HomeSantri MenulisBenang Merah Filsafat Gus Miek dan Al Farobi

Benang Merah Filsafat Gus Miek dan Al Farobi

Santri Menulis 0 1 likes 474 views share

Ada sebuah percakapan menarik yang terjadi diantara dua Gus (dua wali) yang selalu menjadi “panutan” kita bersama, yaitu Gus Miek dan Gus Dur. Saya sudah lupa baca dari mana, tapi saya masih ingat betul bagaimana isinya. Kurang lebih seperti ini:

Gus Dur: “Menurut njenengan gimana kondisi Indonesia ke depan Gus? ” Tanya Gus Dur kepada Gus Miek.

Dengan sangat enteng Gus Miek menjawab: ” Halah, santai, di Indonesia ini yang bermasalah sebenarnya hanya dua, Gus.”

“Siapa Gus? ” kejar Gus Dur.

Jawab Gus Miek: ” Kamu dan saya.”

Dulu ketika membaca ini saya senyum-senyum sendiri. Merasa kagum dan asik saja dengan tindak lampah kedua ulama itu. Saat itu saya gak berpikir yang aneh-aneh, karena setahu saya yang mencirikan beliau berdua adalah nyentrik dan nyeleneh.

Tapi belakangan saya sadar, bahwa jawaban yang dilontarkan Gus Miek itu gak hanya normatif, tapi juga mempunyai muatan teoritis juga. Yaitu sesuai dengan salah satu aforisma Ibnu Atoillah as Sakandari yang berbunyi:

Man la yastathii’u an yarfa’a hajatan ‘an nafsihi, fakaifa yastathii’u an yakuna laha ‘an ghoirihi rofi’an.”

Kurang lebih artinya demikian:

“Barangsiapa tidak mampu mencukupi kebutuhannya sendiri, lalu bagaimana mungkin ia akan memenuhi kebutuhan orang lain.”

Jadi ketika beliau ditanya mengenai realitas sosial, beliau malah mengembalikan realitas tersebut kepada sesuatu yang bersifat personal. Dan cara pandang semacam ini justru lebih terkesan realistis. Seolah-olah beliau mengajak kita untuk membenahi kualitas diri dan menyelesaikan tugas masing-masing sebelum kita beranjak pada tingkatan yan lebih luas.

Kurang lebih paham seperti ini, juga pernah “diwacanakan” oleh Al Farobi dalam kitabnya yang berjudul ” Aro’ Ahlul Madinah wal Fadlilah.” Dalam impiannya mewujudkan bentuk Negara Ideal, mula-mula Al Farobi menerangkan bahwa nasib sebuah komunitas sosial pastilah bergantung pada suatu “asal” yang membentuk komunitas tersebut: individual.

Jika memang demikian, maka Al Farobi perlu merumuskan suatu “falsafah” atau prinsip-prinsip dasar yang menjadi pegangan oleh setiap individu, demi membangun negara yang ideal.

Tapi dalam konteks ini, kurang lebih ada perbedaan antara sikap Gus Miek dan filsafat Al Farobi. Apa yang dirumuskan Al Farobi dalam negeri idealnya terkesan horizontal: terjadi antara manusia dan manusia. Gus Miek tak hanya menghendaki sisi “idealistis” antar manusia saja. Dia ingin lebih, suatu yang universal, mistis dan vertikal: antara manusia dan Allah Swt.

Penulis, Farhan Al Fadlil, mutakharijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017. Kini sedang rihlah ta’allum di Kairo, Mesir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.