All posts by tubagus godhonfar

Korelasi Fikih, Tauhid Dan Tasawuf Dalam Kitab Sulam Attaufiq

Selain kiai dan ulama yang menjadi tombak terdepan dalam penyebaran syiar Islam, kita juga mengenal para habaib yang menjadi salah satu unsur yang harus kita ambil contoh sebagai suri tauladan. Di mana pun habaib berada, beliau selalu menjadi magnet yang menarik masyarakat di sekitarnya . Habib Syeikh bin Abdul Qodir As-Segaf adalah contoh hidup yang masih bisa kita lihat. Di mana pun beliau berada, beliau selalu menjadi pusat perhatian. Beliau (para habaib) memiliki suatu kelebihan yang membedakan dari orang-orang lainnya. Begitu juga dengan Syaikh Abdullah bin Husain bin Tohir bin Muhammad bin Hasyim Ba’alawi pengarang kitab klasik legendaris; Sulam At-Taufiq.

Mengaji fikih di pesantren rasanya belum komplit jika belum pernah sekali pun mengkaji sebuah kitab yang dikarang oleh Syaikh Abdullah bin Husain bin Tohir bin Muhammad bin Hasyim Ba’alawi ini.

 Ba’alawi adalah nama sebuah marga dari Hadhramaut yang penisbatannya memiliki dua jalur. Pertama, jika merujuk pada makna umum adalah setiap orang  yang dinisbatkan terhadap shahabat Ali RA lewat jalur Imam Husain RA. Dan yang kedua, jika ditinjau dari makna yang berlaku di masyarakat hadhramaut, adalah setiap orang yang dinisbatkan atau yang nasabnya bersambung pada Syaikh Alawi bin Abdillah bin Ahmad bin ‘Isa.

Walau ukuran dari kitab ini lebih kecil dari kitab-kitab fikih lainnya, namun kitab Sulam At-Taufiq masyhur dan umum kita dengar di kebanyakan pesantren di Indonesia. Kitab ini juga memiliki beberapa syarah atau komentar matan. Diantaranya adalah kitab Mirqootu Su’udu al-Tasdiq yang dikarang oleh ulama nusantara legendaris Syeikh Muhammad Nawawi Al-Jawi.

Kitab ini memiliki beberapa keunikan yang membedakannya dengan kitab-kitab fikih pada umumnya, yaitu daftar isi atau penyajian per-bab yang berbeda dari kitab-kitab fikih lainnya yang biasa dibuka dengan pembahasan thaharah,  setelah itu diteruskan pembahasan ubudiyah seperti shalat, zakat dan sebagainya.

Namun tidak dengan kitab ini. Di awal bab, kita disuguhkan dengan sebuah pembahasan mengenai tauhid yang mencakup pada ‘aqoid lima puluh. Sebelum kita mulai masuk pada pembahasan thaharah yang nantinya akan bermuara pada bab ‘ubudiyah, kita terlebih dahulu diajak  mushannif untuk mengukuhkan keislaman dengan mengenal beberapa perkara yang bisa saja membuat kita keluar dari Islam. Dalam kitab tersebut Mushonif menyinggung: “Di zaman ini banyak sekali orang-orang yang mempermudah dalam hal berbicara sehingga keluar dari mulutnya sebagian kata-kata yang membuat dia keluar dari Islam. Sedang ia tidak mengetahui akan hal tersebut.” Setelahnya mushonif menyadarkan para pembaca tentang hak-hak Islam yang harus dilaksanakan dan hal-hal yang harus ditinggalkan sebagai umat muslim:(faslun: fi adaail waajibaati wa tarkil muharromaati).

Barulah setelah hal-hal di atas telah selesai dipaparkan, mushonnif mulai menyampaikan penjelasan tentang fikih ‘ubudiyah. Mulai dari shalat (pembahasan thaharah, wudhu, dan tajhiizul janazah masuk pada bab shalat karena ketiga hal tersebut masih bagian dari pemabahasan yang berkaitan dengan ibadah shalat), lalu zakat, puasa dan yang terakhir adalah haji.

Setelah pembahasan fikih ‘ubudiyah yang diakhiri dengan ibadah haji telah selesai dijelaskan, mushonif melanjutkan pembahasannya dalam bab menjaga dari perkara haram dalam hal mu’amalah dan pernikahan. (faslun: fi wujuubi murooa’til halali wal haraami fil muaa’malati wal ankahati) yang mana akan berujung pada fikih ma’uamalah, yakni jual beli dan pernikahan.

Hal unik lainnya dalam kitab ini selain dalam hal urutan pembagian babnya yang tidak sesuai dengan kitab-kitab fikih lainnya adalah mushonif bukan hanya menyajikan pembahasan fikih yang berkaitan dengan praktik dan pelaksanaan dhahir. Akan tetapi mushonif juga menyuguhkan pembahasan tasawuf yang berhubungan dengan ibadah bathin dan perilaku hidup sehari-hari.

Setelah pembahasan mu’amalah selesai, pembahasan pun beranjak pada tasawuf yang dibuka dengan penjelasan beberapa sifat terpuji dan sifat tercela. kemudian pemaparan mengenai maksiat hati dan maksiat anggota tubuh besertaan dengan konsekuensinya, seperti kafarat dihar yang berhubungan dengan maksiat lisan, had  mencuri yang berhubungan dengan maksiat tangan, dan lain sebagainya. Terkahir ditutup dengan pembahasan tentang tata cara taubat.

Dalam keseluruhan pembahasan yang disajikan mushannif dalam kitabnya. Mushannif bukan hanya menekankan pada pembahasan konsekuensi fikih yang mana akan berkesimpulan pada sah atau batal. Namun beliau juga menekankan unsur-unsur lainnya seperti tauhid, menjaga keislaman, dan juga tasawuf. Semuanya menuju pada sebuah kesimpulan, seorang muslim seharusnya bertindak selayaknya muslim. Yakni melasanakan ketentuan yang telah ditetapkan syariat, juga meninggalkan perkara yang memang telah dilarang oleh agama. Tidak hanya melakuan salah satunya saja. []

Baca juga: Amal Terbaik adalah Ketika Nafsu Membencinya.

Simak juga: Kenapa Harus Memondokan Anak?

Amal Terbaik adalah Ketika Nafsu Membencinya

Ada seorang yang sering dianggap tolol dan gila, andai saja ia tidak berbicara selayaknya orang normal lainnya. Namanya Sabiq. Tetapi Abu Hammam (Israil bin Muhammad) menganggapnya berbeda. Dia sangat kagum padanya. Melihatnya saja sudah membuatnya bahagia. Apalagi berbincang dan mendengarkan pernyataan-pernyataannya.

Karenanya ia suatu hari pergi ke pekuburan. Pekuburan? Ya. Sabiq tinggal di sana. Sesampainya di sana, Abu Hammam menemuinya dalam keadaan tersungkur. Kepalanya terjerembab di dalam tanah. “Ia tak sadar kalau aku di sampingnya. Hingga aku menyapanya,” tutur Abu Hammam saat menceritakannya kembali.

Ia datang sesuai tujuannya: mendengarkan kalimat-kalimat arif sang Gila. “Wahai Israil bin Muhammad. Takutlah kepada Allah, setara dengan harapan-harapan yang kau panjatkan padaNya. Karena sungguh, jika kau hanya menanamkan harapan, rasa takutmu akan kalah. Berlarilah menujuNya, jangan berlari dariNya, karena kemanapun engkau pergi, dia pasti menemukanmu, dan kau tak bisa melemahkanNya.

Jikalau dalam kemaksiatan, jangan pernah takluk pada makhluk. Karena Allah memiliki hari di mana mata akan bersaksi. Penglihatanmu tak bakal dusta.”

Sabiq kembali ke peraduannya. Abu Hammam pulang dengan riang.

Selang satu bulan, Abu Hammam kembali lagi. Ketika Sabiq melihatnya datang, ia ingin lari. Menjauhinya. “Wahai Sabiq. Tunggu. Aku berjanji tak akan kembali ke sini lagi.” Sabiq berhenti. Duduk. “Tolong ajari aku kalimat-kalimat yang kumohonkan kepada Tuhan.”

Sabiq menurutinya. “Sungguh. Kalimat paling baik yang mampu diterima hati, hanyalah kalimat yang datang dari hati pula. Perbuatan terbaik adalah ketika nafsu membencinya.”

Ia kemudian melafazkan sebuah doa. “Tuhan, jadikan penglihatanku sebagai penglihatan yang mengagumi diriMu, jadikan diamku berpikirku, kalimat-kalimatku adalah dzikir padaMu.”

Kemudian ia pergi. Berlalu dan tak kembali.

Uqalaul Majanin hal 222

Baca juga: Pemenjaraan Nafsu.

Simak juga: Sudahkah Anda Ngadep Dampar Hari ini?

Tentang Kota Dengan Seribu Satu Wali

دركات يا اهل المدينة # يا تريم واهلها

Mendengar kata Tarim (Hadromaut), seakan membuat kita diajak kembali menyususri masa lampau, berpetualang di zaman Rasulullah.

Tarim adalah julukan untuk sebuah lembah gersang yang berada di ujung selatan jazirah Arab. Tempat tersebut lebih dikenal dengan istilah al-Aghaf dalam al-Quran yang menyimpan berjuta-juta rahasia yang jarang sekali diketahui oleh kalangan orang-orang awam.

Kota Tarim merupakan sebuah nama dari salah satu daerah yang terletak di negeri yaman. Tarim tergolong sebagai salah satu kota yang dapat dikatakan makmur. Kota ini merupakan kota bersejarah yang dimuliakan oleh Allah Swt. Khalifah Abu Bakar as-Shidiq pernah berkata: “Jika aku bermimpi masuk ke kota Tarim, maka esok harinya hatiku akan merasa bahagia. Kebahagian itu akan aku rasakan selama tiga hari. Jika aku berziarah ke kota tersebut, kebahagiaanku akan tetap terasa selama tujuh hari.”

Kendati Tarim memiliki iklim geografis yang tandus dan kering, juga ditambah dengan cuaca yang sangat extreem, itu tidak membuat semangat para Wali dan Aulia melemah untuk terus berjuang menyebarkan panji-panji syariat Islam. Bahkan disana para Wali dan Ulama terus bermunculan sebagaimana tanaman-tanaman hijau yang asri menghijaukan gersang gurun tandus.

Kota Tarim juga dijuluki madinatusshidiq karena Khalifah Abu Bakar pernah bersumpah setia kepada Zlad bin Zubair al-Anshari yang menjadi penguasa Tarim pada masa itu. Sumpah itu disambut baik oleh pemerintah tanah Tarim dan penduduk setempat tanpa terkecuali. Ketika berita ini sampai pada Khalifah Abu Bakar, beliau segera mendoakan khusus kepada kota Tarim dan penduduknya. “Mudah-mudahan Allah memberi kemakmuran untuk kota Tarim. Mudah-mudahan Allah memberkahi kesuburan dan sumber air nya. Mudah-mudahan Allah memberkahi Tarim dengan banyak ulama yang sholeh dan menjadikannya sebagai negeri yang subur akan aulia-Nya.”

Keistimewaan yang lain adalah, di kota Tarim tersebar banyak sekali anak dan cucu keturunan Rasulullah Saw, mereka pun tumbuh di tanah yang penuh kemulyaan itu. Pernah suatu ketika Rasulullah bersabda. “Sungguh aku benar-benar mencium harumnya karunia Allah dari yaman (Tarim).”

Di kota Tarim, ada pemakaman yang disemayamkan puluhan ribu wali, Para ulama dan orang-orang sholeh, juga para Habaib. Tempat tersebut bernama makam Zanbal Tarim. Pemakaman kuno berusia lebih dari seribu tahun, yang hingga kini masih terus beroprasi. Makam-makam tersebut terletak  di distrik Khalif, Dekat dengan pusat kota Tarim. Posisinya berjajar saling berhadapan dengan dua komplek makam lain, yakni makam Furait dan makam Akdar.

Konon, dulu Zanbal dan dua komplek pemakaman sampingnya adalah satu wilayah makam yang luas. Lalu karena bertambah padatnya penduduk Tarim, wilayah sebrang barat Zanbal yang dulunya hanya perkebunan dan persawahan itu, akhirnya dibangun pemukiman warga. Tentu butuh jalan transportasi. Alhasil, satu makam luas itu dibagi menjadi tiga bagian yang dipisahakan dengan jalan tiga jalur. Maka jadilah Zanbal, Furait dan Akdar.

Dari kalanagan Sayid atau keturunana Nabi, adalah Syaikh Ali al-Kholil Qasam yang pertama kali dimakamkan di pemakaman Zanbal ini. Beliau dimakamkan Pada tahun 521 H. yang mana beliau menurunkan setidaknya tujuh puluh marga Habaib di seluruh dunia. Dan ribuan keturunannya pun banyak disemayamkan di pemakaman ini pula. Ada Imam Faqih Muqoddam (Syaikh Muhammad Ali Ba’alawi) pencetus pertma thoriqoh ilmiyah dan amaliyah Ba’alawi. Juga di sana disemayamkan pula cicit beliau: Syaikh Abdurrahman Assegaf, punggawa habaib bermarga as-Seggaf dan marga-marga cabangnya, seperti as-Syakrom Alaydrus, Baagil, bin Syaikhbu dan banyak lagi.

Ada juga Syaikh Abu Bakar as-Syakron, pemilik hizib as-Syakron. Juga putra beliau, yakni Imam Abdullah Alaydrus. Kakek moyang Wali Songo yang berdakwah di bumi Nusantara yang bernama Syaikh Umar al-Muhdor atau Imam Alwi yang berjuluk Ammul Faqiih atau “pamannya faqih muqodam”, juga ada disini. Ada juga imam Abdullah Alwi al-Hadad, pemilik ratib al-Hadad, wirid Latif, penulis kitab Nasoihul ibad. Beliau juga terkenal sebagai penyair handal yang bisa kita lihat dalam tulisan syair-syair penggubah jiwa beliau yang terkumpul dalam buku Diwan Hadad beliau.

Dan masih banyak lagi daftar ribuan Ulama dan Habiab yang dimakamkan di pemakaman Zanbal ini. Syaikh Abdurrahman As-segaf pernah  berkata: “Di Zanbal ini, telah dimakakan sepuluh ribu waliyullah.” Perkatan tersebut di ucapkan beliau, pada zaman as-Segaf yang hidup pada tujuh ratus tahun silam. Lalu bagaiman dengan sekarang?

Barang kali masih ada yang meragukan jika terlalu berlebihan dan mengada-ada apabila dikatakan jumlah para Waliyullah yang ada di Zanbal bisa mencapai angka sebesar itu. Maka saya jawab, sangat masuk akal. Bukti konkretnya adalah dengan melihat keseharian masyarakat Tarim yang kehidupan sehari-harinya begitu sangat religius.

Dalam hal ibadah, masjid-masjid di sana selalu ramai. Bahkan toko-toko pun tutup saat adzan berkumandang. Dalam hubungan masyarakatnya dengan al-Quran, setiap ada waktu luang para pedagang, satpam, dokter dan lapisan masyarakat lainnya menyibukan waktu dengan membaca al-Quran juga wirid sehari-harinya. Di sana masyarakat awam selau menjaga kegiatan pagi-sorenya agar tak pernah terlepas dari ibadah.

Itu “orang biasa”nya Tarim, lalu bagaimana dengan orang “istimewa”nya dari kalangan santri, ulama dan habaibnya?

Di Zanbal ini, “pusat”nya adalah makam Syaikh Faqih Muqodam. Ibarat kata, wukuf Arafah adalah inti ibadah haji. Maka makam Faqih Muqodam adalah inti dari makam Zanbal. Beliau adalah ulama besar, ahli fiqih yang mencapai derajat kewalian yang amat tinggi. Konon, amalan Syaikh Faqih Muqodam dalam sehari adalah membaca Laa Ilaaha illa Allah 25 ribu kali, ditambah sholawat 25 ribu kali.

Sampai saat ini makam Zanbal selalu diziarahi setiap hari. Ada juga jadwal ziarah rutinan mungguan pada hari jum’at pagi. Khusus jum’at terakhir di setiap bulan Hijriyahnya, dilaksanakan ziarah akbar ke tiga komplek sekaligus; Zanbal, Furait, dan Akbar. Rutinitas tahunan juga ada. Tepatnya jum’at terakhir bulan Sya’ban, untuk menyambut bulan Ramadhan—kalau kita menyebutnya, Nyekar.

Khusus di bulan Ramadhan, ziarah mingguan dilakukan pada jum’at sore hari. Juga jum’at yang jatuh pada 6 hari awal bulan Syawal yang mana kegiatan ziarah tersebut juga Dilakukan pada sore harinya. Pada  6 hari itu suasana Tarim persis seperti Ramadhan, semua warganya berpuasa. Alhasil ziarah makam wali pun di samakan pada sore harinya.

Wallahu a’lam bisshowab.

Penulis: Sayid Abdurrahman

Baca juga: Mimpi Melihat Allah Mungkinkah?

Simak juga: KH. M. Anwar Manshur: Perempuan Tiang Negara.

Tentang “Ar-Rahib Quraisy”

Fuqoha Sab’ah:

Tujuh Tabi’in Ahli Fiqh Madinah

“Sinten kemawon apal sekabehane Fuqoha Sab’ah (7 orang ahli fiqih) mongko gampang olehe kefutuh alias kebuka atine lan gampang dadi wong alime.”

-KH. Maimoen Zubair-

            Tujuh ahli fikih yang dimaksud Mbah Maimoen Zubair adalah: Ubaidillah bin Abdillah ‘Utbah bin Mas’ud Al-Hudazli (W 94 H), ‘Urwah bin Az-Zubair bin Al-Awwaam (W 94 H), Al-Qaasim bin Muhammad bin Abu Bakar (W 106 H), Sa’id bin Musayyib (W 94 H), Abu Bakar bin Abdurrahman Al-Makhzuumi (W 94 H), Sulaiman bin Yasaar (W 107 H), Khorijah bin Zaid (W 99 H).

Abu Bakar bin Abdurrahman Al-Makhzuumi

Alunan Syair Dari Lautan Ilmu

Nama Lengkap dan Latar Belakang Beliau

            Abu Bakar bin Abdurrahman bin Harits bin Hisyam bin Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzuum. Lahir pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, beliau memiliki gelar “Ar-Rahib Quraisy” karena ketaatan beliau dalam beribadah, terkenal banyak shalat dan berpuasa. Selain itu, beliau juga termasuk pembesar di kalumnya.

Abu Bakar bin Abdurrahman dilahirkan oleh pasangan dari Bani Makhzuum. Sarah binti Hisyam bin Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzuum sebagai ibu beliau dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam sebagai ayah. Sang ayah sendiri merupakan tokoh besar tabi’in dan dimuliakan di tengah-tengah kaumnya, memiliki pandangan dan pemikiran yang tajam. Ayah beliau dilahirkan ketika Rasulullah SAW masih hidup, namun tidak diketahui apakah beliau termasuk shahabat atau bukan.

Beliau memiliki banyak keturunan dan saudara, beberapa dari anak Abu Bakar bin Abdurrahman adalah : Abdullah, Salamah, Mujahid, Abdul Malik, dan Umar. Sedang, sebagian saudara kandung beliau di antaranya : Abdullah, Ikrimah, Muhammad, Mughirah, Yahya, Aisyah dan Ummu Harits.

Kepribadian Beliau

            Abu Bakar bin Abdurrahman merupakan tokoh Quraisy yang tidak dapat disangkal kemuliaan dan kedudukannya. Salah seorang pemimpin kaum muslimin usai masa sahabat Muhajirin dan Anshar. Beliau seorang tabiin yang tsiqqoh serta terkenal sebagai pribadi yang mampu menggabungkan antara ilmu, amal dan kemuliaan.

Beliau memang memiliki kekurangan pada fisik. Allah mengujinya dengan mata yang tidak bisa melihat. Namun, hal itu bukan halangan untuk meniti jalan panjang guna menuntut ilmu. Beliau lebih mengutamakan ketajaman mata hatinya daripada indra penglihatan, sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT. Terbukti, Allah menggantikan apa yang telah hilang darinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik.

Ahli Hadis

Dikenal sebagai ahli hadis yang memiliki banyak riwayat dan meriwayatkan banyak hadits dari sahabat-sahabat generasi pertama.  Beliau meriwayatkan hadits dari ayahnya sendiri—Abdurrahman bin Harits, Ammar bin Yasir, Abdullah bin Mas’ud, Ummil Mukminin Aisyah, Ummu Salamah, Abu Hurairah, Asma’ binti Umais dan lainnya. Adapun ulama yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah Umar bin Abdul Aziz dan anak-anak beliau, Ibnu shihab Azzuhri dan lainnya.

Beliau juga terkenal sebagai ulama Madinah yang paling banyak menghafal hadits, juga yang paling banyak mengamalkan tuntunan Qur’an dan sunnah Nabi. Sebagai ahli hadis yang fasih dan rawi yang berpengaruh besar, beliau adalah tabi’in senior dan terhormat dari kaumnya.

Beliau pernah berkata: “Ilmu itu untuk salah satu dari tiga golongan orang : Bagi orang yang mempunyai nasab tinggi, kiranya dengan ilmu itu ia semakin menghiasi nasabnya. Bagi orang yang beragama, maka dengan ilmu itu ia menghiasi agamanya. Atau bagi penguasa, maka dengannya ia dapat melakukan perbaikan.”

Riwayat dari Abu Bakar bin Abdurrahman banyak dijumpai dalam berbagai kitab Musnad dan Hadits yang terkenal. Sebagian besar riwayat beliau bersumber dari Aisyah dan Abu Hurairah.

Dalam Dunia Fikih

Sebagai seorang ulama Abu Bakar bin Abdurrahman berfatwa berdasarkan nash dalam Qur’an dan hadis, serta fatwa sahabat. Ketika beliau tidak menemukan, maka beliau berijtihad dengan pengamatan, pengkajian dan kesimpulan—ra’yuyang beliau lakukan sendiri. Termasuk tokoh dan guru bagi pelajar fikih di Madinah, karenanya  pembelajaran fikih di sana memiliki karakterstik yang khas.

Abu Bakar bin Abdurrahman mempunyai majelis ilmu yang besar di Madinah. Majelisnya menjadi tujuan para pencari ilmu. Mereka mengkaji hadits dan fatwa sahabat. Abu Bakar dan tujuh ahli fiqih Madinah berpendapat bahwa orang-orang yang berasal dari dua kota suci (Makkah dan Madinah) adalah orang yang paling mantap kajian fikihnya. Pokok-pokok madzhab mereka berasal dari fatwa-fatwa Abdullah bin Umar, Aisyah, Ibnu Abbas dan keputusan-keputusan para Qadhi ahli Madinah. Mereka memadukan semua yang dapatkan, lalu mengkajinya secara cermat dan memeriksanya secara mendetail.

Semua ini membuat kita sadar bahwa pemberian nama al-Fuqaha as-Sab’ah (Tujuh Ahli fiqih), dan Abu Bakar bin Abdurrahman adalah salah satunya, tidak datang secara kebetulan. Tetapi hasil pengorbanan dan pemurnian riwayat. Jumlah yang besar dari hadits yang Rasulullah SAW riwayatkan senantiasa melekat di dalam ingatan al-Fuqaha as-Sab’ah. Kemudian hadits-hadits tersebut dijadikan sumber dalam ilmu fikih—sekaligus kunci pembukanya, juga saksi atas ulama-ulama yang dipandang mulia oleh kaum muslimin di penjuru dunia karena ilmu yang dimilikinya.

Abu Bakar bin Abdurrahman dermawan dalam memberikan ilmu, agar murid-muridnya bisa mengkaji dan menyebarluaskan ilmu tanpa henti. Rumah beliau menjadi tujuan bagi para pencari ilmu, terutama bagi orang-orang yang suka meminta fatwa tentang persoalan agama dan solusi masalah duniawi yang senantiasa berkembang dan mesti mendapatkan penjelasan. Beragam masalah itu menjadi nyata dalam fatwa Abu Bakar.

Yang Disegani

Khalifah Abdul Malik bin Marwan sangat menyukai dan menghormati Abu Bakar bin Abdurrahman. Tidak lain karena Abu Bakar merupakan tokoh mulia bagi kaumnya, seorang “Rahib Quraisy” seperti yang disematkan para ahli fiqih maupun tabi’in yang terpercaya.

Mengenai kedudukan Abu Bakar, Khalifah Abdul Malik pernah berkata, “Demi Allah. Sesungguhnya aku ingin melakukan sesuatu terhadap penduduk Madinah karena buruknya sikap mereka terhadap kami. Namun aku ingat, di sana terdapat Abu Bakar bin Abdurrahman. Aku malu kepadanya. Lalu aku tak mewujudkan niat tersebut.”

Ahli Ibadah

Selain alim, Abu Bakar bin Abdurrahman juga dikenal sebagai ahli ibadah, khusyu’ dalam shalat, memperbanyak kesunnahan, dan sering berpuasa. Seorang sahabat beliau pernah berkata, “Abu Bakar selalu berpuasa dan tak mau berbuka (meninggalkannya)”. Tak pernah ada suatu kewajiban yang terlewatkan kecuali beliau mengikutkannya dengan amal sholeh.

Cacat dan penyakit yang menghalangi beliau beribadah kepada Allah SWT hanya dianggap hal kecil. Suatu ketika beliau sakit di bagian tangan dan saat sujud luka itu terasa sangat menyakitkan. Beliau meminta keluarganya menyediakan wadah berisi air, lalu meletakkan tangannya saat sujud. Begitulah kegigihan beliau menghadapi kesulitan agar bisa tetap beribadah.

Wafat Beliau

Pada tahun 94 H. (712 M.) beliau wafat. Tahun tersebut dikenal dengan sebutan tahunnya ahli fikih, karena di tahun itu banyak ahli fikih yang meninggal dunia.

Pada suatu hari di tahun tersebut, seorang muadzin mengumandangan adzan shalat Ashar. Abu Bakar bin Abdurrahman pun berwudhu, beristighfar, bertakbir, dan melaksanakan shalat Ashar berjamaah di Masjid Rasulullah SAW di Madinah. Usai shalat beliau berkata kepada murid-muridnya, “Sungguh aku tidak berhadas sama sekali pada permulaan siang hari ini.” Beliau terus mengulang kata-kata tersebut.

Kemudian beliau pulang ke rumah, masuk kamar mandi, lalu terjatuh dan pingsan. Maka berkumpulah seluruh putra beliau, keluarganya, dan saudara beliau yang mengikuti jejaknya dalam bidang hadis dan fikih. Mereka pun membawa beliau ke tempat tidur.

Sebelum muadzin mengumandangkan adzan Maghrib di Masjid Rasulullah SAW, seseorang berseru di Madinah, mengucapkan kalimat istirja’, dan berkata, “Abu Bakar bin Abdurrahman bin Harits rahimahullahu ta’ala telah meninggal dunia. Ruhnya telah naik ke para shoddiqin, dalam persahabatan para penghuni surga Na’im, dan dalam persahabatan kaum Muhajirin dan Anshar yang telah mereka ikuti jejaknya dengan sebaik-baiknya pada hari kiamat.” Maka, murid-murid beliau melaksanakan shalat Maghrib tanpa kehadiran syekhnya. Sungguh, mereka dilanda kesedihan yang mendalam. Akan tetapi mereka tetap terus mengucapkan kalimat istirja sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bertakwa. Innalillahi wa innalillahi roji’un.

Di Madinah terdengar seseorang berteriak, membaca Qur’an surat Al-Fajr ayat 27 sampai 30,

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠﴾

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku.”

Inilah potongan terakhir dari hikayat Tujuh Tabi’in Ahli Fiqh Madinah (al-Fuqaha as-Sab’ah). Semoga Allah subhanahu wata’ala selalu merahmati beliau-beliau. Dan, semoga pula dengan mempelajari sejarah beliau, kita dapat memperoleh futuh Allah, menjadi generasi berikutnya, penerus tongkat estafet, menyebarkan ilmu dan kebaikan yang bermanfaat bagi nusa, bangsa dan agama. Amin.

Al fatihah…[]

Baca juga: Imam An-Nawawi: Sang Idoa Fuqoha Masa Kini.

Simak juga: Dzikir Penentram Jiwa | K.H. An’im Falahuddin Mahrus

Urgensi Ukhuwah Hadapi Pandemi (Bagian 2)

Baca Sebelumnya: Urgensi Ukhuwah Hadapi Pandemi (Bagian 1)

Pemahaman al-Ghozali disokong oleh hadits lain riwayat Aisyah, yang berbunyi “orang yang lari dari wabah tho’un seperti orang yang lari dari medan pertempuran” (HR. Muslim). Dan maklum, larangan kabur dari medan perang adalah karena melukai hati Muslimin dan membiarkan mereka binasa.

            Padahal, lanjut al-Ghozali, seharusnya Muslimin seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain dan Muslimin seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan merasakan sakit pula. Analisa terakhir al-Ghozali sama persis dengan redaksi dan makna dua hadits Rasulullah Saw. tentang ukhuwah islamiyah yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim. Berangkat dari prinsip ukhuwah, al-Ghozali berpendapat, ketika dibutuhkan uluran tangan, relawan dilegalkan bahkan disunnahkan (istihbab) untuk memasuki wilayah wabah. (Al-Ghozali, Ihya Ulumuddin , 2015)

            Dari paradigma ini dapat disimpulkan, sejatinya Muslimin dilarang untuk menyakiti saudaranya, baik saudara seiman, atau saudara non Muslim dalam ranah kemanusiaan dan kebangsaan. Menyakiti tidak dapat dibenarkan secara aksi maupun verbal, seperti; memaksa mudik yang berpotensi menularkan virus wabah pada saudara-saudara di kampung halaman, terlebih sampai menjauhi keluarga dari tim medis atau menolak pemakaman korban wabah. Karena hal tersebut termasuk aniaya (dzalim). Aniaya yang dibicarakan hukum Islam mencangkup nyawa, harta dan harga diri. Mendzolimi non Muslim, hukumnya haram, terlebih sesama Muslim. Karena perspektif ini pula, Islam mewajibkan saling membantu antar umat Islam. (At-Thantowi, 2006)

            Sesuai prinsip saling membantu (tha’awun) dan menjauhi aniaya dalam ruh ukhuwah, tak mengherankan jika satu sama lain antar masyarakat Muslim berkewajiban berkontribusi demi rakyat negerinya. Bahkan Wahbah az-Zuhaily menyatakan;

أن للدولة الحق في فرض الضرائب على الأغنياء في حالة فقر بيت المال، وتهديد المجتمع بأي خطر كالمجاعة والوباء والحرب إذ «يتحمل الضرر الخاص لدفع الضرر العام»

“Negara berhak menetapkan pajak bagi orang-orang kaya ketika keadaan kas negara mengalami kekurangan dan masyarakat terancam oleh berbagai krisis seperti kelaparan, wabah penyakit, dan perang. Sesuai kaidah kerugian personal atau pribadi dapat ditolelir demi menangkal kerugian publik atau umum.” (Az-Zuhaily, 2009)

            Postulat az-Zuhaily sesuai dengan pandangan al-Ghozali, as-Syatibi, dan al-Qurtubi yang menyampaikan disyariatkan (masyru’iah) penerapan pajak baru bagi konglomerat, penghasilan, buah-buahan, dan sebagainya untuk menutupi kebutuhan negara secara umum. Pendapat ini pula telah menuai kesepakatan mujtama al-buhtus al-islami (konferensi riset keislaman) pada muktamar pertama tahun 1964 Masehi yang tertuang dalam butir keputusan kelima. (Az-Zuhaily, Fiqh Al-Islamy Wa-Adalatuha, 2009)

               Selagi masa pandemi Covid-19, andai kas negara tidak mencukupi untuk pelayanan dan sarana  kesehatan atau kebutuhan primer masyarakat, maka orang kaya berkewajiban mengulurkan tangan untuk yang papa dan kurang mampu. Dan jika tidak, maka berdosa. Tuntutan Islam untuk masyarakat tersebut, telah merepresentasikan ukhuwah wathoniyah.

               Sementara itu, acap kali terdengar suara penolakan ukhuwah basyariah atau insaniyah (humanitarian brotherhood). Untuk menepisnya, banyak ulama menguraikan segala problema, salah satu yang komplit yakni keterangan dari Ali bin Nayif as-Syahud, yaitu; ajaran Islam menyerukan seluruh Muslim untuk berperilaku baik pada seluruh manusia, entah seakidah atau tidak. Dan dari budi baik akan lahir dakwah Islam sejati kepada mereka. Rasulullah Saw. telah mempraktekkan sendiri, bagaimana beliau senantiasa mengunjungi non Muslim, memuliakan, berperilaku baik, dan menjenguk yang sakit. Apa yang dilaksanakan Nabi Saw. telah dijaga oleh khulafaur rasyidin dan diwariskan kepada kita sampai hari ini.

            Al-Qur’an mengutarakan secara gamblang ukhuwah basyariah dalam surat al-Mumtahanah ayat 8 berupa: “Allah Swt. tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi karena agama dan meraka tidak pula mengusir kalian dari negerimu sekalian.”

            Berpijak pendapat paling valid, ayat di atas tidak diganti hukum (mansukh) dengan ayat qital (perang), menurut Ibnu Jarir at-Thobari. Beliau menuturkan, tidak dilarang dan tidak diharamkan untuk berbuat baik pada kafir harbi (non Muslim tanpa perjanjian damai) dari segala jenis kepercayaan dan agama, baik memiliki hubungan keluarga atau tidak. Selama kebaikan kepada mereka tidak memberikan dampak negatif pada masyarakat Muslim. Pemikiran at-Thobari sejalan dengan Imam asy-Syafi’i, menukil dari Syekh Amin as-Syangqithy. Lebih lanjut, as-Syangqithy mengungkapkan, gagasan dua imam tersebut menemukan ruang urgen di era sekarang, sebab beraneka kepentingan interest harus berkerja sama antar negara yang notabene lain agama. Terlebih di bidang ekonomi. (Asy-syangqithy, 1995)

            Pandemi menyerang, pemikiran tersebut suka atau tidak suka akan menemukan konteksnya, dilatarbelakangi bahwa seluruh alat medis dan obat dipasok dan ‘disumbang’ dari negara asing non Muslim. Maka, alangkah soleh mengikuti ajaran Islam, untuk berbuat baik pula pada ‘liyan’ atau non Muslim. Minimal yang ada di negeri kita sendiri. Dengan membantu kesulitan ekonomi, atau sekedar menguatkan dengan berkirim kata dan ucapan di media digital jika raga tak bersua. Sebagaimana fatwa Mufti Mesir, DR. Ali Jum’ah. (Jum’ah, tt)

            Tentunya, sumbangan ekonomi pada non Muslim, sekalipun harbi, masih mendapatkan pahala, sebagaimana keterangan dari as-Shamiri, berlandaskan al-Qur’an surat Al-Insan ayat 8 “dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan.” Dan lumrah dimengerti, maksud kata tawanan adalah kafir harbi. (An-Nawawi, tt)

            Andai masih menyangsikan, perhatikan pernyataan tegas Syekh Said Ramadhan al-Buthy: “Ukhuwah insaniyah (basyariah, red) antar anak cucu Adam telah terbentuk nyata. Takkan pernah ada ruang untuk diingkari serta tak ada guna pura-pura bodoh tentangnya. Tak ada bedanya antara anak Adam terhimpun dalam satu akidah agama, atau terpisahkan oleh kepercayaan dan sektarian yang berbeda-beda.”[]  (Al-Buthy, 2011).

Baca Juga: Kepekaan Sosial.

Simak Juga: Memaksimalkan Ibadah Pada Bulan Ramadhan.