Category Archives: Angkring

Puteri Sastrawan Besar dan Kesombongan si Arab

Nama lengkapnya Amr Bin Utsman Bin Qanbar Abu Bisyr.  Beliau  lahir di tanah Persia, tepatnya di Desa ‎Baidha  (desa di Persia yang berdekatan dengan Shiraz) pada tahun 148 H (sekitar 765 M). Meski dilahirkan di Baidha namun beliau tumbuh besar di Bashra, Iraq. Beliau tumbuh dan berkembang di sana, hingga menjadi salah satu ulama Bashra terpopuler kala itu. Ini karena di sana beliau tumbuh berkembang dalam lingkungan ilmiah. Tercatat, ilmu pengetahuan pertama yang dia pelajari adalah Fikih dan Hadits. Pelajaran yang disebut terakhir ini beliau dapat dari Hamad Bin Sahnah.

Amr bin Utsman muda lantas mendapatkan laqab (julukan) Sibawaih. Julukan ini diambil dari bahasa Persia, “Sib” artinya buah apel, dan “Waih” yang berarti wangi. Jadi Sibawaih artinya wangi buah apel. Konon, menurut cerita yang  sangat masyhur di kalangan pesantren, laqab ini diberikan bukan makna konotasinya. Tubuh jasmani beliau memang memiliki aroma wangi seperti buah apel. Dengan kealiman yang beliau miliki, Imam Sibawaih sampai membuat pamor gurunya, Imam Kholil meredup. Bahkan murid-murid gurunya itu beralih berguru kepada beliau.

Perlu diingat bahwa beliau ini bukanlah keturunan Arab asli. Maka ketika mendengar kenyataan ini, seorang Arab tulen merasa tersinggung. “Bagaimana bisa seorang asing lebih pandai dan fasih berbahasa Arab ketimbang kita (orang Arab asli)?” gumamnya. “Sungguh aku akan menemuinya dan  mengajaknya bedebat. Aku pasti bisa mengalahkannya.” Tekadnya kemudian dengan semangat penuh.

Si Arab pun berangkat, hingga sampailah ia di daerah di mana Imam Sibawaih bermukim. Sesampai di rumah beliau, dia ketuk pintunya. Pintu terbuka. Tetapi ia kecewa karena bukan Imam Sibawaih yang membukakan pintu. Seorang puteri kecil Imam Sibawaih menatapnya, terheran-heran.

“Di mana Sibawaih?” ujarnya pada sang putri, tak sabar. Sang puteri, yang masih polos, menjawab apa adanya. Tapi justru jawaban ini yang membuat si Arab takjub, sekaligus luruh kepercayaan dirinya. Sibawaih kecil berkata:

“فاء الى الفيافى ليفى لنا بفيئ فاذا فاء الفيء يفيء”

Si Arab terdiam cukup lama. Setelah tersadar, ia ngeluyur pergi begitu saja tanpa pesan sambil menelan ludah. Ia berujar dalam hatinya,  “kalau gaya bahasa anaknya saja seperti itu (mengagumkan), bagaimana dengan gaya bahasa ayahnya?!”

Sebenarnya, apa yang diucapkan puteri Imam Sibawaih cukup sederhana, yang dalam kalimat lain bisa diungkapkan:

“ذهب الى الصحراء لياتي لنا بصيد فاذا غابت الشمس رجع”

“Ayah sedang pergi berburu untuk kami, bisanya beliau pulang di sore hari”

Namun, pemilihan kosa kata sang puteri yang indah lah yang kemudian membuat malu si Arab. Wallahu a’lam.

Enaknya, Jadi Umat Muhammad Saw

Allah Swt. begitu sangat memudahkan urusan umat Muhammad. S.a.w. mereka tidak dibebani sebuah tuntutan untuk menghamba kecuali semampunya, semua itu tak lepas dari posisi keagungan Nabi mereka di “mata Tuhan”,Nabi yang menjadi pamungkas para utusan, sehingga terputuslah kabar berita langit sepeninggalan beliau.
Umatnyapun ikut kecipratan, dengan menyandang predikat sebagai umat yang terbaik dari yang pernah ada, dengan janji mereka mau ber-‘amar ma’ruf nahi munkar.
Allah tidak hanya menjadikan umat ini sebagai yang terbaik dengan Nabi yang terbaik pula, di akhir surat Al-Baqoroh Ia berfirman
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Artinya; Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.
Orang-orang mukmin memohon agar Allah tidak memperberat dalam urusan agama mereka. Ulama tafsir menuturkan bahwa umat-umat terdahulu di bebankan melaksanakan sholat 50 waktu dalam sehari semalam, sedangkan kita ‘’ hanya’’ diperintahkan 5 waktu saja, tetapi pahalanya sebanding dengan pahala melaksanakannya 50 waktu.
Mereka juga di perintahkan menyisihkan ¼ hartanya untuk zakat, syariat kita cukup dengan mengeluarkan 2,5% saja untuk zakat dagangan dan 10% atau 5% untuk zakat biji-bijian.
Kaum Bani Israil, saat mereka durhaka karena menyembah sapi emas yang di ciptakannya sendiri, untuk menebus dosanya, mereka diperintahkan membunuh diri mereka sendiri, tak pelak,puluhan ribu orang mati. Ajaran kita menjadikan nelangsa dan berjanji tak akan mengulangi perbuatannya sebagai sarana untuk di terimanya taubat.
Syariatnya Nabi Ibrahim A.s, ketika sebuah benda terkena najis, untuk mensucikannya dengan memotong area yang najis. Dalam hal ini Allah memudahkan kita untuk menggunakan air sebagai alat sesuci.
Kasus lain, ketika kita berbuat dosa Allah tidak lantas langsung menampakkan siksanya, Ia tunda dulu. Ia tutupi aib dan dosa kita. Orang-orang terdahulu bila ternyata berbuat salah seketika akan nampak di jidat mereka , “ pendosa”.
Kaum yahudi, (dulu,ketika mereka masih di jalan yang benar) balasan bagi orang yang berbuat kriminal, melukai atau membunuh, hanya boleh di qishash (balasan yang sama) tibak boleh memaafkan pelaku atau mengambil diyat (denda) darinya. Sedangkan orang Nasrani, dalam kasus yang sama, mereka tidak di perbolehkan meng-qishash atau mengambil diyat. Bahkan mutlak bagi mereka harus memaafkan pelaku.
Cara berpijak tentang hukum mana salah dan benar, di zamana Nabi Ibrahim A.s menggunakan api, yakni ketika terdakwa memasukkan tangannya kedalam kobaran api, jika ia salah api akan membakar tangannya, sebaliknya, jika memang ia benar, api tidak akan terasa panas.
Beda zaman Nabi Ibrahim beda pula zaman Nabi Musa A.s. pada saat itu salah dan benar bisa di ketahui lewan tongkat beliau, tongkat tersebut akan memukul orang yang salah.
Pada masa Nabi sulaiman menggunakan angin, apakah ia akan bertiup kencang atau tenang. Di masa Dzul Qornain dengan lantaran air, orang yang salah akan tenggelam. Syariat kita, islam, kasus pidana ataupun perdata bisa di putuskan lewat sumpah atau saksi, kalau seseorang itu pada kondisi benar, silahkan datang saksi, andai tidak ada saksi, tak lantas haknya hilang, ia masih bisa membela diri dengan bersumpah,sudah cukup. meski hukum di negeri ini hal demikian tidak bisa sepenuhnya di jadikan pijakan.

 

Agama Sebagai Pilihan Hidup

Iman adalah hasil dari proses panjang sebuah pemikiran, ibaratnya kita akan percaya dan meyakini ada dan terjadinya sebuah perkara, dengan sebab kita mengatahuinya, jadi seseorang harus mengetahui dulu apa yang akan ia percayai sebelum beranjak meyakini dan membenarkan (tashdiq), dalam konsep ketuhanananpun demikian.

Akan tetapi,bukanlah jaminan keimanan bagi orang yang telah mengetahui sebuah dalil ketuhanan, sebab iman atau hidayah merupakan hak prerogatif Tuhan, bahkan nabipun tak banyak bisa berbuat. Contohnya, orang-orang kafir pada zaman Nabi Saw. meraka tahu betul siapa Nabi itu, mereka meyakini bahwa beliau benar-benar seorang utusan, nyatanya tidak tumbuh rasa iman di hati mereka.

Sebagian ulama mengelompokkan Iman dalam 3 pembagian, sesuai dengan pasang-surutnya:

Pertama, iman yang selalu bertambah dan tak bisa berkurang,yakni imannya para Nabi.Kedua, iman yang tidak bertambah dan tidak berkurang, kriteria imannya Malaikat.Ketiga, iman yang bisa bertambah dan bisa berkurang, imannya orang mukmin.

Meski keyakinan yang timbul sebab ikut-ikutan (taqlid)  terkadang Sesuai dengan kenyataan Tapi keyakinan orang yang demikian ini sangat rentan untuk di tumbangkan hanya dengan semisal memberikan sedikit pengertian yang bertentangan dengan apa yang ia ketahui.

Dalam ranah keimanan kepada Allah Swt secara umum (ijmaly), dalam I’tiqad ahlussunah wal jama’ah (ASWAJA) setiap mukallaf ( baligh dan berakal)  wajib meyakini sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi-Nya, sehingga ia harus :

  • Meyakini secara mantap tanpa keraguan, Allah Swt pasti bersifat dengan segala kesempurnaan (sifat wajib 20) yang layak bagi sifat keagungan-Nya.
  • Meyakini secara mantap tanpa keraguan, Allah Swt mustahil bersifat dengan segala sifat kekurangan (sifat mustahil 20) yang tak layak bagi keagungan-Nya.
  • Meyakini secara mantap tanpa keraguan, bahwa Allah Swt boleh saja melakukan atau meninggalkan segala hal yang bersifat jaiz (mumkin) seperti menghidupkan manusia atau membinasakannya.

Selain itu seorang mukallaf juga wajib meyakini secara terperinci (tafshily) sifat wajib yang menjadi sifat-sifat pokok kesempurnan-Nya (sifat asasiyah kamaliyah) sebagai Tuhan, sifat mustahil dan sifat jaiz.

Yang di kehendaki dengan dalil tafshili yakni ketika semisal seseorang di tanya;           ” apa bukti Tuhan itu ada ?” ia mampu menjawab ”bukti adanya Tuhan yakni alam ini. ” ketika si penanya masih mengejarnya dengan pertanyaan ” alam menjadi bukti adanya Tuhan dari sisi masih mungkinnya ia akan wujud atau sesudah ia wujud dari yang sebelumnya tidak ada ”, ia pun masih bisa menjawab. Sedangkan ketika jawabannya hanya sebatas ” bukti adanya Tuhan yakni alam ini ” saja, maka itulah yang disebut dalil ijmaly

orang-orang yang mengekor (taqlid) dalam keimanan, yakni keyakinan yang tumbuh tanpa di dasari pengetahuan sebuah dalil entah itu dalil ijmali (umum) atau dalil tafshili (perinci), dan yang demikian ini merupan iman kebanyakan umat islam, dalam penyestatusannya ulama tejadi perbedaan;

pertama, pendapat mayoritas ulama, mereka di hukumi mukmin, hanya saja mereka berdosa, sebab tidak mau berangan-angan terhadap dalil ketuhanan. Pendapat kedua, mereka dihukumi mukmin dan berdosa jikalau mereka mampu untuk berangan-angan dalil namun tak mau, apabila memang tidak mampu maka tidak dihukumi berdosa. Ketiga, yang paling ekstrim, mereka di hukumi kafir,sebab menurut pendapat ini, berfikir akan dalil keiminan merupakan hukum asal, artinya seseorang tidak cukup hanya sekadar ikut-ikutan (taqlid).

Perlu diketahui, bahwa hukum beriman atau tidaknya seseorang dalam pengelompokan ini merupakan hukum di akhirat kelak, sehingga selagi orang itu bersyahadat, ulama sepakat bahwa ia di hukumi muslim.

Pada akhirnya, daripada status iman kita masih di perselisihkan, marilah luangkan waktu untuk memikirkan  sifat-sifatNya, menyelami KalamNya yang tak bertepi, sehingga keimanan menjadi kukuh, tak mudah goyah, menjadikan islam memang benar-benar pilihan hidup, bukan karena tumbuh dan tercetak dari lingkungan, apalagi warisan.

Sahabat Nabi Juga Berijtihad

Waktu dzuhur telah tiba. Hari itu masih bulan Dzulqa’dah, lima tahun selepas Nabi menetap di Madinah. Perang Khandaq yang amat melelahkan baru saja usai dengan kemenangan di pihak kota Madinah. Pasukan Ahzab pimpnan Abu Sufyan sudah pulang karena menyerah tak mampu melewati parit pertahanan yang dibangun untuk melindungi Madinah. Padahal jumlah mereka hampir mencapai sepuluh ribu orang. Jumlah pasukan terbesar yang pernah dikerahkan untuk melawan Nabi Muhammad SAW.

Belum sampai Nabi Muhammad SAW beristirahat setelah melewati beratnya perang Khandaq, malaikat Jibril AS sudah memberi kabar dari Allah SWT agar beliau bergegas menaklukkan perkampungan Yahudi Bani Quraidzah yang sebelumnya telah berkhianat.

“Kau telah meletakkan senjata? Demi Allah, kami belum melatakkan senjata. Keluarlah kepada mereka.” Tutur malaikat Jibril AS.

“Kemana?” Tanya Nabi.

“Kesana.” Jelaslah yang ditunjuk oleh malaikat Jibril AS adalah pemukiman Bani Quraidzah.[1]

Malaikat Jibril AS bahkan menunggangi kuda, serta memakai mahkota dan pakaian sutra. Beliau mengatakan akan lebih dulu kesana untuk mengacaukan mental kaum Yahudi.

Nabi bergegas menemui para sahabat beliau. Beliau kabarkan, untuk bersiap memperjuangkan islam sekali lagi. Jihad kali ini harus dilakukan secepatnya. Sampai-sampai Nabi berpesan kepada para sahabat. “Jangan dahulu kalian salat ashar kecuali telah tiba di pemukiman Bani Quraidzah.”[2]

Memahami pesan Nabi diatas, para sahabat berselisih paham. Sebab perjalanan menuju perkampungan Bani Quraidzah tidaklah dekat. Sementara waktu salat ashar juga tidak terlalu panjang. Akibatnya sebelum tiba di pemukiman Bani Quraidzah, matahari hampir terbenam. Menandakan waktu maghrib segera tiba. Ada yang memilih menunaikan salat ashar ditengah jalan. Dan ada pula yang tetap kukuh pada sabda Nabi, untuk menjalankan salat setibanya disana. Mereka yang melakukan salat ditengah perjalanan hanya menangkap esensi dari sabda nabi, untuk segera bergegas pergi menuju perkampungan Bani Quraidzah secepatnya. Dan mereka yang salat setibanya disana, menangkap pemahaman bahwa sabda Nabi Muhammad SAW harus dipatuhi, dan dilakukan apa adanya sesuai perintah. Mungkin ada rahasia tersembunyi yang tidak mampu ditangkap nalar dibalik perintah Nabi tersebut.

Hal ini akhirnya diadukan kepada Nabi Muhammad SAW. Namun Nabi tidak menyalahkan siapapun. Beliau tidak mengatakan pendapat mereka yang salat dalam perjalanan salah, tidak pula mengatakan pendapat mereka yang salat di pemukiman Yahudi meskipun waktu maghrib telah tiba juga salah. Nabi membenarkan pendapat keduanya.[3]

Hadis tersebut dipahami menjadi tendensi dan salah satu pondasi awal akan kebolehan untuk berijtihad. Sebab memandang literatur dan khazanah yang kian berkembang tanpa adanya ijtihad adalah bentuk kejumudan. Sementara nash otentik Alquran dan hadis sekarang tidak mungkin akan bertambah jumlahnya walau satu hurufpun. “(Hadis diatas) menjadi dalil terpenting dalam salah satu prinsip dasar syari’at islam. prinsip dasar yang dimaksud tak lain adalah keniscayaan perbedaan pendapat dalam persoalan furu’iyyah (fikih). Masing-masing pihak yang berijtihad telah mendapatkan pahala, dan hasil ijtihad tetap berbeda.”[4]

Mengomentari hadis diatas, Imam An-Nawawi berkata, “Dalam hadis tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwasanya seorang mujtahid tidak boleh dicela atas ijtihadnya, ketika ia telah mengerahkan kemampuan yang ia miliki dalam berijtihad. Hadis tersebut juga dapat menjadi tendensi bahwa setiap mujtahid benar pendapatnya.”[5]

Senada dengan Imam An-Nawawi, Imam As-Suhaily juga mengatakan, “Sebagian dari faidah yang dapat diambil dari hadis tersebut adalah apa yang telah diungkapkan oleh As-Suhaily. ‘Dalam hadis tersebut terdapat dalil bahwa setiap perbedaan pendapat mujtahid dalam masalah furu’ adalah benar adanya. Karena tidaklah mustahil sesuatu bisa dihukumi benar untuk seseorang, namun dihukumi salah jika diterapkan untuk orang lain. Maka seorang mujtahid yang berijtihad dalam satu masalah lalu melahirkan hukum halal, benar adanya penghukuman halal tersebut. Dan juga pada permasalahan hukum haram. Yang mustahil adalah, satu permasalahan dihukumi dengan dua hukum yang berlawanan untuk satu orang.’”[6]

Akhirnya kitalah yang harus dituntut bijak menyikapi perbedaan dalam khazanah bermadzhab. Sebab hal tersebut merupakan keniscayaan dan satu bentuk dari makna islam rahmatan lil ‘âlamîn.

 

 

 

[1] Shahih Bukhari : Kitab Maghazi Hadis 4117 Hal 1832 Cet. Al Bushra 2016

[2] Shahih Bukhari : Kitab Maghazi Hadis 4119 Hal 1832 Cet. Al Bushra 2016

[3]  Lihat juga Shahih Muslim hadis 1770. Hadis diatas muttafaq ‘alaih.

[4] Fiqh Siroh Nabawi, Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan  Al-Buthy. Cet Dar As-Salam. Hal 226.

[5] Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Hajjaj, Imam An-Nawawi.  Juz 12, Hal 98. Maktabah Syamilah.

[6] Fathul Bari syarh Shohih Bukhori, Imam Ibn Hajar Asqalany. Juz 7, Hal 209. Dar Thoybah

Saat Haji, Mbah Manab Umrah 70 Kali

Kisah ini terjadi sekitar tahun 1920-an. Di masa itu, Mbah Manab berangkat haji ditemani sahabat karibnya, KH. Hasyim Asy’ari. Ada yang membuat kagum KH. Hasyim Asy’ari kepada beliau. Tiada lain adalah kezuhudan beliau.

Mbah Hasyim heran, Mbah Manab yang kemampuan duniawinya biasa saja, mampu melaksanakan haji. Mbah Hasyim lantas bertanya kepada beliau, apakah sudah siap segalanya. Ternyata memang sudah semuanya. Cuma yang bikin beliau semakin heran adalah ketika ditanya berapa jumlah uang beliau, Mbah Manab hanya menjawab pendek, “Mboten ngertos (tidak tahu).”

Kontan Mbah Hasyim meminta uang itu untuk beliau hitung. Ternyata, malah lebih dari cukup untuk menunaikan ibadah haji. Kemudian, Mbah Manab dan Mbah Hasyim berangkat bersama ke tanah suci. Beliau berdua berada dalam satu kapal. Di tanah suci, Mbah Manab mampu melakukan umrah sampai 70 kali. Itu pun beliau lakukan dengan berjalan kaki dari Tan’im (tempat miqat umrah).

Untuk beliau berdua, Lahumal Fatihah.

 

*Dikutip secara ringkas dari buku Pesantren Lirboyo, Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda.