Category Archives: Angkring

Kembali Pada Renungan yang Terlupakan

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Yunus [10]: 3)

Ayat di atas menyuguhkan sebuah renungan kepada para makhluk-Nya. Sebuah renungan yang selalu dilupakan oleh para hamba-Nya. Renungan bahwa segala sesuatu itu hendaknya dilakukan dengan bertahap, tidak dilakukan tergesa-gesa. Dalam ayat tersebut merekam kejadian penciptaan langit dan bumi dalam enam masa. Kenapa Tuhan Yang Maha Esa menciptakan keduanya dalam jangka cukup lama, tidak dalam sekejap saja. Padahal kita tahu jika Allah adalah Dzat yang ketika ingin mewujudkan sesuatu pasti akan terwujud dan sekejap langsung jadi; “Kun Fayakun”. Diantara ulama yang menginterpretasikan ayat tersebut, ada yang memberikan sebuah statemen jika hikmah dibalik penciptaan langit dan bumi dalam enam masa itu adalah agar para manusia sadar jika segala sesuatu yang ingin dilakukan hendaknya secara bertahap, tidak atau jangan sampai dilakukan dengan adanya ketergesa-gesaan.

Sesuatu yang diidam-idamkan jika terwujud pasti akan memberikan sebuah kesan yang sungguh berarti pada orang yang mempunyai keinginan tersebut. Untuk menuju kesana, tentu diperlukan sebuah usaha keras agar keinginan bisa tercapai dengan sempurna. Dan bukanlah hal yang mudah proses menuju kesana, karena banyak kerikil tajam yang siap menghadang. Setiap individu pasti mempunyai keinginan, namun keinginan itu belum tentu atau tidak akan pernah terwujud jika ia tidak mau melakukan usaha secara intensif. Ini merupakan harga mati jika keinginannya ingin terwujud. Seseorang bisa menyandang gelar ulama, karena berkat usaha keras yang dilakukannya dan yang pasti untuk menempuhnya diperlukan tenggang waktu yang tidak sebentar. Dia harus mempelajari, membahas, menelaah ulang, dan lain sebagainya yang mestinya butuh waktu cukup lama. Tidak bisa diraih secara instan seperti menimba air dari dalam sumur.

Ketika seseorang telah mempunyai suatu keinginan dan dia telah merencanakan usaha untuk kesana dengan membuat beberapa langkah, yang perlu dia lakukan selanjutnya ialah hendaknya menjalaninya dengan pelan-pelan. Sikap ini dibutuhkan karena ketika menjalani suatu hal dengan tanpa adanya kehati-hatian, bisa-bisa ketika telah sampai pada tujuan dia akan sedikit menemui keganjalan karena merasa telah salah arah. Adanya sikap hati-hati yang dimanifestasikan dengan pelan-pelan atau bertahap, sebenarnya berguna untuk menanggulangi hal-hal yang tidak diinginkan. Sedang tindakan tergesa-gesa adalah sebuah kebiasaan yang negatif. Apalagi ciri khas grusa-grusu-nya itu, membuat orang di sekitar menjadi tidak ‘mantap’. Disamping tindakan yang kurang baik, agama pun mengatakan jika tindakan tergesa-gesa merupakan salah satu tindakan musuh bebuyutan kita, setan.

Sebenarnya kalau kita mau merenungkan semua hal yang diciptakan oleh Allah Swt., pasti kita akan menemukan secercah kebeningan hati karena telah merasa mendapat pentunjuk atau hidayah-Nya. Ingat, merenungkan apa yang diciptakan, bukan Yang Menciptakan. Sebab jika pikiran kita merenungkan pada sang Pencipta, akal kita tidak akan pernah menjamah kesana. Bahkan yang paling ditakuti adalah malahan bisa jadi kita tersesat terlalu jauh.

Banyak sekali ayat Alquran yang menyetir tentang perenungan tentang apa-apa yang telah diciptakan-Nya. Seperti dalam surat Ali Imran ayat 190-191: 190. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka’.”

Dalam ayat tersebut dijelaskan, bahwa termasuk orang berakal atau kata lainnya pintar adalah orang yang mau berfikir tentang penciptaan langit dan bumi. Tujuan perenungan itu adalah agar mengetahui jika segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi pasti ada hikmahnya. Dan biasanya orang yang mengoptimalkan pikirannya dengan seringnya merenung tentang ciptaan Tuhan, pasti akan mempunyai ide-ide cemerlang. Bahkan tidak hanya sampai di situ, bisa jadi ide itu dikembangkan sehingga menjadi sebuah bidang ilmu khusus, seperti kemajuan teknologi saat ini.

Dalam pembahasan sikap tergesa-gesa, sebenarnya agama Islam juga dalam melarangnya ada banyak sekali hikmah yang terkandung. Hanya saja tidak ada atau jarang yang tahu. Seperti anjuran pelan-pelan ketika makan. Ketika makanan sampai di mulut, ada anjuran sebaiknya tidak langsung ditelan, tapi dikunyah terlebih dahulu sampai benar-benar halus. Hikmah yang terkandung, menurut ahli pencernaan, adalah jika makanan yang masuk ke dalam perut tidak dalam keadaan halus, maka akan merusak lambung, karena lambung adalah termasuk organ tubuh yang sensitif. Makan dengan tenang, tidak tergesa-gesa, dengan tempo sedang, juga akan menghindarkan tersedak, tergigit, kerja organ pencernaan pun jadi lebih ringan dan proses pencernaan berjalan sempurna. Makanan yang tidak dikunyah dengan baik akan sulit dicerna dan dalam jangka waktu lama bisa menimbulkan kanker di usus besar.

Kalau kita sejenak mau melirik kembali tentang historis Nabi tatkala menerima wahyu, mungkin kita akan sadar jika memang perlakuan tergesa-gesa bukanlah hal yang baik. Kisah ini terekam dalam Alquran surat al-Qiyamah ayat 16-19: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Alquran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.”

Dulu, Nabi Muhammad ketika menerima wahyu lewat malaikat Jibril sempat ditegur oleh Allah karena tergesa-gesa menggerakan bibirnya sebelum Jibril membacakan wahyu itu. Teguran kepada Nabi yang terekam rapi dalam Alquran ini secara tidak langsung juga menyuruh kita agar tidak melakukannya.

Dari sedikit ulasan ini mungkin dapat ditarik sehelai benang merah, jika sikap tergesa-gesa itu memang sungguh sikap yang tidak baik diterapkan dalam semua tindakan dan banyak akibat yang fatal jika orang telah terlanjur melakukannya. Oleh karenanya, mulailah dari sekarang kita mengatur pola hidup dengan sikap yang tenang, tidak tergesa-gesa. Disamping karena sikap ini banyak menguntungkan, Allah pun akan menyayangi kita sehingga kita akan mendapatkan pahala dari-Nya. Sebab sikap tenang adalah sikap yang dicintai-Nya. Wallahu A’lam bis Shawab.

Penulis : Zainal Faruq

Nabi dan Masyarakat Madani

Madinah Al-Munawwaroh, kota yang diterangi cahaya Nabi, demikian nama yang disematkan kepada Yastrib setelah kepindahan Nabi dari Mekah ke kota tersebut. Kota berjarak sekitar 560 KM di utara Mekah ini adalah salah satu kota yang memainkan peran sangat penting dalam perkembangan peradaban Islam di masa mendatang. Di kota ini “terlahir” banyak sahabat-sahabat besar dibawah bimbingan langsung Nabi Muhammad SAW. Di sini pulalah Islam dapat menggeliat dengan bebas tanpa kungkungan kaum kafir dari suku Quraisy. Di sini pulalah, Islam menunjukkan eksistensinya yang bertahan sampai sekarang.

Nabi perlahan mengubah keadaan masyarakat Madinah menuju masyarakat madani, dan “mengembangkan” agama Islam agar diterima seluruh masyarakat dengan beragam karakter. Seluruh budaya jahiliyyah ditanggalkan. Bangsa Arab yang dulu saling unjuk supremasi antar suku, kini menjadi bangsa yang bersatu. Semua seolah mimpi, kareana Nabi melakukan itu hanya butuh waktu dua puluh tiga tahun. Sangat singkat. Namun tentu saja, hal tersebut tidak mudah. Ada saja rintangan yang harus dilewati, sebelum akhirnya Islam menjadi agama besar yang tersebar di seantero jazirah Arab.

Kondisi Madinah Ketika Nabi Hijrah

Masa pra Islam menjadi masa yang menggelisahkan bagi Yatsrib, dimana masyarakat asli kota itu, suku Aus dan Suku Khazraj sedang dilanda perang saudara yang semakin berlarut-larut dan tak kunjung ada penyelesaian. Perang makin lama makin meluas dan makin melibatkan banyak qabilah. Jika terus dibiarkan, bisa saja Yatsrib luruh. Di tengah keputus asaan ini, sayup-sayup terdengar kabar bahwa datangnya Nabi yang dijanjikan sudah tiba masanya. Kabar ini santer tak hanya berasal dari penduduk Yahudi Yatsrib yang paham betul dengan kitab suci mereka. Ibn Hayyabân, seorang Yahudi yang baru pindah dari Suriah mengatakan bahwa Nabi yang dijanjikan akan pindah ke kota ini segera. Ditambah lagi, Iyâs bin Mu’âdz, seorang delegasi suku Aus, bertemu langsung dengan Nabi. Ketika pergi ke Mekah guna minta bantuan suku Quraisy untuk melawan rivalnya, suku Khazraj. Sepulang dari Mekah, Iyâs berkali-kali menyebut tentang keesaan Tuhan dan hari akhir sebelum akhirnya meninggal dunia.

Kedatangan Nabi  ke Yatsrib menjadi semakin dinantikan, dimana beliaulah yang diharapkan bisa memadamkan perang saudara berkepanjangan ini.

