidak cukup dengan kemampuan bawaan, akan tetapi memerlukan latihan dalam waktu yang panjang.Praktek merupakan instrumen penting untuk tercapainya langkah awal. Dalam pengajian tafsir yang digelar di pesantren semisal, ini bisa kita jadikan acuan untuk menerapkan ilmu balaghoh yang kita perloleh.

Jika kita perhatikan, pembahasan ilmu ini tidak keluar dari ruang lingkup studi kalimat (jumlah). Dengan begitu kita akan terbiasa melihat retorika bahasa al-Qur’an dan pesan-pesan yang tertuang di dalamnya.

Para pakar bahasa ketika menghendaki menafsirkan satu ayat atau menetapkan makna dari satu kata yang sulit dipahami, maka mereka mendatangkan syair jahiliy yang memuat kata tersebut beserta makna dan gaya bahasanya. Banyak yang menyebut bahwa Yusuf Assakaki sebagai tokoh yang mengubah balaghoh dari shina’ah (induktif) menjadi ma’rifah (deduktif). Studi balaghah terbatas pada tiga pokok dasar keilmuan, yaitu ma’ani, bayan, dan dengan badi’. Dan umumnya faidah yang terkandung di dalamnya berporos pada intuisi ( dzauq ) orang arab sebagai standarisasi. Selain itu juga mengungkapkan penerapan bahasa yang indah, nilai estetis (keindahan seni), memberikan makna sesuai dengan muktadhal hal (situasi dan kondisi), serta memberikan kesan sangat mendalam bagi pendengar dan pembacanya.

Pengetahuan tentang sisi sejarah balaghah perlu kita pahami agar muncul kesadaran bahwa ilmu ini memang bukan benda mati yang yang tidak dapat diperbarui. Kesadaran inilah yang dapat menjamin perkembangan ilmu ini yang lebih maju, tidak mengalami kejumudan atau bahkan kepunahan. Kemajuan yang dimaksud di sini meliputi berbagai segi, entah dari segi pengajarannya yang lebih mudah, cakupan materi yang lebih luas, ataupun hasil penerapan dari ilmu itu sendiri yang memuaskan. Atau bahkan munculnya ilmu baru dari ilmu yang telah ada.

Bahwa sebagian teori balaghah mengkaji tentang bahasa. Lebih banyaknya merupakan bagian dari seni sastra dan gaya bahasa seperti terjemahan catatan khitobah dan syair yang di dalamnya memiliki makna falsafah bukan makna sastra. Beitu pula hubungan penyair, cerpenis, dan orang-orang yang berprofesi dengan tulisan atau lisan. Apa kegunaan mempelajari ilmu ini? Apakah manusia tidak akan mampu bertutur dengan baik tanpa mempelajari kaidah-kaidah balaghah? Seperti yang dikatakan oleh ahli mantik yang telah menetapkan metode berpikir yang lurus dan tak ada seorangpun yang mengingkari keabsahan berpikir dan keindahan tutur kata meskipun tidak merujuk pada kaidah-kaidah ilmu mantik dan ilmu balghah. Ahli mantik pun menjawab bahwasanya ilmu mantik itu sebagai media untuk melatih akal terhadap metode penelitian keilmuan yang valid.

Para ahli balaghoh menjawab, ”Kita mengetahui bahwa mereka berbakat dalam memberikan penjelasan dan jiwa mereka siap menciptakan sastra yang esteteis,. Akan tetapi mereka seolah membiarkan diri mereka terjerambab dalam kesalahan yang bermacam-macam ketika berpidato, menulis cerpen atau kisah.
Dilihat dari karakteristiknya bahwa balaghah mencakup keselarasan yang tampak dalam keserasian di antara ucapan dan kebutuhan pembaca dan pendengar dalam kondisi yang jelas. Sehingga gerakan penutur memberikan ekspresi retorik. Balaghah memperkuat hubungannya dengan seni estetik karena pada hakikatnya balaghah merupakan salah satu dari seni seperti tulisan, lukisan, musik, ukiran dan juga kemampuan mengungkapkan ungkapan yang indah dengan watak bawaannya sendiri seperti mendengarkan musik, melihat warna lukisan dan keserasian warna tersebut. Kemampuan ini mempertajam kefasihan.

Akhirnya dapat kita simpulkan bahwa balaghoh termauk kajian keilmuan yang membahas hubungan antara manusia dengan jaman dan tempatnya, serta hubungan individu dengan kehidupan sosialnya.

Penulis: Luthfi Hakim
# STUDI ILMU BALAGHOH

Baca juga:
DAKWAH SYARIAH SANTRI |RESOLUSI SOSIAL DAN MORAL

Subscribe juga:
Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

# STUDI ILMU BALAGHOH
# STUDI ILMU BALAGHOH

Santri Pengawal NKRI

Penulis: Muhammad Habibullah Mahmud
Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebuah bangsa dimana berbagai macam suku, ras, budaya, dan agama berkumpul secara majemuk. Bhineka Tunggal Ika tertanam di dalam jiwa disetiap penduduknya, sehingga rukun dalam berbangsa dan bernegara. Tanpa ada kecemburuan sosial, penindihan hukum dan penindasan hak-hak yang dilandasi perbedaan.

Menurut sejarah, KH. Hasyim Asy’ari melalui pesantren dan Jamiyah Nahdlatul Ulama, melalui resolusi jihad yang beliau utarakan, bahwa “wajib bagi setiap warga Indonesia untuk menjaga NKRI”, menjadi salah seorang tokoh pemantik berkobarnya jiwa santri untuk selalu menjadi garda terdepan dalam mengawal NKRI, juga dari jargon beliau:

حب الوطن من الايمان

“Cinta tanah air merupakan sebagian dari iman”
Mengapa demikian? Apakah beliau tidak mempersoalkan sistem bangsa Indonesia? Ternyata tidak, karena tatanan bangsa Indonesia sudah sesuai dengan norma-norma ajaran Islam. Maka tidaklah mengherankan jika beliau mengeluarkan fatwa ”membela tanah air Indonesia hukumnya wajib.”

Keserasian

Mengenai keserasian tatanan bangsa Indonesia dengan syariat Islam terbukti dari beberapa aspek. Dari penyetaraan kasta sosial dalam bingkai NKRI tanpa memandang perbedaan promodial misalnya. Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad Saw. pernah membentuk bangsa di Madinah ketika hijrah, yang tatanannya sama dengan NKRI. Karena dari penduduk Madinah yang konotasinya terdiri dari berbagai macam suku, dan kepercayaan—mereka dapat disatukan melalui tekad dan keinginan yang kuat untuk membangun masa depan yang cerah dan hidup bersama dengan damai di bawah naungan bangsa Madinah. Sesuai butir isi Piagam Madinah yang mengikat perdamaian di antara mereka:

إنهم أمة واحدة من دون الناس

“Sesungguhnya mereka (penduduk Madinah) adalah satu umat, bukan komunitas yang lain.”

وإن يهود بني عوف أمة مع المؤمنين. لليهود دينهم وللمسلمين دينهم. إلا من ظلم وأثم فإنه لا يوتغ إلا نفسه وأهله بيته

“Kaum Yahudi dari Bani Auf adalah satu umat dengan Mukminin. Bagi Yahudi agama mereka, dan bagi orang-orang Muslim agama mereka (kebebasan ini juga berlaku bagi sekutu dan diri mereka sendiri(. Kecuali yang dzalim dan jahat, maka hal itu akan merusak diri dan keluarganya.”

Kesamaan tekad dan cita-cita masyarakat Madinah, membuat mereka bahu-membahu dalam mempertahankan tanah airnya dari serangan pihak luar:

وأن بينهم النصر من ذهب يثرب

“Mereka bahu-membahu dalam menghadapi penyerang kota Yastrib.” (Al-Hidayah wan Nihayah karya Imam Ibn Katsir)
Mengenai bentuk bangsa Indonesia yang berupa Repubik, juga tidak lepas dari norma-norma ajaran Islam. Republik berasal dari kata ‘re’ yang berarti kembali dan ‘publik’ bermakna kepentingan umum atau masyarakat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan fundamental pembentukan pemerintahan adalah untuk kepentingan umum. Filosofi ini merupakan analogi dari salah satu kaidah fikih:

تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة

“Kebijakan pemerintah haruslah berorientasi kepada kemaslahatan publik.”

