Category Archives: Angkring

Aktivitas Sahabat Nabi Saat Berziarah

Saat kecil _bahkan menjadi kebiasaan hingga sekarang_ kita sering diajak bapak pergi ziarah ke makam leluhur, berangkat menjelang petang di hari kamis dengan membawa  peralatan seperti belati dan sapu untuk membersihkan makam, juga tidak luput membawa bunga beraneka macam yang dibeli di pinggir jalanan.

Sampai disana sebelum merapalkan kalimat-kalimat suci kita bersihkan rerumputan yang menyelimuti makam, setelah itu bapak memimpin tahlil, diawali dengan tawasul kepada Nabi saw. sahabat beliau, arwah-arwah leluhur, guru-guru, pembabat desa, hingga arwah muslimin-muslimat yang telah mendahului kita. Baru kemudian membaca surat yasin.

Apa tujuan ziarah kubur? Selain untuk mendoakan mayit yang tengah menghadapi kehidupan baru yang tidak kita mengerti bagaimana kondisinya, dengan ziarah kubur juga merupakan kiat agar kita mengingat-ingat bahwa kematian akan sampai kepada kita, yang datangnya tidak terduga. Kehipan sejati setelah di dunia ini yang harus lebih kita persiapkan. Seperti yang disabdakan Nabi saw. ;

وكنتُ نَهَيتُكُم عن زِيَارَةِ القُبُورِ فَزُورُوهَا فإنها تُذَكِّرُكُمُ الآخِرَة

Artinya : “aku pernah melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah, karena berziarah itu terdapat peringatan (mengingat kematian).” (H.R. Abu Dawud)

Kenapa bertawasul? Menurut ulama, tawasul adalah upaya seorang hamba unduk mendekatkan diri kepada Allah dengan lantaran amal saleh, asma-Nya maupun orang berkedudukan tinggi disisi-Nya, baik yan sudah meninggal atau masih hidup. Dengan bertawasul juga merupakan bentuk pengamalan kita atas perintah Allah ;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱبْتَغُوٓا۟ إِلَيْهِ ٱلْوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُوا۟ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung.”

Banyak sekali riwayat para ulama salaf, sahabat Nabi bahkan beliau sendiri juga mencontohkan tawasul. Seperti kisah masyhur yang dituturkan Imam Al-Bukhari dalam kitab sahihnya tentang kisah tiga orang yang terjebak didalam gua karena mulut gua tertutup oleh batu besar, satu persatu ketiganya bedoa kepada Allah dengan amal baik yang pernah mereka lakukan agar  diberi petolongan. Setelah ketiganya rampung dengan doanya, batu besar yang menghalangi mulut gua pun tergeser dan mereka bisa keluar dengan selamat.

Saat Fathimah binti Asad bin Hasyim, ibunda Sahabat Ali Kwh. Wafat, beliau Nabi saw. Memohonkan ampun kepadanya dan bertawasul dengan kedudukan beliau dan nabi-nabi sebelum beliau disisi Allah ; “… lapangkanlah kuburnya dengan (lantaran) kebenaran nabi-Mu dan nabi sebelumku”.

Kenapa membaca surat Yasin? Nabi saw. bersabda ;

عن معقل بن يسار قال قال النبي صل الله عليه وسلم اقرؤا يس على موتاكم

Artinya : “dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata ; Nabi Saw. bersabda “bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan meninggal diantara kalian”. (HR. Abu Dawud)

Komentar Imam Ahmad “jika orang akan sakaratul maut dibacakan surat Yasin maka ruhnya akan dimudahkan keluar.

Adakah riwayat tentang aktivitas para Sahabat nabi saat ziarah kubur? Ibn Baththal dalam Syarah Shahih Bukhari meriwayatkan ; “Ibn Abi Syaibah menuturkan dari Sahabat Ali Kwh., Ibn Mas’ud dan Anas bin Malik memperkenankan ziarah kubur, Fathimah Ra. setiap hari jumat menziarahi makam Hamzah Ra., Abdullah bin Umar menziarahi makam ayahnya, beliau berdiri didekat makam dan mendoakannya. Sayyidah Aisyah Ra., menziarahi makam saudaranya, Abdurrahman, sedangkan makamnya ada di Madinah. Imam Abdur Razak juga menuturkan semua keterangan tersebut. Ibnu Habib berkata “tidak ada jeleknya ziarah kubur, duduk didekatnya dan mengucapkan salam ketika melewati kubur, Nabi pernah melakukan semua hal itu.”

Sahabat Bilal mencium batu nisan Nabi. “sesungguhnya Sahabat Bilal Ra. ketika menziarahi makam Nabi saw. ia menangis dan menempelkan kedua pipinya ke makam beliau. Dan sungguh Sahabat Ibn Umar Ra. juga meletakkan tangan kanannya di makam beliau.”

Menurut Imam Ath-Thabari, boleh mencium batu nisan, dan ini adalah perbuatan para ulama juga orang-orang saleh. [1]


[1] Bughyatul Mustarsyidin

KH. Aqib Abu Bakar: Pesan Mbah Manab, Jangan Pernah Meremehkan Kitab Kecil

Di Lirboyo, saya pernah ikut ngaji kitab Tasywiqul Khallan jika diartikan adalah kerinduan yang mendalam yang dapat membuat teman-teman mudah mempelajari ilmu. Tasywiq itu syarah kitab Jurumiah. Menurut pandangan Mbah Manab, walaupun Jurumiyah itu kitab kecil (tipis), kita tidak boleh menyebut kitab kecil. Misalnya kamu di sana ngaji apa? Ngaji Jurumiyah. Jangan mengatakan Jurumiyah….! Seakan seperti meremehkan. Jurumiyah adalah matan. Matan adalah sesuatu yang besar. Safinah adalah kitab kecil tetapi jika disyarahi, syarahnya bisa menjadi sangat banyak.

Kitab yang paling berkesan yaitu kitab Bidayah, Jurumiyah, Kailani, Taftazani, dan kitab tipis-tipis lainya. Orang zaman dahulu, (hanya dengan berbekal) kitab Seperti Jurumiyah, jika bisa dengan bena-benar mendalami serta hafal, maka akan bisa membaca kitab. Kitab Jurumiyah setelah selesai dikarang, dibuang oleh penulisnya ke lautan. Jika memang kitab itu bermanfaat, maka ia tidak akan tenggelam. Jika kitab Safinah didalami dengan benar, maka orang sudah bisa shalat. Tetapi kadang-kadang, sudah tamatan Lirboyo, tapi kitab Safinah belum diresapi, shalatnya tidak tumakninah. Bacaannya pun terkadang belum bisa diresapi dan kurang pas.

Kitab Safinah, Jurumiyah, manfaatnya nyata dan benar. Bukan kitab kecil jika syarahnya sangat banyak. Jika pintar kitab Safinah, (sama dengan ngaji) Tausyih, al-Bajuri. Karena kesimpulan itu ada di Safinah. Jika bisa di situ, maka akan mengungguli Amtsilah. Amtsilah itu ringkasan, sedangkan ulama sudah membuat ringkasan dari dulu. Orang terdahulu alimnya sangat luar biasa.()

Sumber: Himasal Lirboyo

Tentang Ya’fur, Keledai Rasulullah Saw

Imam as-Suyuthi meriwayatkan dari Ibnu Asakir, dari Abi Mandhur, ia berkisah:

“Ketika Rasulullah Saw. menaklukkan kota Khoibar, Beliau mendapatkan keledai hitam. Rasulullah berdiri di depannya seraya mengajaknya bicara. Beliau bertanya: ‘Siapa namamu?’ Keledai itu menjawab: ‘Namaku Yazid bin Syihab. Allah Swt, mengeluarkan keturunan dari kakekku sebanyak 60 ekor keledai, semuanya tidak dikendarai kecuali oleh seorang Nabi. Sungguh aku telah berharap Tuan dapat mengendaraiku. Dari keturunan kakekku tidak ada yang tersisa kecuali diriku, dan tiada dari golongan para Nabi yang hidup selain Tuan. Sebelumnya, diriku adalah milik seorang Yahudi. Aku sengaja berbuat liar terhadapnya. Ia membuatku lapar dan memukul punggungku’. Rasulullah pun berkata padanya: ‘Sekarang engkau bernama Ya’fur’.

Rasulullah Saw. sering mengirim Ya’fur menuju rumah seorang sahabat. Ia mendatangi pintu rumahnya lalu mengetuknya dengan kepalanya. Ketika pemilik rumah keluar, maka ia memberi isyarat kepada Ya’fur  bahwa ia akan segera mendatangi Rasulullah Saw. Lalu, Ya’fur pulang kembali menemui Rasulullah Saw.

Ketika Rasulullah Saw. wafat, Ya’fur berjalan lunglai ke arah sumur milik Abil Khaitsam bin Taihan. Kesedihan membuatnya tidak sadar akan keadaan sekitar. Kemudian, Ya’fur pun jatuh ke sumur  itu dan mati.

Sumber: Al-Khasha’isul Kubra, Imam Jalaluddin As-Suyuthi., Bairut: Darul Kutub al-Ilmiyah.

Memahami Arti Hari Ibu

Sejarah adanya Hari Ibu di Indonesia tepat pada tanggal 22 Desember, ditetapkan sebagai Hari Ibu oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden Nomor 316 tahun 1959 yang menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.

Peranan ibu dalam kehidupan seseorang tidak bisa digambarkan lagi. Sejak mengandung, melahirkan, sampai anak itu dewasa, ibu merupakan sosok yang tidak pernah berubah. Bahkan tidak pernah tergantikan. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. mengisyaratkan agar berbakti kepada ibu tiga kali lebih besar daripada berbakti kepada ayah. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abi Hurairah Ra. yang menceritakan bahwa suatu hari datanglah seorang laki-laki kepada Rasulillah Saw. untuk menanyakan terkait seorang ibu:

مَنْ أحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِيْ؟ قَالَ:أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ :أُمُّكَ، قَالَ :ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ :أُمُّكَ، قَالَ :ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ :أَبُوْكَ

Siapakah di antara manusia yang paling berhak kami sikapi dengan baik. Nabi menjawab: ibumu. Orang itu bertanya lagi: siapa lagi setelah itu?. Nabi menjawab: ibumu. Orang itu bertanya lagi:  siapa lagi setelah itu. Nabi menjawab: ibumu. Orang itu  bertanya lagi: siapa lagi setelah itu. Nabi kemudian menjawab, ayahmu.”

Tidak sampai di sana, kemuliaan seorang ibu pernah disinggung dalam hadis lain. Rasulullah Saw. juga bersabda bahwa seorang ibu diakui sangat mulia sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatakan dari Anas bin Malik Ra.:

اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الأُمَّهَاتِ

Surga itu di bawah telapak kaki ibu.”

Bagaimanakah maksud dari hadits yang menyebutkan bahwa Surga itu di bawah telapak kaki Ibu? Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam kitab Mafahim Yajibu An Tushahhaha menyebutkan sabda Rasulullah Saw. yang berbunyi:

إِنَّمَا اَنَا قَاسِمٌ وَاللّٰهُ يُعْطِيْ

Aku adalah pembagi, dan Allah yang memberi.”

Maha suci Allah akan kekuasaan-Nya, bahwa Nabi Muhammad lah kekasihnya yang diberi kekuasaan untuk membagi, bagaimana caranya agar umatnya bisa memperoleh surga dengan cara yang sederhana.

Sayyid Muhammad melanjutkan dalam karyanya bahwa ungkapan Nabi Saw. seperti “Surga di bawah telapak kaki ibu” menjadikan kita umatnya yang ingin menggapai surga bisa tersampaikan, jika mereka menempuh jalan birrul walidain atau berbakti orang tua, berkhidmah kepada mereka, terkhusus kepada ibu. Dengan menempuh jalan itu (birrul walidain) secara absolut dan tanpa kita sadari, sebagai umat kita sudah menjalankan perintah Nabi dengan taat, cinta, dan kasih sayang. []WaAllahu a’lam

Disarikan dari kitab Mafahim Yajibu An Tushahhaha, hlm. 215-216.

Dahsyatnya Doa Ibu

Nabi Musa suatu ketika menanyakan kepada Allah Swt. “Ya Rabb, siapa nanti yang menemaniku di surga?”

Allah Swt. menjawab, “Yang menjadi temanmu di surga adalah orang yang pertama kali lewat.”

Penasaran dengan orang yang dimaksud, beliau menunggu di depan rumah, siapakah orang yang pertama kali lewat. Nabi Harun kah? Para sahabat beliau kah?

Tidak lama kemudian, lewatlah seorang laki-laki yang Nabi Musa tidak mengenalnya. Laki-laki itu berjalan sambil membawa kayu bakar di atas punggungnya.

“Ya Rabb, apakah dia temanku nanti di surga?’ tanya Nabi Musa heran.

“Ya, dialah temanmu di surga.” Allah menjawab.

Mengetahui orang yang lewat adalah orang yang tidak dikenalnya, rasa penasaran Nabi Musa tambah menghebat. Nabi Musa berkata dalam hati, “saya harus cari tahu, kenapa dia menjadi temanku di surga.”

Nabi Musa mengikuti laki-laki itu dari belakang, laki-laki itu meletakan kayu bakar terus memasakan makanan. Ternyata dia menyiapkan makanan untuk ibunya. Setelah makanan matang, ibunya disuapi.

Setelah selesai disuapi makanan, ibu itu mengankat kedua tangannya sambil berdoa,

اَللّهُمَّ اجْعَلْ وَلَدِي هَذَا رَفِيقَ مُوسَى فيِ الْجَنَّةِ

“Ya Allah, jadikan Anakku  ini teman Nabi Musa di surga.”

Berkat doa ibu itu, Allah mentakdirkan anaknya menjadi orang yang mendampingi Nabi Musa di surga.

Ya, doa ibu sangat mustajab ibaratkan seperti doa Nabi kepada umatnya.()

*Diceritakan oleh Habib Jamal bin Thoha Baaqil di Bangkalan Madura