Category Archives: Angkring

Utamakanlah Ilmu

(وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣) إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)  (النجم: ٣-٤

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.  Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),”

Hampir seribu lima ratus tahun silam, Nabi Muhammad SAW wafat. Namun, hingga kini kita masih tetap bisa membaca dan “mendengarkan” sabda-sabda beliau. Beliau seolah masih hadir membimbing kita, menuntun, bahkan telah sejak lama membaca apa yang akan terjadi pada kita; umat beliau satu millenium lebih selepas beliau diutus.

Nabi mampu melihat masa depan, sebagai mana beliau mampu dengan indah bercerita tentang kisah-kisah umat-umat terdahulu. Tentang kejadian-kejadian kecil dalam kehidupan Bani Israil, misalkan. Sebagaimana yang dapat kita temukan dalam beragam kitab-kitab hadis, jika kita telaah. Kisah-kisah tersebut beliau ceritakan, menjadi pelajaran, juga renungan bagi para sahabat beliau.

Beliau juga membaca tentang hari esok. Beliau menjanjikan kerajaan besar Persia dan Romawi seutuhnya akan menjadi milik umat muslim. Sebuah berita yang terkesan mustahil, sebab saat itu umat islam barulah membentuk suatu komunitas kecil. Komunitas yang bahkan tak begitu diperhitungkan keberadaannya. Kekuatan masih lemah, tak memiliki tanah, apalagi armada militer. Ditambah lagi, saat itu dakwah masih terhalang kelompok kafir Quraisy sebagai musuh utama.

Tatkala Kisra, Persia masih menjadi kerajaan adidaya yang hanya mampu disaingi bangsa Romawi, sabda beliau terdengar seperti “candaan”. Kala itu beliau mengutarakan kepada Suraqah bin Malik, “Wahai Suraqah, bagaimana jika engkau memakai gelang kebesaran Kisra?”. Dan ucapan itu tidaklah luput. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, sahabat Umar RA diangkat menjadi khalifah. Saat itu pasukan muslim berhasil meruntuhkan kekuasaan kerajaan Kisra, Persia. Tentara muslim menuai keberhasilan telak. Mereka mampu memboyong banyak sekali harta rampasan perang. Termasuk diantaranya adalah mahkota dan gelang kebesaran kerajaan Kisra. Oleh sahabat Umar RA, gelang itu dipakaikan sesaat kepada Suraqah bin Malik, sebagai pembuktian atas sabda Nabi Muhammad SAW. Pembuktian bahwa Nabi tidak pernah berdusta.

Tatkala ibukota Bizantium, Konstantinopel ditaklukkan oleh bangsa Turki, itu bukanlah sebuah kebetulan. Jauh sebelum itu, Nabi pernah menjanjikan kota itu akan menjadi milik orang islam. Kelak, sabda Nabi, dibawah panji-panji pemimpin terbaik, dan bendera-bendera tentara muslim terbaik, kota itu akan takluk.

Kita masih dapat membaca beragam nasihat dalam hadis-hadis beliau. Sepintas memang terlihat beliau tujukan untuk para sahabat pada hari itu. Akan tetapi, nasihat-nasihat dan pesan-pesan itu hakikatnya “abadi” dan ditujukan kepada siapapun. Bahkan kepada umat beliau yang hidup terpaut hingga beberapa abad. Dari bahasa yang kentara, beliau telah membaca banyak hal dan perubahan besar yang akan terjadi pada umat beliau. Secara tidak langsung, bahasa yang beliau gunakan memang adalah untuk kita. Kita yang hidup hari ini. Di zaman ini. Sahabat ‘Abdullah ibn Mas’ud meriwayatkan suatu hadis,

وقال صلى الله عليه وسلم إنكم أصبحتم في زمن كثير فقهاؤه قليل قراؤه وخطباؤه قليل سائلوه كثير معطوه العمل فيه خير من العلم وسيأتي على الناس زمان قليل فقهاؤه كثير خطباؤه قليل معطوه كثير سائلوه العلم فيه خير من العمل

Nabi SAW bersabda; kalian semua (para sahabatku) berada di zaman yang banyak para ahli fikihnya (ulama), sedikit ahli membaca Alquran, dan orang yang pandai bicara. Sedikit para peminta-minta, banyak para pemberi. Amal pada masa ini lebih baik daripada ilmu.dan kelak akan datang, masa dimana sedikit ahli fikihnya, banyak orang yang pandai bicara, sedikit yang memberi, dan banyak yang meminta. Ilmu akan lebih utama daripada amal.