Estafet

Dengan demikian, sudah jelas bahwa rumusan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara-bangsa yang digagas oleh para pahlawan termasuk para ulama, merupakan manifestasi daripada ajaran Islam yang selayaknya harus diteruskan, dijaga, dan dipertahankan oleh generasi pengganti. Bukan malah mempersoalkan kedamaian dan pesaudaraan yang timbul karenanya. Bukankah kedamaian adalah kenikmatan yang sangat besar? Di mana kita dapat memenuhi apa yang kita butuhkan, beribadah, dan bersenda gurau dengan leluasa. Lihatlah negara-negara lain yang terus-menerus dilanda konflik berkepanjangan. Suara kicauan burung dan senda gurau, berganti dengan desingan tank dan peluru tembak. Tanah yang semula terhiasi rerumputan, tergantikan dengan simpahan darah. Dan seluruh penjuru negara menjadi sarang burung gagak kematian juga kehancuran.

Kendati demikian, sudah bukan saatnya mempersoalkan eksistensi negara. Maka tidaklah mengherankan jika Allah Swt. menyandingkan bunuh diri dengan pergi dari tanah air. Dalam firmannya:

ولو أن كتبنا عليهم أن اقتلوا أنفسكم أو اخرجوا من دياركم ما فعلوه إلا قليل منهم

“Dan sekalipun kami perintahkan kepada mereka “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu’ niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka.” (QS. An-Nisa: 66)

Syekh Wahbah Az-Zuhaili menafsiri ayat tersebut bahwa Allah Swt. menjadikan terusir dari tanah air, setara dengan bunuh diri. Maka siapapun tidak akan membiarkan sebutir tanah bangsanya direbut pihak lain (Tafsir al-Wasith). Diceritakan juga bahwa Nabi Muhammad Saw. ketika tiba di Madinah setelah berpergian, beliau menggerak-gerakkan untanya karena sangat bahagianya. Dalam menafsiri hadis tersebut, Imam an-Nawawi memaparkan perihal penanaman jiwa nasionalisme merupakan sebuah anjuran syara’ (Fath al-Bari).

Peran Santri

Lantas sebagai santri, kita sudah selayaknya memberikan sumbangsih kepada bangsa untuk selalu mengawal terjaganya NKRI. Seperti halnya yang telah dicontohkan oleh pembesar-pembesar kita yang senantiasa memberikan komitmennya untuk bangsa dalam merawat bingkai NKRI. Mengenai hal ini, bisa dilakukan dengan berbagai cara, sesuai dengan bidang dan kemampuan kita. Yang terpenting ihwal tersebut tidak sampai menimbulkan perpecahan dan kegaduhan.

Kita harus mengingatkan pada diri kita bahwa perdamaian di Indonesia merupakan harga hidup sekaligus sampai mati yang harus ditunaikan. Sayyidina Umar berkata:

لولا حب الوطن لخرب بلد السوء فبحب الأمطان عمرت البلدان

“Andai tanpa adanya cinta tanah air, niscaya akan tersungkur negeri yang terpuruk. Maka, dengan melalui cinta tanah airlah negara akan makmur.”

Mencari ilmu pengetahuan sebagaimana kiprah santri umumnya, juga merupakan sebagian bentuk sumbangsih santri untuk negeri. Karena jika seseorang tidak memiliki ilmu, ia tidak akan pernah ada harganya. Orang bodoh jelas tidak bisa membedakan mana yang bermanfaat dan yang merugikan terhadap bangsa. Maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa langkah pertama yang harus kita lakukan untuk menjaga bangsa adalah menuntut ilmu.

Kontribusi

Selain adanya tuntutan untuk fokus mengembangkan potensi diri, kita juga harus mulai berkontribusi dalam ruang dakwah yang bebas ini. Saat ini adalah era di mana dunia virtual lebih berpengaruh dari pada dunia nyata. Banyak sekali berita, tulisan, dan informasi yang implikasinya negatif. Sehingga berpotensi merongrong keharmonisan yang telah terajut rapi sekian lama. Diakui atau tidak, media dakwah yang seharusnya kita jadikan sebagai lahan dakwah, menyebarkan pesan-pesan perdamaian, kini lebih didominasi oleh ujaran-ujaran kebencian, dan pemikiran yang menepis jiwa nasionalisme. Bagaimana tidak? Karena bangsa kita adalah bangsa yang makmur sehingga banyak pihak luar yang menginginkan runtuhnya persatuan kita. Seperti kata pepatah “di mana ada gula, pasti di situ ada semut.” Kita sebagai santri harus bisa tampil menjadi oase penyejuk jiwa di tengah gurun hiruk pikuk ini.

Bekal

Ketika menimba ilmu di pesantren, kita sebenarnya memiliki bekal yang cukup untuk membumikan perdamaian dan keharmonisan dalam berbangsa dan bernegara. Karena kita terlahir dari kultur dinamis, tidak kaku. Jika apa yang telah kita ketahui di pesantren tidak kita kembangkan dengan menyebar luaskannya, lalu untuk apa kita mencari sesuatu yang belum kita tahu? Bukannya pesan positif yang kita sampaikan kemungkinan akan bisa menggugah hati yang keruh? Tentu bisa saja, Nabi bersabda:

بلغوا عني ولو آية

“Sampaikan (ilmu) dariku walau satu ayat.”
Analoginya, jika kita telah menyampaikan pesan perdamaian semampu kita, berarti kita telah mengamalkan perintah Nabi. Karena kedamaian dalam berbangsa dan bernegara merupakan tuntunan syariat Islam.
Dalam menjaga dan mengawal keharmonisan NKRI, kita harus bisa mengerahkan jiwa dan raga secara totalitas:

من جد وجد

“Barang siapa bersungguh-sungguh, dia akan menemukan hasil kesungguhannya.”
Juga selalu mengedepankan kepentingan bangsa dari pada kepentingan kita sendiri. Karena berhasil tidaknya suatu keinginan individual kita, tergantung keadaan bangsa. Sebagaimana penggambaran di atas. Artinya kemajuan atau kemunduran bangsa, merupakan tanggung jawab kita bersama. Karena martabat kita sebagai pewaris bangsa.

Kunci Perdamaian

Sebenarnya santri adalah kunci perdamaian, persatuan, keharmonisan dan kesuksesan bangsa Indonesia. Karena santrilah yang lebih mengetahui letak di mana ridho Allah Swt. Sehingga Allah menjadikan bangsa Indonesia menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur (negara yang makmur dan mendapat ampunan Allah). Allah Swt. bersabda:

هل يستوي الذين يعلمون والذين لا يعلمون إنما يتذكّر أولوا الألباب

“Tidaklah sama orang-orang yang mengetahui dangan orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Namun, kita masih tertinggal jauh dan belum bisa hadir secara maksimal sebagai penyeimbang. Oleh karena itu, mulai saat ini kita harus meneguhkan lebih giat kembali peran santri dalam menjaga keutuhan NKRI.[]

Baca juga:
NASIONALISME RELIGUS MANHAJ KEBANGSAAN ULAMA’ NUSANTARA

Subscribe juga:
Channle Pondok Pesantren Lirboyo

# SANTRI PENGAWAL NKRI
# SANTRI PENGAWAL NKRI

Bulan Gus Dur | Meneladani Gus Dur sebagai Santri

Beliau menjadi sosok yang enigmatik, penuh kejutan, kontroversial, namun banyak orang menaruh kepercayaan dan harapan padanya. Gagasannya yang genial melampaui zaman, menjadikan banyak orang yang melihat tindakan dan kelugasan sikapnya (seolah dipaksa untuk) berhati-hati untuk memahami “labirin pandangannya” agar tidak gagal paham ataupun bersikap. Bahkan tidak jarang mereka semua dibuat ketar-ketir dan gemas atas pernyataan dan tindakannya.

Pergaulannya tak terbatas pada lapisan kebudayaan ataupun isme tertentu. Beliau merupakan seorang yang lugas dan apa adanya. Maka tak heran, beliau dekat dengan siapa saja, bahkan orang-orang yang memusuhinya. Namun perjalanan hidupnya tak pernah mulus, Beliau seolah selalu hidup dalam petualangan yang penuh badai dan onak berduri untuk menabur ajaran yang telah dibawa oleh junjungannya, kanjeng nabi Muhammad SAW; Islam cinta, untuk menyemai kehidupan damai yang adil dan beradab. Semua kalangan merasa kehilangan pada waktu kepergiaannya, para pecinta dan pencacinya memberikan doa terbaik untuk mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Ialah Almaghfurlahu, KH Abdurrahman Wahid, atau yang lebih masyhur dengan panggilan Gus Dur. Sebagai putra kyai besar sekaligus cucu pendiri Nahdlatul Ulama, perkembangan gus Dur tidak hanya terbatas pada lingkungungan pesantren saja.

Potret Masa Kecil

Pada akhir tahun 1944, ketika kyai Wahid Hasyim diutus oleh Hadratus syaikh Hasyim Asyari untuk mengurusi Shumubu, sebuah departemen keagamaan yang dibentuk oleh Jepang di Indonesia pada saat itu. Dan kyai Wahid Hasyim mengajak Gus Dur yang pada waktu itu baru berusia empat tahun. Sebagai seorang tokoh nasional yang berlatar belakang dan lingkungan pesantren tradisional, kyai Wahid Hasyim mempunyai lingkup persahabatan yang sangat luas. Rumah beliau selalu dipenuhi tamu-tamu dari berbagai golongan, termasuk orang-orang Eropa. Pergaulan seperti itu memungkinkan Gus Dur tumbuh menjadi seorang yang berwawasan luas dan sangat menghargai perbedaan, seorang kosmopolitan.

Adapun kegemaran membaca yang dimiliki oleh Gus Dur, seperti yang diungkap oleh Greg Barton dalam biografi Gus Dur yang ditulisnya, merupakan didikan dari ibu nyai Solicahah Wahid, ibunya Gus Dur. Koleksi buku dan surat kabar yang banyak di kediaman beliau, mendorong Gus Dur menjadi seorang yang gemar membaca buku. Gus Dur remaja jarang pergi keluar tanpa membawa buku. Bila ada sesuatu yang tak dapat Beliau temukan di perpustakaan di kediamannya, beliau mencarinya di toko-toko yang menjual buku-buku bekas di Jakarta. Kegemaran tersebut dilakukan hingga akhir hayat beliau.

Jejak Masa Remaja

Pada masa remajanya, beliau dikirim oleh ibundanya ke Jogjakarta. Di kota ini, beliau dititipkan di rumah salah satu teman ayah beliau. Seorang Muhammadiyah tulen, kyai Junaidi. Selain mengikuti sekolah formal dan belajar kepada kyai Junaidi, setiap tiga kali dalam seminggu, Gus Dur mengaji kepada KH. Ali Ma’shum, pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak.

Setelah menamatkan pendidikan formalnya, Gus Dur mulai mengikuti pendidikan pesantren secara penuh. Beliau nyantri di Pesantren API Tegalrejo di Magelang. Di sini, beliau mengaji kepada kyai Chudori. Di Tegalrejo, mampu menyelesaikan pelajarannya dalam waktu yang sangat singkat, hanya dua tahun. Kebanyakan santri-santri lain memerlukan waktu empat tahun untuk menyelesaikan pelajaran yang ada.

Kemampuan untuk menyelesaikan pendidikan dengan waktu yang cepat itu bukan semata-mata merupakan previlese yang Beliau dapat dari keluarganya di Jombang, tapi karena—selain kecerdasan dan daya hafalnya yang kuat, merupakan buah ketekunan dan kegemarannya membaca. Hal ini Beliau buktikan setiap di luar kelas, di sela-sela menulis pelajar sekaligus menghafal pelajaran tersebut, sebagai pengusir rasa lelah ataupun bosan, beliau mengalihkan bacaannya kepada buku-buku barat.

Usaha Dzohir Batin

Selain kegiatan mengaji dan belajar, di pesantren Tegalrejo ini, Gus Dur membiasakan diri melakukan tirakat, riydloh, semacam laku untuk mengekang hawa nafsu dan hasrat materil melalui cara berpuasa dan ngrowot. Sebab, walaupun semenjak kecil Gus Dur terbiasa dengan buku-buku barat atau bacaan berbahasa non Arab, Gus Dur tetap mempunyai ketertarikan pada sisi sufistik dunia pesantren, selain laku tirakat, beliau juga rutin berziarah ke makam-makam auliya’illah.

Terbentuknya sisi intelektual seorang Gus Dur bukan saja Beliau dapat dari kegemaran membaca dan tirakatnya saja. Tetapi juga melalui pendiskusian yang Beliau lakukan bersama teman-temannya. Sewaktu di pesantren, selain diskusi ringan di luar kelas bersama-sama teman beliau, diskusi juga Beliau lakukan dalam bentuk sorogan kitab.

Sorogan merupakan sebuah metode khas pesantren di mana seorang santri membaca sebuah kitab di hadapan gurunya. Di situ, sang guru memberi pertanyaan-pertanyaan seputar gramatika dan pemahaman. Dan melalui tanya jawab itulah terjadi sebuah tahqiq pemahaman.

Kepribadian

Kegemaran Gus Dur dalam membaca, berdiskusi, dan tirakat melalui hidup sederhana juga Beliau lakukan ketika belajar di Kairo dan Baghdad. Dan melalui semua itu, terbentuklah sosok Gus Dur yang serius namun santai. Menjadi seorang yang sangat sederhana dan apa adanya. Namun sifat yang tenang, santai, dan kesederhanaannya itulah yang membuat semua orang menaruh hormat dan mengakui kebesarannya, bahkan termasuk orang-orang yang berseberangan dengan beliau.

Bulan ini haul Gus Dur diadakan. Bukan untuk mengenang dari di mana beliau meninggalkan para pecintanya. Bahkan bukan hanya untuk mengenang semasa beliau hidup. Tetapi untuk diteladani. Untuk terus menjaga sanad sikap seorang santri. Lahu Alfu Al-Fatihah. []

Baca juga:
GUS DUR DAN PERAN DRAMATIS KYAI IDRIS

Dawuh Masyayikh:
@Pondok Pesantren Lirboyo

# BULAN GUS DUR | MENELADANI GUS DUR SEBAGAI SANTRI
# BULAN GUS DUR | MENELADANI GUS DUR SEBAGAI SANTRI

Menanti Hujan

Oleh: Fas Rori

Sudah lama daerah itu tak tersentuh air langit. Bahkan saking lamanya, penduduk daerah itu sudah lupa atau malah tak tahu kapan terakhir kali hujan turun. Mungkin dulu ketika masa kakek buyut mereka. Padahal daerah-daerah di sebelahnya setiap tahun selalu diguyur hujan. Mungkin daerah itu terkutuk. Tapi bila memang terkutuk, sebab apa? Oleh siapa?

Masyarakat daerah itu hanya mengenal musim panas saja. Mereka tak tahu dengan musim penghujan apalagi musim dingin. Bukan hanya tak tahu, mereka juga tak perduli. Apa guna musim penghujan dan musim dingin jika mereka tak merasakannya?

Mungkin benar daerah itu terkutuk. Sebab seluruh penduduk di situ kebanyakan penjahat dan pendosa. Ada pencuri, begal, mucikari, dan pelacur, itu untuk masyarakat miskinnya. Ada juga tukang nyolong duit rakyat, tukang suap dan mafia pemerintah, yang ini penjahat kelas elit. Ada juga pembunuh bagi mereka yang tak punya kerjaan.
Semua pekerjaan itupun mereka warisi dari orang tua. Yang jadi pelacur adalah anak zina mantan pelacur yang sekarang jadi mucikarinya. Yang begal dan pencuri sejak muda atau bahkan sewaktu masih kecil sudah diajak orangtuanya membegal dan mencuri. Yang koruptur dan tukang maling duit rakyat sudah biasa mendengarkan obrolan ayah dan ibunya tentang bagaimana mencuri dan berapa besar uang yang dicuri. Jadi pekerjaan yang dikerjakan orang-orang daerah itu sudah turun temurun sejak dulu. Entah sudah generasi ke berapa mereka mewarisi pekerjaan-pekerjaan itu. Sudah seharusnya jika daerah itu terkutuk untuk tidak menerima air langit yang suci.

Namun tahun ini terasa berbeda. Cuaca terasa sangat panas walaupun sebelumnya mereka tak pernah merasakan dingin. Lebih panas daripada sebelum-sebelumnya. Keringat seperti tak henti-hentinya mnegalir keluar dari pori-pori.

Belum lagi ditambah air yang kian hari kian menyusut. Walaupun daerah itu bertahun-tahun tak tersentuh hujan, namun mereka masih bisa memanfaatkan air sungai aliran dari daerah sebelah yang lebih tinggi. Tapi kali ini sungai sangat pelit untuk mengalirkan airnya. Mungkin tak lama lagi sungai akan benar-benar kering tak berair.
“Tahun ini rasanya berbeda…,” kata seseorang.
“Iya. Panas sekali,” yang lain ikut bicara.
“Kita mulai kesulitan air.”
“Walaupun di daerah kita tak pernah hujan setidaknya air sungai masih deras. Tapi tahun ini berbeda. Bahkan sekarang air sungai hampir habis.”

“Lama kelamaan penduduk daerah kita ini bisa mati kekurangan air. Kekeringan dan kehausan.”
Perbincangan seperti ini mulai menghiasi pertemuan-pertemuan mereka, selain membicarakan kejahatan. Satu persatu dari mereka mulai berpikir, bagaimana menemukan solusinya, solusi supaya bisa mendapatkan air berlimpah. Akhirnya disepakati untuk menggelar rapat terbuka. Semua warga boleh hadir dan berhak memberikan usulan.

“Kita harus segera berpikir. Air sudah mulai habis,” kata pemimpin rapat yang berprofesi sebagai anggota dewan yang mengatasnamakan rakyat.
“Bagaimana kalau kita menggali sumur,” usul si pembunuh bayaran.
“Jangan! Hanya buang-buang waktu. Di daerah kita sudah ada sumur yang dalamnya sudah sekian meter tapi tetap saja hanya sedikit air yang keluar,” jawab tukang korupsi. “Mending kita usulkan ke pemerintah, kita minta bantuan disediakan air.”
“Halah! Itu cuma akal-akalannya saja. Paling cuma dia yang bisa dapat air,” tukang begal tak terima. “Belum lagi dana administrasi untuk itu sudah pasti dikorupsi olehnya.”
Rapat itu terus diwarnai usul-usulan dan adu argumen yang sepertinya tak akan memecahkan masalah. Padahal sudah setengah hari rapat berjalan. Sudah banyak jam yang mereka habiskan tanpa ada masalah yang dipecahkan.

Di saat rapat hampir tak menemukan solusi apa-apa, tiba-tiba ada seseorang, yang entah pekerjaannya apa, memberikan usulan.
“Bagaimana kalau di daerah kita diadakan pertaubatan massal,” kata orang itu.
“Halah! Jangan sok suci!” yang lain menyahut.
“Bukan begitu… semua orang kan sudah tahu, penduduk di daerah kita hampir semuanya penjahat. Kita tahu penjahat pasti berdosa. Mungkin sebab dosa kita ini, daerah kita tak pernah sama sekali tersentuh air hujan,” ujarnya memberi argumen.

Tiba-tiba suasana menjadi hening. Mungkin mereka merenungi apa yang diucapkan si pengusul itu. Mungkin itu bisa menjadi satu-satunya cara menyelesaikan masalah ini. Bukankah air adalah sesuatu yang sangat penting? Bukankah hidup mustahil untuk diteruskan bila tidak ada air?
Seseorang mengangkat tangan. “Saya setuju!” katanya.
“Ya, saya juga,” yang lain menyusul.
“Iya. Saya juga setuju.”
“Setuju!”

Akhirnya disepakati bahwa akan ada pertaubatan massal. Karena di antara para penduduk daerah itu tidak ada yang tahu caranya bertaubat, maka diputuskan untuk mencari seorang kiai atau ustad atau apalah namanya guna membimbing mereka untuk bertaubat.

Namanya Rasyid. Katanya ia alumni sebuah pesantren di kota sebelah. Di sana ia belajar agama lumayan lama dan baru tahun kemarin ia lulus. Salah seorang penduduk daerah itu, yang mengaku sebagai wakil rakyat, yang menemukannya. Ia bertemu Rasyid saat mampir di sebuah masjid di kota sebelah, kebetulan waktu itu sedang kunjungan kerja.

Seluruh warga akhirnya dikumpulkan. Semuanya wajib hadir. Tidak boleh tidak. Tidak ada kecuali. Ustad Rasyid kemudian dipersilakan untuk maju ke depan. Memberikan pengarahan tentang bagaimana caranya taubat.

Setelah membuka ceramahnya dengan salam dan sedikit pembukaan, sang ustad berkata:
“Salah satu sebab diturunkannya musibah adalah karena dosa. Tuhan mungkin marah dan menghukum para pendosa. Karena aturan-aturan-Nya telah dilanggar maka Ia murka. Dan bagi para pendosa, mereka wajib bertaubat. Bukan hanya untuk menghilangkan musibah yang melanda tapi juga supaya segala dosa kita diampuni. Maka dari itu marilah kita sama-sama, mulai detik ini juga, berikrar dan berjanji bahwa segala perbuatan buruk dan menimbulkan dosa kita akhiri. Supaya Tuhan mengampuni kita dan segala musibah Ia cabut.”

Mereka semua mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh sang ustad. Mungkin mereka semua serius ingin bertaubat karena benar-benar sudah tak tahan. Mungkin mereka juga sudah sangat merindukan air hujan.

