Category Archives: Angkring

Tentang Ali Bin Hamzah cahaya dari kuffah

“Kuffah menjadi bercahaya disebabkan adanya tiga ulama besar. Ketiga ulama ini membuat nama kota Kuffah semerbak harum, laksana minyak kesturi dan bunga anyelir.“

Beliau bernama lengkap Ali bin Hamzah bin Abdulloh bin Utsman bin Bahman bin Fairuz. Beliau lahir di kota Kuffah pada tahun 120 H. Namun, dikemudian hari beliau hijrah dan menetap di kota Baghdad. Dari segi silsilah, beliau merupakan keturunan bangsa Persia, yang menetap di As-sawad, Iraq.

Qira’ah Al-Kisa’i bersumber dari qira’ah yang beliau kumpulkan dari berbagai macam qira’ah, baik qira’ah Hamzah maupun qira’ah guru-gurunya yang lain. Beliau memadukan qira’ah-qira’ah itu dengan cara memilah dan memilih secara teliti dan cermat. Tak mengherankan, jika kemudian banyak yang mengganggap qira’ah beliau adalah salah satu qira’ah yang paling indah diantara yang lain.

Ada sebuah kisah mengapa nama “Ali” beliau tak terungkap, sehingga beliau lebih dikenal dengan nama Al-Kisa’i. Suatau hari, Ali menunaikan ibadah ihram. Orang-orang yang memandang beliau dengan heran–karena beliau menganakan pakaian ihram yang tak lazim. Ketika orang-orang memakai kain putih kasar, beliau justru memakai kain wol (al-kasa’i).  Maka sejak itulah orang-orang mengenal beliau dengan julukan “al-kisa’i.”

Beliau adalah pakar intelektual terkemuka dimasa Dinasti Abbasiyyah. Beliau juga adalah imam besar dari ulama nahwu dan qira’ah. Kalam-kalam beliau, menjadi rujukan utama masyarakat Kuffah di abad ke-2 Hijriyyah.

Bukan hanya masyarakat Kuffah saja, penduduk Baghdad pun ikut serta mengambil sanad Al-Qur’an pada beliau. Mereka membaca Al-Qur’an kepada beliau secara runtut. Bahkan meniru bacaan beliau sampai pada potongan-potongan ayat dimana beliau waqof dan ibtida’ dalam membaca Al-Qur’an.

Beliau mengambil sanad Al-Qur’an dari beberapa pembesar tabi’inpada masa itu. Diantaranya adalah al-Amasy Sulaiman bin Mihran, ‘Ashim bin Abi Najud, Hamzah bin Hubaib az-Zayyati, Muhammad bin Sahl, Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila, ‘Isa bin ‘Umar al-Hamdani, Ya’qub bin Ja’far bin Abi Katsir, Abu Bakar Syu’bah bin ‘Iyash dan masih banyak lagi.

Selain mengambil sanad Al-Qur’an, beliau juga mengambil sanad hadist dari pembesar tabi’in dizamannya. Mereka adalah Sulaiman bin Arqom, as-Sayyid Ja’far ash-Shidiq, Sufyan bin ‘Uyaynah, Muhammad bin ‘Ubaidillah al-Arzami dan bebrapa guru lainnya. Beliau termasuk perawi hadist yang berkualitas tsiqqoh, meskipun hadis-hadis yang beliau riwayatkan berderajat ‘aziz.

Dalam perjalanan beliau mencari ilmu untuk menyelesaikan sanad Al-Qurannya, beliau berguru kepada Hamzah dikota Kuffah. Setelah, beliau mencari kedalaman ilmu nahwu ke kota Bashroh, tempat sang maha guru nahwu, Khalil bin Ahmad al-Farahidi tinggal.

Setelah bertahun-tahun menimba ilmu kepada Kholil, beliau melanjutkan rihlah ta’alumnya ke berbagai daerah pedalaman Arab Badui. Tibalah beliau didaerah Najd dan Tihamah, daerah yang sempurna untuk meneliti Bahasa arab murni. Disana beliau mencatat berbagai kosakata Arab yang jarang dipergunakan pada umumnya.

Baca juga: Doa Penghapus Siksa.

