Category Archives: Angkring

Khutbah Jumat: Menjalani Hidup Dengan Sabar Dan Syukur

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

 

الْحَمْدُ للهِ الّذِيْ وَعَدَ لِلصَّابِرِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ جَزَاءً مَوْفُوْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لَاإلهَ إلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَّةِ الْخَلْقِ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا. اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِيْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ. فَإِنَّهُ قَالَ فيِ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَمَنْ يَتَّقِ  اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبْ.

 

Hadirin Jama’ah Jum’ah Yang Dirahmati Alloh …..

Dari mimbar khutbah ini, terlebih dahulu saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan hadirin sekalian, marilah kita meneguhkan hati untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan kepada Alloh SWT yaitu melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

 

Hadirin Jama’ah Jum’ah Yang Dirahmati Alloh …..

Tidak ada satupun manusia yang selama hidupnya selalu menemui apa yang diingini, selalu mendapatkan semua yang diharapkan dan segala cita-citanya menjadi nyata. Dalam setiap hidup manusia pasti ada suka dan duka. Sedih dan bahagia datang silih berganti. Maka sabar dan syukur adalah dua sikap yang harus dimiliki setiap diri agar bisa menjalani hidup dengan baik demi meraih ridho Allah SWT.

 

Hadirin Jama’ah Jum’ah Yang Dirahmati Alloh …..

Setiap manusia dalam hidupnya ada kalanya menemui sesuatu yang cocok dengan keinginannya, ada kalanya pula menemui hal-hal yang tak diinginkannya bahkan ia benci. Dua keadaan itu mengharuskan kita bersikap sabar.

Kesehatan, keselamatan, harta, pangkat dan segala kenikmatan dunia adalah hal-hal yang pasti kita inginkan. Namun, justru keadaan-keadaan inilah yang lebih membutuhkan sikap sabar. Kita harus bisa menahan diri agar tidak terjerumus dalam kenikmatan-kenikmatan fatamorgana dunia yang akan menghantarkan kita pada kehancuran. Alloh berfirman dalam Al Quran surat al Munafiqun ayat 9 :

 

(يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ (9

 

Artinya: Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.

 

Selanjutnya, sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan dan watak manusia yaitu menjalani taat dan menjauhi maksiat. Setiap hamba harus terus bersabar dalam ketaatan melaksanakan perintah Alloh dan menjauhi larangannya.

Dan sabar tingkat tertinggi adalah sabar menghadapi musibah-musibah seperti kematian, sakit, kecelakaan, hilangnya harta dan lain sebagainya. Seorang hamba yang baik harus rela dengan ketentuan Alloh dan meyakini bahwa segala yang dimilikinya adalah titipan. Semuanya akan kembali kepada Alloh, Tuhan Yang Maha Menciptakan. Dengan keyakinan seperti ini maka ia akan tetap teguh dan kuat untuk  melanjutkan langkah, meneruskan hidupnya.

 

Alloh berfirman dalam surat al Baqoroh ayat 155 dan 157 :


وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (١٥٥) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (١٥٦) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (١٥٧

Artinya: 155. Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. 156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. 157. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

 

Hadirin Jama’ah Jum’ah Yang Dirahmati Alloh …..

Alloh berfirman dalam  Surat al-Baqarah ayat 172

(يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ (٧

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah”

Dalam Al Quran surat Ibrahim ayat 7 Allah juga berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih

Dua ayat Al Quran ini mengandung perintah Allah SWT kepada hamba-hambanya untuk bersyukur. Selanjutnya kita harus pahami bahwa hakikat makna syukur terdiri dari tiga aspek yaitu ilmu, hal dan amal. Maksud dari aspek ilmu adalah kita harus mengetahui dan menyadari bahwa segala nikmat adalah dari Alloh Yang Maha Memberi nikmat dan anugerah. Maksud dari aspek hal adalah perasaan bahagia yang muncul dari pemberian nikmat Allah kepada hambanya.

Dan maksud dari aspek amal adalah melaksanakan sesuatu yang dikehendaki dan dicintai  Allah Sang Pemberi nikmat. Aspek amal ini berkaitan dengan hati, lisan dan anggota badan. Hati harus meniatkan pemanfaatan anugerah-anugerah itu untuk kebaikan. Lisan harus mengungkapkan syukur dan puja-puji kepada Allah. Dan anggota badan harus mempergunakan segala nikmat dan anugerah di jalan yang diridhoi dan dicintai Allah SWT.

Penting untuk diperhatikan bahwa seseorang yang mempergunakan nikmat dan anugerah Allah di jalan yang tidak diridhoi dan dicintaiNya maka berarti ia telah kufur nikmat. Demikian pula jika ia tidak mempergunakan anugerah-anugerah Allah itu, membiarkan potensi-potensi diri dan hidupnya terbengkalai, tersia-sia tiada guna.

Semoga kita senantiasa dibimbing oleh Allah untuk mengingatNya, mensyukuri segala nikmat dan anugerahNya, dan diberi taufiq dan pertolongan untuk melaksanakan penghambaan yang terbaik kepadaNya.

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ 

“Ya Allah! Berilah pertolongan kepadaku untuk menyebut namaMu, syukur kepadaMu dan ibadah yang baik kepadaMu.”

 

Hadirin Jama’ah Jum’ah Yang Dirahmati Alloh …..

Hidup adalah ujian. Alloh berfirman dalam Al Quran surat al Insan ayat 2 :

 

هَلْ أَتَى عَلَى الإنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا (١) إِنَّا خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا (٢)إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا (٣

Artinya: 1. Bukankah pernah datang kepada manusia satu waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?  2. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur  yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. 3. Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus ; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.

Allah juga berfirman dalam surat al Mulk ayat 1 dan 2 :

(تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١) الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (٢

Artinya: 1. Mahasuci Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. 2. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.

Ayat-ayat Al Quran ini memberi pengertian kepada kita bahwa apapun yang diberikan kepada kita adalah ujian dan cobaan. Saat hidup kita bahagia dan tercukupi, itu berarti kita sedang diuji, bisakah kita bersyukur kepada Dzat Yang Maha Memberi Nikmat. Lalu bisakah kita mempergunakan anugerah-anugerahNya dengan baik dan benar. Adapun saat kita berduka atau hidup dalam kekurangan, itu juga artinya kita sedang diuji, bisakah kita bersabar menghadapi cobaan.

Jadi pada hakikatnya, nikmat dan musibah, semua itu adalah ujian. Karena itulah, apapun dan bagaimanapun yang terjadi di hari-hari kehidupan dunia yang fana ini, jangan sampai kita lupa kepada Tuhan kita, Tuhan semesta alam, Alloh SWT. Dengan senantiasa mengingatNya, hati kita akan menjadi tenang dan tentram. Agar kita selalu mendapatkan petunjuk dan bimbinganNya untuk meraih kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat yakni surgaNya, kehidupan yang dirahmati dan abadi.

Ayat-ayat ini juga hendaknya menyadarkan kita bahwa kenyataan apapun, cobaan apapun dalam hidup, semestinya kita jadikan pendorong untuk meningkatkan kualitas pribadi kita dan untuk menjadikan hidup kita lebih bermanfaat, bermartabat dan bermakna.

 

بَارَكَ اللّه لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الّذِيْنَ  آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفَرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.

Sederhananya Kiai Juki

KH. Marzuqi Dahlan, salah satu dari Tiga Tokoh Pondok Pesantren Lirboyo, dikenal dengan pribadi yang sederhana. Beliau tidak pernah menghendaki perkara yang aneh-aneh. Dalam kehidupannya sehari-hari, beliau memiliki aktivitas yang istiqamah beliau lakukan. Diantaranya adalah berziarah ke maqbarah para auliya’ dan orang-orang shalih.

Setiap Kamis sore setelah shalat Ashar, beliau selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Kiai Sholeh Banjarmelati (mertua KH. Abdul Karim) dan sekitarnya. Selepas Isya’, beliau melanjukan perjalanan ke area maqbarah Pondok Pesantren Jampes dan sekitarnya. Hingga kemudian rihlah ziarah beliau ini berakhir di kompleks maqbarah Setono Landean, makam Mbah Mursyad.

