Category Archives: Angkring

Keutamaan Salat Malam

Syahdan. Ada seorang laki-laki yang membeli budak. Setelah budak itu dia miliki, si budak berkata: “Wahai tuanku, izinkan saya meminta tiga persyaratan: Pertama, janganlah tuan melarang saya untuk melaksanakan salat ketika sudah masuk waktunya. Kedua, pekerjakanlah aku siang hari dan janganlah tuan mempekerjakan atau menyibukkanku saat malam hari. Ketiga, buatkanlah rumah untukku yang tidak boleh dimasuki siapapun kecuali diriku”. Sang majikan menjawab: “Akan aku kabulkan permintaanmu. Lihatlah rumah-rumah itu, silahkan kamu memilihnya”.

Budak itu mengelilingi dari satu rumah ke rumah lainnya. Akhirnya dia memilih sebuah rumah yang rusak, sebuah gubug yang tidak layak huni.

Mengetahui pilihan si budak, sang majikan bertanya: “Kenapa kamu memilih gubug itu?” Budak itu menjawab: “Wahai tuanku, apakah anda tidak mengerti bahwa sebuah rumah rusak ketika ada Allah SWT maka akan ramai dan akan menjadi taman?”. Sang majikan akhirnya mengiyakan pilihan si budak dan diapun lantas menempatinya.

Hingga suatu malam, laki-laki itu mengajak teman-temannya untuk sekedar minum dan bermain. Setelah jamuannya sudah habis dan teman-temannya pulang, ia pun pergi mengelilingi rumahnya dan tanpa disengaja ia melihat kamar budaknya yang bersinar dimana cahaya itu turun dari langit. Ia melihat budaknya sedang bersujud dan bermunajat kepada Tuhannya. Dia mendengar si budak berdoa: “Ya Allah, telah Engkau wajibkan atas diri hamba untuk untuk melayani majikan hamba di siang hari. Seandainya tidak seperti itu, hamba tidak akan menyibukkan diri ini dengan siapapun kecuali hamba sibukkan diri ini hanya kepadaMu di waktu siang dan malam hari. Untuk itu, ampunilah hamba”. Tanpa sadar, sang majikan tidak berhenti melihat budaknya yang sedang bermunajat itu hingga fajar muncul. Kilau cahaya dari langitpun kembali naik, hilang, tanpa merusak atap gubug tempat si budak bermunajat.

Sang majikan lantas menceritakan peristiwa malam itu pada istrinya. Pada malam selanjutnya, sang majikan beserta istrinya berdiri di pinggir kamar budaknya, mereka melihat kembali cahaya turun dari langit, sementara budaknya dalam keadaan bersujud, bermunajat kepada Allah hingga terbitnya fajar. Setelah itu mereka berdua memanggil budaknya dan mereka berkata: “Sesungguhnya kamu telah merdeka di hadapan Allah, sehingga kamu melayani orang yang sudah merepotkanmu.” Sang majikan menceritakan apa yang ia lihat bersama istrinya akan karomah yang si budak miliki. Ketika si budak mendengar cerita itu, ia lantas langsung mengangkat kedua tangannya dan berdoa: “Ya Allah, bukankah hamba sudah berdoa kepadaMu agar menutup rahasia dan keadaan hamba. Maka ketika Engkau sudah membuka rahasia hamba ini, cabutlah nyawa hamba ini.” Dan seketika itu juga, budak itu terjatuh. Meninggal dunia.

Sejarah Masjid Lirboyo

Semula masjid itu amat sederhana sekali, tidak lebih dari dinding dan atap yang terbuat dari kayu. Namun setelah beberapa lama masjid itu digunakan, lambat laun bangunan itu mengalami kerapuhan. Bahkan suatu ketika bangunan itu hancur porak poranda ditiup angin beliung dengan kencang. Akhirnya KH. Muhammad yang tidak lain adalah kakak ipar KH. Abdul Karim sendiri mempunyai inisiatif untuk membangun kembali masjid yang telah rusak itu dengan bangunan yang lebih permanen. Jalan keluar yang ditempuh KH. Muhammad, beliau menemui KH. Abdul Karim guna meminta pertimbangan dan bermusyawarah. Tidak lama kemudian seraya KH. Abdul Karim mengutus H. Ya’qub yang tidak lain adik iparnya sendiri untuk sowan berkonsultasi dengan KH. Ma’ruf Kedunglo mengenai langkah selanjutnya yang harus ditempuh dalam pelaksanaan pembangunan masjid tersebut.

Dari pertemuan antara H. Ya’qub dengan KH. Ma’ruf Kedunglo itu membuahkan persetujuan, yaitu dana pembangunan masjid dimintakan dari sumbangan para dermawan dan hartawan. Usai pembangunan itu diselesaikan, peresmian dilakukan pada tanggal 15 Rabi’ul Awwal 1347 H. / 1928 M. Acara itu bertepatan dengan acara ngunduh mantu putri KH. Abdul Karim yang kedua , Salamah dengan KH. Manshur Paculgowang.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Dalam tempo penggarapan yang tidak terlalu lama, masjid itu sudah berdiri tegak dan megah (pada masa itu) dengan mustakanya yang menjulang tinggi, dinding serta lantainya yang terbuat dari batu merah, gaya bangunannya yang bergaya klasik, yang merupakan gaya arsitektur Jawa kuno dengan gaya arsitektur negara Timur Tengah.

Untuk mengenang kembali masa keemasan Islam pada abad pertengahan, maka atas prakarsa KH. Ma’ruf pintu yang semula hanya satu, ditambah lagi menjadi sembilan, mirip kejayaan daulat Fatimiyyah.

Selang beberapa tahun setelah bangunan masjid itu berdiri, santri kian bertambah banyak. Maka sebagai akibatnya masjid yang semula dirasa longgar semakin terasa sempit. Kemudian diadakan perluasan dengan menambah serambi muka, yang sebagian besar dananya dipikul oleh H. Bisyri, dermawan dari Branggahan Kediri. Pembangunan ini dilakukan pada tahun sekitar 1984 M.

Tidak sampai disitu, sekitar tahun 1994 M. ditambahkan bangunan serambi depan masjid. Dengan pembangunan ini diharapkan cukupnya tempat untuk berjama’ah para santri, akan tetapi kenyataan mengatakan lain, jama’ah para santri tetap saja membludak sehingga sebagian harus berjamaah tanpa menggunakan atap. Bahkan sampai kini bila berjama’ah sholat Jum’at banyak santri dan penduduk yang harus beralaskan aspal jalan umum.

Untuk menjaga dan melestarikan amal jariyyah pendahulu serta menghargai dan melestarikan nilai ritual dan histories, sampai sekarang masjid itu tidak mengalami perobahan, hanya saja hampir tiap menjelang akhir tahun dinding-dindingnya dikapur dan sedikit ditambal sulam.

Hadiah Bagi Muslim di Hari Jum’at

Tidak hanya ‘idul fitri dan ‘idul adha, jumat juga disebut sebagai hari rayanya umat muslim. Hari jumat mendaatkan tempat yang istimewa diantara hari-hari yang lain disetiap minggu. Ada puluhan khususiyyah, hal yang istimewa dan hanya ada pada hari jumat dan sayang untuk kita lewatkan sebagai muslim sejati. Imam Jalaluddin Al-Suyuti dalam risalahnya, “Nurul Lam’ah; Fî khosôisil Jum’ah” setidaknya merangkai seratus satu keistimewaan hari jumat. Keistimewaan-keistimewaan yang hanya ada pada hari tersebut.

Dirangkai lengkap dengan hadis-hadis yang menerangkan hal terkait, risalah tersebut serasa menjadi penyemangat untuk membangkitkan kembali himmah dan semangat kita dalam beribadah kepada-Nya. Lantas apa saja amalan yang seyogyanya tidak boleh kita lewatkan pada hari tersebut?

Salat Subuh di Hari Jumat Adalah Salat yang Terbaik Disisi-Nya

Bertendensikan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dan hadis lain yang diriwayatkan Imam Bazzâr dan Imam Thabarâny, salat subuh di hari jumat secara berjamaah merupakan salat yang jangan sampai terlewatkan,

“إن أفضل الصلوات عند الله صلاة الصبح يوم الجمعة فى جماعة” رواه البيهقي

Salat yang paling utama disisi Allah adalah salat subuh dihari jumat seraya berjamaah” (HR. Al-Baihaqi)

“ما من الصلوات صلاة أفضل من صلاة الفجر يوم الجمعة فى الجماعة, وما أحسب من شهدها إلا مغفورا له” رواه البزار واطبرني فى الكبير والأوساط.

Tidak ada salat yang lebih utama dibandingkan dengan salat subuh dihari jumat seraya berjamaah. Dan tidaklah dihitung orang-orang yang menghadirinya kecuali mereka telah diampuni dosa-dosanya.” (HR. Bazzâr dan HR. Thabarâny)

Pahala Salat Jumat Seperti Pahala Orang Berhaji

Salat jumat, sebagai salat yang dilakukan setiap minggu satu kali di masjid-masjid jami’ memiliki pahala yang sangat besar. Saking besarnya pahala salat jumat, pahalanya sama dengan pahala orang yang menunaikan ibadah haji.

“الجمعة حج المساكين” أخرجه حميد بن زنجويه فى فضائل الأعمال

Salat jumat adalah hajinya orang-orang miskin.

Meskipun hadis ini tergolong hadis yang berstatus dha’if, namun tidak ada salahnya kita menggunakan hadis ini sebagai pedoman untuk fadhailul a’mal.

Bacaan di Siang dan Malam Hari Jumat

Tidak ada banyak wirid khusus yang warid dari Rasulillah SAW. Yang paling dianjurkan ketika datang hari jumat adalah kita memperbanyak membaca salawat kepada baginda nabi Muhammad SAW, seperti apapun bentuk salawatnya. Banyak sekali hadis yang jelas menerangkan tentang hal ini,

“أكثروا من الصلاة علي فى كل يوم جمعة, فمن كان أكثرهم علي صلاة كان أقربهم منى منزلة” رواه البيهقي

Perbanyaklah membaca salawat kepadaku setiap hari jumat. Barangsiapa diantara kalian yang paling banyak membaca salawatnya kepadaku, maka dialah yang paling dekat derajatnya denganku.” (HR. Al-Baihaqi)

“أكثروا من الصلاة علي فى يوم الجمعة و ليلة الجمعة, فمن فعل ذلك كنت شهيدا أو شفيعا له يوم القيامة” رواه البيهقي

Perbanyaklah membaca salawat kepadaku di hari jumat dan malam harinya. Barangsiapa yang melakukannya, maka aku akan menjadi saksinya atau orang yang mensyafa’atinya kelak di hari akhir.” (HR. Al-Baihaqi)

Dan masih banyak lagi faidah salawat dalam hadis-hadis nabi lain, seperti kelak dihari kiamat ketika ia dibangkitkan kembali wajahnya akan memancarkan sinar jika dibaca seratus kali, dan tidak akan meninggal sebelum sempat melihat tempatnya disurga ketik dibaca hingga seribu kali. Allah SWT juga akan mengabulkan hingga seratus hajat orang-orang yang bersalawat di siang hari dan malam hari jumat.

Selain bacaan salawat, umat muslim juga dianjurkan untuk membaca surat Al-Kahfi pada siang hari dan malam harinya, dari hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim,

“من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة أضاء له من النور مابين الجمعتين” رواه الحاكم

Siapa yang membaca surat Al-Kahfi di hari jumat, maka ia akan diterangi cahaya diantara dua jumat.” (HR. Hakim)

” من قرأ الكهف يوم الجمعة فهو معصوم إلى ثمانية أيام, وإن خرج الدجال عصم منه” رواه الضياء فى المختارة

Siapa yang membaca surat Al-Kahfi dihari jumat, maka orang tersebut akan terjaga selama delapan hari. Seandainyapun Dajjal keluar, orang tersebut tetap terjaga darinya.

Selain surat Al-Kahfi tersebut, kita juga disarankan untuk membaca surat Al-Dukhân dan surat Yâsîn.

“من قرأ حم الدخان فى ليلة الجمعة غفر له” رواه الترمذي

Siapa yang membaca surat Hâ Mîm Al-Dukhân pada malam jumat maka akan diampuni dosanya.” (HR. Tirmidzi)

من قرأ حم الدخان في ليلة الجمعة أو يوم الجمعة بنى الله له بيتا فى الجنة” رواه الطبرني

Siapa yang membaca surat Hâ Mîm Al-Dukhân pada malam jumat atau siang harinya, maka Allah membangun untuknya rumah di surga.” (HR. Thabarani)

“من قرأ ليلة الجمعة حم الدخان و يس أصبح مغفورا له” رواه البيهقي

Siapa yang membaca surat Hâ Mîm Al-Dukhân dan surat Yâ Sîn pada malam jumat maka ia akan tiba dipagi hari dalam keadaan telah diampuni dosanya.” (HR. Al-Baihaqi)

Seusai salat jumat juga dianjurkan untuk membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas dan Al-Mu’awwidzatain sebanyak masing-masing tujuh kali. Faidahnya, orang yang membaca amalan ini akan diampuni dosanya diantara dua jumat.

Perbanyaklah Berdoa

Salah satu hadiah yang paling istimewa bagi umat muslim di hari jumat adalah ada waktu dimana setiap doa yang kita panjatkan tidaklah ditolak. Ada satu waktu tersembunyi yang Allah SWT rahasiakan persisnya. Ketika kita beruntung menjumpai waktu tersebut, maka doa yang kita panjatkan pasti akan dikabulkan oleh-Nya.

“فيه ساعة لا يوافقها عبد مسلم وهو قائم يصلى يسأل الله شيئا إلا أعطاه.وأشار بيده يقللها” متفق عليه

Disana terdapat satu waktu, tidaklah seorang hamba yang sedang salat dan menemui waktu tersebut lalu meminta sesuatu kecuali akan dikabulkan. Rasulullah memberikan isyarat dengan tangan beliau kalau waktu itu sangat sebentar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“إن فى الجمعة لساعة لا يوافقها مسلم يسأل الله فيها خيراإلا أعطاه  إياه، هي ساعة خفية” رواه مسلم

Pada hari jumat ada waktu tersendiri, tidaklah seorang muslim yang menjumpainy dan meminta kepada Allah kecuali akan dikabulkan. Waktu itu tersamarkan” (HR. Muslim)

Jangan Lupa Berziarah Kubur

Hari jumat tiba, jangan lupa mendoakan orang-orang yang telah mendahului. Apalagi jika itu adalah orang yang kita sayangi,

“من زار قبر أبويه أو أحدهما فى كل جمعة غفر له وكتب برا” رواه الترمذي

Siapa yang menziarahi makam kedua orang tuanya setiap hari jumat, maka dosanya diampuni dan dicatat baginya kebaikan.” (HR. Turmudzi)

Demikian tadi sekilas beberapa fadhilah yang hanya ada pada hari jumat. Allah SWT memberikan dan menjanjikan hadiah yang besar kepada hamba-hamba-Nya. Namun terkadang kita sengaja tidak mengambil hadiah-hadiah tersebut. Jika kita sudah tahu, mengapa tidak kita mencoba untuk mengamalkannya secara istiqâmah, walaupun hanya satu. wallâhu a’lam.[]

Surat Izin Merokok Santri Lirboyo

Ini bukan kali pertama saya menikmati bulan puasa di pondok Lirboyo. Beberapa tahun yang lalu juga pernah singgah, berharap dapat satu-dua ilmu pengetahuan agama, serta sepercik berkah untuk bekal meninggalkan alam fana. Karenanya, saya tidak butuh waktu terlalu lama untuk menyesuaikan diri dengan aktivitas di sini, terlebih saya memang punya latar belakang pesantren. Bulan Ramadan kali ini, di Pondok Lirboyo kelihatan sekali lebih banyak dihuni santri pendatangnya. Hal ini terlihat saat salat berjamaah atau mengikuti pengajian, banyak santri yang tidak memakai kopiah hitam.

Untuk mereka yang baru pertama kali, apalagi tidak ‘kenal’ dengan suasana di dalam pesantren, tentu terasa berbeda ikut posonan/ pengajian kilatan di pesantren. Banyak dari mereka yang kemudian menemukan sesuatu yang wah, unik, menarik, atau lain sebagainya, karena memang banyak hal yang baru kali ini mereka jumpai.

Larangan-Merokok-Santri-Pondok-Lirboyo
Terlihat papan larangan merokok pada tembok depan sebuah asrama Pondok Lirboyo

Diantara sesuatu yang dimata mereka menarik itu adalah, pertama, betapa ternyata kehidupan di Pondok Lirboyo itu penuh dengan kebersamaan, keakraban, keceriaan, tenggang rasa, penuh dengan hal-hal mengasikkan. Karena hal inilah, menjadi wajar ketika sudah menjadi alumni keakraban mereka tetap terjalin. Setidaknya begitulah yang saya lihat. Kedua, ternyata di Pondok Lirboyo setiap orang diharuskan bersikap dewasa, dituntut untuk disiplin mematuhi berbagai peraturan sebagai upaya agar bisa fokus pada tujuan keberhasilan belajar. Jangankan bisa menikmati sosial media lewat gadget atau keluar ke warnet, mendengarkan radio saja tidak diperbolehkan. Selain di Pondok Lirboyo, dua hal ini saya kira juga bisa kita temukan pada pesantren lain, khususnya pesantren-pesantren salaf.

Pun bagi sebagian yang lain, tentu ada yang merasa terkekang karena terlalu banyaknya peraturan yang harus dipatuhi. Terutama mereka yang secara usia masih belia, dimana ketika di rumah waktunya lebih banyak dihabiskan untuk bermain dengan teman seusianya. Atau juga mereka yang di rumah sudah terbiasa melakukan ‘aktivitasnya orang dewasa’. Baik sekedar bermain game via gadget, bersosmed ria, hingga menikmati tembakau, tentu menikmati bulan puasa di pondok pesantren menjadi hari-hari yang melelahkan.

Tapi bagi saya pribadi, setidaknya tahun ini ada dua pemandangan menarik yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pertama adalah tentang diberlakukannya peraturan bahwa santri perokok harus mempunyai Surat Izin Merokok (SIM). Beberapa tahun ke belakang, peraturan tentang rokok hanya dibatasi usia. Santri Lirboyo diperbolehkan merokok dengan ketentuan usia mereka sudah lebih dari 20 tahun.

Bentuk dan ukuran kartu SIM ini sama dengan kartu SIM (Surat Izin Mengemudi) yang dikeluarkan kepolisian. Meskipun dari sisi kualitas bahannya lebih bagus miliknya kepolisian, tapi kalau bicara soal teknis mendapatkannya, rasanya masih sulit SIMnya pondok ini.

Untuk mendapatkan kartu ini kang santri harus berjuang. Karena ternyata, setelah coba tanya-tanya, teknis mendapatkan SIM ini tidaklah mudah. Syarat dan mekanismenya sebagai berikut:

1. Berusia minimal 20 tahun;

2. Membuat Surat Keterangan Izin yang ditandatangani orang tua/ wali bahwa anak yang bersangkutan telah direstui merokok;

3. Menunjukkan Surat Keterangan Izin dan Kartu Keluarga (KK) kepada sekretaris pondok untuk mendapatkan Formulir Pemotretan yang hanya dilayani pada jam kerja;

4. Selanjutnya menunjukkan Surat Keterangan Izin dari orang tua/wali, Kartu Keluarga (KK) dan Formulir Pemotretan kepada Pimpinan Pondok pada jam kerja untuk disahkan;

5. Mengikuti pemotoan SIM (Surat Izin Merokok) di kantor Seksi Pramuka dengan membawa Surat Keterangan Izin dari orang tua/ wali, Kartu Keluarga (KK) dan formulir pemotretan.

Selain mekanisme yang tidak mudah, kang santri yang merokok juga harus mematuhi kewajiban, larangan, dan tentunya sanksi yang diberlakukan terkait program kepemilikan SIM ini. Diantara kewajibannya adalah membawa SIM disaat merokok atau membawa rokok, dan juga harus menunjukkan SIM saat membeli rokok. Sedangkan diantara larangannya adalah tidak boleh merokok di area-area yang telah ditetapkan steril dari asap rokok.

Santri-Pondok-Lirboyo-Dilarang-Merokok
Salah satu sudut area yang dilarang merokok.

Pemandangan kedua yang menurut saya menarik adalah, banyaknya santri yang terlihat masih memasuki usia-usia sekolah dasar atau masih belia. Menarik karena hal ini bagi saya menimbulkan rentetan pertanyaan. Misalnya pertanyaan: Apakah saat ini memang sudah dimulainya masa kejayaan pendidikan pondok pesantren berbasis salaf? Ada apa dengan lingkungan sekitar kampung halaman mereka, sampai-sampai sedini itu orang tua memasukkan buah hatinya ke pesantren?

Terlepas dari pertanyaan itu, kehadiran mereka ikut pesantren kilat menambah suasana jadi asik. Apalagi kalau melihat mereka di dalam kelas atau sedang mengikuti pengajian. Terlihat sekali pak ustadz yang memberikan materi harus ekstra sabar. Jangankan berharap mereka bisa langsung menangkap atau memahami dan mempraktekkan materi yang disampaikan, untuk bisa duduk manis dengan rapi saja butuh perjuangan. Sabar pak ustadz, saya yakin perjuanganmu tidaklah sia-sia.

Penulis : M. Al Faris

AL-DIFA’ ‘ANIL WATHAN: Kitab Cinta Tanah Air Karya Kyai Muda Lirboyo

Kitab bernama asli AlDifa’ ‘An Al-Wathan Min Ahammi Al-Wâjibâti ‘Alâ Kulli Wâhidin Minnâ (Membela tanah air: Sebagaian diantara kewajiban setiap individu) ini alhamdulillah telah diterbitkan kembali dalam edisi cetak. Kitab karya asli Agus HM. Sa’id Ridhwan, salah satu dzuriyyah Pondok Pesantren Lirboyo ini sebelumnya memang pernah terbit dalam edisi terbatas untuk digunakan mengaji bandongan. Itupun hanya dengan cara difotokopi. Namun sekarang, kitab ini bisa didapatkan kembali di toko-toko dengan format yang lebih bagus.

Kitab ini membahas tentang seberapa pentingnya mencintai tanah air dan seberapa penting artinya bagi kita. Disertai dengan referensi dan beberapa kutipan dari maqolah-maqolah, dan pendapat-pendapat ulama kontemporer, kitab ini semakin menarik. Dalam muqadimahnya, beliau mengutip firman Allah SWT, Surat Al-Taubah: 41. “Berangkatlah (berperang) kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” Beliau menegaskan bahwa hari ini salah satu yang paling kita butuhkan adalah perihal membela tanah air dari segala macam upaya yang merusak persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. Kita juga harus punya upaya untuk menjadikan bangsa kita bangsa yang mandiri dan berkembang tanpa membutuhkan bangsa lain. Banyak dari kita yang telah membuat kesalahan pemahaman, bahwa kewajiban seorang mukmin (baca: muslim) hanyalah memperbaiki dan peduli terhadap aspek keagamaan saja. “Ini adalah keliru pemahaman yang salah dan merugikan” tulis beliau. Kewajiban kita seharusnya adalah, selian tetap memperhatikan aspek keagamaan, kita harus memperhatikan masalah kecintaan dan upaya kita membela tanah air. Beliau menyebut, jika salah faham ini adalah salah satu penyebab kemerosotan kaum muslilim. Beliau mempertegas dengan kutipan hadis nabi, “Barang siapa tidak memperhatikan perkara umat muslim, maka bukan termasuk umat muslim.” Dan karena membela tanah air adalah salah satu upaya mempertahankan kelangsungan umat muslim, maka sejatinya dengan upaya kita membela tanah air juga adalah upaya kita membela agama.

Pentingnya ngaji (kitab) ini, (tentang) perhatian ulama terhadap ancaman perpecahan Indonesia, ancaman radikalisme, mempertahankan perbedaan, mengikis bela negara. Boleh saja benci dengan orang pemerintahan yang korup dan lain sebagainya, tapi jangan benci dengan lembaganya. Bahkan penting untuk mempertahankannya.” Kata beliau pada saat membacakan kitab ini dihadapan santri-santri.

Beliau mengupas habis makna cinta tanah air yang sejati dalam kitabnya. Makna cinta tanah air yang beliau bagi dalam beberapa tingkatan. Bagaimana rakyat biasa mencintai tanah airnya, bagaimana para pebisnis dan pedagang mencintai tanah airnya, dan bagaimana cara setiap insan lain dari berbagai asal usul mencintai tanah airnya dengan benar. Beliau mencontohkan, seorang pedagang bisa dikatakan mencintaitanah airnya jikalau apa yang dia usahakan dalam jual beli bukan hanya untuk kepentingan pribadi belaka. Tapi seorang pedagang bisa dikatakan mencintai tanah airnya apabila dia juga punya tujuan untuk memberikan sumbangsih dengan memperkuat negrinya lewat apa yang ia jual belikan. Sejatinya setiap orang bisa mencintai tanah air dengan caranya masing-masing.

Maka hal terpenting dari membela tanah air untuk masa sekarang ini, bukan diartikan dengan jihad ala mengangkat senjata dan perang. Akan tetapi jihad dengan memerangi kebodohan dan kebobrokan akhlak, jihad menumpas perpecahan dan menolak untuk saling bahu membahu dan bersaudara, jihad memberantas kelaliman, ketidak adilan, sifat ketergantungan terhadap bangsa lain, jihad menghilangkan kemiskinan, lemah, penyakit, dan kemunduran-kemunduran lain guna meraih kebahagiaan dan maslahat dalam kehidupan keduniaan dan keagamaan.” Tulis beliau diakhir kitab sebagai kesimpulan. []