Category Archives: Angkring

Kurban bukan hanya Tradisi Muslim

Saat merayakan Raya Idul Adha seperti ini, semua dari kita akan mengenang dan mencoba untuk meneladani kisah Nabi Ibrahim as. yang bermimpi diperintah Allah swt. untuk menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail as.

Meski pada akhirnya Allah swt. mengganti posisi putranya yang sudah terlentang siap untuk disembelih dengan kambing, kita bisa melihat betapa Nabi Ibrahim begitu sepenuhnya taat dan patuh atas perintah Tuhan sekalian alam, sekalipun diperintah untuk menyembelih putranya.

Berkurban, yang tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, bukanlah sebuah ritual yang hanya di jalankan oleh umat agama samawi belaka. Dalam beberapa literatur, disinyalir umat-umat terdahulu pun juga mempunyai tradisi serupa. Hanya, mereka memiliki cara dan jenis kurban yang berbeda-beda.

Jika kita tengok jauh ke belakang, di masa-masa awal kehidupan manusia, kita dapat menemukan peristiwa kurban yang dilaksanakan oleh dua putra Nabi Adam as. Mereka berdua diperintah oleh ayahnya untuk menghaturkan kurban.

Qobil yang petani berkurban dengan gandumnya yang buruk, sedangkan Habil yang peternak menghaturkan seekor domba sehat lagi baik. Maka kemudian, kurban milik Habil inilah yang diterima oleh Allah swt.  Pertanda diterimanya kurban ini adalah dengan turunnya api dari langit yang mengambil kurban yang diterima.

Di masa yang setelahnya, Nabi Nuh as setelah surutnya air bah, beliau membangun sebuah tempat untuk berkurban, lalu membakar hewan-hewan kurbannya di sini. Nabi Ibrahim AS berkurban denga roti dan lain sebagainya, anak keturunan beliau berkurban dengan hewan yang selanjutnya mereka membakarnya, tradisi ini terus berlanjut hingga di utusnya Nabi musa AS.

Di zaman jahiliyyah, orang arab berkurban dengan cara melepaskan hewan kurbannya ke daratan yang mereka tujukan bagi berhala-berhala.

Orang-orang dulu dalam berkurban tidak melulu dengan hewan, makanan atau tetumbuhan. Bahkan ada sebagian kaum yang berkurban dengan menyembelih manusia, seperti bangsa Romawi, Persia, Mesir kuno dan sebaginya, kebiasaan demikian ini begitu kental dan masyhur di kalangan penduduk Eropa.

Riwayat lain menuturkan bahwa masyarakat Mesir dulu pada setiap tahunnya di awal bulan Qibthy ( kalender Mesir) menghadiahkan  gadis yang masih perawan, yang sebelumnya mereka meriasnya dengan sangat menawan, kemudian mereka melarung dan menenggelamkannya ke Sungai Nil yang menjadi salah satu sesembahan mereka. Ritual semacam ini berlarut sangat lama, hingga akhirnya amirul mukminin Umar Bin Khathab melalui Gubernur ‘Amr Bin ‘Ash melarangnya.

Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha.

Sejarah Kurban: Dikenang Sepanjang Zaman

Merayakan hari raya Idul Adha, berarti juga mengingat kembali peristiwa besar yang dahulu pernah dialami oleh bapak para nabi, Nabi Ibrahim AS. Pengalaman spiritual tentang nadzar yang “diingatkan” oleh-Nya untuk segera ditepati. Momen historis ini terasa abadi karena dikenang tiap tahun oleh umat muslim. Dibacakan kisahnya secara berulang dalam tiap-tiap khutbah hari raya. Direnungkan ayatnya yang termaktub dalam Alquran. Dan dipelajari hikmahnya sebagai ibrah dan suri tauladan.

Syahdan, ketika Nabi Ibrahim AS masih dalam usia muda, dan belum memiliki putra, beliau pernah berkurban ribuan ternak kepada Allah SWT sekaligus. Beliau mempersembahkan seribu ekor kambing, tiga ratus ekor sapi, dan seratus ekor domba. Baik manusia ataupun para malaikat terkagum-kagum akan kedermawanan Nabi Ibrahim AS tersebut. Jika urusannya memang tentang Tuhan, Nabi Ibrahim AS adalah pribadi yang akan memberikan semua yang dimilikinya. Beliau bahkan sampai-sampai mengatakan, “Demi Allah, andaikan saja aku punya putra, niscaya aku kurbankan pula di jalan Allah. Dan aku gunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya”. Pada waktu itu syari’at tiap-tiap nabi berbeda. Syari’at Nabi Ibrahim AS dan syari’at Nabi Muhammad SAW tidaklah sama. Dahulu, nadzar bisa disumpahkan dengan apapapun. Bahkan dalam syari’at Nabi Musa AS, adakalanya orang baru diterima taubatnya setelah ia membunuh dirinya sendiri. Nabi Ibrahim AS konon pernah mengucapkan kalimat tersebut, dan janji adalah hutang. Ketika masa semakin berlalu, lama kelamaan Nabi Ibrahim AS lupa akan nadzarnya, karena beliau tak kunjung dikaruniai putra. Hingga akhirnya di usia beliau yang semakin tua, beliau berdoa kepada Allah SWT, mohon dikaruniai putra. Tatkala beliau hampir mencapai seratus tahun, doa beliau barulah terjawab. Beliau dikaruniai Nabi Isma’il AS. Dan setelah Nabi Isma’il beranjak dewasa, Allah SWT mengingatkan Nabi ibrahim AS akan nadzarnya dulu.[1]

Hikayat akan mimpi Nabi Ibrahim AS untuk menepati nadzarnya ini juga yang konon menjadi latar belakang, kenapa hingga kini ada istilah hari tarwiyyah, hari ‘arofah, dan hari nahr.

Menurut sebuah pendapat yang dikutip Ibn Qudamah, pada malam ke delapan bulan Dzulhijjah Nabi Ibrahim AS bermimpi menyembelih putranya. Maka ketika fajar menyingsing, beliau memikirkan mimpinya tersebut ( يَرْوِي ). Beliau merenung apakah mimpinya semalam adalah wahyu dari Allah ataukah sekedar bunga rampai tidur? Maka hari ke delapan itu disebut sebagai hari tarwiyyah ( التَّرْوِيَةِ ), yang apabila dirunut, kata tarwiyyah mengakar pada kata yarwî. Dan pada malam selanjutnya, atau malam ke sembilan Dzulhijjah, beliau kembali mengalami mimpi yang sama. Akhirnya beliau tahu ( عَرَفَ ) bahwa mimpi yang belau alami benar-benar wahyu dari Allah SWT. Hari ke sembilan ini pada akhirnya disebut sebagai hari ‘arofah ( عَرَفَةَ ), yang jika ditelusuri konon mengakar pada kata ‘arafa yang bermakna tahu.[2] Sedangkan hari penyembelihan disebut sebagai hari nahr, nahr bermakan menyembelih.

Peistiwa di hari nahr tersebut diabadikan oleh Allah SWT dalam Alquran, QS As-Shâffât.

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ (99) رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ(102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105)إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ(106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ(109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ(110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111) وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ (112) وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ  (113

Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. ” Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” la memawab, “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang- orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia, “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, “sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian (yaitu). “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba- hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq . Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. (QS. As-Shâffât: 99-113)

 

[1] Durratun Nashihin, 187. Dar ihyau turats ‘arobiyyah.

[2] Mughni Ibn Qudamah juz 5 hal 260. Dar ‘alamul kutub.

Tak Punya Bekal, Mbah Manab Tetap Bisa Berangkat Haji

Beberapa bulan sebelum musim haji, KH. Abdul Karim berkeinginan menunaikan ibadah haji. Keinginannya begitu menggebu-gebu. Apadaya, beliau terhalang oleh belum mencukupinya bekal untuk berangkat ke baitullah.

Berita beliau akan berangkat haji ini rupanya didengar oleh tetangga dan sahabat-sahabat beliau. Perlahan, mereka satu per satu mengunjungi beliau. Banyak diantara mereka yang menyatakan kegembiraannya karena KH. Abdul Karim dapat menunaikan ibadah haji di tahun itu. Padahal, pihak keluarga sendiri masih ragu, apakah beliau benar-benar akan berangkat, mengingat bekal yang ada sangat kurang. Sementara itu, tamu terus saja berdatangan. Semakin lama, semakin banyak saja.

Sebagaimana adatnya, selain memohon doa, para tamu itu menyertakan ‘salam tempel’ kepada beliau. Maka seiring dengan banyaknya tamu yang datang, amplop sowanan itu terus menumpuk. Beberapa waktu sebelum jamaah haji diberangkatkan, terkumpullah uang yang tidak sedikit. Bahkan lebih dari cukup untuk biaya pergi-pulang dan bekal selama di tanah Haram. Beliaupun akhirnya dapat mewujudkan keinginan beliau untuk menunaikan ibadah haji, dengan biaya dan bekal yang tidak disangka-sangka datangnya.][

Menyambut Dzulhijjah

Berlalunya bulan Dzulqa’dah, dan datangnya bulan Dzulhijjah menjadi kebahagaiaan tersendiri. Bulan Dzulhijjah dikenal sejak dulu sebagai bulan haji. Orang berbondong-bondong menuju tanah suci dalam satu gerakan, untuk merengkuh satu harapan yang sama. Memasrahkan diri kepada pemilik semesta dengan segala kelemahan diri, dan berharap cucuran rahmat, terkabulnya segala doa, serta tak lupa diampuninya segala dosa.

Bulan Dzulhijjah memiliki banyak keistimewaan tersendiri, selain karena hitungan hari didalamnya disebut oleh Allah SWT dalam Alquran, wal fajr, wa layalin ‘ashr, bulan Dzulhijjah juga memiliki hari istimewa, hari Arafah. Hari yang disebut-sebut sebagai hari terbaik dalam setahun. Hari dimana didengarkannya beragam keluh kesah, dan diijabahinya beragam doa. Hari dimana para jemaah haji mencapai puncak ibadah haji mereka. Mereka dikumpulkan dalam satu tempat, dalam satu padang, penuh harap apa yang menjadi keinginan dan harapan segera menjadi kenyataan.

Allah SWT berfirman, dalam surat At-Taubah:36.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Banyak peristiwa besar terjadi pada bulan Dzulhijjah. Seperti diampuninya Nabi Adam AS, dikabulkannya doa Nabi Yunus AS ketika berada dalam perut ikan paus, ditutupnya pintu neraka jahannam hingga melewati hari kesepuluh, kelahiran Nabi Isa AS, dan Nabi Musa AS. Serta masih banyak lagi peristiwa besar dan bersejarah lain yang terjadi pada bulan ini.

Amaliah Puasa pada Bulan Dzulhijjah

Banyak sekali amalan khusus yang dapat dilakukan pada bulan Dzulhijjah. Baik berupa doa, takbir pada malam hari raya, ataupun yang sangat identik adalah haji dan berkurban. Salah satu amalan lain yang juga sangat dianjurkan adalah puasa. Puasa sunnah dilakukan sejak hari pertama memasuki bulan Dzulhijjah, hingga tiba hari Arafah. Puasa yang dilakukan berturut-turut selama sembilan hari ini memiliki pahala yang sangat besar. Sabda Nabi Muhammad SAW, setiap puasa satu hari sebanding dengan pahala satu tahun. Sementara qiyamul lail, atau menghidupkan malam hari dengan beribadah pada malam-malam tersebut ibarat qiyamul lail pada malam lailatul qadr.

(مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ ، يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ (رواه الترمذي، والبزار، وابن ماجه من طريق أبي بكر بن نافع البصري

“Tidak ada hari yang lebih disukai Allah untuk beribadah kepada-Nya kecuali sepuluh hari bulan Dzilhijjah. Puasa tiap hari didalamnya sama dengan puasa selama satu tahun. Dan menghidupkan malam-malam dengan beribadah didalamnya sama dengan menghidupkan malam lailatul qadr.” (HR. Turmudzi, Bazzar dan Ibn Majah)

Ada pula ulama yang mampu menyingkap sepuluh rahasia dari puasa pada permulaan hari bulan Dzulhijjah ini, yaitu diberi keberkahan didalam umur, bertambahnya harta yang dimiliki, terjaganya sanak keluarga, terleburnya keburukan-keburukan, dilipat gandakannya kebaikan-kebaikan, dimudahkan dalam sakaratul maut, diterangi saat gelapnya kubur, memberatkan timbangan amal kelak, diberi keselamatan kelak, dan dinaikkan derajatnya.[1]

Ada pula hari tarwiyyah, yaitu tanggal 8 Dzulhijjah, dimana berpuasa pada hari itu sama bisa menghapus dosa selama setahun penuh. Dan puasa hari Arafah yang mana puasa pada hari hari  tersebut bisa mengapus dosa-dosa selama dua tahun penuh.  Sesuai sabda Nabi,

(صَوْم يَوْم عَرَفَة يكفِّر سنتَيْن مَاضِيَة ومستقبلة، وَصَوْم يَوْم عَاشُورَاء يكفر سنة مَاضِيَة (أخرجه مسلمٌ في «الصيام»  مِنْ حديثِ أبي قتادة الأنصاريِّ رضي الله عنه

“Puasa pada hari Arafah bisa menghapus dosa selama dua tahun yang telah lalu dan yang akan datang. Dan puasa hari ‘Asyura bisa menghapus dosa selamaaa satu tahun.” (HR. Muslim)

Namun hadis tentang puasa tarwiyah oleh para ulama derajatnya dinilai maudhu’ (hadis buatan). Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Dailami di kitabnya Musnad Firdaus (2/248).  Namun kita masih tetap sunnah berpuasa pada hari tersebut, mengingat hadis puasa tarwiyyah hanya sebatas fadhoilul a’mal. Ditambah lagi pada hadis sebelumnya, Rasulullah menganjurkan untuk berpuasa penuh selama sembilan hari. Termasuk hari tarwiyyah.

 

 

[1] Durratun nashihin 280, dar ihya kutub ‘arobiyyah.

Ikrar Santri Lirboyo Untuk Indonesia

Dengan mengharap ridlo dan hidayah dari Allah SWT, kami, santri-santri Lirboyo, berikrar:

1. senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas anugerah kemerdekaan Indonesia;

2. senantiasa berterimakasih kepada para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia;

3. senantiasa berdoa agar semua pengorbanan para pahlawan untuk Indonesia diterima oleh Allah SWT;

4. senantiasa siap untuk meneruskan perjuangan para pahlawan dalam mengisi kemerdekaan Indonesia;

5. senantiasa membumikan cinta tanah air dalam hati dan jiwa kami;

6. senantiasa siap menjaga keutuhan, kedaulatan, kewibawaan, persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia;

7. senantiasa memohon kepada Allah SWT agar Indonesia dijadikan sebagai negara yang Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur.