Awal Mula Perayaan Maulid

Artikel kali ini akan membahas tentang awal mula perayaan maulid oleh salah satu panglima Sultan Salahuddin yaitu al-Malik al-Mudzofar.

Salah satu tokoh terkenal yang menginisiasi perayaan maulid adalah al-Malik al-Mudhoffar, beliau adalah seorang pemimpin daerah Erbil, daerah yang masuk kekuasaan kesultanan Salahuddin al-Ayyubi. Beliau juga termasuk panglima terkemuka Sultan Saladin dan banyak memberi peran dalam berbagai rentetan perang salib untuk membebaskan tanah suci Palestina.

Menurut Dr. Isma’il Sami’i dalam Tarikh al-Ihtifal bi al-Maulid an-Nabi as-Syarif fi al-‘Alam al-Islami wa al-Jaza’iri, salah satu usaha Sultan Salahuddin menyatukan Kembali kekuatan islam setelah tercerai berai dalam peperangan salib yang pertama adalah dengan mengadakan maulid nabi. Dengan perayaan maulid rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta semangat untuk berjihad kembali dikobarkan. Perang bukan lagi hanya untuk mendapat kekuasaan di dunia belaka akan tetapi untuk menegakkan Kembali panji-panji islam.[1]

Imam as-Suyuthi dalam Husn al-Maqshad fi Amal al-Maulid berkata; “Yang pertama kali melaksanakan maulid Nabi Muhammad SAW adalah Jendral al-Mudhzaffar, Abu Sa’id Kawkaburi (penguasa Erbil Irak). Salah satu penguasa yang mulia dan pembesar para dermawan. Beliaulah yang mendukung secara finansial masjid al-Mudzaffiri di lereng gunung Qosioun, Damaskus.”[2]

Dalam tarikhnya, ibnu katsir berkata; “Al-Malik al-Mudzaffar melaksanakan maulid nabi syarif di bulan Rabiul Awal. Beliau merayakan maulid dengan mengadakan acara yang benar-benar besar dan meriah. Sosoknya merupakan pria sejati, pemberani, pahlawan, pintar, alim, semoga Allah SWT merahmati dan memulyakannya.”

Cucu ibn al-Jauziy dalam Mir’ah az-Zaman berkata; “Sebagian orang yang hadir dalam perayaan maulid jendral al-Mudzaffar menceritakan; Dalam acara maulid tersebut terdapat hidangan 5000 kambing, 10.000 ayam, 100 kuda, 100.000 hidangan dalam mangkuk serta 30.000 piring manisan.”

Setiap tahun beliau menyediakan dana sebesar 300.000 dinar emas untuk perayaan maulid. Beliau juga menyediakan tempat singgah bagi para pengunjung dari berbagai penjuru dan bermacam-macam etnis. Beliau menyediakan 100.000 dinar emas untuk pengelolaan rumah singgah tersebut (1 dinar emas senilai sekitar 3.000.000,00).

Ibnu Khalikan, Syamsuddin Abu al-Abbas Ahmad bin Khalikkan, menceritakan; “Pada saat itu ada ulama yang terkemuka dari Maghrib berkunjung ke Syam dan Irak, yaitu Abi al-Khattab ibn Dihyah. Saat melewati daerah Erbil pada tahun 604 H. beliau mendapati penguasa daerah tersebut Mudhazzar ad-Din bin Zain ad-Din melestarikan perayaan maulid. Maka dari itu beliau membuatkan kitab maulid dengan judul at-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir. Sang jendral kemudian memberi hadiah sebesar seribu dinar.”[3]

Baca Juga; Relasi Ulama dan Umara

subscribe: Pondok Lirboyo

[1] Dr. Isma’il Sami’i, Tarikh al-Ihtifal bi al-Maulid an-Nabi as-Syarif fi al-‘Alam al-Islami wa al-Jaza’iri, Oman; Markaz al-Kitab al-Akadimi.

[2] Jalal ad-Din, Abd ar-Rahman bin Abu Bakar as-Suyuthi, Cet. 2016, Husn al-Maqshad fi Amal al-Maulid, Beirut; Dar al-Kutub al-Ilmiyah.

[3] Muhammad bin Alwiy al-Maliki al-Hasani, Cet. II: 2011. al-I’lam bi Fatawa `Aimmah al-Islam Haul Maulid ‘Alaih as-Sholah wa as-Salam, Beirut; Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.