Berdesakan Demi Mencium Hajar Aswad

Bagi para jamaah haji atau umroh, momen krusial yang tidak boleh terlewatkan adalah mencium Hajar Aswad. Kegiatan demikian merupakan kesunahan bagi orang yang sedang tawaf di Baitullah (Ka’bah).

Namun yang menjadi pertanyaan, apakah kesunahan itu berlaku ketika dalam mendapatkannya harus berdesakan atau justru malah membahayakan diri sendiri ataupun orang lain? Jawaban itu akan anda dapatkan jika membaca artikel ini hingga selesai.

Kesunahan Mencium Hajar Aswad

Sebagaimana yang telah penulis jelaskan di atas, mencium Hajar Aswad merupakan kesunahan bagi orang yang tawaf. Banyak dalil yang tertuang dalam beberapa kitab yang menghukumi hal demikian, salah satunya dalam kitab Asna’ al-Mathalib.

 (الرَّابِعَةُ أَنْ يَسْتَلِمَ الْحَجَرَ) .الْأَسْوَدَ (بِيَدِهِ) أَوَّلَ طَوَافِهِ (ثُمَّ يُقَبِّلَهُ) عِبَارَةُ الْأَصْلِ: وَيُقَبِّلُهُ. (وَيَضَعُ) بَعْدَ ذَلِكَ (جَبْهَتَهُ عَلَيْهِ) لِلِاتِّبَاعِ، رَوَاهُ فِي الْأَوَّلَيْنِ الشَّيْخَانِ، وَفِي الثَّالِثِ الْبَيْهَقِيُّ. (وَلِلزِّحَامِ) الْمَانِعَةِ مِنْ تَقْبِيلِهِ وَالسُّجُودِ عَلَيْهِ. (يَسْتَلِمُ) بِيَدِهِ، (وَإِنْ عَجَزَ) عَنْ اسْتِلَامِهِ بِهَا (فَبِعُودٍ) أَوْ نَحْوِهِ كَيَدِهِ يَسْتَلِمُ (ثُمَّ يُقَبِّلُهُ) أَيْ مَا اسْتَلَمَ بِهِ فِيهِمَا

“Kesunahan keempat: hendaknya seseorang menyentuh Hajar Aswad dengan tangannya pada permulaan thawaf, kemudian menciumnya. Dalam redaksi matan: ‘dan menciumnya’. Setelah itu ia meletakkan dahinya di atas Hajar Aswad sebagai bentuk ittibā’ (mengikuti Nabi).

Karena adanya keramaian yang menghalangi untuk mencium dan bersujud (meletakkan dahi) di atasnya, maka cukup menyentuhnya dengan tangan. Jika tidak mampu menyentuhnya dengan tangan, maka dengan tongkat atau semisalnya; alat itu ia gunakan untuk menyentuhnya, lalu alat tersebut ia cium. Yakni mencium benda yang dipakai untuk menyentuh Hajar Aswad dalam dua keadaan tadi”. (Zakariyā bin Muḥammad bin Zakariyā al-Anṣārī, Asnā al-Maṭālib fī Syarḥ Rauḍ al-Ṭālib, jil. 4 [Kairo: Dār al-Kitāb al-Islāmī, t.t.)], hlm. 480.)

Baca juga: Pembasmian Ikan Sapu-Sapu: Bolehkah Mengubur Hidup-Hidup?

Hadis Nabi Terkait Mencium Hajar Aswad

Hal ini berdasarkan pada hadis yang Imam Muslim riwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. melakukan tawaf dengan mengendarai untanya serta menyentuh dan mencium Hajar Aswad menggunakan tongkat agar orang-orang dapat melihat beliau dan bertanya kepadanya. Nabi saw. bersabda:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ: طَافَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبَيْتِ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ عَلَى رَاحِلَتِهِ، يَسْتَلِمُ الْحَجَرَ بِمِحْجَنِهِ، لِأَنْ يَرَاهُ النَّاسُ وَلِيُشْرِفَ وَلِيَسْأَلُوهُ، فَإِنَّ النَّاسَ غَشُوهُ.

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir dari Ibnu Juraij dari Abu Zubair dari Jabir, ia berkata: Rasulullah saw. melakukan tawaf di Ka‘bah pada Haji Wada’ dengan mengendarai untanya. Beliau menyentuh Hajar Aswad dengan tongkatnya agar dapat dilihat oleh orang-orang, agar beliau tampak oleh mereka, dan agar mereka dapat bertanya kepadanya, karena banyaknya manusia yang mengerumuninya.”

Baca juga: Kriteria Memilih Istri

Bagaimana Jika Berdesakan?

Selanjutnya—dengan melihat fakta yang ada—dengan banyaknya jamaah dari berbagai penjuru dunia, membuat tindakan mencium Hajar Aswad sebagai ajang yang mengharuskan orang-orang yang ingin mendapatkannya harus rela berdesakan kesana-kemari.

Rasulullah pernah menjelaskan pada Sayyidina Umar ra. Dalam sabdanya:

«يَا عُمَرُ، إِنَّكَ رَجُلٌ قَوِيٌّ، لَا تُزَاحِمْ عَلَى الْحَجَرِ فَتُؤْذِيَ الضَّعِيفَ، إِنْ وَجَدْتَ خَلْوَةً، وَإِلَّا فَهَلِّلْ وَكَبِّرْ.»

“Wahai Umar, sesungguhnya engkau adalah laki-laki yang kuat. Janganlah engkau berdesak-desakan di Hajar Aswad sehingga menyakiti orang yang lemah. Jika engkau mendapatkan kesempatan yang lengang, maka sentuhlah (atau dekatilah), tetapi jika tidak, maka bertahlil dan bertakbirlah.” (HR. Imam Syafi’i dan Imam Ahmad).

Baca juga: Mengadakan Tahlilan Sampai Berutang?

Solusi Alternatif Jika Tidak Bisa Menyentuh Hajar Aswad

Selain itu, penjelasan serupa juga oleh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi tuangkan dalam I’anah at-Thalibin bahwa tata cara mencium atau menyentuh Hajar Aswad hendaknya dilakukan secara tertib dan tidak mengganggu jemaah lain.

Apabila tidak memungkinkan untuk mencium atau menyentuh Hajar Aswad secara langsung, jamaah dapat melakukan alternatif, seperti menyentuh dengan tangan, alat tertentu, atau memberi isyarat, kemudian mencium benda yang ia gunakan untuk menyentuh atau memberi isyarat tersebut.

فَإِنْ عَجَزَ عَنِ التَّقْبِيلِ اسْتَلَمَ بِيَدِهِ الْيُمْنَى، فَإِنْ عَجَزَ عَنْهُ فَبِالْيُسْرَى، فَإِنْ عَجَزَ عَنِ اسْتِلَامِهِ اسْتَلَمَهُ بِنَحْوِ عُودٍ ثُمَّ قَبَّلَ مَا اسْتَلَمَ بِهِ، فَإِنْ عَجَزَ عَنِ اسْتِلَامِهِ أَشَارَ إِلَيْهِ بِيَدِهِ أَوْ بِشَيْءٍ فِيهَا ثُمَّ قَبَّلَ مَا أَشَارَ بِهِ. وَلَا يُشِيرُ بِالْفَمِ إِلَى التَّقْبِيلِ، وَلَا يُزَاحِمُ لِلتَّقْبِيلِ، بَلْ تَحْرُمُ الْمُزَاحَمَةُ لَهُ وَلِلِاسْتِلَامِ إِنْ آذَى غَيْرَهُ أَوْ تَأَذَّى بِهِ.

Artinya: “Jika tidak mampu mencium (Hajar Aswad), maka hendaknya menyentuhnya dengan tangan kanan. Jika tidak mampu, maka dengan tangan kiri. Kemudian jika tidak bisa menyentuhnya secara langsung, maka menyentuhnya dengan sesuatu seperti tongkat, kemudian mencium benda yang ia gunakan untuk menyentuhnya. Jika tidak bisa juga, maka memberi isyarat kepadanya dengan tangan atau benda yang ada di tangannya, kemudian mencium benda yang dipakai untuk memberi isyarat tersebut. Tidak boleh memberi isyarat dengan mulut untuk mencium, dan tidak boleh berdesak-desakan demi mencium Hajar Aswad. Bahkan, berdesak-desakan untuk mencium dan menyentuhnya menjadi haram apabila mengganggu orang lain atau dirinya sendiri terganggu.” (Abū Bakr bin Muḥammad Syaṭā al-Dimyāṭī, I‘ānat al-Ṭālibīn, cet. 1 [Beirut: Dār al-Fikr, 1418 H/1997 M], jil. 2, hlm. 338.)

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses