Category Archives: Angkring

Barokah Orang Saleh

Dikisahkan, ada sepasang suami istri hidup dalam keadaan serba kekurangan. Suatu hari si suami mendapatkan sebuah rejeki berupa uang. Bertanyalah dia kepada isterinya.

“Engkau ingin aku belikan apa? Wahai isteriku.”

“Dibelikan daging kambing saja. Kita kan sudah lama tidak mencicipi lezatnya daging.” jawab isterinya.

Berangkatlah si suami ke toko daging. Daging yg ia beli kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik. Saat perjalanan pulang, di atas bukit dilihatnya ada sebuah masjid dikerumuni banyak orang. Gumam dalam hatinya, “Ini tidak waktunya sholat kok banyak orang. Tentu ada jenazah yg sedang disholati. Sebaiknya, aku juga ikut menyolati saja.”
Tanpa menanyakan jenazah siapa, ia langsung masuk ke masjid dan melaksanakan sholat.

Pada saat melaksanakan sholat jenazah, kantong yg berisi daging juga ikut dibawa. Seusai sholat ia langsung pulang ke rumah. Tidak ikut mengantar jenazah hingga ke liang lahat.

Sesampai di rumah, kantong berisi daging diserahkan kepada isterinya untuk dimasak. KEANEHAN TERJADI. Daging tsb dipotong pakai pisau tidak bisa terbelah. Direbus, dibakar & dipanggang tidak bisa matang. Warnanya tetap kemerahan. Segala upaya dilakukan, daging sedikitpun tidak berubah.

Di tengah kebingungan dengan kejadian ini, mereka berdua malamnya bermimpi. Dalam mimpinya mereka mendengar suara berkata, “Daging yg kamu bawa saat menyolati orang shalih atau wali Allah dibakar tidak akan bisa. Apalagi dagingmu, jika kamu beriman pada Allah dan rasul-Nya serta kamu mencintai orang shalih, tidak akan terbakar oleh api neraka.”

*Mari kita ambil pelajaran dari kisah ini. Rasulullah dan para orang shalih yg harusnya menjadi idola kita. Karena beliau2 bisa memberikan manfaat & barokah di dunia bahkan akherat. Bukan justru artis dan penyanyi yg kita jadikan sebagai pujaan!

*Kisah ini admin catat dari ceramah Habib Umar Al Muthohhar saat Haul & Haflah Akhirussanah di Lirboyo th 1433 H./2012 M.

Setelah Wafat Mengobati Orang Sakit

Kisah ini admin dengar dari KH. Habibullah Zaini saat mengajar Mauidhotul Mu’minin di kelas 3 Aliyah 4 tahun silam. Ada seorang alumni Lirboyo mengalami kecelakaan. Dia saat itu bersama putranya.

Beruntung dia selamat dari kecelakaan maut tersebut. Namun putranya menderita luka yg cukup serius hingga mengakibatkan tidak sadarkan diri sampai berhari-hari. Usaha dan upaya telah dilakukan demi kesembuhan putranya. Termasuk membawanya ke rumah sakit. Tapi, putranya belum juga sembuh dan sadar. Akhirnya alumni tadi berziarah ke makam Lirboyo. Bertawassul kepada beliau2 yg dimakamkan di sana, mengharapkan agar Allah memberikan kesembuhan kepada putranya.
Sesampainya di rumah sakit, dia mendapati putranya telah siuman. Sang alumni merasa takjub dan heran. Putranya bercerita, bahwa dia merasa didatangi oleh orang tua yang tidak dikenalnya. Dia hanya tahu orang tsb fotonya dipasang di atas pintu rumahnya. Ternyata yang dipasang di atas pintu adalah foto KH. Marzuqi Dahlan.

Barokah Silaturrahim

Suatu ketika, Rasulullah SAW melihat salah satu sahabatnya tinggal berumur 15 hari lagi. Maka, oleh beliau sahabat tersebut diajak silaturahim. Tetapi Rasulullah tidak memberi tahu kalau umurnya tinggal 15 hari. Setelah keliling bersilaturahim keluar masuk rumah para sahabat, minta maaf serta doa, tepat 15 hari ternyata malaikat Izrail tidak datang. Justru malaikat Jibril yang datang memberi tahu kepada Nabi SAW, “Sebab engkau ajak silaturahim maka umur shahabat ini dipanjangkan sampai 30 th.” (Riwayat ini admin catat dari mauidhah Habib Luthfi bin Yahya)

Tulisan Jelek Kiai Mahrus

Ada satu pengalaman unik yang dialami oleh KH. Fathoni Syihabuddin (Cirebon) saat masih nyantri kepada Kiai Mahrus di Pondok Pesantren Lirboyo. Inilah penuturannyanya : Kepada Kiai Mahrus Aly saya pernah ikut ngaji Fathul Wahhab dan Tafsir Yasin di masjid. Dan saya termasuk dari santri yang sering menyiapkan bangku, bantal dan sajadah beliau. Pada saat pengajian kitab Fathul Wahhab saya berada tepat di belakang beliau. Karena saya merasa bahwa tulisan saya termasuk jelek, akhirnya saya mencoba mengintai dan melihat kitab Kiai Mahrus dengan niat untuk melihat seperti apa isi kitabnya? Kemudian saya mendapati kitab beliau dipenuhi tulisan-tulisan yang berisikan keterangan.

Alangkah kagetnya saya, saat beliau menghentikan bacanya dan dhawuh, “Nek wong pinter iku biasane tulisane elek”. Karena saat saya melihat tulisan beliau, dalam hati saya bergumam bahwa tulisan beliau juga tidak terlalu bagus. Padahal saat saya mengintai tulisan beliau, posisi beliau sedang menghadap ke barat dan saya kira beliau tidak mengetahui kalau saya mengintainya. (Dikutip dari buku”Kesan Mendalam Para Tokoh Alumni Terhadap Tiga Tokoh Lirboyo”)

 

Kezuhudan KH. Abdul Karim

Setelah fasilitas penunjang untuk asrama santri di pesantren mulai terpenuhi, KH. Abdul Karim berkeinginan menunaikan ibadah haji menyempurnakan rukun Islam yang lama beliau dambakan. Niat itu semakin mantab setelah Pemerintah Daerah Kediri akan membeli sebidang tanah beliau yang terletak di sebelah selatan masjid. Menurut rencana tanah tersebut dipergunakan untuk membangun penjara (lembaga pemasyarakatan) oleh Pemda Kediri.

Karena hak atas tanah tersebut ada pada Ibu Nyai, KH. Abdul Karim meminta persetujuan sekaligus musyawarah kepada Ibu Nyai. Bila kelak Pemda Kediri jadi membebaskan tanah itu, uang ganti ruginya akan digunakan untuk ongkos naik haji. Ibu Nyai Khodijah setuju dengan rencana baliau.

Anehnya, meski rencana itu baru beliau kemukakan kepada ibu Nyai, dalam waktu singkat, sudah terdengar ke mana-mana. Wallahua’lam! Yang jelas kediaman KH. Abdul Karim lantas dipenuhi tamu yang menghormat dan menghaturkan selamat atas keberangkatan beliau. Sebagai lazimnya tamu yang ingin mengungkapkan rasa kebahagiaanya banyak yang menghaturkan tambahan bekal untuk beliau. Memang rizki dari Allah swt. Tidak disangka, ternyata uang hibah dari para tamu tadi mencapai sekitar Rp 600,00. Jumlah yang cukup untuk ongkos naik haji saat itu. Karenanya, penjualan tanah akhirnya diurungkan dan kebetulan juga Pemda Kediri menggagalkan rencana pembeliannya.

Setelah cukup berbenah, KH. Abdul Karim berangkat menuju Surabaya. Perjalanan haji kala itu melalui laut. Di Surabaya, beliau memperoleh tambahan bekal lagi dari para dermawan. Sehingga, bekal beliau menjadi Rp 1.000,00. Jumlah itu tentu lebih dari cukup. Namun, KH. Abdul Karim tidak tahu-menahu dengan uang sebanyak itu. Bahkan, untuk menghitung dan membawanya, beliau serahkan kepada pendamping beliau, yaitu Mbah Dasun Khotob. Begitulah KH. Abdul Karim, tidak peduli pada duniawi sehingga jumlah uang milik sendiri pun beliau tidak tahu.

Kezuhudan KH. Abdul Karim membuat kagum Kiai Hasyim Asy’ari ketika keduanya bertemu di Surabaya. Waktu itu, kebetulan sekali Kiai Hasyim, sahabat sekaligus guru beliau, ternyata juga hendak menunaikan ibadah haji. Kiai Hasyim merasa heran, KH. Abdul Karim, yang kemampuan duniawinya nampak biasa saja, mampu melaksanakan haji. Kiai Hasyim lantas bertanya kepada beliau, apakah sudah siap segalanya. Ternyata memang sudah semuanya. Cuma yang bikin geleng-gelang kepala ketika ditanya berapa jumlah uangnya, KH. Abdul Karim hanya menjawab pendek, “Mboten ngertos.”

Kontan Kiai Hasyim meminta uang itu untuk dihitungnya. Ternyata, malah lebih dari cukup untuk menunaikan ibadah haji. Kemudian, KH. Abdul Karim dan Kiai Hasyim bersama berangkat ke tanah suci. Mereka satu kapal. Di Tanah Suci, KH. Abdul Karim mampu melakukan umroh sampai 70 kali. Itu pun beliau lakukan dengan berjalan kaki dari Tan’im.

Semoga kita bisa mengambil ibrah dari kisah ini.