Category Archives: Angkring

Berguru Sepanjang Waktu

Salah satu murid utama Imam Abu Hanifah adalah Qadhi Abu Yusuf. Beliau juga adalah guru Imam Syafi’i. Qadhi Abu Yusuf merupakan orang yang sangat istiqomah dan mencintai ilmu. Dalam kitab Qimatuz Zaman, disebut bahwa beliau adalah orang yang tidak pernah absen salat berjamaah subuh dengan guru beliau selama dua puluh sembilan tahun. Selama itu pula beliau mengaji dan menjadi murid Imam Abu Hanifah. Dikisahkan, beliau tetap mengaji meskipun pada hari raya idul Fitri dan idul Adha.

Bahkan tatkala putra beliau wafat, beliau tidak sempat mentajhiz dan menghadiri pemakaman putra beliau, karena saat itu bertepatan dengan jadwal mengaji bersama guru beliau, Imam Abu Hanifah. Beliau lebih memilih melanjutkan kegiatan istiqomah mengaji. Padahal hari itu putra beliau wafat dan akan segera dimakamkan. Peristiwa tersebut sungguh menunjukkan bahwa Qadhi Abu Yusuf merupakan pribadi yang amat istiqomah dan konsisten. Serta melambangkan kecintaan beliau yang luar biasa pada ilmu pengetahuan.

Bahkan setelah guru beliau Imam Abu Hanifah wafat, karakter tersebut tetap ada.

Hal yang luar biasa adalah peristiwa yang disaksikan langsung oleh Syaikh Ibrahim bin al-Jarrah yang merupakan murid Qadhi Abu Yusuf, tatkala Qadhi Abu Yusuf sakit parah. Mungkin itu adalah saat-saat terakhir Qadhi Abu Yusuf. Syaikh Ibrahim bin al-Jarrah ketika itu menjaga Qadhi Abu Yusuf. Beliau menyaksikan Qadhi Abu Yusuf yang tengah sakit sampai pingsan. Saat kembali terjaga, Qadhi Abu Yusuf mengatakan suatu hal.

“Ibrahim, apa pendapatmu tentang ini?”
Qadhi Abu Yusuf kemudian menyebutkan satu permasalahan hukum fikih. Dalam situasi genting seperti itu, Syaikh Ibrahim kemudian mengatakan,
“Dalam kondisi seperti ini (ingin membahas ilmu fikih)?”
“Tidak masalah, kita belajar fikih siapa tahu nanti ada orang yang selamat karena ilmu kita.” Demikian dawuh Qadhi Abu Yusuf kepada murid beliau. “”Ibrahim, mana yang lebih utama dalam melempar jumroh, apakah sambil berjalan atau naik kendaraan?”

Karena ditanya oleh guru beliau, Syaikh Ibrahim akhirnya menjawab. “Sambil naik kendaraan.”

“Salah!” Kata Qadhi Abu Yusuf.
“Kalau demikian, berarti sambil naik kendaraan.”
“Salah juga!”

Karena kedua jawaban yang diutarakan ternyata salah menurut Qadhi Abu Yusuf, Syaikh Ibrahim kemudian memohon penjelasan.

“Tolong jelaskan.” Beliau juga mendoakan guru beliau, “semoga Allah meridhaimu.”

Qadhi Abu Yusuf lantas menjawab pertanyaan beliau sendiri dengan jawaban yang agak panjang. “Bagi yang ingin berdoa sejenak di tempat jumrah, maka baiknya dia melempar sambil jalan. Sedangkan bagi yang ingin melempar saja tanpa berhenti untuk berdoa, maka sebaiknya naik kendaraan”

Mendapatkan ilmu baru dari guru beliau, Syaikh Ibrahim bin al-Jarrah kemudian beranjak dari tempat tersebut. Beliau keluar dari rumah Qadhi Abu Yusuf. Mungkin beliau hendak menulis catatan, atau hendak memberikan kabar kepada orang lain perihal masalah fikih tersebut.

Namun sekembalinya beliau, baru sampai di pintu rumah, beliau tiba-tiba mendengar suara teriakan dari arah dalam. Innalilahi wa innailaihi raji’un, Qadhi Abu Yusuf baru saja wafat.

Qadhi Abu Yusuf demikian mencintai ilmu pengetahuan. Benar-benar mengamalkan dawuh “uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi. Tuntutlah ilmu sejak pangkuan ibu, hingga tiba di liang lahat nanti.

Sayyidah ‘Aisyah Rawiyah Hadits Terbanyak

Sayyidah ‘Aisyah binti Abu Bakr as-Shiddiq Ra, adalah salah satu istri yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad Saw. Beliau adalah figur yang istimewa. Karena termasuk yang paling berjasa sebagai salah satu ulama perempuan yang alim fikih, dan satu dari enam sahabat senior yang paling banyak meriwayatkan hadits.

Menurut sebuah keterangan, Sayyidah ‘Aisyah ra meriwayatkan hingga 2210 hadis. Dan yang masuk dalam kitab Sahih Bukhari dan Muslim menurut sebuah penelitian mencapai 174 hadis.

Pujian terhadap beliau luar biasa. Az Zuhri, salah satu tabiin yang menjadi murid Sayyidah ‘Aisyah mengatakan, “Seandainya ilmu Aisyah, ilmu semua istri Nabi Saw. dan ilmu semua wanita dikumpulkan, maka ilmu Aisyah lebih afdhal.”

Tidak diragukan, kealiman beliau dalam bidang agama. Karena beliau juga termasuk tokoh utama dalam penyebaran keilmuan. Beliau memberikan pengaruh besar kepada ulama tabi’in era selanjutnya, yang dikenal sebagai fuqaha as-sab’ah al-madinah. Ke tujuh tabi’in tersebut nantinya memberikan pengaruh besar pada pondasi madzhab fikih ahlussunah wal jama’ah yang kita kenal sekarang.

Menurut pengakuan ‘Urwah bin Zubair, Sayyidah ‘Aisyah ra adalah orang paling tahu dalam urusan hadis, Al-Qur’an, bahkan syair-syair Arab. Para sahabat senior juga tak sungkan untuk bertanya masalah agama kepada beliau. Termasuk dalam perihal ilmu faraidh, ilmu waris yang dikenal sulit. Hal tersebut sesuai keterangan dari Masruq bin al-Ajdza’. Sahabat Abu Musa Al Asy’ari juga mengatakan hal yang kurang lebih sama. Dikutip dari sunan At-Tirmidzi, beliau mengatakan, “tidaklah kami kebingungan tentang suatu hadits lalu kami bertanya kepada Aisyah, kecuali kami mendapatkan jawaban darinya.”

Beliau menikah dengan nabi Muhammad Saw dalam usia yang masih relatif muda. Beliau menjadi istri ketiga setelah Sayyidah Khadijah al-Kubra, dan Sayyidah Saudah binti Zam’ah. Beliau tidak langsung hidup bersama nabi setelah menikah, namun masih bersama orang tua beliau Sahabat Abu Bakr Ra. Dan baru bersama nabi setelah berusia sembilan tahun menurut sebuah riwayat.

Tiga Buku Baru Terbitan Ma’had Aly Lirboyo

LirboyoNet, Kediri- Telah banyak diketahui, Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri, sejak dulu hingga sekarang berupaya mempertahankan tradisi literasi dalam berbagai bentuk, salah satunya dengan menerbitkan kitab dan buku-buku keislaman. Melalui Ma’had Aly Lirboyo, setiap tahunnya Pondok Pesantren Lirboyo menelurkan berbagai karya ilmiah.

Di tahun ini, Ma’had Aly Lirboyo angkatan ketiga (Autad Lirboyo) mengeluarkan tiga buku baru, yakni Menyegarkan Peradaban, Membela Indonesia, dan Sangu Urip.

  1. MENYEGARKAN PERADABAN (Upaya Mengembalikan Orientasi Pendidikan Nusantara)
    Di sinilah upaya untuk mewacanakan nilai-nilai pesantren sebagai pola pendidikan yang representatif. Dengan menggunakan pendekatan sejarah Nusantara dari sektor pendidikan, buku ini berusaha menggali nilai-nilai prinsip pendidikan Nusantara yang diulas mulai dari zaman kapitayan, hindu, budha, hingga datangnya islam dengan sistem pesantrennya. Buku ini juga menjelaskan tentang tuntutan akhir sebuah pendidikan, yakni dakwah. Fokus pada prinsip, cara dan relasi dakwah serta implementasinya sesuai arus perubahan zaman.
  2. MEMBELA INDONESIA (Mencintai, Merawat, Menjaga, dan Mensyukuri Anugerah Nusantara)
    Buku ini diawali kajian detail tentang cinta tanah air dengan mengambil nabi Muhammad sebagai tokoh utama, menjadi teladan sekaligus inspirasi para cendekiawan Indonesia dalam memahami dengan baik makna cinta tanah air. Dilanjutkan dengan pandangan-pandangan logis menjaga tanah air dg mencoba memadukan kajian fikih-argumentatif dengan tasawuf-persuasif.
    Buku ini disarikan lebih dari 150 referensi kitab klasik yang otentik untuk menjawab kenapa Indonesia harus dibela? Dengan cara apa Indonesia dibela?
  3. SANGU URIP (Bekal Hidup Masyarakat Sesuai Syariat)
    Buku ini disusun dengan sistematika berbeda dari kebanyakan buku tanya jawab keagamaan yang sudah ada. Terdapat dua bagian besar dalam buku ini; Tuntunan berisi kajian tematik seputar isu-isu keagamaan dan sosial yang dilengkapi dengan hikayat, renungan dan petuah bijak salafussholih. Rujukan berisi tanya jawab keagamaan yang disusun berdasarkan urutan bab pada kitab fikih. Dalam buku ini pembaca akan menemukan lebih dari 1500 kajian yang semuanya dilengkapi referensi dari kitab turats islami.

Informasi selengkapnya ikuti akun Instagram @autadlirboyo

Kisah Bisyr bin Harits: Mantan Preman yang Meraih Derajat Mulia

Abu Nashr Bisyr bin al-Harits al-Hafi (w. 227 H) pernah mengisahkan:

Pada suatu kesempatan, aku bermimpi bertemu Baginda Rasulullah Saw. Dalam mimpi itu, Rasulullah Saw. bertanya kepadaku, “Wahai Bisyr, tahukah kamu kenapa Allah Swt. meninggikan derajatmu mengalahkan teman-temanmu?”

 “Tidak tahu, Wahai Rasulullah,” Jawabku.

Sebab engkau mengikuti sunahku, mengabdi kepada orang salih, memberi nasihat pada teman-temanmu dan kecintaanmu kepada para sahabat dan keluargaku. Inilah faktor yang membuatmu meraih derajat orang-orang yang baik (Abror).” Tegas Rasulullah Saw.

________________________

Disarikan dari karya Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Mafahim Yajibu An Tushahhaha, hlm. 34.

Tuhan Bersama Orang-Orang Lemah

Rasulullah Saw. pernah berkisah bagaimana bentuk kasih Allah Swt. kepada makhluknya yang lemah. Di hari kiamat nanti, Allah akan berbincang dengan hamba-hamba-Nya.

Tibalah hari kiamat itu. Dan kepada salah satu hamba-Nya, Allah bertanya, “Wahai putra Adam. Dulu aku sakit, tetapi engkau tidak menjengukku.” Sang hamba heran. Bagaimana mungkin Tuhannya yang maha perkasa itu jatuh sakit? “Wahai Tuhanku. Bagaimana mungkin aku menjenguk di masa sakitmu, sedangkan Engkau adalah Tuhan segala semesta?

Wahai hamba-Ku. Tak tahukah engkau jika salah satu hamba-Ku sakit, tetapi kau enggan menjenguknya? Tak tahukah engkau, jika saja kau menjenguknya, kau akan menemukan-Ku di sampingnya?” Sang hamba terdiam. Barangkali ia sedang merenungi kesalahan-kesalahan masa lalunya.

Wahai putra Adam,” Allah menegurnya kembali, “Aku meminta sesuap nasi darimu, tapi engkau tak memberikannya.” Sang hamba yang tak merasa begitu zalimnya ia kepada Tuhannya, kepalanya kini penuh tanda tanya. “Tuhanku,” ia mulai mengeluh, “Bagaimana mungkin aku memberi-Mu makan, sementara Engkau adalah Tuhan segala semesta?

Apakah kau tak tahu, seorang hamba-Ku telah datang padamu dan meminta sesuap nasi, tapi kau tak mengindahkannya? Tak tahukah kau jika saja dirimu memberinya makan, tentu kau akan menemukan-Ku di sampingnya?”

Sang hamba barangkali menggigil hebat kala Tuhannya menghakiminya kembali, “Kenapa kau tak memberi-Ku minum ketika Aku memintanya?” Sang hamba hanya bisa berpasrah. Ia luapkan permohonan maaf yang sama, “Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberimu minum sementara Engkau adalah Tuhan pemilik segalanya?”

Telah datang padamu seorang hamba-Ku. Ia meminta minum padamu, tapi kau mengacuhkannya. Jika saja Engkau memberinya apa yang ia pinta, tentu kau akan menemukan-Ku bersamanya.”

Dengan kisah-kisah sederhana seperti inilah Rasulullah acapkali mengajarkan nilai-nilai hidup yang baik kepada para sahabatnya. Benar. Kebaikan akan selalu bisa dilakukan dengan bentuk-bentuk paling sederhana sekalipun, seperti memberi minum kepada hewan, memberi makan kepada kawan yang membutuhkan, dan bentuk-bentuk kebaikan kecil yang lain.

Kebaikan-kebaikan seperti ini mungkin terlihat remeh di mata kita saat ini. Tetapi pada waktunya nanti, saat hari kiamat tiba dan perhitungan amal di depan mata, kita akan menyesal, bahwa kebaikan kecil yang kita lewatkan itu adalah gunung harta yang berlipat ganda di sisi Tuhan.

Disarikan dari: Hadis Qudsi