Category Archives: Angkring

Marahnya Rasulullah terhadap Pemilik Unta

Salah satu bukti sejarah Rasulullah sebagai penyayang binatang diungkapkan oleh Abdullah bin ja’far. Suatu hari ia pergi bersama Rasulullah. Di tengah jalan, Rasulullah berniat untuk membuang hajat. Beliau melangkah ke belakang kebun kurma. Seusai menunaikan hajatnya, beliau masuk ke dalam kebun kurma itu. Kebun itu milik salah satu sahabat Anshar.

Di dalam kebun itu ternyata terdapat seekor unta. Rasulullah memandangnya. Lalu prihatin.  Dilihatnya, unta itu kurus sekali. Punggung unta itu hampir menembel dengan perutnya. Melihat Rasulullah datang, unta itu seketika merintih. Tak lama kemudian, kedua matanya mulai mengeluarkan air mata.

Dihampirinya unta itu. Beliau mengusap-usap punuknya. Juga belakang telinganya. Unta itu, entah bagaimana sentuhan Rasulullah itu bekerja, berhenti merintih. Perlahan suara dan tubuhnya tenang.

Tapi Rasulullah tidak. Ia berseru kepada para sahabatnya. “Siapa pemilik unta ini?” “Unta ini milik siapa? Siapa?” Rasulullah begitu khawatir terhadap keadaan sang unta. Sang pemilik akhirnya datang. “Wahai Rasulullah, unta itu milik saya.”

Rasul, dengan rasa belas kasih terhadap unta yang kurus kering itu kemudian menegur pemiliknya. “Apakah kau tidak takut terhadap Allah? Tidak takutkah engkau terhadap masalah unta yang telah diserahkan Allah kepadamu ini?”

“Unta itu mengadu kepadaku. Dia menderita. Kau telah membiarkannya lapar. Kau menyia-nyiakannya.”

___

Riyadu as-Shalihin, Surabaya: Darul Ilmi, hal. 311.

Takdir Allah yang terbaik

ولدتك امك يا ابن آدم باكيا * والناس حولك يضحكون سرورا

فاجهد لنفسك ان تكون اذا بكوا * في يوم موتك ضاحكا مسرورا

artinya: Hai Anak Adam kau terlahir dari rahim Ibumu dalam keadaan menangis, sedangkan orang disekitarmu riang gembira akan kelahiranmu. Maka bersungguh-sungguhlah untuk dirimu sendiri sebagai bekal diharimu mati nanti kau pergi dalam keadaan tersenyum bahagia, sedangkan orang disekitarmu menangisi kepergianmu.

Itu adalah nasihat syair karya orang-orang terdahulu, artinya adalah ketika kita bersungguh-sungguh dalam menjalani hidup untuk kesuksesan di hari esok kita akan meninggal dengan bahagia.

Baca juga; Orang-orang sukses

Orang yang baik itu pasti meninggal dengan bahagia. Kebahagiaan itu bisa terlihat dengan memandang orang-orang di sekitarnya, ketika orang di sekitarnya banyak yang bersedih, itu sudah menggambarkan bahwa orang tersebut sangat berharga, sehingga orang yang meninggal tersebut sangat disayangkan oleh orang sekitarnya.

Allah berfirman dalam Al-Quran Innalladzina qolu robbunallah tsummastaqomu tatanazzalu ‘alaikumul malaikatu alla takhofu wala tahzanu wa absiru bil jannati kuntum tu’adun. Yang artinya “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan Kami adalah Allah, kemudian mereka konsisten, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu’.”

InsyaAllah KH. Maftuh Basthul Birri termasuk kategori seseorang yang ada dalam ayat tersebut. Dan kita semua mendapatkan keberkahan beliau.

Jika kita ingin berkehendak tentu ingin Kiai Maftuh tidak wafat saja. Tetap menemani kita. Tetapi meski kita memiliki kehendak, Allah juga memiliki kehendak yang terbaik. Dan tugas kita adalah selalu yakin bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik.

*Disampaikan dalam acara Tahlil dan Doa memperingati 40 hari wafatnya KH. Maftuh Basthul Birri oleh KH. Anwar Iskandar

Baca juga; Dawuh KH. M. Anwar Manshur: Cara Bersyukur Seorang Pelajar

33 Tahun Mondok ‘Hanya’ Dapat 8 Ilmu?

Hatim al-Asham, seorang wali agung suatu ketika ditanya oleh guru besarnya, Syekh Syaqiq al-Balkhy.

“Sejak kapan kau belajar kepadaku di sini?”

“Sejak tiga puluh tiga tahun yang lalu” jawab Hatim.

“Diwaktu selama itu, apa saja yang kau pelajari dari ku?”

“Ada delapan hal”

Deg, gurunya kaget. “innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Ku habiskan umurku bersamamu dan kau hanya mendapatkan delapan macam ilmu?.”

“wahai guru, benar, aku tidak mengetahui apapun kecuali itu. Aku tidak suka berbohong.” Wali Hatim serius.

“baiklah, sampaikan hal itu agar aku bisa mengetahuinya.”

“Ku lihat manusia.” Hatim mulai bercerita panjang. “semua dari mereka mempunyai kecintaan terhadap sesuatu, dan berharap di kubur ia akan tetap dengan apa yang ia cintai. Ternyata setelah sampai di kubur, apa yang ia cintai meninggalkannya sendiri. Maka aku jadikan amal kebaikan sebagai sesuatu yang kucintai, agar saat aku dimasukkan ke liang kubur, apa yang kucintai itu mau masuk bersama, tidak meninggalkanku.”

“Engkau benar, Hatim.” Gurunya manggut-manggut. “lalu apa yang ke-dua?.” Tidak sabar.

“Ku angan-angan sebuah firman Allah swt. yang berupa :

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ

Artinya: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya” (Q.S. An-Nazi’at : 40)

“aku yakin kebenaran firman Allah ini. Maka ku paksa diriku dengan sekuat tenaga agar mengikuti kehendak nafsu. Sehingga ia teguh dalam ketaatan kepada-Nya.”

“Ke-tiga, ku angan-angan perilaku makhluk, ku lihat masing-masing dari mereka memiliki sesuatu yang dijadikannya sebagai harga diri dan martabat, ia menjaga dan mepertahankannya. Lalu ku angan-angan firman Allah :

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ ۖ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ ۗ

Artinya : “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (Q.S. An-Nahl : 96)

“Maka saat ku dihadapkan kepada sebuah hal (kebaikan) yang dirasa mempunya keberhargaan, akan ku dedikasikan ia hanya kepada Allah, agar utuh dan kekal terjaga di sisi-Nya.”

“Ke-empat, kulihat semua manusia menjadikan harta, kedudukan dan nasab sebagai pertimbangan utama (pada banyak hal), setelah kuangan-angan, sejatinya semua itu tidak mempunyai arti sedikitpun. Lalu kurenungkan pula firman Allah :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu” (Q.S. Al Hujurat : 13)

“Maka kutingkatkan ketakwaanku hingga bisa kurai kedudukan mulia di sisi-Nya.”

“Ke-lima, kulihat manusia saling mencela dan mencaci diantara mereka. Penyebabnya adalah sifat hasud. Lalu kurenungkan firman Allah :

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia” (Q.S. Az-Zukhruf : 32)

“Kujauhi sifat hasud dan kujauhi makhluk, aku yakin disisi-Nya lah pembagian yang terbaik, maka tak kugubris permusuhan orang-orang kepadaku.”

“Yang ke-enam, kulihat makhluk diantara mereka saling berbuat zalim, lalu aku merujuk pada sebuah firman-Nya :

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

Artinya : “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu)” (Q.S. Fatir : 6)

“Maka hanya permusuhan setanlah (yang benar-benar kuanggap sebagai permusuhan). Kumaksimalkan diriku dengan mengambil jarak darinya. Karena Allah bersaksi bahwa setanlah musuh sejatiku. Kuacuhkan permusuhan makhluk kepadakku.”

“yang ke-tujuh, kulihat sebagian dari manusia berjerih payah agar bisa mendapatkan sesuap nasi, hingga rela kekakukan hal yang menghinakan diri dan mengambah jalan yang tidak dihalalkan baginya. Lalu kurenungkan firman-Nya :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (Q.S. Hud : 6)

“aku menyadari sepenuhnya, bahwa diriku termasuk dari binatang melata (yang disebut dalam ayat) yang dijamin rizkinya oleh Allah. Maka kusibukan diriku dengan melakukan amal yang diwajibkan kepadaku hanya untuk Dia semata, dan kubiarkan jatahku di sisi-Nya.”

“ Yang ke-delapan, kulihat manusia memasrahkan urusannya kepada orang lain, kebun ini ia pasrahkan kepada dia, bisnis ini ia pasrahkan kepada dia, orang ini ia suruh mengontrol dan menjaga kesehatannya. Orang ini ia suruh menjaga pekerjaan ini dan itu. Lalu aku merujuk dalam firman-Nya :

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Artinya :”Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Q.S. Ath-Thalaq : 3)

“Maka aku tawakal kepada Dzat yang agung, Ia yang akan menyukupiku.”

Panjang lebar Hatim menceritakan delapan poin ilmu yang ia dapatkan dari sang guru selama 33 tahun mondok kepada beliau. Sang guru semakin kagum.

“Hatim, semoga Allah memberimu pertolongan, sungguh kurenungi ilmu-ilmu yang ada dalam kitab Taurat, Injil, Zabur hingga al-Qur’an. Dan kesimpulanku mengatakan bahwa keseluruhan dari bermacam-macam kebaikan berputar pada delapan kesimpulanmu itu. Siapapun yang mengamalkan delapan perkara ini, maka ia telah mengamalkan (ajaran yang ada dalam) empat kitab suci terbebut.” Pungkas sang guru menyimpulkan pembicaraan mereka berdua. [N.A.]

KH. Masdain: Kelucuan Mbah Mahrus Aly

KH. Mahrus Aly sering mengadakan istighotsah-istighotsah, sebelum banyak yang mengadakan. Pernah suatu ketika beliau hendak pergi untuk menghadiri acara istighotsah di Mojokerto dan saya diajak oleh Gus Zamzam(putra KH. Mahrus Aly).

KH. Mahrus Aly kenal dengan saya dan tahu rumah saya di Mojokerto. Dalam perjalanan, jika beliau menginginkan naik mobil cepat untuk sampai ketempat tujuan, beliau berkata, “Kiai kuwi ditunggu umat uduk wong leren, ojo mlaku koyok ngene. (Kiai itu ditunggu orang banyak, bukan orang rilek, kalau jalan jalan pelan seperti ini).” Maka beliau menginginkan mobil dilajukan dengan sangat cepat. Akan tetapi ketika hendak sampai tujuan beliau ingin rilek, beliau berkata, “Rondone kyai kuwi ora ono seng wani ngerabi, ojo banter-banter! (Jandanya kiai itu tidak ada yang berani menikahi, kalau naik mobil jangan cepat-cepat!) Kelucuan beliau ini  yang tidak pernah saya lupakan.

Ada juga cerita lucu tentang KH. Mahrus Aly. Pada waktu itu saya masih kecil dan petinju yang terkenal adalah Muhammad Ali. Dulu tidak ada yang memunyai televisi selain KH. Mahrus Aly. Seluruh santri seteleh jam 9, setelah selesai jam kedua, para santri sudah tidak sabar untuk melihat televisi. Tidak banyak memang yang melihat, hanya ada beberapa termasuk saya. KH. Mahrus Aly masih ada ramah tamah, jendela rumah beliau belum dibuka, para santri sudah menunggu di balik jendela. Kemudian KH. Mahrus Aly tahu para santri sudah pada menunggu. Beliau embuka pintu jendela dan bertanya, “Delok opo, tinju ta cah? Lihat apa, tinju ya nak?’’ Saya dan teman-teman hanya menjawab, “Enggeh.” Akan tetapi beliau berkata, “Dharbu wajhin haramun cah, (memukul wajah itu haram nak).” Ketika beliau dawuh demikian para santri pada takut, santri senior justru langsung pulang.

Akan tetapi ketika acara sudah mulai, KH. Mahrus Aly tetap menjalankan televisi. Akhirnya saya dan para santri yang lain juga tetep ikut menonton. Jadi beliau dawuh, “Dharbu wajhin haramun” akan tetapi tetap mengikuti para santri melihat acara tinju.()

Sumber: Himasal Lirboyo

Kisah Penghormatan Imam Malik Kepada Rasulullah Saw

Imam Abdullah bin Mubarok bercerita: “Saya berada di samping imam Malik, dan beliau sedang membacakan Hadits. Kemudian, tiba-tiba beliau disengat kalajengking sebanyak 16 kali. Wajah beliau berubah menjadi pucat kekuningan, namun beliau tidak memutus bacaan Hadits Rasulullah Saw.

Setelah beliau selesai dari majlis pengajian dan orang-orang telah pergi, aku berkata kepadanya: ‘Wahai Abu Abdillah, sungguh pada hari ini aku melihat sesuatu yang luar biasa darimu’. Imam Malik berkata: “Ya, aku telah disengat kalajengking sebanyak 16 kali, dan aku sabar atas semua itu. Sesungguhnya diriku bersabar hanya ingin mengagungkan Rasulullah Saw (tidak memutus bacaan Haditsnya) “.

Imam Mush’ab bin Abdullah mengisahakan: “Saat imam Malik mendengar Rasulullah Saw disebutkan, maka raut wajah beliau berubah dan tubuhnya lunglai, sampai pemandangan tersebut terasa berat bagi orang-orang yang duduk bersamanya. Maka, suatu hari hal itu ditanyakan kepada beliau, dan pun beliau menjawab: ‘Jika kalian melihat apa yang aku lihat, tentu kalian tidak akan merasa heran terhadap apa yang kalian lihat kepadaku. Sungguh, aku pernah melihat imam Muhammad bin Munkadir dan beliau adalah pemimpin para ulama, tiada kami menanyakan sebuah Hadits kepada beliau, melainkan beliau menangis sampai kami merasa kasihan kepadanya.”

Imam Muthorrif mengisahkan, bahwa ketika orang-orang mendatangi imam Malik, maka pembantu wanita beliau pergi menemui mereka seraya berkata: “imam Malik bertanya pada kalian, apakah kalian menginginkan Hadits, atau ingin menanyakan masalah?’ Jika mereka ingin menanyakan masalah, maka seketika imam Malik keluar menemui mereka.

Namun jika mereka menginginkan Hadits, maka imam Malik mandi terlebih dahulu, kemudian memakai pakaiannya yang terbaru, menggunakan minyak wangi dan memakai surban serta selendang. Kemudian disediakan kursi kehormatan untuk beliau, lantas beliau keluar dan duduk diatas kursi tersebut dengan penuh  Kekhusyu’an. Beliau juga menggunakan wewangian dupa, sampai beliau menyelesaikan bacaan Hadits Rasulullah Saw. beliau tidak pernah duduk di atas kursi kehormatan tersebut kecuali saat beliau menyampaikan Hadits Rasulullah Saw.

Imam Syafi’i pernah bercerita: “ Aku pernah melihat beberapa kuda mewah dari kota Khurosan di depa pintu imam Malik, yang belum pernah aku lihat kuda semewah itu. Lantas aku berkata kepada imam Malik: ‘Duhai indahnya kuda-kuda itu’. Imam Malik berkata: ‘Kuda-kuda itu adalah hadiah untukmu, wahai Abu Abdillah’. Kemudian imam Syafi’i berkata: ‘Sisakanlah untuk dirimu seekor kuda untuk engkau naiki”. Imam Malik menjawab: ‘Sungguh aku malu kepada Allah untuk menginjak tanah yang di dalamnya terdapat Rasulullah Saw. dengan menggunakan kaki hewan kendaraan”.{}

 Sumber: Imam Al-Qadli Iyadl, Asy-Syifa bi TA’rifi Huquqil Musthofa.