Category Archives: Angkring

Jangan Bosan Bersholawat Untuk Umat

Bersholawat, bukan hanya sekedar doa untuk junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Bersholawat juga adalah bukti kecintaan sorang hamba kepada Nabinya. Betapa besar dan agungnya kehebatan sholawat, ia yang memiliki ribuan macam jenis dan nama juga memiliki ribuan macam jenis dan khasiat yang berbeda-beda serta saling melengkapi. Ada sholawat yang jika dibaca akan menghilangkan kesusahan, menarik rizki, bahkan ada yang dijelaskan khasiatnya dapat menjadi wasilah mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW.

Membaca sholawat bukanlah hal yang percuma. Meskipun Nabi Muhammad SAW telah dijamin keselamatannya oleh Allah SWT, Nabi Muhammad SAW juga telah dijanjikan surga oleh-Nya, namun kita masih tetap disunnahkan mendoakan sholawat untuk Beliau. Bahkan Beliau pernah bersabda, bahwa umatnya yang paling utama derajatnya adalah yang paling sering bersholawat. Dan Beliau juga menyebut orang yang tak membaca sholawat ketika nama Beliau disebut sebagai orang yang pelit.

Imam Ibnu Hajar menukil maqalah para ulama mengatakan, “Membaca sholawat merupakan bukti kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, dan cara untuk mengagungkan Beliau.” Imam Ibnu Hajar juga mengatakan, “Pada hakikatnya orang yang membaca sholawat adalah orang yang mendoakan dirinya sendiri karena selama kita mau bersholawat kepada Nabi, maka Allah akan membalas pahala sholawat kita. Dan kita yang bersholawat pada hakikatnya juga sedang mengucapkan dzikir. Man ahabba syaian kasuro min dzikrihi (Kala kita mencintai sesuatu, maka kita akan banyak-banyak menyebutkannya.)” Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-Dabbagh memperkuat argumen ini, “Sebenarnya Allah tidak mensyari’atkan sholawat agar manfaatnya kembali kepada Nabi. Namun agar manfaatnya kembali kepada hamba itu sendiri.”

Pada akhirnya, sebenarnya kitalah yang lebih membutuhkan sholawat daripada Nabi. Kita membutuhkan sholawat untuk wasilah. Doa yang kita panjatkan belum akan terkabul dan masih tergantung di langit, sampai akhirnya kita menyisipkan sholawat dalam doa kita. Kemudian barulah doa tersebut diangkat ke langit. Demikian menurut satu riwayat hadis.

Kemudian jika kita renungkan kembali, segala kebaikan yang dilakukan umat Nabi merupakan hal yang diajarkan oleh Nabi. Nabi pernah bersabda, barang siapa yang mengajarkan kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang diajarinya. Pahalanya tak akan putus hingga hari akhir. Salat kita, puasa kita, zakat kita, dan amaliyah-amaliyah lain yang kita lakukan pahalanya juga akan sampai kepada Nabi, karena Beliaulah yang mengajarkan itu semua. Nabi setiap detik mendapatkan pahala dari setiap kebaikan ibadah yang dilakukan setiap umatnya. Pahala yang besarnya hanya mampu dihitung oleh Allah. Lantas masihkah kita berpikir bahwa Nabi membutuhkan pahala sholawat kita?[]

Keutamaan Membaca Basmalah

Bagi kalangan Syafi’iyah, basmalah atau bismillah, adalah bagian dari dari surat Al-Fatihah yang wajib dibaca saat melakukan salat. Diluar salat, banyak sekali faedah yang tersembunyi dibalik lafad basmalah. Di sunnahkan bagi kita untuk membaca basmalah ketika hendak melakukan pekerjaan apapun. Selagi pekerjaan itu baik, maka kita disunnahkan untuk membacanya.

Di ceritakan bahwa ada seorang istri yang mempunyai suami yang munafik. Sang istri ini mempunyai keistiqomahan membaca basmalah. Hampir disetiap perbuatannya selalu ia awali dengan membaca basmalah.

Karena suaminya seorang munafik yang tidak suka jika istrinya membaca basmalah, maka suatu ketika suaminya memikirkan sebuah rencana dan ia berkata: ”Akan aku lakukan sesuatu agar istriku melupakan kalimat yang selalu diucapkannya (basmalah)”. Kemudian ia memberikan sebuah kotak kepada istrinya dan berkata: ”Simpanlah kotak itu”. Sebagai seorang istri yang baik, ia pun mematuhi apa yang diperintahkan suaminya. Ia menyimpan kotak itu dan menutupinya serapi mungkin.

Lantas tanpa sepengetahuan istrinya, sang suami mengambil kotak itu. Ia mengambil isinya dan membuang kotaknya ke dalam sumur yang kebetulan letaknya di dalam rumah. Si suami sengaja hendak menjebak istrinya. Ia berpura-pura mencari kotak itu dan menanyakan kepada istrinya. Seketika itu juga si istri langsung mendatangi tempat dimana dulu ia menyimpan kotak itu sambil mengucapkan bismillah. Sesat itu juga, Allah SWT memerintahkan malaikat Jibril untuk turun dan mengambil kotak itu serta mengembalikannya ke tempat semula. Sang istri pun lantas memberikan kotak itu kepada suaminya.

Setelah kejadian itu, sang suami langsung takjub dan seketika itu juga ia bertobat. Cerita ini hanya sebagian kecil dari hikmah membaca basmalah. Masih banyak lagi hikmah-hikmah dan fadilah basmalah.

Jangan Lewatkan Puasa ‘Asyûrâ

Puasa ‘Asyûrâ, atau puasa pada tanggal sepuluh bulan Muharram memiliki fadilah dan keutamaan yang besar. Sebelum Allah SWT mewajibkan adanya puasa Ramadhan, terlebih dahulu nabi Muhammad SAW sudah menjalankan puasa ‘Asyûrâ. Hari  ‘Asyûrâ sendiri adalah hari yang bersejarah, banyak peristiwa-peristiwa besar yang dulu terjadi pada hari tersebut, seperti diterima taubatnya nabi Adam AS, padamnya api yang membakar nabi Ibrahim AS, diangkatnya nabi ‘Isa AS ke langit, diselamatkannya nabi Musa AS setelah raja Fir’aun ditenggelamkan di Laut Merah, dan banyak peristiwa lain.

Keutamaan puasa ‘Asyûrâ seperti termaktub dalam hadis-hadis Rasulillah amat banyak,

أَن النَّبِي، صلى الله عَلَيْهِ وَسلم، قَالَ: (صِيَام يَوْم عَاشُورَاء إِنِّي أحتسب على الله أَن يكفر السّنة الَّتِي قبله) رواه الترمذي عن حديث  أبي قتادة وَرَوَاهُ مُسلم وَابْن مَاجَه أَيْضا

Puasa hari ‘Asyûrâ, aku berharap kepada Allah untuk menghapus dosa-dosa tahun yang lalu.” (HR. Muslim, Ibn Majah, dan Turmudzi)

 قَالَ ابْن عَبَّاس: (لَيْسَ ليَوْم فضل على يَوْم فِي الصّيام إلاَّ شهر رَمَضَان أَو يَوْم عَاشُورَاء)

Sahabat Ibn ‘Abbas berkata, ‘Tiaklah setiap satu hari lebih utama untuk berpuasa daripada hari yang lain untuk digunakan berpuasa, kecuali puasa bulan Ramadhan dan hari ‘Asyûrâ’

وروى التِّرْمِذِيّ من حَدِيث عَليّ، رَضِي الله تَعَالَى عَنهُ: (سَأَلَ رجل النَّبِي، صلى الله عَلَيْهِ وَسلم: أَي شَيْء تَأْمُرنِي أَن أَصوم بعد رَمَضَان؟ قَالَ: صم الْمحرم، فَإِنَّهُ شهر الله، وَفِيه يَوْم تَابَ فِيهِ على قوم وَيَتُوب فِيهِ على قوم آخَرين) . وَقَالَ: حسن غَرِيب

Seorang lelaki bertanya kepada nabi Muhammad SAW, Pada haari apakah akan engkau perintahkan aku untuk berpuasa setelah bulan Ramadhan? Nabi menjawab ‘Berpuasalah pada bulan Muharram, karena itu adalah bulannya Allah. Pada bulan tersebut ada hari dimana Allah menerima taubat suatu kaum, dan ada hari dimana Allah menerima taubat untuk kaum yang lain.” (HR. Turmudzi)

Dan apabila kita menjalankan puasa ‘Asyûrâ, maka sebaiknya kita juga menjalankan puasa Tâsû’â’. Puasa di hari ke sembilan bulan Muharram.

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْمَهْرِيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ، أَنَّ إِسْمَاعِيلَ بْنَ أُمَيَّةَ الْقُرَشِيَّ حَدَّثَهُ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا غَطَفَانَ يَقُولُ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ: حِينَ صَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَنَا بِصِيَامِهِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ صُمْنَا يَوْمَ التَّاسِعِ»، فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سنن أبي داود

Saya mendengar ‘Abdullah bin ‘Abbas berkata, ketika nabi berpuasa hari ‘Asyûrâ dan memerintahkan kita untuk turut berpuasa, sahabat berkata: Wahai Rasulallah hari itu adalah hari yang diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani. Maka rasul bersabda, ‘Jika akan datang tahun yang akan datang, maka kita akan berpuasa pada hari ke sembilan.’ Akan tetapi tahun depannya tiba nabi telah wafat.” (Sunan Turmudzi)

Empat Wasiat Pertama Nabi Untuk Madinah

عن أبي يوسف عبد الله بن سلام رضي الله عنه قال: لما قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة انجفل الناس قِـبَـله، وقيل: قد قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم -ثلاثا-، فجئت في الناس لأنظر، فلما تبينت وجهه عرفت أن وجهه ليس بوجه كذاب، فكان أول شيء سمعته تكلم به أن قال: (يا أيها الناس: أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصِلُوا الأرحام، وصلّوا بالليل والناس نيام، تدخلوا الجنة بسلام) رواه أحمد والترمذي والحاكم، وصححه الترمذي والحاكم ووافقه الذهبي.

“Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di kota Madinah, orang-orang berduyun-duyun mendatangi beliau. Mereka berkata, ‘Rasul telah tiba!’. Akupun mengikuti kerumunan mereka untuk turut melihat. Ketika nampak wajah beliau, aku langsung tahu bahwa wajah beliau bukanlah wajah seorang pendusta. Hal pertama yang aku dengar dari beliau adalah ‘Wahai sekalian manusia! Sebarkanlah salam, berikanlah makanan, jalin silaturahim, dan salatlah pada malam hari ketika orang-orang tengah tertidur. Maka kalian semua akan masuk surga dengan selamat.’” (HR. Ahmad, Turmudzi, dan Al-Hakim)

Kedatangan Nabi Muhammad SAW ke kota Yastrib menjadi kabar gembira bagi penduduk kota tersebut. Mereka berbondong-bondong ingin tahu, dan ingin melihat langsung bagaimana rupa nabi yang selama ini telah dijanjikan. Tak luput pula, ‘Abdullâh bin Salâm, perowi hadis ini. Beliau merupakan salah seorang beragama yahudi yang paling terhormat di kota tersebut. Menurut sejarah, beliau masih keturunan nabi Yusuf AS, dan beliau bak lautan dalam hal keilmuan. Beliau banyak tahu akan kitab suci umat nabi Musa AS. tersebut.

‘Abdullâh bin Salâm yang ketika itu masih belum memeluk islam, menceritakan dalam hadisnya, bagaimana pertama kali kesannya berjumpa nabi, dan bagaimana sekilas suasana ketika itu. Kala itu orang-orang berteriak bahagia, “Rasul telah tiba!” hingga tiga kali. Mereka berduyun-duyun mengerumuni nabi besar Muhammad SAW yang ketika itu masih baru sampai di Quba’. Dengan hanya melihat wajah beliau saja, muncul benih-benih keimanan dalam hati ‘Abdullâh bin Salâm, ia langsung percaya dan membenarkan nabi Muhammad SAW.  Hal ini pulalah yang akhirnya diabadikan dalam Alquran (al-Ahqof: 10),

وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ

Menurut sebagian mufassir, sosok yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah ‘Abdullâh bin Salâm.

Dalam hadis tersebut, nabi mewasiatkan empat hal penting. Empat hal yang jika dapat dilakukan, beliau telah menjanjikan surga.

Wasiat Pertama: Sebarkanlah Salam

Salam adalah salah satu media dan jalan untuk menciptakan jalinan kasih sayang. Salah satu cara yang paling tepat untuk menebarkan kedamaian dan persaudaraan antar umat muslim dengan saling mendoakan. Wasiat nabi untuk menebarkan salam, tak kurang maksudnya adalah anjuran bagi kita untuk memperbanyak mengucapkan salam kepada setiap muslim yang kita temui. Beliau nabi pernah bersabda,

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (لا تدخلون الجنة حتى تؤمنوا، ولا تؤمنوا حتى تحابوا، أولا أدلكم على شيء إذا فعلتموه تحاببتم: أفشوا السلام بينكم) رواه مسلم

Dari sahabat Abu Hurairah RA beliau berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda ‘Kalian semua tidak akan masuk surga sebelum beriman. Dan kalian belum bisa  sempurna imannya sebelum saling mengasihi. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mengasihi? Sebarkanlah salam diantara kalian.’” (HR. Muslim)

Tidak sampai disini saja, salam juga termasuk salah satu syiar islam dan hak seorang muslim. Nabi bersabda:

عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (حق المسلم على المسلم ست)، قيل: ما هي يا رسول الله؟ قال: (إذا لقيته فسلم عليه, وإذا دعاك فأجبه, وإذا استنصحك فانصح له, وإذا عطس فحمد الله فشمته, وإذا مرض فعده, وإذا مات فاتبعه) رواه مسلم.

Dari sahabat Abu Hurairah RA, nabi pernah bersabda, ‘hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam perkara’. Sahabatpun bertanya, apakah itu wahai rasulallah? Nabi menjawab ‘Ketika kamu jumpa seorang muslim, maka ucapkanlah salam. Ketika kamu diundang, maka datangilah. Ketika ada muslim yang minta nasihat, maka nasihatilah. Ketika ada muslim yang bersin, kemudian membaca hamdalah, maka doakan. Ketika ada muslim yang sakit, maka jenguklah. Dan ketika ada muslim yang meninggal, maka hadirlah mengantarkannya.” (HR. Muslim)


[ads script=”1″ align=”center”]

Wasiat Kedua: Berikanlah Makanan

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِيناً وَيَتِيماً وَأَسِيراً * إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاء وَلَا شُكُوراً} (الإنسان: 8-9

Dan mereka (Al-Abrâr, orang-orang yang taat kepada Allah) memberikan makanan karena cinta kepada Allah untuk orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (Mereka berkata) ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.’” (QS. Al-Insan: 8-9)

Memberikan makanan juga menjadi amaliah yang merupakan perantara untuk masuk surga. Hal tersebut nyata, kala seorang sahabat menghadap nabi dan mengemukakan pertanyaan tentang amaliah yang menjadi perantara agar dapat memasuki surga-Nya.

عن هانئ أنه لما وفد على رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: يا رسول الله، أي شيء يوجب الجنة؟ قال: (عليك بحسن الكلام وبذل الطعام) رواه الطبراني.

Wahai rasul, apakah yang bisa menetapkan masuk surga? Nabi menjawab ‘Katakanlah perkataan yang baik, dan sedekahkanlah makanan.” (HR. Thabarâni)

Imam Al-Khatthabi menafsirkan, “Rasul SAW menjadikan amaliah yang terbaik adalah memberikan makanan yang merupakan kebutuhan pokok badan. Lalu beliau menyatakan bahwa perkataan yang paling baik adalah menebarkan salam, baik yang umum dan khusus, untuk orang yang tak kita kenal, atau orang yang kita kenal. Sehingga akhirnya bisa menjadi semata-mata keikhlasan untuk Allah. Karena salam adalah salah satu syiar islam.”

Fadhîlah menyedekahkan makanan akan semakin menumpuk kala kita memberikannya di saat yang tepat. Di saat banyak orang membutuhkannya. Sesuai firman-Nya,

أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَة} (البلد: 14)

“”Atau memberi makan pada hari kelaparan” (QS. Al-Balad)

Wasiat Ketiga: Jalin Silaturahim

{وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً} (النساء: 1)

Dan takutlah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (takutlah kalian semua untuk memutus) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (QS. Al-Nisâ’:1)

Menyambung silaturahim merupakan salah satu anjuran bagi umat muslim. Menjalin silaturahim selain memiliki nilai lebih dalam tahap sosialisasi dan hubungan antar manusia, juga memiliki nilai lebih dimata agama. Beberapa kali disebutkan bahaya memutuskan tali silaturahim dalam Alquran, hingga tak perlu lagi kiranya ditegaskan akan arti penting slaturahim dalam islam.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (من سره أن يُبسط له في رزقه أو ينسأ له في أثره فليصل رحمه) متفق عليه

Diriwayatkan dari sahabat Anas RA, aku pernah mendengar rasulullha SAW bersabda, ‘Barang siapa yang senang dilapangkan rizkinya, atau dipanjangkan umurnya, maka jalinlah silaturahim.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wasiat Terakhir: Dirikanlah Salat Malam

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفاً وَطَمَعاً} (السجدة: 16)

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada tuhannya dengan rasa takut (terhadap siksa-Nya) dan mengharap (rahmat-Nya). Dan dari rizki yang Aku berikan kepada mereka, merejka menafkahkannya.” (Al-Sajdah: 16)

Demikian kiranya Allah mengabadikan pujian-Nya kepada hamba-hambanya yang beriman dan mendirikan salat malam dalam Alquran. Malam adalah waktu yang tepat untuk berdoa dan bermunajat. Waktu yang tepat untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Nabi pernah bersabda kepada sahabat beliau, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash untuk tak lupa mendirikan salat malam saat terjaga,

وعن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قال: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: (يا عبد الله لا تكن مثل فلان، كان يقوم الليل فترك قيام الليل) متفق عليه

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, beliau berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda kepadaku, ‘Wahai Abdullah, jangan sampai kamu seperti si Fulan. Dia terjaga di malam hari namun meninggalkan qiyamul lail.’” (HR. Bukhari dan Muslim.)

وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (رحم الله رجلا قام من الليل فصلى وأيقظ امرأته، فإن أبت نضح في وجهها الماء, رحم الله امرأة قامت من الليل فصلت وأيقظت زوجها، فإن أبى نضحت في وجهه الماء) رواه أحمد وأصحاب السنن.

Allah merahmati seorang laki-laki yang melakukan qiyamul lail lalu mendirikan salat malam dan membangunkan istrinya. Ketika istrinya menolak, si laki-laki menyipratkan air di wajah istrinya. Allah merahmati seorang wanita yang melakukan qiyamul lail, lalu mendirikan salat dan membangunkan suaminya. Ketika suaminya menolak, ia menyipratkan air di wajah suaminya.” (HR. Ahmad)

Refleksi Hadis

Nabi yang diutus di jazirah Arab, tidak hanya diutus untuk bangsa Arab. Beliau diutus bahkan untuk sekalian alam. Beliau diutus menyebarkan agama islam. Membangun peradaban yang bermartabat, dan menghancurkan budaya-budaya jahiliyyah yang menyimpang dari ajaran agama.  Beban di pundak beliau seakan semakin berat, kala waktu itu beliau juga dinantikan kejadirannya di Yatsrib, sekarang menjadi Madinah, juga untuk mendamaikan pertikaian antar dua suku utama kota itu, Aus dan Khazraj. Pada akhirnya, beliau pulalah yang kemudian membangun peradaban dan menjadikan Madinah kota yang Mutamaddin, sebuah cikal bakal negri yang membentang luas, mengalahkan luasnya imperium adikuasa Persia saat itu. Bukan sebuah gambaran kota islam, namun kota yang tetap damai meski dihuni berbagai macam agama yang berdampingan. Hidup rukun meski berbeda, hidup saling berbagi meski sama-sama tak begitu memiliki.

Pesan pertama nabi ketika menyelesaikan perjalanan hijrah, sebuah catatan penting bagi kita. Beliau mewasiatkan empat hal untuk penduduk kota yang telah lama menunggu beliau.

عن أبي يوسف عبد الله بن سلام رضي الله عنه قال: لما قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة انجفل الناس قِـبَـله، وقيل: قد قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم -ثلاثا-، فجئت في الناس لأنظر، فلما تبينت وجهه عرفت أن وجهه ليس بوجه كذاب، فكان أول شيء سمعته تكلم به أن قال: (يا أيها الناس: أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصِلُوا الأرحام، وصلّوا بالليل والناس نيام، تدخلوا الجنة بسلام) رواه أحمد والترمذي والحاكم، وصححه الترمذي والحاكم ووافقه الذهبي.

“Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di kota Madinah, orang-orang berduyun-duyun mendatangi beliau. Mereka berkata, ‘Rasul telah tiba!’. Akupun mengikuti kerumunan mereka untuk turut melihat. Ketika nampak wajah beliau, aku langsung tahu bahwa wajah beliau bukanlah wajah seorang pendusta. Hal pertama yang aku dengar dari beliau adalah ‘Wahai sekalian manusia! Sebarkanlah salam, berikanlah makanan, jalin silaturahim, dan salatlah pada malam hari ketika orang-orang tengah tertidur. Maka kalian semua akan masuk surga dengan selamat.’” (HR. Ahmad, Turmudzi, dan Al-Hakim)
[ads script=”2″ align=”right” float=”right”]

Yang beliau sampaikan pertama kali bukanlah “dirikanlah salat malam”. Bukan itu yang beliau pentingkan pertama kali untuk mulai membangun kota Madinah. Justru hal tersebut menjadi hal terakhir dalam pesan beliau. ini memiliki makna yang dalam sebenarnya kala kita renungkan baik-baik.

Hal pertama yang paling penting, yang menjadi wasiat pertama nabi adalah “sebarkanlah salam”.  Secara harfiah memang bermakna sebarkanlah ucapan “assalâmu’alaikum”, namun ada kandungan lain. Yang sejatinya kita sebarkan pertama kali adalah kedamaian. Membutuhkan kedamaian untuk membangun sebuah kota yang rukun. Sejatinya yang kita utamakan sebelum memulai membangun banyak hal adalah membangun arti kedamaian.

Kemudian nabi melanjutkan wasiatnya dengan “sedekahkanlah makanan”. Yang kita sedekahkan secara lahiriyah adalah sebentuk makanan pokok. Namun lebih dari itu, kita diberi wejangan setelah terbentuknya kedamaian dengan memperkuat ekonomi. Memperkuat kekuatan dan modal untuk mulai membangun masyarakat yang lebih bermutu. Tidak dengan ekonomi yang lemah, namun dengan ekonomi yang kuat. Memliliki banyak harta berarti memliki banyak kesempatan untuk banyak-banyak bersedekah.

Yang ketiga, “jalin silaturahim”. Memiliki masyarakat yang damai dan kuat membutuhkan kekompakan. Membutuhkan rasa saling mengerti dan saling menyayangi. Dengan silaturahim, hubungan antar satu insan dengan insan yang lain akan semakin kuat. Hubungan persaudaraan akan terbentuk, dan gambaran negri yang mutamaddin akan semakin dekat. Yang nampak sebenarnya adalah persaudaraan lahir, namun sejatinya, diam-diam kita tengah membangun sebuah komunitas yang bersatu lahir dan batin.

Baru kemudian nabi berwasiat untuk beribadah kepada-Nya, “dirikanlah salat tatkala orang-orang sedang pulas tertidur”. Sebuah tujuan akhir, tatkala sudah terbentuk negri yang damai dan kuat, barulah kita dapat tenang beribadah kepada-Nya. Setelah terbentuk sebuah masyarakat yang madani, baru kita dapat dengan tenang menyembah-Nya. Kita patut berkaca pada saudara-saudara kita yang jauh, di negri mereka yang dilanda peperangan, yang kedamaiannya hilang, yang ekonominya berantakan, yang warganya saling bermusuhan, bagaimana mungkin mereka dapat beribadah dengan tenang? Bagaimana mungkin mereka dapat menunaikan salat malam dengan khusu’, sementara nyawa mereka sedang dalam bahaya?

Ini menjadi sebuah renungan yang paling penting. Sebenarnya makanah yang paling musti kita dahulukan? Egois membentuk komunitas dengan membawa-bawa nama islam? Ataukah lebih baik membangun sebuah bangsa yang kuat dan damai, hingga akhirnya dengan sendirinya agama islam dapat membentuk komunitas yang kuat didalamnya? []

Amalan di Bulan Mulia Muharram

Berakhirnya buan Dzulhijjah dan datangnya bulan Muharram menjadi penanda tutup tahun bagi umat muslim di seluruh dunia. Umat muslim yang memakai penanggalan hijriyah, dengan menggunakan rotasi bulan sebagai rujukannya, memiliki dua belas pergantian bulan dalam setiap tahunnya. Sama persis seperti penanggalan masehi. Bulan pertama adalah bulan Muharram, dan bulan terakhir adalah bulan Dzulhijjah.

Banyak yang istimewa dari bulan Muharram ini. Selain termasuk rangkaian bulan yang dimuliakan dalam agama islam, banyak juga amalan dan doa khusus yang bisa kita amalkan pada saat-saat tertentu di bulan Muharram.

Muharram merupakan bulan kedua yang paling utama untuk melaksanakan ibadah puasa dalam islam, di samping Ramadlan. Setelah bulan Muharram, bulan terbaik untuk berpuasa adalah bulan Rajab, Dzulhijjah, Dzulqodah, kemudian Sya’ban.

Imam Ibnu Hajar pernah meriwayatkan hadits dari Sayyidah Hafshah ra.,

من صام أخر يوم من ذي الحجة و أول يوم من المحرم، جعله الله كفارة خمسين سنة. وصوم يوم من المحرم بصوم ثلاثين يوما

Barang siapa berpuasa di hari terakhir bulan Dzulhijjah dan hari pertama bulan Muharram, maka Allah swt. akan menjadikannya sebagai pelebur dosa selama lima puluh tahun. Dan puasa sehari di bulan Muharram sama dengan puasa tiga puluh hari di bulan lainnya”

Dikutip pula dari kitab Ihya’ Ulumuddin[1] karya Imam Al-Ghazali, beliau pernah menukil satu hadis:

عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه قال: من صام ثلاثة أيام من شهر الحرام الخميس والجمعة والسبت، كتب الله تعالى له عبادة سبع مئة سنة

Barang siapa yang mau berpuasa di tiga hari pada bulan mulia: hari Kamis, Jumat, dan Sabtu, maka Allah swt. (memerintahkan pada malaikat untuk) menuliskan baginya pahala beribadah selama tujuh ratus tahun.”

[ads script=”2″ align=”left” float=”left”]

Doa-Doa yang Bisa Dibaca di Bulan Muharram

Doa ini bisa dibaca pada sepuluh hari pertama bulan Muharam tiga kali sehari. Faidahnya, siapa yang mau membaca doa ini akan terjaga dari gangguan setan selama setahun penuh.

اَللَّهُمَّ إِنَّكَ قَدِيْمٌ وَهَذَا الْعَامُ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، وَسَنَةٌ جَدِيْدَةٌ قَدْ أَقْبَلَتْ، نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَنَسْتَكْفِيْكَ فَوَاتَهَا وَشُغْلَهَا، فَارْزُقْنَا الْعِصْمَةَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

اَللَّهُمَّ إِنَّكَ سَلَّطْتَ عَلَيْنَا عَدُوًّا بَصِيْرًا بِعُيُوْبِنَا، وَمُطَّلِعًا عَلَى عَوْرَاتِنَا، مِنْ بَيْنِ أَيْدِيْنَا وَمِنْ خَلْفِنَا، وَعَنْ أَيْمَانِنَا وَعَنْ شَمَائِلِنَا، يَرَانَا هُوَ وَقَبِيْلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا نَرَاهُمْ

اَللَّهُمَّ آيِسْهُ مِنَّا كَمَا آيَسْتَهُ مِنْ رَحْمَتِكَ، وَقَنِّطْهُ مِنَّا كَمَا قَنَّطْتَهُ مِنْ عَفْوِكَ، وَبَاعِدْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ كَمَا حُلْتَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَغْفِرَتِكَ، إِنَّكَ قَادِرٌ عَلَى ذَلِكَ، وَأَنْتَ الْفَعَّالُ لِمَا تُرِيْدُ

وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم

Ya Allah, Engkau adalah zat yang Maha Dahulu. Tahun ini adalah tahun baru yang telah menjelang. Dan tahun baru yang telah datang. Kami memohon kepada-Mu kebaikan-kebaikan di tahun ini, dan kami mohon perlindungan dari-Mu dari keburukan-keburukan di tahun ini. Kami mencukupkan diri pada-Mu dari kehilangan-kehilangan kesempatan dan kesibukan-kesibukan di tahun ini. Maka berilah kami rizki bisa terlindung dari setan yang terkutuk. Ya Allah, Engkau memberikan kekuasaan setan yang menjadi musuh bagi kami dan bisa melihat kekurangan-kekurangan kami, bisa mengetahui cela-cela kami, dari depan, belakang, kanan, dan kiri kami. Mereka dan golongan mereka bisa melihat kami sementara kami tak bisa melihat mereka. Ya Allah, putus asakanlah mereka dari kami, sebagaimana Engkau putus asakan mereka untuk mendapatkan rahmat-Mu. Putuskanlah harapan mereka dari kami, sebagaimana engkau menjadikan mereka putus harapan dari pengampunan-Mu. Jauhkanlah mereka dari kami, sebagaimana Engkau menghalangi mereka dari maaf-Mu. Engkaulah Zat yang mampu untuk melakukan hal tersebut, dan Engkaulah Zat yang Maha melakukan atas segala yang Engkau kehendaki. Salawat dan salam semoga selalu terhaturkan untuk junjungan kita Nabi Muhammad saw., keluarga, dan para sahabat.”

Amalan di Hari Asyura

Hari asyura (عاشوراء) adalah hari kesepuluh bulan Muharram. Hari ini bisa dibilang salah satu hari yang paling khusus dan istimewa pada bulan tersebut. Dulu, sewaktu Nabi Muhammad saw. tiba di Madinah, orang-orang Yahudi Madinah selalu berpuasa pada hari tersebut. Nabi lalu menganjurkan pula kepada umatnya untuk berpuasa pada hari tersebut. Hanya saja beliau menambahkan pula kesunnahan puasa pada sehari sebelumnya, agar berbeda dengan tradisi orang-orang Yahudi. Puasa hari kesembilan itu disebut puasa tâsu’a. Pahala puasa pada hari asyura sendiri sangat besar. Diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas ra., bahwasanya Rasulullah saw. pernah bersabda:

 مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى ثَوَابَ عَشْرَةِ آلافِ مَلَكٍ  وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشْرَةِ آلَافِ حَاجٍّ وَمُعْتَمِرٍ وَعَشْرَةِ آلافِ شَهِيدٍ ، وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً ، وَمَنْ فَطَّرَ مُؤْمِنًا لَيْلَةَ عَاشُورَاءَ فَكَأَنَّمَا أَفْطَرَ عِنْدَهُ جَمِيعُ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ، وَأَشْبَعَ بُطُونَهُمْ

Barang siapa yang berpuasa pada hari asyura di bulan Muharram, maka Allah SWT akan memberikannya pahala sepuluh ribu malaikat. Dan barang siapa yang mau berpuasa pada hari asyura di bulan Muharram, maka ia akan diberikan pahala sepuluh ribu orang yang menunaikan ibadah haji, umrah, dan sepuluh ribu pahala orang yang mati syahid. Dan siapa yang mengusap kepala anak yatim pada hari asyura, maka Allah swt. akan mengankat ntuknya, setiap helai rambut satu derajat. Dan barang siapa yang memberi hidangan berbuka pada malam asyura, maka seakan-akan ia memberikan hidangan berbuak untuk seluruh umat Muhammad saw., dan mengenyangkan perut mereka semua.[2]

Pada malam asyura dianjurkan untuk tidak tidur, menghidupkan malam harinya. Karena faidah dan fadhilahnya sangatlah besar. Kita dapat menghidupkan malam asyura dengan membaca Alquran, mendengarkannya, atau melantunkan zikir-zikir yang warid, telah diajarkan nabi.

Pada siang harinya kita juga tak luput dari anjuran untuk senantiasa berdoa dan membaca tasbih. Dalam kitab Fadhâil Al-‘Âsyûriyyah, yang dikutip pula dalam kitab Kanzun Najah wa Surur, siapa yang mau membaca “Hasbunallâh wa ni’mal wakîl, ni’mal mulâ wa ni’ma al-nashîr” sebanyak tujuh puluh kali maka Allah swt. akan mencegahnya dari keburukan pada tahun tersebut.[]

[1] Ihya Ulumuddin Jilid 1 Hal 237.

[2] Hadis marfu’ dalam kitab Tanbihul Ghafilin. Hal 139. Cet. Haramain.