HomeArtikelBetapa Santri Harus Jadi Dai Setiap Hari

Betapa Santri Harus Jadi Dai Setiap Hari

0 0 likes 813 views share

Santri seharusnya menyadari statusnya yang religius itu. Salah satu konsekuensinya adalah dia harus menjadi dai dalam kesehariannya. Mendai yang harus disandang santri itu bukan hanya diamalkan ketika di pesantren, tapi hidup di tengah masyarakat. Mendai atau menjadi juru dakwah harus melekat pada sanubari santri. Hati dan pikirannya harus senantiasa tertambat pada tugas suci dan mulia yang disandangnya itu. Dia pun dituntut menampilkan dirinya sesempurna mungkin untuk mendukung tugasnya sebagai dai.

Untuk menyukseskan tugasnya sebagai dai itu, paling tidak santri harus menjalankan misinya sebagai dai dalam tiga bidang dakwah. Pertama, da’wah bil hal. Syiar Islam di bidang ini banyak menuntut santri untuk berperilaku dan bersikap yang mencerminkan muslim yang seideal mungkin. Misalnya, dalam berpakaian, dia tidak mengumbar auratnya. Maka, tidak pantaslah santri di mana pun dia berada memakai celana jeans yang lubang di bagian lututnya. Dalam bertutur kata pun, dia harus sopan, lemah lembut, sangat berkesan, berbobot, dan kriteria keindahan ucapan lainnya sehingga menjadi qaulan tsaqiilaa. Demikian pula dalam bertingkah laku, santri harus berusaha semaksimal mungkin untuk meneladani akhlaaqul kariimah sebagaimana akhlak Rasulullah saw. Begitu pula ucapan dan perbuatannya satu. Artinya, lisannya klop dengan isi hatinya.

Dengan dakwah berupa tingkah laku itu, santri sebagai dai memiliki power yang luar biasa. Kekuatan ucapannya yang menyatu dengan hati dan perbuatannya dengam mudah menancap kuat ke dalam hati masyarakat yang didakwahi. Dakwahnya mengesankan sekali sehingga memotivasi audien untuk mengamalkan materi dakwahnya. Walhasil, dakwahnya sukses mengubah perilaku masyarakat menuju jalan lurus yang diridoi oleh Allah swt.

Bidang dakwah kedua adalah da’wah bil qalam. Dakwah ini berkaitan dengan dunia tulis-menulis. Artinya, materi dakwah yang disampaikan santri berupa karya tulis. Bentuk bisa opini, cerpen, feature (berita kisah), puisi, esai, artikel, dan lain-lain. Tulisannya juga bisa dimuat di majalah dinding, buletin, majalah, surat kabar, atau di media online.

Otomatis, santri dituntut memiliki ketrampilan khusus tentang dunia tulis-menulis. Untuk itu, santri harus membekali diri dengan skill di bidang jurnalistik tersebut. Caranya bisa belajar secara otodidak, yaitu dengan membaca buku tentang teknis tulis-menulis. Buku-buku tentang how to dalam menulis yang baik itu sekarang dengan mudah diperoleh di toko buku. Penulisnya pun banyak dari pengarang yang telah berhasil menekuni bidang tersebut. Atau santri bisa mengikuti kursus tentang kepenulisan, baik di dalam kelas, workshop, seminar, atau lewat media on line. Itu juga mudah dilakukan.

Jika ketrampilan itu sudah didapat, santri akan dengan mudah menuangkan ide-ide dakwahnya dalam berbagai bentuk tulisan ke aneka bentuk media massa. Di sinilah, pentingnya kedamalan ilmu keislaman santri dalam mengulas materi dakwahnya. Makin mendalam ilmunya, makin bijaksana pula dia mengulas berbagai materi dakwahnya. Ini akan bermanfaat sekali dalam menarik minat masyarakat untuk membaca tulisan berkonten dakwah yang dia buat. Contoh konkrit adalah buku-buku tafsir ulama zaman dahulu. Sebut saja Tafsir Jalalain karya Imam Nawawi, Tafsir Al Azhar karya Hamka, dan lain-lain. Hasil tulisan para ulama itu begitu fenomenal sehingga mampu membekas dan memengaruhi umat Islam zaman sekarang sekali pun.

Bidang terakhir adalah da’wah bil lisaan. Bidang ini yang paling ngetren di masyarakat. Karena, begitu disebut kata “dakwah”, maka asosiasi mereka pasti siar Islam yang berupa pidato, orasi, atau ceramah agama. Dakwah bidang ini patut diperhatikan oleh santri karena inilah dakwah yang paling diminati masyarakat. Buktinya, betapa menjamurnya majelis taklim di kota-kota, baik yang diadakan oleh ibu-ibu PKK, muslimat, maupun oleh bapak-bapak.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang haus terhadap dakwah lisan ini, santri harus mempersiapkan diri untuk menjadi singa podium yang andal. Jadi orator yang ulung. Jadi penceramah yang profesional. Caranya adalah mengasah diri, khususnya dalam olah kata, intonasi, stressing (penekanan) kata-kata penting dalam berceramah, dan lain-lain.

Penampilan yang prima pun juga harus dibiasakan mulai dari sekarang. Misalnya, membiasakan diri berpakaian rapi, sudah disetrika, warna pakaiannya matching (sesuai; tidak norak), berbaju lengan panjang, dan lain-lain. Berlatih berbicara di depan cermin setiap hari. Latihan ini dimaksudkan agar dia bisa melihat penampilan dirinya sendiri ketika berbicara dengan gerak-gerik tubuhnya. Dari situ, dia kan tahu mana pose yang terbaik yang membuatnya percaya diri ketika berpidato. Ini semua perlu dibiasakan agar nanti jika sudah benar-benar tampil di masyarakat umum tidak canggung lagi.

Alangkah baiknya, santri yang sedang mempersiapkan diri menjadi orator ulung juga aktif dalam organisasi atau jam’iyyah, baik di lingkungan pesantren maupun masyarakat sekitar pesantren. Mengapa? Karena lewat organisasi itulah santri dilatih untuk berinteraksi dengan orang lain yang karakternya berbeda-beda. Di situ, dia akan diasah untuk berbicara dan berargumentasi dalam rapat di organisasi tersebut. Dengan begitu, dia akan terlatih berkomunikasi dengan baik dengan orang lain. Ketrampilan ini sangat bermanfaat ketika dia harus berdakwah sekaligus harus menjawab pertanyaan para jamaah.

Kiranya bijak jika santri sadar sejak awal bahwa dialah nantinya sosok dai yang sangat diharapkan dalam siarnya Islam. Maka, tidak ada jalan lain, santri harus mendai setiap hari, baik untuk dirinya sendiri maupun orang di sekitarnya.[]

Penulis, Saiful Asyhad, pengajar kursus jurnalistik Pondok Pesantren Lirboyo