Meskipun hadis ini tidak sampai berstatus shahih, namun masih bisa kita pakai sebagai bahan renungan. Pada zaman nabi diisi oleh orang-orang yang masih “berfikir sederhana”. Meskipun tak banyak orang yang pandai bicara dihadapan umum, dan jarang sahabat yang mau berfatwa, tak lantas berbanding lurus dengan kenyataan bahwa sedikit orang yang mengerti agama. Dulu, masa Nabi Muhammad SAW tetap disebut sebagai masa yang terbaik. Karena pada waktu itu, mudah kita temukan ahli ilmu yang sejati.

Mengapa Kita Lebih Mendahulukan Ilmu

Salah satu yang ditekankan dalam hadis diatas, adalah pesan tersirat untuk senantiasa memperbanyak mencari ilmu. Syahdan, Imam Ahmad bin Hanbal, pernah mengaji bersama murid-muridnya. Tiba ditengah-tengah, terdengar suara azan. Dengan khidmat, beliau bersama murid-muridnya mendengarkan azan tersebut hingga selesai. Selesai azan berkumandang, para murid bergegas berbenah meninggalkan majlis ilmu, demi mendapat fadhilah salat di awal waktu. Bukannya mengizinkan, justru Imam Ahmad melarang. Mengaji lebih didahulukan, kata beliau. Bukannya amaliyah salat yang buru-buru dikejar, tapi sudah sejak lebih seribu tahun silam, mereka mendahulukan tholabul ‘ilmi.

Memang jika kita menelisik, tsamroh, buah dari ilmu adalah amaliyah. Tujuan utama orang belajar, salah satunya adalah agar dapat memiliki amaliah yang didasari ‘ilmiyah. Maka seharusnya yang lebih kita dahulukan adalah beramal. Karena apalah artinya suatu ilmu, jikalau tak pernah tersentuh untuk dilakukan.

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, mudah sekali menemukan ahli ilmu. Hadis tersebut menjadi buktinya. Para sahabat dapat langsung menimba ilmu dari sumbernya, ada masalah apapun langsung dapat dimintakan fatwa kepada Nabi. Dalam bimbingan langsung Nabi tersebut, muncullah generasi-generasi emas, sebut saja sebagai contoh, sahabat Abdullah Ibn Mas’ud, sang perawi hadis diatas. Tak banyak tindakan penyimpangan, dan tak banyak perilaku yang keluar dari ajaran islam. Pantaslah kiranya, masa tersebut disebut sebagai era keemasan. Sesuai sabda Nabi,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ (متفق عليه

Umat manusia terbaik adalah kurunku, lalukurun setelahnya, dan setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak banyak orang yang gemar meminta, karena sikap zuhud mereka. Banyak yang suka memberi karena berlomba-lomba mengejar kebaikan. Maka sudah sepantasnya pada masa itu, amaliyah lebih diutamakan, sebab ilmu sudah tersebar dimana-mana. Dan menuntut ilmu sebatas menjadi fardhu kifayah. Berbanding terbalik dengan saat ini, saat manusia berlomba-lomba menumpuk harta, dan menuntut ilmu sebagai wasilah mendapatkan kekayaan. Maka sedikit kita temukan, orang-orang yang benar-benar cakap dalam hal pemahaman agama. Qolîlun fuqohâuhu, sebagaimana sabda Nabi. Untuk membentengi diri, setidaknya kita harus mencari ilmu sebanyak-banyaknya.

Kita perlu takut, sebab beberapa sabda Nabi tentang tanda-tanda kiamat sudah mulai kita rasakan saat ini.

عن أنس ­ رضي الله عنه ­ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «إن من أشراط الساعة أن يرفع العلم، ويبث الجهل، وتشرب الخمر، ويظهر الزنى» رواه البخاري و مسلم

Dari sahabat Anas RA,Rasulullah SAW bersabda, sebagian tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan, diminumnya arak, dan nampaknya perilaku zina.” (HR. Muslim)


إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا . رواه البخاري

Allah tidak mencabut ilmu secara tiba-tiba dari seorang hamba. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan wafatnya para ulama. Sampai suatu saat tatkala tak tersisa lagi orang ‘alim, umat manusia mengangkat para pemimpin yang bodoh. Lalu ketika mereka ditanyai, mereka menjawab dengan tanpa landasan ilmu. Maka tersesatlah umat manusia, dan menyesatkanlah mereka.” (HR. Bukhari)

Berlibur ke Lirboyo

Belajar bisa ditempuh dengan cara apa saja, waktu kapan saja. Lihat saja apa yang kami lakukan. Kami berasal dari Pondok Pesantren Roudlotul Muta’abbidin, Lamongan Jawa Timur. Di akhir tahun 2016 ini (31/12), kami memilih menghabiskan waktu liburan untuk menikmati gerimis Lirboyo.

Kami yang terdiri dari puluhan santri putri turun satu per satu dari bus, tepat di depan gerbang Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM). Seragam yang kami pakai, tas yang kami jinjing, serasa menunjukkan keinginan kami yang besar untuk mengetahui rahasia belajar santri Lirboyo.

Kami tak mau membuang-buang kesempatan. Tanpa istirahat, dengan hanya disela helaan nafas, kami berkumpul di Aula P3HM untuk membuka kegiatan kunjungan kami ini. Pengurus pondok yang hadir siang itu, memberikan kami beberapa keterangan ringan terkait P3HM. Tentu saja agar kami, 36 santri dadakan ini merasa lebih dekat dengan Lirboyo.

Tak berselang lama, dengan ditemani dua pembimbing, kami segera mengikuti salah satu jadwal harian santri P3HM di siang hari. Yakni, pengajian kitab tafsir Jalalain setelah jamaah salat dhuhur. Kitab ini dibacakan langsung oleh sang pengasuh yang kami kagumi, KH. M. Anwar Manshur.  Kami memang tidak membawa kitab tafsir. Namun hanya dengan mendengarkan bacaan beliau saja hati kami adem, sejuk, tentram. Kami yakin, itu adalah pancaran yang keluar dari kealiman dan ketawadhuan beliau. Kesempatan kami untuk bersuka dengan pengajian beliau siang itu tak lama, hanya sekitar setengah jam. Tapi, siapa mengelak kalau itu adalah salah satu momen paling berharga yang bisa didapatkan? Terutama bagi kami, santri-santri kecil ini?

Sore hari adalah waktu yang padat bagi santri Mubtadi-aat. Di waktu ini, kami dapat melihat bagaimana aktivitas berjalan di luar kegiatan belajar. Sejatinya, di waktu itu pula kami bisa merasakan atmosfir pesantren sebenarnya. Bagaimana mereka menjalani keseharian. Memenuhi keperluan insaniyah mereka. Tidak begitu berbeda dengan kami sebenarnya. Hanya, mungkin berkah kebersahajaan para pendiri dan pengasuh menjadikan pondok ini beraura sejuk dan menenangkan. Entah bagaimana pola kesejukan itu bekerja.

Kami sengaja menepikan lelah. Ini adalah kesempatan kami satu-satunya. Karena meski kunjungan dari pesantren kami ini berulang setiap tahun, masing-masing dari kami hanya mendapat satu kali kesempatan. Di tahun berikutnya, giliran adik kelas kami yang menimba ilmu di sini nantinya.

Dan the only chance ini kami tak ingin melewatkannya dengan berleha-leha. Bada isya, kami mengikuti jam wajib belajar. Kabarnya, sistem wajib belajar ini juga diberlakukan di pondok putra, yang berada di barat pondok putri ini. Menurut kawan-kawan baru, wajib belajar ini adalah ajang diskusi interaktif antar teman sekelas. Jika di sekolah diskusi berlangsung dengan guru, dan musyawarah dilangsungkan dengan beberapa sistem dan banyak peserta, di wajib belajar ini santri berdiskusi dengan lebih dalam lagi. Di samping karena sudah mendapat bekal di sekolah dan musyawarah, jumlah peserta yang lebih kecil membuat diskusi lebih intens, dan bahasan masalah dapat diperoleh lebih dalam.

Pada akhirnya, kondisi tubuhlah yang berbicara. Kebetulan, pengurus memberi tahu kami bahwa sudah tidak ada kegiatan selepas pukul sembilan malam, saat wajib belajar berakhir. Kami harus istirahat, karena di pagi hari, setelah subuh, kami mendapat ilmu baru dari kawan-kawan Mubtadi-aat: menggunakan mukenah yang sah dan sesuai kutubus salaf.

Sepertinya sederhana, tinggal mengerubungi tubuh dengan kain putih panjang. Ternyata, ada yang belum disadari bahwa terdapat hal-hal kecil yang bisa mempengaruhi keabsahan salat kami. Misalnya, memakai mukena potongan. Yang terlihat, memang sudah cukup untuk menutup seluruh aurat. Namun ketika kita gunakan untuk salat, takbir misalnya, aurat kita, baik sebagian maupun seluruh bagian lengan kita akan terlihat dari bawah. Sementara, syariat menuntut untuk tertutupnya aurat dari penglihatan dari seluruh arah, atas-bawah, depan-belakang, kanan-kiri.

Dan ilmu-ilmu kami semakin bertambah ketika setelahnya kami dipersilahkan untuk ikut sekolah pagi. Di sini kami melihat dialog yang sangat cair antara guru dengan para siswa. Candaan sering digulirkan, tanpa mengurangi fokus pembahasan pelajaran.

Bagi kami, suguhan ilmu di pesantren ini melimpah ruah. Di ruang kelas, di aula, di serambi-serambi kecil kamar, ilmu –ilmu itu tersebar. Pada akhirnya, kami hanya bisa ber-tamanni, ilmu-ilmu itu dapat kami tangkup dan terkumpul di gelas kecil kami. Harapan yang lucu dan aneh, mengingat kami mengenyamnya hanya sehari semalam. Bahkan, untuk menyimpan nasehat beliau, Romo Yai Anwar, gelas kami masih terlalu kecil. Dari beberapa tetes yang tertangkup itu, satu yang paling kami ingat, “kalian mondok itu bukan untuk diri sendiri, tapi untuk masyarakat. Biarpun yang membiayai orangtua kalian, yang membutuhkan peran kalian adalah masyarakat.”

Terima kasih Lirboyo. Sungguh liburan yang menyenangkan.

Dari Kasidah Ka’ab Hingga Maulid Nabi

Kebencian bisa berubah sepenuhnya menjadi rasa cinta. Kita bisa saja membenci seseorang, benci dengan amarah yang membara dan menjadi-jadi, namun esoknya rasa benci itu berubah drastis. Menjadi cinta dan rindu.

Syahdan, Sahabat Ka’ab bin Zuhair RA. Saat itu belum masuk islam. Jangankan masuk islam, mengenal islampun tidak. Ia hanya mendengar kata “islam” dari kawan-kawan yang sangat membenci agama itu. Ia salah paham tentang islam, terusik opini publik yang beredar, islam datang tiba-tiba, mengusik adat dan budaya Arab yang sudah tertanam lama, mengusik bangsa Arab karena islam mengatakan bahwa mereka “salah jalan”. Mereka telah lama hidup dalam kebodohan, dengan menyembah patung-patung tak bernyawa yang disucikan. Islam datang, dan tiba-tiba mencela Latta dan ‘Uzza. Sahabat Ka’ab bin Zuhair RA hanya tahu islam dari gosip-gosip yang berkembang, namun belum pernah secara langsung mengenal dengan dekat sang pembawanya; Nabi Muhammad SAW. Ia hanya melihat islam dari sebuah pantulan cermin, belum pernah melihat agama iu seutuhnya. Dari dimensi terbatas itu, ia membuat kesimpulan yang keliru.

Sahabat Ka’ab bin Zuhair RA adalah tokoh. Ia merasa memiliki pengaruh besar dengan kepiawaiannya menggubah syair. Dan itu benar. Kalau disebutkan, siapakah penyair paling tenar pada masa  itu, maka jawabnya adalah Labid, dan Ka’ab bin Zuhair. Bahasa-bahasa yang saat dilontarkan, bisa saja mengobarkan perang besar muncul dari sosoknya.

Saat itu syair dianggap harta yang sangat berharga. Ia tak ubahnya dewa. Tak ubah cahaya. Bangsa Arab menghargai betul syair, dan menghargai betul setiap bait yang keluar dari mulut penyair-penyair idola mereka. Mereka mengadakan pentas-pentas tahunan di pasar-pasar. Lomba tahunan di pasar ‘Ukadz adalah salah satunya.

Dan karena Ka’ab hidup di lingkungan yang membenci Nabi Muhammad SAW, ia juga menggubah syair-syair yang mencela dan memaki habis-habisan Nabi Muhammad SAW. Ia tak membuka pintu sedikitpun, untuk paling tidak membuktikan apakah kalimat-kalimat yang ia ciptakan ada benarnya. Ia bersyair, sebagai orang yang belum tahu kebenaran islam.

Tahun 628 M. Islam mulai mendapatkan pengaruh besar di kota kelahiran nabi; Mekah. Kota Mekah berhasil dikuasai. Peristiwa besar itu diabadikan dalam ingatan semua orang. Peristiwa Fathul Makkah. Berbondong-bondong orang masuk islam, berbondong-bondong dengan sukarela. Cahaya islam semakin kentara, patung-patung berhala dihancurkan, dan orang islam kini bisa bersembahyang di masjidil haram dengan bebas.

Kabar kemenangan Rasulullah SAW sampai kemana-mana. Kakak Ka’ab bin Zuahair, Bujair bin Zuhair RA yang pada waktu itu telah memeluk islam mengabari adiknya. Ia melayangkan sepucuk surat.

Rasulullah SAW telah mengeksekusi beberapa orang yang dulu mencelanya dan menyakitinya. Dan para penyair Quraisy yang tersisa adalah Ibn Ziba’râ dan Hubairah bin  Abî Wahb. Mereka telah melarikan diri. Kalau dalam dirimu memang masih ada hajat (untuk hidup), maka pergilah temui Rasulullah SAW. Karena Rasul tak pernah membunuh seorangpun yang bertaubat mendatanginya. Kalau kau tak mau melakukan itu, maka carilah keselamatanmu dengan melarikan diri.

Ka’ab bin Zuhair segera membalas surat itu. Ia membalasnya dengan untaian syair. Syair yang justru mengecam dan menyudutkan Nabi Muhammad SAW. Syair ini sampai juga kepada Nabi. Bujair pun membalas syair Ka’ab. Lalu hati Ka’ab mulai ragu. Tak ada lagi niatan baginya untuk melarikan diri, karena lapangnya dunia sudah terasa sangat sempit. Ia tak merasa memiliki tempat sembunyi yang aman. Ia lalu memutuskan untuk pergi menemui Rasulullah SAW di Madinah. Sebuah keputusan yang penting dan berani dalam hidupnya. Ia telah pasrah, apapun yang akan terjadi.

Ia menempuh perjalanan menuju Madinah, kota berperadaban yang baru saja menggeliat. Tiba disana, ia beristirahat ditempat kenalannya yang berasal dari Juhainah. Orang itu menyediakan tempat istirahat sesaat. Tidak lama, karena pagi-pagi buta Ka’ab langsung berangkat menunaikan salat Subuh. Tak sabar ia jumpa Rasulillah SAW. Tak sabar pula ia menantikan apa yang selanjutnya terjadi. Tentu saja Ka’ab meminta temannya untuk menunjukkan dimana Rasulullah SAW. Karena selama ini ia belum pernah berjumpa beliau, ia hanya tahu dan mendengar dari orang-orang. Ketika salat Subuh telah usai, Ka’ab minta ditunjukkan dimana Rasul duduk. “Itu dia Rasulillah, berdirilah dan mintalah jaminan keamanan padanya.” Kata kawan Ka’ab.

Maka bergegaslah Ka’ab bin Zuhair RA menjumpai Nabi Muhammad SAW. Ia mendekat dan duduk didekat beliau. Tangan Ka’ab diletakkan di tangan Nabi Muhammad SAW. Pada waktu itu, Nabi belum mengenal siapa orang didepannya. Orang asing yang tiba-tiba duduk didepan Nabi itu.

Tanpa basa-basi, Ka’ab langsung mengutarakan maksudnya. Ia tidak langsung mengatakan dan mengakui bahwa ialah Ka’ab bin Zuhair RA. Tentu saja atas perlakuan dan sikapnya selama ini terhadap nabi. Orang-orang disekitar Nabi juga tak ada yang berkata apapun. Mereka hanya tahu syair-syair Ka’ab, namun belum pernah melihat rupa penyairnya.

Wahai Rasulallah, Ka’ab bin Zuhair sudah datang dan minta jaminan keamanan kepadamu. Ia bertaubat dan masuk agama islam. Maka adakah engkau mau menerimanya jika aku datang padamu membawa serta dia?” Kata Ka’ab dengan nada politisnya.

Nabi Muhammad SAW bukanlah pribadi yang pendendam. Beliau juga bukan pribadi yang suka mengungkit-ungkit kesalahan seseorang. Beliau selalu membuka lapang pintu maaf, dan menerima siapapun yang sadar dan bertaubat. “Tentu saja”, kata Nabi.

Mendengar jawaban tersebut seperti mendapat angin segar. Tanpa ragu lagi Ka’ab mengaku, “Aku wahai Rasul! Ka’ab bin Zuhair”.

Spontan saja, salah seorang sahabat Anshor melompat hendak menikam Ka’ab. “Biarkanlah aku dan musuh Allah ini, aku penggal lehernya!

Namun Nabi Muhammad SAW menjawabnya dengan bijak. Beliau tidaklah membiarkan seorangpun melukai orang yang sudah masuk islam. “Biarkan dia, karena dia telah datang bertaubat. Tak melakukan lagi apa yang dilakukannya dulu.

Kemudian ia menyenandungkan kasidah yang begitu popular dan melegenda, Banât Su’âd. Bânat Su’âd, itu kalimat pertama kasidah ini.

بانَت سُعادُ فَقَلبي اليَومَ مَتبولُ ** مُتَيَّمٌ إِثرَها لَم يُفدَ مَكبولُ

Su’ad berpisah jauh sekali, maka hatiku hari ini sedih, sakit karena cinta. Lemah lunglai tak mampu lepas dari ketertawanan dan belenggu.

وَما سُعادُ غَداةَ البَينِ إِذ رَحَلوا ** إِلّا أَغَنُّ غَضيضُ الطَرفِ مَكحولُ

Dan Su’ad di pagi hari pergi, ketika mereka pergi hanyalah suara erang rusa dan kedipan mata.

هَيفاءُ مُقبِلَةً عَجزاءُ مُدبِرَةً ** لا يُشتَكى قِصَرٌ مِنها وَلا طولُ

Pinggangnya indah berpantat besar, tidaklah ada aib, entah dia pendek atau tinggi.

تَجلو عَوارِضَ ذي ظَلمٍ إِذا اِبتَسَمَت ** كَأَنَّهُ مُنهَلٌ بِالراحِ مَعلولُ

Gigi-gigi tersingkap bila tersenyum, seakan sedang terus menerus meminum arak.

شُجَّت بِذي شَبَمٍ مِن ماءِ مَحنِيَةٍ ** صافٍ بِأَبطَحَ أَضحى وَهُوَ مَشمولُ

Bercampur dengan air dingin bening mengalir banyak yang diambil waktu dhuha dihembus angin utara 

Sahabat Ka’ab bin Zuhair RA memohon maaf kepada Nabi dalam gubahan syairnya, memuji Nabi Muhammad SAW, memuji para sahabat. Ia tidak melewatkan kesempatan baik, saat semua orang berkumpul, dan mendengarkan syairnya.

لا تَأَخُذَنّي بِأَقوالِ الوُشاةِ وَلَم ** أُذِنب وَلَو كَثُرَت عَنّي الأَقاويلُ

Janganlah engkau menghukumku berdasar kata-kata para pengadu domba, padahal aku tidak bersalah, meski banyak di jadikan telah beredar banyak gosip.

لَقَد أَقومُ مَقاماً لَو يَقومُ بِهِ ** أَرى وَأَسمَعُ ما لَو يَسمَعُ الفيلُ

Aku telah menghadiri suatu majlis, yang kalaulah aku menghadirinya, aku akan melihat dan mendengar sesuatu yang kalaulah didengar oleh seekor gajah

لَظَلَّ يُرعَدُ إِلّا أَن يَكونَ لَهُ ** مِنَ الرَسولِ بِإِذنِ اللَهِ تَنويلُ

Dia akan terus merasa takut, kecuali baginya diberikan harapan dari Rasul dengan rido Allah.

Rasulullah menerima taubat Ka’ab. Bahkan beliau memberikan burdah yang sedang beliau kenakan. Jubah itu menjadi warisan turun-temurun, sampai pada keluaarga para khalifah Ummayah dan Abbasiyah. Sebuah kenang-kenangan yang indah, dan bukti bahwa Nabi Muhammad SAW tidak marah apabila seseorang menyanjungnya lewat sebuah kasidah. Nabi tidak akan pernah marah karena maulid, justru beliau merestuinya.[]

 

Disarikan dari: Sirah Ibn Hisyam juz 2. Hal 510. Maktabah Darul Kutub ‘Ilmiyyah.

Pentingnya Iman dan Menjadi Pribadi Bermanfaat

Dalam hal beribadah, seringkali kita temui atau justru kita merasakan gelisah, bingung, atau bahkan timbul rasa keragu-raguan dalam menjalaninya. Perasaan itu muncul diantaranya karena kita tidak tahu mana ibadah yang perlu kita dahulukan setelah ibadah wajib.

Dalam agama Islam –diluar  ibadah wajib, banyak sekali kita temukan ibadah-ibadah lain atau yang kita kenal dengan istilah ibadah sunnah. Bahkan pekerjaan apapun bisa menjadi sebuah ibadah jika kita niati untuk beribadah. Satu contoh adalah makan. Jika makan itu kita niatkan untuk mengisi tenaga yang kemudian tenaga itu kita gunakan untuk ibadah, maka makan itu sendiri sudah termasuk ibadah.

Sebelum kita berbicara mengenai hal ini, perlu kita ketahui bersama bahwa sebenarnya ibadah itu tidak hanya selalu berhubungan antara kita dan Allah swt saja, akan tetapi ibadah juga berhubungan diantara sesama makhluk hidup atau lingkungan. Karena Allah swt sendiri memerintahkan kita untuk berbuat baik terhadap seluruh makhluknya. Artinya, pekerjaan apapun ketika mempunyai dampak baik terhadap sesama makhluk, maka itu sudah bisa kita katakan sebagai ibadah.

Dari banyaknya pekerjaan yang bisa kita rubah menjadi sebuah ibadah, sebenarnya ada dua pekerjaan yang paling utama untuk dilakukan seorang muslim. Pertama, iman kepada Allah SWT, dan kedua, memberikan kemanfaatan terhadap sesama. Seperti yang tertulis dalam sebuah hadis Nabi: ”Ada dua hal atau pekerjaan dimana tidak ada sesuatu apapun yang lebih utama darinya. Dua hal ini adalah iman kepada Allah swt dan memberi kemanfaatan kepada sesama muslim,”. Kemanfaatan ini bersifat umum, baik secara lisan, harta, tenaga, pikiran, atapun lainnya.

Dalam sebuah hadis lain Nabi berkata: Barang siapa yang di waktu pagi ia tidak mempunyai niat sedikit pun untuk membuat kedholiman kepada sesamanya, maka ia akan diampuni atas dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Dan barang siapa yang di waktu pagi ia mempunyai niat untuk menolong orang yang didholimi dan memberi kebutuhan-kebutuhan orang muslim, maka ia akan mendapatkan pahala yang diumpamakan seperti halnya ibadah haji yang mabrur.” 

Dari penjelasan hadis di atas, setidaknya kita sudah bisa mengetahui bahwa setelah kita iman kepada Allah swt, maka yang perlu kita lakukan adalah berbuat baik kepada sesama makhluk. Lebih-lebih dengan sesama muslim.][

Sujud Tilawah dan Sujud Syukur

Di dalam Madzhab As-Syâfi’i, Macam sujud di luar salat ada dua, yaitu sujud tilawah dan sujud syukur. Sujud tilawah disunahkan ketika terbacanya ayat sajdah, sujud ini di sunahkan baik bagi pembaca maupun pendengar ayat sajdah, sedangkan sujud syukur di sunahkan bagi orang yang mendapatkan nikmat zahir atau terhindar dari bencana dhahir sebagai bentuk rasa syukur pada Allah SWT.

Sujud pada selain kasus di atas  maka hukumnya haram dan tidak diperkenankan bagi siapaun untuk melakukannya, bahkan sujud selain pada ketentuan diatas bisa berakibat kufur jika diniatkan sujud selain kepada Allah SWT. berbeda bila seseorang meletakkan kepalanya diatas tanah atas dasar karena ia merasa hina atau untuk merendahkan hati dengan tanpa berniat sujud, maka hal ini tidak diharamkan karena yang demikian bukan tergolong sujud.

Ketentuan sujud syukur dan tilawah (diluar sholat) adalah harus suci dari hadas, suci najis, menutup aurat, dan menghadap kiblat. Sedangkan cara melakukannya ialah pertama niat dan takbirotul ihram dengan mengangkat kedua tangan sebagai mana dalam salat, kemudian sujud satu kali, setelah itu duduk dan salam.

Sujud Tilawah

Sujud tilawah adalah sujud yang di lakukan karena membaca atau mendengar ayat-ayat sajdah yang terdapat dalam Alquran, di sunahkan (bahkan sunah muakkad) melakukan sujud tilawah tersebut baik di lakukan di dalam shalat ataupun di luar salat. Tata cara sujud tilawah adalah sebagai berikut:

Teknis pelaksanaan:

  1. Ketika berada dalam shalat

Setelah musholli (orang sholat) selesai membaca ayat sajdah maka langsung sujud dengan disertai niat sujud tilawah tanpa melakukan takbirotul ihram kemudian melakukan sujud dan setelah selesai maka musholli kembali bangun dengan di sertai takbir untuk meneruskan salatnya. Sujud tilawah yang di kerjakan di dalam salat tidak memakai takbirotul ihram dan salam. namun bagi makmum tidak boleh mengerjakan sujud tilawah bilamana imamnya tidak mengerjakan, sekalipun makmum mendengar atau membaca ayat-ayat sajdah.

  1. Ketika di luar shalat

Setelah selesai membaca atau mendengarkan bacaan ayat sajdah maka langsung menghadap qiblat kemudian takbir di sertai niat lalu sujud, kemudian takbir untuk duduk lalu salam.

Niat sujud tilawah adalah :

نَوَيْتُ سُجُوْدَ التِّلاَوَةِ سُنَّةً للهِ تَعَالىَ

Bacaan sujud tilawah adalah :

سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصُوَّرَهُ وَشَقَ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ .

Apa bila tidak memungkinkan sujud Tilawah karena ada kesibukan atau lainnya, maka di anjurkan membaca tasbih 4 kali sebagai pengganti sujud tilawah.

4 x سُبْحَانَ الله وَالْحَمْد لله وَلَا إِلَه إِلَّا الله وَالله أكبر وَلَا حول وَلَا قُوَّة إِلَّا بِاللَّه الْعلي الْعَظِيم

Sujud Syukur.

sujud syukur adalah sujud yang di lakukan di luar shalat karena ada beberapa sebab. Berikut ini beberapa sebab di sunahkannya melakukan sujud syukur:

  1. Mendapatkan ni’mat yang tidak di sangka sebelumnya baik nikmat pada dirinya sendiri, kerabat, teman atau umat islam secara umum. Akan tetapi tidak disunahkan jika karena mendapat ni’mat yang terus menerus seperti ni’mat islam.
  2. Terhindar dari bencana atau musibah yang tidak di duga-duga sebelumnya seperti selamat dari tertimpa bangunan yang roboh akibat gempa atau selamat dari tenggelamnya kapal.
  3. Ketika melihat orang lain melakukan kemaksiatan sebagai rasa syukur bahwa dirinya tidak melakukannya.
  4. ketika melihat orang lain tertimpa musibah pada anggota badannya, seperti buta, tuli, atau gila. Namun pada saat melakukannya di sunahkan untuk tidak di perlihatkan padanya.

Adapun cara melakukan sujud syukur yaitu di lakukan di luar shalat dengan satu kali sujud di syaratkan dalam keadaan suci, menutup aurot, dan menghadap qiblat. Sementara rukun-rukunnya adalah sebagi berikut:

  1. Niat
  2. Takbiratulihram
  3. Sujud satu kali
  4. Duduk
  5. salam

Niat sujud syukur :

نَوَيْتُ سُجُوْدَ الشُّكْرِ سُنَةَ للهِ تَعَالَى

Bacaan sujud syukur sebagai berikut :

سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَا رَكَ اللهُ اَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ.