Category Archives: Angkring

Sekilas Majalah Dinding Lirboyo

 

Memasuki era 80an, makin banyak saja santri yang menimba ilmu di Lirboyo. Demi menjaga karakteristiknya sebagai pesantren salaf, Lirboyo terbilang menutup diri dari dunia luar. Itu dibuktikan pada tahun 1985, pihak pesantren gencar melarang santrinya membaca koran dan majalah. Dengan program itu, diharapkan para santri fokus melakukan kegiatan belajar.

Namun begitu, Lirboyo tetap memandang perlu menjaga hubungan baik dengan pihak luar. Supaya setelah para santri merampungkan studinya, mereka sudah mengenal dunia luar. Setidaknya mereka mengerti dengan medannya ketika telah kembali ke kampung halaman.

Berlandaskan hal itu, pada 17 Agustus 1985 pesantren Lirboyo ikut serta dalam Pameran Pembangunan Kodya Kediri. Dalam pameran yang bertempat di alun-alun Kediri, Lirboyo menampilkan berbagai macam karya. Termasuk membuat majalah dinding, meskipun waktu itu di dalam pondok sendiri belum ada. Baru seusai pameran, gagasan membuat majalah dinding muncul di benak para santri.

Adalah sosok Fadloli el Munir, santri asal Jakarta (Pengasuh Pondok Pesantren Ziyadatul Mubtadi-en, Cakung, Jakarta Timur, Sekaligus ketua Forum Betawi Rempug, wafat pada selasa, 29 Maret 2009), waktu itu menjabat Ketua Umum Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (M3HM), yang menggebu untuk merealisasikan gagasan pembentukan majalah dinding di Lirboyo.

Gagasan itu menimbulkan kontraversi dikalangan pimpinan Lirboyo, sulit sekali mencetuskan kata sepakat. Pendapat yang kontra menganggap naïf atas usulan itu. Namun Kang Fadloli tidak pernah menyerah. Ia tetap gigih memperjuangkan gagasannya. Dengan kecerdasan dan sifat kerasnya (begitulah informasi yang kami dapat), ia menjelaskan bahwa dengan majalah dinding santri Lirboyo justru diajak meningkatkan gairah belajar, disamping mengembangkan bakat tulis menulisnya.
Akhirnya perjuangan Kang Fadloli membuahkan hasil. Dengan dukungan Bapak Marwan Masyhudi, Mudier (kepala) Madrasah Lirboyo saat itu, gagasannya mendapat lampu hijau, walau secara resmi belum mendapat surat izin penerbitan.

Dan tepat pada 9 September 1985, Sidang Redaksi pertama majalah dinding digelar. Fadloli ditampuk sebagai Pimpinan Redaksi, dibantu Nur Badri, Ma’ruf Asrori (pemilik penerbitan Khalista, Surabaya), Bastari Alwi, Sahlan Aidi, Badrudin Ilham dan beberapa santri lainnya.

Di awal berdirinya HIDAYAH sederhana dan apa adanya. Naskah-naskah HIDAYAH hanya direkatkan dengan lem pada papan tanpa kaca. Sehingga, waktu itu pembaca dengan mudahnya mencorat coret naskah. Bahkan tidak jarang redaksi kehilangan foto yang dipampang.

Walaupun masih tampil apa adanya, periode 1987-1988 HIDAYAH masuk finalis ke 30 dalam Lomba Koran Dinding Nasional di Jakarta. Dan pada akhir periode ini, dengan pimpinan redaksi Imam Ghozali Aro (pernah menjadi wartawan harian Surya) untuk pertama kalinya HIDAYAH menerbitkan bundel.
HIDAYAH mengalami kemajuan dari segi tampilan pada periode 1988-1989. Naskah aman dari corat coret, karena periode ini papan HIDAYAH ditutupi kaca. HIDAYAH juga mencatat prestasi menjadi juara IV dan juara favorit dalam Lomba Koran Dinding se Jawa Timur di Surabaya yang diselenggarakan harian Jawa Pos, Majalah Nona dan Majalah Kartini.

HIDAYAH kembali berprestasi dalam Lomba Koran Dinding antar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) se Jawa Timur yang digelar di Surabaya. Dalam lomba yang diselenggarakan harian Jawa Pos dan Universitas Airlangga (Unair) ini, HIDAYAH menjadi juara III.

Memasuki era 90an, tidak ada lagi lomba-lomba Koran dinding Nasional maupun Propinsi. Paling tidak sampai tahun 1997 M. HIDAYAH terakhir kali menunjukkan kebolehannya pada Lomba Koran Dinding Nasional yang diselenggarakan majalah Kartini, Tempo dan PGRI (tanpa kepanjangan, hanya tertulis PGRI; sebagaimana tertera pada medali) tahun 1991 M. Waktu itu, HIDAYAH menjadi satu-satunya Koran dinding Jawa Timur yang meraih prestasi, HIDAYAH berhasil memboyong juara II.

Diusianya yang ke dua puluh lima, HIDAYAH memang minim dalam hal prestasi. Namun bukan berarti sepi dari perkembangan. Prestasi kurang karena memang beberapa tahun belakangan, jarang diadakan lomba koran dinding yang searah dengan HIDAYAH. Yang lebih mementingkan isi dengan tampilan seadanya. Tahun 2000-an, media-media yang dulu sering menjadi penyelenggara lomba koran dinding dengan penekanan kreatifitas tulisan, beralih menekankan pada tampilan. Misalnya Jawa Pos. Jika dulu, HIDAYAH bisa unjuk kebolehan didepan jurnalis-jurnalis senior, sekarang tidak lagi. Karena lombanya pada keunikan tampilan, bukan pada tulisan. Yang tentunya memakan biaya lebih. Namun demikian, di Lirboyo sendiri HIDAYAH tidak sepi dari perkembangan.

Kini, saat Lirboyo telah melewati seabad kelahirannya, HIDAYAH tampil dengan aneka ragam kreatifitas para santri. Di papan yang terbungkus karpet dengan penutup kaca, tiap dua minggu sekali, dua puluh dua naskah kreasi santri terpampang dengan corak yang beragam.[]

Santri Pertama dan Pondok Lama

Demikian jalan yang ditempuh Umar selama di Lirboyo. Selang beberapa waktu ada tiga santri menyusul jejak Umar. Mereka berasal dari Magelang, daerah asal KH. Abdul Karim. Masing-masing bernama Yusuf, Shomad Dan Sahil. Tidak lama kemudian datanglah dua orang santri bernama Syamsuddin dan Maulana, keduanya berasal dari Gurah, Kediri. Seperti santri sebelumnya, kedatangan kedua santri ini bermaksud untuk mendalami ilmu agama dari KH. Abdul Karim. Akan tetapi baru dua hari saja mereka berdua menetap di Lirboyo, semua barang-barangnya ludes di sambar pencuri. Memang pada saat itu situasi Lirboyo belum sepenuhnya aman, di Lirboyo masih ada sisa-sisa perbuatan tangan-tangan kotor. Akhirnya mereka berdua mengurungkan niatnya untuk mencari ilmu. Mereka pulang ke kampung halamannya.

Tahun demi tahun, keberadaan Pondok Pesantren Lirboyo semakin dikenal oleh masyarakat luas dan semakin banyaklah santri yang berdatangan mengikuti santri-santri sebelumnya untuk bertholabul ilmi, maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang dialami oleh Syamsuddin dan Maulana, dibentuklah satuan keamanan yang bertugas ronda keliling disekitar pondok.

M3HM (Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien)

Seperti halnya sebuah lembaga pendidikan lainnya, MHM Lirboyo mempunyai lembaga Intra Madrasah yang dikelola dari dan untuk santri, bernama Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (M3HM). Sedangkan untuk kantornya, M3HM terletak di kawasan pondok Induk, tepatnya di lantai I gedung Al-Ittihad I.

Sejarah singkatnya, M3HM bermula dari kegiatan Musyawarah yang diikuti oleh sekitar 90 siswa pada tahun 1941 yang diprakarsai KH.. Zamroji (Kencong Pare). Meski pada waktu itu kegiatan sepert ini belum terorganisir secara struktural, namun kegiatan ini mampu bertahan selama 4 tahun. Kemudian  pada tahun 1955 datang utusan dari pengurus IPNU pusat yang diwakili oleh Tolhah Mansyur (Mahasiswa UGM) dan Bahtiar Sutiono (Pelajar ST Nganjuk), sowan kepada KH. Mahrus Aly agar di Lirboyo didirikan IPNU. Namun karena  IPNU pada waktu itu belum masyhur di kalangan pesantren, maka atas usul Ustadz Ahmad Qosim (Mustahiq  tamatan 1956), dibentuklah Psah Hidayatul Mubtadi-ien, juga sebagai Dewan Pengawas Muhafadzah Mingguan.

Dalam rangka mewujudkan tujuannya, usaha yang telah dilakukan M3HM adalah dengan mengaktifkan musyawarah dan muhafadzah umum serta meningkatkan kualitasnya. M3HM juga mengadakan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler untuk menambah wawasan sosial kemasyarakatan an kreatifitas intelektual siswa MHM. Dalam hal ini, M3HM menyelenggarakan seminar-seminar –lebih dikenal dengan istilah jam’iyyah Nahdliyyah- yang dilaksanakan dua kali dalam setahun dengan menghadirkan tutor-tutor handal. Dalam jam’iyyah nahdliyah ini, diadakan kuliah umum dengan mendatangkan tutor dari luar pondok dan mengangkat berbagai masalah aktual  dengan berbagai  bahasan seperti keorganisasian, leadership, manajemen ke-NU- an dan lain sebagainya.