Category Archives: Angkring

KH. Muhsin Ghozali: Tiga Tipologi Orang Mondok dan Kesan Mendalam Terhadap KH. Mahrus Aly

Menurut analisa saya ketika ngaji tafsir kepada Mbah Juki (KH. Marzuqi Dahlan) bahwa orang mondok itu ada tiga komponen: terdiri dari akal, pikiran, dan jasad. Jika yang mondok hanya jasadnya, sedangkang akalnya tidak, maka dia taat dengan peraturan tetapi malas belajar. Jika yang mondok akalnya, maka dia selalu belajar, tetapi suka melanggar peraturan dan malas berjamaah. Jika yang mondok hatinya, maka dia selalu taat kepada peraturan tetapi tidak mau berpikir. Jadi, yang paling benar adalah orang yang mondok secara akal, jasad, dan hati.

Ngaji kepada Mbah Mahrus (KH. Mahrus Aly) selesainya tidak dengan khatam. Kalau mengaji kadang-kadang cerita tentang kemasyarakatan. Selain itu, beliau juga sangat simpati dengan kehidupan yang serba kekurangan. Ketika punya santri yang ngaji pakai sepeda jelek justru dia dihormati. Dan ketika ada orang menikah dan Mbah Mahrus diundang di rumah reyotnya, beliau itu malah senang datang kesana. Jadi, selain dekat dengan para pejabat, beliau juga dekat dengan masyaraka melarat.

Saya di Lirboyo mulai dikenal Kiai Mahrus setelah tamat sekolah. Ketika menjadi sekertaris imtihan, saya yang dipatenkan untuk sowan ke beliau. Sering bolak-balik menghadap beliau, karena memang redaksi yang diajukan masih kurang sempurna. Apabila ada yang kurang beliau memberikan masukan, seperti misalnya bahasa yang digunakan harus diganti karena masih kurang bagus.()

Disarikan dari buku “Kesan Mendalam Para Tokoh Alumni Terhadap Tiga Tokoh Lirboyo”

Rahasia di Balik Makam Umar Ra. yang Bersandingan dengan Makam Rasulullah Saw.

Tatkala ajal akan menjemputnya, Amirul Mukminin Umar bin Khattab Ra. menyuruh anaknya, Abdullah, untuk menemui istri Rasulullah Saw., sayyidah ‘Aisyah.

Pergilah kepada Ummul Mukminin ‘Aisyah Ra. dan katakanlah bahwa Umar menyampaikan salam untukmu. Jangan kamu mengatakan Amirul Mukminin karena sekarang saya bukan Amirul Mukminin. Katakan Umar bin Khattab meminta izin untuk dikubur bersama kedua sahabatnya (Rasulullah Saw. Dan Abu Bakar as-Shiddiq Ra.) tepat di samping makam beliau Saw.”

Setelah Abdullah menemui ‘Aisyah Ra. dan menyampaikan maksud dari sang ayah, ternyata diketahui bahwa ‘Aisyah Ra. juga memiliki keinginan serupa.

Dulu saya ingin tempat itu menjadi kuburanku, dan saya akan memprioritaskan Umar untuk menempatinya.” terang ‘Aisyah Ra.

Abdullah pun pulang dan menyampaikan izin ‘Aisyah yang menjadi kabar gembira kepada Umar.

Mendengar kabar tersebut, kebahagian terpancar dari wajah Umar bin Khattab Ra. Ia berkata “Alhamdulillah, tidak ada sesuatu yang lebih penting melebihi hal itu.”

_________________________________

Dikutip dari kitab Mafahim Yajibu An Tushahhaha hlm. 250-251 karya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Malaki al-Hasani.  

Nama Muhammad Pernah Dilarang oleh Umar bin Khattab

Alasan Abdul Muthalib memberi nama cucunya yang baru lahir dengan nama “Muhammad” adalah ia ingin cucunya itu dipuji semua orang. Beberapa sumber mengatakan hal yang serupa. Dalam sumber lain dinyatakan bahwa nama Muhammad ini akhirnya membuat para kaum kafir Quraisy bingung dalam menghadapi dakwah nabi Muhammad saw.: mereka membencinya, namun faktanya mereka malah memanggilnya dengan “yang terpuji.”

Muhammad al Bushiri, penyair ulung itu, menjadikan nama “Muhammad” benar-benar keramat. Ia melantunkan kekeramatan itu dalam nadzam Burdahnya

فإن لي ذمةً منه بتسميتي

محمداً وهو أوفى الخلق بالذمم

Sesungguhnya aku punya jaminan (di hari kiamat) yakni namaku “Muhammad”

Dan ia (Nabi Muhammad) adalah makhluk paling sempurna dalam menepati janji (memberikan syafaatnya di hari kiamat)

Tentu ia tidak serta merta mengeramatkan nama itu tanpa dasar. Setidaknya, ada beberapa hadis yang mengungkapkan betapa mulianya nama Muhammad. Pertama, hadis yang disebut Hakim dalam kitab Al-Tarikh-nya,

إذا سميتم الولد محمدا فأكرموه وأوسعوا له المجلس ولا تقبحوا له وجها

 “Jika kalian memberikan anak-anak kalian nama ‘Muhammad’, maka muliakan mereka dan lapangkanlah tempat duduk mereka dalam majelis. Dan jangan kalian hinakan wajah mereka (jangan hinakan atau caci maki mereka dengan kata-kata ‘semoga Allah jelekkan wajah kalian’ atau sejenisnya).”

Kedua, hadis yang diriwayatkan al-Suyuthi di dalam kitabnya, Jami’ as-Shaghir.

إذا سميتم محمدا فلا تضربوه ولا تحرموه

 “Jika kalian memberikan nama ‘Muhammad’ (pada anak-anak kalian), maka janganlah kalian pukul mereka (kecuali karena hukum had dan mengajarkan adab), dan janganlah kalian larang mereka (muliakan dan berbuat baiklah pada mereka).”

Demi kemuliaan nama “Muhammad” ini, khalifah Umar bin Khattab bahkan pernah berang kala ia mendengar ada seseorang mencela nama Muhammad. Muhammad bin Yazid bin Khattab, nama orang yang dicela itu, melakukan suatu perbuatan buruk, sehingga orang-orang mencelanya, “Wahai Muhammad, semoga Allah menghukum perbuatan (buruk) mu.”

Muhammad bin Yazid tinggal di Kuffah, 1.200-an kilometer berjarak dari Madinah, tempat Umar memerintah. Sang khalifah setelah mendengar kisah celaan terhadapnya, ia menyuruhnya untuk segera menghadap ke Madinah. Dengan pengorbanan tenaga dan waktu demikian—jarak ribuan kilometer di masa transportasi sebatas unta itu tentu saja menuntut pengorbanan banyak hal—menunjukkan bahwa ini bukan masalah yang sederhana bagi sang khalifah.

Khalifah Umar memuntahkan amarahnya justru kepada Muhammad bin Yazid bin Khattab. Bukan kepada sang pencela. Jelas karena perbuatan buruknya itu sama sekali tidak dapat ditoleransi. “Aku takut nama Nabi Muhammad dicaci maki karena ulahmu.”

Saking hormatnya sang khalifah kepada nama Muhammad, sejak peristiwa itu ia melarang penduduk Kuffah memberi nama anak-anak mereka nama Muhammad. Ia takut penduduk Kuffah akan serampangan mencaci seseorang yang bernama Muhammad. Wallahu a’lam.

Referensi:

Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Hakim al-Naisaburi, Al-Tarikh.

Abdurrahman bin Kamaluddin Abu Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin, Jalaluddin al-Misri as-Suyuthi asy-Syafi’i al-Asy’ari, Jami’ as-Shaghir.

Syaikh Ali Al-Qari, Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih.

Maulid Sebagai Ekspresi Kegembiraan

Perintah bergembira atas kehadiran Rasullulah Saw di muka bumi ini datang langsung dari Allah Swt, melalui firmannya:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.(QS. Yunus:58)

Menurut sahabat Ibnu Abbas Ra, pakar tafsir kenamaan dari kalangan sahabat, maksud dari rahmat Allah Swt dalam ayat di atas ialah sosok Rasulullah saw. Jadi, perintah bergembira di atas adalah perintah bergembira akan kelahiran sosok Rasulullah Saw yang menjadi rahmat bagi semesta alam, termasuk kita umat manusia.

Kegembiraan atas Rasulullah Saw sudah mentradisi di kalangan para sahabat. Dikisahkan, bahwa pada hari-hari mendekati kedatangan Rasulullah di Madinah, banyak penduduk Madinah setiap hari keluar bersama dari rumahnya dan menunggu kedatangan Rasulullah hijrah dari Mekah, mereka keluar rumah setelah waktu Shubuh, sampai tengah hari. Jika tidak ada tanda-tanda kemunculan Rasulullah, maka mereka kembali pulang kerumah masing-masing. Hal itu dilakukan beberapa hari.

Sampai akhirnya suatu hari, Rasulullah Saw dan sahabat Abu Bakar ra sampai di Madinah pada siang hari, saat para penduduk sudah kembali ke rumah masing-masing. Yang melihat pertama kali kedatangan Rasulullah justru seorang lelaki Yahudi yang biasa melihat para kaum Anshor setiap hari menunggu kedatangan Rasulullah saat ia naik ke atas loteng rumahnya untuk suatu keperluan. Lantas, ia berteriak: “Wahai bani Qailah, ini pemimpin kalian, sungguh telah datang.”

Akhirnya, ada sekitar 500 orang dari kaum Anshor yang menyambut kedatangan Rasulullah. Saat itu, penduduk kota Madinah bersama-sama keluar rumah, sampai para gadis-gadis perawan pun nak ke atas rumah-rumah mereka seraya bertanya satu sama lain: “Yang manakah Rasulullah? Yang manakah Rasulullah?” Saking gemparnya kota Madinah saat itu, sahabat Anas bin Malik sampai berkata:”Saya tidak pernah melihat pemandangan kota Madinah segempar hari kedatangan Rasulullah dan hari wafatnya Rasulullah.

Kita yang hidup di akhir zaman ini juga butuh wadah untuk megekspresikan kebahagiaan atas Rasulullah. Oleh para Guru dan Ulama, kita diberikan wadah berupa acara Maulid untuk ekspresi kebahagiaan ini. Di dalam acara Maulid, kita sering mendendangkan qashidah  dan puji-pujian kepada Rasulullah dengan disertai pukulan rebana yang serasi, sehingga membuat rindu di hati semakin bergejolak, bahan banyak diantara jamaah Maulid yang akhirnya meneteskan air mata kerinduan kepada Rasulullah. Sungguh, sebuah acara yang sangat indah dan hanya orang-orang yang bersedia memasukinya yang akan merasakan dahsyat-nya aura Maulid ini. Sungguh sangat rugi, orang-orang yang selama hidupnya tidak pernah merasakan kedahsyatan sensasi acara Maulid.()

*Disarikan dari buku Bahagia Mencintai Rasulullah (M. Saifuddin Masykuri)

KH. Hamdani Lasmani: Barokah Tawasul ke Mbah Karim

Pada tahun 1983 saya dipanggil Kiai Mahrus Aly. Saya didawuhi disuruh membantu Pondok Sidogiri. “Kamu saya suruh ke Sidogiri, karena kiai sana minta tenaga bantu dari sini. Ini kamu yang saya kirim kesana,” begitu ngendika-nya beliau dalam bahasa indonesianya. Waktu itu saya susah, bagaimana ini? Saat saya disana memang belum ada utusan ngajar di pondok lain seperti sekarang. Kalau Kiai Mahrus menyuruh tidak bisa ditunda. Karena kalau ditunda, bisa dibendoni kiai.

Lalu, saya pikir-pikir lagi. Saya minta waktu kepada beliau, karena saya punya tanggungan dagang. Saat itu saya dagang batik. Saya minta kiriman batik dari teman  di Pekalongan. Lalu, saya terima di pondok. Selanjutnya saya kirim ke daerah-daerah. Akhirnya, Kiai Mahrus menberi tenggang waktu seminggu untuk menyelesaikan semua tanggungan saya. Setelah seminggu, saya menghadap beliau lagi. Kata beliau saya disuruh langsung berangkat. Sebenarnya sedari dulu sudah dijemput, tetapi saya belum bisa datang. Lalu, ada yang jemput kembali lagi. Saya diantarkan sama alumni Sidogiri yang di Lirboyo.

Setelah sampai Sidogiri, saya ditemukan sama pengurus belum bertemu dengan kiainya. Sidogiri sebelumnya belum pernah saya injak sama sekali. Ditambah lagi, mukallamah yaumiyah-nya bahasa Madura dan saya tidak bisa. Kemudian, saya diserahi tugas ngajar pelajaran Dahlan Alfiyah dan Shahih Muslim. Padahal saya kesana tidak membawa kitab apa-apa. Saat mengajar Shahih Muslim saya agak kesulitan meng-isnad-kanya dan bingung. Yang mengesankan, saya lalu teringat Mbah Karim. Kemudian, kirim hadiah Fatihah kepada beliau. Ajaibnya, langsung terbuka dan ingat semua. Saya dulu memang pernah ngaji, tapi sudah lama sekali. Setelah ke Lirboyo lagi, saya menceritakan peristiwa itu kepada Kiai Anwar dan disampaikan beliau kepada Kiai Mahrus.()

Sumber: Himasal Lirboyo