Category Archives: Angkring

Kasih Sayang Sesama Makhluk

Diceritakan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT memberikan belas kasihnya kepada mereka yang berbelas kasih. Maka berbelas kasihlah pada makhluk Allah yang ada bumi, agar makhluk Allah yang ada di langit berbelas kasih pada kita.”

Ada sebuah kisah dari Sahabat Umar. Suatu ketika saat Umar berjalan di Kota Madinah, beliau menjumpai seorang anak kecil. Di tangan anak tersebut, ada seekor burung kecil. Dia bermain-main dengan burung tersebut. Karena kasihan melihat burung kecil itu dipermainkan si anak, Umar lantas membeli dan melepaskan burung tersebut. Ketika Umar telah wafat, seorang ulama besar bertemu dengan Sahabat Umar dalam mimpi.

Dalam pertemuan itu, sang ulama bertanya kepada Sahabat Umar. “Wahai Umar, saat ini keadaan seperti apakah yang Allah berikan kepadamu?”

Umar menjawab, “Alhamdulillah, aku bahagia. Allah mengampuniku.”

“Kira-kira karena tindakan atau ibadah apa yang akhirnya Allah memberikan engkau ampunan? Karena engkau dermawan, atau sebab adilmu, ataukah karena kezuhudanmu?” Tanya sang ulama lagi.

“Setelah orang-orang meletakkanku di liang lahat, menguburku di dalamnya, meninggalkanku sendirian di sana, datanglah dua malaikat. Malaikat yang menyeramkan, membuat persendianku gemetar karena kedatangan mereka. Sesaat kemudian mereka meraihku dan mempersilahkan aku duduk. Aku tahu, saat itu mereka akan bertanya kepadaku. Tapi sebelum mereka bertanya, aku mendengar suara tanpa rupa. ’Hai malaikat, tinggalkan hambaku itu. Jangan kalian takut-takuti dia. Aku menyayangi dia dan mengampuni segala dosanya, karena suatu ketika dia menyayangi seekor burung di dunia maka aku menyayangi dia dalam kubur’,” jawab Sahabat Umar.

Ada sebuah kisah lain tentang kasih sayang sesama makhluk ini. Suatu ketika, seorang ahli ibadah dari golongan bani Israil berjalan melewati sebuah tumpukan pasir. Karena saat itu dia sedang lapar, dia berpikir andai saja pasir itu adalah tepung, tentu bisa dimakan dan mengobati kelaparan banyak orang.

Kemudian Allah menurunkan wahyu pada seorang nabi dari nabi-nabi bani Israil, “Katakan pada dia (ahli ibadah yang melihat tumpukan pasir), Aku telah memberi dia jatah pahala sebanyak jumlah pahala jika pasir itu berubah jadi tepung lalu dia bersedekah dengan tepung itu. Barangsiapa menyayangi hambaku, maka Aku akan jauh lebih sayang padanya. Ketika melihat pasir tadi dia berkata, ‘Andai pasir ini tepung, tentu akan bermanfaat untuk orang banyak yang sedang kelaparan,’ maka Aku memberi dia pahala sebagaimana jika dia bersedekah dengan pasir itu jika telah menjadi tepung.”

Demikianlah, betapa ajaran Islam mengajarkan kepada umatnya untuk mengasihi sesama. Bukan malah menebar kebencian, baik dengan non muslim maupun sesama muslim. Jika masih ada oknum yang menganggap keberadaan seorang muslim di lingkungannya akan berbahaya, berarti dia belum kenal bagaimana sejatinya karakter muslimin. Bila masih ada yang berpikir pesantren adalah sarang teroris, jelas dia tidak kenal dengan apa itu pesantren yang sesungguhnya. /-

Profil Luqman dan Petuah-petuahnya

An-Nâqil : Dar El Azka & Fauzi Hamzah

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: ‘Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji’.”

Luqman, nama lengkapnya adalah Luqman bin Faghur bin Nakhuur bin Tarih. Demikian pendapat yang dikemukakan Muhammad bin Ishaq. Menurut versi lain, nama lengkapnya Luqman bin ‘Anqo’ bin Saduun.

Dalam sebuah hadis, Ibnu Umar menyatakan “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW. bersabda: ‘Luqman bukanlah seorang Nabi. Akan tetapi ia adalah seorang hamba yang gemar tafakkur, berkeyakinan baik dan cinta kepada Allah. Hingga Allah mencintainya dan kemudian menganugerahi hikmah kepadanya.” Pendapat jumhur ulama pun mengungkapkan bahwa beliau adalah seorang wali yang saleh. Meski pendapat lain menyatakan beliau adalah seorang nabi.

Suatu ketika seorang laki-laki mendapati Luqman sedang berbicara dengan hikmah. Ia pun terheran heran dan bertanya, “Bukankah Anda adalah penggembala kambing?” Luqman menyahut, “Benar.” “Lalu, bagaimana Anda bisa mendapat derajat seperti itu?” tanyanya. Ternyata Luqman memberikan jawaban yang cukup mengherankan, “Demikian ini aku peroleh adalah dengan selalu besikap jujur dalam berbicara, menunaikan amanat yang aku emban dan menghindari hal-hal yang tidak berguna.”

Postur Luqman adalah sosok laki laki yang berkulit hitam dan berbibir tebal. Bila beliau memergoki seseorang yang memandanginya, beliau akan berkata, “Jika engkau melihatku orang yang berbibir tebal, tapi yang mengalir dari bibir ini adalah perkataan yang lembut. Dan jika engkau melihatku berkulit hitam, tapi hatiku seputih kapas.”

Sebenarnya Allah telah menyodorkan satu di antara dua pilihan kepada Luqman. Menjadi khalifah di bumi (nabi) atau mendapatkan hikmah. Dan ternyata Luqman lebih memilih diberi hikmah. Pada saat beliau tertidur di tengah hari, tiba tiba ada suara memanggilnya, “Wahai Luqman, bukankah Allah telah memperkenankan engkau menjadi khalifah di bumi? Sehingga engkau bisa menegakkan hukum dengan haq?” Luqman menjawab, “Bila Allah memberikan pilihan kepadaku, maka aku akan memilih selamat dan dijauhkan dari cobaan. Dan bila Allah menegaskan pada hanya satu pilihan, maka aku hanya akan patuh dan taat. Karena aku yakin Allah akan memberikan pertolongan kepadaku.” Kemudian suara malaikat tadi bertanya lagi, “Wahai Luqman, bukankah engkau diperkenankan untuk mendapatkan hikmat?” Dengan indah beliau menjawab, “Sesungguhnya seorang hakim itu berada pada posisi yang sangat berat dan yang paling keruh. Ia akan dikelilingi orang-orang teraniaya dari segala penjuru. Bila ia bersikap adil, ia akan selamat. Sebaliknya bila ia melakukan kekeliruan, berarti ia akan tersesat jalan menuju surga. Seseorang yang menjadi hina di dunia akan lebih baik daripada menjadi orang mulia. Barang siapa yang memilih dunia dari pada akhirat, ia akan dicampakkan dunia dan tak dapat memperoleh akhirat.” Malaikat tercengang kagum mendengar jawaban yang disampaikan Luqman. Kemudian Allah memerintahkan untuk memberinya hikmat.

“Hikmat” adalah pemahaman yang mendalam dalam bidang agama, kecerdasan akal dan kebenaran dalam ucapan.

(وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ( لقمان 13

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.”

Luqman adalah seseorang yang paling sayang dan cinta kepada anak-anaknya. Maka sepantasnya beliaupun ingin memberikan hal yang terbaik untuk mereka. Karena itulah yang mula-mula dinasihatkan kepada anaknya adalah menghindarkan diri dari mempersekutukan Allah dengan apapun. Mempersekutukan Allah adalah bentuk kazaliman. Sebab mempersamakan Dzat yang berhak disembah dengan yang tidak berhak berarti meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.

Sewaktu turun ayat 82 surat Al An’am yang artinya, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk,” para sahabat menjadi gundah gulana. Mereka bertanya tanya siapa di antara mereka yang tidak mencampur adukkan keimanannya dengan kezaliman. Kemudian Rasulullah menjelaskan, “Sesungguhnya tidak demikian. Tidakkah kalian ingat nasihat Luqman kepada anaknya: Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya perbuatan syirik adalah bentuk kezaliman yang besar.”

Selanjutnya Allah memperkokoh nasihat Luqman tadi dalam ayat:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ  وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”

Kepatuhan dan berbuat yang terbaik kepada kedua orang tua adalah suatu perintah Allah. Terlebih lagi terhadap seorang ibu. Sebab berbulan-bulan lamanya beliau mngandung anaknya dengan menanggung segenap penderitaan. Setelah itu, siang malam selalu disibukkan dengan menyusui, merawat, menjaga dan mengasuhnya dengan penuh kecintaan. Hingga tiba waktunya untuk menyapihnya setelah ia genap berumur dua tahun. Karena itu lah sudah sepantasnya beliau lebih berhak untuk kita hormati dan kita muliakan.

Akan tetapi, kepatuhan ini tidak bersifat mutlak. Ini hanya berlaku untuk selain perintah melakukan pelanggaran-pelanggaran syari’at dan mengabaikan ketentuan-ketentuan syara’. Termasuk di dalamnya perintah kedua orang tua kepada anaknya untuk mempersekutukan Allah. Tidak sekalipun seorang anak diperkenankan tunduk dan patuh pada perintah orang tuannya untuk berbuat syirik.

Ayat ini diturunkan pada waktu Sa’ad bin Malik masuk Islam. Ibunya yang tahu bahwa anaknya telah masuk Islam, bersumpah untuk melakukan aksi mogok makan dan minum hingga Sa’ad mau keluar lagi dari Islam. Walau toh ibunya telah berbuat begitu kepadanya, ia tetap bersikap baik kepada ibunya dan membujuknya untuk makan. Hingga pada hari ke tiga dan ibunya tetap tidak mau makan, Sa’ad berkata, “Wahai bunda, walaupun engkau memiliki seratus nyawa sekalipun, tidak akan pernah aku meninggalkan agamaku ini.” Ketika ibunya tahu bahwa anaknya tidak akan goyah imannya, maka ia pun menghentikan aksinya dan mau makan.

Dalam ayat ini pula Allah memerintahkan manusia untuk bersyukur kepadaNya dan berterima kasih kepada kedua orang tuanya. Kata Sufyan bin ‘Uyainah: “Barang siapa telah melakukan salat lima waktu, berarti ia telah bersyukur kepada Allah. Dan barang siapa telah mendo’akan kedua orang tuanya setelah salat lima waktu, berarti ia telah bersyukur kepada kedua orang tuanya.”

Ketika anaknya bertanya kepada Luqman, “Wahai abah, apabila aku telah melakukan satu kesalahan yang tidak pernah bisa dilihat oleh siapapun, bagaimana Allah bisa mengetahuinya?” Beliau menjawabnya dengan sebuah nasihat yang tertuang dalam ayat:

يَابُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Luqman berkata): ‘Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui’.”

Nasihat ini adalah petuah terakhir beliau yang disampaikan kepada anaknya. Sebab petuah ini sangat begitu membekas di hati anaknya. Sehingga karena rasa takutnya yang begitu mendalam, empedunya pecah kemudian meninggal dunia.

يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ  وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ  وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِير

“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Di samping salat yang menjadi tugas ritual kita, amar ma’ruf nahi munkar yang memang semestinya menjadi garapan kaum muslimin, sebagaimana dinasiahatkan Luqman, sudah semestinya kita menghiasi diri kita dengan perilaku dan budi pekerti yang baik. Kita mesti lebih banyak berlatih untuk berlaku sabar dalam melaksanakan perintah-perintah Allah, dalam menahan diri dari melakukan larangan-larangan Allah. Juga bersabar dalam mengahadapi segala bentuk bencana dan cobaan yang menimpa diri kita.

Berusaha menghindarkan diri kita sejauh-jauhnya dari sifat sombong dan membanggakan diri sendiri. Bersikap tenang dalam berjalan dan tidak menampakkan keangkuhan. Lemah lembut dalam bicara dengan suara sedang.

Menurut pendapat Wahb, Luqman telah membicarakan sebanyak dua belas ribu hal dengan hikmah. Di antaranya: “Wahai ananda, jadikanlah taqwa sebagai harta dagangmu, tentu engkau akan beruntung besar.” “Jangan engkau menjadi orang yang lebih lemah dari pada ayam jago. Ia akan bersuara di waktu sahur sementara kamu masih merasa hangat di balik selimutmu.” “Jangan kau tunda taubatmu, karena kematian akan mendatangimu dengan tiba tiba.” “Kamu tidak akan pernah menyesal untuk bersikap diam dalam hal-hal yang tidak berguna. Sebab bila berbicara itu adalah perak, maka bersikap diam adalah emas.” “Pergaulilah para ulama dan dengarkanlah kata-kata hukama. Karena Allah menyuburkan bumi dengan tetesan air hujan. Siapa yang bohong berarti telah sirna air mukanya. Dan siapa yang berbudi pekerti buruk ia akan banyak merasakan kesusahan. Memindah batu besar dari tempatnya akan lebih gampang dari pada memahamkan orang yang tidak faham.” “Jangan kamu mempelajari sesuatu yang belum kamu ketahui sehingga kamu telah mengamalkan apa yang kamu ketahui.” “Dunia adalah lautan yang sangat dalam. Sudah banyak orang yang tenggelam di dalamnya. Karena itu jadikanlah taqwa sebagai perahumu untuk mengarunginya. Isinya adalah keimanan dan layarnya adalah tawakal kepada Allah. Barangkali saja kamu akan selamat.” “Berharaplah kepada Allah dengan pengharapan yang tidak menjadikanmu berani berbuat maksiat. Takutlah kepada Allah dengan rasa takut yang tidak menjadikanmu merasa putus asa dari rohmat Allah.” “Menjauhlah dari berhutang. Karena ia akan membuatmu terhina di siang hari dan merasa susah di malam hari.” “Ketika engkau telah terlahir ke dunia, berarti dunia telah membelakangimu dan akhirat telah menghadangmu. Rumah yang kamu tuju dalam perjalanan ini lebih dekat dari pada rumah yang telah kamu tinggalkan.” “Budi pekerti dan akhlak mulia bukanlah sekedar adat yang mesti kita lakoni. Tapi ia adalah sebuah pranata dan tatanan, yang mau tidak mau, harus kita terapkan dalam berbagai corak kehidupan.”

Apapun keberadaan kita, bagaimana pun posisi kita, nilai yang mesti kita tonjolkan adalah akhlaqul karimah. Seperti yang telah dicontohkan Luqman lewat pribadinya atau pun nasihat-nasihat untuk anaknya.

Dari ilustrasi dan profil beliau yang begitu monumental, sebenarnya tersimpan sebuah rahasia kepribadian insan yang berkualitas kamil. Ketika beliau mendapatkan anugerah untuk menentukan pilihan antara dua kemuliaan, mendapatkan derajat kenabian dan mendapat hikmah, ternyata beliau lebih memilih hikmah bukan kenabian. Bukan karena derajat itu lebih tinggi, akan tetapi semua itu semata-mata atas kearifan beliau mengkoreksi dirinya terlalu berat menyandang gelar kenabian. Beliau mengkhawatirkan dirinya merasa tidak mampu mengembannya dengan baik.

Begitulah sosok Luqman sang pujangga hikmah, dari bibir tebal meluncur kalam-kalam pelipur hati yang bebal, dan dari si kulit hitam bertebaranlah berjuta makna kehidupan penerang hati yang kelam. Semoga kita diberikan hikmah-hikmahnya, amin.

Surat Untuk “Mereka”

Suatu ketika Umar bin Khattab sedang berkhutbah di masjid kota Madinah, beliau mengulas tentang keadilan dalam Islam. Khutbah Umar berhenti sejenak ketika muncul laki-laki asing dalam masjid. Lalu beliau melanjutkan, “Sesungguhnya seorang pemimpin itu diangkat dari antara kalian, bukan dari bangsa lain. Pemimpin itu harus berbuat untuk kepentingan kalian, bukan untuk kepentingan dirinya, golongannya, dan bukan untuk menindas kaum lemah. Demi Allah, apabila ada di antara pemimpin dari kamu sekalian menindas yang lemah, maka kepada orang yang ditindas diberikan hak untuk membalas pemimpin itu. Begitu pula jika seorang pemimpin di antara kamu sekalian meghina seseorang di hadapan umum, maka kepada orang itu harus diberikan hak untuk membalas hal yang setimpal.”

Selesai khalifah berkhotbah, tiba-tiba laki-laki asing tadi bangkit seraya berkata: “Ya Amirul Mukminin, saya datang dari Mesir dengan menembus padang pasir yang luas dan tandus, serta menuruni lembah yang curam. Semua ini hanya dengan satu tujuan, yakni ingin bertemu dengan Tuan.”

“Katakan apa tujuanmu bertemu denganku,” ujar Umar.

“Saya telah dihina di hadapan orang banyak oleh Amr bin ‘Ash, gubernur Mesir. Sekarang saya akan menuntutnya dengan hukum yang sama.”

“Wahai saudaraku, benarkah apa yang telah engkau katakan itu?” Tanya Umar.

“Iya Amirul Mukminin, benar adanya.”

“Baiklah, kepadamu aku berikan hak yang sama untuk menuntut balas. Tetapi, engkau harus mengajukan empat orang saksi, dan kepada Amr aku berikan dua orang pembela, jika tidak ada yang membela gubernur, maka kau dapat melaksanakan balasan dengan memukulnya 40 kali.”

“Baiklah ya Amirul Mukminin. Akan saya laksanakan semua itu,” jawab orang itu sambil berlalu.

Ia langsung kembali ke Mesir untuk menemui gubernur Mesir, Amr bin ‘Ash. Sesampai di sana, ia langsung mengutarakan maksud dan tujuannya.

“Wahai Amr, sesungguhnya seorang pemimpin diangkat oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat. Dia diangkat bukan untuk golongannya, bukan untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya, dan bukan pula untuk menindas yang lemah dan mengambil hak yang bukan miliknya. Khalifah Umar telah memberi izin kepada saya untuk memperoleh hak di muka umum.”

“Apakah kamu akan menuntut gubernur?” Tanya salah seorang yang hadir.

“Iya, demi kebenaran akan saya tuntut dia,” jawab lelaki itu.

“Tetapi, dia kan gubernur kita?”

“Seandainya yang menghina itu Amirul Mukminin, saya juga akan menuntutnya.”

“Wahai, saudara-saudaraku. Demi Allah, aku minta kepada kalian yang mendengar dan melihat kejadian itu agar berdiri,” kata sang gubernur. Lalu banyaklah yang berdiri.

“Apakah kamu akan memukul gubernur?” Tanya salah satu sahabat.

“Ya, demi Allah saya akan memukul dia sebayak 40 kali.”

“Tukar saja dengan uang, sebagai pengganti pukulan itu,” tambah mereka.

“Tidak, walaupun seluruh Masjid ini berisi perhiasan, saya tidak akan melepaskan hak itu,” jawab si lelaki.

“Baiklah, mungkin engkau lebih suka demi kebaikan nama gubernur kita, di antara kami ada yang mau jadi penggantinya,” bujuk sahabat.

“Saya tidak suka pengganti,” jawabnya.

“Kau memang keras kepala. Tidak mendengar dan tidak suka usulan kami sedikitpun.”

“Demi Allah, umat Islam tidak akan maju bila terus begini. Mereka membela pemimpinnya yang salah dengan gigih karena khawatir akan dihukum,” ujamya sambil beranjak meninggalkan tempat.

Amr bin Ash serta merta menyuruh anak buahnya untuk memanggil lelaki itu. Ia kembali.

“Ini rotan, ambillah! Laksanakanlah hakmu,” kata Amr bin Ash sambil membungkukkan badannya siap menerima hukuman balasan.

“Apakah dengan kedudukanmu sekarang ini engkau merasa mampu untuk menghindari hukuman?” Tanyanya kembali.

“Tidak, jalankan saja keinginanmu itu,” jawab Amr bin Ash.

“Tidak, sekarang aku memaafkanmu.” Lelaki itu melemparkan rotannya dan memeluk sang gubemur.

Mencuci dan Menyucikan Pakaian Saat Kemarau

Bagi Anda yang belum tahu, ibadah salat itu bisa sah menurut syariat ketika memenuhi segala persyaratannya. Juga melakukan rukun-rukun dan tidak melakukan hal-hal yang bisa membatalkan salat. Dan satu diantara enam syarat sahnya salat adalah menutup aurat. Menutup aurat sebenarnya bisa dengan apa saja, karung beras sekalipun. Namun saat kondisi wajar, kiranya muslim Indonesia semuanya mampu menutup aurat dengan pakaian.

Ketika kita salat, pakaian yang kita kenakan haruslah suci dari segala macam najis. Dan di saat kemarau yang berkepanjangan seperti sekarang ini, sebagian daerah tentu akan kesulitan mendapatkan air bersih. Jangankan untuk mencuci baju dan perabotan rumah tangga, untuk mandi dan minum saja susah.

Melihat kenyataan yang demikian, kita tentu harus berhati-hati. Karena bisa jadi, keadaan seperti itu akan memaksa kita, entah sengaja atau tidak, melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Misalnya, kita lalai menjaga kesucian pakaian.

Najis sendiri kalau menurut bahasa adalah perkara yang menjijikan. Sedangkan menurut syariat adalah benda yang dianggap menjijikan yang mencegah keabsahan salat seandainya terbawa saat sedang salat. Ada dua jenisnya, najis hukmiyah dan ainiyah. Najis hukmiyah adalah najis yang tidak berbentuk (tidak tampak secara kasat mata) dan tidak mempunyai sifat bentuk (tidak berasa, tidak berwarna dan berbau). Cara menyucikan najis ini dengan mengalirkan air (meskipun hanya sekali aliran) secara merata pada bagian suatu benda yang terkena najis. Sedangkan najis ainiyah adalah najis yang memiliki bentuk dan satu dari beberapa sifatnya bentuk (rasa, warna dan bau). Jenis najis ini ada tiga: muhoffafah, mutawassithoh dan mugholladhoh.

Tulisan ini akan fokus bagaimana tips dan trik kita menggunakan air yang terbatas itu untuk membersihkan pakaian dari najis ainiyyah yang bersifat mutawassithoh atau najis yang terbilang ringan: seperti darah, kotoran manusia dan hewan (termasuk cicak), dll.

Para ulama memberi aturan cara mensucikan najis jenis ini adalah dengan terlebih dahulu menghilangkan bentuk dan sifat-sifatnya, kemudian dibasuh (dialirkan air). Ketika tersisa warna atau baunya najis saja (tidak bersamaan) dan sulit dihilangkan, maka benda tersebut dihukumi suci. Batasan sulit dihilangkan sendiri setelah kita berupaya menghilangkannya (digosok berulang kali disertai basuhan.

Semisal contoh pakaian kita terkena kotoran ayam. Maka yang harus dilakukan adalah, terlebih dahulu kita hilangkan bentuk kotorannya (kalau kotoran itu basah, setelah kotoran hilang keringkan pakaian dahulu agar najis tidak malah menyebar), kemudian baru kita bilas dengan air yang suci serta mensucikan.

Harus diakui, kenyataan yang terjadi di masyarakat saat ini banyak dari ibu atau pembantu rumah tangga, atau bahkan pegawai laundry, mengesampingkan hal ini. Dan disayangkan pula, banyak kepala rumah tangga yang tidak mencoba mengetahui bagaimana orang rumah membersihkan pakaiannya. Itu juga kalau tidak dibersihkan sendiri.

Mengenai hal ini, setidaknya beberapa tips dan trik bisa dilakukan. Pertama, pisahkan pakaian yang hanya kotor dan pakaian yang selain kotor juga terkena najis. Kedua, saat mencuci pakaian, upayakan tidak mencampur semua pakaian dalam satu bak (kecuali sudah dalam keadaan suci). Ketiga, meskipun akan sedikit boros air, upayakan tetap mengalirkan air ke pakaian demi kesuciannya (kalau air benar-benar terbatas, taruhlah bak di bawah pakaian guna menampung air bekas bilasan. Air bekas ini bisa digunakan untuk kebutuhan lain, misalnya membasuh perabotan rumah tangga). Keempat, jika Anda menggunakan mesin cuci, usahakan pakaian yang masuk ke dalamnya sudah dalam keadaan suci.

Mudah-mudahan paparan singkat ini memahamkan dan apa itu mencuci dan bagaimana itu me-suci-kan pakaian kiranya pembaca dapat membedakannya. /-

Muhafadlah

Muhafadlah, adalah sebuah metode sederhana yang dikembangkan oleh Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Lirboyo, untuk memudahkan para siswa dalam menghafalkan bait-bait (Nadzom) pelajaran, sehingga para siswa akan lebih mudah memahami, karena sudah dilandasi dengan hafalan yang kuat.
Metode klasik ini, sebetulnya sudah ada pada zaman keemasan Islam, yakni sekitar abad 15 Hijriyah, dimana para pelajar Islam tengah menempuh pendidikan di daerah Kuffah dan Basroh, Irak. Metode muhafadlah adalah membaca nadzam pelajaran secara bersama-sama, dengan diiringi nada yang sesuai, sehingga menghafalkan akan terasa lebih mudah.

Saat ini Metode Muhafadlah sudah dikembangkan dengan baik oleh Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Lirboyo, mulai muhafadlah Mingguan hingga Muhafadlah Akhirussanah yang dilaksanakan setahun sekali, sekaligus sebagai persyaratan mengikuti ujian.

Dalam Muhafadlah Mingguan, setiap tingkatan wajib mengikuti kegiatan tersebut, bahkan dibuatkan absen khusus Muhafadlah, sehingga perkembangan prestasi hafalan santri akan lebih mudah dipantau, Sedangkan muhafadlah akhirussanah, penataan manajemen dan persiapannya dilaksanakan lebih maksimal, karena selain sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian, Muhafadlah Akhirussanah adalah barometer untuk mengukur prosentase prestasi kelas secara umum.