Hingga pada akhirnya, ketika Nabi tiba pada, 27 September 622 M, Nabi disambut hangat oleh seluruh penduduk Yatsrib. Yatsrib menjadi Madinah, dan perang saudara dapat diakhiri.

Kondisi Masyarakat Pasca Hijrah

Setidaknya ada empat komponen besar masyarakat Madinah pada masa Nabi. Kaum Muslimin, yang diisi oleh kaum Muhajirin dan Anshar, kaum Yahudi Madinah (yang paling dominan adalah Banu Quraidzah, Banu Qainuqa’ dan Banu Nadhir), kaum musyrik madinah yang berasal dari suku Aus dan Khazraj, dan kaum munafik.

Keberhasilan Nabi menyatukan Madinah adalah hal yang mencengangkan, sebab Madinah sebenarnya bukanlah suatu komunitas yang harmonis. Beliau harus berhadapan dengan beragam tipu muslihat, perang dingin, bahkan yang paling berbahaya; musuh dalam selimut. Begitulah, beliau menata masyarakat dari beragam sisi. Mulai dari membangun aset, tata sosial, ekonomi, administrasi, sanksi pidana, bahkan hubungan diplomatik dengan “negara” tetangga.

Banyak masalah baru yang timbul, seperti dimanakah kaum Muhajirîn harus bertempat, sebagai kaum migran, butuh perhatian khusus agar mereka bisa hidup layak di “negeri orang”. Masalah kemiskinan juga pelik. Kaum muslimin dengan jumlah yang sedikit, fasilitas minim, dan masih berupa komunitas baru harus berhadapan dengan lawan yang  menyatakan permusuhan. Nabi Muhammmad SAW menghapus era jahiliyyah yang identik dengan saling membanggakan keturunan, dan ketimpangan sosial -kebal hukum bagi yang berkuasa- diganti dengan sebuah “wacana” baru tentang persamaan hak untuk seluruh lapisan masyarakat. Tak ada lagi masyarakat yang kebal hukum, semua ditindak tegas jika melanggar norma. Siapapun itu. “Andai Fathimah putri Muhammad mencuri, pasti kupotong tangannya,” sabda Nabi suatu ketika.

Membangun Aset

Aset paling penting bagi masyarakat muslim Madinah adalah Masjid Nabi. Di tempat yang semula dimiliki dua bersaudara Sahl dan Suhayl, Nabi membangun sebuah Masjid. Masjid bersejarah ini awalnya sangat sederhana, hanya dipagari tembok dari tanah liat yang tak begitu tinggi dan tak memiliki atap di bagian tengah. Masjid Nabi tak hanya berfungsi tunggal sebagai sarana ibadah, namun juga menjadi “pusat pemerintahan”, administrasi, dan aktifitas keilmuan. Semakin mulia masjid ini, karena kelak juga menjadi tempat jasad Nabi dibaringkan, ditemani dua sahabat tercintanya Abu Bakar RA. dan Umar RA. Nabi juga membangun kuburan yang dinamai Baqi Al-Gharqad, atau lebih dikenal dengan pemakaman Baqi’, “membangun” pasar khusus umat Islam yang mandiri dan terpisah dari pasar Bani Qainuqa’ di pinggiran Madinah, sehingga pedagang bebas bertransaksi, menurunkan barang atau melewatkan unta tanpa mengganggu penduduk kota.

Membangun Kehidupan Sosial

Hal yang penting dilakukan Nabi di Madinah adalah menghapus tradisi jahiliyyah yang sudah terlanjur mengakar. Beliau membentuk pribadi masyarakat yang kuat, dan perberadaban tinggi. Hingga sepeninggal Beliau, Islam semakin kuat dan mengakar. Bahkan ketika Islam semakin tersebar luas, kuatnya peradaban Islam kian terasa.

Dalam menyelaraskan kehidupan sosial, Nabi mempersaudarakan kaum Muhajirîn dengan kaum Anshôr. Ditahun pertama Nabi menetap di Madinah, Beliau mempersaudarakan setidaknya tujuh puluh sampai seratus orang. Sejak itu, kaum Anshor berloba-lomba membantu saudara mereka, kaum Muhajirin. Ditunjukkan dengan perhatian dan sikap mendahulukan mereka, memberi perlindungan, dan membantu dengan apapun yang bisa mereka bantu. Kaum Muhajirin sendiri menyambutnya dengan menerima sesuai kebutuhan, bahkan sebisa mungkin menolak agar tidak “membebankan”. Berkat hal ini, Suku Aus dan Khazraj yang dulu kerap berseteru kini dapat hidup harmonis besama kaum Muhajirin.

Disisi lain, masih ada saja kelompok pendatang yang tidak memiliki tempat tinggal dan pekerjaan. Masalah ini segera diatasi Nabi dengan dibangunnya Sufah di ujung Masjid Nabi. Setidaknya ada kurang dari empat ratus kaum pendatang yang berdomisili di Sufah Masjid Nabi, salah satu yang kita kenal adalah Abu Hurairoh. Mereka disebut sebagai Ahlussuffah. Jumlahnya tidak menentu, kadang naik dan turun, sebab jika ada yang sudah mendapat pekerjaan dan mandiri, mereka akan keluar. Kondisi merekapun sangat memprihatinkan, ada yang tidak memiliki pakaian layak hingga urusan berpakaian yang penting aurat sudah tertutup. Ahlusuffah belajar agama dan Alquran pada malam hari, lalu ketika siang menjelang, mereka keluar untuk mencari “nafkah”. Sering Nabi duduk bersama mereka. Nabi sangat sayang pada mereka, hingga ketika Nabi mendapat hadiah, Beliau hanya mengambil sedikit, dan sisanya diberikan pada mereka.

Kehidupan sosial juga diatur dengan norma-norma atas bimbingan dari Allah SWT. Dalam ranah kehidupan keluarga, Nabi melarang keras perbuatan asusila, hingga ditetapkanlah hijab. Nabi mengancam siapa saja yang berani kepada orang tuanya, dan Nabi memberikan solusi thalaq bagi rumah tangga yang tak lagi harmonis. Memberikan batasan tentang siapa saja yang boleh dinikahi -dulu orang boleh menikahi siapapun, bahkan ibunya sendiri, dan berapa maksimal istri yang boleh dinikahi –dulu orang boleh menikahi wanita sebanyak-banyaknya, bahkan sampai sepuluh orang.

Diluar rumah tangga, Nabi memerintahkan agar hubungan sosial juga terjalin baik. Nabi membimbing umatnya untuk senantiasa menjalin silaturahim, peduli dengan tetangga, dan memperdulikan hak-hak anak yatim. Masalah perbudakan juga tak luput dari perhatian, dimana budak diberi hak-hak yang menjadikannya hidup lebih layak.

Membangun Ekonomi

Setelah dibukanya pasar Madinah, ekonomi umat Islam menggeliat dan mampu mandiri dari dominasi ekonomi di pasar Yahudi. Kaum Muhajirin sebagai motor penggerak pasar Madinah, sejalan dengan basic mereka di Mekah dulu yang kebanyakan adalah pedagang. Geliat persaingan kian hebat kala banyak kafilah dagang yang keluar masuk. Barang-barang juga diimpor dari luar daerah guna mendorong percepatan laju ekonomi. Tidak ada pajak dan upeti yang dibebankan bagi pedagang muslim. Kebangkitan ekonomi Islam diiringi dengan pemberlakuan norma-norma yang sejalan dengan wahyu  Allah SWT.

Sejalan dengan itu, sahabat Nabi adalah kumpulan orang-orang hebat yang taat dalam menjalankan hukum sesuai tuntunan syari’at. Transaksi Islam yang transparan dan jauh dari praktik riba adalah sebentuk potret ekonomi yang bersih dan bermoral. Segala bentuk praktik penipuan yang sudah biasa dimasa lalu dikecam.

Membangun Administrasi dan Sanksi Pidana

Madinah diatur dalam sistem kelembagaan yang unik dan asing bagi masyarakat Arab pada waktu itu. Sebuah batu loncatan baru untuk membangun peradaban modern. Nabi membangun Madinah sejalan dengan nafas Islam. Berasaskan Alquran yang langsung bersumber dari wahyu, dan hasil-hasil mufakat pembesar sahabat. Nabi Muhammad yang berperan ganda sebagai pemimpin “negara”, tokoh agama, hakim, bahkan panglima perang, mencetuskan Piagam Madinah, suatu undang-undang yang menyangkut kaum muslimin dan kaum Yahudi agar Madinah kuat bersatu dalam masyarakat yang hidup rukun berdampingan walaupun berbeda keyakinan. Seluruh suku-suku  di Madinah dirangkul tanpa tertinggal. Piagam Madinah juga memandu permasalahan dan situasi perselisihan agar segera mendapat penyelesaian. Undang-undang pertama bagi sebuah negara berperadaban, dan suatu kontrak politik pertama dalam arti yang sesungguhnya. Ekonomi tumbuh dengan sehat dengan nota kesepakatan ini, dan jka ada ancaman, semua orang akan bahu-membahu mempertahankan Madinah dengan semangat solidaritas yang kuat. Piagam ini tak berbatas waktu, sepanjang semua pihak menghormati piagam ini, piagam Madinah tetap ada.

Disisi pemberlakuan hukum, agar tercipta stabilitas keamanan, dengan tegas beragam sanksi ditegakkan. Sanksi bagi pencuri adalah potong tangan, sanksi pelaku perzinaan adalah hukuman mati atau pengucilan, pemfitnah zina dan peminum arak dicambuk, sementara bagi seorang pembunuh harus membayar dengan nyawanya sendiri jika jalur kekeluargaan sudah gagal ditempuh. Semua sanksi tegas ini dijatuhkan tanpa ada yang kebal hukum. Semua orang dimata hukum adalah sama saja. Bahkan muslim yang membunuh non muslimpun juga turut ditindak tegas.

Islam Yang Bersinar Terang

Cahaya Islam  pelan-pelan menyinari seanteo jazirah, pelan tapi pasti Islam menyentuh titik-titik terjauh. Dari surat-surat ajakan masuk Islam yang dikirimkan kepada raja-raja di sekitar Arab, banyak yang ditanggapi positif. Islam kemudian disambut hangat dari beragam daerah. Tahun demi tahun banyak delegasi dari daerah-daerah masing-masing yang berdatangan untuk bertemu Nabi guna menyatakan keislaman dan ketundukan, atau memikirkan lebih dulu keputusan untuk masuk Islam. Banyak sahabat-sahabat Nabi yang dikirim ke berbagai daerah untuk mengajarkan islam dan menyebarkannya dengan baik-baik. []

 

Aku Tak Tahu

Jarang terdengar ketika kita mencoba bertanya suatu hal yang bersifat asin dan kita tak tahu jawabannya kepada mereka “yang lebih tahu”, mereka akan menjawab dengan “aku tak tahu”. Seperti menjadi aib yang teramat besar bagi sebagian orang untuk mengakui dirinya, kalau memang dia “tak tahu”. Terlalu sempitnya orang mengartikan ketidak tahuan sebagai sebuah ujung dari mata rantai kebodohan. Padahal siapa tahu saja jawaban akhir “tidak tahu” adalah ritus terakhir dari berbagai pengalaman yang matang. Dengan berbagai pertimbangan, memang harus dijawab seperti itu, -atau lebih baik diam saja sekalian “agar setidak-tidaknya” memanfaatkan waktu untuk berfikir.

Sejatinya adalah hal yang wajar, bahkan sepandai-pandainya orangpun akan memiliki sisi “ketidak tahuan”. Selain karena tidak mungkin cukup usia seseorang untuk membuka semua khazanah yang ada, masih banyak yang harus dikaji ketika mulai menimba ilmu menjadi terasa semakin mengasyikkan.

Orang dengan gelar sarjana, adakah yang masih sudi untuk mengakui kehebatan anak sekolah dasar? Tentu menjadi pertanyaan yang naif jika hanya soal-soal sederhana yang diajukan padanya. Tapi faktanya, adalah sebuah dilema ketika pertanyaan mendadak menjadi sulit. Yang biasanya menjawab, “aku tahu” terasa kelu lidahnya ketika belajar mengucapkan, “aku sungguh-sungguh tidak tahu”.

Orang kadang terlalu sederhana menilai lautan, jika lautan itu umpamanya samudera pengetahuan, dengan mudahnya dia katakan pada dirinya sendiri sembari membusungkan dada, “Ternyata lautan memiliki ujung di bawah matahari yang sedang terbit itu”.

Adalah analogi sederhana ketika seorang pemula yang belum tahu apa-apa baru memulai belajarnya. Dia pikir, ini akan ada akhirnya, “Ditempuh dalam satu tahun juga aku sudah jadi orang yang sangat hebat,” pikirnya.

Dan ketika kapalnya mulai berlayar, mendadak dia dilanda kecemasan lantaran kapalnya tak kunjung menemukan pelabuhan. Dicari ke arah manapun tak ada tempat bersandar, seolah tersesat di suatu medan asing yang tak memiliki peraduan. Dia menemukan sebuah kesimpulan, “Lautan ini lebih luas dari yang pernah aku bayangkan”. Dia agak mulai merasa rendah diri sekarang, “bahkan sepuluh tahunpun sepertinya aku belum setengah jalan”.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Adalah analogi sederhana ketika sedikit-sedikit dia akhirnya mau “membaca sesuatu”. Bukan saja ini tak akan ada habisnya,  tapi justru semakin “dibaca” semakin bikin penasaran.

Ketika kapalnya mulai akrab dengan samudera, yang dia lakukan adalah belajar menyelam. Di atas permukaan saja dia hanya menemukan nuansa yang sangat sederhana. Hanya ada hamparan lautan biru dimana-mana. Di atas sana juga hanya ada langit dan bintang yang setia dengan karakternya. Pagi matahari terbit di timur, dan hilang di barat. Digantikan rembulan pada malamnya. Begitu setiap harinya. “Adakah hal menarik dibawah sana?” Alangkah terkejutnya ketika dia mendapati teronggok lapisan terumbu karang maha indah, ikan-ikan yang tak bosan berganti wajah. Warna yang bukan hanya biru yang ia berhasil temukan, namun juga mulai nampak hijau dan merah. “Didalam lautan ini adalah keindahan ynag sesungguhnya”.

Adalah analogi sederhana ketika orang mulai mengerti ada apa dibalik “perjalanan ilmiah” yang sedang ia lalui. Bukannya kurang percaya diri atau apapun istilahnya, selamanya pun dia tidak akan selalu tahu ada apa jauh di sana. “Kepuasan itu muncul dari hati ketika aku sudah berhasil melalui semua pelan-pelan,” katanya sambil agak menundukkan kepala.

Ketika dia pulang ke daratan, dia sudah memiliki cara lain untuk memandang lautan di sana. Sambil takjub dan tahu diri bahwa penglihatan kecilnya tak akan sebelah mata lagi memandang apa yang di depannya adalah hal yang segera berkesudahan.

Sederhananya, ketika kita enggan untuk mengatakan “aku tak tahu”, berarti kita baru memandang apa yang “kita tahu” ibarat sedang berdiri di bibir pantai. Merasa apa yang dia ketahui sekarang adalah tentang segala hal. Padahal, matanya baru berhasil menangkap “lautan” hanya sampai garis cakrawala –semua orang tahu kalau laut tidaklah sesempit itu.

Mari untuk sekedar belajar jujur pada diri sendiri. Manusia lengkap dengan keterbatasan yang dia miliki. Tidak mungkin untuk “tahu segala hal”, maka sedikit-sedikit coba kita katakan “beri aku waktu.” Untuk berfikir, atau lebih bagus lagi, “membaca.” Biarkan ia mengerti “lautan” dengan lebih jauh lagi. Semakin ia memahami laut, semakin ia tahu bahwa ia tak lebih dari setitik ombak diantara jutaan ombak lainnya.

وقال محمد بن رمح عددت لمالك مائة مرة قال لا أدري في مجلس واحد

“Aku pernah menghitung imam Malik bin Anas berkata, ‘aku tak tahu,’ sampai seratus kali dalam satu majlis.”

Lalu bagaimana dengan kita? [SLr]

 

Syahdu Berdendang dengan Rima Burdah

Antum tentu tahu Kasidah Burdah. Kasidah karya monumental Imam al-Bushiri ini berisi 160 bait syair. Setiap ujung baitnya (adhdhurub) diakhiri huruf mim dengan bunyi serupa. Sebuah pilihan salah satu unsur badhi’ lafdziy (seni penggubahan syair) yang dinilai sangat istimewa, yang kemudian membuat Kasidah Burdah juga dikenal dengan Qosidah Mimiyah.

Dalam sastra Arab, persamaan bunyi semacam ini disebut sajak atau jinas dalam kasus yang tidak persis sama. Sajak adalah persamaan bunyi setiap akhir kelompok kata (fashilah) dalam kalam natsar (prosa) atau masing-masing ujung setiap syathar bait (arud dan dhurub) dalam syi’ir (puisi). Contoh sajak ini bisa ditemukan dalam doa qunut:

اللهم اهدني فيمن هديت * وعافني فيمن عافيت *وتولني فيمن توليت

Sementara dalam Bahasa Indonesia, persamaan bunyi disebut rima atau persajakan. Setidaknya ada delapan macam jenis rima, diantaranya rima sempurna dan rima tak sempurna atau rima awal dan rima akhir dan lain sebagainya. Kesemuanya merupakan persamaan bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait. Maka, rima bisa kita sebut semakna dengan sajak dalam sastra Arab.

Dalam dunia sastra, rima atau sajak memiliki fungsi estetis tersendiri yang tidak tergantikan dengan cara lain. Penggunaan rima atau pembentukan sajak dapat memunculkan keindahan dan kekuatan ekspresif dari gagasan yang hendak disampaikan, baik gagasan keras menggelegak penuh prinsip maupun gagasan sembilu berderai air mata. Kita ambil contoh kutipan Kasidah Imam Muhammad al-Bushiri berikut:

أيحسب الصب أن الحب منكتم * ما بين منسجم منه ومضطرم

Apakah orang yang kasmaran menduga bahwa cinta dapat disembunyikan dalam deraian air mata dan keagungan jiwa?

لولا الهوى لم ترق دمعا على ظلل * ولا أرقت الذكر والعلم

Kalaulah bukan karena cinta, tidaklah mungkin engkau teteskan air mata di atas puing-puing, dan tidak pula terjaga sepanjang malam karena mengingat pepohonan dan pegunungan di tempat kekasih

فكيف تنكر حبا بعد ما شاهدت * به عليك عدول الدمع والسقم

Bagaimana engkau pungkiri rasa cinta, setelah deraian air mata dan derita sakit menjadi sebuah saksi terhadapnya

وأثبت الوجد حظي عبرة وضنى * مثل البهار على خذيك والعنم

Dan kerinduan telah menorehkan dua garis air mata dan derita seperti mawar kuning dan mawar merah pada kedua pipimu

Kutipan di atas dapat kita lihat secara jelas, bagaimana Imam al-Bushiri berman-main dengan rima dan ritme, memanfaatkan fungsi estetisnya, serta menguatkan pesan makna yang disampaikan. Dengan upaya ini ia telah berhasil menanamkan kecintaan pembaca kepada sang legendaris (Nabi Muhammad SAW) secara lebih mendalam.

Selain itu, pesan moral dan spiritual juga Al-Bushiri gubah dalam kasidah tersebut sebagai bentuk usaha untuk mengajak manusia, umat Islam khususnya, untuk kembali mencontoh kehidupan arif sang Nabi, sehingga semuanya terasa lengkap dan sempurna.

Syaikh Muhammad al-Bushiri dengan karya monumentalnya

Burdah yang menjadi tema utama dalam karya Imam al-Bushiri adalah merujuk kepada jubah yang dipakai Nabi Muhammad SAW, yang kemudian diberikan kepada Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma. Ka’ab adalah seorang penyair yang telah banyak menulis syair pujian kepada Nabi. Karena itu, ia dijuluki muhadromain (penyair dua zaman yaitu zaman jahiliyah dan Islam), sebagai bentuk apresiasi kepada penyair ulung tersebut.

Kasidah Burdah mulai dikenal -dan kemudian terus terkenal- bermula ketika Imam al-Bushiri diserang penyakit syalal (lumpuh). Dalam keadaan sakit itulah ia mengarang kasidah yang berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW.

Syahdan, suatu malam Imam al-Bushiri bermimpi melantunkan kasidah-kasidah yang dikarangnya tersebut di hadapan Rasulullah SAW. Baginda Nabi dalam mimpi tersebut begitu gembira dan menyukai kasidah tersebut. Saat itu Nabi mengusap muka Al-Bushiri dan menyentuh bagian tubuhnya yang lumpuh sambil memakaikan burdah (selimut bergaris) ke tubuh Al-Bushiri. Ketika ia terbangun dari tidurnya, seketika itu Al-Bushiri sembuh dari kelumpuhannya. Ia segera keluar dan menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada orang lain.

Sampai di sini, Kasidah Burdah yang merupakan luapan cinta dan rindu Imam al Bushiri kepada sang Rasul tak hanya indah kata-katanya. Nilai moral, spiritual dan doa-doanya juga memberi banyak manfaat. Karena itu, tak mengherankan jika sampai saat ini kasidah tersebut seakan menjadi sebuah keharusan untuk dibaca di setiap balai-balai pengajian. Kasidah ini bahkan dijadikan sebagai sebuah kajian khusus di lembaga-lembaga pendidikan di timur-tengah, sehingga banyak ulama memberikan catatan khusus tentang burdah baik dalam bentuk syarah (komentar) maupun hasyiah (catatan pinggir). Wallahua’lam bisshowab.

*) Penulis: Musthofa, santri Ponpes Lirboyo asal Madura

Jangan Pernah Putus Asa

Diceritakan dari Ibnu Mas’ud bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang telah melakukan dosa besar tetapi selalu mengharapkan rahmat Allah SWT, jauh lebih dekat dengan Allah SWT daripada seseorang yang ahli ibadah tapi dia putus asa dari rahmatNya.”

Ibnu Mas’ud juga pernah mendengar dari Zaid bin Aslam, Zaid dapat kisah dari Umar, “Dahulu ada seorang lelaki yang rajin beribadah. Selama hidupnya dia menyusahkan raganya hanya untuk beribadah, sampai-sampai dia tidak pernah memanfaatkan rahmat Allah SWT yang berupa bisa bersosialisasi atau berbaur dengan masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Kemudian ketika lelaki itu meninggal dunia, dia berkata kepada Allah SWT, ‘Wahai Tuhanku, apa yang akan Engkau berikan pada hambaMu ini?’ Allah menjawab, ‘Neraka’. Lelaki tadi tidak terima, dia protes, ‘Wahai Tuhanku, Engkau kemanakan ibadahku selama ini? Bukankah Engkau tentu tahu bagaimana giatnya aku beribadah kepadaMu’.  Allah menjawab, ‘Kamu ketika di dunia memutuskan tidak bersosialisi dengan masyarakat, padahal itu adalah rahmatKu. Maka hari ini, aku memutus kamu dari rahmatKu.”   

Diceritakan pula dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda, “Ada seorang lelaki yang tidak punya amal baik kecuali mempercayai bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT. Ketika kematian akan datang menjemputnya, dia berpesan pada keluarganya,  ‘Ketika nanti aku mati, kalian harus membakar jasadku hingga aku menjadi debu. Setelah itu, tolong taburkan debu itu di lautan ketika angin laut bertiup kencang.’ Singkat cerita, lelaki itupun akhirnya meninggal dunia dan keluarganya melakukan apa yang menjadi permohonan terakhir si lelaki. Dan setelah dia meninggal, Allah SWT bertanya kepadanya, ‘Apa alasanmu menyuruh keluargamu melakukan itu semua?’ Si lelaki menjawab, ‘Hanya satu alasanku, aku takut kepadaMu.’ Lantas Allah SWT mengampuni segala dosa si lelaki tersebut karena dia merasa takut, padahal selama hidupnya dia sama sekali tidak pernah melakukan kebaikan kecuali beriman kepadaNya.”

Ada sebuah kisah terkait dengan hadis ini. Dahulu, ada seorang lelaki yang meninggal pada masanya Nabi Musa alaihissalam. Masyarakat sekitar tempat tinggalnya tidak ada yang mau mengurus. Mereka malas memandikan dan menguburkan jenazahnya karena lelaki ini semasa hidupnya terkenal bukan orang baik. Karena teramat bencinya, jenazah si lelaki dilemparkan begitu saja pada sebuah got.

Allah SWT lalu mengirimkan wahyu kepada Nabi Musa. “Hai Musa, di sebuah perkampungan ada seorang lelaki meninggal dunia dan saat ini jazadnya tergeletak begitu saja di got. Padahal itu adalah jenazah seorang wali. Masyarakat sekitar tidak ada yang mau mengurusnya: memandikan, mengkafani dan menguburkannya. Kamu segera berangkatlah kesana, urus jenazahnya dengan baik.”

Tidak berselang lama, Nabi Musa pun berangkat mencari jenazah si lelaki. Sesampainya di kampung yang dituju, Nabi Musa bertanya pada warga setempat tentang kematian seorang lelaki yang diterlantarkan. Warga pun menjawab, “Betul, ada seorang lelaki yang meninggal dan oleh warga dibiarkan begitu saja, karena menurut warga lelaki tersebut adalah orang fasik.” Musa kembali berkata, “Terus dimana lokasi mayat si lelaki. Karena Allah SWT mengutusku untuk mengurusnya.” Sesaat kemudian ditemani warga Nabi Musa menuju lokasi dibuangnya mayat si lelaki.

Setelah sampai di lokasi dan mendengar penuturan warga setempat tentang perilaku si lelaki, Nabi Musa bermunajat, “Wahai Tuhanku, Engkau memberi perintah kepadaku untuk mengurus jenazah ini, tetapi warga bersaksi bahwa ini adalah mayat orang tak terpuji. Aku tahu, Engkau Maha Mengetahui segalanya, termasuk tentang jenazah ini.” Allah menjawab keraguan Nabi Musa, “Wahai Musa, benar apa yang mereka katakan tentang perangai buruk si lelaki. Tetapi ketahuilah, bahwa sebelum dia meninggal, dia meminta syafaat kepadaku dengan tiga hal. Andai semua makhluk yang berdosa memohon ampun dengan perantara ketiga hal ini, Aku tentu akan memberikannya.” Nabi Musa kembali bertanya, “Lalu ketiga hal tersebut apa?”

Allah menjawab, “Pertama, ketika ajal hendak mendatangi dia, dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, Engkau tentu tahu aku adalah hambamu yang sering berbuat dosa. Tapi bukankah Engkau juga tahu bahwa hatiku sebenarnya membenci maksiat itu. Aku terpaksa berbuat maksiat karena terjebak oleh tiga hal: hawa nafsu, teman yang buruk dan Iblis yang Engkau laknat. Engkau tentu tahu aku berkata benar atau tidak, maka dari itu aku mohon ampunilah aku’. Yang kedua, dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, Engkau tentu tahu aku adalah hambamu yang sering berbuat dosa. Karena seperti yang Engkau ketahui, aku Engkau kumpulkan dengan orang-orang fasik. Padahal, aku lebih senang berkumpul dengan orang-orang saleh’. Yang ketiga dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, Engkau tentu tahu aku lebih mencintai orang-orang yang saleh. Sehingga andai saja ada dua orang laki-laki yang meminta tolong kepadaku, yang satu orang saleh dan satunya fasik, tentu aku akan mendahulukan membantu orang yang saleh’.”

Dalam riwayat lain (Wahab Ibnu Munabbah) lelaki yang jenazahnya terlantar ini berkata sebelum meninggalnya, “Wahai Tuhanku. Andai Engkau mengampuni segala dosaku, tentu para nabi dan waliMu akan senang, sedang setan yang menjadi musuhku dan musuhMu akan susah. Tapi bila Engkau menyiksaku, setan dan semua tentaranya akan senang, sedang para nabi dan kekasihMu akan susah. Dan aku sungguh tahu, Engkau lebih menyukai jika para nabi dan kekasihMu senang, daripada yang senang adalah setan dan tentaranya. Maka dari itu aku mohon, ampunilah aku. Ya Tuhanku, Engkau tentu tahu kebenaran apa yang aku ucapkan. Maka aku mohon, kasihanilah aku, ampunilah aku.”

Lantas Allah SWT melanjutkan wahyunya kepada Nabi Musa. “Lalu Aku mengasihi si lelaki. Aku ampuni segala dosanya. Karena Aku punya rasa belas kasih khusus kepada makhlukKu yang mengakui segala dosanya. Lelaki ini di hadapanKu telah mengakui segala dosanya, maka Aku ampuni dia. Musa, lakukanlah perintahku, uruslah jenazahnya. Dan karena kemuliaan si lelaki, Aku juga akan mengampuni dosa-dosa orang yang mau ikut menyalati dia dan hadir dalam pemakamannya.”

Walhasil, pembaca tentu setuju jika dikatakan menjalani kehidupan sesuai dengan yang disyariatkan itu berat. Terlebih di era sekarang dimana peradaban semakin tidak karuan. Meskipun demikian, berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari adalah sebuah keharusan. Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, semoga kita selalu bisa mengambil hikmahnya. Jangan pernah sekalipun putus asa dari rahmat Allah SWT, karena Dia adalah Dzat yang Maha Pengasih lagi Penyayang. /-