Setelah begitu lama hidup dalam pengembaraan, beliau akhirnya menetap di kota Baghdad. Tumpukan ilmu pengetahuan selama mengembara menjadikan beliau sebagai pakar gramatika Arab disana. Selain itu, beliau juga menjadi penasehat kerjaaan di era kepemimpinan Harun ar-Rasyid.

Selama menjadi penasehat kerajaan, beliau juga mendapat tugas dari sang khalifah, pangeran al-Amin. Semenjak itulah beliau menjelma sebagai pemimpin utama, yang juga menjadi penentu utama arah kebijakan dinasti Abbasiyyah di zamannya.

Di tengah-tengah kesibukannya, beliau banyak menulis berbagai kitab yang sangat berpengaruh. Baik dalam ilmu Al-Qur’an, ilmu nahwu, dan lain sebagainya. Beberapa kitab beliau yang masyhur antara lain; Ma’anill Qur’an al-Mutasyabih fil Qur’an, Maqtu’ul Qura’an, al-Mukhtashar fi Nahwi, Mayalhanu fihil Awam, an-Nawadhiril Kabir wal Ausat wa Shagir, al-Mashadir, al-Huruf, al-Qira’at, al-Adad, al-Hija’, al-Ha’at, dan masih banyak lagi.

Simak juga: Puncaknya Ilmu | K.H. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Namun, kala terjadi penyerangan tentara Mongol ke kota Bahgdad, banyak karya beliau yang tersimpan di berbagai perpustakaan kota Bahgdad ataupun yang tersimpan di pusat literasi, yang kala itu bernama Bait al-Hikmah hangus terbakar.

Beliau wafat pada tahun 189 H. pada usia 70 tahun. Beliau wafat dalam perjalanan bersama Khalifah Harun ar-Rasyid menuju daerah Khurasan. Tepatnya ketika sampai disebuah dataran yang bernama Ranbawaih, sebuah daerah diprovinsi Rai.

Hari wafat beliau bertepatan dengan wafatnya salah satu murid Abu Hanifah, yang bernama Syaikh Abu Abdulloh Muhammad bin al-Hasan Asy Syaibani diprovinsi yang sama. Dalam hari yang dipenuhi denan  berkabungnya umat islam ini, Khalifah Harun ar-Rasyid berkata “Sungguh pada hari ini, kita memakamkan tokoh besar nahwu dan fiqih diprovinsi Rai”.

Menjelang hari kewafatan beliau, murid beliau sempat menjenguk dan mendengar beliau mendendangkan sya’ir:

قدر احلك ذا النخيل وقد ارى * وابي ومالك ذو النخيل بدار
 الا كداركم بذي بقر اللوى * هيهات داركم من المزوار

“Tatkala manisnya hidup yang engkau inginkan. Duhai pemilik pohon kurma, sungguh engkau telah melihatnya. Demi ayahku, kini engkau tak memiliki rumah untuk singgah. Duhai pemilik pohon kurma. Kecuali hanya seperti rumahmu diperkampungan Liwa. Perkampungan yang memiliki banyak sapi. Sungguh jauh sekali, rumah kalian semua dari layaknya untuk diziarahi”.

Beliau juga memberi murid-muridnya sebuah petuah: “Jagalah lisanmu, janganlah engkau mengatakan perkara yang menyebabkanmu celaka. Sesungguhnya marabahaya selalu mengintai dari ujung perkataan.”[]

Penulis: Nugroho Nizar Ilman Yasit

Ali Bin Hamzah
Ali Bin Hamzah

Amal Terbaik adalah Ketika Nafsu Membencinya

Ada seorang yang sering dianggap tolol dan gila, andai saja ia tidak berbicara selayaknya orang normal lainnya. Namanya Sabiq. Tetapi Abu Hammam (Israil bin Muhammad) menganggapnya berbeda. Dia sangat kagum padanya. Melihatnya saja sudah membuatnya bahagia. Apalagi berbincang dan mendengarkan pernyataan-pernyataannya.

Karenanya ia suatu hari pergi ke pekuburan. Pekuburan? Ya. Sabiq tinggal di sana. Sesampainya di sana, Abu Hammam menemuinya dalam keadaan tersungkur. Kepalanya terjerembab di dalam tanah. “Ia tak sadar kalau aku di sampingnya. Hingga aku menyapanya,” tutur Abu Hammam saat menceritakannya kembali.