“Semua sudah siap untuk bertaubat?!” tanya ustad Rasyid dengan lantang.
“Ya. kami siap!” Semua menjawab serempak.
“Baiklah. Kalau begitu, mulai sekarang segala perbuatan dosa kita tinggalkan. Lalu segala kewajiban kita tunaikan. Perbanyaklah sedekah. Bagi yang memiliki rejeki lebih bantulah saudara-saudara kita yang kurang mampu. Tinggalkan kezaliman. Jangan menyakiti orang lain.

“Kemudian mulai besok sampai empat hari ke depan kita berpuasa. Menahan setiap yang dilarang mulai fajar hingga senja. Di hari keempat kita berkumpul lagi disini. Bawa sajadah, kita laksanakan shalat meminta siraman. Bawa juga hewan-hewan ternak; mereka akan ikut mendoakan. Ajaklah anak-anak dan para orang tua, sebab doa mereka mudah dikabulkan.”

Mereka menjalankan segala intruksi yang dikatan oleh ustad Rasyid. Segala yang diperintahkannya mereka patuhi.
Lalu di hari keempat mereka berkumpul kembali. Menjalankan shalat meminta hujan. Setelah shalat, dilanjutkan dengan khutbah oleh ustad Rasyid.

“Jika dalam seminggu hujan belum turun, maka kita ulangi lagi ritual puasa dan shalat ini. Mungkin kita harus berusaha lebih keras,” kata Rasyid setelah selesai khutbah.

Setelah ditunggu selama seminggu ternyata hujan belum juga turun. Akhirnya mereka kembali menjalankan puasa selama empat hari lalu berkumpul kembali untuk melakukan shalat. Seminggu setelah shalat kedua, belum juga ada tanda-tanda hujan mau turun. Puasa dan shalat kembali dijalankan.

Sorenya, setelah shalat yang ketiga, langit tampak memudar. Kelabu. Semua penduduk daerah itu menduga sebentar lagi hujan bakalan turun. Wajah-wajah mereka begitu tampak bahagia. Hilanglah segala derita yang diterima sejak buyut-buyut mereka.
Namun setelah menanti berjam-jam hingga berhari-hari kemudian berminggu-minggu hujan tak juga turun. Yang ada hanya langit yang terus menerus mendung, seperti hati mereka yang mulai kembali murung. Mereka terus menunggu. Di samping itu, air semakin menipis. Mungkin dalam hitungan hari air sungai akan benar-benar kering. Sumur juga sudah tidak bisa diharapkan. Sudah sejak berbula-bulan lalu tak mengeluarkan air walaupun hanya setetes saja.

Perbincangan-perbincangan kembali muncul. Mereka mencoba menebak penyebab hujan yang tak kunjung turun.
“Apa ustad itu membohongi kita?” kata mantan mucikari.
“Menurutku tidak. Dia tidak mungkin bohong. Dia pasti tahu kalau bohong itu dosa, dia kan seorang ustad,” jawab eks tukang begal.
“Bisa saja begitu kan?” seseorang yang dulunya pencuri ikut nimbrung.
“Tapi buktinya sudah ada perkembangan; sekarang sudah mendung,” mantan pelacur ikut berkata.
“Mungkin di antara kita masih ada yang belum benar-benar bertaubat. Masih ada yang secara sembunyi-sembunyi melakukan perbuatan dosanya dulu,” seorang anggota dewan memberi argumen. Yang lain mengangguk-angguk, dalam hati menyutujui.
Gunjingan tidak bisa dihindari. Dari belakang mereka saling tuduh antara satu dengan yang lain. Di rumah-rumah obrolan-obrolan tentang siapa yang bersalah semakin ramai. Mantan tukang begal menganggap anggota dewan masih saja korupsi. Bekas pencuri menebak kalau mantan mucikari terus saja menjalankan praktek prostitusi. Yang dulunya pelacur menuduh tetangganya masih mengedarkan narkoba. Dan seterusnya….

Hari-hari mereka lewati dengan menunggu hujan dan terus menggunjing. Mereka sampai lupa kalau menggunjing juga termasuk dosa, bahkan diserupakan memakan daging saudaranya. Atau malah mereka semua tak tahu kalau menggunjing itu juga termasuk dosa. Bisa saja ustad Rasyid lupa menjelaskannya. Mendung masih menyelimuti mereka. Semakin lama, hujan semakin ditunggu, bahkan hingga sekarang.

Baca juga: ISLAM ADALAH KEPATUHAN

Follow ig: @pondoklirboyo