Category Archives: Angkring

KH. Masdain: Metode ngajar Mbah Marzuqi

Metode belajar yang dipakai oleh KH. Marzuqi dahlan adalah metode klasik, seperti memaknai dengan sistem mubtadak-khabar. Saya dan Gus Bahru disuruh membaca kemudian di-maknai lalu di-tarkib. KH. Marzuqi Dahlan tidak menyuruh untuk menerangkan. Kemudian KH. Marzuqi Dahlan membaca kembali dan di-Murodi. KH. Marzuqi Dahlan dalam membacakan kitab dan memaknai tidak perlu di-murodi seperti halnya para santri, itu sudah dipahami. Cara penyampaian beliau sangat simpel tapi sangat mudah untuk dipahami dan melekat di hati. Itu merupakan kelebihan beliau yang dianugrahkan oleh Allah kepada beliau.

KH. Marzuqi Dahlan dalam menerangkan selalu menambahkan cerita-cerita yang berhubungan dengan apa yang beliau baca. Beliau menceritakan tentang guru-guru beliau, saat mengaji kepada KH. Dahlan, saat mengaji kepada KH. Abdul Karim, dan lain sebagainya. Nasihat dan cerita beliau itu sudah membuat para santri takut. Cerita tersebut bagaikan doktrinisasi yang cukup harus ditaati. Pada saat beliau menerangkan, para santri selalu memperhatikan betul.

Saya tidak pernah menemui kegalakan KH. Marzuqi Dahlan. Saya hanya pernah menjumpai jika ada santri yang lalaran dengan tabuhan yang sangat keras kemudian terlihat oleh KH. Marzuqi Dahlan, beliau akan marah. Pernah suatu ketika pada pukul 23.00 WIB, santri lalaran dengan tabuhan yang berlebihan, beliau mendatangi mereka dengan membawa batu (kayu) dan melemparkan kepada para santri. Beliau belum sempat berkata apa pun, para santri yang tahu itu KH. Marzuqi Dahlan, semua berdiam lalu bubar dan berlari.()

Sumber: Himasal Lirboyo

Kala Al-Ghazali Berbicara Perihal Cinta


Imam Ghazali nampaknya menjadi salah satu penggemar terberat Rabiah Adawiyah. Kalau saja ia hidup di zaman sekarang, bukan tidak mungkin dia akan bikin semacam fanbase buat Rabiah.

Betapa tidak. Ia bahkan mengutip rangkaian syair Rabiah di kitabnya yang paling monumental: Ihya Ulumuddin. Ia tak akan mengutip syair itu jika lariknya tak benar-benar penting baginya.

Pertama, karena ia pernah mengecam kebiasaan masyarakat zamannya yang doyan bersyair. (Baca bab hukum syair dan musik di ihya). Kedua, sebagai seorang yang pernah berada di level faqih—yang artinya pernah berurusan serius dengan kaum sufi—tentu akan lebih kritis terhadap sesuatu yang berbau sufistik-spiritualisme.

Namun magis Rabiah memang sungguh terlalu. Al-Ghazali jelas terpengaruh dan membaca hampir seluruh syair Rabiah. Ia lalu memilih mengutip beberapa larik ini:

أُحِبُّكَ حُـبَّينْ حُبُّ الهَوَى وَحُــبَّا لأنَّكَ أَهْلٌ لِـذَاكَا
فَأَمَّا الَّـذِي هُوَ حُبُّ الهَوَى فَشُـغْلِي بِذِكْرِكَ عَمَّنْ سِوَاكَا
وَأَمَّا الَّـذِي أَنْتَ أَهْلٌ لَـهُ فَلَسْتُ أَرَى الكَوْنَ حَتىَّ أَرَاكَا
فَمَا الحَمْدُ فِي ذَا وَلاَ ذَاكَ لِي وَلَكِنْ لَكَ الحَمْدُ فِي ذَا وَذَاكَا

“Aku mencintaimu karna dua hal: pertama karena cinta pada cinta, Dan kedua karena Engkau pantas dicinta.”
“Cinta pada cinta adalah saat aku terlalu mabuk asmara mengingat diriMu, tak terbagi cintaku pada yang lain.”
“Dan tentang engkau yang pantas dicinta ialah karena aku tak melihat segala-galanya kecuali dirimu”
“Aku tak butuh pujian karna ini dan itu tapi karna Engkaulah yang pantas akan semua itu.