Ia datang sesuai tujuannya: mendengarkan kalimat-kalimat arif sang Gila. “Wahai Israil bin Muhammad. Takutlah kepada Allah, setara dengan harapan-harapan yang kau panjatkan padaNya. Karena sungguh, jika kau hanya menanamkan harapan, rasa takutmu akan kalah. Berlarilah menujuNya, jangan berlari dariNya, karena kemanapun engkau pergi, dia pasti menemukanmu, dan kau tak bisa melemahkanNya.

Jikalau dalam kemaksiatan, jangan pernah takluk pada makhluk. Karena Allah memiliki hari di mana mata akan bersaksi. Penglihatanmu tak bakal dusta.”

Sabiq kembali ke peraduannya. Abu Hammam pulang dengan riang.

Selang satu bulan, Abu Hammam kembali lagi. Ketika Sabiq melihatnya datang, ia ingin lari. Menjauhinya. “Wahai Sabiq. Tunggu. Aku berjanji tak akan kembali ke sini lagi.” Sabiq berhenti. Duduk. “Tolong ajari aku kalimat-kalimat yang kumohonkan kepada Tuhan.”

Sabiq menurutinya. “Sungguh. Kalimat paling baik yang mampu diterima hati, hanyalah kalimat yang datang dari hati pula. Perbuatan terbaik adalah ketika nafsu membencinya.”

Ia kemudian melafazkan sebuah doa. “Tuhan, jadikan penglihatanku sebagai penglihatan yang mengagumi diriMu, jadikan diamku berpikirku, kalimat-kalimatku adalah dzikir padaMu.”

Kemudian ia pergi. Berlalu dan tak kembali.

Uqalaul Majanin hal 222

Baca juga: Pemenjaraan Nafsu.

Simak juga: Sudahkah Anda Ngadep Dampar Hari ini?

Tentang Kota Dengan Seribu Satu Wali

دركات يا اهل المدينة # يا تريم واهلها

Mendengar kata Tarim (Hadromaut), seakan membuat kita diajak kembali menyususri masa lampau, berpetualang di zaman Rasulullah.

Tarim adalah julukan untuk sebuah lembah gersang yang berada di ujung selatan jazirah Arab. Tempat tersebut lebih dikenal dengan istilah al-Aghaf dalam al-Quran yang menyimpan berjuta-juta rahasia yang jarang sekali diketahui oleh kalangan orang-orang awam.

Kota Tarim merupakan sebuah nama dari salah satu daerah yang terletak di negeri yaman. Tarim tergolong sebagai salah satu kota yang dapat dikatakan makmur. Kota ini merupakan kota bersejarah yang dimuliakan oleh Allah Swt. Khalifah Abu Bakar as-Shidiq pernah berkata: “Jika aku bermimpi masuk ke kota Tarim, maka esok harinya hatiku akan merasa bahagia. Kebahagian itu akan aku rasakan selama tiga hari. Jika aku berziarah ke kota tersebut, kebahagiaanku akan tetap terasa selama tujuh hari.”

Kendati Tarim memiliki iklim geografis yang tandus dan kering, juga ditambah dengan cuaca yang sangat extreem, itu tidak membuat semangat para Wali dan Aulia melemah untuk terus berjuang menyebarkan panji-panji syariat Islam. Bahkan disana para Wali dan Ulama terus bermunculan sebagaimana tanaman-tanaman hijau yang asri menghijaukan gersang gurun tandus.

Kota Tarim juga dijuluki madinatusshidiq karena Khalifah Abu Bakar pernah bersumpah setia kepada Zlad bin Zubair al-Anshari yang menjadi penguasa Tarim pada masa itu. Sumpah itu disambut baik oleh pemerintah tanah Tarim dan penduduk setempat tanpa terkecuali. Ketika berita ini sampai pada Khalifah Abu Bakar, beliau segera mendoakan khusus kepada kota Tarim dan penduduknya. “Mudah-mudahan Allah memberi kemakmuran untuk kota Tarim. Mudah-mudahan Allah memberkahi kesuburan dan sumber air nya. Mudah-mudahan Allah memberkahi Tarim dengan banyak ulama yang sholeh dan menjadikannya sebagai negeri yang subur akan aulia-Nya.”

Keistimewaan yang lain adalah, di kota Tarim tersebar banyak sekali anak dan cucu keturunan Rasulullah Saw, mereka pun tumbuh di tanah yang penuh kemulyaan itu. Pernah suatu ketika Rasulullah bersabda. “Sungguh aku benar-benar mencium harumnya karunia Allah dari yaman (Tarim).”

Di kota Tarim, ada pemakaman yang disemayamkan puluhan ribu wali, Para ulama dan orang-orang sholeh, juga para Habaib. Tempat tersebut bernama makam Zanbal Tarim. Pemakaman kuno berusia lebih dari seribu tahun, yang hingga kini masih terus beroprasi. Makam-makam tersebut terletak  di distrik Khalif, Dekat dengan pusat kota Tarim. Posisinya berjajar saling berhadapan dengan dua komplek makam lain, yakni makam Furait dan makam Akdar.

Konon, dulu Zanbal dan dua komplek pemakaman sampingnya adalah satu wilayah makam yang luas. Lalu karena bertambah padatnya penduduk Tarim, wilayah sebrang barat Zanbal yang dulunya hanya perkebunan dan persawahan itu, akhirnya dibangun pemukiman warga. Tentu butuh jalan transportasi. Alhasil, satu makam luas itu dibagi menjadi tiga bagian yang dipisahakan dengan jalan tiga jalur. Maka jadilah Zanbal, Furait dan Akdar.

Dari kalanagan Sayid atau keturunana Nabi, adalah Syaikh Ali al-Kholil Qasam yang pertama kali dimakamkan di pemakaman Zanbal ini. Beliau dimakamkan Pada tahun 521 H. yang mana beliau menurunkan setidaknya tujuh puluh marga Habaib di seluruh dunia. Dan ribuan keturunannya pun banyak disemayamkan di pemakaman ini pula. Ada Imam Faqih Muqoddam (Syaikh Muhammad Ali Ba’alawi) pencetus pertma thoriqoh ilmiyah dan amaliyah Ba’alawi. Juga di sana disemayamkan pula cicit beliau: Syaikh Abdurrahman Assegaf, punggawa habaib bermarga as-Seggaf dan marga-marga cabangnya, seperti as-Syakrom Alaydrus, Baagil, bin Syaikhbu dan banyak lagi.

Ada juga Syaikh Abu Bakar as-Syakron, pemilik hizib as-Syakron. Juga putra beliau, yakni Imam Abdullah Alaydrus. Kakek moyang Wali Songo yang berdakwah di bumi Nusantara yang bernama Syaikh Umar al-Muhdor atau Imam Alwi yang berjuluk Ammul Faqiih atau “pamannya faqih muqodam”, juga ada disini. Ada juga imam Abdullah Alwi al-Hadad, pemilik ratib al-Hadad, wirid Latif, penulis kitab Nasoihul ibad. Beliau juga terkenal sebagai penyair handal yang bisa kita lihat dalam tulisan syair-syair penggubah jiwa beliau yang terkumpul dalam buku Diwan Hadad beliau.

Dan masih banyak lagi daftar ribuan Ulama dan Habiab yang dimakamkan di pemakaman Zanbal ini. Syaikh Abdurrahman As-segaf pernah  berkata: “Di Zanbal ini, telah dimakakan sepuluh ribu waliyullah.” Perkatan tersebut di ucapkan beliau, pada zaman as-Segaf yang hidup pada tujuh ratus tahun silam. Lalu bagaiman dengan sekarang?

Barang kali masih ada yang meragukan jika terlalu berlebihan dan mengada-ada apabila dikatakan jumlah para Waliyullah yang ada di Zanbal bisa mencapai angka sebesar itu. Maka saya jawab, sangat masuk akal. Bukti konkretnya adalah dengan melihat keseharian masyarakat Tarim yang kehidupan sehari-harinya begitu sangat religius.

Dalam hal ibadah, masjid-masjid di sana selalu ramai. Bahkan toko-toko pun tutup saat adzan berkumandang. Dalam hubungan masyarakatnya dengan al-Quran, setiap ada waktu luang para pedagang, satpam, dokter dan lapisan masyarakat lainnya menyibukan waktu dengan membaca al-Quran juga wirid sehari-harinya. Di sana masyarakat awam selau menjaga kegiatan pagi-sorenya agar tak pernah terlepas dari ibadah.

