Category Archives: Angkring

Mengenal Imam Al Mawardi Sang Penjaja Air Mawar

Imam Al-Mawardi yang punya nama asli Abu Al-Hasan Ali Bin Muhammad Bin Habib Al-Bashri, yang kemudian mendapatkan gelar”Qodli Al-Qudloh” itu adalah seorang alim dari kalangan madzhab Asy-Syafi’i. Kitab-kitab beliau tak terhitung jumlahnya. Di antaranya kitab Al-Hawi Al-Kabir (22 jilid) dan Al-Ahkam Ash-shulthoniyyah (ilmu politik dan tata negara). Imam Al-Mawardi lahir pada tahun 364 H, dan wafat pada tahun 450 H.

Tidak banyak yang tahu bahwa nisbah namanya pada Mawardi, sama sekali tidak menunjukan bahwa beliau lahir di daerah yang bernama Mawardi. Setelah dicari  di dalam kamus dan peta, mana sebenarnya bagian negri Bashra yang bernama Mawardi. Mulai dari kamus Al-Misbah sampai kamus Al-Muhith yang terkenal paling komplit itu, tidak ditemukan pula.

Setelah membaca buku-buku Sirah (sejarah) ternyata Al-Mawardi berasal dari kata-kata Maa`ul-Wardi yang berarti “Air Mawar”. Ternyata beliau ini profesinya sebagai pedagang air mawar yang dijajakan  di pasar-pasar Bashroh.

Tidak menyangka seorang Alim sekelas Abu Al-Hasan, hanyalah seorang pedagang di pasar.  Dengan status sosial yang rendah, tidak menjadikan Abu Hasan muda surut semangatnya. Bukankah ada pepatah mengatakan “Tak ada nasab ilmupun jadi”. Demikian pula halnya Abu Al-Hasan muda, ia tak patah arang, semangatnya untuk merubah nasib inilah yang meberikan inspirasi kepadanya untuk terus belajar dan belajar.

Pada Akhirya Abu Al-Hasan meraih sukses besar, tidak hanya terkeal di Bashroh saja. Keharuman namanya menyebar ke segenap penjuru dunia Islam, seharum bunga mawar yang dijajakannya di pasar-pasar Bashroh itu.()

Dikutip dari Buku Rahasia Sukses Fuqoha (M. Ridlwan Qoyyum Said).

Baca juga:
KEIKHLASAN IMAM AL-MAWARDI DALAM BERKARYA

Simak juga:
Prinsip dalam Beramal

# MENGENAL IMAM AL MAWARDI SANG PENJAJA AIR MAWAR
# MENGENAL IMAM AL MAWARDI SANG PENJAJA AIR MAWAR

Kisah Kawanan Perampok Tobat Berkat Kejujuran Syekh Abdul Qodir Al-Jilani

Saat masih belia, Syekh Abdul Qodir Al-Jilani mencari ilmu dengan melakukan perjalanan dari Kota Mekah menuju Kota Baghdad, Irak. Sang ibu pun membekalinya uang sebanyak 40 dinar yang dijahit di dalam ketiak bajunya. Sang ibu juga berpesan agar ia senantiasa menjaga kejujuran.

Ketika sampai di wilayah Hamdzan, datanglah sekelompok orang yang berusaha menghadang dan merampok rombongan Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.

Saat yang lain merampas harta para rombongan, salah seorang perampok menghampiri Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kecil dan bertanya, “Apa yang kau miliki?”

Mendengar pertanyaan itu, Syekh Abdul Qodir Al-Jilani pun memberitahu apa yang ia miliki, yakni uang saku sebanyak 40 dinar pemberian ibunya yang diletakkan di jahitan ketiak.

Perampok itu pun merasa aneh dan kemudian membawa Syekh Abdul Qodir Al-Jilani untuk dihadapkan pada pimpinannya. Pemimpin perampok itu pun menanyakan hal serupa. Dan Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kembali mengulangi jawaban yang sama.

Mendengar jawaban itu, pemimpin perampok itu pun curiga dan bertanya, “Apa yang membuat engkau berkata jujur wahai anak kecil?”

“Ibu berpesan kepadaku agar aku senantiasa jujur. Dan aku takut untuk berkhianat terhadap pesan ibuku.” Jawab Syekh Abdul Qodir Al-Jilani dengan polosnya.

Untuk membuktikan kejujuran itu, pemimpin perampok itu pun menyobek pakaian Syekh Abdul Qodir Al-Jilani. Dan benar, di dalamnya ada uang 40 dinar.

Meleleh

Sambil terharu, pemimpin perampok berkata, “Engkau takut untuk mengkhianati pesan ibumu. Sementara aku tidak sekali pun takut mengkhianati Allah.”

Ia pun memerintahkan para anak buahnya untuk mengembalikan semua barang hasil rampokan dari rombongan Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.

“Aku bertobat kepada Allah di depanmu.” Kata pemimpin perampok kepada Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kecil.

Ia pun bertobat dan disusul para anak buahnya. Salah satu dari mereka pun berkata, “Engkau (pemimpin rampok) adalah pembesar kita dalam hal merampok. Dan Engkau (Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kecil) adalah pembesar kita dalam bertobat.”

Sejak saat itu, semua perampok bertobat berkat kejujuran Syekh Abdul Qodir Al-Jilani. []WaAllahu a’lam


Disarikan dari kitab Irsyad al-Ibad, halaman 71, karya Syekh Zainuddin al-Malibari.

Baca juga:
KISAH IMAM IBNU HAJAR DAN SEORANG YAHUDI PENJUAL MINYAK

Ikuti Juga:
Pengajian Kemis Legi 04 Februari 2021

# Kisah Kawanan Perampok Tobat Berkat Kejujuran Syekh Abdul Qodir Al-Jilani
# Kisah Kawanan Perampok Tobat Berkat Kejujuran Syekh Abdul Qodir Al-Jilani

Mendoakan Kebaikan untuk Pemimpin Bangsa

Suatu ketika, Imam Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, niscaya aku tidak menggunakan doa itu kecuali untuk kebaikan pemimpin.”

“Mengapa bisa begitu?” tanya seseorang.

“Sebab, jika aku menggunakan doa itu hanya untukku, maka kemanfaatannya juga pada diriku saja. Namun jika aku menggunakan doa itu untuk pemimpinku, maka kemanfaatannya akan kembali pada rakyat dan negara.” jawab Fudhail bin ‘Iyadh.

Ketika ditanyakan tentang maksudnya, maka Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Jika saya jadikan doa itu pada diriku maka tidak akan melampauiku, sedangkan jika saya jadikan pada penguasa maka dengan kebaikannya akan baiklah para hamba dan negeri,”


Disarikan dari kitab Hilyah al-Aulia’, VIII/91, karya Abu Nu’aim al-Ashfihani.

Baca juga: METODE SALAT KHUSYUK HATIM AL-ASHAM

Simak juga: Prinsip dalam Beramal

Metode Salat Khusyuk Hatim al-Asham

Dikisahkan, Hatim al-Asham ditanya mengenai salatnya. Ia pun berkata,

“Ketika sudah masuk waktu salat, aku menyempurnakan wudu, kemudian mendatangi tempat yang aku inginkan salat di situ sehingga seluruh tubuhku berkumpul (dalam semangat). Setelah itu aku mendirikan salatku. Kujadikan Ka’bah di depanku, Shirat di bawah kakiku, surga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, dan malaikat maut di belakangku. Aku merasa seorang itulah salatku yang terakhir. Aku berdiri di antara harapan dan ketakutan. Aku bertakbir dengan tenang, membaca surah dengan tartil, sujud dengan tenang, duduk tawarruk di atas kaki kiri, duduk iftirasy dengan mengeluarkan kaki kiri dan menegakkan kaki kanan yang ditopang jempol, dan disertai keikhlasan. Setelah itu, aku tidak tahu apakah salatku diterima atau tidak.”

Aku berkata, “Lantas bagaimana seseorang yang salat sambil menoleh kanan dan kiri, lupa, bermain-main, dan disertai rasa bosan dari awal sampai akhir?”

Ia berkata, “Hendaknya engkau memohon kepada Allah SWT agar dikaruniai kekhusyukan dan ketawaduan untuk taat kepada-Nya. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita, baik yang kecil maupun yang besar.”


Disarikan dari kitab An-Nail al-Hatsits fi Hikayah al-Hadits, hal. 45-46, karya Abu Hafsh Umar bin Husein as-Samarqandi.

Baca juga:
RAHASIA AYAT KEEMPAT SURAT AL-FATIHAH

Follow juga:
ig @pondoklirboyo

Motivasi Semangat dari Seorang Ayah

Menanamkan cita-cita yang tinggi menjadi modal kesusksesan bagi setiap orang. Apalagi jika hal itu telah terpatri sejak dini.

Dalam suatu kisah, demi menanamkan semangat cita-cita yang tinggi kepada sang buah hati, seorang ayah bertanya kepada anaknya yang masih berusia belia, “Nak, di masa mendatang, kamu ingin seperti siapa?”

“Aku ingin seperti engkau, wahai ayah.” jawab anak tersebut.

“Jangan. Jangan sekali-kali kau berkata seperti itu, Nak. Karena ketika ayah masih kecil, ayah bercita-cita ingin seperti Sayyidina Ali RA. Perbedaan antara aku dan dirimu seperti perbedaan antara aku dan Sayyidina Ali RA. Tinggikanlah cita-citamu. Lihatlah orang yang lebih tinggi lagi.” pesan sang ayah kepada anaknya.


Disarikan dari kitab Al-Fawaid al-Mukhtarah, hal. 29.

Baca juga:
KEIKHLASAN IMAM AL-MAWARDI DALAM BERKARYA

Simak juga:
NGAJI KEMIS LEGI