Bermain Rebana di Dalam Masjid

Sempat viral di media sosial kemarahan seorang bapak di masjid yang hendak sholawatan dengan iringan rebana. Bermain rebana di dalam masjid menurutnya adalah kemungkaran yang seharusnya tidak terjadi, apalagi di dalam masjid yang merupakan tempat ibadah orang islam.

Sudah maklum bahwa mengumandangkan shalawat dengan iringan rebana adalah salah satu kegemaran warga indonesia yang mayoritas penduduknya beragama islam.

Rebana adalah gendang pipih bundar yang dibuat dari tabung kayu pendek dan agak lebar ujungnya, pada salah satu bagiannya diberi kulit.

Di Indonesia penggunaan instrumen alat musik ini biasanya untuk mengiringi sholawatan. Tidak hanya itu, rebana menjadi salah satu metode dakwah yang efektif dan banyak menarik simpati dari berbagai kalangan.

Lantas apakah benar memainkan alat musik tersebut dalam masjid?

Rebana merupakan alat musik yang tidak hanya populer di Indonesia saja. Bahkan, pada zaman Rasululoh Saw. sudah mengenal alat musik yang satu ini. Di dalam salah satu riwayat, kala Rasulullah Saw. kembali dari peperangan, seorang perempuan menghampiri beliau kemudian berkata;

“Wahai Rasulullah! Sungguh saya telah bernadzar, jika Allah Swt. Membawa kembali engkau dalam keadaan selamat maka aku akan bermain rebana”

“Jika itu memang nadzarmu maka tepatilah!”

Tentu Rasulullah tidak akan menyuruh untuk memenuhi nadzar kecuali nadzar tersebut sah, sementara nadzar menjadi sah hukumnya apabila menyanggupi untuk melakukan sesuatu yang tidak ada nilai keharamannya.

Dalam riwayat at-Turmudzi dan Ibn Majah pada satu kesempatan Rasulullah Saw. mengatakan;

أَعْلِنُوْا هَذَا النِّكَاحَ وَافْعَلُوْهُ فِيْ الْمَسَاجِدِ وَاضْرِبُوْا عَلَيْهِ بِالدُّفِّ

“Rayakanlah pernikahan dalam masjid dan mainkanlah rebana/tamborin”

Dari hadist tersebut ibn Hajar al-Haitami menyimpulkan bahwa bermain rebana dalam masjid untuk merayakan pernikahan hukumnya boleh. Tidak hanya untuk merayakan pernikahan saja, melainkan setiap acara yang bernilai positif, seperti membaca sholawat nabi, pun boleh merayakannya dalam masjid dengan alat musik tersebut.

Bukannya masjid merupakan tempat khusus untuk ibadah salat?

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, masjid adalah rumah atau bangunan tempat bersembahyang orang Islam. Secara istilah syariat, masjid adalah tempat yang diwakafkan untuk shalat dengan niat menjadikannya masjid. Dari sini kita bisa menbedakan masjid dan mushala, sebab mushala adalah tempat shalat secara mutlak, baik berupa wakafan, milik pribadi, hibah, dan lain sebagainya. Dari definisi tersebut menjadi jelas bahwa masjid sudah pasti wakaf, sedangkan mushala belum tentu wakaf.

Pada dasarnya tidak masalah melakukan aktifitas apapun di dalam masjid asal tidak merusak kehormatan masjid, mengotori dan menggangu orang yang sedang melakukan aktifitas di dalam masjid terutama salat. Syekh Abu Bakar Syatho dalam I’anah at-Tholibin menjelaskan:

وَلَا يَجْهَرُ مُصَلٍّ – وَغَيْرِهِ – إِنْ شَوَّشَ عَلَى نَحْوِ نَائِمٍ أَوْ مُصَلٍّ، فَيُكْرَهُ. كَمَا فِيْ الْمَجْمُوْعِ. وَبَحَثَ بَعْضُهُمْ الْمَنْعَ مِنَ الْجَهْرِ بِقُرْآنٍ أَوْ غَيْرِهِ بِحَضْرَةِ الْمُصَلِّي مُطْلَقًا، لِاَنْ الْمَسْجِدَ وُقِفَ عَلَى الْمُصَلِّيْنَ – أَيْ أَصَالَةً – دُوْنَ الْوُعَّاظِ وَالْقُرَّاءِ.

“Makruh Orang salat dan yang lain mengeraskan suara bacaannya jika menggangu orang tidur atau orang yang juga sedang salat. Sebagaimana keterangan dalam al-Majmu’. Sebagian ulama membahas mutlaknya larangan jika berada di samping orang yang salat. Sebab, pewakafan masjid pada asalnya untuk orang-orang yang salat, bukan untuk penceramah dan membaca al-Qur’an.”

Melakukan kegiatan untuk menarik jama’ah

Seorang takmir masjid boleh untuk mengadakan program apapun dalam masjid selama hal tersebut dapat menambah daya Tarik masjid, sehingga banyak orang yang berkenan untuk berbondong-bondong datang ke masjid untuk mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan terutaman salat berjamaah.

Sayyid Abdurrahman al-Hadromiy dalam Bugyah al-Mustarsyidin menjelaskan:

وَيَجُوْزُ بَلْ يُنْدَبُ لِلْقَيِّمِ أَنْ يَفْعَلَ مَا يُعْتَادُ فِىْ الْمَسْجِدَ مِنْ قَهْوَةٍ وَدُخُوْنٍ وَنَحْوِهِمَا مِمَّا يُرَغِّبُ نَحْوَ الْمُصَلِّيْنَ وَإِنْ لَمْ يُعْتَدَّ قَبْلُ إِذَا زَادَ عَلَى عِمَارَتِهِ.

“Boleh bahkan sunah bagi takmir masjid mengadakan kegiatan yang umumnya ada dalam masjid, seperti menyediakan kopi, wangi-wangian dan setiap kegiatan yang dapat menarik simpati jamaah meskipun belum biasa pada masa sebelumnya”

Sekian semoga bermanfaat. Waalahu a’lam bi as-showab.

Baca Juga; POLEMIK HUKUM MENGGUNAKAN KARMIN

Subscribe: Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.