Itu “orang biasa”nya Tarim, lalu bagaimana dengan orang “istimewa”nya dari kalangan santri, ulama dan habaibnya?

Di Zanbal ini, “pusat”nya adalah makam Syaikh Faqih Muqodam. Ibarat kata, wukuf Arafah adalah inti ibadah haji. Maka makam Faqih Muqodam adalah inti dari makam Zanbal. Beliau adalah ulama besar, ahli fiqih yang mencapai derajat kewalian yang amat tinggi. Konon, amalan Syaikh Faqih Muqodam dalam sehari adalah membaca Laa Ilaaha illa Allah 25 ribu kali, ditambah sholawat 25 ribu kali.

Sampai saat ini makam Zanbal selalu diziarahi setiap hari. Ada juga jadwal ziarah rutinan mungguan pada hari jum’at pagi. Khusus jum’at terakhir di setiap bulan Hijriyahnya, dilaksanakan ziarah akbar ke tiga komplek sekaligus; Zanbal, Furait, dan Akbar. Rutinitas tahunan juga ada. Tepatnya jum’at terakhir bulan Sya’ban, untuk menyambut bulan Ramadhan—kalau kita menyebutnya, Nyekar.

Khusus di bulan Ramadhan, ziarah mingguan dilakukan pada jum’at sore hari. Juga jum’at yang jatuh pada 6 hari awal bulan Syawal yang mana kegiatan ziarah tersebut juga Dilakukan pada sore harinya. Pada  6 hari itu suasana Tarim persis seperti Ramadhan, semua warganya berpuasa. Alhasil ziarah makam wali pun di samakan pada sore harinya.

Wallahu a’lam bisshowab.

Penulis: Sayid Abdurrahman

Baca juga: Mimpi Melihat Allah Mungkinkah?

Simak juga: KH. M. Anwar Manshur: Perempuan Tiang Negara.

Tentang “Ar-Rahib Quraisy”

Fuqoha Sab’ah:

Tujuh Tabi’in Ahli Fiqh Madinah

“Sinten kemawon apal sekabehane Fuqoha Sab’ah (7 orang ahli fiqih) mongko gampang olehe kefutuh alias kebuka atine lan gampang dadi wong alime.”

-KH. Maimoen Zubair-

            Tujuh ahli fikih yang dimaksud Mbah Maimoen Zubair adalah: Ubaidillah bin Abdillah ‘Utbah bin Mas’ud Al-Hudazli (W 94 H), ‘Urwah bin Az-Zubair bin Al-Awwaam (W 94 H), Al-Qaasim bin Muhammad bin Abu Bakar (W 106 H), Sa’id bin Musayyib (W 94 H), Abu Bakar bin Abdurrahman Al-Makhzuumi (W 94 H), Sulaiman bin Yasaar (W 107 H), Khorijah bin Zaid (W 99 H).

Abu Bakar bin Abdurrahman Al-Makhzuumi

Alunan Syair Dari Lautan Ilmu

Nama Lengkap dan Latar Belakang Beliau

            Abu Bakar bin Abdurrahman bin Harits bin Hisyam bin Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzuum. Lahir pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, beliau memiliki gelar “Ar-Rahib Quraisy” karena ketaatan beliau dalam beribadah, terkenal banyak shalat dan berpuasa. Selain itu, beliau juga termasuk pembesar di kalumnya.

Abu Bakar bin Abdurrahman dilahirkan oleh pasangan dari Bani Makhzuum. Sarah binti Hisyam bin Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzuum sebagai ibu beliau dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam sebagai ayah. Sang ayah sendiri merupakan tokoh besar tabi’in dan dimuliakan di tengah-tengah kaumnya, memiliki pandangan dan pemikiran yang tajam. Ayah beliau dilahirkan ketika Rasulullah SAW masih hidup, namun tidak diketahui apakah beliau termasuk shahabat atau bukan.

Beliau memiliki banyak keturunan dan saudara, beberapa dari anak Abu Bakar bin Abdurrahman adalah : Abdullah, Salamah, Mujahid, Abdul Malik, dan Umar. Sedang, sebagian saudara kandung beliau di antaranya : Abdullah, Ikrimah, Muhammad, Mughirah, Yahya, Aisyah dan Ummu Harits.

Kepribadian Beliau

            Abu Bakar bin Abdurrahman merupakan tokoh Quraisy yang tidak dapat disangkal kemuliaan dan kedudukannya. Salah seorang pemimpin kaum muslimin usai masa sahabat Muhajirin dan Anshar. Beliau seorang tabiin yang tsiqqoh serta terkenal sebagai pribadi yang mampu menggabungkan antara ilmu, amal dan kemuliaan.

Beliau memang memiliki kekurangan pada fisik. Allah mengujinya dengan mata yang tidak bisa melihat. Namun, hal itu bukan halangan untuk meniti jalan panjang guna menuntut ilmu. Beliau lebih mengutamakan ketajaman mata hatinya daripada indra penglihatan, sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT. Terbukti, Allah menggantikan apa yang telah hilang darinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik.

Ahli Hadis

Dikenal sebagai ahli hadis yang memiliki banyak riwayat dan meriwayatkan banyak hadits dari sahabat-sahabat generasi pertama.  Beliau meriwayatkan hadits dari ayahnya sendiri—Abdurrahman bin Harits, Ammar bin Yasir, Abdullah bin Mas’ud, Ummil Mukminin Aisyah, Ummu Salamah, Abu Hurairah, Asma’ binti Umais dan lainnya. Adapun ulama yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah Umar bin Abdul Aziz dan anak-anak beliau, Ibnu shihab Azzuhri dan lainnya.

Beliau juga terkenal sebagai ulama Madinah yang paling banyak menghafal hadits, juga yang paling banyak mengamalkan tuntunan Qur’an dan sunnah Nabi. Sebagai ahli hadis yang fasih dan rawi yang berpengaruh besar, beliau adalah tabi’in senior dan terhormat dari kaumnya.

Beliau pernah berkata: “Ilmu itu untuk salah satu dari tiga golongan orang : Bagi orang yang mempunyai nasab tinggi, kiranya dengan ilmu itu ia semakin menghiasi nasabnya. Bagi orang yang beragama, maka dengan ilmu itu ia menghiasi agamanya. Atau bagi penguasa, maka dengannya ia dapat melakukan perbaikan.”

Riwayat dari Abu Bakar bin Abdurrahman banyak dijumpai dalam berbagai kitab Musnad dan Hadits yang terkenal. Sebagian besar riwayat beliau bersumber dari Aisyah dan Abu Hurairah.

Dalam Dunia Fikih

Sebagai seorang ulama Abu Bakar bin Abdurrahman berfatwa berdasarkan nash dalam Qur’an dan hadis, serta fatwa sahabat. Ketika beliau tidak menemukan, maka beliau berijtihad dengan pengamatan, pengkajian dan kesimpulan—ra’yuyang beliau lakukan sendiri. Termasuk tokoh dan guru bagi pelajar fikih di Madinah, karenanya  pembelajaran fikih di sana memiliki karakterstik yang khas.

Abu Bakar bin Abdurrahman mempunyai majelis ilmu yang besar di Madinah. Majelisnya menjadi tujuan para pencari ilmu. Mereka mengkaji hadits dan fatwa sahabat. Abu Bakar dan tujuh ahli fiqih Madinah berpendapat bahwa orang-orang yang berasal dari dua kota suci (Makkah dan Madinah) adalah orang yang paling mantap kajian fikihnya. Pokok-pokok madzhab mereka berasal dari fatwa-fatwa Abdullah bin Umar, Aisyah, Ibnu Abbas dan keputusan-keputusan para Qadhi ahli Madinah. Mereka memadukan semua yang dapatkan, lalu mengkajinya secara cermat dan memeriksanya secara mendetail.

Semua ini membuat kita sadar bahwa pemberian nama al-Fuqaha as-Sab’ah (Tujuh Ahli fiqih), dan Abu Bakar bin Abdurrahman adalah salah satunya, tidak datang secara kebetulan. Tetapi hasil pengorbanan dan pemurnian riwayat. Jumlah yang besar dari hadits yang Rasulullah SAW riwayatkan senantiasa melekat di dalam ingatan al-Fuqaha as-Sab’ah. Kemudian hadits-hadits tersebut dijadikan sumber dalam ilmu fikih—sekaligus kunci pembukanya, juga saksi atas ulama-ulama yang dipandang mulia oleh kaum muslimin di penjuru dunia karena ilmu yang dimilikinya.

Abu Bakar bin Abdurrahman dermawan dalam memberikan ilmu, agar murid-muridnya bisa mengkaji dan menyebarluaskan ilmu tanpa henti. Rumah beliau menjadi tujuan bagi para pencari ilmu, terutama bagi orang-orang yang suka meminta fatwa tentang persoalan agama dan solusi masalah duniawi yang senantiasa berkembang dan mesti mendapatkan penjelasan. Beragam masalah itu menjadi nyata dalam fatwa Abu Bakar.

Yang Disegani

Khalifah Abdul Malik bin Marwan sangat menyukai dan menghormati Abu Bakar bin Abdurrahman. Tidak lain karena Abu Bakar merupakan tokoh mulia bagi kaumnya, seorang “Rahib Quraisy” seperti yang disematkan para ahli fiqih maupun tabi’in yang terpercaya.

Mengenai kedudukan Abu Bakar, Khalifah Abdul Malik pernah berkata, “Demi Allah. Sesungguhnya aku ingin melakukan sesuatu terhadap penduduk Madinah karena buruknya sikap mereka terhadap kami. Namun aku ingat, di sana terdapat Abu Bakar bin Abdurrahman. Aku malu kepadanya. Lalu aku tak mewujudkan niat tersebut.”

Ahli Ibadah

Selain alim, Abu Bakar bin Abdurrahman juga dikenal sebagai ahli ibadah, khusyu’ dalam shalat, memperbanyak kesunnahan, dan sering berpuasa. Seorang sahabat beliau pernah berkata, “Abu Bakar selalu berpuasa dan tak mau berbuka (meninggalkannya)”. Tak pernah ada suatu kewajiban yang terlewatkan kecuali beliau mengikutkannya dengan amal sholeh.

Cacat dan penyakit yang menghalangi beliau beribadah kepada Allah SWT hanya dianggap hal kecil. Suatu ketika beliau sakit di bagian tangan dan saat sujud luka itu terasa sangat menyakitkan. Beliau meminta keluarganya menyediakan wadah berisi air, lalu meletakkan tangannya saat sujud. Begitulah kegigihan beliau menghadapi kesulitan agar bisa tetap beribadah.

Wafat Beliau

Pada tahun 94 H. (712 M.) beliau wafat. Tahun tersebut dikenal dengan sebutan tahunnya ahli fikih, karena di tahun itu banyak ahli fikih yang meninggal dunia.

Pada suatu hari di tahun tersebut, seorang muadzin mengumandangan adzan shalat Ashar. Abu Bakar bin Abdurrahman pun berwudhu, beristighfar, bertakbir, dan melaksanakan shalat Ashar berjamaah di Masjid Rasulullah SAW di Madinah. Usai shalat beliau berkata kepada murid-muridnya, “Sungguh aku tidak berhadas sama sekali pada permulaan siang hari ini.” Beliau terus mengulang kata-kata tersebut.

Kemudian beliau pulang ke rumah, masuk kamar mandi, lalu terjatuh dan pingsan. Maka berkumpulah seluruh putra beliau, keluarganya, dan saudara beliau yang mengikuti jejaknya dalam bidang hadis dan fikih. Mereka pun membawa beliau ke tempat tidur.

Sebelum muadzin mengumandangkan adzan Maghrib di Masjid Rasulullah SAW, seseorang berseru di Madinah, mengucapkan kalimat istirja’, dan berkata, “Abu Bakar bin Abdurrahman bin Harits rahimahullahu ta’ala telah meninggal dunia. Ruhnya telah naik ke para shoddiqin, dalam persahabatan para penghuni surga Na’im, dan dalam persahabatan kaum Muhajirin dan Anshar yang telah mereka ikuti jejaknya dengan sebaik-baiknya pada hari kiamat.” Maka, murid-murid beliau melaksanakan shalat Maghrib tanpa kehadiran syekhnya. Sungguh, mereka dilanda kesedihan yang mendalam. Akan tetapi mereka tetap terus mengucapkan kalimat istirja sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bertakwa. Innalillahi wa innalillahi roji’un.

Di Madinah terdengar seseorang berteriak, membaca Qur’an surat Al-Fajr ayat 27 sampai 30,

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠﴾

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku.”

Inilah potongan terakhir dari hikayat Tujuh Tabi’in Ahli Fiqh Madinah (al-Fuqaha as-Sab’ah). Semoga Allah subhanahu wata’ala selalu merahmati beliau-beliau. Dan, semoga pula dengan mempelajari sejarah beliau, kita dapat memperoleh futuh Allah, menjadi generasi berikutnya, penerus tongkat estafet, menyebarkan ilmu dan kebaikan yang bermanfaat bagi nusa, bangsa dan agama. Amin.

Al fatihah…[]

Baca juga: Imam An-Nawawi: Sang Idoa Fuqoha Masa Kini.

Simak juga: Dzikir Penentram Jiwa | K.H. An’im Falahuddin Mahrus

Samnun, Sufi yang Menantang Tuhan

Ibrahim bin Fatak adalah ulama yang hidup sezaman dengan Samnun, seorang ahli ibadah yang kadang bertingkah menggelikan. Ia seperti menjadi juru tulis dari kisah hidup Samnun. Buktinya, banyak kisah Samnun yang ia kisahkan kembali, dan menjadi khazanah pengetahuan bagi kaum muslim setelahnya.

Salah satu kisahnya adalah ketika Samnun beribadah di suatu malam. Sebagai orang yang selalu mencoba mendekat kepada Tuhannya, hatinya tentu lebih sensitif dan lebih akrab dengan tanda-tanda dari Tuhan. Malam itu hatinya berbunga-bunga karena ia merasa ada segumpal sabar yang berdiam di hatinya.

“Tuhan, tak maukah engkau menguji diriku? Uji aku dengan apapun yang Engkau mau. Sungguh aku orang yang mampu bersabar.”

Samnun merasa percaya diri, karena dengan kesabaran yang ia miliki, tentu tak akan sulit menahan gelisah dan susah dari penderitaan duniawi.

Sampai suatu saat, tak berapa lama setelah doa malam itu, ia didera satu penyakit. Penyakit kecil sebenarnya. Hanya sembelit. Namun semakin lama penyakit itu bertambah parah. Sembelit itu terus menyiksa diri dan kesabarannya. Hingga kemudian ia terhuyung-huyung, mondar-mandir di pasar-pasar di kota Bashrah.

Ia tak betah. Penyakit sembelit itu dirasa sudah keterlaluan. Maka sembari berkeliling pasar itu ia berseru, “Tuhan, aku hanya bercanda. Kemarin itu aku berbohong padamu. Aku berbohong. Tak akan aku ulangi permintaan seperti itu, wahai Tuhanku.” Ia kapok meminta hal yang aneh-aneh kepada Tuhannya. Walhasil, ia terus melakukannya—berkeliling pasar sembari mengadu–sampai penyakit itu dihilangkan darinya.

Toh, Samnun adalah seorang sufi, yang hari-harinya dihabiskan dengan ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Prilakunya memang terkadang aneh, dan absurd untuk dilakukan oleh seorang yang dikenal dekat dengan Tuhan. Tapi sering sekali dari mulutnya keluar perkataan-perkataan bijak. Bahkan, kebanyakan perkataannya adalah syair-syair ungkapan cintanya kepada Sang Khalik. Seperti satu syair ini, yang juga diceritakan kembali oleh Ibrahim bin Fatak.

Ruhku dengan dirimu telah menyatu, seutuhnya

Bahkan hingga jiwamu hancur, kita tetap tak terpisah.

Kau menangis dengan sepenuh dirimu, seluruh jiwamu

Sampai-sampai orang-orang menganggap kau tercipta dari air mata.

Maka pandanglah jiwamu dengan kasih dan cinta

Kadang, pandangan itu bisa memberi kenikmatan yang menggembirakannya.

Sufi memang seperti itu. Bahasa mereka bebas nan suci, karena hati mereka tak terbelenggu nafsu amarah dan dunia yang penuh kepentingan-kepentingan. Mereka mudah berbincang dengan Tuhan dengan bahasa-bahasa kasmaran. Bahkan perkataan yang terdengar sebagai keangkuhan, itu tak lebih dari arti dekatnya seorang sufi dengan Tuhan.

Uqala’ al-Majanin, 231-234.

Baca juga: Dahsyatnya Doa Ibu.

Simak juga: Rendah Hati: KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus