Basis Metamorfosa Umara di Negeri Surga

Umara sebagai media (mu’awin) amar ma’ruf yang bersifat kolektif ini, telah menjadi jalan koordinasi (instrumen) dari pimpinan tertinggi dimuka bumi pertiwi serta merupakan opsi besar yang berpengaruh
kepada kehidupan rakyat berbangsa.

Kedatangan Islam sebagai pementah ajaran bangsa Jahiliyyah telah membedakan dua kelompok ini dengan mengakomodir terhadap urusan yang tidak hanya duniawi saja, melainkan juga hal agama (religius).

Berpuluh-puluh tahun silam, pemerjuang kemerdekaan Negara telah memeras otak demi mengkodifikasi Dasar Negara yang memiliki korelasi antara negara berbangsa dengan tanpa berseberangan dengan faham hukum formal agama Islam (syariat).

Hal ini merupakan keniscayaan yang terjadi disebabkan nenek moyang (grand founder) Indonesia mayoritas muslim. Meski demikian, nenek moyang (grand founder) pemerjuang kemerdekaan Negara tidak memaksakan bumi pertiwi untuk dijadikan Negara Islam (khilafah).

Acap kali beberapa kelompok Fundamental paksa-memaksa serta memiliki statemen untuk menjadikan Indonesia bak Negara Timur Tengah (khilafah). Mereka merasa berhak ikut andil menghakimi kericuhan publik.

Padahal pernyataan verbal secara rektorik yang terdapat didalam Dasar Negara (Pancasila / UUD 1945) sudah mencerminkan bukti-bukti Islamic Oriental di negeri ini. Namun mereka tetap acuh tak
acuh , buta membuta dan melihat sebelah mata kepada kenyataan demikian.

Presiden RI ke 4 beliau K.H. Abdurrahman Wahid pernah menyatakan “Indonesia tidak akan banyak kericauan apabila tidak dijadikan sebagai negara khilafah” dinilai keliru oleh mereka.

Anggapnya, Indonesia adalah Negara berprinsip Islamic Liberal yakni bangsa prospektif kepada faham yang tidak bersumber kepada induk yang disepakati oleh madzhab – madzhab dalam agama serta bertujuan membongkar ajaran yang telah disepakati oleh ulama.

Tidak, justru Dasar-dasar Negara selaras dengan nilai keagamaan. Bahkan , public figure Indonesia selalu menitikberatkan segala urusan siyasahnya agar tetap dalam eksistensi literatur kuno. Sebagaimana yang terlansir:

المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح

“Memperhatikan sistem lama yang masih relevan dan mengadopsi ha-hal yang layak dijadikan pijakan dengan tetap meneladani masa lalu yang mengantarkan pendahulu ke gerbang kesuksesan”.

Sebab standarisasi hukum pemerintahan negara tidak akan bersilang paham denagn syariat. Seperti yang disebutkan di dalam salah satu literatur kuno :

قلنا أن ما يخالف الشرع من قنون او لائحة او قرار باطل بطلانا مطلق

segala hal yang menyalahi syariat baik berupa suatu dasar, prospektur (kinerja), maupun ketetapan , maka hal demikian itu batil secara mutlak.”

Salah satu bukti bahwa siyasah bangsa ini tak ayal dari wacana agama, dengan digambarkan bahwa sebagai umat berbangsa Indonesia yang kehidupannya diatas rata-rata diharuskan untuk menginfakkan sebagian hartanya kepada orang-orang menengan kebawah dengan tanpa menuntut paham aliran transgender sebagaimana isu sentral liberalisme.

Sebenarnya norma ini telah tersirat di dalam pancasila yakni sila ke-5 yang berupa Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menilik dan memahami bahwa pondasi bangsa berprinsip teguh kepada ajaran agama, Ulama adalah bayangan serta suksesi besar secara implisit dalam keberhasilan kesejahteraan negeri.

Sebab, siapa lagi yang tahu-menahu tentang maksud amanat nenek moyang (grand founder) sebagai salafuna as-sholih dimasa lampau melainkan ulama?

Sedangkan umara adalah suksesi besar secara eksplisit dimuka negara (dalam hal materi). Bagaimana tidak? Kiprahnya sebagai prasarana untuk mewujudkan kehidupan yang baik serta etos kerja masyarakat yang baik pula.

Seperti memberikan kemudahan berupa alat-alat yang menunjang kemajuan pertanian, perdagangan, pertukangan, dan juga memberikan lapangan kerja yang baik. dengan demikian, maka antara nilai hukum formal agama islam serta dasar negara memiliki korelasi (ta’aluq) yang begitu erat.

Dan agar asupan moral serta material bisa diserap dengan seimbang, maka ulama dan umara perlu menjalin interaksi mutualisme dengan menggalang persatuan demi menciptakan negeri yang damai dan sejahtera.

Bukankah Allah lebih mencintai persatuån yang memprioritaskan hal baik? Seperti yang

dijelaskan dalam kitab tafsir al-Fakhru al-Razi juz 3 hal 386:

أن الله تعالى يحب الموافقة و الألفة بين المؤمنين وقد ذكر والمنة بها عليهم حيث قال : ” واذكروا نعمة الله عليكم ” (ال عمران103) الى قوله “إخوانا” (ال عمران103) ولو توجه كل واحد فى صلاته الى ناحية أخرى لكل ذلك يوهم اختلافا ظاهرا فعين الله لهم جهة معلومة وامرهم جميعا بالتوجه نحوها ليحصل لهم الموافقة بسبب ذلك وفيه اشارة الى ان الله تعالى يحب الموا فقة بين عباده فى اعمال الخير

_______________________________________

REFERENSI:

Al-Imamah AL-‘Udhma                Hal.151

AL-Majmu’                                       Hal. 360

Juz 8Al-Fiqh Al-Islami                   Hal 337 Juz 1

Al-Tasyrii’ Wa Al-Janaiy              Hal.337 Juz 1

Al-Fakhru Al-Rozi                           Hal.386 Juz 3

_________________________

Oleh : Umi Fajar fauziah

Asal : Blitar

Kamar : Blok M, P3HM

Kelas : 1 Tsanawiyyah

 

Sebagai Juara Pertama Lomba Menulis Santri yang diadakan Lirboyo.net dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2018 kategori santri putri

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.