Di makam Mbah Mursyad inilah beliau sering mendapat petunjuk. Suatu ketika, beliau berkeinginan untuk menunaikan ibadah haji. Di makam Mbah Mursyad inilah beliau kemudian mendapat petunjuk: yang harus beliau lakukan adalah menyelesaikan gothakan (bangunan kamar) santri. Setelah gothakan selesai, barulah beliau boleh berangkat haji. Maka kemudian beliau pun lekas membangun gedung al-Ikhwan. Beliau peruntukkan bangunan bawah untuk asrama santri. Sementara bangunan atas digunakan sebagai kelas madrasah.

Tradisi berziarah Kiai Juki, begitu beliau dikenal akrab, diteruskan oleh putra beliau, KH. A. Idris Marzuqi. Terutama berziarah di makam Mbah Mursyad. KH. A. Idris Marzuqi bahkan kemudian mengajak santri yang telah sampai pada jenjang akhir sekolah madrasah untuk beristighotsah dan berdzikir di setiap Kamis malam Jumat.

 

Sumber: HM Ibrohim Ahmad Hafidz, dengan perubahan seperlunya.

Jangan Berlebihan Dalam Beragama

Ketahuilah sesungguhnya terlalu berlebihan di dalam beragama itu akhir perkaranya akan kembali kepada diri sendiri. Tidak akan ada kemaslahatannya, baik itu untuk agama ataupun dunianya. Sebagian akibat dari terlalu berlebihan dalam agama adalah mendatangkan kemalasan atau tidak bersemangat lagi. Ketika nanti sudah malas mendatangi perkara wajib, akan terjadi kecerobohan dan maksiat, serta mengurangi keinginan untuk beribadah. Kalau berlebihan dalam agama karena untuk terus bertambah maka kemalasan akan menjadi penyebab terputusnya pahala.

Nabi Muhammad SAW. telah bersabda, “Wahai manusia, kerjakanlah amal-amal kalian semampu kalian, karena Allah tidak pernah bosan memberi pahala kepada kalian sampai kalian sendiri yang bosan melakukan amalan, dan sebaik-baiknya amal adalah amal yang terus menerus dijalani.” Nabi juga pernah bersabda kepada seorang laki-laki yang matanya bengkak karena berlebihan dalam beribadah, “Sesungguhnya agama ini kokoh. Maka masuklah kamu dengan lembut. Bukanlah tanah yang memutus tumbuhan, juga bukan punggung yang menetapkan tumbuh.”

Tidak diragukan lagi manusia yang telah diwajibkan beribadah kepada Allah swt. dan untuk akhiratnya, maka dia juga dituntut untuk meramaikan dunia dan mengokohkan hidup. Maka jika dia bersujud untuk akhiratnya saja rusaklah dunia juga runtutan hidupnya.

Diceritakan di zaman Nabi Muhammad Saw., suatu golongan yang sedang bepergian. Ketika mereka telah datang, mereka bercerita kepada Nabi Muhammad Saw. “Wahai Rasulullah, kami tidak pernah melihat seseorang yang lebih utama dari engkau kecuali fulan. Dia itu berpuasa di waktu siang dan ketika kami bermukim dia melakukan salat di malam hari sampai kami melakukan perjalanan kembali.” Nabi berkata, “siapa yang ingin seperti fulan?” mereka menjawab, “kami semua.” Nabi lalu berkata, “Kalian itu lebih utama daripada dia.”

Diceritakan Nabi Isa bin Maryam as. bertemu seorang laki-laki di gunung. Nabi Isa as. bertanya kepada laki-laki itu, “apa yang kamu lakukan?” laki-laki itu menjawab, “saya sedang beribadah.” Nabi Isa as. bertanya lagi, “siapa yang membuatmu berdiri?” laki-laki itu menjawab, “saudaraku.” Nabi Isa as. Berkata: “saudaramu lebih menetpi ibadah dari pada kamu”.

Muthraf bin ‘Abdillah bin Syakhir berkata kepada putranya, ketika putranya sedang beribadah, “Sesungguhnya kebaikan itu diantara dua kejelekan. Sesungguhnya agama itu diantara melebihi batas dan kekurangan/ceroboh. Lebih baiknya perkara adalah yang berada di tengah-tengah.” Wallahu a’lam.

 

Disarikan dari kitab Hikmah at-Tasyri’ wa Falsafatuh.

Keajaiban Berkah Nabi Muhammad SAW

اللَّهُمَّ لَوْلا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا # وَلا تَصَدَّقْنَا وَلا صَلَّيْنَا
فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا # وَثَبِّتِ الأَقْدَامَ إِنْ لاقَيْنَا
إِنَّ الأُولَى قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا # وَإِنْ أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا

 

Ya Allah, kalau saja bukan karena engkau, niscaya kami tak akan mendapatkan petunjuk. Kami tak bersedekah, tak juga salat.

Maka limpahkanlah ketenangan kepada kami. Mantapkanlah kaki-kaki kami kala menghadapi lawan.

Para musuh telah memberontak kami, dan ketika mereka menginginkan fitnah terjadi, maka kami menolaknya.

 

Kita tak bisa membayangkan suasana di Madinah saat itu. Cuaca begitu terik, udara begitu panas menyengat, dan debu-debu beterbangan kemana-mana. Namun disepanjang parit yang baru digali itu, nampak wajah-wajah gembira. Mereka ditemani insan paling mulia, bersama-sama menggali parit (khandaq) untuk membentengi kota Madinah dari gempuran pasukan ahzâb (koalisi). Mewakili perasaan bergembira, sebuah syair disenandungkan oleh Nabi Muhammad SAW, “Ya Allah, jika bukan karena Engkau, kami tak akan mendapatkan petunjuk…”[1] Beliau bekerja tak kenal lelah.  Memindahkan tanah demi tanah tanpa mau dibantu, sampai-sampai bulu dada mulia beliau tertutup oleh butir-butir tanah yang beterbangan.

Semua orang, laki-laki baik tua ataupun muda berduyun-duyun menggali parit. Parit yang memanjang menutup akses menuju kota Madinah itu nanti akan difungsikan sebagai “tembok” untuk menghalau datangnya pasukan koalisi pimpinan kaum Quraisy. Jumlahnya pun tak tanggung-tanggung. Diperkirakan akan ada sepuluh ribu orang yang menggempur Madinah. Jumlah yang lebih dari cukup untuk meluluhlantakkan kota Madinah apabila rasulullah tinggal diam.

Nabi bermusyawarah kepada para sahabatnya, strategi macam apakah yang hendaknya kita lakuakan?  Seorang muallaf baru dari negeri Persia, bermana Salman mengusulkan gagasan cemerlang.”Wahai Rasulullah,di Persia jika kami takut akan serangan kuda, kami akan menggali parit mengelilingi rumah-rumah kami. Maka mari kita gali parit untuk melindungi kita.”

Semau orang setuju atas ide sahabat Salman RA, maka sejak itu parit yang sangat panjang mulai digali. Dan saat parit mulai digali, banyak hal ajaib terjadi…

Saat menggali parti, tak semua orang mendapatkan cukup makan. Makan hanya sekian butir kurma, tapi bekerja penuh dari pagi hingga matahari menyingsing tenggelam. Sosok mulia Nabi tak luput mengalami hal yang sama. Bahkan menurut riwayat, hingga tiga hari Nabi dan para sahabat menggali parit, mereka tak menyantap sesuap hidangan apapun. Sampai-sampai, untuk menahan rasa lapar, beliau Nabi Muhammad SAW mengganjal perut beliau dengan batu yang diikat ke badan beliau.

Sahabat Jâbir bin Abdullah RA memang bukanlah orang yang kaya. Beliau bahkan hidup sangat sederhana bersama istri beliau. Namun, melihat perut mulia rasulullah tersingkap dan nampak batu disana, hati kecil beliau tergerak. Beliau tak tega dan merasa iba. Seorang rasul tak sepatutnya mengalami hal seperti ini. Beliaupun berinisiatif untuk pulang, dan menyiapkan rasul sebuah hidangan.[2]

“Wahai rasulallah, izinkanlah saya pulang ke rumah.” Kata sahabat Jâbir bin ‘Abdillah RA.

Rasulullah mengizinkan sahabat Jâbir Ra pulang menemui istrinya. Beliau bergegas menuju kediaman beliau. Kepada istrinya, beliau menceritakan apa yang telah dilihatnya.  “Aku melihat kondisi Nabi Muhammad SAW yang tak mampu lagi aku bersabar melihatnya. Adakah kau memiliki sesuatu untuk dimasak?”

“Ya, ada gandum dan domba kurus” jawab sang istri.

Tanpa pikir panjang lagi, sahabat Jâbir RA menyembelih domba kurus satu-satunya yang ia miliki. Beliau tahu, sangat tahu bahwa makanan itu hanya akan cukup untuk beberapa orang saja. Bukan masalah, asalkan  bisa menyenangkan hati rasulullah. Sahabat Jâbir RA juga membuat adonan gandum hingga menjadi makanan dalam tungku. Ketika adonan makanan tersebut hampir matang dalam bejana yang masih di atas tungku, beliau bergegas menemui Nabi. “Aku punya sedikit makanan, maka datanglah engkau wahai rasul. Ajak serta seseorang atau dua orang bersamamu.” Kata sahabat Jâbir RA lirih.

Namun rasulullah bukanlah orang yang tega bersenang-senang menyantap masakan, sementara para sahabat-sahabatnya yang lain merasakan kelaparan.

“Bagaimana mungkin bisa digambarkan Nabi Muhammad SAW membiarkan para sahabatnya bekerja keras, padahal mereka juga menahan rasa lapar, sementara Nabi bersama tiga atau empat orang sahabatnya beristirahat dan menikmati hidangan? Padahal kasih sayang Nabi kepada para sahabatnya jauh melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anak-anakanya.”[3]

“Berapa banyaknya?” tanya Nabi.

Sahabat Jâbir RA mengatakan apa adanya. Domba itu sangat kurus, dan mungkin hanya akan cukup untuk beberapa orang saja. Tapi Nabi memiliki rencana lain. “Banyak dan baik.” Sabda Nabi. “Katakan kepada istrimu, jangan angkat bejananya, dan jangan angkat adonan roti dari tungku api sampai aku datang.”

Tak disangka, Nabi berteriak lantang. Mengundang seluruh sahabat muhâjirîn dan anshâr yang menggali parit untuk ikut mencicipi hidangan dari sahabat Jâbir RA. Undangan yang membuat sahabat Jâbir RA terhenyak.

Wahai para penggali parit! Jâbir telah membuatkan hidangan! Marilah kita semua kesana!” Tak butuh aktu lama, berangkatlah seluruh sahabat yang jumlahnya mencapai ratusan menuju rumah sahabat Jâbir RA. Tak terbayangkan, hidangan satu kuali kecil akankah cukup untuk menyambut mereka semua?

Sahabat Jâbir RA tentu saja amat panik. Beliau bergegas menemui istri beliau, dan mengatakan apa yang telah terjadi. “Celakalah! Nabi akan datang beserta seluruh sahabat muhajirin, anshar, dan semua orang yang turut serta bersama mereka!”

Istri beliau menimpali dengan tenang, “adakah Nabi bertanya berapa jumlah makanan yang kau miliki?”

Tentu saja.”

“Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Istri Sahabat Jâbir RA, Suhailah binti Mas’ud RA menenangkan suaminya. Tidak mungkin rasulullah bertindak tanpa perhitungan. Pasti akan ada keajaiban.

Tak berapa lama, rombongan Nabi dan para sahabatnya tiba di kediamana sahabat Jâbir RA. Jumlahnya sangat banyak. Nabi memberikan komando kepada seluruh sahabat yang datang. “Masuklah kalian semua, dan jangan berdesak-desakan.”

Nabi sendiri yang membagikan semua makanan itu. Beliau menyobek roti yang telah matang, dan meletakkan daging diatasnya. Setiap kali Nabi mengambilkan bagian untuk satu orang, beliau menutup periuk dan kuali. Demikian seterusnya. Satu demi satu sahabat yang mengantri mendapatkan makanan. Tak ada yang tak mendapatkan makanan dari sebuah kuali kecil berisi daging domba kurus, dan sedikit roti. Keajaiban benar-benar telah tejadi. Sampai antrian habis dan seluruh sahabat telah merasa kenyang, hidangan yang semula disajikan tetap utuh tak berkurang sedikitpun.

“Makanlah, dan hadiahkanlah makanan ini kepada orang-orang. Karena mereka tengah kelaparan.” Pesan Nabi kepada istri sahabat Jâbir RA.

“Aku bersumpah demi Allah, para sahabat telah makan dan pulang, tapi daging milik kami masih utuh, begitu juga adonan tepung gandum kami masih tetap bisa dijadikan roti seperti biasanya.” Kata sahabat Jâbir RA terkagum-kagum atas apa yang baru terjadi di rumahnya.

Keajaiban memang selalu datang menyertai baginda Nabi Muhammad SAW sebagai bukti kalau beliau memang orang terpilih. Beliau adalah insan paling mulia, dan namanya dikenal di seluruh langit dan bumi. Allâhumma sholli ‘alâ sayyidinâ muhammad…

 

َ

[1] Lihat Shahih Bukhari, hadis 4106. Bab Perang Khandaq. Atau Fathul Bari juz 7 hal 321 cet. Dar Ihyau Turast

[2] صحيح البخاري  5/ 108  Atau lihat Fathul Bari juz 7 hal 317-319 cet. Dar Ihyau Turast

حَدَّثَنَا خَلَّادُ بْنُ يَحْيَى، حَدَّثَنَا عَبْدُ الوَاحِدِ بْنُ أَيْمَنَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: أَتَيْتُ جَابِرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ: إِنَّا يَوْمَ الخَنْدَقِ نَحْفِرُ، فَعَرَضَتْ كُدْيَةٌ شَدِيدَةٌ، فَجَاءُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: هَذِهِ كُدْيَةٌ عَرَضَتْ فِي الخَنْدَقِ، فَقَالَ: «أَنَا نَازِلٌ». ثُمَّ قَامَ وَبَطْنُهُ مَعْصُوبٌ بِحَجَرٍ، وَلَبِثْنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ لاَ نَذُوقُ ذَوَاقًا، فَأَخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المِعْوَلَ فَضَرَبَ، فَعَادَ كَثِيبًا أَهْيَلَ، أَوْ أَهْيَمَ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ائْذَنْ لِي إِلَى البَيْتِ، فَقُلْتُ لِامْرَأَتِي: رَأَيْتُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا مَا كَانَ فِي ذَلِكَ صَبْرٌ، فَعِنْدَكِ شَيْءٌ؟ قَالَتْ: عِنْدِي شَعِيرٌ وَعَنَاقٌ، فَذَبَحَتِ العَنَاقَ، وَطَحَنَتِ الشَّعِيرَ حَتَّى جَعَلْنَا اللَّحْمَ فِي البُرْمَةِ، ثُمَّ جِئْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالعَجِينُ قَدْ انْكَسَرَ، وَالبُرْمَةُ بَيْنَ الأَثَافِيِّ قَدْ كَادَتْ أَنْ تَنْضَجَ، فَقُلْتُ: طُعَيِّمٌ لِي، فَقُمْ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَرَجُلٌ أَوْ رَجُلاَنِ، قَالَ: «كَمْ هُوَ» فَذَكَرْتُ لَهُ، قَالَ: ” كَثِيرٌ طَيِّبٌ، قَالَ: قُلْ لَهَا: لاَ تَنْزِعِ البُرْمَةَ، وَلاَ الخُبْزَ مِنَ التَّنُّورِ حَتَّى آتِيَ، فَقَالَ: قُومُوا ” فَقَامَ المُهَاجِرُونَ، وَالأَنْصَارُ، فَلَمَّا دَخَلَ عَلَى امْرَأَتِهِ قَالَ: وَيْحَكِ جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ وَمَنْ مَعَهُمْ، قَالَتْ: هَلْ سَأَلَكَ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ: «ادْخُلُوا وَلاَ تَضَاغَطُوا» فَجَعَلَ يَكْسِرُ الخُبْزَ، وَيَجْعَلُ عَلَيْهِ اللَّحْمَ، وَيُخَمِّرُ البُرْمَةَ وَالتَّنُّورَ إِذَا أَخَذَ مِنْهُ، وَيُقَرِّبُ إِلَى أَصْحَابِهِ ثُمَّ يَنْزِعُ، فَلَمْ يَزَلْ يَكْسِرُ الخُبْزَ، وَيَغْرِفُ حَتَّى شَبِعُوا وَبَقِيَ بَقِيَّةٌ، قَالَ: «كُلِي هَذَا وَأَهْدِي، فَإِنَّ النَّاسَ أَصَابَتْهُمْ مَجَاعَةٌ»

[3] Fiqh Siroh Nabawi, Syaikh Ramadhan Buthy, hal 220. Cet Darus Salam. Cet ke 24. Tahun 2015.

Pilih Mana, Ikut Kiai atau Nabi?

Syariat Islam yang lahir sejak 14 abad lalu telah banyak mengalami serangkaian perjalanan sejarah yang panjang. Putaran waktu yang sudah cukup lama telah menjauhkan syariat Islam dari masa pengawalan syariat secara langsung oleh Rasulullah Saw. Beragam bentuk model penggalian hukum, pertentangan ulama, asimilasi budaya, dan lain sebagainya telah mewarnai dan memperkaya khazanah syariat hingga sampai pada umat Islam di generasi saat ini.

Di balik seluruh khazanah syariat Islam tidak akan pernah terlepas dari para ulama yang bermain di dalamnya. Karena bagi para ulama, eksistensi syariat merupakan tanggung jawab utama yang telah diamanahkan oleh Allah Swt lewat kredibilitas keilmuan yang telah mereka emban. Begitu besar peranan ulama salaf dalam mengawal dan membimbing jalannya syariat sejak dulu hingga saat ini. Karena dalam diri mereka telah mengalir darah amanah kenabian (warotsah al-anbiya’). Rasulullah Saw telah bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

“Ulama adalah pewaris para nabi,” (HR. Turmudzi).

Sebagaimana telah diketahui, tiada derajat yang lebih tinggi di atas derajat kenabian. Dan tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi selain menjadi pewaris derajat tersebut.[1] Rasulullah Saw tidak pernah mewariskan harta benda. Namun yang dimaksud dari redaksi hadis tersebut bahwasanya Rasulullah Saw hanya mewariskan ilmu, amal, dan perjuangan dakwah. Dengan demikian, ulama merupakan satu-satunya golongan yang paling absah berbicara soal keagamaan. karena merekalah yang memegang tongkat estafet perjuangan Rasulullah Saw, baik secara intelektual, maupun moral spiritual. [2]

Sejak zaman Rasulullah Saw, umat Islam telah sepakat untuk menjadikan ulama salaf sebagai acuan dan pedoman dalam memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan syariat Islam secara benar. Hal ini sudah dicontohkan oleh para generasi pendahulu. Para Tabi’in mengikuti jejak para Sahabat Nabi Saw, lalu para pengikut Tabi’in meneruskan langkah dengan mengikuti jejak para Tabi’in. Demikian seterusnya, sehingga pada setiap generasi para ulama pasti mengacu dan merujuk pada orang-orang dari generasi sebelumnya.

Rasulullah Saw bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ؛ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Aku berwasiat kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepadapenguasa kaum muslimin), walaupun (dia) seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barang siapa yang hidup setelahku dia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib bagimu untuk berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud).

Imam Ibnu Al-Qoyyim berkata, “Rasulullah Saw menggabungkan sunnah (ajaran) para khalifah dengan sunnahnya. Dan beliau memerintahkan untuk mengikuti sunnah para khalifah sebagaimana pengikuti sunnahnya. Dalam memerintah akan hal tersebut, beliau sangat bersungguh-sungguh bahkan sampai memerintahkan menggigitnya dengan menggunakan gigi geraham. Dan ini berkaitan dengan yang difatwakan oleh para khalifah meskipun bukan keterangan fatwa langsung dari Rasulullah Saw.” [3]

Menurut olah pemikiran yang logis, betapa baiknya pola pemahaman dan pengamalan syariat Islam dengan cara demikian. Sebab syariat Islam tidak dapat diketahui kecuali dengan dua cara, yaitu  naql (mengambil dan mengikuti dari generasi sebelumnya) ataupun istinbath ( menggali hukum dari sumbernya dengan cara berijtihad).

Inilah pengertian yang secara tidak langsung telah ditunjukkan oleh Sahabat Ibnu Mas’ud Ra melalui perkataannya:

مَنْ كَانَ مُتَّبِعًا فَلْيَتَّبِعْ مَنْ مَضَى

“Barang siapa yang menjadi pengikut (yang baik), maka hendaklah mengikuti (para ulama) generasi sebelumnya”.[4]

Jika pendapat-pendapat para ulama salaf telah menjadi sebuah keniscayaan untuk dijadikan sebagai pedoman, maka pendapat tersebut haruslah diriwayatkan dengan sanad (mata rantai) keilmuan yang jelas ataupun ditulis di dalam kitab-kitab yang masyhur dan mu’tabarah di kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Bahkan melihat kondisi global saat ini, mengharuskan metode taqlid manhaji (mengikuti dalam hal metodologis) dalam Istinbath al-Ahkam (penggalian hukum dari sumbernya yaitu Alquran dan Hadis) harus tetap mengetahui koridor madzhab-madzhab ulama generasi sebelumnya. Hal ini ditujukan agar rumusan hukum yang dihasilkan tidak menyalahi hasil konsensus mereka (mukholif lil ijma’).  Sehingga segala bentuk bid’ah, kesesatan, dan perpecahan dapat dihindari. Karena semua itu berawal dari model pemahaman yang menyelisihi pemahaman para ulama salaf.

Yang perlu digarisbawahi, mengikuti ulama salaf bukan berarti mengedepankan fanatisme golongan dalam beragama. Karena setiap individual para ulama yang merupakan manusia biasa tidak akan pernah lepas dari kesalahan (ghairu ma’shum). Namun jika para ulama salaf telah sepakat menghasilkan konsensus dalam suatu permasalahan agama, maka hasilnya sudah dapat dipastikan benar. Karena Rasulullah Saw telah menjelaskan dalam hadisnya, bahwa umat beliau tidak akan pernah sepakat dalam sebuah kesalahan/kesesatan.

Walhasil, mengikuti manhaj (jalan) para ulama salaf merupakan sebuah keharusan demi terjaganya pemahaman dan pengamalan syariat Islam secara benar. Dengan memegang teguh ajaran salaf, dan menjadikan beliau-beliau panutan dalam segala hal, baik itu budi luhur, ibadah, maupun akidahnya. Mereka sangat berhati-hati semasa hidupnya, kapan dan dimana mereka melangkah, di situlah mereka memegang teguh apa yang telah di wariskan oleh Rasullah Saw.

Allah Swt berfirman dalam Alquran:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha pada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya itulah kemenangan yang besar,” (QS. At-Taubah: 100). Sekian. waAllahu a’lam.[]

 

_____________________________

[1] Mauidzoh Al-Mukminin, juz 1 hal 8, Darul Kutub Al-Islamiyah.

[2] Syarah Riyadus Sholihin, juz 5 hal 433.

[3] I’lam Al-Muwaqqi’in, juz 2 hal 400, Darul Hadits.

[4] Risalah fii Taakkud Al-akhdi bi Madzahib Al-Arba’ah, Karya Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.