Category Archives: Angkring

Barokah Silaturrahim

Suatu ketika, Rasulullah SAW melihat salah satu sahabatnya tinggal berumur 15 hari lagi. Maka, oleh beliau sahabat tersebut diajak silaturahim. Tetapi Rasulullah tidak memberi tahu kalau umurnya tinggal 15 hari. Setelah keliling bersilaturahim keluar masuk rumah para sahabat, minta maaf serta doa, tepat 15 hari ternyata malaikat Izrail tidak datang. Justru malaikat Jibril yang datang memberi tahu kepada Nabi SAW, “Sebab engkau ajak silaturahim maka umur shahabat ini dipanjangkan sampai 30 th.” (Riwayat ini admin catat dari mauidhah Habib Luthfi bin Yahya)

Tulisan Jelek Kiai Mahrus

Ada satu pengalaman unik yang dialami oleh KH. Fathoni Syihabuddin (Cirebon) saat masih nyantri kepada Kiai Mahrus di Pondok Pesantren Lirboyo. Inilah penuturannyanya : Kepada Kiai Mahrus Aly saya pernah ikut ngaji Fathul Wahhab dan Tafsir Yasin di masjid. Dan saya termasuk dari santri yang sering menyiapkan bangku, bantal dan sajadah beliau. Pada saat pengajian kitab Fathul Wahhab saya berada tepat di belakang beliau. Karena saya merasa bahwa tulisan saya termasuk jelek, akhirnya saya mencoba mengintai dan melihat kitab Kiai Mahrus dengan niat untuk melihat seperti apa isi kitabnya? Kemudian saya mendapati kitab beliau dipenuhi tulisan-tulisan yang berisikan keterangan.

Alangkah kagetnya saya, saat beliau menghentikan bacanya dan dhawuh, “Nek wong pinter iku biasane tulisane elek”. Karena saat saya melihat tulisan beliau, dalam hati saya bergumam bahwa tulisan beliau juga tidak terlalu bagus. Padahal saat saya mengintai tulisan beliau, posisi beliau sedang menghadap ke barat dan saya kira beliau tidak mengetahui kalau saya mengintainya. (Dikutip dari buku”Kesan Mendalam Para Tokoh Alumni Terhadap Tiga Tokoh Lirboyo”)

 

Kezuhudan KH. Abdul Karim

Setelah fasilitas penunjang untuk asrama santri di pesantren mulai terpenuhi, KH. Abdul Karim berkeinginan menunaikan ibadah haji menyempurnakan rukun Islam yang lama beliau dambakan. Niat itu semakin mantab setelah Pemerintah Daerah Kediri akan membeli sebidang tanah beliau yang terletak di sebelah selatan masjid. Menurut rencana tanah tersebut dipergunakan untuk membangun penjara (lembaga pemasyarakatan) oleh Pemda Kediri.

Karena hak atas tanah tersebut ada pada Ibu Nyai, KH. Abdul Karim meminta persetujuan sekaligus musyawarah kepada Ibu Nyai. Bila kelak Pemda Kediri jadi membebaskan tanah itu, uang ganti ruginya akan digunakan untuk ongkos naik haji. Ibu Nyai Khodijah setuju dengan rencana baliau.

Anehnya, meski rencana itu baru beliau kemukakan kepada ibu Nyai, dalam waktu singkat, sudah terdengar ke mana-mana. Wallahua’lam! Yang jelas kediaman KH. Abdul Karim lantas dipenuhi tamu yang menghormat dan menghaturkan selamat atas keberangkatan beliau. Sebagai lazimnya tamu yang ingin mengungkapkan rasa kebahagiaanya banyak yang menghaturkan tambahan bekal untuk beliau. Memang rizki dari Allah swt. Tidak disangka, ternyata uang hibah dari para tamu tadi mencapai sekitar Rp 600,00. Jumlah yang cukup untuk ongkos naik haji saat itu. Karenanya, penjualan tanah akhirnya diurungkan dan kebetulan juga Pemda Kediri menggagalkan rencana pembeliannya.

Setelah cukup berbenah, KH. Abdul Karim berangkat menuju Surabaya. Perjalanan haji kala itu melalui laut. Di Surabaya, beliau memperoleh tambahan bekal lagi dari para dermawan. Sehingga, bekal beliau menjadi Rp 1.000,00. Jumlah itu tentu lebih dari cukup. Namun, KH. Abdul Karim tidak tahu-menahu dengan uang sebanyak itu. Bahkan, untuk menghitung dan membawanya, beliau serahkan kepada pendamping beliau, yaitu Mbah Dasun Khotob. Begitulah KH. Abdul Karim, tidak peduli pada duniawi sehingga jumlah uang milik sendiri pun beliau tidak tahu.

Kezuhudan KH. Abdul Karim membuat kagum Kiai Hasyim Asy’ari ketika keduanya bertemu di Surabaya. Waktu itu, kebetulan sekali Kiai Hasyim, sahabat sekaligus guru beliau, ternyata juga hendak menunaikan ibadah haji. Kiai Hasyim merasa heran, KH. Abdul Karim, yang kemampuan duniawinya nampak biasa saja, mampu melaksanakan haji. Kiai Hasyim lantas bertanya kepada beliau, apakah sudah siap segalanya. Ternyata memang sudah semuanya. Cuma yang bikin geleng-gelang kepala ketika ditanya berapa jumlah uangnya, KH. Abdul Karim hanya menjawab pendek, “Mboten ngertos.”

Kontan Kiai Hasyim meminta uang itu untuk dihitungnya. Ternyata, malah lebih dari cukup untuk menunaikan ibadah haji. Kemudian, KH. Abdul Karim dan Kiai Hasyim bersama berangkat ke tanah suci. Mereka satu kapal. Di Tanah Suci, KH. Abdul Karim mampu melakukan umroh sampai 70 kali. Itu pun beliau lakukan dengan berjalan kaki dari Tan’im.

Semoga kita bisa mengambil ibrah dari kisah ini.

Al-Habib Salim bin Abdulloh Assyatiri Tarim Hadramaut Yaman

Habib Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar asy-Syathiri dilahirkan di Kota Tarim, Hadhramaut pada tahun 1359H. Ayahanda beliau, Habib ‘Abdullah adalah pendiri Rubath Tarim yang telah melahirkan ribuan ulama dan santri dari segenap pelosok dunia Islam. Beliau terkenal sebagai seorang ulama yang sholih. Bonda Habib Salim, Syarifah Ruqayyah binti Muhammad bin Hasan Mawla Aidid, adalah seorang wanita yang sholihah yang gemar beruzlah untuk beribadah kepada Allah.

Tatkala berusia 3 tahun, Habib Salim menjadi yatim dengan pemergian ayahanda beliau ke rahmatUllah. Namun asuhan dan didikan agamanya tidak pernah terabai, belum pun genap umurnya 11 tahun beliau sudah hafal al-Quran. Beliau telah menimba berbagai ilmu pengetahuan dari sekitar 80 orang ulama-ulama besar Hadhramaut dan Haramain, antara guru beliau adalah:

1. Habib Muhammad al-Mahdi;
2. Habib Abu Bakar;
3. Habib Hasan bin ‘Abdullah asy-Syathiri;
4. Habib ‘Alwi bin Syihabuddin;
5. Habib Ja’far bin Ahmad al-‘Aydrus;
6. Habib ‘Alwi bin ‘Abbas al-Maliki al-Hasani;
7. Syaikh Hasan bin Muhammad Masyath;
8. Syaikh ‘Abdullah Sa`id al-Lahji asy-Syafi`i;
9. Habib Hasan bin Muhammad Fad`aq;
10. Syaikh Hasan bin Sa`id.

Sekembalinya beliau ke Yaman, beliau telah menggunakan masanya untuk berdakwah dan menyebar ilmu. Beliau pernah tinggal 15 tahun di Kota Aden dan menjadi guru dan khatib di Masjid Habib Abu Bakar al-‘Adni bin ‘Abdullah al-Aydrus. Pada tahun 1403, atas permintaan Habib Zain bin Ibrahim BinSmith dan Habib Muhammad al-Haddar, beliau bermukim di Kota Madinah dan mengasuh Rubath al-Jufri.

Telah banyak santri yang mengambil manfaat dari kedalaman ilmu beliau. Beliau dikenali memiliki keikhlasan yang tinggi, akhlak yang mulia serta sentiasa menjaga sunnah Junjungan Nabi s.a.w. Dakwah dan menyebarkan ilmu tidak menghalang dirinya untuk memperbanyakkan ibadah-ibadah khususiyyah seperti sholat-sholat sunnat.

Setiap Ramadhan, beliau menambah sembahyang malamnya sehingga 100 rakaat setiap malam. Kini Habib Salim mengabdikan dirinya untuk mengasuh Rubath Tarim yang mempunyai sekitar 500 orang santri dari berbagai negara termasuklah Malaysia. Selain itu, beliau tetap melakukan rehlah dakwah ke berbagai pelosok dunia Islam. Mudah-mudahan Allah memberi kesihatan yang sempurna serta melanjutkan usia ulama yang digelar sebagai “Sulthanul ‘Ilmi” ini demi manfaat agama dan umat. Allahumma aamiin.

 

Pelajari Pesantren, Puluhan Siswa TK Kunjungi Lirboyo

LirboyoNet, Kediri – Menumbuhkan minat anak terhadap Pesantren bisa dimulai sejak dini, sebagai mana yang diakuakan oleh sekitar 55 Anak TK Ya Bunayya Trenggalek Jatim, Minggu pagi (15/05) mereka berkunjung ke Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Qur’an Lirboyo. Acara kunjungan singkat ini diawali dengan pembukaan terlebih dahulu di Masjid Al-Hasan kawasan barat PP. Lirboyo.

Dalam sambutannya pimpinan rombangan Ustad Zainal Arifin mengatakan “salah satu tujuan kami meengunjungi Pondok Pesantren Lirboyo ini adalah mengetahui secara langsung Proses belajar dan suasana yang ada dipesantren, sehingga diharapkan kedepan ada minat untuk belajar di Pondok,” Ujarnya. Ketua Pondok Pesantren Lirboyo, Imam Mustaghfirin dalam sambutannya mengatakan “Kami ucapkan selamat datang kepada siswa-siswa TK Ya Bunayya, semoga acara ini bermanfaat.”ujarnya singkat.

Acara pembukaan diakhiri dengan foto bersama dan penyerahan kenang-kenangan dari Pondok Pesantren Lirboyo kepada dewan Guru TK ya Bunayya. Selanjutnya, puluhan anak-anak TK Ya Bunaayya berkesempatan melihat secara langsung proses belajar santri Putri di kelas-kelas dan juga melihat bagaimana kondisi kamar-kamar santri. Sebelum meninggalkan Lirboyo, rombonan TK Ya Bunayya beramah Tamah sejenak dengan Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH. A. Idris Marzuqi dan Ibu Nyai Hj. Addiniyyah Idris. rIFF