Dari syair ini kemudian Al-Ghazali menemukan cahaya terang: kenikmatan memandang keagungan Allah adalah cinta yang dimaksud Rabiah itu. Cinta yang tak terbagi, cinta yang membutakan pecandunya pada semua hal.

Kesimpulan ini ia landaskan pada firman Allah dalam hads qudsi:
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Aku telah menyediakan bagi hamba-hambaKu yang saleh kenikmatan yang belum pernah ada mata yang melihatnya, belum pernah ada telinga yang mendengarnya, dan belum pernah dibayangkan hati manusia.”

“Keterangan-keterangan tersebut telah menjelaskan segalanya,” ujar Al-Ghazali, “bahwa pengetahuan yang paling nikmat adalah pengetahuan yang paling tinggi derajatnya.” Apa keagungan Allah adalah cinta yang dimaksud Rabiah itu. Cinta yang tak terbagi, cinta yang membutakan pecandunya pada semua hal.

Apa pengetahuan paling tinggi derajatnya itu? Derajat sebuah pengetahuan akan dinilai sesuai dengan derajat materi yang menjadi objek pengetahuan itu. Semisal, pengetahuan tentang ilmu bangunan, derajatnya setara dengan nilai bangunan itu sendiri.

Derajat pengetahuan akan alam dan kajian biologisnya, setara dengan seberapa penting alam dan kajian biologis itu untuk diketahui banyak orang. Dan seterusnya.

“Dengan demikian,” lanjut Al-Ghazali, “jika kita menemukan sesuatu yang agung dan mulia di dalam ilmu pengetahuan itu, maka ilmu pengetahuan itu pastilah ilmu yang agung dan mulia pula. Maka pengetahuan kita terhadap Yang Tertinggi (tuhan) adalah aladzzul ‘ulum, semulia-mulia dan selezat-lezatnya pengetahuan.”

Referensi: Ihya Ulumudin, maktabah dar al-fikr, vol. 4, hal. 323.

__________________________________

Nailul Huda, mutakharijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2004, dengan perubahan seperlunya.

KH. Ilham Nadzir: Ngaji pada KH. Marzuqi Dahlan Seperti Minum Madu Murni

Kesederhanaan KH. Marzuqi Dahlan yang saya tahu tidak pernah berdandan (gak tahu macak, blas). Aktifitas keseharian beliau mengaji ke daerah Jampes dengan hanya bersepeda ontel (sepeda kuno tempo dulu). Bannya masih berupa ban ungkul (ban sepedanya terbuat dari karet utuh), sadel sepedanya yang  jengat dengan hanya diberi lilitan tali. Beliau juga suka berziarah ke makam-makam ulama dengan hanya menaiki bendi (dokar). Saya ngaji kitab Ihya itu pertama kali selama empat tahun, yang kedua selama enam tahun.

Jadi Mbah Marzuqi sangat memperhatikan urusan ngaji. Kiprah beliau berkenaan dengan membaca kitab untuk pertama kalinya sekitar tahun 1956 (sekitar dua tahun sepeninggal Mbah Kiai Abdul Karim). Padahal, Mbah Kiai Marzuqi itu kalau hafalan nahwu uangel poll. Jadi, “ka ‘abdi, ‘abdi, ‘abda, ‘abda, ‘abdiya, bolak-balik, diulang-ulang begitu. Dalam hati saya berkata, “Sa’jane iso pora to kiai iki (sebenarnya kiai ini bisa apa nggak sih).” Namun, yang membuat saya takjub, selanjutnya beliau sangat lancar dalam membaca kitabnya. Dadi, moco kitab tafsir druendel, ihya druundel, moco kitab-kitab liyane yo druendel (jadi baca tafsir begitu lancar, kitab ihya lancar, kitab-kitab lain juga lancar).’’ Sampai-sampai, saya merasa saat ngaji kepada beliau itu seperti minum madu murni. Begitu nikmat mendengarnya. Jadi, nggak usah diartikan sudah paham saya. Saat beliau membacakan kitabnya dengan sendirinya saya itu langsung paham.()

Sumber: Himasal Lirboyo

KH. Muhammad Subadar: Empat Dunia KH. Marzuqi Dahlan dan KH. Mahrus Aly

Baik Kiai Marzuqi maupun Kiai Mahrus, keduanya sama-sama hebat dan ampuh, tetapi sedikit berlainan. Kalau saya simpulkan, dunia Kiai Marzuqi ada empat : mihrab atau pengimaman, kitab, tamu, dan keluarga. Beliau itu jarang sekali tinda’an kemana-mana. Seiap harinya tak lepas dari baca kitab  meskipun kitab yang dibaca telah khatam berkali-kali.

Kiai Marzuqi juga sangat menghormati kiai-kiai sepuh. Sepeti halnya ketika Kiai Wahab Hasbullah rawuh, beliau sedang mengajar lalu turun dan menjemput. Kalau ijazah yang saya dapat dari Kiai Marzuqi salah satunya Dalailul Khairat.

Sementara itu, Kiai Mahrus dunianya berbeda. Selain mihrab, kitab, tamu, dan keluarga. Beliau juga tinda’an kemana-mana. Ada undangan walimah di berbagai daerah datang, ke istana presiden juga pernah, dan masih banyak lagi tempat yang sudah beliau kunjungi. Namun, kitab yang beliau baca jarang sekali khatam()

Sumber: Himasal Lirboyo

KH. Mustofa Bisri: Keistimewaan Shalawat KH. Mahrus Aly

Sebelum menimba Ilmu di Lirboyo, Kiai Mahrus pernah mondok di Kasingan, Rembang, untuk berguru kepada Kiai kholil, kakek saya. Bahkan saat Kiai Mahrus itu putra-putranya sudah jadi kiai semua, beliau tetap saja masih suka mondok kemana-mana. Beliau lama sekali mondok di Kasingan.

Yang terkesan dari beliau sampai saat ini, saya sering sowan ke kediaman beliau ketika saya sudah tidak mondok di Lirboyo. Kalau saya belum bisa berkunjung kesana, biasanya Kiai Mahrus yang datang kesini. Sebab bagi beliau, Rembang adalah almamaternya. Ketika berkunjung ke Rembang mesti ke tempat ayah saya, sebab beliau sudah kenal sejak di Kasingan. Jadi erat sekali hubungan Kiai Mahrus dengan keluarga kami.

Sebenarnya saya banyak diberi ijazah oleh beliau, tapi yang sanggup saya amalkan cuma shalawatnya saja, karena ijazah selain itu saya anggap sulit, sebab ditambah ada puasanya segala. Hehe…(tertawa). Dan yang lebih menarik lagi bagi saya adalah keistimewaan shalawatnya. Pada suatu hari, ketika saya sowan kepada beliau, saya melihat ada bangunan yang berbeda dari sebelumnya. Saya menjadi heran karena beliau biasanya ketika membangun rumah cepat sekali. Kemudian saya bertanya kepada beliau: “Ini sebulan yang lalu belum ada, sekarang kok sudah ada Kiai?”

Beliau menjawab dengan ringan: “Oh… itu Cuma tujuh ratus lima puluh”.

Mendengar jawaban beliau seperti itu, saya menjadi penasaran, lalu saya perjelas lagi pertanyaannya: “750.000 rupiah?”

Beliau lalu menjawab jika pembangunan yang baru selesai itu berbekal 750.000 bacaan shalawat. Jadi keistimewaan shalawat Kiai Mahrus itu bisa dibaca terus meskipun sambil berbicara. Ketika beliau diam, mulutnya selalu bergerak-gerak melantunkan shalawat. Ketika sedang mendengarkan orang lain, beliau juga membaca shalawat. Bisa dikatakan meski sambil berbincang-bincang misalkan, beliau selalu bisa bershalawat. Itulah luar biasanya shalawat beliau.()

Sumber: Pesantren Lirboyo: Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda.