All posts by tubagus godhonfar

Dawuh KH. An’im Falahuddin Mahrus : Pentingnya Wawasan Kebangsaan

Pada awal berdiri pondok Lirboyo terkenal dengan ilmu nahwu shorof, yang mana sudah menjadi tirakatnya Mbah Yai Abdul Karim ketika menimba ilmu di Bangkalan. Beliau dengan sungguh-sungguh mempelajari kitab Alfiyah Ibnu Malik, yang mana konon ceritanya yang pertama kali membawa kitab Al fiyah Ibnu Malik ke Tanah Jawa yaitu Syaikhona Kholil Bangkalan.

Maka dari itu awal-awal Pondok Pesantren Lirboyo sampai tahun delapan puluh terkenal nahwu shorofnya, kemudian mulai tahun era delapan puluh Lirboyo mulailah berkembang terkenal dengan ilmu fikihnya, dengan aktifitas lembaga bahtsul masail aktifis-aktifis ini bisa membawa nama harum Pondok Pesantren Lirboyo dalam penguasaan ilmu fikihhnya.

Nah, akhir-akhir ini Pondok Lirboyo yang ikut memperhatikan perkembangan di tengah-tengah masyarakat. Setelah terjadinya reformasi rupanya beberapa aliran, beberapa aqidah, beberapa idiologi bebas berkembang, termasuk diantaranya ancaman terorisme dan Islam garis keras.

Maka dari itu Pondok Lirboyo mensikapinya dengan menulis buku tentang wawasan kebangsaan, fikih kebangsaan, itulah yang menjadi tren saat ini.

Sehingga harapan Kami apa yang telah dikembangkan oleh Mahasantri Ma’had Aly tentang pemahaman empat pilar kebangsaan yang terdiri dari: Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 45. Harus tetap dipertahankan. Karena  pemahaman empat pilar ini sangat diperlukan, bukan hanya sekedar seremonial belaka, yang pada ujung-ujungnya di zaman orde baru hanya untuk menguatkan rezim. Dan untuk saat ini benar-benar dibutuhkan pemahaman yang sungguh-sungguh dan mengamalkanya tentang empat pilar ini.()

*Disampaikan saat Kuliah Umum Kebangsaan Ma’had Aly Lirboyo 14 juli 2019 M. di aula Al Mu’tamar.(TB)

Kenapa Mahasantri Harus Tampil Di Dunia Digitalisasi?

“Memang sedikit tabu ketika kita berbicara tentang dunia digitalisasi di dunia pesantren,” ucap Yatimul Ainun, S.sos.I. selaku pembicara acara siang tersebut membuka materinya di hadapan Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo. “Tapi anggapan itu sudah kuno, kini sudah saatnya kaum sarungan (santri) menguasai dunia digital. Sudah bukan waktunya lagi kita selalu dicibir, selalu di olok-olok dan selalu di habisi di dunia maya, karena kita dinilai gaptek

Beliau melanjutkan, “Berbicara soal ketahanan informasi Nasional. Saat ini diakui atau pun tidak, penghuni negeri yang kita cintai ini dalam tanda kutip sedang menderita sakit, karena sedang sakit maka harus didatangkan obat, supaya mendapatkan ketahanan. Sebenarnya jenis penyakitnya terlihat seperti baru datang secara digitalisasi. Akan tetapi pada subtansinya ini penyakit lama yang sekarang sudah menjadi akut di negeri kita ini yaitu hoax.

“Kenapa penyakit ini harus segera ditangani dan diobati? Karena akan berdampak berubahnya pola pikir kita dan masyarakat secara umum.

“Maka dari itu bahaya derasnya banjir informasi saat ini sudah tidak terpusat lagi pada media mainstream (arus utama) seperti media online, media cetak, televisi, radio dan media mainstream lainya. Akan tetapi saat ini rujukan seseorang yaitu sesuatu yang pertama kali diunggah di media sosial, dan itu langsung dianggap benar.

“Apalagi ketika kita berbicara soal pesantren, berbicara soal Nahdlatul Ulama secara umum, kini memiliki tantanganya yang cukup besar. Maka kita sebagai warga Nahdlatul Ulama kini bukan hanya harus menguasainahwu dan shorof, bukan hanya menguasai mantiq dan balaghoh. Akan tetapi juga harus menguasai jejak digital kita, menguasai teknologi sesuai perkembangan globalisasi dan menjadi sangat penting untuk saat ini.

“Nah, karena kondisi sekarang yang demikian ini maka terbangunlah era post truth (membangun hoaks dan kebohongan dengan terus menerus sehingga akhirnya dipercayai). Rekam jejak kita sudah menumpuk di Google karena hampir semua yang kita butuhkan lalu keluar jawabanya.” Tutur beliau.

“Dan tragisnya pula, mereka yang memproduksi hoax dibesarkan oleh kita, bukan dibesarkan oleh mereka sendiri. Kenapa demikian? Karena yang suka vidio-vidio mereka adalah kita. Setiap mereka posting sesuatu kita langsung like dan share.

“Akan tetapi publik juga kurang menemukan rekam jejak yang positif. Kenapa? Karena mayoritas yang diunggah dan disukai oleh publik adalah hal-hal yang negatif. Publik post truth suka dengan sensasional dan emosional. Dan tidak jarang NU selalu tampil untuk menjadi pendingin dan pereda pada isu yang sensasional dan emosional.

“Maka kita harus ketemu konsepnya yaitu satu berita negatif harus dilawan seribu berita positif.”

Karena saat ini hanya tiga sosok pemuda yang mampu bertahan, yakni pemuda yang kreatif, inovatif, dan yang terakhir yaitu sosok pemuda yang produktif. Sosok-sosok inilah yang dibutuhkan di era milineal seperti sekarang ini. Karena di era post truth orang tidak mencari kebenaran, tetapi mencari afirmasi, konfirmasi, dan dukungan terhadap keyakinan yang dimilikinya.(TB)

Pertanyaan yang Berbahaya

Sudah merupakan hal yang maklum apabila seseorang mendalami suatu bidang tertentu, maka dia akan menguasainya. Contohnya mahasiswa jurusan teknologi dan informasi pasti selalu update tentang teknologi-teknologi terbaru. Seorang dokter sudah pasti memiliki pengetahuan mendalam tentang seputar kesehatan tubuh. Seorang psikolog bisa dipastikan mampu membedakan orang gila dan orang pura-pura gila melalui gerak-geriknya. Begitupun seorang santri –yang notabenya mendalami ilmu agama– bisa dipastikan kalau jalan hidupnya selaras dengan tuntunan agama.

          Namun juga merupakan hal yang sudah mafhum bahwasanya dalam setiap kaidah pasti ada pengecualiannya dalam beberapa kasus. Dalam contoh diatas maka bisa jadi ada seorang mahasiswa jurusan teknologi dan informasi yang bahkan tidak bisa membedakan fungsi RAM dengan ROM dalam komputer. Adakalanya seorang dokter tidak mampu mendiagnosis penyakit pasiennya. Terkadang ada seorang psikolog yang tidak memahami apakah tangisan seseorang itu karena sedih atau terharu. Dan bisa jadi ada santri yang kelakuannya tidak sesuai dengan nilai-nilai agama.

         Yang jadi pertanyaan adalah, kenapa bisa seperti itu? Kenapa ada seorang santri yang bertahun-tahun menghabiskan umurnya untuk mempelajari ilmu agama di dalam pondok pesantren  namun kelakuannya bahkan lebih kekanak-kanakan daripada anak kecil? Atau bahkan perangainya lebih tidak beradab dibanding preman pasar.? Menurut hemat penulis, mungkin jawabannya adalah ‘pertanyaan’ itu sendiri.

          Dalam ruang lingkup belajar-mengajar, seorang pelajar sangat dianjurkan untuk bertanya apabila tidak memahami pelajaran yang dihadapinya. Sebagaimana ada ungkapan, “tidaklah mendapat ilmu seorang pelajar yang malu bertanya.” Apalagi dalam event seperti musyawarah dan bahtsul masa’il, pelajar semakin dianjurkan untuk bertanya suatu masalah sampai sedalam-dalamnya karena tanpa pertanyaan maka dua acara tersebut tidak akan ada bedanya dengan seminar atau ceramah.

          Namun sebagaimana kaidah ‘setiap kaidah ada pengecualiannya’ diatas tadi, tidak semua pertanyaan adalah hal yang positif bagi pelajar. Ada banyak pertanyaan-pertanyaan yang berdampak buruk sehingga dilarang keras hinggap di hati seorang pelajar.

            Ada sebuah kisah seputar pertanyaan yang berbahaya ini. Zaman dulu, proses belajar-mengajar di pondok pesantren tidaklah berbentuk madrasah seperti sekarang. Dulu sistemnya adalah ngaji bandongan dan sorogan. Pada suatu waktu, ketika KH. Abdul Karim, muasis Pondok Pesantren Lirboyo sedang membacakan kitab di hadapan santri-santri beliau, ada seorang santri yang spotan bertanya dalam hatinya; kenapa setiap membaca makna isim dhomir beliau tidak menyertakan marji’nya? Mungkin santri tadi adalah santri baru yang belum mengetahui ciri khas membaca kitab KH. Abdul Karim. Lalu tiba-tiba KH. Abdul Karim mengatakan bahwasanya dhomir itu letaknya di hati, maka hanya orang yang tidak punya hatilah yang tidak mampu mencari marji’ dhomir.

           Pertanyaan santri tadi adalah hal yang wajar ditemui dalam hati seorang santri. Banyak santri yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan serupa ketika mendengar pembacaan ma’na atau penjelasan dari guru yang menurut santri tersebut tidak pas. Itu adalah sebuah pertanyaan yang sangat sepele namun dampaknya sangatlah besar. Kemarahan guru. Padahal dalam konsep islam, ilmu seorang murid tidaklah akan bermanfaat kecuali dengan ridha sang guru. Maka adalah suatu kehancuran apabila seorang murid membuat marah sang guru.

            Pertanyaan yang menghancurkan tadi pada sejatinya bermula dari keraguan seorang murid akan kredibilitas keilmuan sang guru. Bentuknya pun bermacam-macam, seperti ‘kenapa santri dilarang membawa hp, merokok di bawah umur, berambut gondrong, dan seterusnya’, ‘kenapa juga santri harus menghafal nadzom dan pelajaran yang belum tentu dipahaminya atau kemungkinan besar akan dia lupakan, dan seterusnya,’ yang intinya adalah keraguan murid akan wejangan gurunya.

Secara logis dapat ditarik kesimpulan, bagaimana seorang murid akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat kalau dia ragu kepada gurunya sendiri? Ini bagaikan seorang musafir yang tersesat lalu bertanya arah jalan yang benar pada seseorang. Namun si musafir sendiri tidak mempercayai orang tersebut. Maka semakin tersesatlah ia.

Maka dari itu seorang pelajar lebih-lebih seorang santri hendaknya senantiasa manut kepada gurunya. Hendaknya ia menjaga tubuh dan hatinya dari hal-hal yang dapat menghilangkan ridha gurunya. Karena santri yang bisa membuat bangga gurunya bukanlah santri yang cerdas, tapi santri yang sholeh.(TB)

Penulis : M. Irwan Zuhdi (Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo)

Ketika Mahasantri Lirboyo Mengajar Santri Papua

LirboyoNet, Bogor-Program Wajib Khidmah Pondok Pesantren Lirboyo terus berlanjut hingga saat ini. Program yang menjadi salah satu syarat  Mahasantri sebelum di Wisuda. Dan untuk pada  tahun ini adalah tahun kedua Ma’had Aly Lirboyo mengirimkan Mahasantri Semester 7-8 menjadi guru bantu di Pondok Pesantren Daarur Rasul.

“Pondok Pesantren Daarur Rasul berdiri pada tahun 2004. Latar belakang berdirinya Pondok Pesantren ini bermula dari seorang Kyai asal Bogor yang bernama KH. Ahmad Baihaqi yang tak lain adalah salah satu murid KH. Ma’sum Jauhari yang merupakan salah satu Masyayikh Lirboyo yang biasa di kenal dengan sebutan Gus Maksum. KH. Ahmad Baihaqi  telah melakukan dakwah sejak 1994 di Pulau Papua. Dari dakwahnya tersebut  tidak sedikit orang tua yang ingin anaknya mengenyam pendidikan agama Islam secara mendalam, hingga akhirnya beliau membawa anak-anak  dari papua tersebut ke Tanah Jawa untuk diajarkan agama Islam dan Pendidikan umum.”  Terang Abdurrohim Mahasantri Asal Brebes.

“Pondok pesantren yang semua santrinya orang papua ini, mempunyai kegiatan-kegiatan yang tak jauh berbeda dengan pesantren yang ada di indonesia pada umumnya. kegiatan dimulai dengan bangun pagi pukul 04:00 kemudian membaca wiridan sambil nunggu waktu shalat  subuh. Setelah shalat subuh membaca wirid wirdu latif sampai waktu duha, kemudian sarapan pagi.”  Terang Syarif Hidayatullah Mahasantri asal Sragen.

“Tepat Pukul 07:00  semua santri diwajibkan untuk mengikuti sekolah umum. Semua kegiatan pondok selesai sampai pukul 22:00, para santri di persilahkan untuk tidur sampai pukul 04:00.” Timpal Mahbub Mahasantri asal Cianjur.

“ Dan salah satu yang menarik  dari Pondok Pesantren Daarur Rasul selain semua santrinya berasal dari papua, pondok pesantren ini juga tidak memungut  biaya sama sekali.”  Terang Mahbub.

Semoga semua delegasi guru bantu yang disana bisa bermanfaat dan dimudahkan segala urusanya. (TB)

Kiprah Santri di Masyarakat: Antara Safari, Himasal dan Kiai Mushola

Berbicara tentang santri memang tidak akan ada habisnya. Keseharian dan kebiasaan para santri juga berbeda dengan orang-orang pada umumnya, namun sangat menarik dan unik.

Kesederhanaan kaum santri merupakan bentuk kerendahan hati dan merupakan suatu proses yang mengantarkan dirinya menuju insan yang berkualitas. Ciri khas yang biasa dijumpai di kalangan kang santri yaitu seperti sarung, songkok miring, sendal jepit dan kebiasaan yang  bersifat spontan seperti ketiduran saat ngaji atau sekolah, ngobrol di sela-sela musyawarah dengan topik terkini, ngopi tanpa batas dan over dalam bergurau. Ditambah lagi dengan kehidupan yang serba bersama seperti masak bersama, makan bersama dan tidur bersama dalam satu kamar yang SS (sempit, sumpek).

Akan tetapi di balik itu semua terkandung nilai-nilai yang luhur. Karena santri biasa dilatih dengan kebersamaan, kesederhanaan, kesabaran, dan keteguhan jiwa dalam menghadapi berbagai tantangan dan rintangan yang mengahadang. Sehingga membuat ikatan emosional antar santri terjalin kuat. Selalu teguh bagaikan karang di lautan yang tak pernah rapuh meskipun diterjang ombak.

Ikatan emosional yang kuat tersebut akan menumbuhkan solidaritas yang kuat, hingga sampai menjadi alumni tetap akan terjaga solidaritasnya. Fenomena ini terbukti saat mereka  para alumni dipertemukan dalam forum perhelatan akbar atau kalau di pondok ini yang biasa kita kenal dengan Munas Himasal yang diselenggarakan setiap 5 tahun sekali di Pondok Lirboyo. Acara ini dijadikan ajang reuni yang paling sakral oleh para alumni pada umumnya. Kebersamaan yang dipupuk kinii membuahkan hasil. Semangat gotong royong dan tolong menolong kini menjadi acuan menjalin silaturahim. Berjumpa dengan kawan lama akan mengingat ingat kembali memori masa silam saat masih belajar bersama di pesantren. Mereka akan saling menanyakan kabar dan status sosialnya. Disini para alumni akan tampak status sosialnya di masyarakat. Ada yang jadi kiai musholla, pemangku pesantren, pengurus NU bahkan menjadi pejabat pemerintah.

Kesuksesan alumni menjadi tolak ukur dari seorang santri yang akan menimba ilmu di sebuah pesantren, kondisi inilah yang akhirnya diikuti oleh santri lainnya untuk terus belajar dan mengembangkan diri di pesantren. Mengapa demikian?

Itu terjadi karena karakter building dan revolusi mental telah lama dilakukan dan diterapkan oleh pondok pesantren . Hal ini tidak lepas dari jasa pesantren melalui programnya. Salah satunya program safari dakwah. Dengan menerjunkan para santri yang telah siap secara mental untuk berkiprah dii masyarakat dan lembaga formal. Program yang digiatkan ini bertujuan sebagai media syiar Islam dan praktek lapangan bagi santri untuk belajar bermasyarakat secara langsung.

Para santri tidak bisa menebak-nebak masyarakat seperti apakah yang nantinya akan mereka hadapi. Tidak hanya kondisi masyarakat yang plural seperti beda aliran, beda ras, beda adat, beda agama tapi juga  kondisi dan budaya yang berbeda harus benar-benar siap dipahami oleh setiap santri yang didelegasikan. Memang juga tidak bisa kita paksakan kepada masyarakat, untuk segera menerima perubahan. Meskipun perubahan itu juga berarti kebenaran. Mengubah tatanan masyarakat secara frontal justru akan lebih banyak punya potensi kegagalan. Dalam arti, dakwah harus dilakukan bertahap. Mengambil hati masyarakat terlebih dahulu, setelah mereka terpikat, baru naik tingkatan.

Dengan adanya program safari dakwah, setelah menyelesaikan belajarnya di pesantren, santri yang mondok tidak akan bingung kembali ke kampung halamannya. Kalau orang tuanya memiliki pesantren atau madrasah maka ia akan membantu mengurus lembaga tersebut. Secara otomatis yang dulunya menyandang status gus akan dinobatkan sebagai kiai. Sedangkan santri yang tidak mewarisi lembaga pendidikan agama, biasanya ia memanfaatkan masjid atau mushola di kampung sebagai sarana membagikan ilmu yang pernah dipelajari di pesantren. Dengan begitu mau tidak mau santri itu akan menyandang label kiai. Meskipun telah mendapatkan pendidikan dan bimbingan yang sama dari kiai pesantren masing-masing santri ketika kembali ke desa asalnya mempunyai peran yang berbeda-beda. Karena itu, hanya orang-orang yang terseleksi secara sosial yang pada akhirnya terpilih menjadi panutan masyarakat terutama yang menyangkut praktek-praktek keagamaan. Menjadi orang-orang terpilih dari pada alumni pesantren yaitu bagi siapa yang berdedikasi dan telah teruji berjuangan untuk agama dan melayani kepentingan masyarakat dengan semagat pengabdian. Itulah sebenarnya ruh pendidikan pesantren yang ditanamkan kiai. Di lingkungan pedesaan atau pedusunan kiai mushola memiliki peranan yang cukup besar mendampingi masyarakat, lebih-lebih menyangkut urusan peribadatan di di mushola atau masjid seperti merawat orang yang meninggal dunia.

Lembaga pengajian yang berbasis di mushola hanya diikuti oleh masyarakat atau santri di sekitar tempat ibadah tadi. Mereka tidak bermukim bersama kiai, tetapi langsung pulang ke rumah masing-masing selepas belajar mengaji. Dan pengasuh lembaga pengajian yang hanya berbasis di masjid disebut kiai masjid. Suatu mahkota kehormatan  yang diberikan masyarakat kepada seseorang yang menjadi panutannya.

Kata “Kiai” adalah sebutan kepada seseorang yang dimuliakan dalam adat pergaulan orang Jawa. Pada umumnya kata kiai digunakan untuk menyebut guru agama atau pengasuh yang alim serta dihormati dan berkharisma. Istilah pengasuh di Jawa disebut kiai, di Sunda disebut ajengan, di Madura disebut nun atau bendara yang disingkat ra, di Aceh disebut tengku, di Sumatera Utara atau Tapanuli disebut syaikh, di Minangkabau disebut buya, di Nusa Tenggara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, atau Kalimantan Tengah disebut tuan guru, dan beragam sebutan lagi di berbagai daerah di Nusantara.

Sedangkan kata “mushola atau masjid” secara terminologis merujuk sebuah teritori tempat beribadah sekelas di desa desa atau pedukuhan yang menjadi tempat menetap. Yang menjadi sorotan menarik kali ini adalah tokoh kiai mushola dan kiprahnya. Lebih dari kiprahnya itu, dia bisa mengawal pertemuan rutin majelis pengajian yang bersifat serikat gotong royong dalam ikhtiar mengem-bangkan ajaran ta’aawanu ‘ala al-birri wa at-taqwa. Apabila di antara warga  kedapatan sedang tertimpa kesulitan maka ia tampil menggerakan para anggota yang lain untuk memberikan bantuan dari uang  kas yang dipungut setiap acara pengajian. Dengan membantu meringankan beban kepada sesama menunjukkan mereka telah disatukan pula oleh nasib sosial yang sama. Sebenarnya untuk membumikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat, contoh implementasi kesalehan sosial sebagaimana yang diteladankan kiai musola menjadi pilar penopangnya. Di sinilah makna profetik dari pada misi Islam  rahmatan li al-‘alamin yang setiap saat bisa dirasakan umat meskipun tidak perlu mengibarkan banyak simbol.

Dalam konteks pembanguan sosial di pedesaan, peranan kiai mushola sangat strategis dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat sekitar dikarenakan hampir setiap hari ia bersetuhan langsung dengan mereka. Peran strategis ini membuktikan bahwa ia sangat leluasa untuk berpartisipasi dalam pembangunan pedesaan. Karena intensitas pergaulan sehari-hari yang dijalaninya, sudah barang tentu dengan misi utama yang dia emban bisa sangat leluasa untuk mewarnai pertemuan-pertemuan yang digelar di ruang terbuka. Katakanlah forum rembuk warga yang dipimpin kiai, maka pendapat-pendapat yang disampaikan kemungkinan besar menjadi bahan pertimbangan dan akan direspon oleh jama’ah.

Selain itu kiai tidak hanya memperhatikan urusan ibadah mahdhoh (formal) seperti sholat dan dzikir berjama’ah yang bersifat  non proft, hanya berharap  ridlo Allah SWT namun juga aktif membahas permasalahan di lingkungan tempat tinggal mereka. Jadi tidak melulu urusan ibadah atau hal-hal yang bersifat normatif.

Inilah jasa-jasa kiai pengampu desa tamatan pesantren yang tidak bisa kita pandang sebelah mata. Justru kontribusinya terhadap masyarakat sangatlah besar. Namun jarang dilirik sebagian orang pada umumnya bahkan dari pemerintah hanya dikarenakan statusnya yang informal. Sebagai santri kita harus membuktikan peran kita terhadap masyarakat majemuk. Walaupun menjadi kiai mushola sekalipun. Santri-santri tamatan pesantren yang sudah kembali ke desa dan memiliki kemauan yang kuat mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat menjadi faktor penting bagi kelestarian pembangunan sosial di pedesaan. Dalam konteks ini peranan kiai mushola dalam pembangunan masyarakat di pedesaan sangatlah nyata dan ikhlas.[]

Penulis: Luthfi Hakim (Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo)